Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI2 - Kedatangan Khumaira Untuk Aziz!



Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini


👇👇👇


".*.*.*."


Khumaira izin pulang lebih awal dan membawa ke dua anaknya. Dia rengkuh tubuh gempal Mumtaaz dengan derai air mata. Dia juga mengusap wajah tampan Ridwan tanpa henti. Demi apa ini situasi sangat sulit baginya. Khumaira takut jika Aziz terluka ditangan Wisnu.


Ridwan dan Mumtaaz hanya diam saja tidak mengerti apa yang terjadi. Kenapa Umi terlihat gelisah serta sangat berbeda? Apa ada sesuatu sampai seperti ini. Ridwan dan Mumtaaz Sling pandang lalu menatap Khumaira dalam.


"Kalian harus tenang jika nanti, Umi pergi. Jangan takut Umi hanya sebentar menyusul Ayah. Selagi Umi pergi jangan rewel dan menyusahkan Mbah ukhti dan Mbah kakung. Jika lapar minta saja jangan sungkan. Kakak anak yang baik jaga Dedek Mumtaaz ya. Untuk Dedek, jangan rewel jika nanti di kasih susu biasa. Umi janji akan segera pulang bersama, Ayah."


Khumaira memberikan pesan pada mereka agar mengerti. Selagi menunggu keluarganya ia tetap merengkuh dua Putranya. Sungguh demi apa dia takut tidak bisa melihat dia anaknya ini. Khumaira takut jika Ridwan dan Mumtaaz tidak mampu ia rengkuh erat.


Ridwan dan Mumtaaz memilih bungkam tanpa mau menjawab. Entah mereka terlihat diam sembari menangis merengkuh Khumaira. Kedua anak ini sangat penurut tanpa menolak. Mereka berharap Umi mereka lekas pulang membawa Ayah.


Bunyi bel tumah terdengar, membaut khumaira dan dua anaknya saling pandang. Mendengar beonkembaki berdenting ia meminta anak-anak tetap duduk. Dia berjalan cepat menuju pintu lalu lebukanuau. Khumaira kaget melihat Romli bersama 3 orang seperti orang asing.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, boleh kami masuk?"


"Wa'alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh, silakan."


Khumaira mempersilakan tamu masuk ke dalam. Dia mengusap pipi anak-anak untuk jangan rewel bersama mereka. Langkah kaki membawa ia ke dapur membuat minuman teh. Khumaira heran kenapa Romli datang di saat genting begini?


Romli menatap Ridwan dan Mumtaaz dalam. Dua anak kecil yang sangat tampan menggemaskan ini sangat lucu. Apa jadinya jika Aziz kenapa-napa, lalu siapa yang menjaga mereka? Romli tidak mau anak-anak ini kehilangan untuk yang kedua kalinya.


Tidak lama ia datang setelah membuat minuman teh. Khumaira menaruh gelas berisi teh di meja. Dia taruh gelas di depan mereka. Ia merasa sakit ketika ada tamu datang. Wajah cantiknya tampak murung memikirkan Aziz. Khumaira harus bagaimana menghadapi situasi genting?


"Mbak Khumaira, langsung saja. Ini saya bawakan CCTV di sertai audio. Anda gunakan ini untuk merekam kejahatan Wisnu. Saya tahu Aziz di culik makanya saya minta bantuan Polisi. Pasti orang gila itu mengancam Anda tidak boleh membawa Polisi dan parahnya meminta Anda meninggalkan, Aziz. Tetapi, tenang saja kami akan datang di waktu yang pas. Setelah Wisnu mengatakan kejahatannya, detik itu kami siap menolong."


Khumaira menegang mendengar perkataan Romli. Tubuhnya lelah sedari tadi memikirkan Aziz. Lalu dari mana Romli tahu Suaminya di culik? Kenapa teman Aziz begitu tahu kasus ini?


"Dari mana Anda tahu Masku di culik? Lalu dari mana Anda tahu ya menculik Wisnu? Lalu yang terakhir kenapa tahu semua permasalahan ini?"


Khumaira tidak tahan menyerukan pertanyaan. Dia sangat bingung akan situasi darurat ini. Sejatinya apa maksud pria ini berkata begitu?Sungguh ketakutan melingkungi hati Khumaira jika mengingat Aziz.


"Karena saya lihat Wisnu menculik Aziz. Saat tadi saya hendak main, tetapi saya di kejutkan dengan Aziz terkulai lemah di pukul orang. Saya langsung ke kantor polisi untuk membantu, Aziz. Saya akan mengatakan suatu dosa besar maka dengarkan baik-baik," jeda Wisnu.


"...." Khumaira bungkam tidak mengerti karena pikirannya kalut.


"Saya sangat mengenal Wisnu, pasalnya pria itu sangat licik.  Saya kunci kejahatan Wisnu karena sebuah konspirasi besar itu saya tega menusuk Aziz dari belakang. Saya yang memfitnah Aziz menggelapkan uang perusahaan. Kami berdua melakukan konspirasi menghancurkan karir Suamimu. Saya tersadar saat Wisnu hendak melakukan sabotase kecelakaan mengerikan itu. Saya takut mengungkap kejahatan makanya saya bungkam. Puncaknya tadi saya melihat Aziz di culik semua berubah. Saya bertekad membongkar kedok busuk Wisnu dan menyerahkan diri pada polisi. Sebelum itu izinkan saya membantu Mbak menyelamatkan, Aziz. Mbak, gunakan CCTV itu untuk membongkar kedok Wisnu. Karena ini di rumah taruh saja CCTV di vas bunga atau di mana asal aman. Tidak ada banyak waktu kita harus bergegas menyelamatkan Aziz, Mbak. Sekali lagi maafkan saya telah menusuk Suamimu dari belakang. Tetapi, setelah Wisnu tertangkap saya dengan senang hati mendekam di penjara seumur hidup guna menebus dosa. Tolong maafkan saya."


Romli tidak mau terlalu membuang waktu. Itu sudah cukup mengungkap dosanya dan ingin semua kembali normal. Semoga saja khumaira percaya pada Kata-katanya. Semoga saja Istri sang sahabat mau mendengar ucapan Romli. Memikirkan hal lain ia sangat panik jika Aziz terluka di tangan Wisnu.


Khumaira membekap mulutnya tidak percaya. Orang yang di anggap Aziz saudara ternyata musuh dalam selimut. Tetapi, cukup bersyukur Romli mau mengakui kejahatan dan membantu menolong Aziz. Khumaira sudah lega mendengar pengakuan dosa itu.


"Insya Allah, saya memaafkan, Anda. Saya cukup bersyukur Anda sudah di jalan yang benar. Lalu kita harus bagaimana? Dia mengancam akan membuat, Mas tiada di depan mata saya. Sungguh saya sangat panik memikirkan keselamatan, Masku."


Khumaira akhirnya membuka respons. Semoga saja Allah melindungi orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Semoga saja Suaminya baik-baik saja di sana. Semoga saja Khumaira bisa menyelamatkan Aziz tanpa terluka sedikit saja.


"Anda datang terlebih dahulu, setelah semua terbongkar kami datang. Yakinlah Allah selalu bersama kalian. Allah akan melindungi hamba-Nya yang membutuhkan pertolongan. Tidak perlu takut karena Allah selalu ada di setiap langkah orang beriman!" Tegas inspektur polisi dan Romli.


Inspektur polisi itu membuat kata penyemangat dan benar Khumaira tersenyum. Semoga saja tidak ada korban di acara penangkapan Wisnu. Mereka akan melakukan tugas secara baik demi menangkap pelaku yang memiliki sikap Psychopath.


Selang beberapa menit keluarga Khumaira datang. Mereka panik tetapi harus tenang demi menyemangati Khumaira. Mereka berdoa semoga Putri dan menantu di lindungi Allah. Selagi bisa semua merengkuh Khumaira memberikan dukungan agar ingat Allah selalu dalam setiap langkah. Semua senang Khumaira mereka memanggil penuh keyakinan.


Khumaira merengkuh keluarganya erat satu persatu. Saat merengkuh dua anaknya ia tidak bisa menahan tangis. Dia ciumi pipi Ridwan dan Mumtaaz tanpa keculi. Khumaira merengkuh kembali mereka dengan nasihat bijak agar mereka tenang.


Khumaira melangkah keluar dengan menyerukan nama Allah dalam hati. Semoga Allah memberikan Kuasa-Nya untuk melindungi mereka. Semoga Aziz baik-baik saja, Aamiin. Dia akan maju pantang mundur agar Suaminya lekas mendapat pertolongan.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," salam Khumaira dengan isakan kecil.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, jaga diri Umi. Kami menunggu, Umi!" seru Ridwan.


Khumaira tersenyum mendengar seruan Putra sulungnya. Matanya berkaca melihat Mumtaaz menatapnya sendu. Semoga saja tidak ada yang terluka di antara mereka walau mustahil. Khumaira janji akan pulang membawa Aziz dengan selamat walau harus terluka.


Ridwan dan Mumtaaz Sling menggenggam erat. Mata bulat mereka menatap Khumaira dalam seolah takut. Kedua anak manis ini tidak mau Ini mereka pergi walau sesaat. Namun, apa daya ini demi Ayah agr kelas pulang. Kata mereka Uminya akan menjemput Ayah, jadinya jangan nakal atau menangis. Pada akhirnya Ridwan dan Mumtaaz patuh tidak merengek minta ikut demi melancarkan Uminya.


***


Wisnu menyiram air dingin di wajah Aziz secara kasar. Dia tersenyum sinis ketika Aziz terbangun dari bius. Senang sekali melihat pria ini tampak kacau dalam kendali. Wisnu akan tunjukan sebuah permainan jitu merobohkan Aziz bila perlu membunuh tanpa ampun.


Pria berparae rupawan itu terbangun dari tidurnya. Aziz menunduk sembari tersenyum penuh arti. Tahukah kalian ia sengaja menyerahkan diri. Saat di garasi tadi dia tahu ada yang hendak memukulnya. Lalu saat ada yang menjegal kakinya, Aziz juga tahu. Semua di segaja saat memilih kabur padahal mudah baginya melumpuhkan mereka dengan pukulan telak.


"Kalian terlalu gegabah merencanakan tindakan kriminal ini. Sayang kalian sudah terkepung, aku sendiri yang ikut agar membuktikan pada polisi kalau kamu bersalah. Dengan begini aku lebih leluasa memancing kamu, Wisnu. Bodoh!" monolog Aziz dalam hati seraya tersenyum mengejek.


Aziz mendongak menatap polos para penculik seolah tidak takut. Dia akan melakukan sebuah hal paling gila di dunia. Kini dirinya akan tunjukan bagaimana ia bertindak keren. Aziz akan berjuang demi mengalahkan pria gila ini.


"Kalian siapa? Berani sekali menculik orang ganteng? Kalian fans fanatik ya makanya menculik minta tanda tangan? Oh ayolah teman kalian kalau mau tampan harus berendam di air yang terpenuhi bunga tujuh rupa."


Aziz malah menonjolkan ketampanan untuk bermain. Dia tidak melihat wajah mereka tetapi tahu di antara mereka ada Wisnu. Dengan tampang songong ia bersiul kecil seolah mengejek. Masa bodoh Aziz ganteng maskulin yang pasti begitu mempesona luar dalam.


"Banyak omong, wajah kayak tikus curut sombong!" sahut mereka.


Aziz dongkol di katai menyedihkan oleh orang-orang gila. Enak saja wajah setampan dirinya di bilang jelek kayak tikus curut. Apa mata mereka katarak? Apa tidak sadar Aziz itu sangat tampan seperti pangeran tertampan di Dubai?


"Kalian iri ya? Kalau wajah saya jelek wajah kalian bagaimana? Apa wajah kayak pantat panci setampan wajah saya? Ckckck, mau ku kasih tip agar tampan?"


Aziz memainkan alis seolah menantang. Mana mau dia lemah dan harus bagi tip ganteng. Mulut tajam sukses membuat mereka dongkol. Masa bodoh yang jelas ia sangat ganteng maskulin. Aziz sadar dirinya begitu tampan maka dari itu banyak yang iri.


Wisnu mendecih mendengar kenarsisan Aziz. Kenapa Khumaira tahan sama orang gila itu? Mungkin selama ini wanita anggun terjebak. Heran saja kok bisa Khumaira begitu kukuh pada Aziz. Cih, lucu sekali.


Para anak buah Wisnu terhina mendengar jawaban Aziz. Merasa di jatuhkan dari pohon pisang. Kurang ajar, tetapi benar saja wajah si korban ganteng sekali. Lalu kenapa pemuda ini begitu narsis tidak tertolong?


"Kami ganteng, kok. Apa tipnya?"


"Sabar, karena orang sabar tambah tampan menawan kayak saya, Asyik. Ada lagi kalian juga harus jadi orang alim biar tambah amal plus ganteng tidak terbantahkan kayak, saya. Tetapi, mustahil kalau Anda semua bakal ganteng. Soalnya dari penerawangan saya, kalian jelek semua!"


Aziz berkata lempeng sembari mengetuk-ketuk sepatu di lantai. Mata cokelat di bingkai bulu mata lentik itu menyorot polos. Mata tajam bak singa itu sangat polos menatap. Aziz suka dirinya mampu menjatuhkan mereka tanpa ampun.


Mereka semua pundung mendengar jawaban Aziz. Apa mereka salah menculik orang? Sungguh orang ini harus di museumkan biar langka. Atau tidak di formalin saja biar awet orang gila ini.


Wisnu melempar buah jeruk ke perut Aziz cukup kuat. Dia sebal sendiri mendengar perkataan Aziz yang abnormal. Sedikit tersindir pasalnya kurang ganteng. Memang benar adanya pria ini tampan maskulin. Jadi wajar banyak yang cinta atau tidak mengagumi Aziz.


"Kamu tidak sopan melempar buah ke saya. Ah, kalau melempar uang banyak saya terima untuk beli game anak-anakku. Apa Anda mau kursus jadi orang ganteng?"


Aziz akhirnya tahu mana Wisnu kemudian tersenyum dalam hati. Tinggal menunggu semua akan berjalan lancar sesuai prediksi. Semoga Allah memberikan Kuasa-Nya agar kebenaran segera terungkap. Untuk itu Aziz tetap memainkan peran narsia agar mereka sebel.


Wisnu semakin pening berhadapan dengan Aziz. Dia memilih pergi mengambili air minum dari pada gila. Seprtinya Wisnu tidak sadar ada konspirasi di sini. Bahkan ia yang cerdas tidak tahu saja bagaimana cerdas konspirasi penyelamatan Aziz.


Anak buah Wisnu menatap Aziz lamat-lamat. Pria narsis ini memang tampan jadi wajar narsis. Tetapi, kenapa tidak tertolong? Semoga saja cepat sadar dari kegilaan atau tidak sehat secepatnya.


"Oi, itu tadi Bos kalian?"


"Iya, ada apa?  Mau minta no Wa?"


"Ngga, hanya mau ngajak foto bareng. Kan lumayan foto sama cowok ganteng macam, saya." Aziz tersenyum polos.


"Kok ada orang sinting macam, kamu. Oi, kamu makan apa sih? Apa saat Ibumu hamil dia ngidam bertemu alien?" sergah mereks.


"Makan nasi, aku tanyakan nanti."


"Bangkeh, sudah diam jangan ngoceh saya kesal menanggapi perkataan anehmu!"


"Ayolah kawan, orang sabar tambah tampan seperti saya!"


"Bodo amat, sudah takdir wajah kau jelek. Jangan menyahut atau kami kebiri!"


"Wow takut!" seru Aziz.


Aziz pada akhirnya membaut semua orang pening. Dia terus menanjak biacara sesekali bercanda ria. Ia bahkan dengan jahil melontarkan kata hinaan atau ejekan. Lebih parah lagi Aziz tanpa segan membuat mereka harus pusing akan dirinya.


Anak buah Wisnu pening tujuh keliling menghadapi Aziz. Bagaimana tidak pusing sedari tadi orang ini ngoceh panjang lebar. Mengajak biacara seolah teman sendiri. Gila, tetapi abaikan saja asal mereka tidak semakin gila.


***


Khumaira masuk ke dalam rumah mewah Wisnu. Dia di antar bodyguard menuju ke paviliun belakang. Bodyguard itu keluar sebelum itu ia harus menunggu di sini. Khumaira bergerak gelisah memikirkan banyak hal mencari tempat yang pas untuk menaruh CCTV di dalam tasnya.


Mata besar itu menatap ruangan besar ini penuh selidik. Senyumnya merekah dikala tidak ada CCTV berasa di ruangan ini. Lalu mengedarkan kembali mencari tempat ketemu. Dia tersenyum ada pot bunga di pojok ruangan. Khumaira kembali memastikan sesuatu dengan mengedarkan pandangan keseluruh penjuru ruangan dan bersyukur tidak ada CCTV. Dengan cepat dia pasang CCTV di pot bunga lalu menghidupkan.


Di rasa aman Khumaira kembali duduk di kursi seolah tidak ada yang terjadi. Semoga saja Aziz tidak mendapat luka dari Wisnu atau dirinya akan murka. Selagi tenang dengan sayang Khumaira usap cincin kawin mereka penuh suka cita.


"Aku datang menolong, Mas. Adek yakin kita akan bersama selamanya, Aamiin.  Mas semoga dia tidak menyakitimu. Ada satu hal yang ingin Adek katakan, Adek  ...."


"Akhirnya datang juga, Sayangku!"


Khumaira tidak meneruskan perkataannya karena kedatangan Wisnu. Tubuhnya tegang melihat pria gila ini telah datang. Dia tidak melihat Aziz, di mana Suaminya? Khumaira panik akan keadaan Suaminya yang sedang di Taiwan Wisnu.


"Tenang dia akan datang sebentar lagi. Sekarang bagaimana?"


Wisnu menyeringai setan melihat Khumaira. Wanita ini tampak cantik memakai pakaian biasa. Wanita cantik yang dia cintai tanpa kata. Masa bodoh intinya ia harus mendapatkan wanita ini apa pun yang terjadi. Masa bodoh menggunakan cara kotor asal Khumaira bersamanya.


"Saya akan menjawab jika Masku sudah di depan mata!"


Khumaira menatap dalam arah luar tanpa menatap Wisnu. Dia tidak akan Sudi melihat pria gila ini walau sesaat. Ia janji setelah Suaminya aman lalu semua terbongkar dirinya akan mencari bantuan. Toh Khumaira akan berjuang keras demi Aziz melawan Wisnu walau harus nyawa taruhannya. Kini semua harapan segala kebaikan pada Allah semoga ia bisa berjuang bersama Suaminya melawan Wisnu.


****


Hayo, jangan tegang ada Mas narsis!


Rose_Crystal_030199