Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI2 - Mahkota Terindah!



...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....


...Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini....


.......**~'♥️'~~**.......


Lima hari di Baghdad keluarga besar Abah Hasyim begitu senang lantaran Nenek kembali sehat dan begitu bahagia. Tepat di hari keempat Nenek siuman dan di hari kelima meminta pulang. Tentu saja mereka begitu bahagia atas segala kesehatan Nenek.


Steve notabenenya Dokter yang menangani Nenek membolehkan pulang dengan syarat keluarga menjaga ekstra. Lebih lagi Nenek akan menerima perawatan jalan yaitu Dokter dan perawat akan datang setiap hari tepatnya pagi dan sore hari. Di sini Steve juga turut adil memeriksa Nenek tepatnya sore hari.


Sementara Nenek sangat bahagia lantaran keluarga besarnya kumpul. Tentu melihat mereka hati terasa sangat membahagiakan. Lebih lagi ia bisa melihat cucu paling dicintai yaitu Aziz. Dia terus mengajak bicara lalu menggenggam tangan cucu kesayangan.


Aziz tersenyum sewaktu Nenek begitu memanjangkan dirinya. Sungguh ia sangat bahagia sewaktu Nenek sudah sehat. Apa lagi setiap waktu menggenggam tangannya. Aziz sadar di antara semua cucu hanya dirinya yang sangat disayangi Nenek.


"Le," panggil Nenek.


"Dalem Nek, ada apa?"


"Kenapa lama sekali baru main ke sini? Pati lupa sama Nenek."


"Nenek ini bicara apa? Tentu saja tidak lupa karena Aziz selama ini kurang ada waktu. Sekarang Aziz Ada di sini, jadi jangan marah ya, Nek."


"Nah benar bukan? Waktu Tole dihabiskan untuk kerja tanpa ingat keluarga. Pokoknya Tole tinggal di sini bersama, Nenek."


"Tetapi, Aziz kerja untuk anak Istri dan tentunya tidak pernah lupa keluarga sekaligus Nenek. Kalau tinggal bersama Nenek bagaimana dengan anak-anak dan Istri, Aziz?"


"Kalian tinggal di sini bersama, Nenek."


"Nenek, melupakan kami ....!" Rajuk Afareen di angguki para cucu Nenek.


"Tidak ... tidak, jangan merajuk kalian paling Nenek sayangi," panik Nenek.


"Buktinya apa kalau sayang? Bahkan Nenek dari sadar sampai sekarang yang di cari cuma Mas Aziz," rajuk Adam cucu Nenek paling sulung.


"Sudah-sudah jangan ribut kasihan, Nenek panik atas kejahilan kalian. Nenek begitu mencintai kita," lerai Azzam.


"Ish, Mas Azzam terlalu kalem bin baik. Ngga punya sikap iri atau tidak suka, eh?" Ejek Najah.


"Nduk," protes Azzam.


"Hehehe maaf," tawa Najah.


"Nenek sangat menyayangi kalian," ucap Nenek.


"Kami juga," kor mereka.


Aziz hanya tersenyum atas kecemburuan mereka terlihat jelas. Karena dia begitu mencintai Nenek maka hal pertama mendekap tidak mau lepas. Sikapnya begitu posesif ingin memiliki sendiri dan ini diturunkan langsung pada anak-anaknya. Aziz tidak peduli yang jelas menggoda mereka begitu luar biasa.


Melihat sikap Aziz terbilang jahil, nakal, usil dan posesif tentu membuat Khumaira sadar satu hal. Dia sadar sikap anak-anak yang sangat posesif asalnya dari mana. Ia hanya bisa geleng kepala melihat tingkah konyol Suaminya terkesan begitu menggemaskan. Khumaira hanya diam menikmati setiap momen indah.


Sedangkan yang lain benar-benar cemburu sekaligus gemas. Di sini cucu Nenek paling muda ya Afareen (20) dan paling tua 55 tahun. Bisa dibilang Nenek sudah menjadi Buyut. Nah cucu paling dicintai Nenek ya AIz sehingga membuat mereka gemas sekaligus cemburu sampai terkadang mengadu.


Melihat Ayah mereka seperti anak-anak tentu terasa menggemaskan. Ridwan-Mumtaaz-Faakhira-Zaviyar hanya bisa diam seraya saling pandang. Kadang keempat anak manis terkekeh geli walau terkesan aneh. Ridwan-Mumtaaz-Faakhira-Zaviyar hanya bisa tersenyum lalu meraih tangan Umi.


"Umi," panggil Mumtaaz.


"Dalem, Kak. Ada apa, Kakak cilik?" Sahut Khumaira seraya mengusap rambut Mumtaaz.


"Ayah itu sebenarnya Ayah atau Kakak kami?" Tanya Mumtaaz polos berhasil membuat menjadi atensi.


"Hai Nak, kenapa bertanya begitu?" Protes Aziz pada Mumtaaz yang sedang menatap heran.


"Ayah seperti anak kecil saja masak merengek-rengek kayak Tole Zavi. Ngga elit sekali bahkan tidak terlihat tampan. Ckckck Ayah turun pamor jadi anak-anak alias Kakak kami," ejek Mumtaaz bertampang tengil.


"Astaghfirullah astaghfirullahal'adzim," istighfar Ayah.


"Bwahahaha ahahahaha hahahhah, Ayah jadi jelek memang lah pangeran tertampan atau dibilang manusia tertampan ya cuma Mumtaaz seorang." Tawa meledak Mumtaaz berhasil membuat mereka ikut tertawa.


"Benar sekali itu Kakak cilik, Ayah jadi bocil alias bocah kecil. Sama seperti kita bwahahaha ahahahaha hahahhah. Dasar tidak sadar usia bwahahaha ahahahaha hahahhah," imbuh Ridwan.


"Sudah-sudah ngga baik hina Ayah. Zavi menangis nih!" Seru Zaviyar tidak tega melihat Ayah di ejek kedua Kakaknya.


"Oh anakku sayang Dedek Zavi yang terbaik sekaligus yang tertampan!" Riang Aziz langsung menggendong Zaviyar.


"Yak, Ayah sudah Kakak bilang yang tampan hanya Mumtaaz!" Rajuk Mumtaaz.


"FaaFaa yang paling tidak ada tandingannya diam," nimbrung Faakhira.


"Diam, Kakak jelek diam!" Seru Ridwan.


"Astaghfirullahal'adzim, sudah jangan kumat. Astaghfirullah, eling kita di mana," tutur Khumaira merasa malu akibat Suami dan anaknya kumat.


Pada akhirnya anak-anak beranjak dan mengingat tempat. Keempat anak ini mendekap Umi cukup erat seraya tersenyum jahil. Sedangkan Ayah hanya bisa tersenyum atas sikap nyeleweng beberapa waktu dari anak-anaknya. Maklum saja keluarga ini identik dengan sikap luar biasa narsis.


Khumaira sendiri meminta maaf pada mereka semau atas kegilaan anak-anak. Hingga tidak berapa lama ia mendapati Suaminya telah bergabung bersama anak-anak mendekapnya. Tentu hal itu membuatnya tersipu malu. Namun, bagi Khumaira ini adalah momen terindah sepanjang masa.


Melihat momen mengharukan tersebut membuat semuanya tertawa renyah. Mereka tidak menyangka punya sanak keluarga begitu humoris. Apa lagi Nenek yang tahu sikap cucunya hanya bisa tertawa riang.


Melihat kelakuan Aziz serta anak-anak keluarga besar Abah Hasyim geleng kepala. Virus Raja narsis membuat anak-anak ikut gila. Dan mereka bersyukur berkat keluarga kecil bahagia itu Nenek dan yang lainnya terhibur.


"Ayah-Umi," panggil Zaviyar.


"Dalem, Le. Ada apa, Nak?" Sahut Aziz dan Khumaira seraya mengusap rambut Zaviyar.


"Jika Zavi tidak ada bagaimana?" Antah kenapa tiba-tiba pertanyaan kritis keluar.


"Tidak ada bagaimana, Le?" Tanya Khumaira tidak nyaman.


"Zavi ... Zavi, tidak tahu yang jelas jika nanti Zavi tidak ada di dekat Ayah-Umi apa yang akan kalian lakukan?" Cicit Zaviyar.


"Astaghfirullah astaghfirullahal'adzim, Tole tidak boleh berkata begitu. Tole Zavi tetap tinggal dan tidak akan pernah bisa pergi. Ayah-Umi begitu mencintai Tole jadi jangan berbicara aneh-aneh. Jangan sedih karena kami akan selalu mengingat Tole Zavi dan mencari sampai bertemu," tutur Khumaira.


"Nak, jangan berbicara begitu aneh, memang Tole mau pergi kemana?" Sahut Aziz tidak mau menjawab panjang lebar.


"Bukannya Ayah dan Umi mengatakan setiap yang bernyawa pasti akan kembali ke sisi-Nya?" Todong Zaviyar kalem.


"...." Aziz dan Khumaira bungkam.


"Memang setiap yang bernyawa pasti akan kembali ke sisi-Nya jika Allah menghendaki. Jika Allah belum menghendaki maka tidak akan kembali walau terjadi badai besar," jawab Ridwan.


"Awas kau gembul asal bicara Kakak lakban mulutmu. Kecil-kecil sudah menyebalkan syukurlah aku tampan rupawan tidak terbantahkan. Syukurlah aku sangat fantastis jadi tidak akan melakban mulutmu," timpal Mumtaaz.


"Adikku yang manis, cup cup jangan menangis. Kakak memang kurang waras, jadi jangan menangis. Cup cup cup Dedek Zavi yang paling tampan dan gembul jangan menangis ya, ada Kakak FaaFaa." Faakhira dengan sayang menenagkan Zaviyar bahkan memberikan ciuman sayang di kening.


"Huhuhuhu huwaaaaaa," raung Zaviyar sukses membuat siapa saja terkejut.


Khumaira bertindak dengan meraih Zaviyar lalu izin masuk kamar. Dia tenangkan anaknya sepenuh hati supaya tidak tambah meresahkan. Jujur saja ia tidak pernah menyangka putra bungsunya menjadi cengeng. Khumaira sangat tahu Zaviyar anak yang sangat tenang tidak rewel.


Namun, untuk tiga hari ini Zaviyar sering sekali menangis. Rasanya pilu sehingga Khumaira tidak sanggup melihat Zaviyar-nya menjadi semakin cengeng. Biasanya anak bungsu begitu identik dengan ia dan Suaminya sangat tenang walau beberapa kali menangis.


Aziz yang tahu Zaviyar-nya sangat manis dan kini sering bertingkah. Yang paling utama anaknya jadi suka menangis sewaktu Kakaknya sudah keterlaluan mengganggu. Dia tidak pernah menyangka bahwa anaknya punya pemikiran sebesar itu. Aziz mana sanggup kehilangan Zaviyar.


Karena Zaviyar adalah bukti kesabaran sekaligus penyatuan mereka setelah tiga tahun berpisah. Anaknya yang tampan identik dengan ketenangan dan sangat cerdas. Nah sekarang Aziz harus melihat Zaviyar sering sekali menangis dalam keadaan mendesak.


Ridwan dan Mumtaaz menunduk dalam menyembunyikan air mata akibat menyakiti Zaviyar. Walau kata-kata mereka tidak sarkasme, tetapi berhasil membuat Adiknya menangis. Maka dari itu keduanya izin masuk bersama Faakhira. Ridwan dan dua Adiknya akhirnya menyusul kedua orang tua sekaligus Adiknya.


Sedangkan yang lain hanya tersenyum maklum. Wajar ank kecil identik dengan cengeng. Walau cengeng Zaviyar begitu menggemaskan. Mereka jadi lucu akibat tadi keluarga kecil Aziz menunjukkan canda tawa kini banding terbalik sewaktu Zaviyar mengatakan hal aneh.


"Apa kita bisa ke kamar juga, Mbah Uti?" Tanya Ghassan kalem.


"Tole," peringat Khalid karena putra sulungnya menyeletuk.


"Tidak apa-apa kalian boleh ke kamar," sahut Nenek.


"Maafkan anak kami, Nek," pinta Bibah.


"Tidak apa, Nduk. Nanti malam lagi kita berkumpul. Tetapi, boleh bertanya?" Tanya Nenek.


"Iya boleh, ada apa, Nek?" Tandas Bibah kalem.


"Kalian masih lama bukan di sini?"  Tanya Nenek.


"Insya Allah, kami pulang empat hari lagi, Umma," jawab Ummi Safira.


"Maafkan kami Umma, kami tidak bisa berkata apa-apa lantaran cucu-cucu kami sebentar lagi ujian tengah semester.  Sekali lagi maafkan kami, Umma," ucap Ummi Safira sembari menatap Ibunya dalam.


"Maafkan kami, Umma. Jika nanti liburan akhir tahun kami akan kemari lagi. Insya Allah, itu terjadi sebentar lagi, Umma," tutur Abah Hasyim.


"Yang dikatakan Abah dan Ummi benar, Nek. Sebenarnya anak-anak sebentar lagi ujian apa lagi Tole Ghassan, Tole Ridwan dan yang lainnya akan segera melaksanakan ujian tengah semester. Kami tidak ingin anak-anak menunda ke kelas berikutnya tahun depan. Namun, percayalah Nek kami akan segera datang setelah menerima liburan panjang," tutur Azzam.


"Ya sudah kalian boleh pergi." Nenek akhirnya membiarkan nanti mereka pulang cepat.


"Alhamdulillah, terima kasih, Nek. Kami minta maaf dan terima kasih, Nek," kor mereka.


Pada akhirnya Nenek membiarkan mereka akan pulang lebih awal. Lagian liburan itu sebentar lagi maka tidak boleh merengek. Namun, antah kenapa ia merasa Allah tidak memberikan umur sepanjang itu. Yang jelas Nenek berharap semoga saja Allah berkenan memberi umur panjang Aamiin.


Semua telah menjadi keputusan bahwasanya pendidikan anak-anak lebih penting ketimbang ego. Bahkan sudah berjanji maka setiap janji keluarga Abah Hasyim selalu menepati. Semoga saja punya penghasilan lebih maka dari itu besok bisa kembali ke sini dan berlibur lama.


.......**~'''~~**.......


Keluarga kecil Khalid sedang ada di kamar dan terlihat Uzza sibuk memainkan rambut sepunggung Jadda. Dia sangat senang memainkan rambut lurus Kakaknya. Sedangkan si sulung sibuk merangkai kata yang dipelajari dari Pak Poh (bahasa sopan Pakde - pakde/pak·de/ /pakdé/ akronim bapak gede, sapaan kepada Kakak laki-laki Ibu atau Ayah.)


Sedangkan Khalid dan Bibah tersenyum sumringah melihat anak-anak begitu aktif. Keduanya akhirnya meminta anak-anak untuk mendekat. Setelah dekat pasangan Suami-isteri meminta anak-anak merebahkan tubuh dengan berbantal paha. Sungguh Khalid dan Bibah sangat sedih jikalau meninggalkan tiga anaknya.


"Abi," panggil Jadda seraya menggenggam tangan Abinya.


"Dalem, Nduk," sahut Khalid seraya tersenyum tulus.


"Apa bisa kita kemari lagi Abi dan Umi?" Tanya Jadda terdengar layu.


"Yang dikatakan Nduk Jadda benar, Abi-Umi. Sebenarnya Ghassan merasa kita tidak bisa kemari lagi kemari," tutur Ghassan.


"Kalau tidak kemari tidak apa-apa, Mas-Mbak. Kan kita bisa main lain waktu, benar bukan, Abi-Umi?" Todong Uzza.


"Insya Allah, kita akan kembali ke sini lagi. Lalu bagaimana kalau kalian tidak kemari? Lalu bagaimana dengan kamu, Nak?" Tutur Bibah sembari tersenyum sendu.


"Nanti kalau kalian punya uang banyak harus kemari membesuk kami. Abi dan Umi akan tinggal di sini, Nak," lirih Khalid.


"Maksudnya bagaimana, Abi-Umi?" Bingung Ghassan mendengar jawaban kedua orang tuanya.


"Setiap yang bernyawa pasti akan kembali ke Rahmatullah, Le. Mas Ghassan janji ya sama Abi dan Umi setelah kepergian kami jaga dua Adikmu. Raihlah cita-cita terbesarmu untuk bersekolah di Yaman. Nanti dua Adikmu akan di rawat oleh Mbah Kakung dan Mbah Uti," papar Bibah.


"Nak, kami tidak tahu yang pasti kami akan tinggal di sini. Anak-anakku sayang kalian harus tumbuh menjadi anak-anak Shaleh dan Shalihah. Kami begitu mencintaimu maka teruslah berusaha. Jangan lemah atau minder yakinlah Abi dan Umi akan selalu hidup dalam hati kalian. Tolong maafkan kami, Nak," tutur Khalid langsung menggenggam tangan anak-anaknya.


Ketiga anak berparas campuran Indonesia-Pakistan serempak duduk. Ketiganya tiba-tiba menangis karena sebenarnya telah menerima firasat paling memilukan. Air mata terus bercucuran sontak langsung mendekap kedua orang tuanya.


Khalid dan Bibah langsung mendekap erat anak-anak. Dia terus menangis tersedu-sedu meluapkan betapa sakit hati mengatakan itu. Mereka begitu sakit kenapa bisa terjadi pada tiga anaknya. Semoga saja Ghassan, Jadda dan Uzza mampu berjuang ditengah kerasnya dunia akibat ditinggal sendiri. Khalid dan Bibah akan menunggu anak-anaknya serta menunggu setiap doa mereka.


"Jangan menangis, Nak. Kalian anak-anak hebat harus berjuang keras demi kami," tutur Khalid.


"Abi-Umi akan selalu ada dalam hati kalian. Jika sudah punya rezeki berlimpah datang ya ke Irak untuk kami, Nak," pinta Bibah.


"Abi-Umi, hentikan kami mohon," pinta anak-anak.


"Tole Ghassan adalah Kakak laki-laki yang tangguh maka lindungi dua Adik perempuan, 'mu. Wali dari dua Adikmu adalah Tole maka jadilah Abi dan Umi terbaik. Jadilah wali bagi Nduk Jadda dan Nduk Uzza sebaik mungkin. Tole adalah kiblat bagi dua Adikmu menentukan masa depan. Imam bagi mereka dan orang tua, maka jadilah pria tangguh. Tole seperti keinginanmu ingin menjadi hafidz dan bersekolah tinggi di Yaman. Maka raihlah tidak boleh menyerah. Tole sangat genius oleh sebab itu berusahalah menggunakan kegeniusan demi meraih Surga-Nya ....


... Untuk Nduk Jadda dan Nduk Uzza, jadilah makmum yang selalu menurut pada imam. Nanti Mas kalian akan menjadi Abi-Umi. Jangan membantah Mas kalian apa pun itu. Jika baik turuti dan jika buruk tegur Mas kalian secara halus. Kalian adalah dua gadis kecil shalihah dan semoga menjadi wanita dirindukan Surga-Nya. Jadilah wanita shalihah anak-anakku tercinta. Umi begitu mencintai kalian sepanjang masa."


"Apa yang dikatakan Abi sudah diwakili Umi kalian. Sebagai kepala keluarga maafkan Abi begitu lemah tidak bisa hidup lama bersama kalian. Tetapi, percayalah Nak kami tidak akan pernah lupa karena kami begitu cinta. Jadilah anak Shaleh dan Shalihah senantiasa mendoakan kami setiap Shalat wajib atau pun Sunnah. Maafkan kami, Nak," tangis Khalid.


"Abi-Umi," tangis histeris tiga anak-anak manis.


"Anak-anakku," sambut Khalid dan Bibah sembari mendekap erat anak-anaknya.


Ghassan, Jadda dan Uzza menangis terisak-isak mendengar pesan Abi-Umi. Hati mereka berada di cabik-cabik. Rasanya begitu menyakitkan hingga air mata terus berlinang deras. Ketiganya begitu sakit sampai semua meluapkan emosi.


Sedangkan Bibah dan Khalid terus mendekap erat. Keduanya hanya bisa mendekap erat sembari menangis tersedu-sedu. Mereka berharap semoga saja terus menerus mengingat masa ini. Masa indah dihabiskan bersama penuh cinta. Namun, inilah detik-detik terakhir mereka bersama tiga anak tercinta. Khalid dan Bibah hanya bisa mendekap tanpa bisa menahan tangis.


"Abi-Umi, pengang kata-kata Ghassan bahwa suatu hari nanti kan berhasil. Ghassan akan menjadi Ustadz yang hafal Al-Qur'an dan hadist. Ghassan akan menjadi pria Shaleh menjadi Imam terbaik untuk Adik-Adikku. Ghassan janji akan menjadi Ayah dan Ibu senantiasa menjaga serta menjadikan dua Adikku prioritas. Aku begitu mencintai dua Adikku dan senantiasa mengajarkan kebaikan. Menuntun dua Adikku menjadi gadis shalihah. Jangan khawatir, Abi-Umi," tangis Ghassan.


"Jadda akan menjadi Hafidzah, Abi-Umi. Jadda janji setiap shalat wajib dan sunnah akan selalu mendoakan kalian. Jadda juga akan menjadi wanita shalihah yang bisa mengangkat derajat Ayah dan Umi di Surga-Nya. Jadda juga akan mentaati perintah Mas dan menjadikan mereka sebagai Imam. Jadda akan menjadi Adik sekaligus Kakak untuk Uzza akan senantiasa bersama selamanya," tutur Jadda.


"Uzza janji Abi Umi akan menjadi Hafidzah dan akan memakaikan mahkota terindah di Surga-Nya untuk kalian. Uzza janji akan menjadi anak shalihah dan mentaati serta mengingat penuturan Abi dan Umi," sambut Uzza terdengar polos nan tulus.


"Aamiin yaa Rabbil'alamin. Allahu Akbar, Alhamdulillah yaa Rabb. Allahu Akbar, terima kasih ya Allah atas kebesaran-Mu." Rasa syukur menghinggapi hati Khalid dan Bibah.


Khalid dan Bibah sontak menciumi wajah ketiga anaknya. Mereka selalu memberi ciuman sayang dan terus membisikan kata-kata penenang. Keduanya selalu mohon pada Allah supaya mengabulkan doa anak-anak. Semoga saja tiga anaknya menjadi Hafidz dan Hafidzah. Khalid dan Bibah teramat bahagia sekaligus pada doa tulus ketiga anak tercinta.


Ghassan, Jadda dan Uzza senantiasa berdoa kepada Allah semoga kedua orang tuanya mendapat tempat terindah. Ketiga anak ini bertekad menjadi penghafal Al-Qur'an. Sejatinya mereka telah menerima firasat memilukan sedari dua bulan lalu. Ghassan, Jadda dan Uzza tentu begitu sedih terus mengingat firasat itu.


Setelah semua tangis pilu akhirnya mereka memutuskan mengambil air wudhu. Keluarga kecil Khalid memutuskan wudhu untuk segera mengaji bersama. Kebetulan sebentar lagi waktu Maghrib datang. Maka mereka memutuskan untuk menunggu adzan berkumandang dengan mengaji ayat-ayat Al-Qur'an.


Semua terjadi begitu saja sewaktu waktu berjalan sangat cepat. Jam sembilan malam anak-anak tertidur kini terlihat Khalid dan Bibah saling mendekap melihat bintang. Tangan mereka saling bertautan sembari tersenyum cerah.


"Apa Adek siap?"


"Tentu saja, Mas."


"Mas merasa terharu sekaligus lega anak-anak mampu kita tinggal."


"Adek juga demikian, Adek yakin tiga anak kita akan selalu bersama dalam suka maupun duka. Adek juga yakin walau begitu berat di awal, tetapi lambat laun mereka akan terbiasa."


"Benar, Dek. Semoga doa mereka terkabul dan Mas memohon agar kelak kita berkumpul bersama di Surga-Nya. Mas memohon agar Allah berkenan memberikan keajaiban dengan menyatukan kita di Surga-Nya."


"Aamiin yaa Rabb, semoga saja, Mas. Adek juga takut jikalau anak-anak terbulli karena menjadi yatim-piatu. Adek takut anak-anak tidak mendapat kasih sayang lebih."


"Percaya Allah akan selalu bersama orang-orang yang sabar. Adek, jika orang beriman kuat pasti memuliakan anak yatim-piatu. Mereka yang tahu betapa besar pahala memuliakan anak yatim-piatu niscaya anak kita selalu dalam perlindungan serta kebahagiaan. Jika mereka tidak tahu betapa besar keistimewaan anak-anak yatim-piatu maka hanya dipandang sebelah mata. Namun, anak kita hidup dalam lingkungan orang-orang berilmu yang sangat mencintai Allah dan Rasulullah Saw. Maka percayalah anak-anak aman."


"...."


"Apa Adek tidak percaya pada, Mas?"


"Sangat percaya, Mas."


Bibah berbalik untuk menghadap Khalid kemudian memberi senyum termanis. Tidak lupa ia berikan usapan lembut di rahang tegas Suaminya. Dia juga memutuskan untuk berjinjit guna memberikan ciuman sayang di pipi. Bibah begitu mencintai Khalid serta begitu senang akan kembali ke sisi-Nya bersama.


Khalid sendiri tersenyum haru atas perlakuan Bibah. Dia balas usapan lembut Istrinya dengan ciuman manis. Ia juga memberikan dekapan hangat pada Istrinya yang telah memberikan segala kebahagiaan. Khalid harap semoga saja semua keluarganya bisa masuk Surga-Nya Allah Aamiin.


"Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Dan cinta ini abadi sampai Jannah, Aamiin yaa Rabb."


"Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah, Aamiin yaa Rabbil'alamin."


"Kita akan bersatu selamanya."


"Selamanya walau terpisah akan bertemu."


"Allahu Akbar."


"Allahu Akbar."


...Cut....


...Aku tidak sanggup menulis chap depan. Dan di sinilah akhir dari perjalanan kisah Khalid dan Bibah....


...Akhir perjalanan kisah Dedek Zavi bersama keluarga narsis....


...Di mulailah tangisan menyayat hati....


...Semua telah terjadi aku tidak sanggup. Anakku terpisah dari kami....


...Dedek Zavi, tenang Sayangku akan bertemu kami 25 tahun kemudian. So sad 😭😭😭....


...Jika kalian penasaran kisah Dedek Zavi cus baca Bahtera Cinta Zaviyar dan Adiba!...


...Salam cinta dari Rose....


...Maaf banyak sekali kesalahan akibat belum tak koreksi dan semoga kalian bisa maklum....


...Sekali lagi siapkan hati membaca Chap berikutnya....


...Rose cinta kalian....


...27*11*20...


...Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....