
*Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh.
Apa kabar semuanya?
Semoga kalian tetap mau baca, Sayangku.
Sudut pandang Khumiara!
Maaf banyak typos bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di.bawah ini.
Happy reading baby*.
***///~'~\***
Aku pandang foto almarhum dengan perasaan campur aduk. Sudah lima tahun berlalu kini perasaan ini tetap kukuh. Ya Allah, rasa cinta ini begitu nyata bahkan rasa ini tetap sama. Rasa cinta yang akan selalu ada di lubuk hati yang paling dalam.
Namun, ada satu yang pasti aku sangat mencintai Mas Aziz lebih dari apa pun. Cinta pertama ku telah menjelma menjadi raja di hati. Atas nama Allah sang Pencipta alam semesta, aku sangat mencintai Masku Aziz lebih diri sendiri.
Jujur saja cintaku lebih dalam walau nama almarhum tetaplah ada di lubuk hati yang paling dalam. Lalu untuk sekarang semua cinta dan semua yang ada pada diriku hanya untuk Suamiku yaitu Mas Aziz. Tidak ada yang lain karena kami tercipta satu sama lain dan ditakdirkan bersama.
Kini harapan terindah hidup bahagia walau kelak badai datang. Lima tahun kami lalui penuh suka cita walau ada cekcok karena permasalahan kecil. Seperti waktu itu tepatnya saat aku lelah karena tugas rumah tangga dan saat itu aku sedang masa menstruasi di hari pertama.
Entah setan apa yang merasuki sehingga dengan tega aku membentak Mas Aziz. Saat sadar aku langsung istighfar dan segera minta maaf padanya. Anehnya ia hanya tersenyum lalu mencium keningku seraya berkata lembut.
"Mas juga sering salah begitupun Adek. Sebelum minta maaf dengan lapang dada Mas sudah memaafkan Adek. Tidak usah di sesali karena kunci satu jika Mas salah tolong maafkan begitupun sebaliknya. Kita ini pasangan yang sudah digariskan bersama. Maka dari itu sudah sepantasnya memaafkan tanpa meminta."
Hatiku terenyuh sekaligus terharu bisa mendapatkan Imam shaleh seperti Mas Aziz. Cintaku kian besar akan semua sikapnya yang penuh cinta serta begitu pengertian. Cintaku atas nama Allah menuntun mendapat jodoh luar biasa.
Imam keduaku tidak kalah shaleh seperti Mas Azzam. Masku ini juga tidak kalah baik walau kelemahannya juga sangat banyak. Mulutnya yang sarkasme dan sangat narsis kadang membuat gedek. Namun, semua tidaklah sebanding dengan sikapnya yang humoris penuh tawa jika bersama kami.
Saat bersama almarhum bahtera rumah tangga kami terkesan sangat romantis, tenang, ayem dan tentram penuh cinta. Hidupku terasa indah dalam dekapan hangat almarhum. Cintaku juga sangatlah besar untuk Masku Azzam. Tidak ada yang lebih indah selain melihatnya begitu teduh.
Memiliki almarhum bagai orang paling bahagia di dunia. Indah rasanya hidup bersamanya dalam balutan cinta yang tentram. Lebih lengkap lagi di saat hadirnya Tole Ridwan. Anak ganteng ku yang tumbuh bagai duplikat Abinya.
Beda dengan Mas Aziz, bahtera rumah tangga kami laksana pelangi mewarnai bumi. Sangat berwarna-warni penuh suka cita. Semua warna baru tercipta sampai membuatku sadar betapa indahnya pelangi di antara kami.
Tidak ada yang bisa membuat kami terpisah walau badai menerjang kami tetap kukuh. Walau awalnya aku menolak namun kini cintaku benar-benar besar bahkan tidak akan pernah bisa pisah barang sedetik saja. Jika di suruh memilih pergi darinya atau meninggal? Maka dengan lantang akan ku jawab lebih baik meninggal dari pada kehilangan Masku Aziz.
Semua laksana bulan ketika hadirnya si mungil Mumtaaz dalam bahtera rumah tangga kami. Cinta kami terasa lengkap akan karunia-Nya kepada kami. Demi Allah aku sangatlah bahagia menerima semua ini.
Yang intinya Mas Azzam akan selalu ada dalam hatiku yang paling dalam. Sementara Mas Aziz adalah cintaku selamanya sampai akhir hayat.
Ya Allah, semoga di masa akan datang aku mampu melalui cobaan jika bahtera rumah tangga kami terhantam badai. Aku akan selalu memperjuangkan keutuhan rumah tangga kami jika kelak semua tidak lagi sama.
Bicara soal almarhum dan Masku Aziz rasanya dag dig dug sendiri. Sudahlah aku harus masak jangan terlalu membahas mereka kan kalau begini membuat rindu. lebih baik aku beri hal baru untuk dua anakku yang sangat tampan.
***'~'***
Aku membawa Kakak Ridwan dan Dedek Mumtaaz pengajian rutin di hari Jum'at. Seperti biasa kami datang untuk mengaji bersama. Setiap aku datang mereka kadang menggosipkan ini itu. Lebih iya lagi saat mereka begitu gemas pada dua anakku yang tampan.
Lupakan itu aku melihat ada Ibu muda membawa anak kecil umur satu tahun setengah minta asi. Aku jadi ingat Tole Mumtaaz jika ingat saat pengajian dulu si kecil suka minta susu. Bahkan aku harus menyusui anak manisku saat pengajian.
Aku kadang panik dikala Tole Mumtaaz menangis keras saat pengajian. Alhasil aku harus menyusui putraku agar diam. Walau model minta susu anakku ini begitu lucu. Pasti si kecil tidak mau di tutupi pakai hijab. Jadi aku harus menahan malu menyusui bayi tampanku di depan ibu-ibu pengajian.
Tidak ayal kadang Mumtaaz suka itu saat aku mengajar sekolah di taman kanak-kanak si kecil juga minta susu tanpa mau di tutupi. Lebih aneh saat anak keduaku ini memegang dadaku yang lain. Atau tangan kecilnya suka menepuk dadaku.
Beda dengan Tole Ridwan dulu saat nyusu mau aku tutupi pakai hijab. Bahkan putraku ini begitu anteng nan kalem tidak suka rewel. Tapi, kalau sudah rewel aku tidak bisa beranjak walau sesaat. Alhasil saat Tole Ridwan sakit dan sangat rewel maka almarhum Mas Azzam akan menggantikan tugasku.
Aku terdiam sepi saat acara tahlilan di mulai. Anakku diam saja tidak rewel hingga salah satu dari mereka menyuruhku mengimami yasinan. Tentu aku mau walau agak risi ditatap mencemooh salah satu dari mereka. Aku pinta Dedek Mumtaaz untuk turun dari pangkuanku, alhasil anakku menurut dengan duduk manis di samping Kakak Ridwan.
Saat mengirim Al-fatihah aku khususkan untuk almarhum Masku. Usai itu mulai ke inti tahlilan dan semua semakin khitmat. Setelah tahlilan selesai aku tutup dengan doa kemudian mengucap salam penutup.
Aku tersenyum saat akan ada ceramah dari salah satu ustadzah. Lihat Tole Mumtaaz mulai grusah grusuh minta pangku. Pasti minta pelukan untuk bobok ganteng. Dasar anak ini menggemaskan sekali.
Aku biarkan anak tampanku duduk dipaha lalu menyelusupkan kepala di balik hijab. Sementara tangan kecilnya memegang dada ku. Itu kebiasaan dari awal Dedek Mumtaaz tidak akan tidur jika tidak dalam dekapanku. Lalu memegang dadaku itu rutinitas sehari-hari.
Lucu sekali anakku ini minta Dedek bayi lagi. Wong anak ini sangat manja belum bisa dipisahkan dari dekapan dan asi atau susu. Lalu kenapa minta Dedek baru? Dasar bocah gembul yang manis.
Oh lihat putraku yang satunya mulai ngerengek minta pulang. Kalau begini pasti si Kakak minta di telepon Ayah Aziz. Anakku ini sangat rindu Ayahnya begitupun dengan saya. Ha-ha-ha, intinya kami semua sangat merindukan Ayah Aziz.
Usai pengajian kami putuskan pulang untuk istirahat. Sepertinya dua pangeran ku telah mengantuk berat. Sudahlah ini aku akan tidurkan dua pangeran ku lalu memasak makanan kesukaan mereka.
Ngomong-ngomong sudah satu bulan lebih Mas Aziz ke Malaysia. Rasanya begitu rindu tidak mampu di jabarkan. Setiap saat aku selalu kepikiran tentang Masku. Jadi kalau tidur biasanya dekap anak-anak.
Lalu tengah malam aku akan bangun mencari kemeja Masku agar bisa terlelap. Aku sangat kalut serta rindu pada Suamiku. Kapan pulang Adek tidak bisa tidur tanpa dekapan, Mas?
Mas tahu Adek tidak bisa tidur nyenyak tanpa pelukan Mas. Kenapa lama sekali, Mas pulang? Adek di sini sudah menyimpan jutaan rindu membludak. Kalau begini alternatif ya pakaikan kemeja Masku di bantal.
Semerbak kerinduan aku rasakan akibat Masku tidak kunjung pulang. Padahal kurang dua pekan lagi, tapi kenapa begitu menyiksa batin? Aku rindu maka sampaikan salam rindu wahai angin agar bisa engkau sampaikan padanya.
Masku Aziz, tolong cepat pulang kami rindu terutama aku. Kini saatnya aku fokus membuat makanan untuk anak-anak. Nanti lagi aku mengadu akan kerinduan besar ini. Ya Allah, fokus Syafa nanti kamu nanti bisa lari ke Malaysian gawat akibat beban rindu.
Semua bagai dilema ketika ingat mimpi indah, tapi buruk. Di dalam mimpi aku kembali bertemu almarhum. Demi apa tubuhku terasa bergetar hebat penuh air mata. Saat di mimpi itu aku terbenam akan dua cinta. Satu Mas Aziz dan satunya Mas Azzam menatap penuh harap.
Kalau suruh memilih Mas Aziz atau Mas Azzam?
Maka jawabanya tidak bisa memilih. Keduanya begitu berat karena sama-sama aku cintai. Hanya saja kini aku pilih Mas Aziz karena masa depanku ada padanya. Lagian Mas Azzam tidak akan kembali karena sesuatu yang kembali ke Rahmatullah tidak akan pernah bisa kembali.
***''"***'''"*****💖❤️💓****''""***"''***
*Hello, bagaimana perasaan kalian baca chapter ini?
Sehari tiga chapter, pasti kalian bahagia, benar?
untuk itu Rose cuma minta jangan lupa vote plus Comment and jangan lupa di jadikan favorit.
ok, see you later Baby.