Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI2 - Rencana Licik dan Keromantisan Aziz Syafa!



Maaf di bawah ini banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan.


πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡


***


Pria dengan tinggi standar orang pribumi menatap pria di depannya dengan tampang sangar. Dia menyodorkan koper berisikan setumpuk uang puluhan juta. Semoga saja aksi kali ini mampu membuat Aziz di penjara atau jadi gelandang.


Orang di depan pria itu menyeringai menerima uang puluhan juta. Tidak masalah melakukan sebuah siasat licik pria penyuruh. Asal dirinya mendapat uang banyak serta jabatan tinggi kenapa tidak. Maaf saja uang lebih segalanya dari pada pertemanan.


"Saya ingin uang proyek besar mengalir di rekening pribadi, Aziz. Buat dia seolah korupsi dengan uang miliar-an. Saya ingin dia di penjara dan jika perlu mendekam di sel setidaknya jadi gelandang."


"Itu beres, Pak. Lagian saya orang yang sangat penting di perusahaan. Saya akan alihkan semua uang proyek ke rekening pribadi, Pak Aziz. Saya akan melengserkan dia dan menduduki kursi CEO, hahaha."


Pria itu menyeringai penuh kemenangan mendengar perkataan orang itu. Dia dengan santai melangkah meninggalkan tempat pertemuan. Ia tinggal menunggu hasil setelah pria arogan itu lengser maka dengan mudah mengambil wanita itu.


Orang itu tersenyum penuh kemenangan namun langsung sendu. Buru-buru ia berekspresi datar seolah tidak peduli. Pada akhirnya ia akan melengserkan jabatan Aziz telah tiba. Dengan begini jabatan CEO akan beralih ke tangannya.


"Maafkan aku, tetapi maaf aku ingin kursi CEO. Semoga kamu mampu melewati badai ini, Aziz," gumam orang itu sebelum mengambil koper berisikanuang yang di berikan pria tadi.


Orang itu akan menjalankan rencananya secara gamblang. Dengan mendapat tanda tangan Aziz maka semua beres. Sebelum itu mari membuat taktik agar Aziz tidak curiga.


Lain sisi tepatnya di kantor Besar di pusat kota Yogyakarta telah meraih kemenangan. Proyek besar berharga 5,5 miliar telah sukses besar di tangan Aziz. Siapa yang tidak salut akan kinerja pria multitalenta? Semua pekerjaan yang ditangani Aziz akan menghasilkan keuntungan luar biasa.


Aziz tersenyum tulus akhirnya proyek itu akan di resmikan 1 minggu lagi. Setidaknya usahanya membuahkan hasil, pasalnya satu bulan terasa membosankan. Seharian penuh di kantor pulang malam berangkat pagi sekali sampai waktu bersama keluarga terganggu.


Merasa haus Aziz meminum kopi buatan sekretaris-nya tanpa curiga. Dia menghabiskan kopi itu karena dirinya cukup haus. Entah kenapa ada rasa aneh sampai pening. Kepalanya sedikit pusing sehingga tidak konsentrasi. Saat Azizmelihat berkas sedikit buram dengan tubuh lemah.


"Kenapa? Apa Kania memasuksn obat aneh dalam minumannya?"


Kania adalah gadis cantik lulusan terbaik di Universitas Gadjah Mada meraih kesempatan menjadi sekretaris Aziz. Mereka tampak akrab layaknya Adik dan Kakak. Bahkan Kania tidak sungkan memanggil Aziz, Kakak. Dia memiliki Kakak namun sudah tiada akibat kecelakaan motor 3 tahun silam, makanya Kania sangat senang ketika Aziz baik layaknya teman.


Tadi Kania membuat kopi untuk Bosnya, tetapi karena ingin membuang hajat ia meninggalkan minuman itu. Tanpa di ketahui siapa pun ada pria menaruh obat di minuman itu. Lalu orang itu pergi sebelum Kania selesai buang hajat.


Tanpa curiga Kania mengantar kopi ke Aziz dengan senyum ramah seperti biasanya. Bagi gadis muda ini pemuda ini begitu baik seperti mendiang kakaknya. Maka dari itu Kania sangat menghormati Aziz dan khumaira layaknya keluarga sendiri.


Lain sisi tepatnya di ruangan Aziz dengan rencana liciknya orang itu bereaksi. Orang itu menyerahkan berkas pada Aziz seraya tersenyum ramah. Dia menjelaskan pengeluaran perusahan selama 1 bulan. Memberikan detail pengeluaran ini itu sampai Aziz pening mendengarnya.


Dari pada mendengar perkataan panjang lebar orang didepannya ia memilih membaca. Aziz membaca sedikit cepat dan isinya semua tentang berkas penting dan ada satu dokumen dia baca sedikit terlebih dahulu telah di tanda tanganni.


Orang itu tersenyum penuh arti ketika Aziz lalai, mungkin efek obat membuat pria itu terjebak. Dengan ramah orang itu berlalu ke tempat semula. Dengan begini semua menjadi mudah. Siap-siap mendekam dalam jeruji besi, kawan.


Usai pekerjaan selesai Aziz memilih pulang izin pada atasannya. Sebelum itu ia menegur Kania karena memberi kopi aneh. Dia mengomel sampai rasanya pening sendiri. Aziz layaknya Kakak mengomel pada Adiknya sampai sang korban meringis.


Kania menyengit mendengar ocehan Aziz. Kenapa atasanya mengomel panjang lebar soal kopi? Dia membuat kopi seprti biasanya, lalu apa yang salah? Kania sebal sendiri pada Aziz mengomel samapi membuatnya ingin menyimpan mulut pedas sang bos.


"Pak, saya tidak memasukan apa pun pada minuman Anda. Mungkin anda anemia, Pak. Coba periksa ke Dokter tentang tekanan darah."


Kania berusaha membela diri agar tidak ada kesalah pahaman. Dia meminta Aziz untuk pulang untuk istirahat agat membaik. Dilihat lebih rinci lagi memang bos-nya tampak pucat. Mungkin saja Aziz sakit sehingga begitu sensitif.


Aziz mengaguk setuju untuk pulang lebih awal. Dari pada debat lebih panjang ia pamit pada Kania. Dalam perjalanan menuju lobi banyak karyawan menyapa. Tentu di balas senyuman ramah walau keadaan kurang baik. Dia meminta Bodyguard kantor untuk mengantar mobil di rumahnya. Aziz memilih naik taxi menuju rumah dari pada menunggu lama.


***


Sampai rumah Aziz mengetuk pintu beberapa kali lalu masuk. Sebelum itu ia mengucap salam lirih pada keluarga kecilnya. Dirinya tersenyum melihat mereka belum sadar kedatangannya. Mungkin terlalu sibuk sehingga mengabaikan dirinya.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," salam Aziz pada penghuni rumah dengan suara agak kwras.


"Wa'alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh," sahut Khumaira dan anak-anak yang asyik menggambar. Sontak mereka menatap Aziz bahagia akhirnya sang Ayah telah datang. Namun,


Khumaira langsung melihat Aziz khawatir pasalnya wajah Suaminya pucat. Spontan ia menyalami Suaminya dan membawa tas kerja Aziz dan meminta agar rebahan.Β dari raut pucat itu jelas terlihat Aziz sedang sakit dan khumaira sangat khawatir.


Sementara Ridwan dan Mumtaaz bersorak gembira melihat Ayahnya. Anak-anak berlari untuk mendekat setelah dekat dengan penuh semangat memeluk kaki Aziz. Ayahnya tersenyum sembari mengusap puncak kepala mereka. Dnegan begitu Ridwan dan Mumtaaz berebut minta pangku Aziz setelah duduk di sofa.


Aziz tadi mememang merasa pening namun sirna melihat dua malaikatnya. Dia rengkuh tubuh mungil kedua anak-anak penuh sayang. Bibir pucat itu mendarat sempurna di kening dua jagoan tampan. Aziz meluapkan rasa pusing guna bermain bersama Ridwan dan Mumtaaz.


"Anak-anak, Ayah sudah makan?"


"Thudah, Yah," jawab Mumtaaz masih blepotan mengucap kata.


"Tentu saja sudah, Ayah. Kakak tadi makan sama ikan lele di sambel. Umz, lalu sama rendang daging sapi yang di bali kemarin," sahut Ridwan semangat.


"Anak-anak pintar sekali, mana ciuman untuk Ayah!"


Ridwan dan Mumtaaz mencium pipi Ayahnya penuh semangat. Mereka berdua bertepuk tangan heboh kemudian memeluk leher Aziz. Sungguh dua anak ini sangat menyayangi Ayahnya melebihi apa pun. Kedua bocah menggemaskan berpipi chubby tentunya yang paling chubby Mumtaaz.


Khumaira tersenyum tulus melihat dua anaknya mengerubungi Aziz. Dia meminta Ridwan dan Mumtaaz untuk turun agar Ayahnya ganti dulu. Syukurlah dua anaknya mau menuruti perkataannya alhasil Suaminya pergi ke kamar.


Aziz sebelum beranjak ke kamar mencium pipi gembul Mumtaaz dan Ridwan lalu pipi Khumaira. Dia berlaku sembari melepas kancing jas birunya. Rasanya sesak sampai membuat pusing ingin tidur. Aziz berharap dengan dibawa tidur sakitnya berkurang.


"Ada apa, Mas? Adek lihat wajah Mas sangat pucat. Katakan apa ada masalah di kantor? Mas makan, mandi Shalat baru tidur, ya."


Khumaira berbicara lembut seraya mengecup punggung kekar Suaminya. Sebenarnya dari beberapa hari yang lalu dia kepikiran Aziz terus menerus. Entahlah bakal ada musibah menimpa Suaminya. Khumaira terus berdoa pada Allah agar melindungi Aziz dari mara bahaya.


Aziz berbalik menghadap Khumaira lalu menatap dalam. Dengan lembut ia rengkuh Istrinya erat sembari mengatakan cinta. Mendapat pelukan lembut membuat dirinya sangat bahagia. Aziz rindu Khumaira bersikap manis seperti sekarang.


"Mas tadi minum kopi buatan Kania, lalu kepalanya terasa pusing tidak fokus kerja. Mas tidak ada masalah di kantor, intinya hanya pusing saja."


Aziz tersenyum manis ketika mengatakan itu. Dia kecup lama kening Khumaira untuk mengurai rasa rindu. Selama 1 minggu pekerja kantor membuat waktu terkikis. Kalau begini rasanya dirinya ingin bermanja mesra. Aziz sangat rindu pada mereka sampai waktu terasa lama.


Khumaira tercengang mendengar penuturan Aziz mengenai kronologis jadi pusing. Kania itu setahunya sangat baik bahkan terkesan begitu ramah. Tidak mungkin berbuat macam-macam karena sudah menganggap mereka keluarga. Khumaira jadi memikirkan sesuatu agar tidak ada yang terjadi pada Suaminya.


"Mas, kenapa bisa begitu? Dik Kania itu gadis yang baik karena kita selalu mengobrol. Bahkan Adek merasa nyaman padanya. Mungkin Mas minum terlalu banyak kopi. Ini Adek bikin wedang untuk menghilangkan pusing. Ayo makan dulu baru minum obat."


"Mas merasa begitu, Dek. Ah, jangan suudzon tidak baik untuk kesehatan orang tampan. Mas, mau makan jika Adek suapi, Mas!"


"Baiklah bayi besarku yang tampan, Umi akan suapi."


Pada akhirnya Khumaira mengurus bayi besarnya yang sedang sakit. Kalau begini Suaminya mirip sekali seperti Ridwan saat sakit. Dengan telaten ia suapi bayi besarnya. Sesekali Khumaira kecup kening Aziz supaya lekas sembuh.


Aziz makan dengan lahap karena di suapi Khumaira. Dia tersenyum tulus ketika Istrinya memberi obat dan vitamin. Usai makan ia mencuri ciuman di bibir Istrinya. Aziz senang sekali saat khumaira memberengiy lucu.


"Mas mencintai Adek karena Allah."


"Adek tahu, gih mandi setelah itu Shalat."


Aziz kembali mengecup bibir Khumaira singkat dan beranjak menuju kamar mandi. Dia bersiul kecil untuk menetralkan degup jantung. Wajahnya bersemu mengingat Istrinya begitu manis. Aziz jadi tidak sabar shalat lalu tidur manja bareng kedua anaknya.


Khumaira tersenyum menerima ciuman Aziz lalu menunduk menyembunyikan wajahnya akibat sang Suami. Usai Suaminya masuk kamar kecil ia membawa piring dan gelas ke dapur. Saat di ruang tengah Khumaira melihat Mumtaaz merengek minta asi. Oh Putra kecil sedang haus dan sekarang rewel. Pasti mengantuk makanya rewel. Khumaira minta izin dulu menaruh piring di wastafel kemudian mencuci tangan dengan bersih.


Mumtaaz menunggu sembari berkaca-kaca walau Kakaknya berusaha membuatnya diam. Dia haus serta mengantuk. Alhasil saat Uminya datang ia langsung minta susu. Pada akhirnya ia tidur dalam dekapan Uminya sembari menyusu. Si kecil kelelahan main bersama Ridwan. Mumtaaz memilih tidur dan nanti melanjutkan bermain.


Khumaira tersenyum saat Ridwan datang seraya merebahkan diri di sofa dengan berbantal pahanya. Tangan halusmya mengusap penuh sayang rambut anaknya. Dua malaikat tersayang akhirnya tertidur pulas setelah membuat gaduh. Khumaira sangat bahagia dua anaknya sangat aktif berakhir tidur.


Aziz keluar setelah Shalat Dzuhur dan mengaji sebentar. Dia ikut bergabung dengan Khumaira serta anak-anak. Tangan kekarnya terulur untuk mengusap pipi gembul Ridwan dan Mumtaaz. Melihat dua anak manis tidur pulas tak ayal membuat Aziz bahagia.


"Mas, gih istirahat."


"Belum bisa, ayo kita tidur berempat di kamar."


"Baiklah, tolong gendong Tole Ridwan."


"Baik, Dek."


Pada akhirnya keluarga kecil Aziz tidur satu ranjang. Mumtaaz dan Ridwan di tengah lalu di apit Aziz Khumaira. Mereka tidur bersama dalam kebahagiaan membuncah. Mereka sangat manis ketika tidur saling mendekap.


***


Aziz tersenyum ketika Khumaira sedang kesusahan melepas pakaiannya. Dia dengan segera membantu melepas resleting gamis Istrinya. Rasanya masih saja sama ingin menjamah punggung mulus Khumaira dengan suka cita.


Khumaira mendongak ketika Aziz menciumi punggungnya. Tadi dia habis pulang pengajian dan anak-anak tidak ikut karena ingin main bareng Aziz. Alhasil Khumaira sendiri yang pergi pengajian tanpa si kecil.


"Ugh, Mas berhenti nanti anak-anak lihat," lenguh Khumaira di sela perkataan.


"Biarkan saja, Dek. Mas ingin Adek!"


Aziz menyelusup tangan di balik pakaian Khumaira. Dia usap perut Istrinya kemudian naik ke atas. Bisa luber air susu Khumaira ketika nekad meremas kuat. Alhasil ia hanya memilin dan mengusap permukaan dada dan puncak dada sang wanita.


Khumaira mencekal tangan besar Aziz di balik pakaiannya. Dia takut kegiatan panas di lihat dua anak-anak polos. Perlahan mengeluarkan tangan besar Suaminya lalu memberikan ciuman sayang di pergelangan tangan itu. Ia bisa saja menyerahkan diri sekarang hanya saja anak-anak sedang rawan.


"Mas, tolong berhenti akhh. Nanti mereka lihat," desah Khumaira ketik Aziz memberikan serangan.


"Mereka sedang tidur, Dek. Mas ingin satu ronde saja, Mas mohon," pinta Aziz semakik gencar menjamah leher Khumaira dan tangan sudah aktif meremas paha dalam Istrinya.


Khumaira mendesah di saat Suaminya semakin intim menjamah tubuh belakangannya. Hingga suara tangisan Mumtaaz membuat berhenti. Dia bernapas lega akhirnya selamat dari jeratan sang Suami.


Aziz menyudahi aksi panas dengan terpaksa gara-gara si bayi nkal. Lihat Khumaira malah menggoda iman dengan melepas pakaian. Dia meneguk saliva sendiri saat Khumaira berpose menggoda ketika memakai baju.


Khumaira mendekat ke arah Aziz kemudian meraba tubuh atas Suaminya. Dan dengan nakal mengecup bibir Aziz kilat. Menggoda iman Suaminya itu terasa nikmat. Lucu lucu gemesin pokoknya.


"Nanti malam ya, Mas."


Khumaira langsung lari menuju kamar Ridwan dan Mumtaaz. Dia terkekeh geli karena mengingat kenakalan yang di perbuat. Bicarakan saja toh Suaminya anteng tidak protes saat ia nakal . Khumaira dengan segera membuka pintu kamar Anaknya.


Aziz tersenyum mesum berhasil menjalankan rencana menarik Khumaira ke atas ranjang. Seringai mesum tercetak jelas saat membayangkan nanti malam. Lihat saja Istrinya akan habis di atas ranjang bersamanya tanpa ampun. Aziz akan memberikan kenikmatan lebih lalu bermain cantik sampai puas bersama khumaira.


"5 ronde tanpa kecuali, hihihi," kekeh Aziz.