
Hayo kalian pasti kangen Rose Up setiap hari, bukan? Insya Allah bakal ROSE kabulkan! Tapi, setelah bulan ini habis.
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini 🙏🙏🙏👇👇👇
Happy Reading Baby, Ridwan and Mumtaaz!
***
Ridwan tengah asyik menoel pipi bulat Mumtaaz. Setelah 1 bulan akhirnya dia bisa memanggil Adiknya dengan benar. Senyum manis terukir indah tatkala Mumtaaz menggenggam jari kecilnya.
"Umi, Dedek kecil menggenggam jari Dedek besar!" seru Ridwan penuh keceriaan.
Khumaira tersenyum teduh mendengar perkataan Ridwan. Dia kecup lama kening Putra pertamanya dengan sayang. Tidak lupa dia kecup pipi gembul anaknya. Sungguh menggemaskan anaknya ini.
Khumaira menggendong Mumtaaz karena si kecil haus. Dia susui anaknya agar tenang supaya bisa bermain kembali dengan Ridwan.
Ridwan mengambil susu cokelat dan meminumnya. Wajah tampannya sangatlah manis ketika berceloteh tentang Aziz yang nakal. Sementara obyek obrolan yaitu Ayahnya ada di kantor dan pulang sore.
Khumaira hanya bisa tersenyum saja menanggapi ocehan Ridwan. Dia kecup pipi gembul anaknya dan mencubit gemas pipi dengan gemas.
Sepertinya dia harus ikhlas kelak Ridwan dan Mumtaaz menjadi narsis tidak tertolong. Semoga saja Khumaira punya personil agar tidak terbuli oleh Aziz dan Ridwan. Khumaira melihat jam menunjukkan pukul setengah 4. Dia harus memandikan si kecil dan si gembul.
Khumaira memandikan si kecil terlebih dahulu dan menidurkan sang Putra. Usai si kecil tidur Khumaira merebahkan di tengah ranjang.
Ridwan asyik main air dengan tangan terus menepuk-nepuk air sampai memercik ke mana-mana. Dia begitu senang bermain air sampai lupa waktu. Bersyukur sekarang ada pawang untuk menghalau Ridwan bermain air terlalu lama.
"Ayo sini Umi sampo rambut Dedek besar, ugh lucunya nanti Dedek kecil ngga mau lihat Masnya bagaimana? Ayo sini Umi mandiin," ujar Khumaira seraya mengambil sampo khusus anak-anak.
Ridwan menurut seraya memainkan bebek karet. Si kecil gembul begitu menggemaskan ketika pipinya memerah karena kedinginan. Dia sudah tersenyum saja ketika Khumaira mengosok tubuhnya lembut menggunakan sabun.
Khumaira mengguyur tubuh Ridwan menggunakan air hangat. Setelah bersih dia angkat Putranya dari bak mandi kecil. Tangan terampil Khumaira terus mengusap rambut tebal Ridwan dan mengusap tubuh mungil Putranya.
Dia berikan minyak kayu putih untuk menghangatkan tubuh mungil Ridwan. Khumaira tersenyum saja saat Ridwan mengoceh panjang kali lebar karena Ibunya masih memberikan bedak di tubuh dan wajahnya.
Khumaira memainkan baju koko kecil dan kopiah bordir mewah. Putranya meminta hal aneh dari Aziz dan Suaminya selalu menuruti keinginan si kecil. Kadang tidak enak sendiri pada Aziz yang sangat memanjakan sang Putra.
Walau Aziz orangnya loyal tidak segan mengeluarkan uang berapa pun untuk memanjakan si kecil, tetapi Khumaira agak rikuh. Summinya benar-benar membuat pusing jika di tentang.
Ridwan tersenyum manis ketika si kecil Mumtaaz terbangun. Wajah tampannya tampak mengemaskan ketika memiringkan kepala manja. Pipi gembul tampak merona merah melihat si kecil meminta gendong Khumaira. Mata besar di bingkai bulu mata lentik menyorot teduh menatap Mumtaaz. Adiknya sangat lucu membuat Ridwan gemas.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!" salam Aziz dari arah depan.
Ridwan dan Khumaira tersenyum cerah mendengar salam Aziz. Mereka keluar menyambut kepulangan Aziz dengan senyum manis.
"Wa'alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh," sahut Khumaira dan Ridwan.
Aziz tersenyum saat Khumaira menyalami dengan mengecup tangan begitupun dengan Ridwan. Dengan sayang dia gendong tubuh mungil Ridwan dan memberikan ciuman di wajah.
"Dedek besar, sudah mandi? Ulu-ulu sudah siap mau mengaji anak tampan," ucap Aziz bernada jenaka.
"Tentu saja sudah, Ayah. Anak tampan harus mandi cepat biar tambah tampan. Umz, Ayah cepat mandi biar Adek tunggu Ayah di kamar."
"Baiklah, anak tampan Ayah memang rupawan. Ayah mandi dulu baru kita mengaji."
"Yee, Dedek akan menunggu Ayah."
Ridwan turun dari gendongan Aziz berbalik menuju kamar. Si kecil begitu heboh karena Mumtaaz masih tertidur seraya menyedot empeng.
Khumaira membawa tas kerja Suaminya. Dia menaruh pada tempatnya, lalu menyiapkan air hangat.
Aziz merengkuh Khumaira dari belakang. Rasanya sangat rindu membuatnya tidak mampu melepas pelukan. Dia kecup leher jenjang Istrinya dan memberikan gigitan kecil.
"Ugh, Mas berhenti. Gih mandi setelah itu makan dan ajari Dedek Ridwan mengaji."
"Mandi bareng, Dek ... Mas ingin mandi bersama Istriku, mau ya."
"Dedek Mumtaaz pasti akan menangis jika Adek mandi bersama Mas. Adek tahu kebiasaan Mas saat mandi. Sudah cepat sebelum Dedek Ridwan merengek begitu pun Dedek Mumtaaz."
Khumaira membalik tubuh kemudian berjinjit untuk mengecup rahang tegas Aziz. Dia usap wajah rupawan Suaminya kemudian mengecup pergelangan tangan Aziz. Dia harus mamanasi ssyur untuk sang Suami.
Aziz menarik tangan Khumaira cukup kuat membuat Khumaira terhempas di tubuhnya. Dia tangkup pipi gembil Khumaira kemudian memberikan ciuman sayang di kening dan bibir.
Aziz langsung berlalu begitu saja setelah mengatakan kata itu. Dia mandi dengan cepat agar bisa menggendong Mumtaaz, lalu mengajari Ridwan mengaji.
Khumaira hanya bisa menggeleng kepala melihat Aziz begitu lucu. Syukurlah Suaminya sedikit waras tidak terlalu narsis. Tetapi, waras sebentar lalu kumat kembali. Heran sampai kapan sikap percaya diri selangit itu luntur?
***
Khumaira tersenyum tulus ketika bayinya menatapnya. Putra keduanya baru berumur 1 bulan setengah dan lihat betapa rupawan si kecil. Dia kecup kening Mumtaaz penuh arti kemudian beralih mengecup pipi bulat nan menggemaskan.
Khumaira terdiam saat Aziz dan Ridwan sedang mengaji. Suaminya dengan telaten membelajari Ridwan mengaji Iqro. Senyum haru merekah ruah pasalnya Aziz begitu sempurna untuk ukuran Ayah dan Suami. Senyum tulus terukir melihat Ridwan begitu semangat mengaji.
Si kecil Mumtaaz yang mendengar suara Aziz tampak senang ingin bertemu. Si kecil terus bergumam dengan mata berkaca.
Khumaira menangkup pipi gembil Mumtaaz seolah tahu si kecil ingin di gendong Aziz. Putranya terus menatap dengan celoteh lucu.
"Dedek Mumtaaz, kangen sama Ayah. Ulu-ulu, sebentar lagi Ayah selesai jangan menangis. Cup-cup sini gendong Umi, ugh imutnya anak Umi. Dedek Mumtaaz, mau bertemu Mas Ridwan juga. Ugh, nanti ya Sayangku sebentar lagi mereka datang."
Khumaira mengajak bicara Mumtaaz seraya menimang si kecil. Dia kecup pipi gembul Mumtaaz dengan penuh sayang.
Aziz dan Ridwan berebut masuk kamar dan lihat mereka seperti bocah. Aziz mengangkat tubuh mungil Ridwan untuk di gendong dengan cara lucu. Ayah dua anak ini menggendong Ridwan dengan cara mengapit di ketiak.
Ridwan meronta meminta di turunoai. Rambut tebal menjadi acak-acakan sebab Aziz mengusak rambutnya.
"Ayah, nanti Dedek ngga tampan lagi bagaimana? Ayah jangan bikin Dedek jelek, ih. Mentang-mentang Ayah tampan pertama bisa bikin Dedek jelek," omel Ridwan sukses membuat Aziz tertawa begitupun Khumaira.
"Anak, Ayah merajuk ... ulu-ulu lucu sekali. Hai ... Nak, moto baru merajuk tidak baik karena bisa menambah kejelekan wajah. Harus sabar karena orang sabar tambah tampan menawan kayak, Ayah."
Khumaira memijat pelipisnya mendengar ajaran narsis Aziz. Ya Allah, kuatkan dia menghadapi pria aneh itu. Semoga dia tetap sabar berada di naungan para pria narsis.
Ridwan langsung membenarkan penampilan dan langsung tersenyum cerah. Dia tidak mau merajuk nanti jelek. Wajahnya tampan manis harus tampan menawan kayak Ayahnya.
"Ridwan tidak merajuk. Ayah. Nanti Dedek ngga tampan lagi, berabe. Dedek Ridwan adalah anak paling ganteng uhui karena sabar saat mengaji. Yee, orang sabar tambah tampan menawan kayak Ayah."
"Masyaallah, Allahu Akbar Walillaahil-Hamd. SubhanAllah, Astagfirullahaladzim ... tabahkan hamba menghadapi mereka yang sangat narsis."
"Amin," kor Aziz dan Ridwan polos.
Khumaira mencebik bibir mendengar balasan mereka. Kenapa bisa dia berada di antara pria 4 dimensi?
"Umi, kata Ayah merajuk tidak boleh nanti menambah kejelekan wajah. Kan kasihan wajah jelek banget tambah jelek, jadi apa?"
Aziz mendelik horor mendengar ucapan polos Ridwan. Ini bukan ajarannya tentang mulut tajam. Dia meringis melihat Khumaira menatap sinis ke arahnya.
Khumaira tambah pening akan virus berbahaya Aziz yang menurun drastis pada Ridwan. Putra polosnya begitu terkontaminasi oleh mahluk pluto.
"Mas, nanti malam tidur di luar. Dedek Ridwan, sini Umi mau mengajari Adek tata cara memfilter lisan!" tegas Khumaira membuat Aziz dan Ridwan saling pandang.
"Tidak benar!" kor mereka.
Aziz memilih menggendong Mumtaaz karena sangat rindu. Dia ciumi wajah rupawan Putranya sesekali menggigit kecil pipi bulatnya.
"Dedek Mumtaaz, tampan sekali seperti Ayah. Tenang saja nanti kita jadi orang paling tampan ya, Dek. Dedek Mumtaaz tahu, Ayah itu pria paling tampan dan pastinya sangat maskulin. Dedek Mumtaaz harus seperti Ayah biar banyak penggemar. Dedek lihat ada Umi yang kurang rupawan, jadi di diskualifikasi dari daftar rupawan. Kita bertiga akan jadi personil handal!"
"Mas Aziz, kapan kamu waras? Ya Allah, Dedek Mumtaaz masih kecil sudah Mas ajari narsis. Jelas aku tidak rupawan karena Adek cantik, manis menggemaskan tidak terbantahkan. Lagian Adek ini wanita mana tampan seperti kalian. Hai, ingat Umi yang paling cantik dan mempesona di antara kalian!"
Khumaira sepertinya sudah ketularan virus Aziz. Lihat dia begitu bangga mengatakan itu untuk mencela diri.
Aziz mengerjap beberapa kali lalu mengiyakan saja biar cepat. Dia tetap bermain dengan Mumtaaz yang asyik mengemut jari telunjuknya.
****
Jangan pernah bosen sama keluarga narsis ya, Say.
Bonus Pick Dedek Ridwan and Dedek Mumtaaz!
Rose_Crystal_030199