
Aziz akan menepati janji mengajak Khumaira dan Ridwan jalan-jalan dan mampir ke taman kota. Dia sangat bahagia akhirnya bisa berjalan bersama Istri dan anaknya di hari libur. Perasaannya sangat bahagia membayangkan Tole Ridwan meminta mainan dan untuk Khumaira? Perasaan untuk Khumaira campur aduk, apa Istrinya akan meminta aneh-aneh? Entahlah, semoga Istrinya adem ayem tidak meminta hal ajaib, Amin.
Aziz keluar memakai atasan sweater rajut merah polos dan bawahan celana bahan putih panjang. Wajah tampannya tampak fresh dengan hair style khas pria berkarisma. Tidak mau ribet karena Aziz orangnya simpel dengan gaya elegan.
"Dek, ayo!" seru Aziz sembari mengetik balasan dari bosnya. Dia mendengus sebal pasalnya besok lembur jadi waktu berkurang bersama Khumaira dan Ridwan.
Khumaira melihat penampilannya yang sederhana. Pakaiannya serba pink dan terkesan sangat cantik. Dia hanya memakai riasan tipis dan lip gloss agar bibirnya tidak kering. Menatap dirinya di pantulan kaca membuat Khumaira gugup. Apa penampilannya sudah sempurna?
"Dek, his lama sekali dandanya. Adek sudah sangat cantik tidak perlu dandan terlalu!" tegas Aziz dari arah pintu.
Khumaira menengok ke arah Aziz seraya tersenyum kikuk. Baju mereka sama yang membedakan hanya warna. Sama memakai sweter rajut dan bawahan putih. Dia bersemu melihat Aziz terlihat sangat tampan. Pantas saja tingkat kepercayaan diri Suaminya setinggi gunung berapi.
Aziz terpaku melihat Khumaira sangat manis dalam balutan pakaikan sederhana. Dia mendekat ke arah Istrinya, lalu meraih pinggul dan memberikan ciuman di pipi.
"Adek sangat manis, Mas suka."
"Mas."
Khumaira menyembunyikan wajah di dada bidang Aziz. Dia meremas baju belakang Suaminya tatkala merasa sebuah sentuhan.
"Ayo kita berangkat, kasihan Dedek menunggu sampai jamuran."
"Baik, Mas. Mas, kita nanti beli martabak telur ya. Lalu beli apel hijau, anggur hijau dan stroberi. Emz, Adek juga mau membeli jagung rasa melon dan terakhir makan ayam tidak di goreng melainkan di panggang," celoteh Khumaira dengan mata berbinar mengatakan itu semua.
Aziz mengerjap beberapa kali mendengar permintaan Khumaira. Semua normal kecuali jagung rasa melon. Astaghfirullahaladzim, sabar orang sabar tambah tampan.
"Baik, nanti kita beli itu semua."
Aziz menggendong Ridwan lalu tangan kanannya menggenggam tangan Khumaira. Mereka terlihat sangat bahagia dengan balutan sweater rajut. Si kecil sangat tampan menggunakan sweater rajut baby blue dan celana jeans putih. Sangat manis dan serasi keluarga kecil ini.
Tujuan pertama ke wahana permainan untuk anak kecil. Terlihat Ridwan begitu semangat bermain di kolam bola. Dia tersenyum lebar seraya berteriak memanggil Aziz dan Khumaira.
Khumaira tersenyum tulus melihat Putranya begitu ceria. Dia menyandarkan kepalanya dan langsung berbinar melihat gambar jagung.
"Mas belikan Adek jagung rasa melon," rengek Khumaira.
"Adek, serius? Tunggu di sini biar Mas carikan."
Aziz melangkah menuju tempat penjual jagung. Dia tertawa sendiri meminta hal ajaib pada penjual dan lihat si penjual tertawa renyah.
"Istrinya mengidam ya, Mas?" tanya penjual jagung.
"Iya, Pak. Entah ngidamnya ngga ada yang bener."
"Hush, maklum saja Istri mengandung harus di turuti agar senang. Berani membuat berani bertanggung jawab saat ngidam," kekeh penjual jagung.
"Betul, setidaknya saya berhasil membuat Istriku hamil dengan cepat. Terima kasih, ini kembalian ambil saja."
"Terima kasih, semoga Istrinya lahiran sehat dan kelak Anak kalian sholeh dan shalehah. Saya akan doakan kebahagiaan untuk Kalian, Amin."
"Amin ya Allah, terima kasih banyak."
Aziz berjalan menghampiri Khumaira kemudian menyerahkan pesanan Istrinya. Dia membeli jagung cukup banyak. Jagung rasa keju dia berikan untuk Ridwan dan untuknya jagung bakar biasa.
Usai menghabiskan jagung, mereka pindah ke taman kota. Di sana terlihat ada acara panggung dangdut. Perasaan Aziz tidak tenang sekarang.
Khumaira mengerjap menatap acara entah apa itu. Semarak lagu dangdut mengalun merdu di gendang telinga. Dia teringat Aziz memiliki suara merdu dan khas saat mengaji Al-Qur'an. Suara berat nan merdu membuat Khumaira terhipnotis.
Bayangan Aziz menyanyi dangdut sepertinya sangat manis. Khumaira menatap Aziz seraya tersenyum penuh arti. Matanya besarnya menatap lugu ke arah Suaminya. Khumaira mengedip nakal pada Aziz dan meminta Ridwan untuk turun.
Aziz merasa was-was tingkat kecamatan. Perasaan semakin kalut ketika Khumaira menatap seraya menggerling nakal. Apa yang diinginkan Istrinya? Jangan bilang? Oh ya Allah, tolong Aziz.
"Mas, Adek ingin Mas nyanyi dangdut sambil nari," cetus Khumaira dengan senyum polos.
Jder
Aziz terasa di sambar petir mendengar keinginan Khumaira. Ampun, dia tidak mungkin nyanyi dangdut apa lagi sambil menari. Mau di taruh mana wajah tampannya?
"Dek, maaf ya Sayangku, Mas tidak bisa karena Mas tidak hafal lagu dangdut dan tidak memiliki lagu dangdut."
Khumaira menatap tajam Aziz kemudian meminta Aziz mendekat. Dia mencubit perut berotot Aziz gemas kemudian menambok bahu Suaminya cukup keras.
"Pokoknya harus nyanyi dangdut sambil nari, titik!" kukuh Khumaira.
"Dek, lihat banyak penonton wanita. Mas kan sangat tampan, nanti kalau Mas viral bagaimana? Lalu jika Mas jadi model dan di rekut jadi aktor atau penyanyi, bagaimana? Mas itu tampan penuh karisma, pasti para wanita akan histeris melihat Mas."
"Hilangkan sikap narsia, Mas. Adek tidak peduli, pokoknya nyanyi dangdut sambil nari, titik!"
"Tetapi, Mas tidak memiliki lagu dangdut dan hafal lagu begituan. Apa Adek tidak sayang Mas joget sambil nyanyi dangdut? Mas ini sangat tampan loh, Dek tidak pantas menyanyi begituan. Mas tidak bisa menyanyi, tolong maafkan, Mas."
Khumaira duduk seraya merengkuh Ridwan erat. Dia langsung menangis histeris tanpa peduli di mana berada. Ia terus menangis seraya merengkuh Ridwan erat dan mengabaikan Aziz sedari tadi menenangkan dia.
Aziz kelimpungan melihat Khumaira menangis dan Ridwan ikut menangis gara-gara Ibunya menangis. Alhasil banyak penonton jauh dari panggung menatap dirinya membunuh. Semua penonton bervariasi ada para lelaki, wanita dan anak-anak. Kalau begini ia harus bagaimana?
"Dek, Mas mau menyanyi lagu dangdut sambil nari. Tolong berhenti menangis," pinta Aziz dan benar Khumaira diam begitupun Ridwan.
"Iya, Sayangku."
"Ye, terima kasih Mas. Tole, lihat Ayah mau menyanyi dan menari. Kita soraki ya, Dedek."
Dedek Ridwan tersenyum cerah padahal tidak maksud perkataan Ibunya. Dia memilih tersenyum seraya bertepuk tangan heboh.
"Mas minjan ponsel salah satu dari mereka untuk mendengar lagu dangdut. Tunggu di sini, Sayangku."
"Enggeh, Mas."
Aziz mendekat ke arah mereka dengan satu tarikan napas dia akan memulai. Sejatinya dia tidak suka menyanyi dangdut karena lebih suka melantunkan Sholawat dan untuk menyanyi suka lagu inggris. Kalau lagu lainnya membuat ia pusing mendengarnya.
"Permisi, tolong saya. Bisakan meminjamkan ponsel untuk memutar lagu dangdut!" seru Aziz pada para pria dan wanita to the point.
Sontak mereka menengok ke arah Aziz. Para wanita menatap kagum akan ketampanan pria khas timur tengah berperawakan tinggi atletis. Dan untuk para pria menatap iri karena kekerenan Aziz simpel tetapi berkarisma memikat.
Aziz tersenyum saat para wanita berebut menyerahkan ponsel untuk di pinjamkan. Dia menengok ke arah Khumaira yang merengut sebal. Sangat tahu Istrinya kesal karena para wanita berebut meminjamkan ponsel. Melihat itu membuat Aziz senang akan cemburunya Aziz.
Khumaira kesal sendiri pada para wanita itu yang tengah asyik mengerubungi Aziz. Baru tahu saja ternyata magnet Suaminya sangat berbahaya. Pokoknya sandalnya akan melayang di kepala mereka jika menggoda Suaminya.
Aziz meminta mereka hom-pimpah, siapa yang menang ponselnya di pinjam. Dia dengan santai bersedekap dada melihat betapa antusias para wanita melakukan keinginannya. Risiko cowok ganteng minta apa pun di turuti.
"Yosh aku menang, ini Mas ponselnya. Sekalian minta no Wa, boleh?"
"Mas, minta tanda tangan dan foto, boleh?"
"Mas, tampan banget sih mau ngga jadi pacar saya?"
Aziz hanya menatap datar para wanita bahkan tidak ada persahabatan. Dia hanya menganggap angin lalu perkatan mereka. Jika Istrinya yang bilang begitu baru Aziz akan salto di udara lalu joget uler keket.
Perkataan absurd mereka membuat Khumaira dongkol setengah mampus. Lain kali dia tidak akan membiarkan Aziz dalam acara dangdut. Sungguh menyesal Khumaira meminta hal aneh. Tetapi, dia ingin sekali Suaminya menyanyi sambil nari.
Aziz begidik sendiri melihat daftar lagu isinya dangdut semua. Dia putar lagu Ridho Rhoma dengan judul cuma kamu. Dia dengar secara saksama, setelah habis dia putar lagu selanjutnya yaitu kerinduan.
"Ini, Mbak. Terima kasih ya sudah meminjamkan ponsel."
"Sama-sama, Mas. Mas ayo foto dong dengan kami," pinta wanita yang Aziz pinjam ponselnya.
Tanpa menjawab Aziz meraih ponsel tadi lalu foto bersama mereka. Ia foto satu kali cukup lalu menyerahkan ponsel pada orangnya. Usai itu dia melangkah ke arah Khumaira dan Ridwan.
"Dedek, jaga Umi ya, Ayah mau ke sana dulu untuk manggung."
Ridwan mengaguk setuju mendengar perkataan Aziz. Dia tersenyum seraya menepuk tangan heboh. Ia sangat bahagia Ayahnya begitu lucu.
Aziz menunduk untuk mengecup pipi gembil Ridwan dan mengecup kening Khumaira. Dengan lembut dia kecup sudut bibir Istrinya lalu menciumi pipi gembul anaknya.
"Mas akan menyanyi demi, Adek."
Aziz berlalu begitu saja seraya berteriak meminta jalan. Semua penonton tiba-tiba memberikan jalan padanya. Dia sih biasa saja ketika banyak wanita menatap memuja dirinya.
Sampai panggung dengan percaya diri Aziz meminta izin untuk menyanyi. Tentu para pengunjung wanita bersorak senang mendengar permintaan Aziz.
Para artis dangdut penasaran dengan suara berat dengan khas pria dewasa. Siapa gerangan yang hendak menyanyi mengambil giliran 3 kucing? Eh macan.
Aziz tersenyum manis pada mereka dan lihat para wanita langsung histeris. Dasar lebay tetapi ini risiko cowok ganteng. Dengan senyum penuh cinta Aziz layangkan untuk Khumaira. Matanya menatap jauh di mana Khumaira dan Ridwan berada.
"Untuk Istriku tercinta, Mas rela merendahkan diri untuk menyanyi dangdut. Mas sangat mencintai Adek karena Allah, semoga Adek bahagia dengan lagu yang akan Mas persembahkan. Dedek Ridwan, Ayah sangat menyayangi Tole!"
Aziz tanpa malu mengucap kata cinta di depan ribuan orang. Dia tidak akan segan mengutarakan isi hati asal Khumaira bahagia.
Khumaira menitikan air mata haru mendengar perkataan Aziz yang sangat tulus. Demi Allah, dia sangat terharu mendengar ungkapan tulus Suaminya. Dia tidak kuasa menahan haru dan tangis akan semua yang di lakukan Aziz. Di rengkuh Ridwan erat sembari menciumi puncak kepala Putranya.
Ridwan bersorak senang mendengar Aziz. Dia bertepuk tangan heboh melihat Ayahnya begitu keren.
Banyak yang meleleh mendengar ke romantisan Aziz. Mereka sakit hati sekaligus terharu akan sikap gantle pria gagah itu.
"I love you, my Wife. You're my life!"
Khumaira bersemu mendengar ungkapan cinta Aziz. Hatinya berbunga bunga dan jantungnya berdegup keras. Entahlah rasanya begitu sangat membahagiakan untuk Khumaira. Aziz benar-benar pria penuh kejutan manis.
Aziz menyanyi sedikit menggerakan tubuh walau dirinya sangat malu. Suara berat serak basah namun merdu mengalun indah. Dia tadi hanya mendengar satu kali dan langsung hafal. Memang dasarnya Aziz sangat cerdas dan ingatannya begitu tajam. Satu kata untuknya genius!
Usai menyanyi, Aziz tersenyum tipis pada mereka lalu mengucap terima kasih pada MC dan yang lainnya. Dia turun untuk menemui Khumaira dan Ridwan sedang menunggu. Sampai di depan anak Istri, Aziz merengkuh Khumaira posesif, kemudian mengecup pipi bulat Ridwan. Dia akan ke toko buah untuk membeli buah keinginan Khumaira. Rasanya teduh bisa berjalan bersama Istri dan anaknya tanpa ada halangan.
Khumaira menggenggam erat tangan besar Aziz. Dia tersenyum teduh kemudian berjinjit untuk mengecup rahang tegas Suaminya. Ia juga tidak sungkan mencium punggung tangan Suaminya penuh sayang.
"Adek sangat terharu, Mas. Terima kasih banyak, Adek sangat menyayangi, Mas."
"Mas juga sangat menyayangi, Adek."
Aziz menggendong Ridwan kemudian melangkah pergi menuju tempat selanjutnya sembari bergandengan tangan bersama sang Syafa-nya. Hatinya sangat bahagia kencan bersama Khumaira dan Ridwan. Semua kebahagiaan terasa lengkap pada cinta yang sesungguhnya.
Para penonton menatap haru pasangan Aziz dan Khumaira. Mereka berdecak kagum menatap keluarga kecil mereka yang sangat bahagia. Romantis sekali penuh warna dan terkesan begitu manis.