
...Khumaira POV On!...
Apa aku terlalu kasar?
Apa aku terlalu keterlaluan?
Apa aku harus meminta maaf atas ucapan itu?
Apa yang akan terjadi setelah ini?
Saat aku hendak meminta maaf lidahku terasa kelu. Entah kenapa aku tidak sanggup mengucap kata maaf. Dan kini semua mulai rumit ketika Mas Aziz terlihat menjaga jarak.
Bahkan aku merasa dia tidak lagi sama. Mas Aziz yang asal bicara, narsis dan suka bercanda seolah sekarang lenyap. Mas Aziz sekarang terkesan lebih pendiam dan dingin tidak ada kelucuan.
"Mbak, aku pulang telat karena ada tugas."
"Em, jam berapa?"
"10, saya akan meluncurkan desain baru makanya sangat sulit pulang awal. Sekali lagi maaf jadi sering tertambat pulang."
"Tidak apa, semangat bekerja, Mas."
"Terima kasih."
Entah kenapa rasanya sesak melihat Mas Aziz menjadi acuh. Aneh ini yang kuinginkan, namun kenapa terasa aneh. Aku merasa tidak ikhlas akan bungkam serta sikap acuhnya.
Berhenti bertingkah Khumaira kamu terlalu munafik menjadi wanita. Aku hanya ingin semua masih menjadi indah pada waktunya. Tolong maafkan aku Mas Aziz terlalu bersikap naif.
"Mas."
"Iya, ada apa Mbak?"
"Ah, tidak aku hanya ingin ...."
Aku ingin Mas kembali menjadi seperti semula. Bisakah Mas Aziz kembali menjadi pemuda narsis yang sangat humoris? Ketika ingin mengatakan rasanya begitu kelu. Tolong maafkan aku selalu menyakitimu dan berharap lebih.
Lisanku 2 minggu lalu memang sangat keterlaluan. Aku sampai tidak percaya memiliki lisan setajam itu. Tolong maafkan aku aku karena murka Mas murkanya Allah.
"Mbak ingin belanja?"
Aku tercengang saat Mas Aziz memberikan kartu kredit titanium padaku. Bukan ini yang kuinginkan dari, Mas Aziz. Aku ingin Mas kembali seperti Mas Aziz seperti dulu. Aku ingin Masku kembali menjadi pria humoris yang penuh warna. Bukan pria dingin tanpa ekspresi serta memiliki aura dingin.
"Bukan, aku tidak ingin belanja. Lupakan saja, bagaimana hubungan Mas dengan Mbak Zahira?"
Mas Aziz menaruh kartu kredit titanium itu di telapak tanganku. Ini sentuhan fisik setelah hari itu aku membentak dan menyakitinya. Aku menegang merasakan sengatan listrik dari kulitnya. Aku merasa tubuhku bergetar hebat menerima sentuhan sederhana ini. Aku menunduk sedih saat Mas Aziz buru-buru menarik tangannya.
Aku merasa ada yang salah dengan diriku. Aku merasa menjadi wanita paling kejam di dunia. 2 bulan kami menikah aku selalu bungkam tanpa mau menjalankan ibadah sebagai Istri sesungguhnya.
"Maaf, membuat Mbak tidak nyaman. Hubungan kami seperti semula. Dik Zahira tidak kaku lagi dekat dengan saya."
Terlihat mata cokelat keemasan Mas Aziz menyorot menyesal. Maafkan aku Mas Aziz, tolong maafkan aku yang tega menyakitimu. Entah kenapa terasa sesak mendengar mereka semakin dekat. Ini yang kuinginkan namun kenapa terasa sakit?
"Baguslah, kalian jadi akrab aku senang sekali."
"Aku berangkat dulu, salam untuk Dedek. Assalamu'alaikum."
"Wa’alaikumussalam."
Mas Aziz pergi tanpa menengok ke arahku. Sejak kapan aku menangis? Sejak kapan hatiku begitu sakit? Kenapa hati dan rasa ini begitu sesak? Sejak kapan hati dan mataku berembun penuh kepedihan?
Semua terasa hambar akan hubungan kami. Ini yang kuinginkan Mas jauh tanpa mempedulikan kehadiranku. Tetapi, kenapa rasanya sakit sekali? Aku tidak bisa menahan diri untuk menangis dan meminta kembali.
Ini kesalahan fatal yang sangat berdosa membuat Suami terluka. Begitu besar dosa dan murkanya Allah untukku. Semua berasa hancur di hadapan Mas dan Allah.
Murkanya suami berarti murkanya sang Khalik. Aku sudah membuat Suamiku marah dan terluka. Kini apa gunanya aku selama ini mengaji?
Aku sudah tahu hukum istri pada Suami. Namun, semua kulanggar tanpa menjalankan tugas sebagai Istri. Aku tidak memenuhi kewajiban sebagai Istri dan terus menyakiti hati tulusnya. Betapa besar dosaku di hadapan Allah dan pastinya dosaku juga sangat besar pada Mas Aziz.
Sekarang aku harus bagaimana?
Aku memutuskan untuk mengawali hari baru bersama Mas Aziz. Mungkin ini saatnya aku melangkah dan memenuhi kewajiban sebagai Istri yang sesungguhnya.
Mbak Zahira, maafkan aku tidak akan melepa, Mas Aziz. Maafkan aku telah mengambil Masmu untuk menjaga kami. Tolong maafkan aku, Mbak Zahira mejadi benalu.
Mas Azzam, Adek mohon doakan Asek memulai awal baru. Mas Azzam, tolong Ridhoi Adek melangkah memenuhi tugas sebagai Istri. Mas akan selalu Adek simpan di lubuk hati yang paling dalam.
Mas, tolong maafkan Adek tidak mampu memenuhi ucapan. Mas akan selalu tersimpan di hati Adek sampai kapan pun. Maaf telah membuat malu Mas karena tingkah Adek.
Insya Allah, dengan mengucap Bismillah aku siap memenuhi tanggung jawab. Mas Aziz, tolong maafkan aku karena tertambat memenuhi tugas. Mas Aziz aku datang memenuhi tugas sebagai Istri.
...****...
Aku putuskan siang ini menemui Mas di kantor. Pasalnya aku akan mengawali hari baru dengan semangat baru. Aku tidak sabar bertemu dengan Mas Aziz. Kira-kira bagaimana respons Mas Aziz tentang ini semua?
Pipiku merona mengingat ciuman pertama kami di rumah sakit. Ya Allah, detak jantungku seperti mau tawuran. Tidak jangan terjadi ini tidak baik. Kendalikan diri Khumaira tidak boleh hiperaktif.
Aku memutuskan untuk membeli sesuatu di sesuatu Mall dekat kantor Mas Aziz. Aku ingin membeli hadiah untuk Masku yang narsis. Semoga saja Mas Aziz suka dengan pemberianku.
Aku ingin membeli baju dan arloji untuk Mas Aziz. Mas sangat suka menggunakan arloji makanya aku memutuskan membeli dengan uang gajianku. Aku tahu harga arloji Mas Aziz di atas 100 juta. Semua arloji Mas Aziz bermerek terkenal seperti Rolex dan Guci.
Apa Mas Aziz menerima arloji di bawah 1 juta? Aku kenapa merasa minder saat jam yang kupegang tidak mampu menyamai jam tangan Masku. Tidak jangan pesimis Khumaira karena bukan harga yang di lihat melainkan ketulusan.
Aku memang membawa kartu kredit Mas Aziz, tetapi tidak aku gunakan. Pasti banyak sekali barang yang kudapat jika memakai kartu ini. Namun, aku tidak mau menggunakan ini jika tidak ada gunanya.
...Deg...
Apa ini ... kenapa Mas Aziz bisa bersama Mbak Zahira di sini? Bukanya Mas bilang ada pekerjaan penting. Lalu kenapa bisa Mas berdua bersama Mbak Zahira? Apa Mas Aziz membohongiku?
Dadaku sesak sekali melihat mereka begitu dekat. Bahkan Mas Aziz tersenyum tulus melihat Mbak Zahira. Ternyata benar adanya aku hanya pengganggu. Aku hanya perebut laki orang yang tidak tahu malu. Benar kata mereka aku hanya wanita hina tidak pantas bersanding dengan Mas Aziz. Aku sudah menjadi perusak hubungan mereka yang sangat tulus.
Apa yang Kupikirkan saat ingin mengawali hari baru? Jika aku awali lalu bagaimana dengan hubungan mereka? Apa yang akan terjadi jika aku bersama Mas Aziz?
Jika itu terjadi pasti cinta mereka terhalang dan akan semakin sakit. Pasti mereka akan hancur jika ada aku di antara mereka. Sungguh aku sangat keterlaluan memisahkan mereka.
Aku tidak tahan melihat ini dan tanpa babibu pergi dari sini membawa luka. Sakit sekali sampai rasanya begitu menyiksa. Kenapa rasanya begitu menyakitkan untuk hatiku? Kenapa aku menangis memilukan?
Sakit sekali ya Allah.
Mungkin semua terasa menyakitkan jika aku nekat mengawali hari baru. Mas Aziz mencintai dia dan harus terikat dengan wanita sepertiku. Mereka saling cinta dan aku merusak kisah kasih mereka. Jika terus kupaksa hati Mas Aziz pasti semakin terluka.
Semua terasa menyakitkan sampai aku lupa caranya bernapas. Tolong berhenti jangan menangis lagi. Khumaira sadarlah jangan menangis lagi.
...****...
Sekarang jam 10 malam dan Mas baru pulang beberapa menit yang lalu. Apa mereka bersama selama itu? Pekerjaan apa sampai semalam ini? Dari pada melakukan hal yang dilarang lebih baik aku satukan.
"Mas."
Aku bertekat meluruskan semua ini. Biarkan Mas Aziz kembali pada seseorang yang menjadi takdirnya. Semoga saja ini jalan terbaik untuk kami.
"Iya, ada apa Mbak?"
"Apa Mas mencintai seorang wanita?"
Aku tersenyum getir saat Mas Aziz tampak terkejut dengan pipi bersemu. Ya Allah, jahat sekali diriku memisahkan dua hati yang saling mencintai.
"Ada, bahkan aku mencintainya sangat lama."
Sakit entah kenapa. Rasanya sangat menyakiti hatiku. Ternyata begitu besar cinta Mas padanya. Bodoh sekali kenapa aku begitu egois? Tolong maafkan aku Mas Aziz mengikat dirimu tanpa belas kasih.
"Mas mari kita berpisah. Mas bisa kembali dengan Mbak Zahira dan aku bersama Ridwan akan mandiri. Mas tidak perlu mengkhawatirkan soal amanah. Saya Insya Allah mampu menjaga Tole."
Kenapa rasanya sangat menyakiti hatiku? Sangat sakit mengatakan kata-kata perpisahan. Maafkan aku Mas Aziz, maafkan aku. Aku menunduk dalam menyembunyikan air mata yang siap meluncur.
...Grep...
"Ah." sakit sekali saat Mas Aziz mencengkeram lengan atasku. Rasanya semakin sakit saat ia menarik tubuhku lebih dekat. Aku yang mungil terasa sesak akan semua ini. Cengkeramannya semakin erat membuatku meringis kesakitan.
Aku berusaha melihat Mas Aziz yang beraura sangat kelam. Hal pertama yang kutatap adalah matanya. Mata Mas Aziz berkilat marah bahkan terlihat berkaca-kaca. Dia sangat emosi bahkan sangat terluka. Apa aku salah? Bukannya aku benar menyatukan mereka kembali?
"Tarik kata-katamu, Mbak!"
"Maaf, itu sudah final."
"Apa saya begitu menjijikkan sampai Mbak tidak mengharapkan semua ini? Apa saya begitu hina sampai Mbak meminta perpisahan? Apa Mbak pikir saya ini barang yang bisa di buang pada Zahira? Katakan padaku sehina apa saya di mata Mbak?"
Sakit sekali mendengar pernyataan, Mas Aziz. Apa aku salah jika ingin menyatukan mereka kembali? Apa ini kenapa Mas Aziz menangis? Aku tidak sanggup menatap Mas Aziz yang sangat marah bahkan matanya sudah banjir air mata. Hatiku hancur sekali melihat Mas Aziz menangis dalam diam. Kenapa rasanya begitu menyiksa pikiran dan hatiku?
Bukan begitu Mas, semua itu salah. Saya sangat menyesal mengatakan kata-kata itu dan kini kurasakan jantung dan hatiku terasa di remas kuat oleh tangan tidak kasap mata. Mas semua pertanyaan itu salah. Mas sangat berharga dan sangat berarti untuk bersanding dengan wanita hina sepertiku. Engkau bukan sampah apa lagi menjijikkan. Mas adalah berlian yang sangat mulia.
Tolong maafkan aku, ini sakit sekali. Tolong jangan menangis itu menyakiti hatiku. Tolong maafkan aku yang hina ini. Mas Aziz jangan menangis aku mohon karena tangismu membuatku begitu terlukam
"Saya sangat kecewa padamu, Mbak. Saya tidak akan pernah menghancurkan ikatan ini. Pikirkan dulu sebelum berbicara dan renungkan kesalahanmu. Perkataan Mbak begitu menyakitkan untuk di dengar. Jika memang Mbak tidak mau melihat saya, tenang saja. Mulai sekarang saya akan tidur di kamar, Tole Ridwan!"
Mas Aziz menyentak tubuhku sedikit kasar sehingga mebuatkau mundur beberapa langkah. Dia langsung berlalu setelah mengatakan kalimat terakhirnya. Aku terjatuh di lantai dengan tangis memilukan.
Tolong maafkan aku aku memang sangat bersalah padamu, Mas. Hiks, tolong maafkan aku telah menyakitimu. Ini sangat menyakitkan untuk semuanya.
Maaf ... maafkan aku Mas. Aku tidak kuat melihat kemarahan Mas untuk pertama kalinya. Rasanya begitu menyiksa sampai aku ingin merengkuhmu. Tolong maafkan aku Mas Aziz menyakitimu dengan kata-kata menyakitkan itu.
Tanpa sadar kalimat perpisahan keluar di kala keresahan mengganggu. Hatiku hancur lebur tidak berbentuk ini karena apa? Aku merasa sangat sakit, aku ini kenapa? Bukanya ini yang kuinginkan? Tolong aku sangat kesakitan menerima kemarahan Masku.
Mas, hiks kumohon tolong maafkan kesalahanku. Semua kata yang Mas katakana terasa menghantam tubuhku. Semua begitu mengiris jantung sampai aku lupa bagaimana cara berdiri. Tubuhku lemah Mas tolong diriku.
Mas Aziz, maafkan aku.
...Khumaira POV Off!...