Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI 2 - Apa Ayah Akan Pulang?



Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!


Menangis lah jika itu meringankan beban hati. Jangan takut luapkan segalanya.


Aku tahu Kalian akan sedih maka siapkan tisu.


***///~\*


Aziz tersenyum lebar pasalnya hari ini akan pulang ke Indonesia tepatnya di Pagerharjo. Dia akan menjemput keluarga kecilnya. Sungguh rasanya begitu membahagiakan ketika mendengar Khumaira hamil. Rasa haru menyeruak indah membuat Aziz terus tersenyum manis.


Aziz sudah membatalkan kontrak kerja pada Douglas Company. Sekarang tujuannya pulang meraih kebahagiaannya. Dia menarik koper besar berisi pakaian dan dokumen penting. Ada laptop serta identitas di koper. Dompet dan ponsel Aziz kantungi agar mudah mengambil sesuatu.


Setelah sedikit berdebat panjang lebar, akhirnya Aziz mampu keluar dari perusahan terkenal di Singapura. Walau sejatinya mereka minta ganti rugi akan semua fasilitas di kembalikan dan semuanya harus lunas. Aziz tentu mengembalikan semua tanpa sisa.


"Kak Aziz," panggil Jasmin terlihat sedih.


Aziz tersenyum tipis pada Jasmin. Gadis ini baik padanya sehingga membuat ia sedikit mengagapnya teman. Usia gadis ini 12 tahun lebih muda darinya. Bisa di bilang Seumuaran Laila sang Adik ipar super bawel. Tidak apa setidaknya Aziz punya teman yang membuat terhibur.


"Kak Aziz bilang aku sudah Kakak anggap Adik, benar?"


"Iya, ada apa? Aku buru-buru karena 1 jam lagi penerbangan ke Yogyakarta akan tiba"


"Pakailah mobilku akan ada Paman Hans yang akan mengantar Kakak ke bandara. Boleh minta satu foo? Anggap kenang-kenangan sebagai salam perpisahan."


Aziz berpikir sebentar, pasalnya sudah memesan Grab. Masak iya mau di cencel. Untuk foto Aziz masih bisa memberikan, tetapi untuk mengantar seprtinya tidak. Entah kenapa perasannya sangat aneh hari ini. Seperti akan ada hal buruk akan terjadi padanya. Makanya sedari tadi Aziz selalu berdoa memohon pertolongan.


Jasmin tersenyum manis saat Aziz mau foto denganya. Dia sedikit merapatkan diri pada pria yang disukai. Tetapi,  prianya malah menjauh tanpa mau berdekatan. Sabar jangan tunjukan sikap tidak suka bisa berabe. Jamin harus kalem supaya Aziz lunak padanya.


"Kak ayolah hanya sekali!"


Aziz risi Jasmin meminta foto sedikit aneh. Tidak terlalu hanya gadis itu berdiri di depannya. Lalu hal kedua ia suruh menuduk dan gadis itu menengok ke samping. Alhasil foto seperti ciuman di pipi. Buru-buru Aziz mundur menjaga jarak aman. Berani sekali Jasmin bertingkah begitu.


"Kak, maaf  Jasmin tidak sengaja," sesal Jasmin.


"Omomg kosong, hapus foto itu!" sentak Aziz.


"Aku akan hapus, tetapi janji Kakak harus memaafkan aku dan mau di antar Paman Hans," tukas Jasmin.


"Kenapa kamu terlihat memaksaku?"


"Maaf, tolong Kak?"


Aziz tidak mau meladeni rengekan Jasmin. Dia merasa kesal alhasil mau menyetujui permintaan gadis itu. Dengan langkah cepat Aziz menuju lift. Setelah sampai dasar ia berjalan ke lobi apartemen mewah milik Douglas Company. Dia meminta Hana untuk lekas mengantar ke Bandar udara internasional Changi Singapura.


Jasmin tersenyum penuh arti melihat Aziz pergi ke luar. Dia melihat pria itu dari atas lantai 10 dengan pandangan penuh makna. Seringai kemenangan terukir indah di bibirnya yang mungil.


"Kamu milikku, Kak. Maaf jika hal buruk akan segera terjadi padamu. Istrimu itu akan menderita karena kamu akan tinggal bersamaku di sini. Maaf ya, Kak Aziz!"


Di lobi Aziz melakukan panggilan Video Call. Dalam layar terlihat kedua Putranya berseru penuh kebahagiaan. Tangis haru meluncur begitu saja melihat senyum Ridwan dan Mumtaaz. Anak-anaknya sangat tampan seprtinya.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Ayah!"


"Wa'alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh, anak-anak tampan."


"Ayah, kami rindu sekali dengan Ayah. Kapan pulang? Oh iya, hati-hati ya jangan sampai kenapa-napa!" seru Ridwan.


"Betul, Ayah harus banyak doa ya karena Dedek mimpi buruk. Ayah harus hati-hati ya, Yah.  Dedek sangat merindukan Ayah!"


"Ayah, juga sangat merindukan kalian. Selalu, Ayah akan terus berdoa. Jangan lupa doakan Ayah jangan sampai kenapa-napa. Tunggu Ayah pulang ya Kakak dan Dedek. Ayah sangat mencintai kalian karena Allah!"


"Amin ya Allah. Ayah kami juga sayang Ayah karena Allah. Umi mau bicara karena dari tadi kami yang ambil, hihihi!" tawa Ridwan dan Mumtaaz.


Khumaira tersenyum teduh melihat Aziz. Pipinya bersemu merah karena malu di tatap Aziz mendamba. Dengan malu-malu khumaira menyapa Suaminya. Pipi gembul itu semakin imut saat merona sehingga ingin nyubit gemas.


Aziz mengatupkan bibir rapat melihat Khumaira terlihat sangat cantik nan manis. Ingin sekali dia mencubit gemas pipi gembul Istrinya. Sungguh ia sangat bahagia melihat Khumaira tampak lebih cantik bersinar.


"Mas pulang, Sayangku. Tunggu Mas ya, Dek."


"Adek tunggu, kedatangan Mas. Adek sangat mencintai Mas karena Allah. Tolong jangan lupa berdoa agar baik-baik saja sampai tujuan. Adek mohon tolong jaga kesehatan selama perjalanan. Ingat ini kami sangat mencintai dan merindukan Mas."


"Hu'um, Mas akan selalu berdoa pada Allah agar mendapat keselamatan. Mas juga sangat mencintai Adek karena Allah. Ayah juga sangat mencintai dan menyayangi kalian. Tunggu kedatangan Mas!"


Khumaira melihat anak-anaknya menangis sesegukan. Mereka ikut serta menatap Aziz penuh makna. Ia jadi bingung melihat Ridwan dan Mumtaaz menangis sembari berkata :Ayah kami selalu mendoakan keselamatan, Ayah. Jaga diri baik-baik karena kami setia menunggu kedatangan, Ayah. Entah kenapa Khumaira merasa firasat buruk akan menimpa keluarganya. Firasat itu langsung tertuju pada Aziz yang sedang di Singapura.


"kami cinta Ayah! Pulang segera karena kami selalu menunggu, Ayah.  Kami akan selalu menyayangi Ayah sampai maut memisahkan. Tolong jaga diri baik-baik!" kor khumaira, Ridwan dan Mumtaaz.


Aziz ikut menangis melihat Khumaira, Ridwan dan Mumtaaz. Air mata mengucur deras membasahi pipi melihat Istri serta anak-anaknya. Entah kenapa firasat Aziz mengatakan ini terakhir kalinya bisa menatap mereka. Makanya ia terus menatap tanpa mau mengalihkan pandangannya.


Khumaira, Ridwan dan Mumtaaz ikut menangis sembari menatap Aziz. Entah kenapa firasat buruk menghantam jiwa mereka ketika bertatapan, Aziz. Hati mereka terasa di remas kuat melihat orang yang disayangi menatap sendu.


Suara klakson mengagetkan Aziz. Buru-buru dia seka air matanya lalu tersenyum pada Hans. Dia meminta waktu sebentar lagi untuk berbicara pada keluarganya. Tidak ada hal paling menyenangkan selain menatap Khumaira, Ridwan dan Mumtaaz.


Khumaira mengusap pipi Aziz lewat layar ponsel. Dia semakin sesak melihat mata Suaminya. Jantungnya berdegup kencang begitu sesak. Sementara pikiran dan hatinya resah memikirkan Suaminya.


Ridwan dan Mumtaaz menangis sembari memanggil Ayah. Mereka merasaka firasat buruk benar-benar akan terjadi. Mimpi itu begitu nyata saat Aziz tiba-tiba terpisah oleh mereka. Ketika mereka hendak menggapai ada jurang pembatas begitu curam menghadang langkah mereka.


"Ayah, bisakah jangan pergi menggunakan mobil itu?" pernyataan polos Mumtaaz menghantam jiwa Aziz dan yang lainnya.


"Ada apa, Nak?"


"Ayah, ambil mobil yang lain saja."


"Ayah sudah janji pada seseorang untuk naik mobil teman, Ayah. Anak-anak jangan bandel dan ingat mengaji. Ayah akan selalu merindukan kalian dan akan selalu mencintai Umi, Kakak dan Dedek sampai ajal menjemput. Ayah berangkat dulu. Jangan lupa tunggu kepulangan, Ayah. Jangan jadi anak nakal yang merepotkan, Umi. Untuk Dek Syafa tolong jaga anak-anak serta buah hati kita yang ada dalam kandungan dengan penuh kasih sayang. Tolong jadilah wanita tegas nan kuat. Untuk Kakak Ridwan, tolong jaga Dedek Mumtaaz dan calon Dedek bayi. Untuk Dedek Mumtaaz, nurut pada Umi dan Kakak. Ayah sangat mencintai kalian sepenuh hati!"


Khumaira tidak mampu membalas perkataan Aziz. Dia hanya mengaguk setuju tanpa berbicara. Lidahnya terasa kelu mengeluarkan suara. Dengan gemetar Khumaira mengecup kening Aziz lewat layar ponsel. Hal sama di lakukan kedua Putranya.


Aziz juga mengecup kening mereka sembari tersenyum manis. Semoga saja Allah selalu menjaganya dalam segala musibah. Kini saatnyan berangkat ke bandara agar tidak terlambat.


"Ayah pamit, ya. Sampai jumpa lagi anak-anakku sayang dan Istriku tercinta. Ayah akan selalu mendoakan kebahagiaan kalian. Ayah sangat menyayangi dan mencintai kalian karena Allah. Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!"


"Ayah / Mas ... hati-hati jangan lupa berdoa di sepanjang jalan. Sampai jumpa kembali Ayah / Mas. Kami juga akan selalu mendoakan kebahagiaan, Ayah. Kami juga sangat mencintai dan menyayangi Ayah karena Allah. Wa'alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh."


Panggilan terputus menyisakan isak tangis dari mereka. Khumaira mendekap Ridwan dan Mumtaaz erat. Mereka menangis tersedu mengharap semua akan baik-baik saja. Hati Khumaira terasa  remuk entah karena apa? Air mata kesedihan terus meluncur bebas tanpa mampu di bendung.


Mumtaaz meraung histeris mengatakan Ayahnya tidak akan baik-baik saja. Sementara Ridwan menangis sesegukan melihat takdir memilukan akan terjadi. Mereka harus bertahan menerima cobaan berat ini.


***//'~\*


Azzam terdiam menatap foto pernikahannya bersama Khumaira. Kini wanitanya bukan lagi menjadi Istrinya. Kini tinggal kenangan memisahkan mereka. Air mata luruh mengingat Khumaira tidak mampu ia raih. Azzam merasa tersiksa hidup tanpa wanitanya.


Satu bulan hidup tanpa khumaira terasa hambar. Tidak ada warna dan senyum manis yang selalu dia terima ketika dulu bersama. Selama ini kerjaan Azzam hanya mengajar Santriwan untuk mengulang diniah. Membalah kitab dan mengajari mengaji.


Harapan Azzam ingin hidup lebih bermakna. Biarkan Khumaira tetap dalam lubuk hati paling dalam. Kini ia ingin hidup seperti biasanya tanpa bayangan cinta dan penyesalan. Azzam hanya ingin belajar ikhlas menerima apa yang Allah kehendaki.


Dalam kesedihan Azzam merasa jantungnya berdegup sesak mengingat akan ada badai menghantam. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Azzam merasa firasat buruk akan segera terjadi? Sekelebat bayangan Aziz muncul sembari tersenyum manis.


Entah kenapa Azzam bergetar hebat merasakan akan ada kurang pembatasan. Apa Adiknya baik-baik saja di Singapura? Demi apa pun ia tidak akan sanggup jikalau Adiknya terluka dalam kehancuran. Azzam harap semoga Aziz baik-baik saja, Aamiin.


"Aziz," gumam Azzam.


Azzam merapalkan doa keselamatan pada Aziz. Sebagai Kakak dia merasa akan ada bahaya menghampiri Adiknya. Semoga saja Aziz baik-baik saja tanpa terluka. Kini Azzam berharap semoga Aziz bisa melalui cobaan kali ini.


Lain sisi Safira dan Hasyim meraaa sesak di jantung. Mereka menitikan air mata entah kenapa? Namun, bayangan Aziz sukses membuat mereka bungkam tanpa arti. Mereka terus berdoa semoga anak ketiganya baik-baik saja. Semoga saja tidak ada musibah menimpa Putranya yang ada di Singapura.


Kembali di mana seorang pria dewasa tampak bahagia lantaran mau pulang. Aziz tersenyum sembari mengajak ngobrol Hans. Sesekali dia berbicara banyak guyonan. Memang mulut berbicara lelucon penuh canda tawa. Namun, hatinya terus merapalkan doa penggarap keselamatan. Aziz tidak tahu yang pasti sesak sekali sampai rasanya sesak sekali.


Hans merasa panik saat rem mobil blong. Ini di jalan sepi tetapi sangat berbahaya. Dia berusaha tenang saat Aziz bertanya apa yang terjadi? Dia tidak mampu mengendalikan kestabilan mobil. Hans takut jikalau sesuatu akan terjadi pada mereka terkhusus Aziz.


Aziz jadi teringat kejadian 3 tahun lalu saat dirinya kecelakaan. Tidak jangan sampai ini terjadi, pasalnya ada keluarga yang menanti. Dengan penuh harap Aziz terus menyerukan nama Allah dan membaca kalimat syahadat saat mobil hilang kendali.


Hans meminta Aziz membuka pintu penumpang. Saat pintu terbuka ia dengan kuat mendorong Aziz keluar. Dia tersenyum seraya menangis memilukan. Jika saja tidak memerlukan uang Hans tidak akan sanggup melakukan ini.


Aziz terpelanting jauh menyebabkan terguling di ruas jalan. Tubuhnya terasa sakit semua tanpa mampu dijabarkan. Sampai pembatas jalan menghantam Kepalanya sangat keras. Darah itu bercucuran dari pelipis dan Kepalnya. Tubuhnya terasa remuk menerima insiden mengerikan ini.


Saat menengok arah depan napas Aziz memburu melihat mobil yang di tumpangi meledak. Matanya berembun ketika sadar Hans terbakar di dalam mobil tanpa bisa menyelematkan diri. Tidak ayal membuat dadanya nyeri mengingat pengorbanan seseorang yang selama ini baik padanya. Aziz tidak bisa berkata banyak aku at luka pada sekujur tubuh.


Kesadaran Aziz semakin menipis sehingga harapan terlabuh. Dia merasa tulang rusuknya patah apa lagi tangan dan kaki terasa mati rasa. Lebih menyakitkan lagi ada di bagian kepalanya terasa sakit luar biasa. Aziz merasa dunianya hancur seketika saat sadar tidak akan bisa pulang hari ini. Air mata luruh deras menerima takdir yang sangat kejam.


"Mas pulang, Dek. Ayah akan pulang, Nak jangan takut. Ayah mencintai kalian sepenuh hati," lirih Aziz sebelum kesadaran merenggut segalanya.


Dalam kejauhan sosok wanita menangis dalam diam. Dia melihat kecelakaan mengerikan terjadi. Cukup bersyukur saat ada beberapa mobil hendak menghantam Aziz. Namun, refleks berhenti tanpa menyenggol korban kecelakaan.


"Maaf," lirih gadis itu.


Tepat di Indonesia, Khumaira mengaji usai Shalat Duha. Tetapi, langsung berhenti tatkala merasa perut dan jantungnya sakit. Perasaan kalut sukses membuatnya pedih mengingat sesuatu. Pada akhirnya ia menangis tersedu usai menutup bacaan Al-Qur'an. Entah kenapa rasa sakit melingkupi hati Khumaira. Dia merasa Aziz dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Mumtaaz sontak menangis histeris seraya berlari ke kamar. Setelah sampai kamar si kecil merengkuh Uminya seraya menangis keras. Dia terus meraung histeris mengatakan Ayahnya terluka. Rasanya begitu menyiksa sampai Mumtaaz tidak mampu berhenti menangis.


Sementara Ridwan ambruk menerima cobaan. Setitik mimpi membuat Ridwan bergetar ketakutan. Mimpi itu akan menjadi nyata saat jurang pembatas menghalangi Ayahnya pulang. Semoga saja Ayahnya pulang dalam keadaan baik-baik saja.


"Kenapa takdir kejam sekali?" lirih Ridwan.


Beda dengan Khumaira merasa kalut menerima takdir rumit yang Allah kirim. Apa firasat buruk itu akan terjadi? Kenapa sulit sekali hidup bahagia bersama Suaminya? Harapan Khumaira sangat sederhana yaitu kepulangan Aziz. Sangat berharap Suaminya pulang dengan selamat.


"Ya Allah, tolong lindungi Mas Aziz. Semoga Allah memberikan Kuasa-Nya untuk melindungi, Mas. Mas Aziz, jangan membuat Adek menunggu lama. Adek sangat mencintai Mas. Adek tunggu kepulangan, Mas. Semoga saja Mas selalu dilindungi Allah, Aamiin."


Mereka terus berdoa akan keselamatan Aziz. Harapan demi harapan terus terucap diiringi air mata. Tangis terus keluar saat hati semakin kalut. Perasaan keluarga Aziz semakin sasak jika teringat keluarga yang jauh di Singapura.


Untuk Khumaira sendiri berusaha keras menenangkan Mumtaaz agar tidak rewel. Namun, apa daya Anaknya selalu menangis keras. Mau tidak mu ia harus berjuang keras menenagkan sang anak dari raungan pilu. Khumaira harap semoga saja Mumtaaz mampu menetralisir rasa pedih akibat panik.


****////•\\****


Harapan apa yang ingin kalian pinta?


Maafkan Rose membuat kisah cinta Mas Aziz dan Dek Syafa penuh badai.


Untuk bertemu harus melalui rintangan menghadang.


Maafkan Rose!


Dan dari sinilah kisah cinta mereka akan benar-benar menguras air mata.


Kesalahpahaman akan terjadi sehingga mengharuskan keduanya saling kecewa bahkan benci.


Namun, akan ada pelangi di mana Allah akan menyatukan Kedua insan ini melalui perantara Mas Azzam.


Dari sinilah cinta sejati akan bersama sampai datanglah putra bungsu.


Salam hangat dari Rose.


Maaf belum aku edit atau revisi asal copy paste.


Jika banyak kesalahan dalam penulisan atau banyak typo bertebaran harap maklum.