
*Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Apa kabar Rosever*?
*Hello, boleh Rose minta sesuatu?
Gampang kok Rose cuma mau kalian vote story' ini sebanyak mungkin ya. Biar Rose tambah semangat nulisnya.
Mohon bantuannya dengan vote, like and comment, okay*!
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini
***////\*
Terasa tersambar petir di siang bolong itulah keadaanku sekarang. Kenapa Allah mempermainkan takdirku? Ya Allah hamba ikhlas jika harus tersakiti. Namun, aku tidak ikhlas berpisah dengan Istriku. Tolong jangan begini karena hatiku begitu pilu. Tolong jangan buat aku mengalah dan bisa lebih tegas lagi.
Aku tidak sanggup jikalau mengalah lagi dan lagi. Sampai kapan aku terus mengalah untuk membahagiakan orang-orang yang kusayangi? Sampai kapan ya Allah engkau menguji kesabaran hamba? Hamba terlalu sakit jika terus Engkau uji ya Allah. Tolong jangan uji karena hatiku terlalu sakit dan hamba bukan pria yang kuat ya Allah.
Demi Allah, aku tidak sanggup menatap masa depan. Tolong berikan hamba sebuah petunjuk agar mampu melewati cobaan ini. Dengan tangisan aku terjatuh di ranjang sembari meringkuk menyedihkan. Aku Jambak erat rambutku lalu mengusap kasar. Ya Allah, demi apa pun tolong jangan uji hamba separah ini.
Bisakah aku bertahan kali ini?
Bisakah aku bertahan di antara Mas Azzam dan Dek Syafa?
Sedari awal aku terlampau sabar untuk bersabar. Namun, sekarang aku ingin egois Dek Syafa hanya untukku saja. Boleh kan aku egois?
Aku tatap telepon dari Istriku dengan perasaan campur aduk. Apa yang akan kukatakan jika suara ini terasa serak menahan tangis? Aku yang tidak tahan langsung membekap mulut agar isakan tidak keluar.
Jangan cengeng, Aziz. Yakinlah ada jalan keluar dari permasalahan berat kali ini. Jangan takut karena ada Allah yang selalu bersamamu. Yakinlah jika kalian ditakdirkan bersama apa pun jalannya akan disatukan. Aku yakin aku ini takdir Dek Syafa maka harus berjuang demi ujian cinta kami.
Apa aku harus menyerah dan mengalah kembali? Namun, jika aku menyerah bagaimana nasib anak-anakku? Dengan tangisan apa bisa aku menyerahkan tangan Istriku pada Masku? Tidak bisa aku tidak mau menyerahkan Istriku pada Masku. Maaf untuk kali ini ku ingin egois mempertahankan Wanitaku.
Arghh ....!!!
Izinkan aku egois dan serakah untuk kali ini saja. Izinkan aku bahagia bersama Dek Syafa. Izinkan aku bersamanya selama napas berhembus. Pisahkan kami jika napas ku sudah terputus karena malaikat Izrail. Aku tidak mau berpisah dan ingin egois wali sesaat saja.
Dalam keheningan 5 kali aku biarkan panggilan video Dik Syafa tanpa terjawab. Hingga ke enam kali aku langsung mengangkat supaya Dek Syafa tidak marah. Namun, sebelum itu aku ambil obat mata agar terasa cerah. Jangan tunjukkan kerapuhan kamu Aziz di depan Istrimu.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Istriku," salamku sembari tersenyum tipis.
Aku tatap Dek Syafa tampak khawatir melihat diriku. Melihatnya khawatir sukses membuatku bergetar hebat. Adek kenapa begitu manis berekspresi begitu Dek Syafa? Apa bisa kamu hanya jadi milikku selamanya? Apa bisa Istriku menemaniku sampai batas usiaku?
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Suamiku. Mas dari mana saja? Kenapa baru angkat telepon Adek? Apa Mas begitu sibuk sampai lupa menelepon? Katakan kenapa mata Mas sembab seperti orang menangis. Mas kenapa menangis?"
Astaghfirullahaladzim, cerewet sekali Istriku ini. Namun, aku sangat suka akan kecerewetan yang penuh cinta. Dek Syafa, sangat khawatir pada keadaanku. Alhamdulillah, semoga saja memang Mas dan Adek bersatu selamanya, Aamiin ya Rabb. Mohon doanya semoga kita bersatu selamanya, Aamiin.
"Adek ini cerewet sekali, tanya itu satu-satu bukan di borong semua. Memang mau jadi kereta api? Mas habis dari kamar mandi dan ponsel mode silent. Mas menangis merindukan Adek dan anak-anak."
Aku lihat Dek Syafa mencabbikan bibir imut. Bibir penuhnya terasa menggoda untuk di raup sampai habis. Aku ingin mengecup bibir itu selagi masih sempat. Pasalnya, aku begitu merindukan Istriku.
Untuk anak-anak, aku juga sangat merindukan mereka. Bahkan aku ingin sekali mengigit pipi gembul Ridwan dan Mumtaaz. Dua Putraku yang sangat tampan menggemaskan. Anak-anak, Ayah sangat merindukan kalian sepenuh hati.
"Mas menyebalkan sekali sih. Kan Adek tanya karena khawatir bukan mau jadi kereta api. Mas nyebelin banget sampai Adek ingin cubit sampai puas. Oo, pantas saja ngga di angkat. Bohong, air mata Mas bukan rindu melainkan ada yang lain. Dari pancaran mata Mas begitu tertekan. Mas kenapa?"
Ya Allah, aku merasa sakit mendengar perkataan Dek Syafa. Mendengar Adek yang tahu keadaan Mas ingin rasanya begitu egois. Mas benar-benar ingin egois memiliki Adek seutuhnya. Mas tidak mau Adek kembali bersama Mas Azzam. Izinkan aku egois ya Allah dengan memilikinya selamanya. Tolong jangan biarkan hatiku bicara untuk kembali mengalah. Tidak mau aku sangat tersiksa ingin memiliki dirinya seutuhnya.
Setiap kata yang keluar dari mulut Istriku terasa meneduhkan sekaligus menyakitkan. Dia begitu paham tentangku yang berbohong dan jujur. Maaf ya Dek, bukan waktunya Mas jujur perihal Mas Azzam. Maka biarkan Mas tutup duka akan sebuah kebohongan kecil.
Dek Syafa, kita akan bersama selamanya, Insya Allah. Jangan pernah lemah karena aku sangat kuat untuk bertahan. Ma janji akan berjuang Dek demi masa depan kita. Demi anak-anak Mas rela jadi orang egois.
Tetapi, tunggu dulu aku bukan orang egois yang mementingkan diri sendiri. Aku sangat mencintai Adek karena Allah. Namun, aku tidak akan pernah bisa menyakiti orang akan sebuah keegoisan. Jangan pernah jadi iblis karena aku bukan monster yang tega.
"Besok jika Mas pulang cubit Mas sampai puas. Mas kelelahan dan memimpikan almarhum. Tolong jangan khawatir, Dek."
"Mas pendiam sekali hari ini. Memang memimpikan apa? Mungkin almarhum membutuhkan doa dari, Mas."
"Mas minta maaf jadi pendiam begini. Mungkin, nanti Mas kirim tahlil untuknya. Bagaimana keadaan anak-anak?"
Aku bisa tahu pancaran mata Dek Syafa menyendu seperkian detik. Aku sakit dan ingin egois untuk sekarang ya Allah. Namun, kebahagiaan Mas Azzam di atas segalanya. Lalu kalau begini hamba harus banyak ya Allah?
"Alhamdulillah mereka sehat, Mas. Sekarang anak-anak kita sedang tertidur pulas."
"Alhamdulillah, boleh Mas tanya?"
"Tanyakan saja."
"Tentang Rizal ... apa Adek kenal Rizal yang mengenal almarhum?"
Aku ingin bertanya siapa itu Rizal? Semoga saja jawaban Adek mampu memecahkan teka-teki ini. Dek Syafa, Mas sangat mencintai Adek karena Allah maka yakinlah jika kita berjodoh pasti akan di satukan oleh Allah. Kita pasti bersama baik di dunia maupun akhirat.
Aku melihatnya terbelalak mendengar nama Rizal. Jadi, Adek mengenal Rizal, syukurlah. Semoga bisa aku simpulkan pasti Rizal seperti Wisnu. Haduh, kenapa bisa yang kenal Mas Bahri dan Dek Syafa otaknya geser semua. Astaghfirullah, eling Aziz kamu merasani dua orang yang sudah meninggal. Ampuni hamba ya Allah telah mencela dua almarhum. Semoga saja mereka mendapat ketenangan di alam sana, Aamiin.
"Iya, dia sudah meninggal dua tahun lalu. Dulu Mas Azzam kenal Kak Rizal sebentar. Kak Rizal adalah teman Mas Bahri. Kenapa bertanya almarhum, Kak Rizal?"
Sudah kuduga, lalu Rizal benci Mas Azzam karena apa? Apa kesalahan Masku padanya? Walau tahu Rizal menyukai Dek Syafa waktu itu. Namun, aku belum tahu konflik sesungguhnya.
"Tidak, Dek. Apa Rizal pernah menyukai, Adek? Lalu, apa Mas Azzam pernah ada konflik dengan Rizal?"
"Um iya, Mas. Dulu dia pernah mengutarakan suka setiap saat pada, Adek. Dulu pernah Mas Bahri menolak keras Mas Rizal dan memilih almarhum. Saat hari pertama menikah tepatnya saat mencari takjil kami bertemu dan ada cekcok dengan almarhum. Kak Rizal, marah dan mempermalukan saya di depan umum. Mas Azzam membela saya dengan ucapan manis. Mulai dari situ Kak Rizal jadi aneh tidak lagi sama."
Ya Allah, aku tidak sanggup menerima kenyataan ini. Sepele namun membuat buta seseorang. Mas Azzam, kenapa nasibmu begini? Semoga Allah selalu menjaga Mas dan memberikan kebahagiaan. Untuk almarhum Rizal aku berterima kasih sekaligus berharap engkau baik-baik di alam sana.
"Terima kasih ya, Dek. Mas, ada meeting maaf ya harus sampai sini obrolan kita. Salam untuk anak-anak Ayah Aziz yang paling ganteng merindukan Kakak dan Dedek. Terkhusus untuk Istriku, Mas sangat mencintai Adek karena Allah dan sangat merindukan Adek sepenuh hati."
Aku tersenyum melihat semu merah di wajah bulat Istriku. Manisnya sampai aku lumer tidak mampu berpaling. Setelah mengatakan iya dan salam panggilan terputus. Ya Allah, semoga Allah memberikan Kuasa-Nya atas hubungan kami.
Jika Dek Syafa adalah jodohku yang sesungguhnya, maka satukan kami baik di dunia maupun akhirat. Jikalau Mas Azzam memang jodoh Dek Syafa, Insya Allah aku ikhlas menerima kenyataan itu. Aku akan mengikhlaskan cintaku pada jodoh sesungguhnya.
Namun, aku akan selalu mencintai Istriku sepanjang hidupku. Aku sangat mencintainya karena Allah. Semoga kita bertiga bahagia selalu walau badai menghantam hubungan kita. Aku sangat menyayangi kalian sepenuh hati. Maka dari itu aku akan menerima apa pun keputusan kalian.
***///\*
Azzam menatap Aziz lamat-lamat berusaha mengingat semuanya. Benar adanya klise memori terus bermunculan membuat Azzam menggerang kesakitan. Klise memori saat dia mengusak rambut Aziz dan memberikan segala amanah.
Aziz tersadar spontan menekan tombol darurat. Dia usap lengan kekar Azzam agar lebih tenang. Ya Allah, rasanya dia tidak sanggup melihat kepedihan Kakaknya. Bisakah dirinya mengembalikan semua yang menjadi hak Azzam? Bisakah Aziz membantu Kakaknya mengingat semua tentang khumaira dan Ridwan?
Dokter dan Suster datang guna memeriksa Azzam. Selagi menunggu Aziz keluar menemui Romli dan Mahira. Tubuh lelahnya nyaris jatuh jika tidak ada sahabatnya menopang. Pada akhirnya Aziz menangis lelah akan cobaan ini.
Romli terus mengatakan semua akan baik-baik saja. Namun, dia tahu betul semua tidak akan baik-baik saja, pasalnya takdir rumit telah membelenggu mereka. Dia terus berusaha menenangkan Aziz. Tetapi, Romli gagal karena sahabatnya terus mengatakan kata-kata menyakitkan.
Mahira terdiam seribu bahasa melihat Aziz. Dia merasa iba akan kondisi pria ini yang sangat mengenaskan. Semoga saja Allah segera mengembalikan ingatan Azzam. Dengan begitu Aziz akan kembali ceria.
Setelah Dokter dan suster keluar sontak Aziz langsung masuk. Dia terdiam saat Masnya terdiam sepi menatapnya. Tanpa ba-bi-bu lagi ia berlari menuju Masnya agar merengkuh erat. Aziz dekap Azzam menumpahkan luapan emosi.
Azzam balas merengkuh Aziz erat seolah menumpahkan segala emosi. Adiknya benarkah? Jadi benar ini kerabatnya sekaligus Adik kandungannya. Alhamdulillah akhirnya ia bisa bertemu keluarga aslinya. Azzam sangat bahagia atas kebesaran Allah telah mempertemukan dirinya dengan Aziz.
3 hari berlalu, Aziz terus mengunjungi Azzam usai bekerja. Dia menceritakan segalanya tidak lebih tidak kurang. Dia memberitahu perihal keluarga, Khumaira dan Ridwan.
Aziz menceritakan segala tentang khumaira dan Ridwan. Tidak kurang dan tidak lebih karena itu terasa dosa jika bohong. Menceritakan kebersamaan mereka yang penuh canda tawa. Kebersamaan keluarga besar yang penuh kasih sayang, kehangatan dan kenyamanan. Aziz tidak akan membiarkan Azzam luka akibat rasa yang terlupakan.
Hingga hari berikutnya, Aziz seperti biasanya menjenguk Azzam. Hal tidak terduga terjadi tatkala Kakaknya merengkuh erat sembari mengatakan bagwa dia mengingat semuanya. Tentu saja Aziz yang mendengar itu merasa bahagia, haru, sedih sekaligus takut.
Dengan ini maka hak sebagai Suami Khumaira terenggut. Walau Aziz masih bisa bersama Istrinya dan hidup bersama. Tetapi, ada Azzam yang menjadi seseorang yang berhak atas khumaira. Apa daya Aziz hanya mahluk lemah selalu mengalah demi membahagiakan orang-orang yang di sayangi. Hati rapuhnya semakin rapuh mengingat Khumaira.
Azzam tersenyum teduh sembari menangis sesegukan. Dia kembali merengkuh Aziz seraya mengatakan maaf telah melupakan semua. Ia tidak henti-hentinya tersenyum teduh ciri khasnya. Azzam tidak sabar bertemu Khumiara dan Ridwan lalu di kecil.
Rasanya sangat teduh saat ingat segalanya. Segala puji syukur Azzam lantunkan ketika Allah telah memberikan ingatan kembali. Kini saatnya pulang menemui orang-orang tersayang. Azzam tidak sabar pulang merengkuh keluarganya yang sangat berharga.
"Mas Azzam," lirih Aziz.
Aziz membalas pelukan Azzam tidak kalah erat. Mungkin mulai hari ini takdir pahit akan ia raih. Berharap semu tentang Khumaira akan selalu ada bersamanya. Namun, nyatanya Aziz bukan orang yang egois sekeras batu.
Sosok Aziz adalah pria penuh kehangatan dan mementingkan kebahagiaan orang lain. Dia bukan perebut penuh keserakahan. Inilah Aziz pria penyayang rela berkorban demi kebaikan orang lain. Tidak ayal mending dirinya terluka asal jangan orang yang terluka. Jika berkorban mampu kenapa tidak meskipun jiwa hancur.
Azzam tersenyum haru akhirnya mengingat semuanya. Dia tidak segan bertanya bagaimana keadaan Istri dan anaknya selama ditinggal pergi. Sungguh Azzam sangat merindukan khumaira dan Ridwan. Rasanya ingin segera bertemu mereka karena Azzam begitu rindu.
Aziz berusaha menahan diri agar tidak menangis. Dia akan menjawab senormal mungkin agar Azzam tidak curiga. Sebisa mungkin Aziz bercerita tentang khumaira dan Ridwan yang sangat di rindu.
"De ... Mbak Khumaira dan Tole Ridwan sangat terpuruk kehilangan, Mas. Mereka sekarang sudah mulai bangkit dari rasa sakit itu. Mas tidak perlu khawatir karena Aziz sudah memjaga. Sesuai amanah Mas, Aziz telah melakukan itu semua."
Azzam tersenyum mendengar jawaban Aziz. Dia langsung merengkuh Adiknya lagi. Berulang kali ia mengucap terima kasih. Dia langsung mengatakan segala rasa syukur pada Allah. Sesekali Azzam mengatakan ingin segera bertemu mereka.
Aziz nyaris memanggil Khumaira Dek. Jika keblabasan maka urusan rumit. Mungkin sampai tanah air Aziz akan menceritakan semunya. Semoga saja Azzam mau mengerti keadaannya.
"Alhamdulillah ya Allah. Mas lega sekali Tole Aziz mau menjaga mereka sepenuh hati. Mas bethutang banyak padamu, Le. Mas sangat bahagia akhirnya bisa pulang bersama dan berkumpul bersama Istri dan anakku. Le, Mas sangat bahagia akhirnya Allah mengembalikan Mas dan mampu merengkuh Istriku serta Dedek Ridwan. Mas ingin cepat pulang agar lekas bertemu mereka."
Aziz yang tidak tahan memilih merengkuh Azzam erat sembari menangis keras. Dia tidak mungkin menghancurkan harapan Azzam yang terpisah lama bersama Khumaira dan Ridwan. Mungkin ini takdir buruknya yang selalu ada. Aziz akan mengalah demi kebaikan Azzam. Pasalnya Khumaira sepenuhnya milik Azzam.
Romli yang mendengar percakapan Azzam dan Aziz merasa sedih. Sedih karena dua pria itu akan terluka terlebih Khumaira. Kenapa takdir begitu kejam sampai mempermainlan hidup Azzam - Khumaira dan Aziz?
***///\*
Aziz meminta izin pulang lebih awal ke Indonesia, padahal masih ada waktu 10 hari lagi. Aziz menyerahkan segala proses teakhir proyek. Sebelum itu mengatakan pada komisaris perusahan terkenal di Singapura yang ikut membantu proyek, bahwa ia setuju bergabung dalam Perusahaan. Aziz putuskan akan ke Singapura agar bisa menetralisir racun dalam hati.
Pihak Singapura begitu bahagia Aziz menyetujui bekerja di perusahaannya. Dia serahkan alamat dan segala fasilitas untuk Aziz setelah datang ke Negaranya. Komisaris Douglas Company itu menanti kedatangan Aziz penuh harap.
Untuk Aziz sendiri tidak ada cara lain untuk berlalu. Kini saatnya ia bertahan di Negera Singapura sendiri. Dia berharap semoga saja mampu berjuang di negeri orang. Aziz tidak mau egois walau nyatanya semua meronta butuh perjuangan.
Sebelum pulang, Azzam pamitan pada Mahira dan si kembar. Dia mengucap ribuan kata terima kasih dan maaf. Semua kata teduh Azzam ucapkan sebagai salam perpisahan. Dia berikan ciuman sayang di wajah Zoya dan Zayn. Lalu untuk Mahira, ia berikan sebuah tepukan semangat. Azzam yakin wanita ini multitalenta makanya dia terbaik akan terlebih.
Aziz mengucap ribuan kata terima kasih pada Mahira. Mereka akan berjumpa di kemudian hari. Semoga saja setelah ini kebahagiaan menyertai Mahira. Dia janji tidak akan melupakan pengorbanan Mahira untuk Masnya. Aziz janji akan memberikan segala balasan untuk Mahira suatu hari nanti.
Mahira tersenyum saja melihat kedua Adik Kakak tampak kompak. Dia tersenyum tulus untuk memberikan kebahagiaan untuk dua lelaki itu. Semoga saja mereka tidak terpisah lagi. Semoga kebahagiaan selalu menyertai Azzam dan Aziz.
Pada akhirnya Aziz dan Azzam masuk pesawat dan kini semua telah menjadi suratan takdir paling menyeramkan. Tidak ada keadilan bagi keduanya karena semua akan menjadi titik awal sebuah hubungan baru. Dalam pesawat Aziz terus mengajak ngobrol Azzam untuk meleburkan kecanggungan sepi. Sementara Azzam menjawab seadanya ketika Aziz terus ngoceh panjang lebar.
Setalah menempuh perjalanan kurang lebih 2-40 menit akhirnya pesawat landing juga. Napas Aziz memburu sedangkan Azzam belum sadar sudah sampai. Semua sudah berakhir kini saatnya mulai lembaran baru dengan tujuan baru.
Aziz telah melakukan hal benar menurutnya. Walau terkesan pengecut lari dari kenyataan. Namun, Aziz tidak akan sanggup melihat Khumaira bersama Azzam seprti dulu. Dia akan menyerahkan Khumaira baik-baik dan mundur secara baik-baik. Tetapi, Aziz akan berusaha terlebih dahulu agar dirinya bisa berjuang keras.
Azzam malah diam saat tiba di Airport Juanda. Kenapa arah jalan pulang ke Kediri? Sedetik kemudian seulas senyum teduh terukir tatkala tahu Aziz ingin membawanya bertemu keluarga besarnya dulu baru Khumaira dan Ridwan. Sunggug Azzam sangat merindukan keluarganya yang sangat ingin direngkuh.
2 jam menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai Lirboyo. Aziz menggandeng erat tangan besar Azzam untuk mencari kekuatan. Semoga saja ini awal yang baik untuk menuju takdir indah. Semoga saja Masnya mau memberikan sedikit keringanan. Aziz berharap semoga saja Azzam mau merelakan sedikit kebahagiaan untuknya.
Azzam tersenyum saat Aziz menggandeng tangan erat. Seolah dia tahu bagaimana eratnya tangan Adiknya menggenggam. Sejatinya ada yang janggal, tetapi ia kesampingkan itu semua. Yang pasti Azzam berharap semoga saja Aziz tidak ada masalah apa pun.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!" salam Azzam dan Aziz serempak.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh."
Safira yang sedang asyik menceritakan kisah Nabi pada cucunya langsung tersentak mendengar salam dua suara yang sangat familiar. Saat melihat belakang tubuhnya terasa tersambar petir di siang hari. Tubuh ringkihnya terasa lemah melihat seseorang yang sangat dia rindu. Benarkah ini Safira sampai tidak mampu menguap sepatah kata melihat salah satu anaknya.
****////\\****
Alurnya kecepatan ya?
Rose_Crystal_030199
*Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan.
Rose minta dukungan ya say melalui, vote, like and comment.
Jangan lupa di jadikan favorit m
Salem hangat dari Rose*!