
...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....
...Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini....
.......***.......
Sedangkan di dalam kamar Mumtaaz, Faakhira dan Zaviyar sedang main. Ketiganya begitu rukun tidak ayal si Kakak mengusap pipi kedua Adiknya. Canda tawa hinggap lalu mereka menatap pintu kamar mandi tidak kunjung terbuka. Mumtaaz, Faakhira dan Zaviyar yang patuh tidak akan ke luar sebelum kedua orang tuanya ke luar kamar mandi.
Ketiga anak beda usia pada akhirnya memilih tetap bermain. Bahkan si Kakak cilik selalu memberikan kasih sayang sesekali menggelitik perut Zaviyar dan Faakhira. Sedangkan Faakhira dan Zaviyar merengut, tetapi langsung balik menyerang. Pada akhirnya ketiga anak beda usia berhenti bermain memilih diam.
"Kak, kenapa Ayah dan Umi lama sekali?" Tanya Faakhira.
"Apa Ayah-Umi sedang pipis?" Tanya Zaviyar polos.
"Kurang tahu, mungkin saja. Kita main dulu baru ke luar untuk bertemu Kakak gede," jawab Mumtaaz.
"Um," kor Faakhira dan Zaviyar.
Tidak berselang lama pintu terbuka menampilkan sosok Ayah dan Uminya. Ketiga anak ini tersenyum cerah lalu bertepuk tangan heboh. Mereka langsung berdiri menghampiri kedua orang tuanya berniat memeluk.
Aziz dan Khumaira tersenyum melihat ketiga anaknya heboh. Keduanya duduk manis sebelum mendekap ketiganya penuh suka cita. Mereka merasa begitu senang anak-anak begitu patuh tidak pernah membantah. Aziz dan Khumaira berharap semoga saja Ridwan mau mendengar apa yang di ucapkan.
"Umi dan Ayah lama sekali," Rajuk Zaviyar.
"Bener, kami menunggu lama Ayah dan Umi tidak kunjung ke luar. Padahal kami ingin sekali bertemu Kakak gede," omel Faakhira.
"Sudah jangan merajuk tidak baik, ayo kita ke luar. Tapi, tunggu sebentar," sahut Aziz seraya mengusap rambut mereka.
"Umi, benarkan hijab dulu," ucap Khumaira.
Mumtaaz menatap tepat di mata Ayah-Umi terlihat sembap. Kalau di lihat lebih rinci seperti habis menangis. Dia yang sangat peka langsung sedih ingin bertanya kenapa kedua orang tuanya sedih? Karena tidak tahan Mumtaaz menahan tangan Umi hendak mengaca.
Khumaira diam sewaktu Mumtaaz menahan lengannya. Dia yang melihat tatap sendu anaknya jadi panik alhasil meraih tangan anaknya. Ia genggam tangan sang putra lalu mencium lembut. Jika boleh jujur anaknya baru 10 tahun sudah tinggi sekali. Khumaira Bru sadar Mumtaaz sudah tumbuh tinggi nyaris sama dengannya.
Zaviyar dan Faakhira saling pandang melihat Umi di tahan Mumtaaz. Keduanya menatap polos aksi Kakak cilik begitu serius. Mereka pada akhirnya ikut menggenggam tangan Umi. Bagi Zaviyar dan Faakhira melihat Mumtaaz menahan Umi begitu keren.
Sedangkan Aziz yang tahu apa yang dipikirkan Mumtaaz hanya diam. Dia jadi ingat anaknya ini begitu peka pada keadaan ke dua orang tuanya. Seperti saat ia sakit anak pertama yang menyeletuk khawatir adalah anaknya. Aziz jadi ingat waktu kecil begitu walau kurang peka.
"Ada apa, Nak?" Tanya Khumaira masih betah menatap tiga anaknya.
"Kakak, kita harus ke luar karena tidak enak ditunggu lama sama mereka. Kakak gede juga menunggu." Aziz berusaha mengatakan itu agar Mumtaaz bersuara.
"Tidak ada yang boleh ke luar!" Tegas Mumtaaz menyorot tajam.
"Kenapa, Kak? Kenapa Kakak marah? Apa ada sesuatu?" Khumaira berusaha tenang lalu menyentuh pipi Mumtaaz.
"Tidak biasanya Kakak begini. Katakan pada Ayah ada apa?" Aziz tidak mau Mumtaaz marah.
"Siapa? Siapa yang membuat Ayah dan Umiku menangis? Katakan pada Kakak siapa yang membuat Ayah dan Umi sampai meneteskan air mata? Dengar, Kakak dulu masih kecil tidak tahu caranya melawan selain mengatakan dari Hati. Saat masih kecil saat Ayah dan Umi sakit Kakak hanya bisa bertanya lalu menghapus air mata dan mengatakan jangan menangis. Untuk saat ini Kakak sudah besar maka katakan siapa orangnya?" Tegas Mumtaaz.
Aziz dan Khumaira terdiam sepi mendengar perkataan Mumtaaz begitu dewasa. Mereka ingat anak Kakak cilik sebenarnya sulung maka sikapnya layak sebagai Kakak pertama yang sangat tegas dan tidak bisa melihat orang terkasih tersakiti. Jika di ingat setiap Aziz atau Khumaira tertekan atau menangis bahkan sakit Mumtaaz anak pertama yang menanyakan keadaan.
Kalau di lihat rinci maka Mumtaaz identik dengan sikap Aziz. Seperti Ayahnya yang sangat mencintai orang terkasih. Tidak sanggup melihat orang terluka dan lebih lagi akan maju serta marah jika ada yang menganggu. Aziz tersenyum anaknya tumbuh begitu berani, penuh cinta, kasih sayang, pelindung dan sangat manis.
Bagi Khumaira sosok yang mengatakan kata-kata tegas penuh penekanan bukan lagi Mumtaaz-nya. Sosok ini begitu dewasa dan begitu berani layaknya Suami tercinta. Dia tersenyum ternyata anak keduanya begitu identik dengan Aziz. Tidak kurang tidak lebih setidaknya ini lebih berani. Khumaira berharap semoga anaknya senantiasa bahagia selalu.
Sedangkan Mumtaaz menggunakan mata tajam serta auranya untuk mengintimidasi. Dia tatap sangar ke-dua orang tuanya agar mereka mengatakan semua. Jujur saja ia paling benci jika ada yang berani melukai hati keluarga terutama Ayah-Umi dan di Adiknya. Kalau Kakak Ridwan bisa melindungi diri sendiri maka dari itu Mumtaaz tidak terlalu peduli, walau begitu jika ada yang menyakiti Kakaknya maka jangan harap ampun.
Mendengar suara penuh penekanan, aura kemarahan serta begitu besar sikap intimidasi membuat Faakhira dan Zaviyar ketakutan. Untuk kali ini Kakaknya biasa kalem, jahil, nakal, humoris dan begitu penyayang jadi anak berbeda. Keduanya mengkerut takut melihat Kakak jadi beda. Faakhira dan Zaviyar berharap semoga saja Mumtaaz lekas kembali.
Pada akhirnya Aziz dan Khumaira mendekap Mumtaaz penuh sayang. Keduanya juga mendekap Faakhira dan Zaviyar lalu memberi ciuman teduh. Ketiga anaknya ini punya sikap sama jika Mumtaaz identik dengan Ayah, Zavi antah sepertinya juga sama seperti Ayah. Kalau Faakhira tumbuh jadi anak shalihah selalu menurut perkataan kedua orang tuanya.
"Kakak, ayo kita ke ruang keluarga," ajak Aziz berusaha mengalihkan atensi Mumtaaz.
"Apa menurut Ayah, Kakak masih bocah kecil hanya bisa mengatakan jangan menangis atau malah memberi pelukan?" Todong Mumtaaz tidak mau menggapai perkataan Ayah.
"Lalu Kakak mau jawaban apa? Setelah Kakak tahu siapa orang itu lalu apa yang Kakak lakukan." Tenang Khumaira.
"Kakak mau jawaban dari pertanyaan itu. Kakak akan menemui orang itu lalu mengatakan bahwa orang itu adalah manusia rendah. Tidak peduli siapa yang jelas jika berani menyakiti Ayah dan Umi serta Adik-Adikku maka jangan harap Kakak lepaskan."
"Ya Allah, anak Umi kenapa jadi pemarah dan kurang bisa mengendalikan emosi? Dengar Nak itu tidak baik, apa lagi mengatakan manusia rendah. Ingat, semua makhluk hidup sama derajatnya tidak ada yang rendah. Yang rendah adalah saat orang senantiasa melakukan dosa besar. Jika bertaubat maka orang itu akan kembali. Setiap makhluk ciptaan Allah terutama umat muslim tidak baik mencela ciptaan Allah yang lainnya. Ingat Kak, Allah tidak suka dengan orang yang merendahkan orang lain. Jika kita merendahkan orang lain maka kelak kita akan direndahkan orang lain."
"Yang dikatakan Umi benar, Kak. Sebagai Ayah yang memiliki lisan tajam jangan seperti Ayah. Cukup Ayah yang punya sikap jelek karena lisan Ayah begitu sarkasme. Kakak, dengarkan kata-kata, Umi. Kami menangis karena ingat masa lalu tidak lebih. Tidak ada yang menyakiti kami. Kini Umi dan Ayah tidak resah karena Kakak sudah tumbuh menjadi Kakak penuh perlindungan. Ayah, bangga pada Kakak, tapi jaga lisan dan jaga emosi. Ayah lihat kelak Kakak akan kurang bisa mengendalikan emosi. Terlihat sekali saat ini Kakak jika marah meluap-luap. Kakak ganteng jangan begitu yang jelas itu tidak baik."
"...."
"Kakak jelek jika marah, FaaFaa takut."
"Zavi juga takut."
"Maaf, maafkan Kakak terlalu marah. Kakak tidak suka melihat Ayah dan Umi menangis. Maafkan, Kakak wahai Adik-Adik nakal. Maafkan Kakak, Ayah-Umi."
"Manusia tempatnya berbuat dosa, lalai dan suka sekali khilaf. Jadi tidak apa-apa itu buat pembelajaran untuk, Kakak. Ayah, paham begitu juga tidak suka orang-orang yang paling Ayah cintai terluka. Lebih lagi Umi dan empat Ayah tercinta."
"Sama-sama, Nak. Jangan di ulang karena tidak bik. Kini saatnya tersenyum ayo kita ke luar. Jangan sedih Kak karena kami merasa begitu dicintai oleh Kakak. Umi, bangga Kakak sangat hebat bisa mengatakan hal manis. Ayah dan Umi sangat mencintai, Kakak."
"Kami juga sangat mencintai, Kakak. Maaf tidak diterima jika tetap cemberut."
"Ya Allah."
Mumtaaz mendekap Ayah-Umi serta dua Adiknya. Dia sangat senang bisa mendapat keluarga sehangat ini. Senyum manis terus terukir indah menyinari mata. Ia begitu senang memiliki orang tua terbaik sepanjang sejarah hidupnya. Mumtaaz janji akan jadi ank berbakti kepada kedua orang tua lalu membahagiakan kedua orang tua, Kakak dan dua Adiknya.
Pada akhirnya Aziz dan Khumaira serta anak-anak memutuskan ke luar kamar setelah berbenah. Lihat Faakhira dan Zaviyar sangat hiperaktif ingin segera bertemu Kakak gede. Sementara, Mumtaaz hanya diam melihat tingkah dua Adiknya.
.......***.......
Ridwan terus mencuri pandang ke arah pintu, tetapi tidak ada tanda-tanda kemunculan Ayah dan Adiknya. Padahal sudah sangat lama Ayah dan Adiknya ada di dalam. Karena kesal ia merengut sebal sembari menatap sendu. Ridwan yang kesal hanya diam tidak menanggapi perkataan sanak keluarganya, bahkan Abi juga diabaikan.
Sampai akhirnya Ridwan mendengar langkah kaki dan detik berikutnya tirai kerang berbunyi. Mereka otomatis menatap pintu menunggu Aziz dan Mumtaaz serta yang lain. Kini anak sulung Umi dan Abi begitu senang akhirnya Ayah serta Adiknya muncul. Ridwan terdiam karena tangan yang terulur bukan tangan Ayah melainkan tangan Umi.
Benarkah Umi dan dua Adiknya juga ikut?
Khumaira tersenyum tulus melihat Ridwan kemudian tersenyum pada mereka. Sebelum itu ia raih tangan anaknya Faakhira yang menggandeng Zaviyar. Dia akhirnya berjalan bergandengan tangan bersama di anaknya. Sedangkan Aziz dan Mumtaaz ada di belakang. Kini Khumaira ingin mendekap Ridwan yang telah tumbuh besar bahkan sudah melebihi tinggi badannya.
Melihat Umi bersama dua Adiknya rasa kesal Ridwan luruh digantikan rasa haru. Tanpa buang waktu ia beranjak kemudian menyalami Uminya. Dia menerima dekapan Umi serta ciuman lembut tentu dibalas dekapan erat serta ciuman pipi. Ridwan begitu senang bahkan lema sekali mendekap Umi.
Setelah meluapkan rindu menggebu Ridwan memilih berlutut untuk menyalami Faakhira dan Zaviyar. Setelah salaman ia cium pipi tembem Adik perempuannya penuh sayang. Saat berhadapan dengan Adik bungsu ia langsung menggendong dan memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah menggemaskan di Adik. Ridwan sangat bahagia bisa bertemu keluarga inti.
Mereka tersenyum haru melihat Ridwan begitu bahagia bisa melihat Umi dan dua Adiknya. Namun, ada yang menatap sendu sekaligus iri atas semua ini. Empat Adik Ridwan yang lainnya iri tidak bisa diperlakukan seperti itu. Bahkan hati Azzam dan Mahira sedikit terenyuh atas rasa cinta Ridwan terlalu besar untuk Mumtaaz, Faakhira dan Zaviyar.
Merasa ada yang janggal Khumaira merasa tidak enak hati. Dia memilih duduk di dekat Adik ipar di ikuti tiga anaknya. Tidak berselang lama Suami serta Kaka cilik muncul memecahkan hawa dingin. Khumaira bisa bernapas lega dan menyadari betapa sesak perasaan Suaminya atas situasi ini.
"Kurang beberapa menit adzan isya, mau jama'ah di Masjid atau di rumah?" Tawar Abah Hasyim.
"Jama'ah di rumah juga bisa, Abah," sahut Bibah.
"Sekalian setelah itu makan lalu mengobrol bersama," usul Khalid.
"Benar, kita berkumpul walau Nduk Najah, Nduk Hazza dan Tole Azmi tidak ada. Kita bisa menghabiskan waktu bersama seperti ini terasa luar biasa. Kita pesan camilan untuk berkumpul. Anak-anak kalian mau makanan apa?" Terang Aziz.
"Apel, mangga, anggur dan strawberry, Ayah. Bakso bakar serta sate," sahut Ridwan, Mumtaaz, Faakhira dan Zaviyar serempak.
"Ayah akan pesankan, lalu untuk semua keponakan Paman mau minta apa?" Tanya Aziz tidak segan memberi usapan serta senyuman manis.
"Martabak coklat, keju dan kacang," sahut Zoya mewakili empat Adiknya.
"Paman, kami mengikut saja. Kalau bisa belikan buah jeruk tidak apa-apa," kekeh anak Nakhwan (aku lupa nama anak Mas Nakhwan dan Mbak Azura. Jika ada yang ingat tolong beritahu.)
"Baik, Le. untuk Nduk Uzza, mau apa, Nak?"
"Permen kapas, Paman," sahut Uzza.
"Untuk yang lainnya mau apa sekalian Aziz belikan?"
"Tidak perlu itu, Le. Biar Umi, Nduk Azura, Nduk Mahira, Nduk Maira dan Nduk Bibah buat camilan tambahan. Sekarang ayo wudhu kemudian jama'ah. Sudah adzan nanti lagi bahas makanan," tutur Ummi Safira.
"Baik, Ummi," kor mereka.
"Nduk Maira, bisa bicara sebentar? Dek, Mas bicara sebentar dengan Adik ipar. Tole, Mas mau bicara sebentar boleh, 'kan?" Tandas Azzam membuat diam.
"Jangan lama-lama, Mas. Setelah selesai bicara langsung wudhu," respons Aziz sepertinya tahu Azzam mau bicara apa.
"Tidak apa, Mas. Kami duluan lekas menyusul." Mahira menepuk pundak Azzam seraya tersenyum tipis.
Pada akhirnya mereka bergegas ke kamar masing-masing untuk wudhu. Sedangkan Khumaira dan Azzam masih ada di ruang keluarga. Keduanya diam belum mau membuka suara karena canggung.
Merasa waktu terbuang banyak apa lagi suara pujian terus menggema membuat Khumaira gelisah. Semenjak lima tahun sebelum Azzam menikah tepatnya saat hendak menikah ini kali kedua mereka bicara berdua. Sedangkan Azzam ingat terakhir bicara berdua bersama Khumaira lima tahun silam sebelum menikahi Mahira.
"Mas, maaf sebelumnya bisa langsung bicara? Kasihan mereka menunggu untuk jama'ah," cicit Khumaira begitu canggung.
"Ini mengenai Tole Ridwan, Nduk," sahut Azzam kalem seperti biasa.
"Apa yang bisa saya bantu, Mas? Saya dan Mas Aziz akan bicara pada, Tole. Tolong maafkan saya kurang bisa mendidik anak kita dengan baik. Saya lalai jadi Umi yang baik untuk, Tole. Sekali lagi maafkan saya," lirih Khumaira masih bisa di dengar Azzam.
"Astaghfirullah, jangan bicara begitu, Nduk. Dengar Nduk Maira adalah Umi terbaik untuk, Tole. Kalian orang tua terbaik bisa mendidik serta membagi adil cinta untuk anak-anak. Jangan sedih karena ini murni kesalahan Mas juga. Mas juga tidak bisa mengontrol emosi, cemburu dan iri atas semua ini. Nduk, maaf kami terlalu egois meminta banyak hal. Tolong maafkan Mas tidak bisa mengendalikan diri," panik Azzam.
"Mas, juga tidak boleh bicara begitu. Itu wajar karena manusia tepatnya iri, pencemburu, emosional dan khilaf. Jangan bicara begitu karena Mas adalah Abi terbaik untuk anak-anak. Kita salah, tapi tenang saya dan Mas Aziz akan berusaha keras membuka hati Tole supaya lebih adil. Mas juga jangan sedih karena butuh proses membuat Tole adil. Tole masih labil belum dewasa masih anak-anak manja. Jadi, jangan terburu-buru untuk meraihnya."
"Itu benar sekali, Nduk. Terima kasih banyak atas pengertiannya. Mas merasa begitu berdosa meminta ini."
"Mas ini seperti siapa saja, sekarang jangan sedih. Mas jelek sekali jika begitu."
"Tidak lagi sekarang hatiku lebih lapang. Jelek? Wajah atau ....?"
"Sikap, Mas. Mas yang kukenal begitu baik mengendalikan emosi, selalu beristighfar jika melakukan salah. Selalu shalat atau baca Al-Qur'an sewaktu hati di liputi kejanggalan. Mas adalah pria pertama yang kumiliki begitu baik akhlaknya. Apa sekarang Mas meluapkan jati diri? Mas, dengar jadilah seperti dulu begitu baik tidak mudah emosi, iri, pencemburu dan sangat mudah emosional. Melihat Mas sekarang saya merasa Mas bukan Abi, Tole. Tolong jangan seperti ini karena ini menyakiti hati kami semua. Sakit sekali rasanya melihat Mas Aziz terluka begitu juga dengan saya melihat Mas begitu beda ....
... Tidak ada yang lebih indah sewaktu menatap Mas tanpa ekspresi terluka. Kami sangat ingin selalu melihat Mas bahagia tanpa luka. Namun, usaha kami gagal karena Tole Ridwan kurang bisa mengendalikan diri. Sikap buruknya menurun pada kita yang kurang adil juga. Sebagai orang tua kita harus mendidik anak lebih baik. Anak adalah cerminan dari orang tua. Saat melihat sikap buruk Tole maka saya paham dari siapa. Tentu dari diri saya dan Mas, benar bukan, Mas? Sekali lagi tolong jangan jadikan kami orang jahat. Kami mengaku salah atas didikan kami. Mas, tolong kembali jadi pria Sholeh, senantiasa menjauhi sikap tercela dan selalu menteladani sikap Rasulullah Saw. Saya melihat begitu jauh perbedaan antara Mas dulu dan sekarang. Sekali lagi maafkan saya banyak bicara. Saya permisi."
Setelah mengatakan itu Khumaira bergegas meninggalkan Azzam sendiri. Air matanya berlinang tanpa dikehendaki. Dia merasa apa yang diucapkan keterlaluan. Khumaira harusnya tidak mengatakan itu karena sepatunya di katakan seorang Istri.
Khumaira merasa berdosa sekali telah memberikan kata-kata itu pada Azzam. Paling berdosa mengatakan itu saat jadi Adik ipar. Seharusnya ia sadar diri atas kelakuannya begitu jelek menasihati layaknya Istri. Khumaira berdosa pada Aziz karena berbicara begitu pada Azzam layaknya dulu.
"Ampuni hamba yaa Allah, atas dosa beberapa saat. Hamba hanya ingin menyadarkan dia agar kembali jadi pria shaleh senantiasa menjauhi sikap tercela. Tidak pantas rasanya Abi ank hamba punya sikap buruk. Yaa Rabb, ampuni hamba begitu berdosa telah mengatakan itu semua. Mas Aziz, maafkan Adek berbuat di luar batas. Kami bicara lama di ruangan tanpa ada seorang pun. Kami sangat lama berdua lalu bicara keterlaluan. Ampuni Adek, Mas. Ampuni hamba yaa Allah," ratap Khumaira dalam hati.
Sedangkan Azzam terdiam sepi mendengar perkataan Khumaira. Dia merasa jantung dan hati terenyuh atas penuturan mantan Istrinya. Tidak berselang lama setelah Adik ipar pergi air mata luruh deras. Azzam menunduk seraya meremas rambutnya kasar.
Kalau di pikir memang ucapan Adik ipar begitu tepat. Azzam tidak bisa menyangkal perkataan Khumaira yang bisa mendobrak pintu hati. Kenapa masih saja sama sekaligus kenapa wanita itu yang bisa membuat ia tersadar?
"Alangkah dosanya diriku selama ini. Alangkah buruk sikapku selama ini yaa Rabb. Alangkah berdosa diriku yaa Allah atas semua ini. Kenapa bisa aku tersadar sekaligus kembali ke jalan-Mu dari kelalaian serta keburukan atas jalan wanita itu? Kenapa aku masih saja sama setiap lalai wanita itu menuntut, 'ku? Yaa Allah, berdosa sekali sikap hamba masih bersikap buruk selama ini. Dek Mahira, maafkan Mas tidak bisa mengendalikan perasaan ini. Engkau Istri serta Ibu terbaik, tetapi kenapa saat diriku lalai Adik iparku yang menuntun kembali? Ya Allah, ampuni hamba begitu banyak dosa. Maafkan hamba yaa Rabb. Hamba kembali pada-Mu wahai Dzat Semesta Alam. Hamba menyesal atas semua ini dan tetaplah jadikan hamba pria shaleh. Terima kasih, Nduk. Maafkan Mas, Dek," batin Azzam.
Tanpa mereka sadari Ridwan mendengar obrolan Abi dan Umi. Tadi Mbah Kakung meminta memanggil Abi dan Umi supaya cepat menyudahi obrolan. Saat di ruang pemisah dia hendak masuk, tetapi tidak jadi. Ridwan langsung tegang sekaligus begitu kaku sewaktu mendengar obrolan Abi dan Umi.
Hati siapa yang tidak sakit ketika mendengar semua ungkapan hati ke-dua orang tuanya. Apa lagi ini menyangkut tentang dirinya otomatis begitu tertikam belati tidak kasat mata. Ridwan merasa begitu berdosa atas dosa selama ini diperbuat.
"Yaa Rabb, alangkah besar dosaku selama ini. Aku tidak bisa berbuat adil kepada Abi dan Umi. Aku tidak adil karena begitu mencintai ketiga Adikku serta mengabaikan empat Adik tiri, 'ku. Aku selalu saja canggung walau berusaha sayang, tetap saja sama hasilnya. Kini aku paham apa yang dikatakan Kakak cilik bahwa Umi dan Ayah menangis itu disebabkan oleh diriku. Alangkah berdosa diriku telah membuat Ayah, Umi dan Abi terluka. Lebih lagi aku telah membuat Ayah dan Umi menangis atas semua ....
... Sedangkan Abi dan Mama serta empat Adikku yang lain menderita karena sikapku ini. Aku tidak bisa adil pada keluarga baru Abi. Sedangkan Umi, Ayah dan tiga Adikku yang lain aku begitu cinta. Kini aku hanya bisa menangis atas penyesalan serta dosa telah menyakiti Ayah dan Umi serta Abi. Lebih parahnya aku mengabaikan didikan Ayah dan Umi selalu memintaku untuk adil pada semua. Membagi rata kasih sayang tanpa membedakan, tetapi aku sekarang begitu jauh dari itu semua. Ayah-Umi tolong maafkan, Kakak begitu berdosa. Maafkan Tole, Abi-Mama telah membuat kalian terluka. Yaa Allah yaa Tuhanku, ampunilah hamba atas segala dosa," batin Ridwan diiringi air mata.
...Cut....
...Maaf belum tak koreksi jadi kalau banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan harap maklum....
...Bagaimana pendapat kalian tentang chapter ini?...
...Maaf amburadul tidak jelas....
...Salam cinta Rose....
...09_11_20...
...Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....