
...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....
...Apa kbr semuanya?...
...Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini....
.......***.......
Seperti biasa Steven akan memeriksa keadaan Nenek. Dia hanya tersenyum sewaktu Afareen menyapa seraya tersenyum ramah. Ia juga sedikit masuk ke pembicaraan kala gadis kecil bersama Ibunya berbicara tentang Kakak kedua. Sampai Steven terdiam kaku mendengar perkataan salah satu cucu Nenek.
Terasa di sambar petir akibat mendengar perkataan mereka. Dia menatap intens wajah mereka satu persatu. Kemudian menatap Nenek lebih dalam lalu lebih parahnya membicarakan tentang Aziz. Rasanya Steven bagai di ambil paksa membuat ia langsung berlalu.
Sedangkan keluarga besar Nenek diam sewaktu Steven tiba-tiba berlalu. Mereka heran kenapa bisa pria itu begitu beda. Semua orang hanya bisa saling pandang lalu mengedikkan bahu acuh.
Sementara Steven langsung berjalan di tempat tenang. Dia duduk di bawah pohon rindang dengan perasaan campur aduk. Ia langsung sadar sudah satu bulan lebih merawat Nenek gadisnya dulu. Hati Steven tidak mampu dikendalikan sampai air mata menetes.
"Dik Bibah," lirih Steven dengan hati lebur. Tidak lama ia lanjutkan kata-kata menyayat hati, "besok mungkin kita bertemu setelah 18 tahun berlalu. Bagaimana kabarmu, Dik? Apa kamu masih mengingatku? Hatiku sakit sekali, Dik. Aku begitu sakit atas cinta serta semua kenangan. Ingat dulu aku begitu bahagia. Aku ingin segera bertemu walau ini sangat menyakitkan."
...Flashback on!...
...19 tahun yang lalu....
Steven memberikan pidato untuk para Universitas Harvard. Senyum tampan terbit sewaktu para Mahasiswa dan Mahasiswi menyambut hangat. Tidak dipungkiri bahwa ia senang bisa jadi orang penting yang diundang untuk memberi seminar. Wajah Steven yang tampan sukses membuat siapa saja jatuh hati.
Setelah acara selesai Steven dikejutkan oleh kemunculan seseorang tidak terduga. Mata tajamnya menatap tidak percaya gadis cantik setengah tahun lalu dijumpai. Ingatan dia hinggap akibat ketertarikan dalam Islam. Berkat ke Mesir serta menjadi tamu istimewa Steven memutuskan jadi mualaf.
Bagaimana tidak jadi mualaf jika jiwa raga telah tersentuh ingin lebih mendalami agama Islam. Tiga hari di asrama para pelajar taat agama membuat tersentuh. Dia tidak kuasa menahan air mata haru mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an. Steven bergetar hebat alhasil masuk Islam.
Setelah masuk Islam Steven sedikit demi sedikit berusaha menjalankan kewajiban umat islam. Dia belajar wudhu, shalat dan menghafal doa-doa sehari-hari. Terutama belajar mengaji menyebabkan ia di Mesir empat bulan. Steven tidak pernah lelah menuntut ilmu sampai akhirnya memutuskan untuk berangkat ke perpustakaan membeli buku sejarah.
Pertemuan pertama Steven dan Bibah yaitu di perpustakaan. Tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan sewaktu mengambil buku tinggal satu. Ini kisah Rasulullah Saw maka dari itu setiap buku datang akan diperebutkan. Sontak saja mereka mengucap istighfar lalu meminta maaf atas semua.
Bibah yang menginginkan buku perjalanan kisah Rasulullah Saw dalam menegakkan agama Allah. Lebih lagi ada kisah lagi yang di dalamnya ada kisah cinta Rasulullah Saw dengan Ummul mukminin. Bibah jadi ingin memiliki buku itu, walau sejatinya bukunya banyak.
Melihat gadis cantik bersedih akibat menginginkan buku menyebabkan hati terenyuh. Sejatinya ingin, tetapi gadis ini lebih membutuhkan buku perjalanan kisah Rasulullah Saw. Dirinya memutusakan mengalah lalu membeli buku sejarah yang lain. Steven akan memberikan buku.
"Madame, this book is for, you."
"What? The book is the first time you hold it. So the book is yours. "
"But ...."
"Don't hesitate, it looks like you need more books."
"Thank you so much, Mrs."
"You're welcome, Sir."
Detik berikutnya untuk pertama kali mata mereka bersirobok. Meta beda warna itu saling menatap beberapa detik. Steven dan Bibah diam saja sampai akhirnya berbicara bahasa Inggris kembali. Percakapan mengalir begitu saja seolah akrab.
Steven tersenyum mengobrol bersama Bibah yang sangat cerdas bisa menyahut perkataan begitu lugas. Dia terpesona sewaktu gadis ini begitu manis mengatakan banyak hal. Setelah itu ia melihat gadis itu izin pulang. Steven terpesona untuk pertama kalinya pada gadis cantik tanpa cadar.
Sedangkan Bibah hanya tersenyum mengingat pria tadi. Dia jadi ingat pria tadi berbicara bahwa dirinya seorang mualaf. Bahkan pria tadi ingin selalu mempelajari semua kaidah tentang Islam. Maka Bibah memberi tahu pria tadi bukunapa saja yang patut dimiliki seorang mualaf.
Bibah sendiri begitu senang mendengar alasan pria tadi menjabarkan alasan jadi mualaf. Oleh sebab itu ia malah memberi buku untuk pria tadi. Dirinya pada akhirnya memutuskan pergi karena kelas sebentar lagi dimulai. Bibah harap semoga saja pria tadi tetap Istiqomah Aamiin.
"Ya Allah, aku belum mengenal gadis tadi. Siapa namanya? Padahal aku sudah mengobrol dan diberikan banyak masukan malh tidak bertanya nama. Aku bagaimana? Antah kenapa aku begitu tertarik ingin tetap melihatnya. Perasaan apa ini? Apa ini kenapa jantungku berdegup kencang? Kenapa aku ingin bertemu dengan gadis itu? Ya Allah, ampuni kekhilafan, hamba," lirih Steven.
Lain sisi Bibah juga membatin, "aku harap pria tadi menjadi pria Shaleh. Semoga Istiqomah dan menjadi pria hebat yang dirahmati Allah."
Hingga beberapa waktu Steven ke perpustakaan maka bertemu dengan gadis cantik nan manis itu. Selama empat kali pertemuan belum berani ia mengajak bicara seperti awal bertemu. Sampai akhirnya sewaktu hendak pulang Steven memutuskan berpamitan.
Sedangkan Bibah hanya tersenyum melihat pria itu selalu datang. Dia yang sering datang ke perpustakaan setelah pulang dari kampus. Lebih lagi menunggu wisuda kurang satu bulan lagi. Bibah ini seperti Abah dan Umminya yang genius oleh sebab itu di usianya ke 20 mampu meraih gelar sarjana Syariah wali Qanun.
"Excuse me," sapa Steven.
"Yes, what happened, Sir?" Tanya Bibah.
"I want to say something. May I sit down and say all that?"
"Of course, Sir."
"Where do you come from? Is Egypt where you come from?"
"I'm from Indonesia. No, I'm from Indonesia even though I have Middle Eastern blood. Where are you from?"
"Canada, what is your name?"
"Khalis Shabibah Qotrunnada, familiarly called Bibah, and you?"
"Steven Brandon Johson, familiarly called Steven or Stev."
Steven tersenyum mendengar perkataan Bibah. Cantik sekali terkesan nama Arab yang kental. Ingat gadis itu dari Indonesia dan punya darah timur tengah membuat ia ingin belajar bahasa Indonesia dan Arab. Steven harap dipertemuan kedua bisa berbincang-bincang dengan Bibah menggunakan bahasa Indonesia atau Arab.
Sedangkan Bibah hanya menunduk dalam menyembunyikan wajah bersemu. Krena gugup dia memutuskan untuk membaca buku. Walau kurang konsentrasi, tetapi tetap berusaha membaca. Bibah antah kenapa bisa berdesir hebat sekaligus terhipnotis oleh pesona pria.
"Madame."
"Yes."
"Are you married?"
"No, I'm single. "
"Really?"
"I'm single."
"Àlhamdulillah."
"Eh?"
Steven hanya tersenyum melihat Bibah terkejut. Dia memutuskan memberikan kartu nama sekaligus kotak kecil. Ia terjatuh sekaligus mengakui telah jatuh cinta pada gadis ini. Steven memutuskan akan menikahi Bibah sebelum itu meminta restu.
Sedangkan Bibah menerima kartu nama Steven dengan perasaan campur aduk. Dia terkejut melihat kartu nama serta pekerjaan pria tampan. Ia juga terkejut melihat kotak beludru berbentuk love dari pria dewasa. Bibah terdiam sewaktu Steven memberikan ini semua.
"What do you mean, Sir? Why give me the box? What's in it?"
"I'm always a fool, but this is the truth. I met you from the start, my heart was beating. Heart pounding, I realized one thing that ... that I love you. Tomorrow I'm back in Canada, but first I want to give you this. I am giving this box as proof of my love. If we meet for the second time, I hope you have an answer. Marry me, please. I love you so much. There's no need to rush, I won't force you, thank you."
Bibah hanya diam seraya terbelalak tidak percaya. Tanpa buang waktu ia berlalu begitu saja tanpa membawa kotak dan kartu nama. Dia menangis dalam diam sembari berlari menjauh. Bibah begitu terpuruk mendengar pengakuan Steven terkesan begitu serius.
Sedangkan Steven merasa begitu terluka atas penolakan Bibah. Dia raih kartu nama dan kotak diiringi luka menganga. Tanpa buang waktu ia berlari mengejar gadisnya. Walau sakit setidaknya Steven ingin memberikan semua ini.
Sampai Steven harus menelan kekecewaan sewaktu gadis itu tiba-tiba terlihat mendekap erat seorang pria begitu rupawan. Hatinya hancur membuat dirinya berlari meninggalkan gadis itu. Dia memang bodoh karena sebuah harapan palsu. Steven yang sakit hati memutuskan berlalu begitu saja.
Sementara Bibah menangis dalam diam dalam dekapan hangat Aziz. Dia tadi tanpa sengaja melihat Masnya jalan bersama teman. Tanpa buang waktu ia lari ke arah Masnya lali mendekap erat. Mungkin jika Azzam di sini maka Bibah tidak mungkin seperti ini.
Aziz yang bingung terdiam menerima dekapan Bibah. Apa lagi Adiknya menangis dalam diam. Siapa yang menyakiti Adiknya? Tanpa buang waktu ia usap punggung Adiknya dengan perasaan gundah. Aziz akan menghajar orang yang berani menyakiti Adiknya.
"Nduk," panggil Aziz.
"Mas, maafkan Bibah." Bibah semakin terisak.
"Ada apa, Nduk?"
"Bibah jatuh hati pada pria asing."
"Astaghfirullah, siapa? Siapa pria itu?"
"Pria mualaf, Mas maafkan Bibah."
"Sadar, Nduk. Kamu di sini mencari ilmu bukan mencari pasangan. Sadar, Nduk. Ya Allah, Mas tidak menyetujui kamu punya rasa!"
"Mas."
"Jika Mas Azzam dan yang lain tahu kamu bisa kena marah. Mas mohon jangan berbuat konyol."
"Maafkan, Bibah. Maafkan Bibah yang kelepasan, Mas."
"Mas tidak bisa berkata apa-apa, selain memohon padamu, Nduk. Harusnya kamu ingat batasan serta ingat pedoman Al-Qur'an dan Hadits. Untuk kalian jangan ada yang memberitahu masalah ini!"
"Baik, Ziz."
"Ayo pulang, kita bicara di asrama."
"...."
Aziz membawa Bibah pergi meninggalkan tempat ini. Dia genggam tangan Adiknya erat seraya menitikkan air mata. Ia takut jika Adiknya terjerumus lembah hitam. Sebagai Kakak Aziz berharap semoga Bibah melupakan pria asing itu
Sedangkan Bibah hanya pasrah menerima apa yang diperintahkan Aziz. Lagipula apa yang dikatakan Masnya benar adanya. Dia tidak boleh melakukan dosa jika terbenam membuat dosa semakin menumpuk. Bibah akan berusaha meluapkan pria yang mencuri hati.
Tepat setengah tahun kemudian Aziz dapat undangan ke seminar hebat untuk mewakili Universitas. Karena tidak bisa pergi sendiri ia meminta Adiknya ikut serta itu pun bersama Mas dam dua Mahasiswa lainnya. Dia juga berharap dengan keikutsertaan Bibah ke Amerika serikat membuat penat hilang. Aziz juga senang Azzam mau ikut serta padahal ujian sebentar lagi.
Tanpa di duga acara besar ini menghadirkan banyak sekali tamu penting. Biaya juga di tanggung pihak universitas. Dia begitu senang bisa jalan-jalan ke Amerika bersama dua saudara. Aziz juga berkenalan dengan banyak pembisnis handal membuatnya sedikit melupakan seni.
Sampai Bibah tanpa sengaja bertemu Steven di tempat ini. Bukannya pria ini di Canada? Kenapa bisa ada di ruangan ini? Bibah serba salah rindu sekaligus merasa miris.
Sedangkan Steven merasa begitu senang sekaligus sakit hati. Dia hendak menanyakan kabar, tetapi ada pria tampan menghampiri gadis cantik. Ia tidak tahu yang jelas pria ini lumayan mirip dengan Bibah. Sampai Steven melihat pria waktu itu mendekap erat Bibah.
"Ayo pergi, Nduk," ajak Aziz.
"Iya, Mas." Bibah menyambut tangan Aziz.
"Kamu kenal dengan pria bule itu, Nduk?" Tanya Azzam sedikit heran atas perubahan Bibah.
"Dia teman Bibah, Mas."
"Serius?"
"Iya."
"Apa dia paham bahasa Indonesia?"
"Tidak."
"Jadi apa dia orangnya, Nduk?"
"...."
"Berani sekali ...."
"Mas, aku mohon lupakan itu. Ayo pergi Mas kita tidak boleh membuat masalah."
"Tunggu, siapa kalian?" Seru Steven.
"Kami Kakaknya!" Seru Aziz tnpa sadar membuat kesalahpahaman berlalu.
"Astaghfirullah. Maafkan saya. Begini saya teman Nona. Bibah. Sekali lagi maafkan saya."
"What? Kamu bisa bahasa Indonesia?"
"Iya, saya teman Adik, Anda. Iya, sedikit bisa."
"Syukurlah, kalau kamu bisa Bahasa Indonesia maka dengar kamu jangan pernah dekati Adikku lagi!"
"Tole, kenapa bicara begitu?"
"Mas, tidak tahu permasalahan ini. Nanti tanyakan pada Adik kesayangan, Mas."
"Nduk."
"Sudah kita pergi dulu."
Bibah akhirnya meraih tangan Azzam dan Aziz untuk berlalu meninggalkan ruangan ini. Sedangkan Steven tersenyum penuh kebahagiaan telah mengetahui kebenaran. Dia akhirnya berlalu mengikuti gadisnya. Sedangkan Azzam dan Aziz hanya diam mengikuti langkah Bibah.
"Semoga permasalahan ini segera berlalu."
...Cut....
...Asli aku nulis apa toh?...
...Maafkan aku akhir-akhir ini kualitasnya anjlok. Pikiran padam sekaligus banyak sekali gangguan. Aku akan berusaha konsentrasi....
...Aku mau kalian sedikit mengerti....
...Aku akan berusaha untuk memperbaiki diri....
...Aku akan berusaha konsentrasi lagi dalam penulisan....
...Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan harap maklum atas semua....
...Chap depan flashback off. Lalu keluarga Abah Hasyim diselimuti rasa pilu atas sakit Nenek....
...Nantikan saja dan semoga kalian tetap setia....
...Salam cinta Rose....
Maaf juga bahasa Inggris acak Adul alias amburadul. Nanti aku benerin lagi.
...I love you....
...Wassalamu'alaikumwarahmatullahi wabarakatuh....
...13_11_20...