
...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....
...Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini....
.......**~''~**......
...At Baghdad Irak - 08.00 AM!...
Keluarga besar Abah Hasyim telah tiba di Baghdad kemarin tepatnya jam 14.00. Di Indonesia tepatnya Yogyakarta bandar udara internasional Adisucipto mereka berangkat jam delapan malam. Tiba di Baghdad jam 14.00 dan mereka melakukan transit dua kali.
Perbedaan waktu Indonesia-Baghdad empat jam. Indonesia lebih cepat empat jam dari Baghdad. Maka dari itu mereka semua memutuskan istirahat terlebih dahulu sebelum membesuk Nenek di rumah sakit. Di sini banyak sekali keluarga berkumpul membuat rumah Nenek penuh.
Tepat di jam tujuh malam setelah istirahat sebentar Aziz nekat datang ke rumah sakit bersama Masnya dan Ummi serta Abah. Sedangkan anak dan Istrinya besok pagi. Untuk Bibah hanya bisa berharap semoga saja Nenek cepet sembuh lalu bisa segera sehat. Lagipula besok semua keluarga besar Abah akan membesuk Nenek.
Waktu berlalu begitu cepat tepatnya di jam delapan pagi mereka semua memutuskan membesuk Nenek. Namun, di sini ada satu orang begitu tegang sekaligus begitu pucat. Dia tidak bisa berkata selain diam dengan perasaan campur aduk. Jujur saja pria ini begitu khawatir pada Bibah.
Khumaira yang tahu perubahan Aziz setelah pulang ke Rumah Sakit dengan lembut menggenggam tangan. Dia juga cukup bersyukur karena anak-anak tidak ikut alasan karena tidak mau menganggu kenyamanan. Maklum anak-anak identik dengan kehebohan dan keceriaan overdose. Apa lagi suka lari-lari serta begitu usil oleh sebab itu mereka titipkan anak-anak pada kerabat.
Mendapat genggaman tangan Istrinya membuatnya menatap sendu. Karena tidak mau ada yang sadar keadaannya ia segera merubah ekspresi. Jujur saja walau tetap datar Aziz merasa begitu gundah ingat pertemuan tidak terduga. Dia sangat terkejut melihat langsung seseorang yang pernah diperjuangkan. Dirinya serba salah ingat pertemuan pertama setelah 13 tahun tidak bertemu.
...Flashback On!...
Aziz tepat jam 10 malam memutuskan wudhu berniat mau tadarus Al-Qur'an. Dia juga mengantuk serta lelah terlebih lagi keadaan kurang fit. Maka dari itu ia memilih untuk segera wudhu kemudian tadarus walau hanya dapat beberapa ruku'. Sampai restroom Aziz masuk ke bilik ke tiga.
Setelah hajat tuntas Aziz keluar berniat membasuh muka di wastafel. Saat ia membasuh wajah ada seseorang di sampingnya juga melakukan hal sama. Dia masih menunduk belum mengangkat wajah. Aziz masih diam sembari membiarkan air membelai wajah.
Beda dengan pria di samping pria sibuk membasuh muka. Pria tinggi berparas rupawan ikut membasuh wajah karena merasa sudah mengantuk usai operasi. Kebetulan tadi kebelet otomatis membuatnya datang ke restroom terdekat.
Samapi pria khas bule terkejut melihat wajah seseorang sudah lama tidak dijumpai. Mata tajamnya menatap terkejut seolah tidak percaya dengan apa yang terlihat. Jujur saja ia rindu pada pria senantiasa memberikan pelajaran berharga.
"Aziz / Steve," gumam Aziz dan Steven.
"Anda benar, Aziz?" Tanya Steven berusaha memastikan pria di depannya adalah sahabat yang dirindukan.
"Jika kamu mengenali aku berarti ...." Aziz tidak sanggup melanjutkan perkataannya.
"Iya, aku Steven. Aku Steve, Ziz."
"Steve ...."
"Kamu benar-benar tidak berubah sekarang tambah dewasa. Wajahmu masih sama tetap saja tengil."
"...."
"Kamu tidak merindukan sahabatmu?"
"Kita perlu bicara. Tidak enak bicara di sini."
"Baik."
Aziz berjalan terlebih dahulu kemudian berhenti memberikan Steve jalan. Dia belum tahu taman rumah sakit ini oleh sebab itu mempercayakan sahabatnya untuk memimpin. Detik berikutnya ia mengikuti langkah sahabatnya menuju tempat tujuan. Sampai di taman belakang Aziz diam sewaktu Steven memintanya duduk.
Jujur saja Steven begitu senang Aziz masih sama bahkan terkesan begitu sama. Sewaktu sampai di taman belakang ia meminta sahabatnya untuk duduk. Dia begitu berharap semoga saja keinginan terkabul dan benar saja sahabatnya menuruti keinginan. Otomatis Steven tersenyum cerah menyambut Aziz.
"Kamu tambah tua, jelek sekali," ucap Aziz tanpa pikir panjang.
"Tidak berubah tetap saja mulut cabai satu kilo. Begini-begini aku tetap tampan dan kamu tidak akan bisa menyamai tinggi badan, 'ku," kekeh Steven.
"Kalau soal tinggi badan aku mundur, kalau wajah jangan harap. Aku sangat tampan overdose tidak ada duanya. Kamu menang tinggi badan bangga, hahahaha."
"Astaghfirullahal'adzim, ahahahaha. Kami benar-benar Aziz tidak pernah berubah. Aku benar-benar tidak bisa berkata, ahahahaha."
"Kamu juga sama masih garing dan tidak jelas. Humor receh dasar tiang bodoh, hahahaha."
"Dasar gila, ahahahaha."
"Bagaimana kabar, 'mu?"
"Aku rindu, tidak terasa 13 tahun kita tidak jumpa. Lalu saat kita bertemu kita sudah berumur. Ke mana saja baru muncul? Aku pikir kamu kuliah hukum demi diri, 'ku," lirih Steven
"Aku terakhir menemui diri mu waktu tugas terakhir di Hongkong. Itu pun aku sudah memutuskan tidak ke luar negeri lagi. Maaf aku mengabaikan kamu, tapi percaya doaku selalu menyertaimu. Aku memiliki keluarga lumayan rumit dan penuh cobaan. Kamu juga tahu saat aku berjuang ingin kuliah S3 mengambil jurusan hukum. Namun, Abah meminta aku tetap di awal. Abah dan Ummi menolak aku sekolah hukum apa lagi mengetahui aku kuliah itu hanya untukmu. Aku terus berjuang, tetapi tiada hasil. Sekali lagi maafkan, aku," tutur Aziz.
Steven menitikkan air mata mengingat masa-masa sulit sewaktu Aziz sudah berhenti membesuk di tahanan. Sungguh hati begitu pilu sampai mengira sahabatnya telah bosan. Jujur saja ia begitu takut sempat depresi. Bahkan Steven yang sangat terluka atas semua beban berkali-kali berniat bunuh diri.
Namun, bukan meninggal Steven selalu selamat. Bahkan dua tahun ia harus di rawat di rumah sakit jiwa akibat psikis terguncang. Dua tahun dia kehilangan kewarasannya bahkan selama itu tidak ada yang peduli. Hati Steven remuk sehingga membuat jadi pribadi lebih tangguh.
Beda dengan Aziz merasa begitu menyesal telah mengabaikan Steven. Mungkin jika dirinya mau berjuang lebih keras serta jadi pemberani apa lagi melawan mungkin bisa menyelamatkan sang sahabat. Dia hanya bisa pasrah menerima takdir sewaktu ke dua orang tuanya menentang keras melanjutkan study hukum. Aziz yang kecewa menuntaskan semua keinginan mereka walau hati sakit.
Selama enam tahun Aziz selalu datang membesuk Steven. Uang yang dimiliki cukup banyak maka bisa berpergian jauh. Dia terus berusaha membuat sahabatnya tenang tidak jadi musyrik. Namun, hal buruk terjadi akibat Azzam meninggal dunia. Dari sini Aziz tidak bisa aktif lagi dan terakhir membesuk Steven tepat terakhir kali melakukan perjalanan ke luar negeri sewaktu menikah.
"Aku hanya bisa memohon maaf atas semua, Steve. Benci serta maki aku agar kebencian mu pudar. Aku hanya bisa meminta maaf atas semua."
"Aku sudah memaafkan kamu. Jangan bicara aneh-aneh karena sebenci-bencinya aku tidak akan bisa membenci dirimu."
"Aku memang tidak mudah dibenci, hehehe. Bukannya pengadilan menjatuhkan hukuman pertama 20 tahun setelah itu bisa mengajukan banding. Lalau kenapa 18 tahun bisa bebas?"
"Kamu benar karena orang di samping ku begitu kuat pengaruhnya. Akibat kebaikan selama ini ku perbuat. Setelah pulang dari rumah sakit jiwa aku kembali bangkit. Aku kembali mengembangkan jati diri serta berusaha membantu para pihak medis. Kamu tahu aku profesor jadi setiap waktu aku berbuat baik. Dengan kebaikan yang kumiliki Alhamdulillah dibebaskan lebih awal."
"Allahu Akbar, aku senang mendengarnya. Rumah sakit jiwa? Kamu gila? Kapan itu terjadi? Bukannya selama enam tahun aku terus membesuk kamu baik-baik saja. Kapan kamu kehilangan kesadaran?"
"Kamu tahu bukan setelah aku kena skandal pemerkosaan dan pembunuhan hidup bagaimana? Aku di depak tanpa ampun. Saat aku melakukan itu semua ke dua orang tuaku membuang bahkan tidak sudi mengakui aku anak. Hanya kamu yang mau berteman serta selalu setia memberikan semua dukungan. Namun, saat 13 tahun setelah kamu tidak pernah kembali hidupku hancur. Benar-benar hancur tidak berbentuk. Berulang kali aku nekad melakukan bunuh diri. Namun, selalu selamat dan dari sini aku benar-benar gila. Aku kehilangan kesadaran sampai dirawat di rumah sakit jiwa dua tahun. Aku begitu terpuruk."
"Innalillahi wa innailaihi roji'un. Astaghfirullahal'adzim."
"Tidak perlu merasa bersalah itu takdirku. Kamu tidak salah dan akulah yang salah. Kamu jangan merasa bersalah itu semua takdir. Bagaimana keadaannya? Apa dia sudah menikah dan punya anak?"
"Steve ...."
"Jawab, Ziz."
"Alhamdulillah, dia baik. Sudah dan punya tiga anak. Anaknya paling bungsu masih anak-anak."
"Senang mendengarnya. Kalau begitu aku pergi dulu karena sebentar lagi ada pasien. Sampai bertemu besok."
Aziz menahan lengan Steven hendak melangkah pergi. Dia sangat tahu sahabatnya masih mencintai Adiknya akibat semua. Dari jawaban serta gerak gerik tubuh mencerminkan semua. Kini Aziz harap semoga saja Steven mau sedikit paham
Steven hanya tersenyum tipis sebelum memutuskan berlalu setelah bertanya kenapa menahan dan kenapa di rumah sakit ini. Dia berlalu membawa duka sekaligus lega gadisnya dulu telah menjalin hubungan. Steven kira Bibah akan setia, tetapi itu begitu mustahil.
"Kamu begitu malang, tetapi aku harap kebaikan menyertaimu. Aku sebagai sahabat sekaligus Kakak untuk Adikku harus bertindak. Semoga pertemuan pertama mereka baik-baik saja. Aku begitu shock tahu Steve jadi Dokter di rumah sakit ini. Dia juga telah melakukan tindakan benar pergi imigran. Steve, semoga tetap baik jangan jadi orang berbeda. Kamu sahabat terbaikku selain Romli dan yang lainnya. Maafkan aku telah membiarkan hidupmu hancur."
"Aziz, terima kasih telah datang. Sekali lagi maafkan aku masih mencintai Adikmu. Aku ingin selalu bersama saudara ku. Hanya kamu yang ku punya serat Bibah ... Astaghfirullah, hilangkan pikiran setan itu,.Steve. Astaghfirullah astaghfirullahal'adzim."
...Flashback off!...
Aziz hanya tersenyum sewaktu Khumaira menggenggam tangan. Dia masih berharap semoga saja Steven tidak bertindak konyol. Ia juga memohon agar sahabatnya tidak berbuat gila. Lalu Aziz memikirkan bagaimana jika keluarga besarnya melihat Steven?
"Apa yang akan terjadi jika mereka melihat, Steve?" Batin Aziz.
Sedangkan Khumaira takut jikalau Aziz jadi aneh. Dari pulang sikap Suaminya beda sekali. Sebagai Istri sudah menemani begitu lama tentu tahu gerak-gerik Suaminya. Bahkan ia merasa jika Suaminya menyembunyikan hal besar. Khumaira harap semoga saja Aziz mau cerita walau sedikit saja.
"Sebenarnya apa yang Mas pikirkan? Sepertinya Mas begitu berat memikirkan masalah. Semoga saja Mas mau membagi cerita," lirih Khumaira dalam hati.
...Cut....
...Maaf belum tak koreksi jadi kalau banyak kesalahan dalam penulisan harap maklum....
...Bagaimana perasaan kalian membaca chapter ini?...
...Apa pendapat kalian tentang persahabatan Ayah dan Steve?...
...Mereka dulu bersahabat begitu baik. Dan Ayah orang yang bisa membuat Steve bertahan. Saat pergi psikis jadi terganggu jadi gila....
...Aku sebenarnya kasihan pada Steven, tetapi inilah takdir....
...Sampai juma lagi di chapter depan....
...Salam cinta Rose....
...18_11_20...
...Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....