Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
Baikkan Menjadi Lembaran Baru!



Baper loh ingat ngga nangung ok!


berikan komentar terbaik kalian dan berikan Review ya, Hahaha.


Salam hangat dari Rose_Crystal_030199!


****❤❤❤


Aziz terdiam seribu bahasa ketika mendengar tiga kata penuh makna dari Khumaira. Hatinya berbunga bunga akan sebuah harapan. Benarkah Istrinya meminta maaf padanya? Aziz masih mencerna apa yang telah di ucapkan Khumaira.


Khumaira tetap merengkuh erat kaki kanan Aziz. Isak tangis terus terdengar mengiringi rasa sesal. Dia berharap Suaminya berkenan mau mengampuni dirinya. Demi apa pun Khumaira begitu takut jikalau Aziz tetap murka.


Aziz hendak meraih Khumaira, tetapi Istrinya malah semakin erat mendekap. Kalau begini ia terkesan begitu kurang sopan. Aziz tidak sanggup melihat Khumaira menangis begini. Lagi-lagi terhenti ketika ia hendak duduk di bawah bersama Istrinya.


"Mas, biarkan begini. Tolong jangan turun, biarkan aku begini," pinta Khumaira ketika Aziz hendak ikut duduk di bawah.


"Mbak, berdirilah jangan buat Aziz tidak enak. Tolong duduklah dan jangan menangis," tutur Aziz sembari menyentuh bahu Khumaira.


Khumaira mendongak menatap mata cokelat Aziz dan dengan keyakinan hati ia ingin mengawali. Dia genggam tangan besar Aziz lalu mengecup punggung tangan Suaminya. Dia genggam erat tangan Suaminy dan sesekali mengecup.


Aziz sangat terkejut menerima Istrinya sangat berani mencium punggung tangannya lalu di genggam erat. Dia terdiam mendapati Khumaira begitu berbeda. Sebenarnya kenapa? Saat tangan hendak dia tarik, Istrinya malah semakin erat menggenggam.


"Mbak, tolong aku tidak enak akan semua ini."


"Biarkan begini dan tolong dengarkan jangan menyela. Aku mohon, Mas."


"Baik, Mbak katakan apa yang ingin Mbak katakan."


Memang dasarnya Aziz tidak tegaan makanya begitu mudah memaafkan. Dia tidak ingin menjadi orang pendendam penuh kebencian. Dalam hidup motivasi Aziz ingin damai penuh ketenangan. Ia ingin hidup tenteram tanpa kebencian terhadap sesama hamba Allah.


"Mas, ampuni aku ... tolong ampuni semua kesalahan yang saya perbuat. Dosa saya begitu besar pada Mas, di setiap saat hanya kesakitan yang saya beri. Tolong Ridhoi setiap langkah yang saya inginkan. Mas, tolong maafkan aku yang berkata begitu kasar dan meminta hal menyakitkan. Tolong maafkan aku atas tindak buruk selama ini, Mas. Maaf berulang kali melukai Mas tanpa peduli kesakitan yang Mas alami ....


... Mas sangat berharga dan berarti untukku. Mas adalah sosok yang sangat baik untuk kami. Tolong jangan berpikir saya menganggap Mas sampah dan jijik terhadap Mas. Semua itu salah, bagi saya Mas Aziz sosok yang sangat berarti dan sangat saya sayangi. Tolong ampuni dosa saya, Mas."


Khumaira mengatakan itu begitu tulus. Setiap kata mewakili semua bahkan air mata luruh deras karena tidak kuat menahan diri. Dia ciumi tangan Aziz penuh penyesalan. Khumaira ingin menjadi Istri shalehah yang bisa mengantar Aziz ke Surga-Nya Allah.


Aziz terharu mendengar permintaan tulus Khumaira. Perlahan dia melepas genggaman Khumaira dan ikut duduk di depan Istrinya. Senyum manis terukir indah di bibir Aziz yang berwarna merah muda. Tangannya terulur untuk menghapus air mata Khumaira.


Mendengar kata berarti, berharga dan sayang membuat Aziz tidak mampu mengendalikan detak jantung. Kalau begini ia bisa apa? Sungguh jika boleh ia ingin berteriak keras bahwa dia sangat bahagia. Aziz sangat bahagia sampai ingin menciumi wajah bulat Khumaira.


Khumaira menggenggam tangan besar Aziz erat. Dia menunduk tidak sanggup jika Suaminya tidak mau memaafkan kesalahannya. Hingga sebuah tangan sejuk melingkupi pipinya. Khumaira menggenggam lengan kekar Aziz di kala Suaminya begitu dekat.


"Mbak, sebelum meminta maaf, Aziz sudah memaafkan. Saya memang sakit hati dan sangat kecewa pada, Mbak. Namun, atas nama Allah aku sudah memaafkan, Mbak. Aku menghindar sesuai keinginan Mbak dan berkata begitu karena saya tidak sanggup menatap Mbak ....


... Mbak, berhenti menangis, aku tidak suka melihat Istriku menangis. Tolong ampuni ucapan Aziz yang tajam dan semua tindakan yang membuat Mbak terganggu. Mbak, terima kasih aku sangat lega. Sudah jangan menangis aku mohon karena itu menyesakan untuk di lihat. Mbak juga sangat berarti untuk saya jadi tersenyum untukku.”


Aziz tersenyum tulus melihat Khumaira. Semoga hari ini menjadi awal baru hubungan mereka yang penuh makna. Dia sangat bahagia sekaligus terharu Istrinya meminta maaf begitu tulus. Aziz hendak melepas tangkupannya, tetapi di tahan Khumaira. Alhasil tangannya masih bertengger manis di pipi bulat Istrinya.


Khumaira tergugu seraya tersenyum lega. Dia sangat terharu Aziz begitu pemaaf. Senyum tampan itu membautnya bahagia. Dia sangat senang Suaminya begitu lapang memaafkan dirinya. Khumaira ingin merengkuh Aziz erat menikmati kehangatan sang Suami.


"Mas, ya Allah terima kasih."


Hanya itu yang mampu Khumaira ucapkan. Dia langsung merengkuh Aziz erat sembari menangis haru. Dia sangat bahagia Aziz begitu pemaaf dan mulai hari ini tugas menanti. Khumaira menyandarkan kepala di bahu lebar Aziz dengan tangan merengkuh erat punggung Suaminya.


Aziz tersentak menerima pelukan erat Khumaira yang tiba-tiba. Dengan cepat dia membalas pelukan Istrinya tidak kalah erat. Ia bersyukur atas kebesaran Allah yang telah memberikan kebahagiaan. Aziz sangat senang Istrinya mau merengkuhnya senyamam ini.


"Mas, aku sangat bahagia dan sangat terharu. Terima kasih, Mas."


"Aku juga, Mbak."


Mereka saling memeluk erat sembari menangis penuh kebahagiaan. Walau Aziz terkesan tidak bersuara, sedangkang Khumaira terisak. Baik Aziz dan Khumaira sama-sama diam meresapi kebersamaan mereka di hari ini.


Khumaira tambah mengeratkan pelukannya saat Aziz mengusap punggungnya. Sungguh pelukan Suaminya begitu nyaman membuatnya tidak mau lepas. Khumaira tersenyum dalam tangis deras, pasalnya semua terasa mengharukan.


Aziz ikut tersenyum sembari menitikan air mata. Dia terus mengusap punggung dan kepala Khumaira agar tenang. Pelukan hangat ini sungguh dirindukan olehnya. Aziz hanya berharap Khumaira selalu ada di kala senang maupun duka.


Kini hanya jalan kebahagiaan yang akan mereka lalui. Semoga Allah senantiasa memberi kemudahan, Amin.


***


Aziz dan Khumaira saling memeluk sangat lama. Tidak peduli lantai yang dingin asal bahagia kenapa tidak? Aziz masih betah mengusap punggung Khumaira dan mengusap kepala Istrinya agar tenang.


Khumaira mengurai pelukan lalu mendongak menatap mata cokelat Aziz. Jari lentiknya mengusap pipi tirus Suaminya untuk menghapus air mata. Dia tersenyum manis membalas senyum Suaminya. Khumaira menatap teduh mata tajam Aziz begitu dalam.


"Mas."


Aziz tersenyum mendengar panggilan merdu Khumaira. Ini kali pertama Istrinya memanggil lembut penuh makna. Rasanya ada yang menggelitik perut dan hatinya. Aziz ingin mendengar Khumaira memanggil Mas penuh perasaan seperti tadi.


Khumaira tersipu malu melihat Aziz begitu manis saat menatapnya. Apa dia salah memanggil begitu beda? Entah kenapa degup jantungnya terasa menggila di tatap Suaminya sangat dalam. Khumaira juga bersemu saat ingat memanggil Aziz begitu mesra.


"Dalem."


Khumaira mengecup rahang Aziz singkat dan lihat dampaknya. Aziz terlihat membulatkan mata dengan bibir terbuka. Dia tertawa melihat Suaminya terlihat lucu. Khumaira menepuk pelan bibir bawah Aziz agar di kondisikan. Wajah Suaminya tidak elit saat menganga begitu, tetapi malah terlihat begitu menggemaskan.


Aziz merotasikan mata dan membuka sedikit lebar mulutnya. Dia sangat shock akan tingkah Istrinya. Wajahnya panas ingin sembunyi di gua mak lampir. Aziz tidak sanggup mengendalikan diri akan keterkejutan akan Khumaira.


"Mingkem, Mas ... nanti ada lalat masuk loh, Mas."


Aziz langsung mengatupkan bibir sembari tersenyum kikuk. Dia langsung berpaling menyembunyikan semu merah gara-gara Khumaira. Dia menggaruk tengkuk yang tidak gatal mengurai gugup. Demi kolor Seponbob Aziz sangat gugup akibat Khumaira.


"Lalatnya, Mbak."


"Kenapa aku jadi lalatnya?"


"Karena Mbak membuat sesuatu hinggap di relung hati. Mbak, kalau mau cium bilang-bilang kan aku malu," jujur Aziz tampak polos.


Khumaira terdiam mencerna perkataan Aziz. Dia tertawa renyah mendengar kejujuran Aziz yang sangat lucu. Dia kembali mencium rahang tegas Suaminya sembari tersenyum memperlihatkan lesung pipi. Khumaira yang gemas mencubit gemas pipi tirus Aziz dan kembali mencium pipi.


Aziz tambah mendelik horor akan tingkah Khumaira. Wajahnya sudah merah padam tidak sanggup mengendalikan diri. Dia juga merasa jantungnya berdegup kencang mau copot. Tolong selamatkan dirinya dari Istrinya. Aziz yakin bisa overdose akan tingkah Khumaira.


"Kenapa harus bilang saat mengecup Suamiku? Biar aku terus hinggap seperti lalat. Awas hati Mas sakit ke gigit lalat, pastinya ngga ada obat."


Aziz kembali melotot horor gara-gara Khumaira mengecup sudut bibirnya. Bisakan Khumaira kalem tidak membuatnya kalang kabut? Sungguh semua terasa indah mendengar godaan Istrinya yang sangat manis. Aziz sangat suka melihat senyum Khumaira begitu manis laksana madu.


Khumaira punya hobi baru yaitu mengecup Aziz supaya Suaminya salah tingkah. Lucu sekali melihat Suaminya terkesan cool berubah menggemaskan saat tersipu. Khumaira tidak mampu menyembunyikan senyumnya gara-gara mendapati Aziz sangat manis.


"Baiklah, cium aku sepuas Mbak dan terserah mau kapan melakukan itu. Jangan jadi lalat aku takut Mbak terperangkap tanpa lepas. Obat ada di depanku kenapa minta yang lain."


Khumaira merona mendengar godaan balik Aziz. Dengan cepat dia menyembunyikan wajah di dada bidang Suaminya. Kalau di balas menggoda jadinya malu seperti kepiting rebus. Khumaira tersenyum malu-malu saat Aziz mengangkat dagunya.


Aziz balik terkekeh melihat Khumaira tersipu malu. Dasar Istrinya ini menggemaskan sekali seperti permen. Tadi menggoda sekarang balik tergoda. Aziz mengangkat dagu Khumaira lembut dan lihatlah semu serta senyum malu-malu sangat menggemaskan.


"Mbak, ini lucu sekali sampai ingin di cubit. Mbak menggoda sekali di balas kalang kabut," ejek Aziz sukses mendapat cubitan manja.


"Hentikan jangan teruskan aku malu. Mas, maafkan aku."


"Hahaha baiklah. Sudah jangan bahas itu."


"Em, Mas."


Aziz diam ketika Khumaira *** pakaian belakang. Dia jadi bingung kenapa Khumaira terlihat gelisah. Apa ada beban pikiran hinggap di benak Khumaira?


Khumaira *** pakaian belakang Aziz karena gugup melingkupi hati. Dia susah mau mengatakan karena gugup. Ia perlahan mendongak menatap Suaminya penuh arti.


"Katakan, ada apa Mbak? Kenapa gelisah, apa Mbak ada sesuatu yang di sembunyikan?"


Khumaira langsung melepas pelukan mereka lalu menghadap Aziz. Tangan mungilnya menangkup pipi Suaminya sembari mengusap pelan. Dia mendekatkan diri untuk mengecup kening Suaminya cukup lama.


Aziz jadi kalang kabut mendapati perubahan Khumaira. Detak jantungnya meroket jauh dengan hati berbunga. Haru sekali melingkupi relung hati yang lama layu. Sekarang hatinya bersemi penuh kebahagiaan tatkala Istrinya begitu manis. Aziz menikmati sentuhan lembut Khumaira di pipi bahkan kecupan kening membuatnya berdesir.


"Mas, maafkan aku yang lalai. Maaf tidak bisa memenuhi tugas sebagai Istri. Maaf selama ini tidak menjalankan kewajiban. Mas, aku mohon maafkan semua perbuatan dosaku."


"Aku sudah memaafkan, Mbak. Sudah jangan merasa bersalah. Sekarang waktunya membuka lembaran baru bersama keluarga kecil kita."


"Terima kasih banyak, Mas. Insya Allah, saya akan terbuka pada, Mas. Iya, mari buka lembaran baru bersama keluarga kecil kita."


Aziz tersenyum mendengar jawaban Khumaira. Ingin rasanya ia sentuh Istrinya, tetapi apa daya ia belum bisa leluasa karena sangat menghormati Khumaira. Biarkan Istrinya yang melakukan apa pun padanya. Allah begitu penyayang membuat kesabarannya terbayar manis.


Khumaira masih betah menangkup pipi tirus Aziz. Perlahan tangan itu turun mengalung indah di leher kokoh Suaminya. Jika di lihat begitu dekat Suaminya mempesona. Mata tajam berpupil cokelat keemasan itu mampu menjeratnya. Hidung mancung bak perosotan anak kecil. Bibir sensual menambah poin sempurna.


"Mas, ini malam Jumat."


Aziz langsung berpaling menghindari kontak mata. Otaknya langsung koneksi saat Khumaira mengatakan itu. Hawa panas langsung menguar membuat Aziz bersemu.


Khumaira ikut bersemu merah mengatakan hal lazim itu. Dia berdegup kencang mengatakan kode malam pertama. Ya Allah izinkan ia nyunsep di pasir saja.


"Mbak, ayo makan. Sejatinya aku belum makan."


Khumaira tersenyum mendengar Aziz mengalihkan pembicaraan. Dia langsung duduk di pangkuan Suaminya sembari tersenyum manis. Khumaira akan sedikit agresif demi menjalankan ibadah.


"Mas, izinkan aku memenuhi kewajiban sebagai, Istri. Izinkan saya mencari Ridho Allah kembali. Izinkan aku mengabdi dan menjadikan Mas ladang amal. Izinkan aku menjadikan Mas Imam sekaligus tempat untuk pulang. Mas, aku minta maaf belum bisa memenuhi kewajiban selama ini. Namun, sekarang aku ikhlas, Ridho dan tulus menyerahkan semua pada, Mas. Izinkan aku menjadi Istri yang berbakti pada Suami!"


Tutur Khumaira sembari tersenyum tulus. Dia tidak kuasa menahan laju air mata ketika mengatakan setiap kata. Rasanya begitu lega dan mendebarkan.


Aziz menatap Khumaira tidak percaya mendengar perkataan sang Istri. Dia sangat tahu apa maksud semuanya. Ia tidak mungkin menolak karena ini hari yang di nanti.


"Mbak, apa itu serius? Apa Mbak tidak menyesal dengan keputusan, Mbak? Apa Mbak yakin akan ucapan, Mbak?"


Aziz tidak mau membuat Khumaira merasa tertekan. Dia ingin Khumaira ikhlas menjalankan ibadah itu dengan sepenuh hati. Menunggu hal biasa untuknya apa lagi menunggu Khumaira.


Khumaira tersenyum saat Aziz mengusap air matanya. Dia tambah tersenyum manis mendengar pertanyaan Suaminya. Ia menangkup rahang tegas Suaminya sembari tersenyum teduh. Khumaira ingin hari ini menjadi saksi bisu penyatuan pertama mereka.


"Mas, aku yakin dan tidak akan pernah menyesal. Mas Aziz adalah masa depan untukku. Sekarang bagaimana?"


"Alhamdulillah ya Allah. Bagaimana apanya?"


Khumaira sangat malu bertingkah berani pada Aziz. Apa yang Aziz pikir tentangnya sekarang? Kenapa sekarang Suaminya polos sekali sepertinya?


Aziz bingung sendiri maksud Khumaira. Namun, sedetik kemudian langsung koneksi maksud semuanya. Dia menunduk menyembunyikan semua wajahnya. Aziz berharap Khumaira tidak mengolok dirinya.


"Mas, mari melakukan sunah Rasul. Maaf begitu aneh karena aku ingin Mas benar-benar menjadi Imam. Aku ingin menjadi Istri Mas seutuhnya."


Khumaira menunduk tidak sanggup menatap mata Aziz. Pasti wajahnya sudah merah merekah mengatakan kalimat ajakan menggiurkan. Wajah cantik Khumaira begitu manis ketika merona akan kenakalanya.


Aziz jadi malu sekaligus haru. Kalau begini nikmat mana yang didustakan? Bahkan ia tidak kuasa menahan linangan air mata haru akan kebahagiaan dari Allah. Jika begini Aziz juga harus siap mengawali lembaran baru menjadi Suami seutuhnya.