
Hayuk baper bareng bersama couple favorit!
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!
*.*.*.*
Semua impian terasa kosong tanpa ada tujuan bagi pria dewasa ini. Aziz menunduk tanpa sanggup melihat Khumaira terkulai lwmah. Dia menangis meratapi nasib begitu kejam terhadapnya. Setitik memori kebersamaan mereka membuat Aziz semakin terguncang pedih.
Sampaikan ia menerima penderitaan? Bisakah ada kebahagiaan walau sesaat? Kini harapan Aziz hanya tegar menerima semua ini. Tidak kuat sungguh jika ia harus kehilangan Istrinya. Samapi kapan pun keterpurukan itu ada sampai Aziz tidak bisa mengendalikan diri untuk menangis keras.
Seisi ambulance menatap Aziz penuh arti akan sebuah fakta. Mereka sangat terharu melihat pria dewasa begitu tulus mencintai Khumaira. Mereka salut menyaksikan cinta Aziz untuk khumaira yang sangat dalam. Mereka begitu terharu melihat betapa tulus cinta pria ini untuk wanita yang terbaring lemah.
Aziz terus menggenggam tangan mungil Khumaira tanpa mau melepas. Jika boleh jujur dia sangat ketakutan menerima cobaan kali ini. Harapan terbesarnya yaitu keselamatan Istrinya. Apa yang akan di katakan pada dua anaknya jika tahu Umi mereka terluka parah? Apa yang akan di katakan Aziz jika mereka menuntut jawaban?
Beda dengan Aziz tampak seseorang mengukir keharuan. Seulas senyum menghias bibir tebal seseorang. Bahkan air mata berlinang deras menerima cinta begitu besar. Ya Allah, dia tidak sanggup melihat cintanya menangis menyedihkan.
Mata besar itu perlahan terbuka untuk menatap Suaminya. Khumaira menengok ke arah Aziz dengan pandangan sulit di artikan. Ini sangat mengejutkan di saat seseorang yang terbujur telah kembali. Jika ingin tahu maka Khumiara akan jawab nanti.
Aziz tidak menyadari sebuah keajaiban terjadi. Dia melepas tangan mungil Khumaira guna menyembunyikan wajah. Sungguh hatinya begitu pilu sampai tidak sanggup menjabarkan. Aziz semakin pedih jika ingat Khumaira telah pergi meninggalkan dirinya sendiri.
"Dek, tolong jangan tinggalkan, Mas. Mas tidak mampu hidup tanpa, Adek. Ada Kakak dan Dedek membutuhkan hadirmu, Dek. Terutama Mas sangat membutuhkan Adek. Mas sangat mencintai Adek karena Allah," lirih Aziz.
Khumaira beringsut turun untuk duduk di samping Aziz. Dia rengkuh tubuh kekar Suaminya sembari menciumi pelipis sang Suami. Dia tidak kuasa menahan tangis melihat Suaminya begitu terpuruk akan kondisinya. Sejuta harapan Khumaira labuhkan agar Aziz baik-baik saja. Dia tidak pernah menyangka Suaminya begitu rapuh tanpanya.
Aziz menegang menerima pelukan hangat khumaira. Apa dia sedang berhalusinasi tentang Istrinya? Kenapa pelukan ini begitu nyata tanpa rekayasa. Jika mimpi maka izinkan dirinya tidak bangun. Aziz mau begini saja tanpa mu lepas dari Khumaira.
"Mas, sudah menangisnya Adek baik-baik, saja."
Khumaira menarik lembut kepala Aziz agar menghadap dirinya. Setelah berhadapan jari lentik mengusap air mata Suaminya penuh suka cita. Tanpa peduli orang di dalam mobil ia ciumi wajah rupawan Suaminya tanpa kecuali. Setelah memberikan ciuman Khumiara memberikan ciuman sayang di kening Aziz lama.
Aziz tidak mampu berkata apa pun ketika tangan hangat Khumiara membingkai rahangnya. Dia memejamkan mata tatkala menerima ciuman dan usapan lembut Istrinya. Tubuhnya membeku di iringi derai air mata semakinbercucuran deras. Aziz tidak menyangka ini sangat nyata bahwa Khumiara ada didepannya begitu nyata.
"Buk, tolong berikan saya kotak P3k untuk mengobati luka, Suami saya."
Dokter yang ikut tadi memberikan apa yang khumaira minta. Mereka tersenyum melihat Aziz linglung di obati khumaira. Mereka jadi iri melihat keromantisan pasangan Suami dan Istri ini. Apa lagi saat wanita cantik itu memberikan ciuman manis di seluruh wajah pria tampan. Mereka begitu romantis sehingga membuat iri.
Khumaira sudah mengobati luka di wajah Aziz. Usai itu dis mengembalikan pada Dokter. Senyum manis terukir indah tatkala Suaminya tidak merespons apa pun. Suaminya seprti patung dengan mata menatap dirinya dalam. Bahkan air mata Aziz tidak mau berhenti sehingga membuat Khumiara sedih.
"Mas, malu ih di lihat mereka. Masak menangis dari tadi. Ayo tersenyum peluk, Adek. Nanti Mas ngga tampan lagi bagaimana?"
Khumaira masih betah mengelus punggung tangan Aziz. Dia tidak habis pikir kenapa Suaminya jadi linglung begini? Pasti hati Suaminya terguncang menerima fakta bahwa ia terluka parah. Kini dirinya telah kembali tidak akan pergi. Pasalnya hanya Allah yang bisa memisahkan Khumiara dari Aziz itu keyakinannya.
Aziz membisu tanpa suara, pasalnya atensi terus terpaku pada Khumaira. Kenapa bisa Istrinya bangun seolah tidak mendapat luka. Lalu kenapa bisa Istrinya seolah baik-baik saja tanpa kesakitan? Apa sekarang Aziz sedang bermimpi indah tentang Khumiara?
"Mas, bicaralah sesuatu Adek mohon," pinta Khumaira sembari mengecup punggung tangan Aziz.
Aziz melepas tangan Khumaira lalu mencubit tangannya sekeras mungkin. Sakit, dia bisa merasakan kesakitan. Jadi ini tidak mimpi? Khumaira selamat tanpa tergores apa pun? Lalu darah dan timah panas itu bagaimana? Aziz semakin shock masih belum yakin ini nyata ada Khumaira di sampingnya.
"Mas, ini nyata. Adek sehat walafiat, Alhamdulillah. Mas, ini bukan mimpi karena Adek tidak kenapa-napa. Tolong berbicara jangan diam saja. Adek sangat takut Mas membisu."
Khumaira tidak tahan melihat Aziz diam sembari menangis dalam diam. Hatinya sangat sakit melihat sorot mata Suaminya yang kosong. Sakit sekali sampsi ia ikut menangis sesegukan. Khumaira tidak tahan melihat Aziz semakin mengucurkan air mata kepedihan.
Aziz langsung merengkuh Khumaira erat dengan tangis tersedu. Dia tidak peduli dikatai cengeng asal mampu merengkuh Istrinya erat sembari menangis. Dia sembunyikan wajah di bahu sempit Istrinya. Seluruh tubuh terasa menyakitkan untuk menerima. Aziz masih betah menangis dalam diam seraya merengkuh Khumaira.
Khumaira membalas pelukan Aziz tidak kalah erat. Dia cium bahu Suaminya seraya tersenyum haru. Semua konflik berat selesai dan ia sangat bersyukur. Tiada kata mengungkapkan kebahagiaan atas semua ini. Aziz adalah Suaminya yang sangat berarti dalam hidup Khumaira.
"Ini tidak mimpi? Tolong jangan bangunkan aku jika ini mimpi. Ya Allah, sesak sekali menerima kenyataan indah ini. Dek, ini mimpi maka jangan bangunkan Mas," tutur Aziz terdengar serak.
Aziz menunduk dalam guna menyembunyikan wajah penuh air mata. Dia bergetar hebat mengingat Khumaira tertembak. Kini rasa syukur saat Istrinya sadar tanpa mengeluh sakit. Hatinya sesak akan luapan kebahagiaan. Aziz sangat bersyukur Allah begitu misterius akan takdirnya bersama Khumaira.
Khumaira mengangkat kepala Aziz lembut lalu membelai penuh cinta. Dia menengok pada mereka meminta maaf akan perilakunya. Semoga saja mereka tidak iri melihat keromantisan bersama sang Suami. Maka izinkan Khumaira bertindak lancang dalam mobil agar Aziz tidak terpuruk.
Chup
Dengan berani Khumaira mengecup bibir Aziz lalu menggigit kecil. Dia sedikit mengeratkan pelukan dan gigitannya. Semoga setelah ini Suaminya sadar ini nyata bukan mimpi. Demi apa Khumaira begitu berani mencium Aziz di depan mereka tanpa tahu konsekuensi.
Aziz terpaku merasakan ciuman lembut dan gigitan di bibir. Usai sang Istri melepas taurtan bibir ia menatap Khumaira dalam setelah sadar dari keterkejutan. Senyum haru langsung merekah indah tatkala Istrinya merentangkan tangan. Tanpa ba-bi-bu lagi Aziz dekap Khumiara erat seraya menciumi pipi tembem itu.
Orang-orang yang ada di dalam mobil merona parah melihat Aziz dan Khumaira. Mereka melihat drama life tanpa sensor ketika ciuman. Ya Allah mereka iri akan pasangan ini. Walau sudah menikah tetap saja pasangan ini sangat romantis. Kalau begini drama Korea kalah telak akan drama life Aziz dan Khumiara.
"Mas, ini nyata nanti Adek jelaskan semuanya. Sekarang bersandar agar sakit Mas agak ringan."
Aziz hanya menurut tanpa membantah. Dia memilih bersandar tanpa mau melepas genggaman tangan. Ia sangat bahagia akhirnya ketakutan terkikis oleh kenyamanan. Aziz terus bersandar lalu mendongak ketika Khumaira berhenti mengusap wajahnya.
Khumaira tersenyum melihat Aziz tampak lucu seperti kucing minta pungut. Dia dengan lembut mengusap pipi Suaminya agar si ganteng tenang. Bahkan tidak jarang ia kecup pelipis Suaminya karena sangat bersyukur. Masa indah Khumaira labuhkan akan keadaan Aziz begitu manis.
**//**
Aziz di rawat untuk memetikan kondisi tubuh. Dia terdiam sepi ketika Khumaira sudah ganti pakaian. Mata tajam terus menyorot minta kejelasan. Demi apa hari ini jangan harap Istrinya lolos akan penjelasan. Aziz bukan sampai jantungan jika ingat tadi Khumiara bersimbah darah.
Khumaira tersenyum melihat tatapan Aziz minta kejelasan. Dia naik ke brankar untuk menyamankan diri. Setelah itu merengkuh tubuh kekar Suaminya penuh sayang. Khumiara sangat tahu Aziz sangat butuh penjelasan darinya.
... Mas tolong jangan marah soal ini. Adek melakukan skenario ini untuk melindungi, Mas. Maaf membuat Mas tersiksa akan ke pura-puraan Adek terluka. Jangan marah pada Mas Romli karena dia yang membantu menyelamatkan kita. Sekarang Adek bersyukur masalah selesai, Alhamdulillah."
Khumaira tersenyum usai menceritakan strategi besar Romli. Dia sangat bahagia betkat sahabat Suaminya Wisnu tertangkap. Sebuah taktik berlian Romli cetuskan demi melindungi dia dan Suaminya. Kini Khumiara sangat bahagia.madalh selesai walau Aziz harus terluka akibat perkelahian itu.
Aziz tercengang mendengar penjelasan khumaira. Dia diam tanpa mau berkomentar apa-apa. Rasa sakit menghantam jiwa karena merasa di bohongi. Memang bersyukur strategi itu berjalan lancar. Hanya saja Aziz tersiksa akan semua taktik itu.
Tahukah kalian Aziz kehilangan kehidupan saat meliahat Khumaira sekarat. Darah bercucuran membuat dia tidak kuasa kehilangan semua harapan. Saat Istrinya tidak bergerak di merasa begitu hancur tanpa sisa. Kini semua percuma membuat Aziz merasa di bohongi oleh skenario penjebakkan itu.
Hal paling menyakitkan ketika tahu itu semua skenario yaitu saat Khumaira menyatakan cinta. Jadi itu semua bohong, palsu dan tidak ada artinya. Aziz tidak kuasa menahan sakit hati mengingat ungkapan cinta Istrinya palsu. Sesak sampai Aziz tidak kuasa menahan air mata dalam hati.
Khumaira menyengit melihat respons Aziz. Apa dia salah mengatakan kebenaran itu? Apa Suaminya masih merasa terpuruk akan semua itu? Tolong apa Khumiara melakukan kesalahan sampai Aziz begitu dingin.
"Mas bahagia, syukurlah itu skenario. Jika benar terjadi mungkin Mas akan mati. Mas ngantuk, selamat istirahat," sahut Aziz bernada dingin.
Aziz bukanya tidak senang mengetahui Khumaira baik-baik saja. Dia hanya terluka melihat skenario mereka apa lagi pernyataan cinta. Semua itu sukses menghantam hatinya yang rapuh. Aziz sangat kecewa pada semua ini terutama cinta Khumaira yang palsu.
Khumaira membisu mendengar respons Aziz. Dia langsung memutar ingatan apa yang membuat Suaminya marah. Ketemu ... ia menemukan apa yang membuat sang Suami membisu. Sontak saja Khumaira sentuh bahu Aziz yang memunggunginya.
"Mas tolong jangan marah soal strategi ini. Tolong ini semua Adek lakukan demi, Mas. Mas tolong maafkan Adek yang tega membuat Mas sangat panik dan hancur. Tolong Mas maafkan, Adek"
Khumaira menunduk sedih ketika Aziz tidak merespons perkatanya. Dia sangat sedih menerima kemarahan Suaminya. Semoga saja Suaminya mampu memaafkan kesalahannya. Khumaira takut jika Aziz murka padanya sampai diam begini
"Mas, dengarkan Adek. Mas bilang akan melindungi Adek sepenuh hati jika ada yang menyakiti. Maka Adek juga akan melakukan hal sama yaitu melindungi Mas sepenuh hati. Adek rela mengorbankan nyawa asal Mas selamat. Adek takut kehilangan, Mas. Jika Mas pagi maka Adek akan hancur tanpa sisa. Adek melakukan itu demi Mas hanya karena Mas Adek nekat melakukan itu. Mas tolong jangan marah karena semua itu aku lakukan agar Mas aman."
Khumaira menjabarkan semua yang ada agar Aziz tidak sakit hati. Tetapi, dia belum mengatakan kalimat sakral itu. Semoga saja Suaminya mau berbalik untuk merengkuh tubuhnya. Namun, sampai sekarang Aziz bungkam tanpa melihat Khumiara yang malang.
Aziz terdiam seribu bahasa menerima perkataan Khumaira. Dia memilih diam tanpa mau menjawab perkataan Istrinya. Rasa kecewa masih melingkupi hati. Biarkan begini Aziz tidak bisa pura-pura baik-baik setelah semua ini. Sakit kecewa jelas terjadi apa lagi Khumiara sampai begitu.
Khumaira menunduk sedih menerima penolakan Aziz. Nyeri sekali sampai ia begitu sakit menerima kemarahan Suaminya. Air mata berlinang deras karena tidak sanggup Suaminya mendiamkan dirinya. Khumaira pada akhirnya tergugu akibat Aziz tidak peduli padanya.
Aziz akhirnya berbalik menghadap Khumaira akibat tangisan itu. Dia tidak tega mendengar tangis sang Istri. Dia seka air mata Istrinya dengan lembut. Walau emoai masih ada tetapi Aziz harus menjalankan peran sebagai Suami untuk Khumaira yang butuh dekapan.
"Mas," panggil Khumaira.
"Lupakan semua itu, Mas ngantuk."
Aziz hendak merebahkan diri namun terhenti ketika Khumaira langsung merengkuh erat. Dia tidak membalas atau pun menolak pelukan sang Istri. Ia hanya diam membiarkan tubuhnya terengkuh erat. Aziz baurkan saja Khumiara tetap sama walau tangganya tetap diam tanpa membalas.
Khumaira mendekap Aziz erat seraya menangis tersedu. Ini kali pertama dalam hidup merasakan rasa pedih didiamkan. Dia sangat sedih ketika Suaminya bungkam tanpa kata. Padahal selama pernikahan Suaminya tidak pernah sekalipun mendiamkan dirinya. Khumaira jelas terluka akan sikap Aziz yang sangat dingin akibat semua kesalahan.
"Bagaimana jika Mas yang terluka? Adek tidak akan bisa hidup jika Mas terluka. Adek tidak akan bisa bertahan jika Mas kenapa-napa. Mas, sungguh Adek sangat terpuruk melihat Mas terluka. Adek tidak sanggup melihat Mas tersakiti."
"Maaf Mas terlalu kekanakan, sudah jangan menangis karena Mas benci Adek menangis. Mas baik-baik saja dan terima kasih sudah khawatir pada, Mas."
Pada akhirnya Aziz mengusap punggung Khumaira agar tenang. Dia tidak mungkin marah terlalu lama sampai membiarkan Istrinya menangis tersedu. Hatinya sakit melihat wanita yang sangat dicintai tersedu akibat ulahnya. Aziz tidak akan pernah mau melihat Khumiara terpuruk akibatnya.
Khumaira mendongak menatap mata Aziz penuh penyesalan. Dia tangkup pipi tirus Suaminya kemudian mengecup rahang tegas sang Suami. Mata Suaminya sudah meneduh kembali itu artinya sudah baikan. Khumiara akan katakan semua agar Aziz tidak salah paham padanya.
"Adek serius mengatakan Adek sangat mencintai, Mas. Ungkapan cinta itu tulus dari hati, Adek. Sungguh tidak ada skenario dalam cinta. Dengar, tolong maafkan Adek baru mengatakan ini. Aku sangat mencintai Mas karena Allah. Adek sangat cinta sama Mas. Ini nyata bukan skenario mengelabui Mas dan dia. Lihat mata Adek maka Mas akan melihat seberapa besar cinta Adek untuk, Mas. Tolong maafkan Adek yang tega menghancurkan perasaan Mas. Maaf membuat Mas kecewa akan kejadian tadi. Tolong jangan marah karena Adek sangat takut Mas begini. Adek akan selalu berada di sisi Mas karena kita satu. Hanya ada kita bersama anak-anak. Adek mencintai Mas karena Allah!"
Tangis Khumaira setelah mengutarakan isi hatinya. Dia mencengkeram lengan kekar Aziz lalu menyembunyikan wajah yang penuh derai air mata dalam dada bidang Suaminya. Akhirnya perasaan itu terucap juga setelah sekian lama terbungkam. Khumaira baru bisa katakan cintanya setelah semua ini terjadi. Bahkan sampai Aziz sampai marah padanya.
Aziz tercengang mendengar penuturan hati Khumaira. Tidak lama terbitlah senyum haru merekah ruah mendengar ungkapan cinta sang Istri. Dia merasa tersentuh mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Istrinya. Tidak kuasa Aziz tersenyum seraya menangis karena tidak kuat menampung kebahagiaan. Demi apa ini ungkapan cinta Khumiara mampu meredam emosi.
Khumaira tercengang ketika Aziz merengkuh erat tubuhnya. Dia balas merengkuh erat sang Suami. Semua terasa manis saat Suaminya menciumi wajahnya. Khumiara sangat senang Aziz telah kukuh akan ungkapan cintanya.
Tidak ada percakapan setelah ungkapan cinta Khumaira. Mereka saling bungkam dengan posisi saling memeluk erat. Aziz terus merapalkan doa pada Allah telah memberikan cinta padanya. Kesabaran menanti cinta akhirnya terbayar manis. Sementara Khumiara sangat bahagia akhirnya cinta itu keluar juga. Kini ia bisa merengkuh Aziz erat tanpa ragu apa pun itu.
"Mas sangat mencintai, Adek. Maaf telah kekanakan menyikapi situasi ini. Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Terima kasih banyak ya, Dek. Mas maafkan asal cium, Mas!"
"Adek juga sangat mencintai Mas. Jangan meminta maaf itu wajar Mas marah. Tidak perlu risau karena Adek sangat bahagia. Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah."
Khumaira mencium bibir tebal Aziz setelah membalas perkataan Suaminya. Dia mengalungkan tangan di leher kokoh Suaminya akan permainan. Ciuman yang awalnya biasa kini semakin panas. Khumiara bahkan melenguh dikala ciuman semakin intim bahkan Aziz semakin intim.
Aziz meraup bibir Khumaira penuh suka cita setalah ciuman selesai. Dia merebahkan Istrinya di brankar lalu ciuman kembali terjadi. Lalu saat mau melakukan sesuatu yang lebih intim, ada seseorang yang mengganggu. Sontak Aziz melihat siapa yang berani mengganggu kegiatan intimnya?
"Maaf, salah masuk, Nak. Jika mau melakukan hubungan intim di rumah. Permisi!" celetuk wanita tua asal masuk kamar tanpa rasa bersalah. Bahkan muka si Nenek tampak biasa tanpa dosa.
Khumaira dan Aziz bersemu merah karena baru sadar di mana berada. Syukur Alhamdulillah tidak melewati batas. Syukur ada Nenek pengganggu jika tidak jadi tontonan gratis, bahaya. Tanpa ba-bi-bu lagi mereka langsung tidur tanpa ada kegiatan itu. Nanti di rumah mari lakukan sampai puas. Aziz dan Khumiara akan lakukan itu tidak ada penganggu ulum.
*.*.*.///.*.*.*
Aku ngantuk pakek banget, jika tulisan ngawur, banyak typo's bertebaran dan aneh harap maklum.
I love you Guy's!
Rose_Crystal_030199