Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI2 - Permintaan Bebas Untuk Penolong!



Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini.


***///***


Angin sore berembus menari di permukaan wajah Aziz dan Khumaira. Angin nakal terus memainkan irama sejuk mengiringi kebersamaan sepasang Suami dan Istri. Tidak ada yang mau beranjak dari balkon karena keduanya sudah sangat nyaman di sini. Aziz duduk seraya bersandar dengan tangan melingkar indah pada pinggang Istrinya.  Semantan Khumaira bersandar nyaman di dada bidang Suaminya.


Aziz  sesekali mencium  kening Khumaira seraya mengukir senyum manis. Tidak ada pergerakan hanya mata menatap lurua mengingat Romli. Sungguh ia belum percaya sang sahabat tega menusuk dari belakang. Tega sekali sahabatnya berbuat seperti itu padanya.  Namun, Aziz sudah memaafkan kesalahan Romli sebagai rasa persahabatan dan persaudaraan.


Khumaira mendongak menatap Aziz tampak diam seribu bahasa. Hatinya berdenyut nyeri melihat Suaminya murung tanpa warna. Dia harus menyelesaikan konflik antara dua sahabat. Kini Khumaira harus bisa menyadarkan Aziz dari rasa sakit itu.


"Mas, mau mendengar cerita?"


Khumaira ingin atensi Aziz kembali padanya. Maksudnya atensi Suaminya ada di awan yang sangat jauh. Maka dari itu dia harus mengembalikan  rasa duka menjadi kebahagiaan. Sekarang khumaria harus menjadi pelita untuk Aziz disaat sang Suami butuh penerangan.


Aziz menatap Khumaira seolah mengatakan, "cerita apa?" dan lihat tidak ada suara yang menyertainya. Dia masih bungkam tanpa mau membuka suara. Aziz akan mendengar apa oun yang akan dikatakan Khumaira untuknya.


"Saat Wisnu menelepon memberi tahu bahwa Mas di culik, rasanya Adek tidak sanggup bertahan. Adek kalut memikirkan bagaimana kondisi, Mas. Hingga Mas Romli datang ke rumah bersama dua Polisi. Saat itu aku bingung mau berkomentar bagaimana akan kedatangan mereka. Semua terasa menyakitkan saat mendengar kebenaran tentang Mas Romli  ...,


... dia bilang pada Adek telah melakukan konspirasi menghancurkan Mas. Dia di pengaruhi Wisnu dengan iming-iming uang dan jabatan. Dia terprovokasi menyebabkan salah jalan. Mas Romli memfitnah Mas melakukan korupsi dan memakan gaji karyawan. Singkat cerita, Mas Romli tobat saat Wisnu hendak melakukan sabotase kecelakaan pada Mas. Dia sangat ketakutan melihat Mas terluka parah gara-gara, Wisnu  ...,


... Mas, tahu tidak bahwa dia malakukan ini karena pengaruh. Semua manusia punya kesalahan fatal, termasuk Adek. Maka dari itu Adek mohon bebaskan Mas Roml dari penjara. Memang dia sangat salah, tetapi apa salahnya memaafkan dengan lapang dada? Alasan kenapa dia nungkam itu karena sesuatu melanda. Mas Romli tidak berani melapor pada polisi karena takut. Tetapi, saat tahu Mas di culik hal mengejutkan terjadi. Dia menyerahkan diri seraya memohon pada polisi untuk menolong Mas dari, Wisnu. Dia dengan berani mengakui kesalahan tanpa kecuali. Bahkan dia rela di penjara seumur hidup asal menebus dosa telah mengkhianati, Mas  ...,


... sebuah strategi penyelamatan dia lakukan untuk menyelamatkan, Mas. Pertama dia meminta Adek membawa CCTV untuk merekam kejahatan Wisnu. Kedua dia meminta para polisi memberikan rompi anti peluru agar di pakai, Adek. Darah kemarin itu nyata soalnya polisi juga bekerja sama dengan pihak Rumah Sakit. Ketiga, Adek di suruh melakukan skenario mengelabui Mas dan Wisnu agar rencana berjalan lancar, dan Alhamdulillah semua lancar ...,


... jadi, apa Mas mau menolong Mas Romli? Dia sahabat yang baik walau pernah di jalan kelabu. Mas, tolong pikirkan lagi seberapa besar kekuatan Mas Romli mengakui kejahatan dan membantu menolong Mas dari Wisnu. Berkat dia kita bisa bersama lagi. Besok kita akan ke kantor polisi untuk membebaskan dia. Jangan jadi pribadi pembeci atau pun pendendam. Adek tahunya Mas adalah sosok humoris, baik hati, penyayang, pemaaf, cinta damai dan penuh kebaikan lainnya. Maukan Mas membebaskan dia dan bersahabat kembali? Adek mohon jadi Masku yang ceria penuh akan kebaikan."


Khumaira tersenyum teduh ketika selesai menceritakan semua. Dia tidak mau Aziz salah paham terhadap Romli. Hanya satu keinginan Khumaira, semoga Aziz selalu bahagia dalam suka maupun duka. Dia sangat senang masalah selesai itu artinya semua berakhir bahagia.


Aziz terdiam seribu bahasa mendengar penjelasan khumaira. Dia menunduk dalam mencerna perkataan Istrinya yang bijak. Tidak salah Allah mentakdirkan Khumaira untuknya. Sungguh Aziz sangat terharu mendengar penuturan Istrinya. Lagian ia sudah memaafkan Romli setelah merengkuh sahabatnya tadi. Dari awal dirinya adalah seorang pemaaf dan lapang dada, maka dari itu memaafkan lebih penting dari pada membenci.


"Mas akan membebaskan Romli. Terima kasih atas perkataan Adek yang bijak. Mas tambah cinta sama Adek," sahut Aziz.


Khumaira tersenyum menanggapi perkataan Aziz. Dia memilih merengkuh erat Suaminya sembari menyandarkan kepala di dada bidang sang Suami. Perlahan tangan mungil Khumaira menggenggam tangan besar Aziz. Tanpa ba-bi-bu ia kecup lama pergelangan tangan Suaminya.


"Adek sangat beruntung mendapatkan, Mas," lirih Khumaira.


"Mas juga sangat buntung mendapatkan, Adek."


"Mas, ayo pulang pasti anak-anak dan keluarga kita khawatir tentang kita."


"Ayo, lagian nyeri Mas sudah baikkan. Mas sayang Adek."


"Alhamdulillah kalau sudah mendingan. Adek juga sayang, Mas."


Aziz mengecup kening Khumaira mesra ketika waktu telah berlalu. Setelah itu mengulurkan tangan agar Istrinya menggenggam tangannya. Dia beranjak meninggalkan balkon untuk siap-siap pulang. Lagian Aziz sudah sangat rindu pada dua putra tampannya.


***//***


Sampai rumah Aziz dan Syafa disambut meriah oleh seruan Mumtaaz dan Ridwan. Tentu saja keduanya sangat senang dua anaknya berlari ke arah mereka. Dengan sayang mereka merentangkan tangan siap menyambut dua jagoan kecil. Senyum teduh mengembang di bibir Aziz dan Syafa ketika Ridwan dan Mumtaaz mendekap erat.


Mumtaaz dan Ridwan saling mendusal dalam dekapan Ayah Umi. Keduanya langsung minta gendong, kebetulan diantara mereka tidak mungkin minta gendong Ayah. Alhasil  Ridwan gendong Ayah lalu Mumtaaz gendong Khumiara.


Aziz dan Syafa masuk di sambut keluarga bertanya banyak hal. Tentu keduanya tersenyum teduh mengatakan semua telah aman. Keduanya memberi salam pada Sholikhin dan Maryam lalu salaman bersama Laila. Demi merayakan kepulangan Aziz dengan selamat Syafa mengadakan syukuran kecil-kecilan.


Tentu saja Mumtaaz riweh tidak mau lepas dari Ayahnya. Bahkan bibir mungilnya terus berceloteh lucu dengan kata-kata aneh. Maklum baru satu tahun lebih tiga bulan. Anak manis ini terus mengoceh mengajak bicara Ayahnya, tetapi si Ayah malah menciumi pipinya. Mumtaaz sebal pipi tembemnya jadi sasaran empuk untuk gigitan sang Ayah.


Ridwan tersenyum melihat Ayah dan Uminya pulang dalam keadaan baik-baik saja. Sedari tadi ia begitu khawatir akan keadaan keadaan mereka. Pada akhirnya ia berhambur mendekap Ayahnya. Bahkan Ridwan secara manja minta pangkuan, karena itu Mumtaaz menabok bahunya.


Dan terjadilah aksi pukul memukul antara Ridwan dan Mumtaaz sampai membuat Aziz gemas. Mungkin saja lelah akhirnya kedua anaknya tidur juga dalam pangkuannya.  Dia benarkan agar anak-anak tidur nyaman dalam dekapan. Aziz mana bisa gendong karena tangannya terasa nyeri belum bisa mengangkat berat. Apa lagi insiden tadi membuatnya harus merasakan ngilu lagi akubat kecelakaan waktu itu.


"Anak-anak tidur, Mas?"


"Hn, lihat mereka gemesin sekali tidak mau lepas."


"Kalau begitu biar Adek bantu bawa Tole Ridwan. Mas dan anak-anak istirahat kami masak dulu."


"Tidak apa Mas tidur?"


"Tidak apa, istirahat ya Mas."


Aziz.menuruti perkataan Khumiara dengan tidur dibakar bersama dua anaknya. Dia Gending Ridwan sementara Mumtaaz digendong Istrinya. Sampai kamar ia langsung tidur nyaman dengan anak-anak tidur berbantal lengannya yang kekar. Semakin Khumiara keluar secara manja Aziz mintan ciuman pada Khumiara.


Khumaira tersenyum teduh dikala Aziz sangat manja. Dia kecup bibir dan kening suaminya sebelum keluar membantu keluarganya masak di dapur. Untuk Bapak serta Bahri sedang mengobrol setelah menghabiskan banyak bicara bersama Aziz. Kini Khumiara berlalu setelah memberikan ciuman pada tida prianya tersayang.


***",💖,"***


Geoffrey Company!


Aziz untuk pertama kali setelah keluar dari kantor akhirnya menginjakan kaki kembali ke kantor yang membesarkan namanya. Lihat para karyawan terkejut melihat dia bahkan mereka ada yang melongo. Lucu sekali sampai Aziz geli dengan tingkah mereka.


Mereka terperangah melihat Aziz datang kembali setelah tiga bulan lebih tidak ada. Rindu sekali tanpa CEO mereka yang sangat berpengaruh. Saat bos mereka keluar perusahaan ini sedikit mengalami penurunan drastis. Wajar saja ikon perusahaan adakah Aziz walau tetap kokoh. Namun, jika ada Aziz maka perusahaan ini melambung tinggi menghantarkan pada kejayaannya.


"Sari, apa Pak Herlambang ada di ruangan?" tanya Aziz pada resepsionis.


Sari terlonjak menerima pertanyaan Aziz. Pria tampan ini memberi pertanyaan harus segera di jawab. Kalau di lihat-lihat Aziz semakin tampan setelah sekian lama tidak terlihat. Sari menggeleng saat sadar bos mereka sudah beristri. Lalu bagaimana tahan lihat pria panas datang menghampiri?


"Ada Pak, beliau sedang ada meeting antar komisaris," sahut Sari.


"Kapan selesai?"


"Mungkin sebentar lagi, Bapak tunggu saja di kursi tunggu."


"Terima kasih banyak."


Aziz duduk di kursi tunggu seraya menatap para pekerja. Sudah 3 bulan lebih dia tidak menjamah kantor dan rasanya sangat rindu. Seulas senyum keluar karena banyak karyawan menyapanya. Aziz jadi rindu bisa bergabung lagi di sini karena sudah lima tahun lebih dirinya bekerja.


Aziz tersenyum mendengar perkataan mereka. Sungguh ia sangat terharu karena mereka tidak mencela dirinya. Sungguh ia juga rindu bekerja di sini serta bertegur sapa. Semua masih sama ramah dan segan padanya. Padahal Aziz sekarang hanya orang biasa tanpa lebel CEO.


"Pak Aziz, beliau sudah selesai meeting Anda bisa langsung menemui beliau," beri tahu Sari.


"Terima kasih banyak, Sari. Mari semua bekerja yang rajin."


"Siap, Pak!"


Para karyawan menatap bahu lebar Aziz terlihat tenggelam. Mereka sangat bahagia Bos yang menjadi pemimpin dulu telah kembali. Semoga saja Aziz lekas bekerja agar kantor ini berwarna. Walau dingin bos mereka termasuk golongan orang ramah.


Aziz melangkah menuju lift untuk menuju ruangan Herlambang. Semoga saja setelah ini Romli bisa bekerja kembali sebagai rekannya di perusahaan ini. Semua harapan ia labuhkan agar sahabatnya bebas. Aziz ingin mengembalikan nama baik Romli agar bisa bekerja lagi.


Sampai di ruangan Herlambang, salam terucap dengan ramah. Aziz tersenyum ramah pada atasanya. Dia memberikan salaman singkat pada Herlambang. Ia tidak pernah menyangka telah kembali serta bisa bertemu kembali pada bosnya.


"Lama tidak berjumpa, Pak Aziz. Bagaimana keadaan Anda? Apa luka Anda sudah membaik?"


Herlambang tersenyum haru akhirnya Aziz kembali. Dia akan menarik pria itu ke perusahaannya lagi. Dia sangat bersyukur pasalnya Aziz terbukti tidak bersalah. Maka janjinya akan segera terpenuhi. Herlambang akan mengembalikan segalanya pada Aziz tanpa kecuali.


"Saya baik-baik saja, Alhamdulillah. Lalu bagaimana kabar Anda?"


"Saya juga baik-baik saja, Alhamdulillah."


Aziz menghembus napas berat setelah basa-basi singkat. Dia menatap lurus mata Herlambang. Mungkin Bosnya sudah tahu ia tidak bersalah. Mata tajam bak elang itu menutup beberapa saat. Tidak lama Aziz membuka mata lalu menatap Herlambang penuh intimidasi.


"Tolong ikut saya ke kantor polisi untuk membebaskan Romli. Saya sudah ikhlas akan fitnah lalu. Namun, saya berharap Romli bebas dan di berikan kesempatan kedua. Dia sangat baik pasalnya kami berteman sedari dulu. Tolong beri kesempatan Romli untuk kembai bekerja."


Herlambang sudah tahu sedari awal Aziz datang menemuinya. Pria ini benar-benar berhati lembut penuh kasih sayang dan pemaaf. Lapang sekali hati Aziz sampai Herlambang sangatlah bangga pada sosoknya.


"Kemarin dia memberi tahu kebenaran tentang penggelappan uang perusahaan. Saya salut padanya telah berani mengakui kesalahan. Kslian sahabat yang saling membantu walau pernah terjerumus akan dosa. Saya akan membebaskan Pak Romli dengan syarat!"


Herlambang menatap reaksi Aziz seperti harapan. Dia tersenyum melihat pria ini tersenyum mendengar perkataannya. Pria ini sangat antik harus di pertahankan. Semoga saja Aziz mau menyetujui persyaratan Herlambang nantinya.


Aziz tersenyum mendengar jawaban Herlambang terkesan tegas. Sosok yang di kagumi begitu murah hati pada siapa pun. Bosnya sangat baik terhadap semuanya. Aziz bangga bisa memiliki bos besar macam Herlambang yang memiliki sikap bijaksana nan dermawan.


"Apa itu syaratnya? Jika berat saya akan pikirkan, jika ringan Insya Allah saya terima."


"Cukup berat yaitu bekerja kembali di kantor ini dan jadilah CEO kami lagi."


Aziz tersenyum haru mendengar jawaban Herlambang. Ya Allah sungguh ia sangat terharu akan sikap Bosnya. Semua terasa indah ketika akhir konflik terasa begitu manis. Semoga saja Aziz mampu menjadi pemimpin yang baik serta lebih baik lagi dalam menyikapi masalah.


"Insya Allah, saya terima. Memang tidak apa saya langsung jadi CEO?"


Herlambang tersenyum tulus akhirnya Aziz kembali. Demi apa pimpinan Aziz saat jadi CEO semakin mengharumkan nama perusahaan. Bahkan sering kali Aziz memgambil tender besar dengan kemampuan multitalenta. Herlambang jadi rindu dimana banyak perusahaan besar mengagumi pria ini. Demi apa dirinya bangga memiliki Aziz jadi CEO di kantornya.


"Tentu saja tidak apa-apa, pasti mereka sangat senang. Ini saya kembalikan uang Anda, ini gaji Anda selama 3 bulan serta kompensasi, lalu apartemen yang di beli dengan nama Anda akan saya serahkan pada, Anda. Apa Anda bisa mulai bekerja 2 pekan lagi?"


Aziz melongo mendengar perkataan Herlambang. Gaji? Bahkan dia sudah keluar Kenapa di gaji? Lalu bagaimana bisa Bosnya menyerahkan uangnya dan apartemen itu? Aziz tidak percaya kenapa Herlambang begitu gila memberikan itu semua.


Herlambang tersenyum melihat Aziz melongo begitu. Jarang-jarang melihat pria ini tampak lucu dimatanya. Apa sangat terkejut sampai tercengang begitu? Herlambang bahkan mampu menyerahkan gelar komisaris jika Aziz mau minta.


"Bapak serius? Ini terlalu banyak, saya tidak bisa terima. Insya Allah, saya usahakan bekerja 2 pekan lagi. Untuk apartemen, uang dan gaji saya tidak bisa terima," tolak Aziz halus.


Herlambang tahu itu akan menjadi jawaban Aziz. Tidak salah banyak kolega bisnis mrnyukai sikap baik hatinya. Dia sangat senang sampai tidak mempedulikan apa pun. Herlambang bahkan tidak pernah menemui orang memiliki sikap seperti Aziz.


"Menolak artinya Romli tidak bebas!" gertak Herlambang membuat Aziz bernapas berat.


"Saya tidak mau banyak uang, Pak. Saya apakan uang sebanyak itu? Ayolah Pak Herlambang yang kurang tampan karena menolak permintaan mahluk tampan, setujui permintaan saya."


Aziz kumat lagi jadi mahluk astarl setelah waras beberapa menit. Padahal tadi terlihat sangat gagah sekarang jadi alien kembali. Mana bisa Aziz sehat lama?


Herlambang ingin melempar map di wajah Aziz.  Kenapa orang ini kembali humoris di kala serius? Semoga saja Istri Aziz kuat menghadapi alien macam pria ini. Sunguh Herlambang kadang heran pada Aziz yang terkesan narsis overdose.


Ditatap sebal begitu Aziz hanya menatap polos. Demi apa uang sebanyak itu untuk apa? Mau beli jet pribadi? Atau mau beli pulau pribadi?  Demi apa uangnya sudah banyak tidak butuh lagi uang sebanyak itu. Aziz kan anak baik tidak mau megang uang banyak.


"Anda bisa memberangkatkan haji keluarga, daftar haji, membangun masjid, panti asuhan dan bersedekah. Pokoknya terima atau tidak sama sekali!"


"Ngeyel banget sih, Pak. Uang itu terlalu banyak untuk saya pegang. Lagian saya akan bekerja kembali untuk mengumpulkan pundi-pundi uang dengan usaha keras. Atau begini saja ... Anda berikan uangku. Apartemen dan gaji itu simpan saja. Saya sudah banyak uang dengan uang itu. Ide bagus itu Pak, tetapi uang saya cukup untuk membeli semuanya. Pokoknya hanya uang yang kembali lainya tidak mau, titik!"


Aziz berbicara begitu lugas seprti sedang mengajak ngomong teman. Tidak ada rasa segan karena ia sudah mengagap Herlambang layaknya keluarga. Terlebih lagi dia sudah menganggap bosnya sebagai Ayahnya sendiri. Aziz sangat tunduk selain pada Abah dan Ummi pada Herlambang.


Herlambang sudah biasa mendapat sikap Aziz yang aneh. Sudah tahu seluk beluk pekerja andalannya. Kadang heran sendiri kenapa di balik sikap baik hati Aziz tersimpan sikap alien? Dulu Ibunya mengidam apa? Herlambang kadang mau melamar anak itu keluar dari ruangannya jika Aziz kumat gila.


"Baiklah, uang Anda saya kembalikan. Jangan menyesal pasalnya gaji dan apartemen saya tarik. Saya baik loh memberikan semua ini."


"Tidak tertarik, Pak. Saya mau Anda ikut saya untuk membebaskan Romli!"


"Baikalh, semua kembali di saku saya. Baik, tunggu saya benarkan jas dulu."


"Pak tidak usah merias diri karena Anda sudah tampan. Tetapi, tampanan saya kemana-mana. Ayo kita berangkat agar cepat terselesaikan."


Herlambang mengiyakan saja dari pada tambah panjang kegilaan anaknini. Dia berdoa semoga Aziz berubah jadi alien eh bukan berubah jadi orang tenang. Tidak narsis dengan tingkat percaya diri selangit. Herlambang jadi ketar-ketir nanti polisi jadi bahan kegilaan Aziz saat menolak membebaskan Romli.


Aziz tersenyum lebar akhirnya temannya bebas. Dengan begini ia sudah membalas kebaikan sahabatnya. Mulai sekarang dia harus melakukan banyak hal. Aziz ingin menuntut Romli agar tetap dijalan lurus tidak belok lagi.


"Kini aku punya sebuah kebahagiaan berlimpah dari-Mu ya Allah. Terimakasih banyak ya Allah telah memberikan hamba kesempatan menjadi pribadi lebih baik lagi. Saya sangat bahagia bisa bertahan sejauh ini. Segala Kebahagiaan selalu tercurahkan pada-Mu. Hamba sangat bersyukur akan karunia-Mu ya Allah. Hamba sangat bersyukur atas semua ini, semoga kebahagiaan saya selalu berlabuh. Aamiin." Aziz membatin seraya tersenyum tipis.


*****


Maaf ya jika banyak sekali kesalahan dan typo bertebaran. Maklum Rose nulis langsung update tanpa edit. Nangis nih hihihi.


Sampai berjumpa lagi di chapter selanjutnya!