Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI 2 - Special Chapter Azzam dan Mahira!



Spesial chapter Mas Azzam dan Mbak Mahira!


Harus terima ya Mas Azzam bersama Mbak cantik ini!


Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!


***/•*


Azzam sedang ada di Bandar Udara Internasional Changi Singapura. Tujuannya ada di Pakistan mengunjungi anak-anak yatim dan seseorang yang telah menolong dikala sakit parah. Di depannya ada Aziz yang sedang mengulum senyum aneh. Adiknya ini sungguh membuat Azzam ingin menabok Kepalnya agar lekas ingat.


Tiga hari bersama Aziz di Singapura membuat Azzam emosi. Mungkin saja dia akan menjentuskan kepala Adiknya biar sadar diri ada Istri serta anak-anak yang membutuhkan kedatangannya. Syukur Azzam punya kendali bagus jika tidak sudah dia jewer telinga Aziz sampai Indonesia. Atau lebih ekstrem menabok kepala Adiknya pakai spatula supaya sadar.


Setiap ingat masa kecil Azzam selalu tersenyum ketika Aziz malakuka kesalahan. Saat Adiknya salah maka ia akan menjewer atau mencubit pipi dan hidung mancung sang Adik. Itu sewaktu kecil, tetapi sekarang beda. Jika Aziz salah maka pukulan yang pantas di dapatkan. Maksud Azzam pukulan sedang agr Adiknya jera.


Melihat Azzam hanya diam membuat Aziz bingung. Selama tiga hari Masnya tidak memperbolehkan dekat atau keluar. Dirinya jadi tahanan Masnya bahkan dengan tega suruh diam saja di rumah. Syukur dirinya sayang sehingga membuat ia tahan akan ceramah panjang lebar sang Mas. Aziz sih santai saat Azzam mendeklarasikan ini itu padanya supaya hati-hati pada Jasmin.


"Ingat jaga jarak dengan si Jasmin. Tidak usah percaya apa yang di ucapkan olehnya. Yang harus kamu ingat cepat pulang ke Indonesia untuk menemui anak-anak terutama dia. Setelah pulang lekas telepon Tole Ridwan dan Dedek Mumtaaz, mengerti!"


Aziz memutar bola matanya malas mendengar ceramah Azzam berulang kali mengenai ha yang sama. Dia paling sebal jika sudah mendapat ceramah panjang lebar kakaknya. Dari jaman orok sampai Kuliah tembus planet mars Masnya selalu memberikan ceramah padanya. Kapan coba Azzam tidak ceramah sepanjang ruas Cikarang? Aziz jadi sebel kan pingen tidur manja dari pada sehari penuh mendapat ocehan.


Aziz jadi anak baik selalu mendengar namun di langgar. Masnya terlalu cerewet apa lagi waktu kuliah dulu. Jika begini ingin rasanya ia sumpal mulut Masnya pakek roti biar diam. Syukur saja Aziz ini anak baik tidak membuat Azzam diam akibat tersumpal mulutnya.


"Baik Tuan, hamba akan menelepon anak-anak hamba yang tampan seperti hamba mahluk tampan overdose. Sekarang pulang nanti saya susul pakai karpet ajaib milik Aladin."


Azzam tetawa renyah mendengar jawaban Aziz. Adiknya selera humornya masih sama. Kadang jengkel sendiri dengan mahluk astarl ini. Di nasihati cuma bilang iya, tetapi di langgar. Awas saja kalau tidak menelepon Khumaira habis itu burung. Gertakan Azzam tidak pernah main-main karena orang sepertinya tipe serius.


Ingat juga Azzam ini heran kenapa selera humor Aziz juga tidak hilang? Kalau sudah begini ia jadi gemas akan lelucon Adiknya. Atas nama Allah dirinya sangat menyayangi Adik nakalnya ini. Bahkan sedari kecil bukan sampai kuliah dialah yang memberikan masukan serta dukungan. Azzam tentu saja bangga memiliki Adik seperti Aziz yang multitalenta.


"Bahlul, andai kamu bukan Adikku sudah jadi gulai tarzan. Kamu mengusir Kakakmu secara tidak sopan!"


"Alhamdulillah, masih andai ngga bakal terjadi. Apa perlu pria tampan tidak terbantahkan ini menyiapkan Red carpet, yang Mulia? Kalau iya izinkan hamba menari Chaiya - Chaiya nehi - nehi, Uhuy!"


Azzam tetawa keras di Bandara tanpa peduli sekitar. Dengan sadis dia tabok pantat Aziz sekeras mungkin lalu menjewer telinga Adiknya. Berani sekali melawak di tempat yang salah. Kenapa bisa Azzam punya darah satu spesies langka macam Aziz?


Aziz meringis kesakitan mendapat siksaan Azzam. Dia malu sendiri di perlakukan seperti anak kecil. Dasar Kakaknya nakal awas saja burung lenyap tidak tanggung jawab. Aziz merengek lewat tatapan mata.agar Azzam melepas jeweran.


"Berhenti melawak atau burung peliharaanmu musnah! Sekarang Masmu mau pulang dan ingat telepon rumah serta, Dek Khumaira."


Aziz membungkuk sopan ala anak buah yang patuh. Dia mempersilakan Azzam untuk lewat layaknya Raja. Sudah lama tidak bercanda bersama Saudaranya. Sudah lama ia tidak kumat jadi makhluk astral di atas Mars. Aziz jadi rindu akan canda gurau bersama Azzam yang teduh.


Azzam ingin sekali mencincang Aziz segera akibat ulahnya. Demi toge di Pakistan ia ingin menaruh Adiknya di kandang Monyet. Bila perlu menggantung Adiknya di pohon cabe biar mampus. Sungguh Azzam tobat menerima kelakuan ajaib Aziz buat sakit perut.


"Yang Mulia, hamba persembahkan lagu yang sedang hits di kalangan Masyarakat Indonesia sebelum pulang ke tanah abang. Mau dengar?"


"Tidak ada gunanya mendengar perkataan gilamu, Le. Mas bisa gila jika dekat dengan kamu lebih lama."


Aziz meraih tangan Azzam dengan mata memelas. Dengan wajah ternistakan ia mengatakan pada semua pengunjung Bandara : Lihat dia Kakakku yang jahat. Dengan tega memintaku pergi sebelum selesai pamitan. Kakakku ini orang kuno kurang tampan. Lihat betapa tampan diriku, tetapi di jahati olehnya. Katakan padanya supaya jangan menyakitiku!


Barusan Aziz berbicara tadi menggunakan Bahasa Inggris (Look at him, my bad brother. By heart asking me to leave before finishing the goodbye word. My brother is an old-fashioned man who is less handsome. Look how handsome I am, but monitored by him. Tell him not to hurt me!)


Banar saja para pengunjung menatap sengit Azzam. Mereka tidak habis pikir ada Kakak yang tega melukai Adiknya sendiri. Apa pria itu tidak punya hati sampai tega membuat Aziz sedih. Bagus sekarang mereka menindas Azzam yang malang.


Azzam hanya bisa mengucap kata Istighfar banyak kali. Demi Allah ingin rasanya dia gantung Adiknya di pohon cabe. Kenapa bisa punya Adik gila macam Aziz? Tenang Azzam ini kurang 10 menit sebelum masuk dalam pesawat jadi bebas dari makhluk astral.


"Mas berangkat dulu, jaga diri baik-baik. Ingat hubungi Dek Maira demi anak-anak. Jika ada kesalahan selebihnya Mas minta maaf. Tolong jangan dekati Jasmin dan mendengar perkataan yang membuat kalian tambah renggang. Putri dan Istrimu membutuhkan kedatanganmu. Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," bisik Azzam sebelum berlalu meninggalkan Aziz sendiri.


"Eh? Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh."


Aziz menyengit bingung mendengar bisikan Azzam. Memang dari awal sangat tahu apa pembicaraan kakaknya. Namun, kata terakhir terasa ambigu di telinganya. Apa maksud Azzam berbisik begitu padanya? Jika begini Aziz jadi tertekan memikirkan apa perkataan Kakaknya.


Azzam menepuk kening saat sadar apa yang dibisikkan pada Aziz. Bisa saja Adiknya berpikir keras karena bisikan tadi. Ya Allah semoga saja Adiknya tidak terlalu berpikir berat atau kalau bisa izin pulang sekalian. Jujur saja Azzam dongkol saat pihak Douglas tidak mengizinkan Aziz pulang apa pun alasannya. Kalau sudah begini Aziz baru bisa pulang satu tahun setengah dari sekarang.


***••~~••***


Azzam sudah tiba di tempat tujuan yaitu Pakistan. Tujuan utama adalah berkunjung ke panti asuhan tempat dimana dirinya habiskan waktu. Dia tersenyum teduh saat anak-anak panti berhambur memeluk tubuhnya. Sungguh dirinya sangat bahagia bisa melihat anak-anak manis ini. Azzam menyalami anak-anak kecil seraya mengecup pipi mereka.


Dengan sayang Azzam mengeluarkan banyak bingkisan untuk anak-anak manis. Melihat senyum teduh serta pancaran suka membuatnya senang. Dia sangat bahagia ketika mereka mencium pipinya satu persatu. Rasanya teduh ketika anak-anak ini begitu hiperaktif menerima hadiah kecil.


Azzam bahkan dengan sayang melantunkan shalawat seperti dulu. Mereka begitu bahagia ketika dirinya melantunkan shalawat Nabi. Semua terasa teduh mendengar anak-anak ini berlomba menyahut shalawat Nabi. Senang sekali sampai Azzam tidak tega meninggalkan anak-anak ini lagi.


Setelah melepas rindu pada anak-anak Azzam memutuskan ke rumah Mahira. Dia membawa koper ingin memberika hadiah pada Zayn dan Zoya. Ia juga membawa hadiah untuk Mahira. Dengan senyum tipis Azzam menekan bel masuk.


"Assalamu'alaikum warahmatullaahi Wabarakatuh."


"Wa'alaikumussalam Warahmatullaahi Wabarakatuh."


Pintu terbuka menampilkan sosok wanita paruh baya. Dia langsung kaget lalu tersenyum atas kedatangan Azzam. Asisten rumah tangga itu tamu pemilik rumah mempersilakan masuk. Dia sangat terkejut ketika melihat seseorang yang sangat lama tidak berjumpa.


Azzam duduk di sofa sembari mengedarkan pandangan. Di mana Mahira dan anak-anak manis itu? Kenapa ia tidak melihat Zoya dan Zayn yang manis. Ia jadi rindu dua bocah kembar yang saling menyayangi. Azzam juga rindu pada kecerewetan Zoya ketika minta mainan baru.


"Nyonya dan anak-anak sedang menghadiri acara resepsi pernikahan Adik sepupu, Nyonya. Tuan Emran silakan di minum kopinya. Insya Allah Nyonya akan segera pulang," pungkas asisten rumah tangga saat tahu pikiran Azzam.


Azzam tersenyum mendengar perkataan Bibi Innayah. Sebelum menyeruput kopi ia lebih dulu mengucap Bismillah. Dengan sopan Azzam meneguk kopi hitam tanpa gula. Apa dia harus menunggu lama untuk bertemu Zoya dan Zayn? Kalau sudah begini Azzam putuskan menunggu agak lama.


Setangah jam kemudian orang yang ditunggu datang. Sura akan telah membuat lamunan Azzam buyar. Dia sangat senang ternyata tidak lama menunggu dua bocah manis dan sang penolong. Kalau sudah begini dia begitu bahagia bisa lekas bertamu. Azzam jadi tidak sabar mendekati Ery Zoya dan Zayn.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!" salam ceria Zayn, Zoya dan Mahira.


Mahira dan anak-anaknya belum sadar akan kedatangan Azzam.  Saat mu masuk ruang tamu mereka langsung diam saat mendengar jawaban salam dari suara berat yang familiar. Benarkah ini aura orang yang mereka rindu? Mahira bergetar hebat akan luapan perasaan sementara anak-anak begitu bahagia.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh," sahut Azzam seraya tersenyum teduh ciri khasnya.


Zoya dan Zayn langsung berlari ke arah Azzam sembari berseru kegirangan. Dua anak ini berebut menyalami Pamannya. Terlihat Zoya langsung minta pangku Azzam. Sementara Zayn tersenyum penuh rasa rindu.


Mahira tersenyum tipis melihat Azzam memangku dua anaknya. Hatinya berdegup kencang melihat pria tampan yang masih menjadi raja dihatinya. Dengan malu-malu Mahira mencuri pandang ke arah Azzam yang tambah tampan. Bodoh kenapa baru sadar ketampanan pria ini begitu maskulin penuh pesona. Sampai tidak bisa menyembunyikan semu wajahnya.


Azzam tersenyum saat Mahira terus mencuri pandang ke arahnya. Dia balik menatap wanita cantik penuh prestasi dengan pandangan sulit di artikan. Wanita itu sangat cantik nan anggun jika memakai penutup kepala. Andai wanita ini berhijab pasti jauh lebih cantik. Namun, Azzam tidak bisa memaksakan kehendak untuk Mahira.


"Emran, apa kabar? Lama sekali tidak berjumpa. Ada gerangan apa main ke mari?" tanya Mahira sembari membenarkan slendang yang menutup rambutnya.


"Alhamdulillah kabar saya baik. Mahira sendiri bagaimana? Benar jika di hitung sudah 14 bulan lebih kita tidak berjumpa. Apa tidak boleh saya main kemari?" Azzam tersenyum ketika Mahira salah tingkah.


"Alhamdulillah kalau begitu. Saya juga baik, Alhamdulillah. Bu--bukan be-begitu, Emran. Itu ah pokoknya aku tidak percaya kamu datang ke sini," jawab Mahira gugup.


Setelah mendapat mainan baru dari Pamannya kedua anak ini duduk di ruang keluarga. Zoya dan Zayn masih asyik main rubik dan mainan pemberian Azzam. Mereka melupakan Ibu dan Pamannya. Dua anak kembar ini begitu aktif bermain. Mungkin karena lelah keduanya kembali ke tempat tadi. Tangan kecil mereka meraih Ibunya minta tidur.


Azzam tersenyum teduh melihat dua anak manis itu merengek minta tidur. Dia sangat tahu jika keduanya tidak akan bisa tidur tanpa usapan rambut dari Mahira. Lihat sedari tadi kedua anak ini merengek ngantuk. Azzam sempat menidurkan Zayn dan Zoya dulu ketika Mahira kerja. Namun, apa daya mereka bisa tidur setelah mendekap erat foto Mamanya.


"Mama, ngantuk," rengek Zoya dan Zayn.


Mahira minta izin Azzam untuk menidurkan si kembar. Dia mana kuat menggendong dua bocah 4 tahun tanpa bantuan? Dengan sayang ia menuntun kedua anaknya ke kamar. Mahira akan mendekap dua bocah kesayangan penuh sayang.


Hati Mahira terasa ngilu saat ingat mantan Suaminya. Dulu anak-anaknya di tinggal pergi Ayah mereka ketika berumur 6 bulan. Abimanyu itulah nama almarhum Suaminya yang memberikan segala cinta. Mereka menikah 8 tahun baru di karunia momongan setelah 4 tahun pernikahan. Almarhum seorang Tentara angkatan udara siap bertempur. Hingga suatu hari Abimanyu pergi untuk melawan *******.


Di medan perang Abimanyu gugur sebagai pejuang. Sebuah kehancuran harus Mahira terima ketika Suaminya meninggal dunia. Mulai dari situ ia berjuang sendiri membesarkan anak kembarnya. Lalu di rumah sakit ia berjumpa Azzam yang malang.


Mahira bersyukur Suaminya seorang yang kaya raya. Dengan harta Suaminya Mahira membesarkan kedua anaknya. Dia juga bekerja keras sebagai CEO di Perusahaan besar di Pakistan. Dari situlah Mahira tumbuh tanpa mengandalkan harta almarhum.


Sedih sekali saat mengasuh dari jaman awal pernikahan ia di tinggal sendiri. Mahira sangat sakit ketika Alex meninggal dunia akibat kejahatan seseorang. Jika mengingat masa lalu membuat Mahira tersiksa buruh sandaran.


***•~•~•***


Mahira tersenyum tipis saat mereka berada di balkon. Mata hazel cokelat menyorot penuh kerinduan. Dia melirik Azzam yang diam tanpa kata. Entahlah rasanya ia ingin terus menatap pria ini. Namun, Mahira sadar Azzam sudah beristri tentunya sangat mencintai sang pujaan hati.


Azzam mengukir senyum tipis merasa di pandang Mahira begitu intens. Dia sadar sebarapa tampan dirinya atau sebarapa besar cinta wanita ini padanya. Ia tidak mungkin berkata banyak hal pasalnya tidak mau wanita ini terganggu. Azzam lebih baik diam saja agar Mahira bisa leluasa.


"Aku punya hadiah untukmu," ucap Azzam mengawali pembicaraan.


"Hadiah? Apa itu?"


Azzam menyerahkan paper bag untuk wanita cantik tanpa hijab. Sungguh dia ingin melihat Mahira memkai jilbab. Wajah Timur Tengah wanita ini terasa manis ketika berhijab. Azzam ingin Mahira bisa menutupi aurat dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Mahira terima paper bag itu dengan perasaan campur aduk. Dia terbelalak tidak percaya melihat hijab warna hitam, biru, merah dan pink. Matanya terasa panas melihat jilbab pemberian Azzam. Andai saja Mahira tidak bekerja maka hijab akan dikenakan sedari awal.


"Pakailah!" perintah Azzam.


"Tidak ada jarum untuk memakainya. Aku merasa malu tidak pernah memakai hijab sedari awal. Karir memang gemilang di dunia tanpa kekurangan. Namun, banyak dosa di akhirat tanpa pengampunan. Aku ingin sekali memakainya, Emran. Tetapi, apa daya pekerjaan mengharuskan aku tidak berhijab. Aku lebih mementingkan dunia dari pada akhirat. Maafkan aku malah curhat padamu."


Mahira menangis menceritakan sedikit keinginannya. Buru-buru dia seka air matanya lalu meraih hijab warna pink. Hingga hal mengejutkan terjadi saat menerima hal tidak terduga. Mata sayu Mahira membulat sempurna saat Azzam memberikan peniti padanya.


Azzam sadar Mahira membutuhkan peniti. Maka ia berikan jarum dan peniti untuk memakai hijab itu. Mendengar cerita wanita ini hatinya terasa sesak. Wanita tangguh ini sebenarnya begitu rapuh butuh sandaran. Azzam tidak tega melihat Mahira begitu rapuh akan ketidakberdayaan.


Mahira memakai jilbab asal-asalan agar tidak lama. Dia tersenyum saat Azzam memberikan ponsel untuk membenarkan hijabnya. Jika begini ia terlihat manis memakai hijab segi empat. Mahira menunduk usai memakai hijab segi empat tepat di depan Azzam.


"Masyaallah, Anda sangat manis memakai hijab. Alangkah baiknya terus memakainya. Jika boleh memberi saran terus tutup auratmu dari pandangan pria yang bukan mahrom. Kamu sangat manis jika memakai hijab. Kenapa tidak keluar dari pekerjaan?"


Mahira tersipu mendengar pujian Azzam. Jika saja bisa pasti sedari awal ia pakai hijab. Namun, pekerjaannya tidak memperbolehkan memakai jilbab. Sebagai wanita single parent Mahira ingin yang terbaik untuk anak-anaknya.


"Aku tidak bisa memakainya, Azzam. Boleh aku panggil dengan nama aslimu? Lalu aku harus bekerja bagaimana, Azzam? Aku tidak bisa karena anak-anakku tidak boleh kekurangan. Mereka sudah terlantar tanpa Ayah dan aku tidak mau menelantarkan mereka karena kekurangan uang!"


Azzam menatap Mahira penuh arti. Wanita Pakistan ini begitu malang sehingga melawan kehendak. Dia sangat tahu sifat dan tabiat sang penolong. Entahlah rasanya seperti tidak tega melihat wanita ini terus berusaha keras. Azzam jadi ingin sedikit meringankan beban Mahira.


Mahira menunduk dalam menyembunyikan wajahnya yang merah merona. Demi apa dia begitu gugup serta sedih tidak bisa mempertahankan haknya untuk berhijab. Dia sebenarnya mau memakainya hanya saja tidak mungkin terjadi. Mahira sadar benar nasibnya begitu buruk tanpa bisa menutup auratnya.


"Panggil Mas Azzam juga boleh. Aku tidak bisa berkomentar banyak. Namun, jawab pertanyaan dariku dari hati. Apa kamu ingin berhijab?"


"Hahaha, ide bagus Mas Azzam. Aku ingin berhijab, sangat ingin."


"Apa kamu ingin menikah?"


"Tidak karena aku tidak ingin calon Suamiku hanya cinta padaku tanpa mencitai anak-anakku."


"Apa kamu masih mencintaiku?"


Mahira membisu mendengar pertanyaan Azzam selanjutnya. Dia tidak mampu berkata banyak ketika pria ini menanyakan hal sensitif. Wajahnya panas namun ada kekecewaan membelenggu. Pria ini sudah beristri, lalu kenapa bertanya begitu? Mahira tidak akan mau jadi perusak rumah tangga orang.


Azzam sadar pertanyaan terakhirnya sukses membuat Mahira tidak enak. Walau begitu ia ingin wanita ini jujur padanya agar mengawali hari baru. Antahlah kenapa bisa ia memberikan pertanyaan retoris? Dia hanya berharap semoga saja mendapat jawaban baik. Azzam tidak akan muluk-muluk meminta Mahira maka semua sudah jadi tekad.


"Tidak seharusnya aku jawab pertanyaanmu, Azzam. Kamu Suami orang tidak pantas aku mengatakan jawaban itu."


"Aku sudah duda 14 bulan, Mahira. Istriku memilih berpisah dan itu benar karena kami tidak berjodoh."


Mahira kaget mendengar jawaban Azzam. Dia menunduk dalam menyembunyikan wajah karena menyesal menanyakan hal sensitif. Semoga saja Azzam bahagia selalu setelah perpisahan terjadi. Mahira jadi penasaran kenapa bisa Azzam di tolak padahal semua yang diinginkan ada padanya? Mungkin saja jodoh hanya sebatas itu saja.


Azzam tersenyum melihat respons Mahira. Selama 3 tahun bersama ia tahu banyak hal tentang wanita ini. Ia berharap kebahagiaan menyertai wanita karier disampingnya. Azzam hanya ingin jadi imam yang baik untuk Mahira kelak.


"Maaf membuat kamu sedih."


"Tidak, apa. Apa kamu mau mempertahankan berhijab demi menebus dosa pada Allah? Maukah kamu bertobat menjadi wanita penghuni Surga? Maukah kamu berhenti bekerja dan izinkan aku yang bekerja. Cukup di rumah menunggu aku pulang."


Mahira tercengang mendengar penuturan Azzam. Ya Allah, apa ini sebuah lamaran? Dia menangis dalam diam sembari menatap Azzam. Apa Mahira salah dengar sehingga merubah arti. Mungkin saja benar adanya ia salah dengar tidak mungkin ini nyata.


Azzam menyerahkan kotak bludru dan memberikan pada Mahira. Entah kenapa ia mampu berkata begitu tanpa halangan. Kenapa bisa Azzam melamar Mahira? Inilah yang harus dilakukan menerima lembaran baru bersama wanita baru.


"Kamu salah bicara, Zam?"


"Aku serius, menikahlah denganku dan jadilah Istriku. Aku memang belum mencintaimu, tetapi lambat laun perasaan itu pasti ada. Tetaplah berjuang seperti keinginnmu. Jagalah aurat dari pria yang bukan mahram. Biarkan aku yang bekerja dan kamu cukup di rumah menungguku. Izinkan aku menjadi Imammu!"


Mahira menangis tersedu mendengar lamaran Azzam yang tidak terduga. Dia menggenggam kotak bludru dengan campur aduk. Air mata luruh deras mengingat setiap kata sang pria. Mahira masih belum percaya ini nyata bahwa Azzam minta dirinya.


Azzam diam saja tanpa kata berusaha menanti jawaban Mahira. Demi apa pun ia sangat gugup mengatakan sebuah kata sakral yang merasuki diri. Walau yang lebih gugup adalah saat pertama kalinya dia menelpon Khumaira. Lupakan masa lalu kini Azzam berada di masa depan yang harus maju.


"Aku tidak mungkin menolak. Namun, anak-anakku?"


"Aku sudah mengagap mereka sebagai anak-anakku. Aku menyayangi Zoya dan Zayn sepenuh hati. Aku menyayangi mereka seperti menyayangi Putraku Ridwan. Aku akan mengkhitbah kamu di depan kedua orang tuamu."


"Kamu serius, Mas? Aku tidak mimpikan? Ya Allah, aku pasti mimpi!"


"Nyata, maukah kamu menjadi, Makmumku? Maukah kamu menjadikan aku sebagai Imammu?"


Mahira langsung menangis histeris mendengar perkataan Azzam. Dia sangat bahagia di lamar pria sholeh yang sangat di idamkan. Air matanya terus mengucur deras tanpa di kondisikan. Mahira tidak pernah tahu kenapa bisa Azzam memintanya padahal dulu begitu anti berdekatan.


Azzam menyerahkan tisu supaya Mahira menghapus air mata. Mungkin ini saatnya dia bahagia bersama wanita lain. Dia akan membawa Mahira ke jalan Allah serta membawa ke Surga-Nya. Kalau membuka jalan baru hanya ada cinta bersama masa depannya. Azzam harap semoga saja Mahira mampu menggeser cintanya pada sang masa lalu.


"Dengan mengucap Bismillah, saya bersedia menjadi Makmumu!"


Mahira hanya mampu membalas perkataan Azzam dengan kata seadanya. Dia sangat bahagia akhirnya bisa bersama pria yang sangat dia cintai. Ini begitu manis sampai diirnya tidak mampu berkata banyak. Mahira tidak pernah menyangka takdir membawa bersama Azzam.


Azzam mengucap Alhamdulillah berulang kali. Kini hanya senyum manis yang menghiasi bibir tipisnya. Semoga saja Mahira benar-benar jodohnya, Aamiin. Dengan begini dia akan berusaha melupakan perasaan pada Khumaira. Walau akan sulit Azzam akan berusaha lapang dada agr Khumaira-nya jatuh pada Aziz seorang.


****'~•~'****


Baper aku tuh, sama pasangan baru ini.


Ikhlaskan Abi Azzam bareng Mbak Mahira.


Uhuk dua chap lagi Ayah balek, siapa yang senang.


Chap depan untuk pertama kalinya Ayah ngobrol bareng sama ini. Arghhhhhhh, ngga sabar.


Sudah dulu ah jangan gila.


Maaf ya banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan akibat belum koreksi dan edit.


Bonus picture Abi Azzam dan Mama Mahira!




Salam cinta, Rose!