
Assalamu'alaikum semuanya.
Untuk pengumuman give away akan di umumkan di Instagram. Maka dari itu pantengin aja terus ok Instagram Rose : rose_crystal_030199!
Besok hari paling indah perdana story Mahabbah lunching.
Assalamu'alaikum Imamku jilid pertama telah genap satu tahun.
Dan untuk story Ini akan mengadakan give away tentu saja penuh kejutan.
Bakal ada Story Baru di mana visual Ayah dan Umi.
Tema Story action+romance Islami.
Bayangkan betapa uhuy Ayah main laga dan Umi eyak.
Nantikan give away guna memeriahkan Anniversary Assalamu'alaikum Imamku 2 bulan Agustus tanggal 1.
Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!
....***....
Tidak terasa Dedek Zaviyar kini berusia 10 bulan. Anak manis ini sudah bisa jalan selangkah dua langkah. Dia begitu aktif nan hiperaktif tidak mau diam. Ia sangat suka merangkak tidak mau diam barang sedetik saja. Saat sudah bisa jalan walau beberapa langkah si kecil tambah ingin melangkah.
Tubuh gemuknya begitu menggemaskan tidak ayal membuat siapa saja terpesona. Zaviyar kecil tidak mau di tinggal Ayah ketika kerja. Alhasil sang Ayah harus ekstra membuat ia teralihkan atensinya. Jika sudah teralihkan misal main boneka gajah maka sang Ayah kabur kerja. Setelah sadar Ayah pergi kerja maka Zaviyar akan menangis merengek minta Ayah.
Kadang Khumaira heran kenapa bisa Zaviyar begitu cinta Aziz. Tidak bisa lepas walau sesaat saja dan dampaknya pekerjaan sang Suami hanya sampai sore. Sisanya di bawa ke rumah guna membuat si kecil tidak rewel. Ia gendong anak gembulnya yang mau main kucing. Khumaira ingat nanti malam sudah masuk bulan Ramadhan.
Alhasil besok sudah mulai puasa pertama bersama Zaviyar. Dia harus memikirkan sahur masak apa untuk Suami dan anak-anak. Ia langsung membawa anak tampannya tampak aktif berceloteh minta Ayah. Khumaira pada akhirnya membawa sang anak ke kamar di mana Faakhira sedang tidur siang bersama Mumtaaz usai shalat Dzuhur.
Di saat dua Kakak tidur di kecil malah asyik berceloteh minta susu, minta ini dan itu. Alhasil Khumaira harus ekstra sabar masak di ganggu di gembul. Anehnya anaknya suka banget duduk manja di depan kulkas terbuka seraya makan kue atau makan apa saja. Zaviyar begitu manis ketika makan semua berantakan.
Khumaira menaruh anaknya di tengah Mumtaaz dan Faakhira. Lalu ia kecup kening anak-anak sebelum mengusap rambut anaknya. Dia cium penuh cinta anak-anak sebelum mengusap pipi tembem Zaviyar. Lihat anaknya malah nyunsep di tengah menganggu Mumtaaz dan Faakhira. Khumaira tidak habis pikir kenapa bisa Zaviyar begitu usil.
"Adechssvbsz nmvhdsrc xdatsmttbvkug adedkkyrcnh," celoteh Zaviyar dengan sadis menabok pipi Mumtaaz lalu menabok bahu Faakhira.
Menerima tabokan dari tangan kecil sontak Mumtaaz terbangun begitu juga dengan Faakhira. Dua Kakak Zaviyar tampak gemas pada pelaku. Lihat di pelaku malah bertepuk tangan heboh dengan celoteh aneh. Mumtaaz yang gemas mendekap Zaviyar biar bobok. Sedangkan Faakhira ikut mendekap Zaviyar dengan gemas.
Khumaira sangat gemas akan interaksi tiga anaknya. Andai saja si sulung pulang pasti menambah kesan rame. Tetapi, anak sulung baru pulang telat puasa ke dua puluh satu. Namun, apa daya ia akan tunggu anak bujang tampannya. Khumaira akhilnya memilih pergi setelah meminta Mumtaaz dan Faakhira menjaga Zaviyar.
Lain sisi Aziz telah siap pulang ke rumah karena hari ini pekerjaan sedikit. Ngomong-ngomong nanti malam sudah mulai shalat tarawih. Ya Allah, tidak sabar nanti malam ke masjid bersama Istri dan anak-anaknya. Kalau begini Aziz rindu Ridwan yang da di Kediri.
Kurang setengah jam akhirnya Aziz sampai rumah. Dia menepikan mobil ke bagasi lalu beranjak keluar. Ia tersenyum saja melihat Khumaira telah menyambut kedatangan sembari tersenyum manis. Wanitanya tetap sama menjaga segala cinta serta penampilan untuknya. Aziz senang Khumaira begitu cantik walau pakai daster dan jilbab Rabbani.
Khumaira berjalan cepat menuju Aziz lalu mengulurkan tangan minta salaman. Dengan cinta ia kecup punggung tangan Suaminya lalu meraih tas sang Suami. Dia terdiam ketika Suaminya menarik pinggangnya pasti tahu apa yang terjadi. Khumaira memejamkan mata menikmati kecupan manis dari Aziz.
Aziz mencium kening Khumaira lalu menautkan tangan. Dia rindu pada anak-anak selalu memenuhi pikiran. Saat masuk ia ucap salam terlebih dahulu sebelum Istrinya menjawab. Aziz yakin pasti tiga anaknya sedang di kamar menikmati kebersamaan.
Benar saja Zaviyar sudah menunjuk luar minta bertemu Ayah. Dan akhirnya tubuh gempal itu di bawa Mumtaaz menuju ruang tamu. Untuk Faakhira ngekor menuju Ayahnya. Setelah sampai lihat Zaviyar meminta gendong Ayah. Sementara Mumtaaz dan Faakhira juga mengendong. tetapi, sadar diri tubuh mereka sudah besar.
Aziz gendong Zaviyar lalu menciumi pipi bulat sang anak. Dia ulurkan tangan untuk salaman pada anak-anak. Setelah itu menciumi wajah rupawan Mumtaaz dan Faakhira. Dia berlutut agar anak-anak bisa mendekapnya erat. Aziz dekap anaknya sepenuh hati karena melepas rindu.
"Ayah, kenapa pulang cepat?" Tanya Faakhira seraya mencium rahang tegas Ayahnya.
"Kan nanti malam sudah tarawih jadi para pekerja boleh pulang cepat. Dedek besar tadi main sama Dedek kecil berapa lama?" Tutur Aziz sembari mengusap pipi gembul Faakhira. Dia juga memberikan ciuman lembut di pipi dan kening sang putri.
"Lama sekali, Dedek Zavi selalu mengemut jempol Dedek. Empeng di buang gantinya tangan Dedek yang di ****," lapor Faakhira begitu menggemaskan.
"Benar yang dikatakan Kakak, wahai Dedek gembul?" Tanya Aziz seolah menyidang.
Zaviyar malah tertawa keras sembari bertepuk tangan. Dia tidak maksud tetapi tertawa saja ketika Kakak perempuannya mengadu lucu. Ia yang gemas meraih tangan Mbaknya lalu menghisap jempol. Zaviyar memang suka emeng, tetapi kalau ada jari kecil misal punya kakaknya akan di ****.
Faakhira merengut antara gemas dan sebal tangan kecilnya di genggam si gembul. Dia hanya pasrah ketika Adiknya mengemut jempolnya. Ia tidak keberatan hanya gemas pingen gigit pipi tembem Adiknya ini. Faakhira heran Adiknya Zaviyar belum tumbuh gigi seperti Adik temannya.
Mumtaaz merenggut kesal Aziz malah asyik bermain dengan Faakhira dan Zaviyar. Dia menarik tangan Ayahnya supaya menanyainya. Ia sampai merengut kesal gara-gara sang Ayah malah menggoda. Hingga akhirnya Mumtaaz menerima ciuman sayang di pipi yang masih tembem sedikit.
Khumaira tersenyum teduh melihat Aziz begitu telaten meladeni tiga anak manis terus merengek. Ia ikut mendekat guna mendekap Suami serta anak-anak. Teduh sekali merasakan kehangatan manis yang tercipta. Tidak ayal membuat Khumaira menitikkan air mata haru. Sungguh sangat rindu ketika saling mendekap walau ada yang kurang yaitu Ridwan.
....***....
Saat menuju masjid Zaviyar telah anteng dalam gendongan Khumaira. Untuk Faakhira telah nyaman dalam gendongan Ayah. Untuk si pangeran ganteng berjalan di tengah seraya berkata panjang lebar. Keluarga kecil ini begitu manis datang ke masjid bersama penuh warna.
Lihat para warga jama'ah tampak berdecak kagum melihat Aziz sekeluarga. Ngomong-ngomong ada yang kurang yaitu Ridwan. Tetapi, terganti anak gembul super menggemaskan. Dan nanti akan bertemu anak tampan puasa ke 22. Tidak sabar rasanya melihat keluarga rupawan kumpul.
Aziz dan Khumaira menyapa mereka dengan keramahan. Untuk Mumtaaz dan Faakhira juga menyapa kalem. Sementara Zaviyar tengah asyik menyedot empeng. Pada akhirnya Khumaira dan Aziz memutuskan masuk Masjid.
Ayah tampan ini menurunkan Faakhira sebelum izin menggendong Zaviyar. Ia tahu Istrinya mau wudhu baru dirinya. Alhasil ia jadi tatapan memuja para wanita berbagai kalangan. Risiko cowok ganteng overdose jadi di mana-mana jadi lirikan. Aziz sih biasa aja sementara Mumtaaz dan Faakhira berebut pangku.
Pada akhirnya Aziz dan Khumaira melaksanakan shalat isya baru masuk shalat taraweh. Saat usai shalat isya dan semua membaca wirid Zaviyar nyelip masuk ke dalam mukena Uminya minta asi. Pasalnya dari tadi tidak bisa diam berceloteh sembari main robot. Zaviyar menepuk nepuk dada Uminya minta susu.
Khumaira hanya tersenyum maklum ketika Zaviyar berbuat demikian. Dia buka kancing gamisnya lalu membiarkan si kecil nyusu tertiup mukena. Ia tepuk pelan bokong anaknya supaya tidur. Benar saja anak bungsunya telah tidur. Khumaira sangat tahu Zaviyar memang akan tidur jam setanah delapan lalu bangun dini hari dan tidur lagi sampa jam pagi.
"Umi, Dedek tidur di tengah saja," ucap Faakhira menepuk tengah pembatas sajadah.
"Iya biar Dedek tidur di tengah, Dedek Zavi lelah," sahut Khumaira dengan hati-hati menidurkan putranya. Ia pakai tas untuk mengambil bantal kecil lalu mengambil hijab untuk menyelimuti anaknya lalu mengambil empeng untuk di hisap anaknya.
"Umi," panggil gadis kecil belum genap empat tahun.
Khumaira akhilnya Shalat sunah taraweh walau tertinggal dua salam. Dia melakukan shalat tarawih secara khidmat. Lalu saat masuk ke raka'at berikutnya suara Suaminya terdengar tegas. Suaminya jadi bilal alhasil anaknya terperanjat mendengar suara Ayahnya. Anak gembul itu celingak-celinguk mencari Ayah. Tentu saja Khumaira merasa gemas lantaran Zaviyar tidur akan langsung bangun ketika mendengar suara Aziz.
Zaviyar yang tadi mengantuk langsung bangun sambil menepuk tangan Mbaknya. Ia nunjuk di balik shaf pembatasan jama'ah laki-laki dan perempuan. Dia juga menatap Uminya sambil pegang empeng. Zaviyar celingak-celinguk mencari Ayah tetapi tidak ditemukan.
Faakhira berusaha mengusap pipi gembul Zaviyar supaya tenang. Tetapi, Adiknya tetap berceloteh dengan menuding jama'ah laki-laki. Dia hanya tersenyum melihat kelakuan Adiknya masih anteng tidak mau menganggu Umi shalat. Faakhira akui Zaviyar begitu mudah bangun jika mendengar suara Ayahnya. Apa lagi saat tidur siang suara mobil terdengar dan mendengar salam sang Ayah maka di gembul bangun.
Jama'ah taraweh menatap Zaviyar dan Faakhira gemas. Dua anak mania itu begitu menggemaskan apa lagi yang bayi belum punya gigi. Pokoknya anak manis itu begitu menggemaskan. Mereka sadar betapa rupawan Ayah sang bayi maka tidak heran anak-anak tumbuh rupawan.
Hingga suara Aziz terdengar lagi membuat Zaviyar berdiri mau menemui Ayah. Kalau tidak dituruti maka akan menangis maka dari itu Faakhira meraih tangan Adiknya untuk menyelinap di balik tabir pembatas. Sedangkan Khumaira pasrah bocah gembul itu merengek minta Ayah. Alhasil membiarkan dua anaknya ke barisan jama'ah laki-laki.
Aziz kaget saat doa sebentar dua anaknya datang. Lihat si gembul malah duduk anteng karena selama ini detail ia shalat anaknya anteng. Benar adanya sampai selesai Faakhira dan Zaviyar duduk di antara dirinya dan Mumtaaz. Namun, setiap mau ke raka'at berikutnya harus memberi ciuman pipi. Inilah Aziz sang Ayah sekaligus Suami idaman selalu mencintai Istri dan anak-anak begitu tulus. Selalu memperlakukan Keluarga sepenuh hati.
.....***.....
Tepat di jam setengah dua pagi Khumaira bangun. Dia berdoa setelah bangun tidur lalu memutuskan beranjak hati-hati supaya tidak membangunkan anak dan Suami. Ia ikat rambutnya asal lalu memutuskan membasuh wajah. Khumaira berpikir mungkin sahur pertama mau masak oseng tempe dan sayur bening. Lalu pakai lauk telur dan ikan mas. Untuk minuman ia buatkan Energen kacang hijau untuk Mumtaaz. Kalau Suaminya pasti kopi pahit.
Khumaira masak begitu cekatan agar setangah empat nanti bisa sahur. Setelah berkecamuk dalam dapur akhirnya selesai juga. Ia lepas celemek lalu menaruh di tempatnya. Dia cuci tangan sebelum itu berlalu menuju kamar tempat Suami dan anaknya berada. Khumaira melihat Aziz masih tidur lelap sembari mendekap Zaviyar.
Dengan hati-hati Ibu empat anak ini meraih anaknya. Khumaira gendong Zaviyar menuju boks bayi biar aman. Dia meletakan si kecil hati-hati agar tidak bangun. Saat anaknya mau bangun dia dengan lembut menepuk pelan paha anaknya. Khumaira tersenyum manis melihat Zaviyar tidak jadi bangun. Dengan begini ia bisa membangunkan Suaminya segera.
Khumaira tepuk halus bahu Suaminya, tetapi tidak mendapat respons. Dia bahkan mengusap pipi serta berusaha membangunkan halus tetap saja tidak bangun. Wajar saja Suaminya baru tidur jam satu dini hari. Tadi malam Suaminya tadarus Al-Qur'an bersama warga sekitar.
"Mas bangun," pinta Khumaira pelan takut Zaviyar dengar.
"...." Tidak ada sahutan.
Khumaira duduk di tepi ranjang lalu meraih kepala Aziz untuk di.tarih di dadanya. Ia usap lembut rahang Suaminya lalu mengecup mesra kening Suaminya. Belum juga bangun dia agak mengangkat Suaminya agar bersandar di bahunya. Khumaira tersenyum teduh lantaran Aziz begitu polos sewaktu tidur.
"Wahai Suamiku tersayang ayo bangun sahur. Masku tercinta bangun yuk sahur dulu nanti tidur lagi," ucap Khumaira sangat lembut.
"Umh," lirih Aziz langsung mendekap Khumaira.
"Mas bangun," pinta Khumaira lalu mengusap rambut sang Suami.
"...." Aziz itu agak susah dibangunkan seperti Mumtaaz jadi harus ekstra sabar membangunkan dirinya.
Khumaira tidak kehabisan ide sehingga dirinya mengangkat dagu Aziz. Pada akhirnya ia kecup mesra bibir Suaminya lalu ******* sedikit. Dia lakukan ini bertujuan membangunkan Raja narsis. Benar saja Suaminya bangun juga setelah lama tidur. Khumaira merasa gemas karena Aziz ini begitu nakal.
"Kalau dicium gitu baru bangun," Rajuk Khumaira bernada lirih.
"Kan enak dapat cium." Aziz langsung mencium bibir Khumaira sedikit tergesa.
"Sudah Mas ingat jam 04:13 sudah imsak. Gih bangun," pinta Khumaira.
"Baiklah, Mas yang bangunkan anak-anak atau Adek?" Tandas Aziz.
"Adek saja, sekarang Mas cuci muka lalu ke ruang makan. Tapi, bangunin Kakak cilik ya Mas. Anak ganteng kita pasti minta gendong."
"Hn."
"Ya sudah ayo."
"Tunggu."
"Ada apa Mas?"
"Mas sangat mencintai Adek karena Allah?"
"Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah."
Aziz dan Khumaira saling mendekap mesra sebelum memutuskan berjalan ke kamar anak-anak. Lihat keduanya memilih mengecup pipi bulat si kecil sebelum memutuskan keluar. Mereka tampak mesra dengan menautkan tangan. Aziz dan Khumaira menikmati puasa pertama mereka setalah kedatangan si Dedek Zavi.
Puasa pertama tanpa Ridwan tentunya membuat Aziz dan Khumaira sangat rindu. Walau begitu merasa bersyukur atas kehendak Allah telah berkenan menghadirkan Zavi di tengah mereka. Keluarganya tampak utuh walau si sulung ada di pesantren. Aziz dan Khumaira berharap semoga Ridwan puasa penuh cinta lantaran ada Abi, Makan dan keluarga besar. Walau tidak ada mereka setidaknya ada keluarga besarnya terkhusus ada Abi Azzam.
To
be
Continue!
**Catat Assalamu'alaikum bonus chapter bahas Dedek Zavi. Tenang kurang beberapa chapter lagi Habis. Chap deapn Mungkin sudah gede biar cepat kelar.
Tapi, aku mau tak kasih alur lambat biar momen Dedek Zavi dan keluarga nyatu gitu. Jadi nikmati saja ok**!
Asli kepala ku pusing banget, jika banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan harap maklum karena ini kepala sakit banget sehingga belum bisa koreksi dan edit.
Itu sudah biasa sih ketik selesai langsung update.
Namun, kali ini beda aku dalam keadaan kurang baik-baik saja. Jadi maklum jika amburadul.
Besok Mahabbah tayang perdana di Watt. Jadi kalian baca saja di sana.
See you again!
11*05*20