
...Khumaira POV On!...
3 minggu setelah Mas Aziz ke Hongkong, rasanya begitu merindu sampai aku ingin berlari ke arahnya. Entahlah akhir-akhir ini terasa beda dan sangat merindu.
Aku baru tahu rasa rindu itu membelenggu hati. Aku tidak sadar kapan dan bagaimana rasa itu muncul. Selama 3 minggu Mas Aziz hanya memberi kabar beberapa kali. Tahukah kamu Mas aku dan Ridwan sangat merindukan, Mas.
Aku tidak tahu tetapi aku merasa ada kehidupan di dalam rahimku. Aku jadi mudah emosi dan sangat sensitif. Semua tentang Mas Aziz jadi membelenggu.
Ini sudah minggu ke 5 setelah kami berhubungan intim. Ah, wajahku panas sekali mengingat semua itu.
Apa benar aku sedang mengandung? Semoga saja benar ya Allah. Aku akan periksa ke Dokter sekalian mengajak Dedek jalan-jalan usai ke rumah sakit.
Aku bisa menggunakan kartu kredit titanium Mas Aziz sepuasnya untuk membeli mainan baru untuk Dedek. Kenapa aku jadi sangat berbeda akhir-akhir ini?
Semoga saja prediksi itu benar di dalam sini ada buah hati kami. Aku juga belum haid padahal paling lambat 3 minggu. Semoga saja aku mengandung ya Allah, Amin.
Mas, apa pekerjaan di sana begitu banyak sehingga Mas tidak terlalu sering mengabari kami. Apa Mas tidak rindu pada kami seperti kami yang sangat rindu.
Aku jadi aneh setiap saat karena wajah Mas Aziz selalu terngiang. Aku selalu ingin mendengar suaranya dan selalu ingin berada di sisinya. Aku jadi sangat manja padanya jika dia memberi kabar.
Apa benar ini karena hormon Ibu hamil? Aku tidak sabar memeriksa ke Dokter. Jika benar aku hamil pasti sangat membahagiakan bagi kami.
Tunggu kenapa aku bisa jalan sampai sini. Aku baru tahu ada pintu cat berbeda dari yang lain. Sebenarnya ruang apa ini? Kenapa terkunci? Aku jadi penasaran melihat dalamnya.
Alhasil aku mencari kunci di nakas dekat ruang itu. Mungkin gudang tetapi bukan karena gudang ada di ruang sebelah timur. Ah ketemu kunci ini pada akhirnya. Dengan semangat aku buka pintu bercat emas. Warnanya sangat mencolok mata membuat orang jadi pusing.
Saat semua terbuka pandangan pertama yang aku lihat semua gelap. Mungkin ada sakelar lampu, ketemu dan ruangan ini di terangi oleh lampu.
Wah indah sekali tempat ini, aku baru tahu ada ruang bawah tanah di rumah Mas Aziz. Aku tutup pintu dan memilih menuruni anak tangga dengan hati-hati.
Desain ruang bawah tanah ini sangat memukau. Langit-langit atap terasa hidup dengan background bintang menyelimuti bumi. Aku edarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan bawah tanah ini. Kenapa seperti hotel sih indah sekali.
Di ruangan ini ada rak buku berisi buku tebal dan aku tidak tahu isinya apa. Ada ranjang besar di pojok ruangan, lalu ada ukiran kaligrafi yang indah di setiap dinding. Bahkan ada kamar mandi dan sungguh mencengangkan ruangan ini sangat memukau. He, Ternyata ada kulkas di sini dan lemari pakaian.
Aku ingin rebahan dulu karena tubuhku agak lemah. Aku puk-puk bantal dan aku kebuti (bahasa Indonesianya apa?) ranjang.
Ah nyaman sekali tidur di sini. Wangi ruang ini mencerminkan Mas Aziz sekali. Saat menengok ke kanan aku terkejut melihat patung yang sangat bagus sepeti hidup. Aku perhatikan patung itu dengan sesama dan hasilnya mirip sekali dengan ku.
Mas Aziz kapan memahat patung itu? Setahu aku Mas tidak pernah memahat dan mungkin tidak bisa. Aku turun dan memilih mendekati patung yang sangat mirip dengan ku.
Jariku terulur untuk mengusap pahatan sempurna ini. Aku telisik penampilan patung dan alangkah terkejut saat tahu tanggal pembuatannya. Jantungku berdebar kencang dengan linangan air mata mengucur deras.
Kenapa aku menangis ya Allah? Entah rasanya sesak sekali melihat ukiran tanggal dan tahun yang ada di bawah patung itu.
5 tahun yang lalu, itu artinya kami belum bertemu. Bahkan aku belum mengenal Mas Azzam. Lalu kenapa bisa Mas Aziz memahat diriku?
Sebenarnya teka-teki apa ini ya Allah. Aku tidak mungkin salahkan? Patung ini di pahat sebelum aku menikah dan masih SMA. Sebenarnya apa yang terjadi.
Aku harus menemukan jawabannya sekarang juga. Aku buka lemari baju dekat dengan patung. Aku cari sesuatu yang bisa melingkupi rasa penasaran.
Saat membuka laci aku menemukan no ebook warna hitam. Entah kenapa jantungku terasa berdegup kencang memegang buku ini. Guna melihat buku aku melangkah kembali ke ranjang agar nyaman membacanya.
Dengan nyaman aku duduk di ranjang. Sesekali aku lihat patung itu dengan degup jantung tidak menentu. Ya Allah tolong aku, kuatkan hamba untuk melihat isi buku ini.
Saat ku buka halaman pertama, ada ukiran kaligrafi nama Mas Aziz. Buku ini ternyata sangat lama sekitar 6 tahun yang lalu.
Mas Aziz orangnya lucu juga, mengutarakan isi hati di dalam buku. Seperti wanita saja, tetapi sangat kreatif. Buku ini polos sekali bahkan terkesan sangat elegan.
Awal dimulainya Mas Aziz umur 23 tahun. Aku terkekeh geli membaca kata-kata narsisnya. Memang Mas itu tampan tetapi jangan terlalu percaya diri. Dasar orang menyebalkan sedunia.
Adiba? Ah aku tidak kenal siapa itu Adiba. Jadi, Mas Shalat Istikharah karena minta petunjuk pada Allah apa tentang takdirnya.
Kalimat itu mengatakan. Aku sangat menyayangi Adiba seperti Adikku sendiri. Namun, gadis Pakistan itu malah menyatakan cinta padaku. Apa yang harus kulakukan?
Hanya Allah yang tahu takdir akan menyatukan aku dengan siapa. Aku putuskan Shalat Istikharah agar tahu siapa orang yang menjadi tulang rusukku.
Mas Aziz, melakukan Shalat Istikharah dan mendapat jawaban. Bukan Adiba melainkan gadis lain. Gadis manis nan anggun yang sangat mengemaskan. Siapa gadis itu dan entah kenapa jantungku terasa berdebar saat kubuka halaman selanjutnya.
Allahu Akbar, kenapa ada lukisan yang sangat mirip dengan ku. Apa ini ya Allah? Kenapa Mas Aziz menggambar aku? Ini benar-benar diriku karena sangat mirip dengan ku. Aku bergetar menahan gejolak rasa penasaran sekaligus sesak.
Aku baca tulisan Mas Aziz dengan saksama. Jantungku terasa berdegup kencang dengan irama tidak menentu.
Karena sangat senang aku lukis gadis itu dalam sebuah sketsa. 3 kali engkau hadir dalam mimpi dan aku langsung jatuh cinta padamu.
Gadis manis, aku sangat mencintaimu karena Allah.
Allah yang memberi jawaban di Shalat itu. Setiap saat aku selalu memikirkan kamu, Gadisku.
Selama 3 bulan aku mencari gadis yang ada di mimpiku. Ternyata di Kairo tidak ada Gadisku.
1 tahun kemudian, aku putuskan untuk membuat pahatan tentang Gadisku. Gadis manis yang sangat aku cintai. Sebenarnya engkau di mana, Gadisku?
Semua kagum akan hasil pahatan ini. Aku senang sekali. Hai Dek, apa kamu merasa apa yang kurasakan?
Aku sangat mencintaimu karena Allah. Hingga 3 tahun kemudian akhirnya aku ketahui namamu.
Dek Syafa, aku sangat mencintaimu. Hai nama Syafa indah sekali bukan? Itu pasti karena itu nama Gadisku.
Abah meminta kami pulang alhasil aku pulang seraya membawa patung Dek Syafa. Mungkin di Indonesia aku temukan Gadisku yang manis.
*Benar saja setelah 12 hari di Indonesia aku bertemu dengan Dek Syafa. Tetapi, aku sangat terkejut dia menggunakan kebaya.
Sebenarnya ada apa ini*?
Astaghfirullah, gadis yang kucintai selama 3 tahun sepenuh hati ternyata menikah dengan Masku sendiri. Hebat sekali, sangat sakit sampai aku tidak sanggup menjabarkan betapa pedih hatiku.
3 tahun aku mencintainya dalam kuasa Allah. Namun, semua berakhir dengan menikahnya Dek Syafa dengan Masku Azzam.
Cinta yang hadir dari Allah karena Shalat Istikharah. Cinta yang ada walau dalam mimpi. Cinta yang aku simpan sampai sekarang, kini harus terkubur tanpa sisa.
Aku menyesal telah Shalat Istikharah. Kenapa Allah begitu kejam padaku? Sakit sekali jika mengingat semua itu.
Aku tidak sanggup membaca kata demi kata yang di tulis Mas Aziz. Ya Allah itu artinya ....
Aku tidak sanggup menghadapi ini. Jadi selama 6 tahun ini Mas Aziz mencintaiku dalam diam. Cinta karena sebuah mimpi yang di turunkan Allah.
Allahu Akbar, semua terasa menyakitkan untukku. Itu artinya cinta pertamaku juga memimpikan hal yang sama.
Dengan mengucap Bismillah aku putuskan untuk membaca.
...Serpihan Hati!...
• Beribu kata dengan linangan air mata.
• Sembilu pisau menghunus hati.
• Sang surya menanti purnama.
• Aku tersentak merasakan sinar matahari.
...Duka biola di siang hari....
...Merasa pilu di lubuk hati....
...Kamu menanti harapan tidak pasti....
...Sungguh malang tiada henti....
• Dukamu adalah nestapa.
• Jeritmu adalah purnama.
• Tangismu adalah derita.
• Cahaya adalah sang surya.
...Jikalau kamu tidak sanggup datanglah mencari diriku....
...Aku mencintaimu laksana surya menerangi bumi....
...Jikalau engkau sedih datanglah bersandar di bahuku....
...Aku melindungimu laksanakan bulan di malam hari....
• Biarkan aku menjadi pelita bagi kegundahanmu.
• Aku takut tidak mampu berhenti.
• Jika kelak masa lalumu datang, aku siap merelakanmu.
• Karena bagiku kamu segala di atas segalanya.
...Berbahagialah wahai Cinta karena dukamu menghancurkan hatiku....
...Tersenyumlah wahai Cinta karena senyummu obat sakit hatiku....
...Tertawalah wahai Cinta karena tawamu bak alunan melodi menyejukkan hati....
...Terus bersama wahai Cinta walau kutahu cintamu bukan untukku....
• Wahai Tuhan semesta alam.
• Jadikan dia wanitaku selamanya.
• Wahai Tuhan sang Maha Agung.
• Berikan aku kebahagiaan walau sesaat.
• Wahai Dzat yang Maha Pengasih.
• Berikan aku cintanya walau itu mustahil.
...Aku berharap engkau terus bersamaku walau kutahu cintamu hanya untuknya....
...Aku tidak peduli dengan sakit hati yang engkau berikan, tetapi aku peduli dengan kebahagiaanmu....
...Tetaplah bersamaku walau itu menyakitimu....
...Maaf dan kumohon tetaplah tinggal walau hanya sesaat....
• Serpihan hati tiada henti engkau torehkan dihati.
• Serpihan hati menusuk qolbu engkau lukai hati ini.
• Serpihan hati menjadi duri menusuk relung hati.
• Serpihan hati membawa teka-teki di dalam hidup ini.
...Aku mencintaimu dengan serpihan hati yang tersisa....
...Aku menyayangimu dengan ketulusan hati....
...Walau kutahu cintaku hanya tersimpan dalam diam....
...Namun, aku bangga engkau menjadi milikku....
...Aku mencintaimu, Istriku....
Aku menangis seraya merengkuh notebook ini dengan erat. Mas Aziz, kenapa dari awal tidak jujur padaku?
Kenapa takdir begitu kejam padamu? Ya Allah, ampuni aku yang menyakiti orang setulus Mas Aziz.
Ya Allah sesak sekali membaca untaian kata pilu darimu, Mas. Sebegitu besar cintamu padaku, namun aku tidak pernah tahu.
Sungguh engkau sangat pintar menyembunyikan duka dan cinta. Mas, ampuni aku yang sangat bodoh ini. Kebenaran tentangmu membuat aku pilu, Mas.
Ternyata cinta pertamaku juga mencintaiku dengan cara yang sama. Kenapa Allah menyatukan kita dengan takdir begitu kejam?
Mas Aziz ... maafkan aku.
...Khumaira POV Off!...