Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
Suka Cita akan kebesaran-Nya!



Khumaira menahan tawa sekaligus haru akan ekspresi Aziz seperti tikus kejepit pintu. Dia berusaha mengejan hebat agar mampu mengeluarkan buah hati mereka. Di sela rasa sakit luar biasa ia tersenyum ketika Suaminya terus merapalkan doa dan cinta untuknya. Khumaira merasa menjadi wanita paling beruntung bisa mendapatkan Aziz.


Aziz terus membisikan kata cinta serta dukungan agar Khumaira kuat. Dalam hati ia begitu pilu melihat Istrinya terus berjuang. Ia ingin menggantikan posisi Istrinya jika bisa. Aziz rela terluka atau pun kesakitan asal jangan Khumaira.


"Mas, ughhhhh engghhh ....!"


"Adek bisa, berjuanglah Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Allahu Akbar, Senoga Adek dan Dedek bayi Engkau beri kekuatan. Ya Allah, beri kekuatan untuk Istriku. Dek, ayo berjuang lagi Mas ada di sini. Mas mohon Adek harus kuat. Mas sangat mencintai Adek karena Allah!"


Aziz tidak peduli seberapa menyedihkan wajahnya. Air mata berlinang deras ikut merasa sakit di sekujur tubuh ketika Khumaira kesakitan. Dia terus merapalkan doa agar Istrinya baik-baik saja, Amin. Aziz tidak kuasa memohon terus menerus agar Khumaira bisa melalui proses persalinan.


Khumaira memejamkan mata rapat tidak mau melihat Aziz begitu menyedihkan. Andai dia bisa ingin sekali dirinya mengejek Suaminya. Melihat air mata Suaminya membuat hati begitu ngilu. Khumaira tidak mau melihat Aziz menyedihkan seperti itu.


"Arghhhhhhh  ...! Mas ughhh enghhhh ...! Hils, arghhhhhhh ....!!!"


Dengan sekuat tenaga Khumaira menggenggam tangan Aziz dan mengejan hebat. Berhasil, dia mampu mengeluarkan buah hati mereka. Dia bernapas terputus-putus sebelum tersenyum haru. Pada akhirnya Khumaira mampu melahirkan buah cintanya bersama Aziz.


Aziz sontak sujud syukur menyambut kedatangan buah hatinya. Dia bersyukur pada Allah telah menyelamatkan Khumaira dan buah hati mereka. Dia tidak henti-hentinya mengucap takbir atas kebesaran Allah.


Sungguh Aziz begitu senang ketika Dokter menyerahkan anaknya penuh darah. Tanpa merasa risih dirinya menerima buah hatinya sedang menangis histeris. Dia dekap senyaman mungkin agar buah hatinya tidak merasa tegang. Aziz tersenyum haru mendengar tangisan bayinya dan sekarang bayi mungil itu terdiam dalam dekapannya.


Aziz mengangkat tubuh mungil anaknya agak tinggi. Dengan sayang dia dekatkan bibirnya ke telinga kanan sang anak untuk mengadzani. Di setiap lafadz Adzan tidak henti-hentinya ia menangis haru. Setelah selesai mengadzani Aziz berdoa sesudah Adzan, kemudian mendekatkan bibir ke telinga kiri untuk Iqamah.


Hati Khumaira menghangat mendengar suara lantang Aziz di setiap Lafadz Adzan. Dia menangis tersedu karena sangat bahagia akhirnya mampu memberikan kebahagiaan untuk Suaminya. Ya Allah, hari ini adalah hari paling membahagiakan untuk Khumaira. Pasalnya tepat di hari ini mampu memberikan Aziz semua kebahagiaan melimpah.


Aziz menciumi wajah bayinya tanpa peduli darah menempel di wajah dan pakaiannya. Dia kecup lama kening sang buah hati kemudian menyerahkan pada Khumaira hati-hati. Ia senang ketika Istrinya menerima hati-hati.


Khumaira menerima sang buah hati penuh suka cita. Dia telungkupkan sang anak di atas dadanya. Ia ciumi puncak kepala sang anak penuh kasih sayang. Selang beberapa menit bayi kecil itu di berikan pada suster untuk di mandikan. Khumaira jadi berat menyerahkan si kecil untuk dimandikan. Rasanya belum puas menggendong buah hatinya.


Aziz mengusap pipi Khumaira penuh cinta. Tanpa babibu lagi dia kecup bibir dan kening Istrinya tanpa tahu situasi dan kondisi. Dia tidak kuasa menahan tangis haru karena statusnya sudah menjadi Ayah sungguhan. Aziz sangat bahagia akhirnya bisa merasakan tegangnya menemani Istri persalinan.


"Dek, terima kasih banyak. Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Mas sangat bahagia menerima semua kebahagiaan ini. Mas sangat terharu, terima kasih banyak, Istriku."


Khumaira hanya mampu mengusap pipi tirus Aziz penuh suka cita. Dia belum sanggup mengeluarkan suara, pasalnya masih menahan sakit karena sekarang perutnya kembali sakit.


"Mas, ugh sakit."


Aziz masih belum bisa bernapas lega, pasalnya Khumaira harus berjuang kembali mengeluarkan plasenta. Dia terus menyemangati Istrinya sepenuh hati.


***


Aziz dan Khumaira sudah bersih. Kini Aziz bahkan sudah mandi dan mencuci tangan. Dia siap mentahnik Putranya agar lekas menerima asi. Ia tidak percaya yang lahir seorang anak tampan yang sangat menggemaskan. Dia sangat bahagia bisa menerima anak setampan ini. Percayalah Aziz begitu bahagia dan rencana mau anak perempuan untuk Adik si kecil.


Aziz duduk manis sembari menggendong Putranya. Dia ambil satu kurma sebelum itu mengucap doa dan melumatkan sedikit di mulutnya. Setelah itu mengambil sedikit kurma yang dia lumatkan, kemudian membaca doa kembali.


Aziz menaruh lumatan kurma sedikit tadi ke langit-langit mulut sang buah hati. Dia tersenyum tulus melihat anaknya klametan. Dengan linangan air mata haru ia ciumi wajah rupawan sang buah hati. Rambut Putranya hitam arang dengan pupil mirip Khumaira.


Khumaira tersenyum tatkala Aziz memberikan buah hatinya. Dia kembali tengkurapkan si anak di dadanya. Sebelum itu Khumaira membaca doa semoga asinya mampu menjadikan putranya sukses dunia akhirat setiap doa baik terus terlabuh untuk putranya.


Si kecil bersandar untuk mencari ****** Ibunya. Cukup lama si kecil mencari dan ketemu. Wajah tampan si kecil tampak senang bisa menyusu untuk pertama kalinya.


Khumaira terkekeh geli melihat Aziz tetap menangis. Cengeng sekali si makhluk narsis itu. Sedikit mengalihkan atensi dia menciumi puncak kepala Putranya dan mengusap pipi tembemnya.


"Mas, sampai kapan menangis. Lihat wajah Mas sangat jelek saat ini."


Khumaira tersenyum teduh ketika Aziz menghapus air mata kasar lalu nyengir polos. Sungguh Suaminya ini sangat langka. Patut di museumkan agar tetap terjaga. Namun, museumnya di hatinya yang paling dalam.


Aziz nyengir kuda melihat Khumaira polos. Dia mendekat ke arah Istrinya lalu menunduk untuk mengecup kepala anaknya. Ia sangat bahagia bisa menjadi Ayah dari si bayi tampan. Aziz memilih duduk lalu kembali menatap Khumaira dalam.


"Mas, tidak bisa membayangkan betapa keren Mas bisa membuat bayi setampan itu. Sungguh bangga anak kita menurun sempurna pada ketampanan, Mas. Luar biasa Mas bisa menambah personil baru yaitu Dedek bayi. Dia begitu tampan seprti Mas, rasanya bangga akhirnya Putraku lahir."


Khumaira memutar bola mata bosan mendengar perkataan Aziz. Dia pikir Suaminya akan mengatakan kalimat romantis nah ini kebalikannya. Dasar narsis tidak tertolong, dan sayangnya mahluk 4 dimensi itu adalah orang yang sangat berarti. Khumaira lupa kenapa bisa tidak ingat Aziz itu alien ganteng yang nyasar di bumi.


"Terserah, Mas mau bicara apa."


Aziz tersenyum mendengar jawaban Khumaira. Dia berdiri menjulang di depan Istrinya lalu menunduk untuk mengecup kening sang Istri. Kemudian mencium pelipis Putranya cukup lama. Tangan Aziz tidak bisa berhenti mengusap pipi gembul sang buah hati.


Aziz menangkup pipi Khumaira lembut dan perlahan bibir mendarat di atas bibir Istrinya. Dia ***** kecil bibir tebal Istrinya penuh cinta. Semua terasa indah menerima balasan sang Istri. Cukup lama sampai keduanya tidak tahu Putra kecil sudah tertidur.


Kini jam menunjuk pukul 2 dini hari, namun pasangan ini tidak kunjung berhenti saling menatap. Aziz mengecup kepala Putranya dengan suka cita. Semua sudah tertulis dalam takdir yang sangat membahagiakan.


Khumaira tersenyum manis ketika Putra tampannya terlelap dan Aziz mengecup kepala anaknya. Dia tidak kuasa menahan senyum saat sang Suami begitu manis memperlakukan mereka begitu manis. Khumaira meminta Aziz untuk menidurkan Putra mereka. Tentu Suaminya membawa sang Putra untuk tidur di boks bayi yang telah di siapkan.


Waduh sepertinya dia melupakan sesuatu hal menarik. Tetapi, apa? Ya Allah, Aziz lupa mengabari keluarganya kalau Khumaira sudah melahirkan. Sontak dirinya mengabari keluarganya dan keluarga Istrinya. Selesai menelepon ia mendengar panggilan sang Istri. Aziz tersenyum manis tatkala Khumaira meminta dia untuk duduk di ranjang.


Senyum terikur saat Suaminya ikut bergabung di brankar. Khumaira bersandar di bahu lebar Aziz dengan tangan menaut. Dia sangat bahagia karena semuanya terasa manis dengan hadirnya di kecil. Khumaira berharap rumah tangganya semakin manis bersama Aziz.


"Mas, apa tidak mengantuk?"


"Tidak, karena Mas sangat bahagia sampai lupa rasa kantuk. Tidur gih supaya besok banyak tenaga buat mengobrol dengan keluarga kita. Mas akan menjaga kalian dalam pandangan ini. Mas ingin katakan banyak kali kalau Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Terima kasih sudah menjadikan Mas sosok Ayah. Mas sangat bahagia akan semua karunia-Nya. Mas sangat mencintai Adek karena Allah serta mencintai Tole Ridwan dan Dedek bayi. Kalian semua adalah pelita hidup untuk Mas. Terima kasih banyak Sayangku."


Aziz kembali menitikan air mata haru saat mengingat sudah menjadi sosok Ayah. Dia tidak pernah menyangka hidupnya begitu sempurna dengan mendapatkan Khumaira dan anak-anak. Sangat bahagia sampai ia lupa segalanya. Semua jadi nyata ketika anak mereka telah lahir di dunia. Dia tidak menginginkan harta berlimpah, pasalnya harta paling berharga hanya ada keluarga kecil di atas segalanya.


Khumaira mendongak menatap Aziz lagi-lagi menitikan air mata. Dia sangat tahu Suaminya begitu terharu. Jari mungilnya terulur untuk mengusap air mata Suaminya dan memberikan ciuman di setiap permukaan wajah itu. Khumaira tidak mau melihat mata tajam Aziz menitikkan air mata berulang kali.


"Adek juga sangat bahagia, Mas. Semua yang kita rasakan adalah sama. Terima kasih Masku. Aku sangat bahagia atas semua ini. Terima kasih sudah mencintai kami begitu tulus. Adek sayang Mas karena Allah."


Aziz mengecup kening Khumaira sebelum saling diam menyelami kebersamaan. Ia begitu bahagia akan karunia Allah. Dia terus berdoa semoga rumah tangganya selalu mendapat cinta. Aziz sangat bahagia menerima kepercayaan-Nya untuk menjadi Ayah yang sesungguhnya.


Khumaira yang mengantuk pada akhirnya tertidur pulas dalam dekapan Aziz. Hal paling nyaman yaitu ketika dirinya merengkuh erat Suaminya. Baginya tubuh paling nyaman untuk bersandar atau memilih kenyamanan ya Suaminya. Khumaira bisa langsung tidur jikalau Aziz mendekap tubuhnya posesif.


***


Bayi tampan tertidur pulas karena habis mandi dan menyusu. Si kecil mungil menarik atensi banyak orang. Mereka sangat gemas melihat betapa tampan anak kecil itu. Jelas mereka tahu sekaligus sadar Ayah biologis si kecil memiliki garis wajah rupawan. Namun, ada kekurangan yaitu gila akan kenarsisam tinggi.


Aziz tersenyum bangga atas pujian mereka tentang Putranya. Dia tatap lamat-lamat sang Putra penuh haru. Dia ulurkan tangan untuk mengecup pipi bulat anaknya. Ia bangga bisa menghasilkan anak setampan ini. Bagi Aziz dirinya begitu bahagia dikaruniai anak semanis ini.


"Putraku sangat tampan itu pasti karena Ayahnya sangat tampan. Dedek Ridwan lihat Dedek bayi sudah lahir. Kita tambah personil rupawan, hahaha. Nanti kita ajak main Dedek kecil kalau sudah bisa jalan. Dedek sangat senang bukan?"


Aziz memangku Ridwan sembari bercakap lucu. Dia tidak peduli pandangan horor Khumaira dan tawa kecil keluarganya. Baginya mari bercanda bersama si kecil no satu. Aziz tidak akan pernah membedakan Ridwan dan anak-anaknya kelak. Baginya anak dalam pangkuannya juga anaknya. Ia sudah menganggap Ridwan seperti anaknya sendiri.


Ridwan tersenyum lebar memperlihatkan lesung pipi manis. Dia bertepuk heboh kemudian mencium pipi Aziz. Si kecil tidak sabar bermain bersama Dedek bayi. Ridwan akan menghabiskan waktu bersama Adiknya yang manis.


"Ayah benar, Dadek sangat tampan kayak Dedek besar. Yee, Dedek besar punya Dedek kecil. Umi tidak masuk kan, Ayah? Kasihan Umi tidak ikut grup karena isinya para pria tampam. Uhuy, Dedek punya Dedek ganteng!"


Mereka menepuk kening mendengar nada polos tetapi narsis yang Ridwan keluarkan. Mereka benar-benar pening melihat sikap Aziz terkesan sangat berbahaya dengan virus kuat. Semoga saja besarnya Ridwan kalem, ramah dan sopan macam Abinya, Amin.


Aziz langsung menciumi puncak kepala Ridwan karena bangga. Dia sangat bahagia Putranya punya sikap percaya diri selangit kayak dirinya. Sementara Khumaira merasa gila memiliki dua manusia narsis tidak tertolong. Izinkan dia menuntun Putranya agar tidak gila macam Suaminya.


"Kita tampan itu tidak bisa di ganggu gugat. Ayah pertama, Dedek besar kedua dan terakhir Dedek bayi. Ayah sangat bangga pada Dedek karena anak Ayah begitu memukau dan sangat cerdas."


"Itu benar, hore! Ye, Dedek sangat bahagia Ayah. Yosh ...! Dedek sangat tampan kayak Ayah. Hehehe, Dedek senang sekali."


Selagi berceloteh tangan kecil Ridwan mengusap pipi gembul Dedek bayi. Alhasil si kecil terbangun akibat ulah Kakaknya yang jahil. Dan lihat Ridwan begitu heboh melihat Adiknya terbangun.


Khumaira menepuk kening melihat si kecil menangis keras gara-gara pekikan heboh Ridwan. Putranya begitu hiperaktif seperti Aziz sampai sekecil meraung. Kalau begini dia harus sabar menghadapi 2 narsis di rumahnya nanti. Doa pengharapan teralun semoga Putra kecilnya tidak memiliki sikap seperti Ayahnya, Amin. Tetapi, itu mustahil!


Aziz hanya tersenyum ketika Khumaira begitu lucu. Dia sangat senang melihat 3 malaikat baginya tersenyum manis. Tidak ada kebahagiaan selain melihat mereka tersenyum bahagia. Lihat Ridwan-nya sedang asyik duduk di samping Istrinya. Tangan kecil itu tidak bisa berhenti untuk mengusap pipi gembul Adiknya. Rasa haru melingkupi hati Aziz ketika Khumaira memberikan ciuman sayang di wajah Ridwan dan si kecil.


"Terima kasih banyak ya Allah atas kebahagiaan ini. Hamba sangat bahagia Engkau memberikan semua cinta untukku. Terima kasih untuk semua yang Engkau labuhkan. Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar ..Laa-Ilaaha-Illallaahu Wallaahu Akbar.Allaahu Akbar Walillaahil-Hamd. Terima kasih atas kebesaran-Mu ya Allah," batin Aziz sembari tersenyum tulus.


❤Bonus picture Dedek Bayi❤


calon penerus Ayah Aziz. Anak ganteng ini akan mengaku besarnya sebagai Pangerana tertampan di Dunia. Geser lebih gila dari si Ayah.