
Aziz dan Khumaira masih betah duduk di lantai. Lihat Khumaira masih bersemu gara-gara perkataan tadi. Entah kenapa duduk di paha Aziz rasanya nyaman apa lagi mendapat pelukan hangat. Khumaira mendusal mencari kenyamanan lebih dari Suaminya.
Aziz menahan diri ketika mendengar perkataan Khumaira yang begitu berarti. Baginya itu sebuah alunan melodi untuk dirinya. Dia rengkuh punggung Istrinya agar terasa nyaman. Aziz tersenyum saja saat Khumaira begitu manja mendusal seperti Ridwan ketika kedinginan.
"Mbak, ayo ke kamar."
Khumaira meremas baju depan Aziz karena berdebar. Dia harus berani demi kebaikan bersama. Ajakan Suaminya mengalun indah membuatnya mendongak menatap mata tajam sang Suami. Khumaira tersenyum teduh saat Aziz menatapnya dalam.
Aziz usap pipi bulat Khumaira terasa menggemaskan. Walau tubuh Istrinya terkesan ehem pendek. Namun tubuh Istrinya ini molek menggoda iman. Aziz bisa merasakan itu saat Khumaira mendekapnya erat. Maklum ia pemuda dewasa yang pastinya punya gairah.
"Gendong," ucap Khumaira seraya tersipu malu.
"He?"
Khumaira mencebikkan bibir mendengar respons Aziz. Dengan berani dia menangkup pipi tirus Suaminya dan memberikan ciuman di sudut bibir. Dia terkekeh geli melihat respons Suaminya begitu menggemaskan.
Aziz melongo mendapat serangan Khumaira. Asli ia ingin menerkam Istrinya sekarang juga. Nakal sekali asal nyosor kan ia malu jadinya. Tahukah Istrinya jiwa di bawah sana berkobar?
"Mas ngga kuat ya gendong saya? Badan sebesar ini ngga mampu membawa ke kamar? Tidak dapat di percaya," celetuk Khumaira dengan nada mengejek.
"Mbak mau di gendong keliling dunia ayo aku siap? Jikalau Mbak ingin Aziz memetik bintang sembari menggendong Mbak aku siap melakukan itu. Apa Mbak mau aku mengantar ke sekolah sambil menggendong Mbak? Apa pun untukmu akan aku berikan. Nyawaku untukmu dan semuanya milik, Mbak."
Khumaira langsung kicep dengan wajah merah merekah. Jantungnya berdegup kencang serta hatinya bak taman bunga yang di terbangi banyak kupu-kupu. Dia yang menggoda kenapa di balas godaan manis. Sungguh wajah putih Khumaira bersemu bak kepiting rebus.
Aziz tersenyum melihat Khumaira merona dan itu terlihat sangat manis. Sejatinya itu tulus dari hati, tetapi Khumaira menyalah artikan sebagai godaan. Biarkan saja asal dia menyampaikan rasa dengan rayuan.
"Mas terlalu perayu. Sudah narsis, tajam, perayu dan luar biasa percaya diri itu keren sekali. Sudah aku mau memanaskan makanan dulu. Mas katanya belum makan, ayo makan dulu."
Khumaira hendak beranjak namun di tahan Aziz. Dia menatap Suaminya aneh kenapa melakukan itu? Hingga tubuhnya melayang di udara. Sontak ia mengalungkan tangan di bahu Suaminya.
Aziz mengangkat tubuh Khumaira tanpa keberatan. Mata berpupil cokelat keemasan itu menyorot teduh. Istrinya sudah meminta maka harus di turuti. Aziz bahkan rela menggendong Khumaira sampai Madrasah asal Istrinya senang.
"Kyaa ...."Khumaira memekik ketika Aziz menggendong tubuhnya.
"Mbak katanya mau gendong, ayo aku antar."
Aziz melangkah dengan santai keluar kamar Ridwan. Langkah kaki membawa mereka ke dapur. Perlahan Aziz menurunkan Khumaira di kursi. Tubuhnya masih condong mengurung tubuh mungil Istrinya. Memang jika begini Aziz akui Khumaira terlihat begitu kecil dalam dekapannya.
Khumaira masih berpegangan pada lengan kekar Aziz. Mata cokelat tuanya terus menatap mata Suaminya. Ia menunduk karena tidak berani menatap Suaminya dalam. Khumaira merasa sangat gugup berada di kungkungan Aziz.
"Mbak, buatlah susu atau apalah untuk kita berdua."
Aziz merasa tegang pasalnya ini pertama kali akan melakukan hubungan intim. Sungguh dia hanya belajar di kitab sembari mempelajari dengan benar. Aziz perlahan menegakan tubuh agar bisa menghalau gugup.
Khumaira terdiam mendengar perintah Aziz. Pipinya merona parah sekaligus haru jika ingat sebentar lagi semua akan terjadi. Dia mendongak menatap Suaminya bersemu. Khumaira jadi gemas melihat Aziz malu-malu kayak kucing ketemu pasangan.
"Kita tidak makan dulu, Mas? Jujur aku lapar," lirih Khumaira dengan pipi merona.
"Boleh, biar tambah semangat."
Aziz berpaling begitu pun Khumaira. Wajah mereka bersemu ketika situasi terasa panas. Keduanya menggaruk pelipis gugup. Bahkan tampak kompak saat menggaruk tengkuk dan gigitan bibir bawah.
Aziz dan Khumaira makan dengan tenang tanpa ada obrolan seperti ada Ridwan. Usai itu Khumaira mencuci piring dan membuat susu untuk ritual malam pertama. Sedangkan Aziz lebih dulu masuk kamar menyiapkan mental.
...***...
Khumaira terlebih dahulu masuk kamar mandi. Dia membersihkan diri dengan membasuh wajah dan bersiwak, kemudian berwudhu. Usai itu semua Khumaira keluar lalu tersenyum manis untuk Aziz.
Aziz tersenyum tipis saat Khumaira selesai di kamar mandi. Ia balik tersenyum teduh tatkala Istrinya tersenyum manis. Dia masuk kamar mandi untuk melakukan hal sama. Saat keluar Istrinya sudah memakai mukena sembari menunggunya.
Khumaira menatap Aziz sembari tersenyum tulus. Dia sudah menyiapkan semua dan kini ia siap menjadi makmum yang baik. Khumaira menatap Aziz sedangkan ganti pakaian dan sarung. Saat Suaminya memakai kopiah hitam polos rasanya degup jantungnya menggila. Khumaira terpesona akan ketampanan Aziz yang memikat.
Pantas saja banyak wanita mencintai Suaminya terang-terangan. Khumaira sangat sadar seberapa berbahaya karisma Aziz yang luar biasa. Bisa di bilang Suaminya ini ciri khas pria maskulin dengan sejuta pesona memikat.
Lamunan Khumaira luntur saat Aziz menepuk tangan. Dia tersenyum saat Istrinya menatapnya mendamba. Banyak wanita menatap memuja, tetapi hanya Istrinya yang bisa membuat salah tingkah. Aziz sangat bahagia Khumaira menyadari betapa tampan dirinya.
Shalat dua rakaat telah terlaksana. Aziz berdoa setelah Shalat dan di amini Khumaira. Ritual pertama selesai, Aziz berbalik untuk mengajak salaman Khumaira.
Khumaira mengecup punggung tangan Aziz dengan linangan air mata. Sungguh ini akan menjadi malam panjang bagi keduanya.
Aziz menggenggam tangan mungil Khumaira lalu mengecupnya. Dia mundur ke belakang untuk duduk di samping Istrinya.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Makmum, 'ku."
"Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Imamku."
Aziz dan Khumaira saling melempar senyum haru. Keduanya saling menatap penuh arti. Hingga perlahan tangan Aziz terangkat untuk menyentuh ubun-ubun Khumaira.
Dengan khusyuk Aziz berdoa : "Bismillahirrahmanirrahim Allahumma inni as-aluka min khairihaa wa Khairi maa jabaltahaa alaihi wa 'audzubika min syarrihaa wa syarri maa fiihaa wa syarri maa jabaltahaa alaihi."
Khumaira menangis haru merasakan sentuhan lembut di kepalanya. Apa lagi saat mendengar doa Aziz rasanya begitu terharu. Dia menggenggam tangan besar Suaminya dan meremasnya pelan.
Aziz tersenyum teduh melihat Khumaira terasa mendebarkan. Dia ingin memanggil nama Khumaira dengan Syafa. Namun, belum siap menerima penolakan. Aziz menghapus air mata Khumaira serta membiarkan tangan di remas sang Istri
"Apa saya boleh mengecup kening, Mbak?"
Khumaira mendongak menatap mata cokelat Aziz. Dengan senyum haru dia menjawab, "Mas tidak perlu izin, saya Istri, Mas. Jangan sungkan melakukan itu karena saya milik, Mas."
"Jazakimullah khairan katsiran, saya sangat bahagia."
"Wa jazakumallah khairan katsiran, saya juga sangat bahagia."
Aziz menangkup pipi Khumaira lembut dan perlahan mendaratkan kecupan di kening Istrinya. Setitik air mata luruh karena sangat bahagia. Benarkah ini buah dari kesabaran? Rasanya Aziz tidak percaya Syafa-nya telah datang.
Khumaira memejamkan mata meresapi ciuman Aziz di kening. Khumaira tersenyum teduh sembari menangis bersama Suaminya. Dia begitu bahagia sampai rasanya begitu mendebarkan.
"Mas," lirih Khumaira.
Aziz tersenyum tulus lalu mengecup pipi dan terakhir hidung. Dia sangat bahagia sampai air mata tidak mampu berhenti.
Khumaira menghapus air mata Aziz. Lihat dia bahkan juga menangis lebih deras. Rasanya sangat mendebarkan dan mengharukan ketika menatap Suaminya.
Setelah melipat sajadah dan melepas semua alat Shalat. Aziz dan Khumaira duduk di tepi ranjang. Tampak mereka saling diam dengan binar haru.
Khumaira mengambil gelas berisi air susu. Dia menyodorkan gelas itu pada Aziz agar Suaminya dulu yang minum. Namun, mendapat gelengan dari Suaminya.
Aziz tersenyum melihat Khumaira protes. Dia ingin Istrinya terlebih dahulu yang minum sebelum dirinya. Ia tersenyum saja saat Istrinya menggeleng lucu. Aziz ingin mencubit gemas pipi gembul Khumaira sampai puas.
"Mbak dulu, biar saya setelah, Mbak."
Khumaira mengangguk lalu mengucap Bismillah dan meneguk air susu tiga teguk. Setelah itu mengucap Alhamdulillah. Kemudian memberikan gelas berisi susu pada Suaminya.
Aziz menerima gelas sembari tersenyum tulus. Dia meletakan bibirnya di mana Khumaira tadi meminum. Dengan mengucap Bismillah dia teguk seluruh air susu. Setelah habis ia mengucap Alhamdulillah. Aziz meletakan gelas di nakas dan kini mereka berhadapan.
"Mas," panggil Khumaira seraya tersenyum tulus.
"Dalem, Mbak."
Khumaira meremas jari sendiri karena tidak enak mengatakan ini. Dia sangat gelisah apa Aziz akan menerima. Khumaira gelisah Aziz menolak akan semua ini.
"Mbak ada apa? Apa kita undur ini ___"
"Mas, aku takut dan jangan undur. Kita akan melakukan itu."
Aziz meremas jari Khumaira dan meletakan di pahanya. Istrinya takut karena apa? Hingga Istrinya menatapnya begitu dalam. Sebenarnya ada apa? Apa yang menggangu pikiran sang Istri?
Khumaira kembali menunduk dalam menyembunyikan kegelisahan. Dia tanpa sadar meremas kuat tangan Aziz. Ia takut Suaminya salah paham akan dirinya.
"Katakan, Insya Allah aku akan membantu memecahkan kegelisahan, Mbak."
"Mas, sebenarnya ini masa suburku. Tadi pagi saya baru saja selesai mandi besar. Jika nanti saya hamil lebih awal bagaimana? Apa Mas siap menjadi Ayah sungguhan?"
Khumaira menunduk takut mendapat respons Aziz. Hingga dia merasakan sebuah pelukan hangat dari Suaminya. Hangat sekali sampai ia ingin menangis penuh keharuan.
Aziz tersenyum mendengar pertanyaan Khumaira. Jadi Istrinya takut dia belum siap menjadi Ayah. Bahkan itu yang ingin Aziz raih dari Khumaira. Dia ingin Istrinya cepat mengandung darah dagingnya agar kebahagiaan tambah berlimpah.
"Apa selama ini saya belum siap menjadi seorang Ayah, Mbak? Tole Ridwan adalah Putraku dan aku sangat menanti Tole mendapat Adik lebih cepat. Mbak, aku sangat menanti saat itu tiba ketika Istriku mengandung benihku. Aku sangat siap bahkan berharap langsung jadi agar Dedek tidak kesepian."
"Mas," lirih Khumaira tidak mampu membalas perkataan Aziz.
Mereka saling merengkuh menyesap aroma tubuh. Aziz mengurai pelukan mereka dan menangkup pipi gembil Khumaira. Sedangkan Khumaira terdiam sepi menerima tangkupan Aziz.
"Mbak ... boleh aku memanggil Mbak dengan sebutan baru?"
"Panggilan apa?"
"Dek Syafa."
...Deg...
Khumaira menegang mendengar panggilan baru Aziz. Entah sejak kapan air mata luruh deras mendengar panggilan baru itu. Sungguh itu panggilan lembut dari cinta pertamanya.
Rasa haru melingkupi hati Khumaira ketika Aziz memanggil dengan begitu. Rasa senang luar biasa hinggap dan entah kenapa detak jantung yang hilang untuk cintanya telah kembali. Khumaira tidak mampu membendung air matanya karena itu sangat membahagiakan.
Melihat Khumaira menangis membuat Aziz panik. Apa panggilan baru itu sangat aneh? Sungguh dia tidak sanggup melihat air mata Istrinya berlinang deras tanpa bisa berhenti. Aziz menyeka air mata Khumaira supaya tenang. Bukan tenang Khumaira malah menangis lebih keras lalu merengkuh tubuhnya erat.
"Mbak, apa itu aneh. Ah saya akan ...."
"Tidak ... aku sangat senang Mas memanggil saya dengan sebutan, Dek Syafa."
"Benarkah? Jadi saya boleh memanggil Mbak begitu?"
Binar kebahagiaan terpancar di wajah Aziz. Dia tidak mampu menahan senyum ketika Khumaira mengiyakan permintaannya. Tanpa sadar Aziz mencium wajah Khumaira begitu senang.
Khumaira tersenyum sembari menangis haru mendapat kebahagiaan Aziz. Senyum teduh yang selama ini ia harapkan telah hadir. Suaminya begitu bahagia sampai menular padanya. Hingga Khumaira mengurai pelukan mereka.
"Panggil saya Dek Syafa karena saya Syafa-nya, Mas."
Aziz langsung memeluk Khumaira erat dan menciumi puncak kepala Istrinya penuh haru. Syafa-nya telah datang dalam rengkuhan hangat. Sungguh Aziz sangat bahagia mendengar perkataan Khumaira.
Khumaira merengkuh Aziz erat karena ini hari paling membahagiakan untuknya. Jemari lentik Khumaira terus mengusap rambut Aziz. Dia juga sangat bahagia cinta pertamanya begitu bahagia mendengar perka.
"Dek Syafa," bisik Aziz membuat Khumaira tambah mengeratkan pelukannya.
"Dek, sampai kapan kamu memeluk Mas?" goda Aziz.
Khumaira langsung melepas pelukannya dan memilih menunduk. Hingga dia merasa pipinya di cubit gemas. Dia merengut sebal karena Aziz mencubit pipinya terlalu.
Aziz terkekeh geli melihat Khumaira cemberut lucu sekali. Dia kembali mencubit gemas pipi gembul Istrinya. Ia tambah tertawa saat Khumaira balik mencubit pipinya. Aziz senang Khumaira merengut lucu begitu.
"Mas, ini sakit. Jangan cubit terlalu."
"Aku sangat menyukai pipi gembul, Adek."
"Nanti tambah gembul bagaimana jika di cubit?"
"Biarkan saja, nanti Adek dapat gigitan karena imut."
"Mas, dasar nakal."
Aziz tertawa membuat Khumaira merajuk. Dia langsung mengecup pipi bulat Khumaira dan menggigit pelan. Lihat Istrinya menatapnya sebal dan itu sangat menggemaskan.
Khumaira memukuli lengan kekar Aziz yang nakal. Hingga tangannya di genggam erat oleh Suaminya. Kini ia tidak bisa bergerak leluasa. Khumaira menatap Aziz tampakbegitu senang bermain pada pipinya.
"Mas, Aish kok di gigit sih."
"Karena Mas gemas makannya ingin mengigit pipi, Adek. Adek Syafa imut ketika merajuk, Mas suka."
Khumaira bersemu karena panggilan itu dan ungkapkan suka. Mungkin itu semua hanya guyonan, jangan terbawa suasana. Dia tersenyum tulus melihat Aziz begitu ekspresif. Khumaira sangat terpesona akan senyum manis Suaminya.
Aziz tetap jahil membuat Khumaira ingin gigit. Dia merengkuh erat Suaminya lalu mencubit gemas pinggang sang Suami. Ia balik mengerjai membuat Suaminya tertawa.
"Mas, berhenti jangan jahil."
"Hehehe, maaf."
Mata mereka saling mengunci menyelami keindahan manik masing-masing. Aziz tersenyum begitu pun Khumaira. Mungkin sekarang masuk ke inti malam pertama. Aziz dan Khumaira saling melempar senyum dengan pandangan terus terkunci.
"Apa kita bisa mulai, Dek?"
Khumaira hanya mengganguk setuju sembari menggenggam tangan besar Aziz. Ini malam penyatuan pertama mereka menuju kebahagiaan bersama.
Aziz meminta Khumaira untuk ikut berdoa bersama sebelum ke inti. Inilah awal saat semuanya sudah di terangi. Baik Aziz dan Khumaira sama-sama begitu saling membutuhkan. Mereka menatap dalam sebelum do’a di ucapkan oleh Aziz dan Khumaira.
"Bismillah, Allahumma jannibnaa asy-syaithana Jannibis syaithana wa rozaqtana."
Aziz dan Khumaira berdoa sembari saling menatap. Napas mereka memburu dengan senyum haru. Mereka saling menatap penuh damba. Baik Aziz dan Khumaira sama-sama gugup akan malam penyatuan mereka.
"Dek, boleh Mas membuka hijab, Adek?"
"Bukalah, semua milik Mas."
Aziz membuka hijab Khumaira dan terlihat sosok cantik menawan. Tangannya terulur untuk melepas jepit rambut Istrinya, alhasil rambut panjang itu tergerai sempurna.
Khumaira tersipu malu menyembunyikan wajah merona. Hingga dagu terangkat memperlihatkan keanggunan. Khumaira berdesir saat Aziz terus menatap mendamba.
"Masya Allah, cantik sekali Istriku," puji Aziz.
"Mas," lirih Khumaira malu-malu.
Aziz terpesona melihat Khumaira begitu cantik dengan rambut tergerai indah. Dia mengambil beberapa helai untuk menyesap aroma meneduhkan.
Khumaira menatap Aziz malu-malu ketika Aziz menangkup pipinya, usai menyesap rambutnya. Sungguh Khumaira begitu bahagia saat Suaminya izin untuk mengecup bibirnya. Rasanya begitu di hormati sehingga membuat dirinya begitu sempurna.
Aziz hanya menempelkan bibir tanpa pergerakan. Namun, perlahan menjadi sedikit beda ketika dia menggerakkan bibir. Senyum Aziz terukir ketika Khumaira membalas ciumannya.
Ciuman panas terjadi dan semua menjadi saksi bisu di malam panjang penuh kebahagiaan. Hanya ada kebahagiaan halal mengiringi momen panjang penuh suka cita. Inilah kebahagiaan sesungguhnya saat mereka saling menyatu penuh suka cita. Cinta terpendam membuat aliran baru. Sebuah hubungan intim di dasari kebahagiaan, cinta dan ibadah melebur menjadi cahaya.