
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," salam Aziz.
"Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh," jawab Khumaira.
Khumaira menyalami Aziz ketika Suaminya baru pulang jumatan. Senyum manis terukir indah tatkala Aziz mengusap rambutnya.
Aziz tersenyum tipis melihat Khumaira begitu manis. Dia usap rambut Istrinya penuh sayang lalu beralih mengusap pipi. Ia sangat bahagia akhirnya wanitanya telah menjadi miliknya. Aziz sangat mencintai Khumaira sepenuh hati.
"Gih siap-siap kita jemput, Dedek Ridwan."
"Tidak makan dulu, Mas? Aku sudah siapkan makanan tadi."
"Boleh, tunggu Mas ganti baju dulu."
"Akan aku tunggu."
Khumaira hendak berjalan menjauh, namun terhenti ketika Aziz menarik tangannya. Alhasil dia tertarik cukup kuat dan berakhir di pelukan Aziz.
Chup
Aziz mengecup bibir Khumaira singkat dan langsung lari ke kamar. Dia terkekeh geli melihat Istrinya tidak kunjung sadar. Dasar lamban Khumaira itu sampai membuat Aziz gemas.
Khumaira masih terpaku dengan mata mengerjap. Perlahan matanya membulat sempurna setelah tahu dia di kerjai. Perempatan imajiner menyembul gara-gara Suami jahilnya.
"Mas Aziz ....!!!"
Aziz tertawa terbahak-bahak di dalam kamar. Dia buru-buru sembunyi di balik pintu ketika mendengar derap kaki menuju kamar. Aziz tidak mau jadi korban empuk Khumaira.
Khumaira masuk kamar dengan membawa spatula. Tujuan untuk menggetok kepala Aziz. Di mana Suami anehnya? Awas saja kalau ketemu bakal habis.
Aziz langsung merengkuh Khumaira dari belakang ketika sang Istri celangak celinguk. Dia menyibak rambut panjang Istrinya lalu menggigit manja bahu Istrinya. Aziz rengkuh posesif tubuh Khumaira sembari menciumi leher sang Istri.
Khumaira terpaku mendapat pelukan erat Aziz. Dia juga menegang tatkala Suaminya menggigit bahunya. Tubuhnya panas akibat Suaminya begitu lihai mengerjai dirinya.
"Mas!"
"Mau apa bawa spatula, Dek? Mau goreng ikan bukan di kamar. Gih balik ke dapur jangan-jangan ada yang gosong."
"Eh? Ya Allah ... aku lupa Mas tadi goreng tahu. Aaa ....!" Khumaira langsung mengacir ke dapur. Dia sampai lupa tadi lagi goreng tahu. Alhasil tahunya gosong sontak membuat Khumaira panik.
Aziz tertawa melihat kelakuan ajaib Khumaira. Ini spatula jatuh di lantai lalu bagaimana mau membalik tahu?
"Mas, spatula di mana?" teriak Khumaira dari dapur. Ia sibuk mencari spatula hingga akhirnya tersenyum saat mendapat penerang di mana spatula.
“Kamar!” sahut Aziz sambil terkekeh geli.
Khumaira kembali ke kamar lalu mengambil spatula yang ada di tangan Aziz. Dia tersenyum manis dan dengan nakal menepuk kepala Suaminya.
Aziz mengaduh pelan menerima getokkan spatula. Kemudian senyum manis terukir sempurna akan tingkah Khumaira. Sementara Khumaira tersenyum puas sudah mengetok kepala Aziz.
"Aku sangat bahagia melihat kita begini, Dek. Aku sangat mencintaimu karena Allah," lirih Aziz.
Khumaira menghidangkan masakannya di meja makan. Tidak lama Suaminya keluar menggunakan pakaian kasual. Kenapa Suaminya keren sekali menggunakan pakaian itu? Khumaira berpaling tidak sanggup melihat Aziz begitu mempesona.
Aziz tersenyum melihat Khumaira terkesima akan penampilannya. Apa Istrinya baru sadar betapa rupawan dirinya? Walau ia pakai pakaian lusuh wajah rupawannya tidak akan luntur. Pada akhirnya Aziz meminta Khumaira duduk di sampingnya. Kini saatnya makan baru menjemput Ridwan.
"Bismillahirrahmanirrahim Allahumma baarik lanaa fiima Razaqtanaa wa qinaa! Adzaabannaar."
Aziz dan Khumaira makan dalam diam. Seperti tadi pagi mereka saling menyuapi dan sesekali saling menggoda.
Aziz mengusap bibir Khumaira sembari mengukir senyum tipis. Dia senang ketika Istrinya menunduk malu. Rasanya sangat bahagia ketika Istrinya malu-malu karena ulahnya.
Khumaira menunduk dalam menyembunyikan wajah merona bak kepiting rebus. Dia tidak sadar betapa keras degup jantungnya. Pipinya terasa panas seperti terbakar oleh api cinta.
"Tinggal suapan terakhir, aaa ....!"
Khumaira membuka mulut sedikit lebar, namun Aziz malah memakan sendiri. Melihat itu sontak dirinya menatap sebal Suaminya.
Aziz malah terkekeh melihat Khumaira merengut lucu. Ia senang sekali menjahili Istrinya yang manis ini. Lihatlah saat merajuk Istrinya begitu menggemaskan.
"Salah masuk, Dek."
"Astagfirullahaladzim."
"Maaf."
Khumaira mengambil gelas untuk menutup makan. Setelah habis satu gelas ia berdoa setelah makan begitu pun Aziz.
Aziz duduk manis seraya menatap Khumaira penuh arti. Dia ingin semua berakhir bahagia. Sejatinya ia ingin mengutarakan isi hati, tetapi apa tanggapan Khumaira tentangnya. Lebih baik Aziz pendam cintanya baru setelah siap akan mengatakan pada Khumaira.
"Aku ingin jujur tepi takut Adek marah. Biarkan aku tahan rasa ini sampai waktunya tiba. Dek Syafa, aku sangat mencintaimu. Semoga kita bisa bersama selamanya. Maaf aku belum bisa mengutarakan isi hati padamu. Namun, tunggulah saat itu tiba maka semua terungkap. Aku takut hubungan manis ini renggang karena sebuah perasaan cinta," monolog Aziz dalam hati.
"Mas, kenapa melamun?"
"Tidak ... Dek apa boleh Mas meminta Tole memanggil Ayah?"
Khumaira terdiam mendengar permintaan Aziz. Dia tersenyum tulus sembari menggenggam tangan besar Aziz. Suaminya ini lucu sekali sampai gemas ingin nyubit.
"Tentu saja, sekarang Mas punya hak atas, Tole Ridwan."
"Alhamdulillah, terima kasih banyak, Dek."
"Sama-sama, Mas."
***
Aku di mana? Tempat apa ini, kenapa rasanya begitu asing. Aku edarkan pandangan ke seluruh tempat. Yang kulihat hanya hamparan rerumputan dengan background air terjun. Di mana ini?
"Mas, tolong aku. Di mana ini?"
Aku sangat ketakutan hingga seseorang menepuk bahuku. Sontak aku berbalik dan menghadap siapa pelakunya.
Mundur beberapa langkah saat menatap siapa orang di depanku. Ya Allah, apa ini? Di mana aku sekarang?
Siapa pria di depanku? Kenapa sangat mirip dengan Masku Azzam. Ya Allah, tolong jangan membuat aku dilema.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Dek."
Suara ini, wajah itu. Semuanya mirip dengan Masku. Ya Allah siapa pun tolong bangunkan aku dari mimpi. Ini mimpi itu pasti, Masku telah tiada.
Masku telah pergi, lalu siapa pria itu? Ya Allah di mana ini? Aku tidak kuat, tolong bangunkan aku dari mimpi ini.
Kenapa rasanya begitu nyata. Aku di mana, ya Allah?
"Tidak baik salam tidak di jawab, Dek. Apa sudah lupa sama, Mas?"
Suara, logat dan semua itu Masku sekali. Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan?
"Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Mas."
Mas Azzam mendekat dan aku berusaha menghindar. Jangan mendekat, siapa kamu? Mas Aziz, tolong aku.
Aku melihat orang yang sangat mirip Masku menangis dan jatuh di rerumputan. Dia menutup wajahnya menggunakan tangga. Kenapa rasanya hatiku pedih melihatnya menangis?
"Adek sudah melupakan, Mas. Kenapa begitu mudah Adek campakkan cinta Mas?"
Aku bergetar mendengar perkataannya. Kenapa begini, tolong kamu siapa? Ini mimpikan? Kenapa Masku terasa nyata dan sangat mirip dengan Masku?
"Siapa kamu? Tolong jangan membuat saya takut. Masku telah tiada. Aku berusaha ikhlas menerima Mas Azzam kembali ke Rahmatullah. Tolong siapa pun engkau jangan mengganggu saya."
Aku tertohok melihat matanya yang sangat teduh. Itu Masku dan air matanya membuat aku sangat sakit.
Tolong jangan permainkan hatiku. Ini sangat sakit tolong siapa pun tolong aku. Hiks, ini sakit sekali jangan buat aku begini.
"Ini Mas ... cintamu, Imammu dan segalanya bagimu. Tetapi, semua itu dulu ... sekarang Adek sudah melupakan, Mas."
Ya Allah, sakit sekali mendengar perkataannya. Masku, kenapa bisa? Permainan apa ini ya Allah? Kenapa saat aku mulai ikhlas menerima Mas Aziz malah muncul Mas Azzam?
Masku, yang sangat aku cintai. Tidak, ini permainan atau takdir buruk. Aku pasti mimpi karena ini tempat asing. Ya aku mimpi ini bukan Masku.
Aku sudah menikah dengan Mas Aziz dan kenapa Masku baru muncul? Ya Allah, andai aku tidak mengambil keputusan terlalu cepat pasti Mas Azzam tidak akan terluka begitu pun dengan Mas Aziz.
"Mas, benar itu kamu?" tanyaku dengan nada bergetar.
"Iya, ini Mas Azzam."
"Mas ....!"
Aku berlari menghampiri Masku dan benar ini Masku. Karena pelukan Masku begitu khas. Aroma yang sangat aku rindukan tercium kembali. Ini Masku, kenapa bisa ya Allah?
Aku rengkuh tubuhnya begitu erat sembari menangis memilukan. Aku sangat merindukan, Mas. Aku sangat mencintaimu dan sangat merindukan kebersamaan kita.
"Adek, maafkan Mas baru bisa pulang. Mas sangat mencintai dan merindukan kalian. Di setiap hembusan dan langkah Mas selalu teringat pada Istri dan Putraku. Apa kalian sehat selama ini?"
"Mas, ya Allah. Ini benaran Masku? Masyaallah, Allahu akbar. Mas ... kenapa baru pulang sekarang? Katakan pada Adek, kenapa baru sekarang? Kami juga sangat mencintai dan merindukan, Mas. Adek sangat mencintai Mas karena Allah. Alhamdulillah, kabar kami baik. Mas bagaimana? Apa ada yang melukai Mas?"
"Iya, ini Mas. Mas terlambat ya, Dek? Maafkan Mas telat pulang. Mas waktu itu terjatuh di jurang dan tertawa oleh gelombang air sungai. Dek, maafkan Mas baru pulang. Mas merasa sakit saat tahu hati Adek sudah terbagi untuk orang lain. Semua sudah berubah karena Adek kembali mencintai, Tole Aziz. Semua sudah berubah karena hati Adek terbagi dengan, Tole Aziz. Mas masa lalu dan Aziz masa depan, Adek. Kita sudah sangat jauh, Dek."
"Mas, ampuni Adek tidak bisa setia dan mempertahankan hati. Namun, Adek sangat mencintai Mas karena Allah. Adek sangat mencintai Mas Azzam dan sangat berharap Masku kembali. Tolong ampuni Adek yang membagi hati ini."
"Semua sudah semu, Dek. Terlambat karena Mas sangat sakit. Adek sudah memiliki Aziz dan kini Mas terlupakan."
"Tidak ... Mas akan selalu tersimpan di lubuk hati yang paling dalam. Hati, cinta dan pikiran Adek hanya untuk, Mas. Memang aku akui Mas Aziz memiliki tempat di hati dan pikiran, Adek. Namun, semua tidak sebesar cintaku pada, Mas."
"Terima kasih, Mas hanya punya harapan semu di antara kalian. Tolong jaga Aziz dan Tole Ridwan sepenuh hati. Ingat ini Adekku sayang, Mas masa lalu hanyaper hanya perlu di simpan dalam hati. Sementara Tole Aziz masa depan yang harus Adek cintai serta jadikan tempat mencari rahmat, Allah. Mas sangat berharap kita bisa bersama selamanya. Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Salam untuk mereka, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."
"Mas, jangan bicara aneh-aneh. Tolong jangan marah, ayo kita pulang menemui Dedek Ridwan. Anak kita sangat merindukan, Mas. Nanti Adek sampaikan pesan, Mas. Namun, ayo ikut pulang bersama Adek karena mereka begitu merindukan, Masku."
"Semua tinggal harapan semu, Dek. Maafkan, Mas menjadi penghalang bagi kalian. Mas sangat mencintai Adek dan sangat menyayangi, Aziz. Kalian adalah segalanya bagi, Mas. Semoga bahagia ... Mas selalu mencintai Adek karena Allah. Mas juga sangat mencintai dan menyayangi Dedek Ridwan sepenuh hati. Kalian sangat Mas sayangi sepenuh hati."
"Mas Azzam, hiks Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah."
Aku terjatuh sembari menangis memilukan. Masku kembali di saat aku sudah menikah dengan Mas Aziz. Kenapa takdir begitu kejam padaku, ya Allah?
Aku tertunduk pedih mengingat semuanya. Aku meraung meminta penjelasan atas semua ini. Ini sangat menyakitkan tidak sanggup menjawab perkataan Masku. Hiks, Mas kenapa takdir begitu indah?
Ini mimpi tetapi kenapa sangat nyata. Tolong ini sakit sekali ya Allah. Hentikan mimpi ini aku tidak sanggup menerimanya.
Mas Azzam dan Mas Aziz, kenapa aku terjebak di antara mereka? Aku sangat mencintaimu Mas Azzam dan aku juga ... maafkan aku Mas Aziz. Maaf, tolong maafkan aku.
Semua rasa hanya untuk Masku. Tetapi kenapa Mas baru datang di kala aku sudah ikhlas?
Aku tidak mau menyakiti hati tulus Mas Aziz. Aku sudah sering membuat dia terluka. Lalu bagaimana sekarang?
Ya Allah kenapa aku di hadapkan oleh pilihan sulit? Mas Azzam dan Mas Aziz, tolong maafkan aku.