
...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....
...Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini....
.......**đź’”**.......
Pada akhirnya almarhum Khalid dan Bibah dimakamkan di Baghdad. Keluarga besar almarhum Khalid sungguh begitu terpukul atas kabar duka yang disampaikan Nakhwan. Mereka semua begitu terpukul terlebih Abi dan Umi almarhum.
Dan kalian tahu dampak dari semua itu keluarga besar Abah Hasyim tidak jadi pulang. Mereka memutuskan tinggal akibat tragedi itu. Semuanya juga tambah miris serta ingin mengikuti kasus pencarian Zaviyar. Apa lagi keadaan Nenek juga semakin menurun.
Dua hari berlalu setelah tragedi keadaan Khumaira menurun begitupun dengan Aziz. Begitupun dengan anak-anak yang lain begitu menyedihkan. Semua air mata terus mengucur deras membasahi pipi.
Dalam kesunyian Aziz sekeluarga kecil terdiam sepi. Dua hari tanpa kabar Zaviyar, bahkan sampai sekarang belum ada titik terang. Aziz dan Khumaira begitu terluka atas semua yang terjadi. Sungguh mereka tidak merasa tidak sanggup menerima segala kesakitan.
Hingga Khumaira dan Aziz mengenang masa-masa indah bersama Zaviyar. Tepatnya ini cerita sedikit flashback tentang kenangan terindah bersama Zaviyar.
Tidak lupa Ridwan-Mumtaaz-Faakhira juga mengingat semua kenangan terindah. Ketiganya terasa sesak mengingat semua yang terjadi. Bahkan canda tawa masih terngiang jelas.
Flashback kenangan terindah!
Kenanga terindah dimulai sewaktu Khumaira dan Aziz saling memberikan kejutan. Keduanya sangat bahagia mengingat penyatuan menghasilkan anak bungsu yang tampan nan cerdas.
Di di terlihat Khumaira dan Aziz saling mendekap penuh cinta. Sampai akhirnya keduanya melakukan hal manis yaitu silaturahmi bibir. Keduanya tersenyum penuh canda tawa seolah dunia milik berdua.
Khumaira melepas dekapan lalu merogoh sakunya. Dengan penuh keharuan ia menyerahkan benda pipih menunjukkan dua garis. Dia ingin memberi kejutan manis untuk Suaminya. Semoga saja Suaminya tahu seberapa besar kebahagiaan mereka di malam ini. Khumaira ingin melihat seberapa besar rasa bahagia Aziz menerima kejutan malam ini.
Aziz menerima test pack dengan tampang lugu layaknya Ayah muda. Dia mengerjap melihat benda pipih di tangannya lalu menatap Istrinya bingung. Hingga akhirnya dia serahkan kembali pada Istrinya dengan tampang lugu meminta penjelasan. Ia masih belum koneksi akan pemberian Istrinya. Sebenarnya ada apa ini? Aziz merasa bingung pada Khumaira memberikan benda pipih itu.
"Apa ini, Dek?"
"Masak Mas tidak paham? Mas sudah punya anak 3 loh," ledek Khumaira terdengar dingin.
"Hm, apa?" Tanya Aziz lugu minta cubit. Mungkin lama tidak berurusan dengan begitu otak genius Aziz terlindas mobil.
"Ya Allah, jadi beneran Mas tidak tahu artinya? Adek mengandung Mas!"Â
"Oo Adek sedang mengandung .... Eh? Serius Adek mengandung? Kok cepat ya? Mas jadi Ayah lagi, benarkah? Wah Mas tidak bisa berkata apa-apa selain kebahagiaan. Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Terima kasih ya Allah telah memberikan berkah-Mu. Adek terima kasih sudah memberikan kejutan termanis. Mas sangat senang Adek mengandung. Alhamdulillah ya Allah telah memberikan kesempatan kami memiliki buah hati kembali. Terima kasih ya Allah telah menganugerahi anak pada kami. Em, kita lihat personel kali ini ikut Ayah atau Umi? Ayah berharap ikut Ayah biar 4 cogan bersatu akan kedahsyatan tampan tidak terbantahkan."
"Hahaha, Mas ya Allah lucu sekali. Ya Allah, kenapa respons Mas begitu absurd? Ya Allah, kenapa bisa hamba punya Suami begitu gila? Respons Mas sungguh absurd!"
"Hahahah, itu nyata. Absurd begini Adek sangat mencintai Mas sepenuh hati."
"Sayangnya iya, ha-ha-ha."
"Oh Tuhanku, rasanya hamba beruntung sekali. Sekali menyatu setelah tiga tahun terpisah langsung jadi. Sungguh ya Allah, hamba senang sekali sekali cetak gol."
"...."
Khumaria hanya tertawa mendengar respons Aziz yang kurang waras. Suaminya bahkan memberi ciuman tanpa ampun. Dia hanya bisa tertawa saat Suaminya terus menciumi wajahnya. Hingga akhirnya ia terdiam melihat Suaminya menangis bahagia. Sontak saja dirinya ikut menangis haru mensyukuri nikmat yang Allah berikan pada mereka. Khumaira juga sangat terharu Allah berkenan menganugerahi calon anak pada mereka.
Aziz tidak pernah berhenti mengucap syukur pada Allah. Dia sampai menitikan air mata haru atas kebesaran Allah yang berkenaan menganugerahi mereka buah hati. Kini kebahagiaannya semakin lengkap dengan hadirnya si kecil dalam rahim Khumaira. Tidak ada hal membahagiakan selain ungkapan rasa cinta sekaligus kejutan termanis yang diperolehnya. Semua itu Aziz terima penuh luapan rasa syukur akan kebesaran Allah.
"Ya Allah ini adalah malam paling indah serta penuh kejutan. Mas sangat terharu Dek menerima kejutan besar penuh keharuan. Ya Allah terima kasih telah berkenan menitipkan malaikat kecil pada kami. Atas kuasa-Mu hamba akan menjaga anak kami. Ya Allah, terima kasih telah memberikan segala kebahagiaan. Hamba sangat bersyukur ya Allah. Semoga anak kita kelak menjadi anak bungsu yang menerbitkan segala kebahagiaan serta jadi anak shaleh atau shalihah serta berguna untuk Agama dan Negara, Aamiin yaa rabbil'alamin."
"Aamiin yaa Rabb."
"Dek, terima kasih."
"Sama-sama, Mas."
"Mas sangat mencintai Adek karena Allah."
"Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah."
"Allahu Akbar, Maha Besar yang telah memberikan segala kebahagiaan dan sungguh yaa Rabb, hamba begitu senang."
"Allahu Akbar, segala Puji bagi Allah telah memberikan rezeki berlimpah pada hamba-Nya."
Aziz mendekap erat Khumaira erat seolah tidak mau lepas barang sedetik saja. Dia begitu senang sampai tidak bisa berkata apa-apa. Ya Allah terima kasih telah memberikan segala cinta padanya. Dengan demikian ia begitu bahagia telah mendapatkan Istri sebaik ini. Aziz begitu bahagia sampai air matanya luruh akhirnya bisa mendapat kejutan indah dari sang Khaliq melalui perantara Khumaira.
Khumaira begitu senang menadapat Aziz begitu manis. Mendapat sang Suami teramat dicintai sampai dunia akhirat Aamiin. Melalui perantara Aziz kini sumber kebahagiaan tidak akan pernah luntur ditambah akan datangnya buah hati Insya Allah bungsu. Khumaira begitu senang sekaligus terharu Allah telah memberikan segala limpahan kebahagiaan datang di malam ini.
Dan itu kenangan manis penuh haru sewaktu Aziz dan Khumaira menerima rezeki terindah. Mereka begitu bahagia lantaran Allah menganugerahkan atau menitikkan anak manis. Allah telah mempercayakan Aziz dan Khumaira anak.
Dan di sini sewaktu mengidam Zaviyar masa-masa paling menggemaskan sekaligus menyebalkan. Dan kita akan di perlihatkan betapa menggemaskan mereka waktu itu.
Sebuah alunan melodi angin mengiringi dirinya yang melamun. Dia terlalu sibuk menatap depan memandang gugurnya daun di belakang rumah. Hingga akhirnya ia putuskan untuk masuk lalu duduk di sofa sembari menikmati indahnya rumah ini. Rumah menyimpan sejuta kenangan manis bersama Suami tercinta.
Semilir angin menerpa wajah cantik Khumaira yang terlihat senang. Dia sangat bahagia akhirnya bisa jalan-jalan berdua bersama Aziz seorang tanpa anak-anak. Ketiga anaknya di titipkan pada keluarganya. Rencananya mereka berlibur selama 3 hari di Berbah. Rumah mewah milik Suaminya yang kini di tempati Hazza (Adik kandung Aziz). Khumaira rindu rumah yang menyimpan sejuta kenangan terindah bersama Aziz.
Adik iparnya Hazza pulang ke Kediri serta membiarkan pemilik rumah pulang ke rumah impian. Khumaira menatap rumahnya selama 3 tahun ini di tinggal. Berbagai kenangan indah bersama Suami dan anak-anak membuatnya tersenyum bahagia. Kenangan termanis yang akan selalu tersimpan indah. Pada akhirnya Khumaira bisa pulang juga ke rumah ini bersama Aziz.
Dan tanpa buang waktu Aziz merengkuh Khumaira dari belakang yang asyik melamun. Dia tidak menyangka semua masih sama bahkan kamar pribadinya tidak pernah tersentuh oleh Adiknya. Kamar mereka di rawat Adiknya dengan baik. Seulas senyum manis merekah ketika teringat masa indah bersama. Aziz begitu bahagia pasalnya rumah ini menyimpan sejuta kebahagiaan.
Rumah yang dibangun oleh jerih payahnya sendiri tanpa minta pada orang tua. Aziz masih ingat betapa bangganya kedua orang tuanya saat rumah ini berdiri kokoh. Rumah dengan arsitek unik tentunya didesain oleh dirinya sendiri. Bisa bayangkan seberapa keren ia sudah ganteng, macho, atletis, baik hati, pintar menabung, kaya raya, dan tentunya multitalenta. Aziz sendiri begitu bangga Allah berkenan memberikan kelebihan padanya walau cobaan datang silih berganti.
Rasa rindu ruang bawah tanah membuat dirinya ingin ke sana. Pasti ruangan itu begitu kotor pasalnya di tinggal sangat lama. Pasti saja banyak debu atau bahkan begitu kusam maka agak lama membersihkan itu semua. Aziz jadi ingin bersih-bersih di tempat itu lalu membaca kenangan indah tersimpan rapi di notebook.
"Mau ke ruang rahasia, Dek? Kita habiskan waktu di sana. Namun, itu ruangan pasti kotor tanpa ada yang membersihkan."
"Tidak mau, Adek mau ke kamar ngantuk," sahut Khumaira terdengar dingin serta nada bicara itu begitu datar.
"Serius tidak mau, Sayangku?"
"Tidak."
Aziz menggaruk tengkuk yang tidak gatal melihat Khumaira berubah dingin. Wajah manis itu kadang dingin nan datar tidak tersentuh dan kadang begitu menggemaskan. Parahnya lagi lisan Istrinya jadi tajam seperti silet sepertinya. Pedas seperti bom cabe level 15 atau bahkan lebih. Ok ini mungkin bawaan sang calon anak tercinta maka Aziz harus sabar.
Aziz tidak tahu kelak anaknya seperti apa? Secara Khumaira sekarang bertransformasi jadi duplikatnya ketika dingin, acuh serta berkata tajam. Ayolah ia tidak mau Istrinya jadi sangat tajam setajam dirinya. Aziz jadi ketar-ketir jikalau Khumaira akan selalu tajam.
Khumaria berjalan ke lantai dua menuju kamar pribadinya. Entahlah hawanya ia ingin marah-marah pada Suaminya. Dia jadi gemas pada Aziz ketika melihatnya. Sering kali kata-kata tajam melesat menusuk ulu hati Suaminya. Khumaira tidak tahu anaknya terlahir seperti apa kelak?
Yang pasti berharap semoga Allah berkenan calon buah hatinya tidak seperti sang Suami. Khumaira sudah pusing menghadapi tiga narsis masak iya tambah narsis duplikat Aziz? Ayolah bisa-bisa Khumaira bertransformasi menjadi narsis alhasil jadi keluarga narsis overdose.
Saat di kamar Khumaira langsung menuju ranjang. Dia merebahkan diri di ranjang tempat dirinya memadu kasih bersama Aziz. Ia memiringkan tubuh untuk mengusap sisi ranjang. Seulas senyum tipis menguar di bibir tebalnya jika ingat dulu. Di sinilah mereka menghabiskan banyak malam panas. Khumaira jadi ingat betapa panas Aziz pertama kali melakukan hubungan intim setelah menikah dua bulan.
Mungkin sedikit lelah akhirnya Aziz memutuskan menyusul Khumaira. Sampai kamar ia menuju ranjang untuk tidur. Dia juga jadi gampang tidur dengan mood naik turun membuatnya pusing setengah ******. Kadang ia heran di setiap Istrinya mengandung pasti juga terkena imbasnya. Mungiin ikatan batin seorang anak dan Ayah begitu kuat makanya berakhir begini. Dari pada memikirkan itu Aziz memilih tidur nyenyak dari pada kena omel Khumaira.
Melihat Aziz tetidur pulas membuat Khumaira berdecak sebal. Kenapa bisa Suaminya mudah sekali tertidur? Dia jadi sebel pasalnya sang Suami begitu menyebalkan. Dengan jahil ia menggelitik perut berotot Suaminya sampai puas. Pokoknya Aziz harus bangun menemani Khumaira terjaga.
"Jangan nakal, Dek!" peringat Aziz saat tangan Khumaira semakin turun.
"Umh." Khumaira tetap nakal dengan menjahili Aziz.
Khumaira tidak peduli peringatan Aziz yang terdengar berat. Dia memilih merebahkan kepalanya di atas perut Suaminya. Tangan nakal itu bergerak memijat sesuatu yang beberapa minggu puasa. Ia tidak mau ditinggal makanya berbuat usil supaya Suaminya bangun. Khumaira tahu lampu bahaya menyala saat menggembung.
Aziz menggerang antara kesal dan emosi jiwa. Kalau begini izinkan ia memasuki sangkarnya. Jika Khumaira tidak kunjung berhenti maka jangan salahkan miliknya meminta jatah. Sungguh frustasi akan tingkah sang Istri berbuat nakal. Aziz jadi kalang kabut menerima sentuhan Khumaira tanpa bisa diduga.
Merasa semakin frustrasi akan kenakalan Khumaira sontak Aziz meraih tangan mungil Istrinya lalu mengunci pergerakan. Dia dengan cekatan melepas hijab syar'i Istrinya lalu membuang begitu saja. Dia buka resleting gamis Khumaira tanpa mempedulikan rengekan manja.
Khumaira bukannya kapok telah usil pada Aziz kini malah ingin lebih. Dia melengkungkan punggung agar Suaminya lebih menjajah tubuhnya. Antahlah dia begitu sensitif ingin terus di sentuh Suaminya setiap saat. Suaminya adalah seseorang yang berhasil membangkitkan sisi liarnya yang ingin terus menerus menerima itu. Khumaira begitu gila akan pesona Aziz selalu bisa membangkitkan sesuatu.
"Mas sudah Adek mau keluar," pinta Khumaira.
"Keluarkan saja, Mas ingin merasakan milik Adek!"
Setelah melakukan kegiatan lumayan intim akhirnya Aziz dan Syafa memutuskan untuk tidur. Mereka sudah lelah menghabiskan waktu terlalu lama. Kini mereka memilih meraih mimpi bersama di alam fana. keduanya tersenyum manis lalu memberikan ciuman sayang di kening. Mereka begitu senang telah memberikan segala rasa. Aziz dan Khumaira berharap semoga keindahan akan selalu terlabuh dalam suka dan duka.
Khumaira menyamakan diri dalam dekapan Aziz. Ia sudah mengantuk setelah melakukan kegiatan cukup intim. Tidak hanya cukup itu sangat intim walau tidak terjadi hal itu itu. Dari pada memikirkan hal erotis dia putuskan tidur lelap. Khumaira harap dalam mimpi bertemu Aziz supaya ada yang menemani.
"Sudah jangan nakal, di sini akan Mas masuki setelah waktunya. Ayo istirahat baru membuat makanan."
"Umz," gumam Khumaira sebelum tidur dalam dekapan Aziz.
Aziz tersenyum mendengar suara napas Khumaira teratur menandakan sang Istri sudah tidur. Dia mencium kening Istrinya penuh sayang. Ia juga mengusap perut Istrinya yang mulai membuncit. Lalu Aziz mencium rahang Khumaira sembari berbisik cinta.
Merasa kantuk menyerang Aziz memutuskan menyusul Khumaira. Dia dekap tubuh mungil wanitanya lalu memberikan ciuman lembut. Dirinya berdoa sebelum tidur lalu membaca beberapa surah dan akhirnya menuju alam mimpi. Aziz tidur lelap menyusul Syafa-nya yang manis
...*** ... ***...
Khumaira menginginkan sesuatu yang dingin. Dia menuju dapur untuk membuka kulkas. Dengan gila ia duduk manis di depan kulkas yang terbuka. Hawa dingin membuat dia merasa sejuk. Sesekali dirinya akan meminum es tawar tanpa peduli sekitar. Khumaira letakan botol ke tempat semula lalu beranjak mengambil mangkuk lalu hal gila terjadi. Khumaira tidak tahu kenapa bisa bertingkah begitu aneh saat hamil kaki ini.
Aziz kelimpungan mencari Khumaira tidak ada dimana-mana. Di mana Istri gembulnya? Sudah pendek gembul ngilang susah di cari. Dia masuk dapur tidak menemukan Istrinya. Sebenarnya di mana Khumaira yang manis itu? Hingga akhirnya ia melihat Istri sedang asyik memakan sesuatu. Ingin sekali Aziz meneriaki Khumaira saat melihat si Istri duduk anteng di depan kulkas yang terbuka. Apa itu kenapa Istrinya mengemil serpihan es balok?
"Apa yang Adek lakukan? Apa Adek tidak kasihan pada Dedek bayi? Adek tahu es dan hawa dingin tidak baik untuk Ibu hamil!" sentak Aziz membaut Khumaria menjatuhkan mangkuk berisi es.
"Jangan berekspresi begitu!"
Khumaira menatap Aziz dengan mata berkaca siap menangis. Dia akhirnya menangis tersedu merasa di bentak Suaminya. Ia menutup kulkas sembari menangis memilukan. Tega sekali Suaminya membentak padahal selama ini prianya begitu cinta. Khumaira kembali menatap Aziz penuh air mata terluka.
Aziz menyesal telah meninggikan suara saat memperingati Khumaira. Dia berlutut menggunakan satu kaki guna meminta maaf pada Istrinya. Saat tangan kekar hendak mengusap pipi gembul Istrinya sebuah tepisan kasar terjadi. Ia membisu saat wanitanya menolak disentuh. Aziz arus sabar jangan emosi atau Khumaira semakin ngambek.
"Apa Mas sudah tidak mencintai Adek? Mas sudah bosan padaku yang gembul ini? Mas yang membuat Adek gembul harusnya tanggung jawab. Mas keterlaluan tidak mencintai Adek lagi. Jangan sentuh karena Adek kecewa pada, Mas. Hiks, Suamiku tega membentak Istrinya yang di buat gembul. Adek tidak mau di sentuh, Mas. Hiks huhuhu pokoknya jangan tidur malam ini dengan Adek. Jangan pernah temui sebelum Adek maafkan. Mas sudah tidak cinta Adek!"
"Dek ...."
"Diam!"
"...."
"Maaf, maafkan, Mas."
"Adek bilang diam ya diam!"
Khumaira mendorong Aziz cukup kuat membuat Suaminya terjengkang. Siapa peduli yang penting ia berlalu begitu saja. Dia melangkah menuju kamar tanpa peduli panggilan Suaminya. Khumaira mengunci pintu kamar setelah itu merebahkan diri di ranjang. Bibir tebal itu terus mengoceh sepanjang mungkin. Hingga alam sadar merenggut segalanya. Khumaira tidak peduli pada Aziz asal emosi redam dulu baru menemui Suaminya.
Aziz memijat pangkal hidung sedikit kasar mengingat dumelan Khumaira. Dia pening menghadapi Istrinya hamil anak ketiganya. Dulu saat hamil Mumtaaz Istrinya tidak sampai separah ini. Walau ngidamnya luar biasa aneh membaut pening. Dia juga biasa saja saat Istrinya hamil Faakhira. Sekarang ini harus ekstra sabar menghadapi Istrinya mudah marah, ngambek manja, dingin, cuek dan tajam. Aziz jadi dibuat pusing tujuh keliling akan tingkah Khumaira kali ini
Malam harinya Aziz memutuskan tidur di sofa bed ruang tamu. Dia akan tidur di sini walau tahu bagaimana hawanya. Jika ingat sedari sore sampai malam Khumaira selalu diam tanpa mau berbicara padanya. Alhasil kini i tidur seorang diri tanpa ada yang menemani. Biarkan saja asal bisa tidur lelap karena yakin Istrinya akan mencari. Aziz akan buktikan nanti Khumaira akan datang mencarinya.
Tengah malam Khumaira mencari Aziz lantara tidak bisa tidur tanpa pelukan Suami tampan. Dia tersenyum melihat Suaminya tertidur menggunakan selimut tipis di ruang tamu. Dia beranjak kembali ke kamar mengambil selimut tebal. Lalu kembali ke ruang tamu akan ikut tidur Aziz secara nyaman.
Dengan hati-hati Khumaira ikut tidur di samping Aziz. Dia merebahkan diri di dalam dekapan Suaminya senyaman mungkin. Tubuhnya sudah terselimuti tanpa mau menyelimuti Aziz. Pokoknya Suaminya sudah pakai selimut jadi selimut ini miliknya. Entahlah Khumaira merasa jadi orang lain saat mengandung kali ini. Sikapnya jadi dingin, acuh, tidak peduli sekitar dan parahnya begitu dingin nan tajam.
Aziz menbuka mata saat ada yang mendusal mencari kenyamanan darinya. Seulas senyum tipis menguar saat tahu siapa yang mendusal manja. Tangan kekarnya terulur untuk merengkuh Istrinya erat. Dia ciumi puncak kepala Istrinya penuh cinta. Aziz tahu bahkan begitu hafal kebiasaan Khumaira tidak bisa tidur tanpanya.
"Tidak bisa tidur tanpa pelukan orang tampan tidak terbantahkan?"
"Diam atau Adek pergi ke kamar!" gertak Khumaira terdengar dingin.
Aziz hanya diam tanpa mau menyahut perkataan Khumaira. Dia tersenyum ketika Istrinya mengandung tidak pernah meminta hal aneh-aneh seperti dulu. Ia sangat bahagia Istrinya begitu manis saat jadi wanita es. Tidak apa yang pasti ia bersyukur Istrinya jadi manis alim tanpa.minta aneh-aneh. Aziz harap itu bertahan lama jangan sampai Khumaira minta hal aneh. Lupakan itu karena mengantuk pada akhirnya ia tertidur pulas meninggalkan Suaminya.
Khumaira mendongak menatap Aziz sudah lelap. Dia jadi ingin makan Mie Ayam spesial. Ia mau bukan daging ayam yang jadi pelengkap melainkan daging kambing. Seulas senyum penuh kebahagiaan terukir saat makan mie taburan daging kambing lalu di kecapi lumayan banyak. Membayangkan itu Khumaira jadi mau ngiler ingin segera makan.
"Mas bangun belikan Adek Mie taburan daging kambing!" perintah Khumaira bernada datar.
"...." Aziz tetap lelap.
Khumaira menggoyangkan bahu Aziz cukup kuat. Dia tidak peduli ini jam berapa yang pasti Suaminya harus mendapat pesanannya. Ia yang sebal sang Suami diam langsung menggigit bahu prianya kasar. Melihat Suaminya terbangun ia tersenyum semanis mungkin ketika pria idaman menatapnya layu. Khumaira menggoyangkan tangan kekar Aziz lalu mencium lembut punggung tangan sang Suami.
Awalnya ia begitu senang wanitanya meminta manja. Bukan Istrinya begitu manis memberikan ciuman lembut lalu berbisik manis. Aziz tidak habis pikir akan pikirannya yang mengira Istrinya tidak minta sesuatu. Dia kira Khumaira tidak meminta hal aneh-aneh seperti dulu. Ini lebih parah meminta mie ayam taburan daging kambing. Kalau begini ia harus cari di amana? Lagian tengah malam mencari begituan mau di begal Emak-Emak? Ya Allah sabar jangan sampai Aziz kelepasan atau Khumaira merajuk manja.
"Mas besok carinya. Mas ngantuk banget, Dek. Lagian Tengah malam mana yang buka? Adek diam di situ biar Mas cari besok," sahut Aziz memberikan pengertian.
"Ngga mau tahu, beli sekarang. Oo, jadi Mas benar-benar sudah tidak cinta Adek, begitu? Tega kamu Mas beginiin Adek. Lihat Adek gembul karena Mas. Sudahlah Mas sangat menyebalkan!" sengit Khumaira sembari menangis.
"Sstt, jangan menangis Mas mohon. Baiklah Mas akan Carikan lalu Adek janji jangan ngambek lagi. Mas sangat mencintai Adek sepenuh hati jangan ragukan itu. Jangan bicara aneh-aneh sekarang Mas akan cari jangan marah," hibur Aziz berusaha membuat Khumaira tenang.
"Bohong Mas tidak cinta hiks, nyatanya malah begitu. Sudahlah jangan sentuh!"
"...."
Aziz terlonjak menerima jawaban Khumaira. Dia meringis saat Istrinya drama seperti tadi. Ia seka air mata Istrinya sembari mengatakan ribuan kata cinta. Ia meminta maaf telah menyakiti hati sang Istri. Hingga akhirnya ia perlahan berlalu menuju kamar mengambil jaket, dompet dan kunci mobil. Antah kenapa selera humor anjlok saat Istrinya hamil ank bungsu. Ia terus berpikir anaknya nanti memiliki sikap bagaimana? Aziz sampai pusing betapa menggemaskan Khumaira hamil saat ini.
Khumaira tersenyum penuh kemenangan melihat Aziz sudah pergi mencari pesanannya. Mengingat makanan itu membuat ia ingin ngiler agar cepat makan. Tunggu ia jadi ingat waktu hamil Mumtaaz saat Aziz menggodanya baru membeli. Apa Suaminya marah akan permintaannya? Setitik air mata luruh deras mengingat pemaksaannya. Sungguh Khumaira begitu sedih saat ingat Aziz kehilangan sikap humoris.
"Maafkan Adek selalu meminta aneh-aneh, Mas."
Khumaira mengusap perutnya seraya menitikkan air mata. Dia juga tidak tahu kenapa.hamil sekarang jadi berubah jauh sekali. Padahal biasanya ia adalah sosok yang kalem tidak suka neko-neko wali hamil Mumtaaz begitu aneh. Untuk sekarang tidak terlalu aneh hny saja sikapnya begitu dingin mudah merajuk. Khumaira jadi pusing sendiri memikirkan tenang kehamilan kali ini.
Paling anteng ya mengandung Faakhira tanpa kendala. Tidak ngidam terlalu bahkan terasa nyaman. Saat mengandung Ridwan ia begitu manja dan sangat manis pada mantannya. Dipikir-pikir mengandung kali ini serta mengandung Mumtaaz semua jadi aneh. Khumaira.hrap anaknya tidak memiliki sikap aneh Aziz atau Mumtaaz sehingga jadi anak waras nan alim.
...****...
Khumaira memakan pesanannya dengan lahap. Sesekali ia akan menyuapi Aziz dengan mie campur daging. Dia sangat senang Suaminya menuruti keinginan walau nyatanya datangnya lambat. Tadi setelah pesanannya datang ia bak anak kucing memberikan segala ciuman pipi lalu memberi haduh cinta. Khumaira mengatakan banyak kata cinta agar rasa lelah Aziz terobati.
Aziz tersenyum manis melihat Khumaira makan dengan lahap. Tambah senang lagi dikala wanitanya begitu manis mengatakan cinta lalu memberikn ciuman syaang. Melihat ada noda ia seka kuh mie di bibir dan dagu Istrinya. Dasar Istrinya ini seperti anak kecil jika makan begini. Apa Khumaira sengaja makan begini agar Aziz mengelap bibir sensual?
Wajah putih bersih itu bersemu merah tatkala Aziz mengusap bibirnya sensual. Khumaira menunduk dalam menyembunyikan semua wajah akibat Suaminya yang nakal. Hingga ia merasakan ibu jari tangn Suaminya mengangkat dagu. Wajahnya bersemu merasakan aroma maskulin Suaminya yang sangat khas. Pada akhirnya Khumaira membuka mata ketika Aziz berbisik sensual tepat di depan bibirnya.
"Mas sangat mencintai Adek karena Allah."
"Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah."
"Maaf ya tadi Mas bentak, Adek."
"Seharusnya Adek yang minta maaf telah membuat Mas marah. Maaf setiap mengandung pasti Adek jadi orang berbeda. Mas percayalah itu di luar kendali."
"Tidak apa-apa, sayangku. Apa pun permintaan Adek selagi Mas mampu berikan maka akan Mas berikan."
"Ya Allah, Mas."
"Apa pun untuk Istriku tercinta. Mas sangat mencintai Adek karena Allah."
"Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah."
Antah siapa yang memulai bibir mereka telah bersilaturahmi. Hingga Khumaira nyaris terlelap nyaman dalam dekapan Aziz usai melakukan silaturahmi bibir. Bahkan Khumaira bertindak cukup nakal yaitu mengerjai Aziz.
Aziz mengatupkan bibir rapat menyadari Khumaira begitu nakal. Tidur sambil memijit sesuatu jadinya gemas. Sungguh terlalu kamu gembul menyiksanya lahir batin tubuhnya. Dia ambil tangan mungil Istrinya agar menjauh dari miliknya. Tetapi, hal tidak terjadi ketika Wanitanya menggeplak kepalanya. Aziz mendengkus merasakan Khumaira begitu agresif saat mengandung kali ini.
Demi si superman yang pakai celana dalam di luar Aziz ingin menerkam Khumaira. Ya Allah, ia begitu gemas akan sikap bar-bar Istrinya. Sedikit-dikit pukul, gigit, cubit dan yang enak saat jahil. Entahlah Istrinya suka sekali meremas sesuatu jadi pusat tubuhnya. Kadang Aziz bingung pada Khumaira jadi aneh begini? Semoga saja anaknya normal tidak dingin, tajam, asal bicara dan datar tanpa ekspresi, Aamiin.
Khumaira merengut sebal ketika Aziz mengganggu kesenangannya. Dia memilih duduk di atas perut berotot Suaminya. Tangan mungil itu terulur untuk mencubit gemas pipi tirus Suaminya. Setan apa yang merasuki Khumaira? Dia seperti bukan dirinya yang kalem, manja nan lembut. Kini berubah drastis menjadi bar-bar, agresif dan begitu menggoda.
"Mas enak nggak?"
"Hn. Jangan nakal, Dek! Remas sesuka Adek asal tidur. Lihat sekarang jam berapa? Apa mau Shalat tahajud?"
"Baiklah, ayo kita Shalat tahajud. Tetapi, gendong ya Mas hihihi. Nanti juga mau baca Al-Qur'an bareng Mas. Kita semaan sampai semampunya."
"Hm, ide bagus."
Aziz duduk sebelum itu merengkuh Khumaira lembut. Dia selipkan tanganya di bawah bahu dan lutut Istrinya. Perlahan tetapi pasti ia membawa Istrinya ke kamar mandi terdekat untuk mengambil air wudhu. Aziz sangat senang Khumaira manja minta begini.
Khumaira kecup rahang tegas Aziz sebelum bersandar nyaman. Dia akan melakukan shalat sunah tahajud usai itu mengaji bersama. Ia hanya tersenyum tulus saat Suaminya menurunkan hati-hati. Pada akhirnya mereka melakukan kegiatan membersihkan diri lalu wudhu. Khumaira tersenyum melihat Aziz berjalan terlebih dahulu karena dirinya yang minta.
Kini pasangan romantis Suami dan Istri ini berjama'ah shalat tahajud. Usai Shalat tahajud Aziz dan Khumaira memutuskan untuk membaca Al-Qur'an dengan cara saling menyemak. Cukup lama mereka mengaji sampai mendapat satu Juz. Aziz dan Khumaira memutuskan menyudahi mengaji lalu membaca khotmil Qur'an.
Khumaira menyalami Aziz setelah selesai mengaji. Mungkin karena mengantuk ia tertidur pulas sembari bersandar pada Suaminya. Wanita beranak tiga ini terlihat begitu canntik memikat tanpa riasan. Bahkan walau keadaan tidur saja tetap begitu anggun memikat. Aziz sangat senang bidadari tidak bersayap telah diraihnya dalam dunia. Dirinya juga berharap semoga Syafa-nya juga akan jadi miliknya di akhirat.
Aziz melepas mukena Khumaira dan merebahkan Istrinya hati-hati. Dia lipat sajadah, sarung dan mukena Istrinya. Ia taruh kopiah hitam polos pada tempatnya. Usai itu dia menggendong Istrinya menuju ruang tamu untuk tidur di sofa tadi. Aziz akan tidur bersama Khumaira di sana berbagi kehangatan.
Perlahan Aziz merebahkan Khumaira di sofa. Dia selimuti tubuh berisi Istrinya dan memberikan kecupan sayang di kening. Ia juga mencuri ciuman di bibir Istrinya penuh sayang. Ia ikut merebahkan diri di samping Istrinya. Tangan kekar Aziz terulur untuk merengkuh Khumaira penuh kehangatan.
"Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Mas akan selalu mencintai Adek apa pun situasinya. Bagi Mas Adek adalah kehidupan Mas. Jangan bersedih karena Mas begitu mencintai Adek. Kita di takdirkan bersama walau dulu rintangan menghadang. Kita akan bahagia selamanya tanpa ada yang memisahkan kecuali sang Khaliq. Mas akan selalu mencintai Adek sampai akhir hayat. Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Kita akan bahagia bersama anak-anak tanpa ada hadangan. Cinta Mas begitu besar untuk Adek selamanya. Walau kini Adek begitu menjengkelkan karena sedang mengandung. Namun, percaya bahwa cinta Mas tidak akan sirna atau emosi. Adek adalah wanita yang sangat Mas cintai begitu pun sebaliknya ....
... Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan dengan bersedia mengandung kembali anak kita. Ya Allah terima kasih atas Rahmat kuasa-Mu telah berkenan menitipkan buah hati. Hamba sangatlah bersyukur Engkau begitu Adil memberikan segala kebahagiaan untuk kami. Tidak ada daya upaya selain rasa bahagia menyelimuti qalbu. Hamba begitu mencintai-Mu wahai Dzat Maha Kuasa dan hamba juga sangat mencintai Baginda Rasulullah Saw. Terima kasih atas limpahan kebahagiaan ini ya Allah."
Aziz mengecup kening Khumaira mesra lalu mengusap perut Istrinya penuh sayang. Dia tidak menyangka mimpinya menjadi nyata ketika Allah memberikan tiga anak untuknya. Sekarang tinggal menunggu kelahiran si kecil agar melengkapi kebahagiaan mereka. Dirinya begitu bahagia akhirnya kebahagiaan menyertainya bersama Istri dan anak-anaknya. Aziz akan selalu bersyukur dan senantiasa memohon perlindungan kepada Allah atas kebahagiaannya.
Pada akhirnya Aziz menyusul Khumaira ke alam mimpi setelah terjaga sebentar. Dia ingin menyusul wanitanya yang sudah lelap duluan.batas segala kuasa-Nya ini adalah kebahagiaan terindah dalam hidup. Bertahun-tahun pisah akan tetap bersama dalam ikatan suci. Aziz sangat bahagia Allah berkenan menyatukan mereka kembali dan kini tambah romantis.
...*****////>~•~<~*****...
...Bagaimana Sayangku, chap ini?...
...Maaf belum tak koreksi dan edit jadi kalau banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan harap maklum!...
...Mini aku ambil chapter sebelumnya. Kalian tahu bukan ini kenangan terindah jadi ambil masa-masa ini....
...Salam cinta dari Rose!...
...I love you All!...
...Rose_Crystal 030199...
...30_11_20...
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.