
Khumaira mengidam kembali ingin makan di restoran paling mewah di pusat kota Yogyakarta. Dia ingin makan banyak dengan daging sapi, bebek dan ayam. Yang pasti Khumaira begitu lapar ingin makan di sana. Senyum tidak pernah luntur tatkala Suaminya menuruti keinginannya makan siang di restoran mewah pusat kota Yogyakarta.
Mendengar keinginan Istrinya tentu dirinya menuruti tanpa menolak. Aziz menuruti keinginan Khumaira soal makan di restoran mewah. Mereka bertiga makan di sana dengan suka cita. Jika Aziz ingat jarang sekali Khumaira mengajak makan di restoran mewah. Maka dari itu ia begitu antusias menerima keinginan Istrinya.
Untuk Ridwan terlihat bocah tampan itu menikmati makan di restoran mewah. Dia makan di suapi Ayah dan Umimya. Sesekali mulut kecilnya mengoceh panjang kali lebar menceritakan teman-teman yang ada di kantor Ayahnya. Jika Aziz sedang rapat maka Ridwan akan bermain bersama anak para karyawan yang di ajak bekerja.
Mendengar Ridwan sangat antusias berhasil membuat Aziz dan Khumaira bahagia. Kini keduanya begitu bahagia bisa melihat kecerian si kecil bercerita panjang kali lebar. Baik Aziz dan Khumaira saling melempar senyum manis ketika Ridwan merajuk gara-gara ingat teman ajaibnya nakal.
Kadang Aziz dan Khumaira khawatir perihal Ridwan memiliki kelebihan. Mereka tidak mau anaknya terus melihat makhluk astral. Tidak ada masalah hanya saja takut jika ssng anak menciptakan dunia sendiri. Aziz dan Khumaira cukup bersyukur tatkala Ridwan tidak demikian.
Pada akhirnya keluarga kecil Aziz pulang ke rumah usai membeli makanan ringan. Aziz menggendong Ridwan yang tidur nyenyak. Sementara Khumaira membawa plastik berisi camilan ringan.
“Dek, Mas izin menidurkan Dedek di kamar dulu,” ujar Aziz.
“Enggeh, Mas lagian kasihan Dedek terlihat capek. Apa Mas mau Adek buatkan kopi?” tanya Khumaira.
“Tidak usah Dek lagian Mas tadi sudah minum kopi dua gelas. Adek juga istirahat kasihan Dedek bayi belum istirahat. Adek juga pasti lelah gih istirahat nanti Mas nyusul,” tutur Aziz.
Khumaira tersenyum membalas perkataan Aziz. Dia duduk nyaman di sofa karena kakinya terasa berat untuk melangkah. Ia mengulum senyum manis saat ingat sebentar lagi si kecil terlahir. Khumaira tidak sabar menatikan kelahiran buah cintanya bersama Aziz
Aziz merebahkan Ridwan hati-hati agar tidak yerbanhinu. Dia tepuk paha anaknya beberapa kali agar sang putra rileks. Di rasa cukup ia kecup kening anaknya penuh sayang. Aziz mengusap rambut tebal Ridwan supaya sang putra lebih lelap
“Ayah sangat menyayangi Dedek Ridwan. Jangan cepat besar ya Dedek karena Ayah belum bisa melihat putraku tumbuh dewasa. Ayah sangat menyayangi Tole dan jadilah putra sholeh. Semoga cita-cita Tole Ridwan terkabul agar Abi, Ayah dan Umi bisa merasakan indahnya memiliki anak Hafidz,” bisik Aziz penuh sayang.
Aziz memutuskan untuk keluar kamar. Sampai ruang tamu dia melihat Khumaira sedang asyik makan keripik singkong. Dasar ai gembul menggemaskan minta cubit. Aziz melangkah ke arah Khumaira perlahan.
Khumaira nyaris memasuksn keripik singkong dalam mulutnya. Tetapi, malah beralih menyuapi Aziz karena sang Suami menarik tangannya. Dia memberengut lucu merasa jengkel pada si biang kerok. Khumaira tidak habis pikir kenapa Aziz senang sekali mengusili dirinya.
Aziz terkekeh geli melihat Khumaira merajuk manja. Dengan cepat ia duduk di samping Istrinya. Dia nyengir gaje dikala wanitanya menatap tajam dirinya. Perlahan Aziz mengecup pipi tembem khumaira suapya anteng.
“Mas nakal Adek sebel ih,” rajuk Khumaira.
“Serius sebel? Ulu-ulu manisnya Bebek cantikku. Sini Mas cium, auch,” goda Aziz sebelum mencium mendapat geplakkan kuat di bahu.
“Adek ngga mau di cium Mas. Dasar monyet nakal Adek sebel minggir jangan dekati Adek!” sungut khumaira.
“Oh ya Allah, maafkan Mas ya Adekku tercinta. Baiklah Mas pergi deh ke kandang monyet biar Adek senang,” ratap Aziz pura-pura nelangsa.
Saat Aziz mau beranjak khumaira terlebih dahulu manahan lenganya. Dia tersenyum bisa mengancam Istrinya dengan cara yang handal. Bwhahahah, ia memang punya banyak jurus mengelabui Istrinya. Aziz tahu Khumaira tidak akan membiarkan dirinya pergi walau seinci.
“Mas jangan pergi,” ucap Khumaira.
“Hahaha, aku tahu Adek tidak akan membiarkan Mas pergi,” batin Aziz penuh kemenangan. Lalu dengan percaya diri mendekatkan bibir ke telinga khumaira untuk berbisik, “Adek tidak bisa sedetik tanpa, Mas.”
“Ish, percaya diri sekali Mas ini. Adek bilang jangan pergi sebelum bawa ponsel, dompet dan kunci mobil. Nanti Mas foto ya sama monyet biar Adek lihat kembaran Mas,” pungkas Khumaira kalem.
Khumaira tersenyum usai mengatakan kalimatnya itu. Dia menyerahkan dompet, ponsel dan kunci mobil pada Aziz. Ia tanpa babibu makan keripik singkong tanpa peduli ekspresi Suaminya. Bagi Khumaira mengerjai Aziz hal menyenangkan.
Aziz mengedip lucu mendapat balasan Khumaira. Dia langsung duduk di lantai sembari menggerutu sebal. Demi kolor ijo ia sangat sebal semenjak hamil Istrinya begitu menyebalkan mirip dirinya. Apa anaknya nanti duplikat dirinya? Aziz begidik membayangkan anaknya memiliki lidah tajam, sarkasme, narsis dan usil minta ampun. Ya Allah, kalau begitu Aziz begitu bahagia bwahaha.
“Mas ngga jadi pergi?” tanya Khumaira penasaran.
“Tidak” sahut Aziz datar.
“Hehehe, Mas marah?” tawa khumaira berbinar senang.
“Tidak,” sahut Aziz dapar.
“Lalu kalau ngga marah, apa?” tanya Khumaira polos.
“Merajuk,”sahut Aziz masih betah menekuk wajah.
“Sama saja kali, Mas. Duduk sini gih, Mas!” perintah Khumaira.
“Ngga mau,” sungut Aziz mirip sekali seperti Ridwan merajuk.
Khumaira yang gemas menarik jambang Aziz. Dia nyengir polos saat Suaminya meringis. Ia pada akhirnya beranjak lalu mendudukan diri di paha Suaminya. Khumaira tersenyum polos merasakan pelukan hangat Aziz.
Aziz merengkuh Khumaira lalu menyandarkan bahu di sofa. Tangannya mengusap punggung Istrinya sementara Kepalnya mengendus leher jenjang sang Istri. Aziz bahkan dengan nakal menggigit kecil leher Khumaira sehingga menghasilkan kissmark.
“Hehehe, maaf kebablasan,” kekeh Aziz.
Aziz tersenyum merasakan kehangatan Khumaira dalam dekapannya. Dia tetdiam sepi di ruang tamu dengan Istrinya duduk di pangkuannya. Tangan kekarnya terulur untuk mengusap perut buncit wanitanya posesif. Aziz sangat bahagia pasalnya sebentar lagi buah hatinya akan hadir. Dia berharap semoga Khumaira lancar melahirkan si kecil menggemaskan.
Khumaira menikmati ketika Aziz terus mengusap perutnya. Hingga akhirnya ia tertidur pulas dalam dekapan Suaminya. Dia mengantuk makanya langsung lelap. Ia masih merasakan ketila Suaminya menggendong dirinya hati-hati. Khumaira sangat bahagia bisa memiliki Aziz dalam hidupnya. Sang Suami begitu perhatian penuh cinta sehingga memperdalam sebuah hubungan.
***💞💞💞***
Malam hari tepat jam 10 malam, Khumaira merasa perutnya terasa sakit. Dia sampai merasa frustrasi menghadapi sakit di sekujur tubuh. Sepertinya dirinya akan melahirkan. Saat merasakan Itu khumaira spontan mencengkeram lengan kekar Aziz meminta pertolongan.
Aziz terbangun saat tangannya di remas kuat oleh Khumaira. Dia menengok ke samping dan melihat Istrinya sedang kesakitan. Ya Allah, jangan bilang Istrinya hendak melahirkan. Aziz langsung duduk lalu menggenggam tangan Khumaira memberi kekuatan.
"Dek, ya Allah. Kita ke rumah sakit sekarang!" tegas Aziz langsung beranjak sampai lupa tidak memakai pakaian.
"Baju, akh."
"Oh iya, bisa gawat Mas pergi hanya pakai kolor. Bisa-bisa Mas jadi model karena tubuh Mas yang proporsional. Tunggu Mas ganti baju dulu, tidak lama. Tahan ya Dek menahan sakit!" seru Aziz.
Khumaira menepuk kening, pasalnya Aziz sempat-sempatnya melawak aneh. Dia menahan sakit luar biasa Ketika Suaminya menggotong tubuhnya. Dia bersyukur Ridwan menginap di rumah keluarganya. Khumaira berharap bertahan sampai rumah sakit karena rasanya kali ini sangat menyiksa.
Dengan siap siaga ia langsung ganti baju dan memakai celana biasa. Aziz juga sudah membawa tas jinjing khusus pakaian untuk si kecil dan Khumaira. Dia gendong Istrinya menuju garasi mobil. Perlahan tetapi pasti ia memasukan Istrinya dalam mobil. Aziz pakaikan sabuk pengaman untuk khumaira, setelah itu langsung menutup pintu.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit tangan Aziz terus menggenggam tangan Khumaira. Dia sangat panik melihat Istrinya menggerang kesakitan. Demi Allah, ia sangat panik walau di tutup kedataran. Aziz terus merapalkan do’a supaya Khumaira dan calon anaknya baik-baik saja.
Khumaira meremas kuat tangan Aziz kuat. Dia benar-benar frustrasi menerima rasa sakit akibat kontraksi. Ia terus berdoa semoga anaknya tidak memberontak sebelum sampai rumah sakit. Khumaira hanya bisa menangis merasakan sakit luar biasa.
"Dek, tahan ya ... Mas mohon."
"Umz, Mas cepat ugh sakit."
"Sabar, orang sabar banyak amal dan tambah kaya yang pasti tambah rupawan kayak, Mas."
Aziz berusaha mengalihkan sakit Khumaira dengan lawak garing. Rasa khawatir campur panik melingkupi hatinya. Dia terus berdoa semoga Allah memberikan kekuatan pada Khumaira untuk melahirkan buah hati mereka. Aziz terus berdoa supaya Khumaira dan buah hatinya baik-baik saja.
Khumaira menabok paha Aziz kasar mendengar penuturan Aziz. Sungguh dia ingin tertawa di sela rasa sakit menyerang tubuhnya. Kenapa Suaminya begitu lucu sehingga ingin dia cakar? Khumaira harus sabar jika tidak bisa gawat kalau mencakar Aziz.
Pada akhirnya mereka sampai rumah sakit. Dengan cekatan Aziz meminta bantuan dan langsung mengurus administrasi dan semua yang dibutuhkan untuk penanganan Khumaira. Sementara Khumaira dengan sabar menunggu Aziz menemaninya di dalam ruang persalinan.
Di ruang bersalin, Khumaira terus mengejan untuk mengeluarkan buah hatinya. Dia menggenggam erat tangan besar Aziz saat rasa sakit menghantam tubuhnya.
Aziz terus berdoa dalam hati melihat supaya Khumaira mampu berjuang. Dia tidak tahan melihat Khumaira merintih kesakitan di meja persalinan. Ia genggaman kuat tangan mungil Istrinya demi memberikan kekuatan. Kini Aziz hanya bisa berdoa memohon kebesaran-Nya supaya Khumaira kuat.
"Enghh ughhh Mas arghh ....!"
Aziz tidak tega melihat Khumaira kesakitan. Dia jadi teringat Ibunya yang melahirkan dirinya. Kini dia berhadapan dengan ketakutan luar biasa. Air mata luruh begitu saja melihat Istrinya terus menggerang kesakitan sembari mengejan. Aziz janji akan patuh tidak nakal lagi jika berhadapan dengan Umminya. Demi apa pun itu ia akan selalu menghormati Ummi dan Istrinya selagi bisa.
"Dek, kamu kuat. Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Dengar kita akan bahagia selamanya dan kita aja bersatu bersama buah hati kita. Dek, Mas mohon berjuang!" tegas Aziz.
Khumaira menggenggam tangan Aziz semakin erat. Bahkan kukunya menancap erat di punggung tangan Suaminya. Dia sangat bahagia mendengar penuturan Aziz yang sangat lembut. Semua akan baik-baik saja Karena Khumaira kuat.
"Arghhhhhhh, ughhh arghhh enghhh, Mas ughh arghhh ....!"
"Kuat, Dek. Mas tidak mau wajah rupawan Mas jelek gara-gara Adek kesakitan. Ayo berjuang demi anak kita. Nanti kita buat grup Adek masuk deh. Kan Adek manis, tetapi tidak usah Adek tidak terdaftar soalnya jelek kalau tidak kuat. Ayo semangat Adek bisa melewati ini. Mas cinta Adek tanpa terbantahkan. Mas janji jika Adek kuat Mas cium Adek sampai puas. Janji Mas bakal insaf dari narsis, tapi ngga jadi karena Mas sangat tampan. Ayo, Dek semangat!"
Dokter dan para perawat ingin tertawa ngakak mendengar perkataan Aziz. Sungguh ajaib semangat yang diberikan Aziz untuk Khumaira. Kenapa ada orang aneh datang kemari? Mereka heran wajah setampan dan sedingin itu memiliki jiwa humoris yang overdose.
Khumaira menggeplak kepala Aziz gemas. Semangat macam apa itu yang di lontarkan Suaminya? Apa Suaminya ingin melawak di saat dia melahirkan? Sungguh Khumaira ingin menguliti Aziz.
Aziz menggigit bibir bawahnya merasa lucu. Sungguh demi Allah ia hanya ingin membuat Khumaira tidak terlalu kesakitan. Demi apa pun itu ia jadi orang gila hanya karena Istrinya. Aziz kembali berdoa dalam hati supaya Khumaira tetap semangat.
"Kamu menyakiti kepala, Mas. Ayo semangat 45 untuk Dedek bayi kita Dek. Mas ganteng ah Mas jelek, tetapi mustahil jika Mas yang ganteng ini jadi jelek. Mas akan selalu menyemangati, Adek sepenuh hati. Dek Syafa, berjuanglah jangan membuat Mas takut. Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Tolong bertahan untuk, Mas dan Dedek. Mas tidak sanggup melihat Adek begini. Tolong maafkan Mas tidak bisa berbuat banyak. Mas mohon, jangan lemah karena kita satu. Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Mas mohon tetap kuat!"
Aziz menciumi wajah cantik Khumaira penuh cinta. Dia juga mengecup bibir Khumaira tanpa peduli sekitar. Yang penting Istrinya tahu betapa dirinya sangat mencintai sepenuh hati. Aziz sangat takut makanya berbuat konyol demi menghalau rasa panik.
Khumaira terharu mendengar support Aziz. Dia dengan kuat mengejan hebat dan meneriaki nama Aziz untuk menyalurkan kekuatan. Ia hanya bisa berdoa dalam hati bersama Suaminya. Khumaira tahu Aziz kalut makanya bersikap aneh. Dalam hati dirinya percaya sang Suami selalu berdoa atas keselamatannya dan sang buah hati.
"Arghhhhhhh ...! Enghhhh, arghh ughhhhh Mas Azizzzz .... Enghhh ....!!!