Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI2 - Kenangan Terindah 2!



...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....


...Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini....


.......**~'''~**.......


Ini masa-masa paling mendebarkan lantaran di sini anak bungsunya akan terlahir. Tanpa di sadari waktu begitu cepat sehingga Khumaira dan Aziz tidak sabar. Mereka tidak percaya 37 Minggu terlewati sangat cepat. Padahal baru kemarin Khumaira dan Aziz merasakan kedatangan di kecil.


Tahu-tahunya si kecil akan menyapa mereka. Tentu sja kebahagiaan selalu terpancar di wajah Aziz dan Khumaira. Bahkan keduanya juga begitu senang anak-anak begitu menantikan si kecil.


Hingga tujuh hari kemudian Khumaira merasa begitu sakit luar biasa akibat kontraksi. Dia cengkeram erat tangan besar Aziz dengan napas tersengal-sengal. Ia tidak mampu menjabarkan betapa sakit melahirkan anak keempatnya. Khumaira ingat jikalau ini bukan waktunya melahirkan.


Tepat pukul dua pagi Khumaira mengalami kontraksi. Air ketuban keluar di mana kandungan baru masuk Minggu ke 38. Sontak saja Suaminya siaga membawa ke rumah sakit. Bersyukur Alhamdulillah ada Ibunya di sini sehingga bisa menjaga anak-anak yang tidur. Khumaira begitu kesakitan menerima kontraksi.


Aziz panik tentu saja pasalnya nanti pagi jam sembilan kembali memastikan tanda-tanda kapan Khumaira melahirkan. Dan tanpa diduga setelah satu Minggu setelah bertanya mengenai jadwal melahirkan malah datang begitu cepat. Tentu sja Aziz dan Khumaira tidak menduga ini terjadi.


Kini sudah setengah jam Istrinya berjuang keras melahirkan anaknya. Dia terus berdoa setiap Istrinya mengejan mengeluarkan buah hatinya. Ia tidak sanggup rasanya melihat wanitanya begitu tersiksa. Aziz bahkan terus membisikan kata-kata cinta dan doa pada Allah minta segala perlindungan agr Khumaira kuat.


Awalnya Aziz begitu cerewet dengan kata-kata aneh. Tetapi, tidak bertahan lama sehingga membuatnya harus merasa sakit. Sakit dalam artian melihat Khumaira terus mengejan mengeluarkan sang buah hati. Segala doa ia labuhkan supaya Allah berkenan lekas mengabulkan terlahirnya si kecil. Aziz tidak bisa berkata apa-apa selain rasa paniknya.


"Mas, ughhhh enghhhh aku huhuhu huhuhu ya Allah, arghhhhhhh."


"Yang kuat, Dek ada Mas selalu menyemangati Adek. Ya Allah, berikan kuasa-Mu supaya Istriku lekas melahirkan."


"Okhhh, Mas ini sakit arghhhhhhh hiks sakit. Ya Allah, enghhhh ughhh. Mas enghhhh sakit akhhh sakit hiks, sakit. Ya Allah, arghhhhhhh!"


"Ya Allah, yang kuat Mas mohon ya Allah. Dek sungguh Mas begitu cinta atas nama Allah. Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Atas segala kuasa Mas mohon berjuang. Kita akan selalu bersama selamanya dan cinta kita akan terus berlabuh. Mas sangat mencintai Adek karena Allah."


"Hiks Mas sakit, ya Allah hiks. Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah. Ughhhh sakit arghhhhhhh eemmhhhh enghhhh akhhhh. Mas enghhhh akhhhh. Hiks ya Allah erghhhh enghhhh!"


"Yang kuat jangan menangis Mas mohon. Berjuanglah karena Mas begitu mencintai Adek. Jangan lemah nanti jelek kayak bebek lalu Mas jelek karena panik terlalu. Oh ya Allah, wajah ganteng Mas nanti jelek, Dek. Ayo semangat berjuang Sayangku! Semoga anak kali ini jadi personil Adek. Nanti kita tanding adu kerupawanan!"


"Arghhhhh Mas jangan kumat akhhhh. Ughhhh enghhhh Ya Allah arghhhhhhh eemmhhhh. Hiks enghhhh akhhhh enghhhh."


Hingga akhirnya semua terbalas ketika si kecil sudah lahir. Setelah berjuang kurang lebih satu jam akhirnya terlahir juga. Aziz langsung sujud syukur telah datangnya si kecil dalam dunia. Dirinya cukup la sujud syukur setelah mendengar Dedek bayi lahir selamat. Usai melakukan itu Aziz langsung menerima buah hatinya masih berlumur darah.


Dengan hati-hati Aziz meraih anaknya lalu mendekap hati-hati. Di rasa sudah cukup pas ia berdoa sebelum  Adzan lalu mengadzani si kecil. Setiap lafadz adzan air mata terus berjatuhan karena rasa haru. Setelah selesai adzan dirinya berdoa lalu melakukan Iqamah.


Aziz menangis haru akhirnya selesai Adzan dan Iqomah. Dia ciumi wajah anaknya sebelum memberikan pada Khumaira. Ia tersenyum manis di saat Istrinya mendekap anaknya. Kini Aziz duduk di samping sembari membelai pipi si kecil.


Rasa sakit yang diterima berkali-kali lipat terbayar telah mendengar tangisan si kecil. Khumaira menangis haru akhirnya bisa mendengar tangis anaknya dan rasa sakit itu sirna berkat si kecil. Tangis semakin haru mendengar Aziz mengadzani dan meniqamahi Dedek bayi. Matanya tambah panas melihat Suaminya menciumi wajah si kecil begitu lembut. Sungguh Khumaira begitu beruntung mendapatkan Aziz dalam hidupnya.


Hingga akhirnya si kecil berada dalam dekapan Khumaira. Dengan penuh cinta ia ciumi kepala sang anak seraya mengusap punggung kecil. Pantas sangat sakit karena Dedek bayi tampak besar. Mungkin sekitar 2-3 kg berat si kecil dan lagi anaknya cukup tinggi. Ya Allah, haru sekali sampai dirinya tidak mampu berkata banyak.


Di rasa cukup Dedek bayi telah pindah tangan dan siap untuk di mandikan. Khumaira merasa sakit karena ia harus berjuang mengeluarkan plasenta di kecil. Walau tidak seberat mengeluarkan anaknya. Kini proses persalinan menjadi lebih indah karena Aziz sangat romantis tidak gila seperti dulu.


"Terima kasih Sayangku telah melahirkan anak sempurna. Mas sangat mencintai Adek karena Allah."


"Sama-sama Mas, emh Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah."


"Adek adalah pelita sekaligus sinar Surya bagi, Mas. Adek adalah Bidadari surganya Mas. Atas segala cinta Mas sangat mencintai Adek karena Allah."


"Mas adalah sinar matahari yang selalu bersinar di hati. Mas adalah raja di hati Adek dan Mas pelita dalam kegelapan. Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah."


Aziz menciumi kening Khumaira setelah berhasil menyelesaikan semua. Dia begitu terharu Allah telah berkenan melindungi Istri dan anaknya. kini ia begitu bangga bisa memiliki Istrinya walau didapat. Penuh perjuangan. Kini Aziz berharap semoga bisa mengasuh si kecil penuh cinta seperti anaknsk sebelumnya.


Khumaira tidak pernah menyangka bisa mengandung tiga anak dari Aziz. Tiga anak rupawan yang sangat manis walau sikap mirip sekali seperti sang Ayah. Kini harapan terbesarnya semoga kelak keempat anaknya bisa jadi anak-anak sukses senantiasa taat pada Allah. Tiada daya upaya Khumaira pinta selain harapan kesuksesan dunia akhirat untuk anak-anaknya.


...%**🍂🍁🍂**%...


...Aziz POV!...


Bagai bunga yang sangat manis itulah yang kurasakan saat ini. Lihat anakku sangat tampan pastinya sepertiku. Setelah melakukan tahnik aku ciumi pipi anakku sayang yang mungil. Hingga akhirnya aku serahkan Dedek bayi pada Istriku. Lihatlah betapa bahagianya Istriku menerima si kecil dalam dekapannya.


Kalian tahu Istriku ini begitu indah lantaran setelah mandi besar wiladah meminta pakai baju dan hijab syar'i. Istriku begitu menjaga auratnya bahkan tidak pernah segan menutup semua walau sedikit saja. Tetapi, apa daya Istriku begitu gamblang menunjukkan lekuk tubuhnya padaku.


Itulah seorang wanita mulia menjaga aurat di depan publik bahkan tidak pernah menunjukan lekuk tubuh pada khalayak umum. Wanitaku begitu sempurna jika di luar begitu rapat memakai hijab dan pakaian syar'i. Kalau di rumah tidak segan menggerai rambut atau menunjukan auratnya hanya untuk diriku seorang.


Masya Allah, atas segala kuasa-Nya hamba begitu bersyukur karena Allah memberikan bidadari tanpa sayap seperti Dek Syafa. Kini segala cinta telah tersiar oleh sebuah kebahagiaan dari sang Khaliq. Hamba begitu bahagia telah menerima takdir dari-Mu ya Allah.


Anakku yang tampan telah menyusu untuk pertama kali. Ya Allah, senang sekali melihat Dedek Zavi minum asi semangat. Pasti haus sekali dirimu, Nak. Melihat putraku begitu hamba begitu bahagia ya Allah. Melihat Dedek semangat menyusu sangat manis. Kini aku begitu senang melihat Dedek Zavi sangat sehat.


Kini nama Zaviyar telah tersemat pada si kecil. Nama lengkap anakku sayang adalah Muhammad Zaviyar Gilbert Alfiansyah. Nama yang sangat lama aku persiapkan untuk si kecil. Bahkan aku juga sudah menyiapkan gelang dan kalung untuk anakku ini.


Dari gelang dan kalung aku siapkan ukiran nama Zaviyar. Indah sekali bukan dan akan aku pakaian nanti. Intinya anakku ini begitu manis dan tentunya sangat tampan. Sudah ku tebak bahwa si kecil laki-laki karena bentuk perut Istriku. Dan benar adanya sewaktu periksa jenis kelamin si kecil laki-laki.


Ngomong-ngomong keluarga Dek Syafa baru sampai dan tiga anakku sudah datang. Kini tinggal Abah, Ummi dan yang lainnya akan menyusul. Lihat mereka sangat gemas terutama Dedek FaaFaa.


Untuk Kak Ridwan dan kak Mumtaaz juga sama senangnya. Bahkan anak-anak begitu manis berebut minta dekapan hangat dariku. Mereka juga berebut minta ciuman Umi dan mencium Dedek Zavi.


Rasanya senang sekali melihat mereka sangat aktif. Rasanya lega Ketiga Kakak rupawan sangat menyayangi Dedek Zavi. Bahkan ketiganya begitu senang atas kehadiran si kecil. Tidak ayal membuat si Dedek bayi risi sampai menangis akibat di cubit gemas.


Lihat Dek Syafa sampai mengusap rambut mereka lalu meminta diam. Maklum saja anak-anak kalau Umi sudah bicara tegas bakal nurut heran deh. Walau usil, nakal dan jahil mereka langsung diam jika Umi bertindak. Wajar saja kan Dek Syafa begitu dihormati dan sangat disayangi anak-anak rupawan.


Ba'da shalat Dzuhur hal manis terjadi keluargaku datang. Mereka memberi salam lalu memberi selamat pada kami. Tentu saja kami senang sekali dan lihat Ummi langsung menyerobot Dedek Zavi sedang merengut lucu.


Sangking gemas mereka selalu memberikan ciuman dan pujian Masya Allah pada Dedek ganteng. Wajar sih secara Ayahnya begitu tampan sehingga banyak yang cinta.


Anakku sayang pada akhirnya berada dalam dekapanku. Jadi si kecil harus terima di serobot sana-sini sampai pusing. Alhasil anakku jadi boneka dadakan yang direbut banyak orang.


Anehnya anakku diam tidak cengeng walau akan menangis jika haus. Ampun, apa nanti anakku menjelma sebagai kulkas berjalan? Semoga saja anakku ramah, supel, riang dan hangat tidak sepertiku dingin.


Lupakan itu kini waktu terus bergulir tidak terasa sudah memasuki tengah malam. Dedek FaaFaa, Kakak Ridwan dan kakak Mumtaaz sudah tidur sedangkan si kecil belum bobok masih agak rewel minta asi.


Sebagai Suami siap siaga tentu saja aku temani Istriku begadang 24 jam non-stop. Tidak apa karena ini tugas seorang Suami. Maka sebisa mungkin aku melakukan hal demikian.


Aku duduk di tepi brankas lalu meraih kepala istriku untuk bersandar. Sementara tangan kananku sibuk menoel pipi gembul Dedek Zavi. Ya Allah gemesin sekali anakku ini.


"Mas, lucu sekali ya anak kita."


"Iya, lihat matanya hitam arang seperti almarhum Bapak."


Aku langsung bungkam saat sadar salah bicara. Sungguh Istriku ini sensitif jika menyangkut almarhum. Istriku tidak segan menangis jika bersedih atau rindu beliau. Ya Allah, maafkan hamba membuat Istri bersedih.


"Dek, maafkan Mas."


"Tidak apa Mas, hehehe Adek juga sangat senang sekali. Alhamdulillah, netra Dedek bayi mirip almarhum. Jadi Adek senang sekali jika rindu beliau melihat mata arang si kecil."


Aku tersenyum mendengar balasan Dek Syafa yang manis. Aku dekap tubuhnya bersama si kecil. Dengan cinta aku ciumi pelipis, ubun-ubun dan kening wanitaku. Ya Allah hamba senang sekali menerima ini semua.


"Mas juga begitu, Dek terima kasih."


"Sama-sama, Mas."


"Mas sangat mencintai Adek karena Allah."


"Adek juga mencintai Mas karena Allah."


"Maha Besar Allah telah berkenan memberikan kita segala kebahagiaan. Mas begitu bersyukur atas kebesaran Allah memberikan anugrah terindah."


"Maha Besar Allah senantiasa berkenan mengabulkan permohonan hamba-Nya. Adek juga sangat bersyukur Allah telah berkenan memberikan anugerah terindah."


"Ya Allah, senang rasanya. Mas begitu mencintai Adek dan anak-anak sepenuh hati."


"Kami juga sangat mencintai Ayah sepenuh hati."


"Berikan Mas ciuman!"


"Emuch."


Aku tersenyum manis saat Dek Syafa mencium pipiku. Malam romantis penuh cinta telah terlebih indah. Kami habiskan malam ini sembari menggenggam tangan. Kita bahkan tidak segan melakukan ciuman sayang. Aku begitu terharu menerima ciuman dan cintanya.


Karena senang aku mendekap tubuh Istri dan anakku. Bahkan kami tidak segan membalas ungkapan cinta. Bahkan kami tidak segan memberi sejuta keromantisan. Terasa dunia milik berdua. Yah walau ada Dedek Zavi dan tiga anakku yang tertidur pulas.


Kan kami hanya berdua lagian Dedek Zavi belum tahu apa-apa, eyak. Masih bayi baru keluar masak iya tahu Ayah dan Uminya ciuman. Matanya yang suci maafkan kami menodainya. Hehehehe, maafkan Ayah ya Nak mesum di waktu kurang tepat.


Mungkin karena lelah aku pinta Dek Syafa tidur bersandar pada dadaku. Benar saja kami akhirnya tidur setelah berdoa sebelum tidur. Untuk Dedek kecil tidur di boks dari pada terjadi apa-apa. Maafkan Ayah mau memonopoli Umi dulu, hehehehe.


Kalau Dedek nangis Umi milik Dedek seutuhnya. Kini biarkan Ayah yang mendapatkan Umi. Biarkan Ayah senang-senang dengan Umi mumpung tiga rusuh belum bangun. Bisa gawat jika tiga rusuh bangun Umi di monopoli kakak-kakak rupawan. Lalu jika Dedek Zavi bangun pasti hm minta susu. Lupakan itu kini saatnya Ayah yang memonopoli Umi.


Hahaha, tenang tidak akan ada gitu-gitu Istriku baru suci 40 hari kemudian. Nasib puasa lagi dan lagi. Sabar ya Aziz karena orang sabar tambah rupawan overdose. Orang sabar tambah mapan, ganteng terlalu sepertimu. Hahaha, ini katanya mau tidur kok masih melucu. Abaikan karena mahkluk tampan bobok dulu sambil bermanja ria bersama Dek Syafa!


...Aziz POV off!...


.......***.......


Semilir angin menerpa wajah Khumaira yang sedang bermain bersama anak-anaknya. Kini Dedek Zavi baru berusia empat bulan dan lihatlah si kecil tampak aktif mengajak bicara. Untuk Faakhira sedang asyik main boneka dan Mumtaaz sedang asyik bermain rubik. Melihat anak-anaknya adem ayem tentu saja Khumaira sangat senang.


Lihat anak-anak sangat aktif ketika adu mulut. Sedangkan Khumaira mendekap si kecil belum mau lepas dari dekapan. Kalau Aziz sedang di kantor ada meeting penting penting menyebabkan pulang nanti malam. Pekerjaan Suaminya tidak bisa di ganggu gugat pasalnya proyek besar akan di rilis. Sebagai Istri seorang CEO jadi harus sabar menghadapi pekerjaan sang Suami.


Apa lagi gaji Suaminya satu bulan tembus 100 juta lebih itu belum masuk uang kompensasi. Mungkin jika Suaminya kerja di luar Negeri jadi triliuner sampai Indonesia. Tetapi, Khumaira tidak akan pernah bisa melepaskan Aziz apa pun yang terjadi. Ingat tragedi di Singapura saja membuat darahnya mendidih akan penderitaan Suaminya.


Oleh sebab itu Khumaira tidak akan pernah bisa melepas Aziz apa pun itu. Dia akan selalu ikut ke mana pun Suaminya berada. Cukup posesif biarkan asal Suaminya akan santosa. Soal protective itu wajar karena takut suatu terjadi. Dia hanya ingin Suaminya selalu aman tanpa ada yang menyakiti atau lebih ekstrem obsesi gila macam Jasmin. Kini harapan Khumaira bahtera rumah tangga mereka tetap adem ayem penuh cinta.


Zaviyar haus sehingga tangan gembulnya meraih hijab Uminya. Bibir mungilnya kelametan minta asi dan ajaibnya tidak menangis. Catat Dedek Zavi tidak suka menangis. Bayi keren harus kece badai bin cool. Walau kadang menangis pada waktu tertentu. Intinya Baby Zavi tercinta tidak suka rewel. Rewel jika sedang demam atau sakit apalah itu.


Untuk Mumtaaz ia bosan karena rubik sudah ia selesaikan dalam waktu kurang lebih 50 detik. Paling lama satu menit itu pun ogah-ogahan. Asli ia begitu genius mirip Ayah dan Uminya tentu saja. Otaknya begitu encer membuat anak ganteng males belajar, tetapi anehnya peringkat. Mumtaaz paling malas di suruh belajar jika bukan kemauan sendiri. Satu hal yang pasti anak ini sangat genius, walau tidur di kelas suruh maju menerangkan pasti detail penjabaran.


Faakhira yang bosan pada akhirnya berdiri menghampiri Mumtaaz. Tubuh gempalnya dengan manja minta pangku Kakak keduanya. Dia mendusal manja dalam tubuh sedikit kurus Kakaknya. Ia tersenyum saja ketika Kakaknya mencium pipi gembul. Faakhira masih sibuk bermain pada hari Mumtaaz yang indah.


Melihat anak-anak sudah mulai bosan Khumaira putuskan mengambil camilan dalam kulkas. Dua anaknya suka puding coklat dan vanilla. Anehnya semua puding tidak mau manis. Yang suka manis hanya Faakhira mirip dirinya dan dua putranya ogah makan manis. Kadang Khumaira heran padahal manis itu enak lah Suami dan anak-anak Lanang tidak mau manis.


"Kak Mumi," panggil Faakhira masih asyik main jari Mumtaaz.


"Hn," sahut Mumtaaz menumpu dagu pada puncak kepala Faakhira.


"Kakak apa nanti puasa Kakak Wan Pulang?"


"Hn, Kakak gede pulanglah. Tapi, puasa ke dua puluh satu. Nanti Ayah yang jemput."


"Hore, kakak WanWan pulang, Dedek senang sekali. Nanti di gendong yeee, Kakak Ridwan yang terbaik. Ngga kayak Kakak Mumi ngga kuat gendong Dedek," celoteh Faakhira.


"Bagaimana mau gendong saat tubuhmu gembul kayak tahu bulat? Yang kuat gendong buntalan nasi ya cuma Ayah dan Kak gede," sengit Mumtaaz.


"Huwaaa kakak Mumi jahat!"


"Faktanya memang Dedek Gembul!"


"Huwaaaa huhuhu huhuhu, Umi!"


Faakhira menangis keras sembari menggigit bahu Mumtaaz. Dia sebal masak di hina buntalan tahu enak saja. Ia yang kesal spontan mengigit bahu lalu beralih menggigit pipi sedikit gembul Kakaknya. Sedikit peringatan dirinya barbar suka melakukan sesuatu. Faakhira tidak peduli Mumtaaz merintih kesakitan gara-gara kenakalannya.


Mumtaaz kapok menghina Faakhira ketika berada dalam pangkuan. Awas saja habis itu pipi gembul Adiknya. Sudah gembul bulat kayak bola nakal lagi, lengkap sudah. Dia akan hina nanti jika berada dalam radius jauh. Mumtaaz kapok membuat Faakhira merajuk alhasil sikap barbar keluar drastis.


"Sudah jangan bertengkar, Nak. Ayo Dedek manis lepaskan Kakak."


"Umi, huhuhu Kakak lebih dulu hina, Dedek."


"Ya Allah, anak cantik Umi kasihan sekali. Kakak minta maaf pada, Dedek."


"Tidak mau, Umi. Memang Dedek gembul kayak bola plus buntalan nasi."


"Yak, Kakak jahat ....!!!!"


Khumaira hanya menggeleng melihat kenakalan Faakhira dan Mumtaaz. Dua anaknya itu memang jahil bin nakal suka sekali berulat. Kalau ingat dua anaknya itu tentu ingat cerita Azzam dulu ketika bercerita tentang Aziz sewaktu kecil begitu nakal. Lebih parah malah bahkan kecilnya dulu suka merusuh suka jahilin tangga. Jadi maklum saja jika Mumtaaz dan Faakhira nakal begitu.


Wanita yang masih cantik bahkan semakin cantik meletakan Bayinya dalam boks. Khumaira pada akhirnya meraih Faakhira agar tidak nakal pada Mumtaaz. Lalu tangan lembutnya mengusap pipi putranya terdapat bekas gigitan. Lucu sekali dua anak manisnya ketika bercanda. Khumaira pada akhirnya menasihati Faakhira agar tidak menggigit jika kesal. Begitupun dengan Mumtaaz supaya jangan jahil jika tidak kena imbas.


Apa akhirnya Mumtaaz dan Faakhira diam lalu merengkuh sembari mengatakan maaf. Kakak dan Adik saling tersenyum mengukir senyum manis. Selalu begini jika berantem naikkan dengan pelukan dan ciuman pipi. Manis bukan dua anak rupawan ini? Mumtaaz dan Faakhira itu tipikal anak hiperaktif sedikit bar-bar maka jangan heran jika bertingkah lucu.


Lain sisi Aziz baru pulang awal setelah rapat penting selesai. Dia pulang lebih awal pasalnya sangat rindu. Padahal ia bilang pulang malam ternyata tidak. Dirinya beranjak menuju parkiran untuk pulang. Namun, terhenti ketika Romli bilang sesuatu. Aziz menuruti perkataan Romli yang bahas proyek.


Romli sebenarnya tidak enak hati, tetapi apa daya tidak paham. Terlalu rumit dan sangat unik untuk ukurannya. Dia heran kenapa bisa Sahabatnya memiliki ide ribet, unik dan elegan. Romli sih tidak heran pasalnya Aziz itu luar biasa fantastis. Pada akhirnya ia maksud setelah sahabatnya mendetail menjabarkan ide itu. Kini dirinya bisa tidur nyenyak.


.......***........


...........


Aziz menatap Zaviyar yang sedang menatap sembari mengemut Ibu jari tangan. Anaknya seolah mengisyaratkan gendong Dedek Zavi Ayah. Tatapan itu begitu polos sampai dirinya tidak mampu berkutik selain menoel pipi gembul anaknya. Atas segala kegemasan ia begitu gemas pada putranya. Anak tampannya terus memandang minta gendong.


Cukup tahu tadi Aziz berangkat pagi sekali bahkan Dedek Zavi belum bangun. Alhasil si kecil rindu dirinya sampai begitu menggemaskan. Dia menunduk untuk mencium kening anak rupawan. Lihat tangan kecil anaknya terangkat minta gendong. Aziz yang gemas mencium pipi gembul Zaviyar lalu berdiri seolah menggoda Zaviyar.


Zaviyar merengut lucu saat Ayahnya tidak mau gendong. Pada akhirnya ia kembali ke posisi semula dengan diam diri sembarangan menatap dalam Ayahnya. Ibu jari terhisap sementara mata berkaca-kaca minta gendong Ayahnya. Dasar Ayah jahat sudah pakai jurus imut tetap terabaikan.


Pada akhirnya Zaviyar tetap menatap Ayahnya dalam seolah awas saja kalau tidak di gendong. Dan benar adanya ia malah di tinggal sendiri sehingga matanya berkaca-kaca siap menangis keras. Awas saja tidak ada yang menolong ngambek permanen.


Aziz hanya pura-pura pergi ketika terdengar senggukan tentu saja langsung muncul. Dia gendong tubuh gempal anaknya sembari mencium gemas. Anaknya begitu manis ketika tersenyum tidak jadi menangis. Sungguh dirinya sangat gemas pada anaknya sellau bertingkah manja. Maklum saja Aziz termasuk kesayangan para anak kecil.


Bahkan semua Keponakan menjadikannya idola. Sering sekali jika datang para anak-anak manis berebut pelukan. Hingga punya anak juga sukses menjadi rebutan sampai Ridwan dan Mumtaaz cemburu. Ingat itu tentu saja Aziz begitu rindu pada dua anaknya super ganteng bin jahil.


"Ulu-ulu anak ganteng Ayah merajuk, Hm? Sini cium dulu ulu-ulu gemesin banget sih Dedek Zavi. Apa hm? Mau apa? Mau susu? Oh baiklah nanti Ayah kasih asi, tapi nanti kita main dulu. Apa anakku sayang , gemesnya." Aziz mengajak bicara Zaviyar sembari menggesekkan hidung mancungnya.


"Aaaa shsgfebagfav acafxebva msvhryevva," sahut Zaviyar pakai bahasa planet Uranus. Tangan kecilnya juga ikut serta menepuk pipi tirus Ayahnya.


"Apa hm? Bahasa Dedek ajaib banget Ayah tidak maksud. Apa mau susu atau min sama, Ayah?"


"Shsghagahvb aajshg asas bdhgrvrh hsvdbhdvdv."


"Oh, main sama Ayah, ayo kita main Sayangku. Kangen Ayah ya makanya ngoceh mulu kayak Umi. Dedek ngajak bicara, tapi Ayah tidak maksud."


"Huwavdvrvr shhsgsvabdv vsvscwbgve avegyrubsv asvvrhrvv."


Aziz terkekeh geli mendengar jawaban Zaviyar begitu lugu. Bahasa planet anaknya luar biasa sampai dirinya pening menerjemahkan. Orang segenius dirinya saja tidak mampu menerjemahkan apa lagi mereka. Sungguh gemas bikin haru di kala anaknya ngoceh. Aziz sangat terharu anaknya begitu aktif sampai gemas sendiri.


Zaviyar tertawa khas bayi kecil menggemaskan. Dia begitu luar biasa pasalnya sudah bisa ngoceh panjang. Walau bahasa bayi setidaknya mau mengajak bicara. Dirinya termasuk bayi hiperaktif begitu aktif dan ingin lekas bisa bicara. Zaviyar juga sudah mulai aktif mengerjai Ayah dan Uminya sampai pusing.


Melihat Aziz bercanda gurau bersama Zaviyar tentu saja Khumaira senang sekali. Anak ya terus menanjak bicara seolah tidak lelah. Walau pakai bahasa alien setidaknya ia sangat terharu dan bersyukur anaknya pandai berceloteh ria. Untuk Mumtaaz dan Faakhira sedang tidur setelah ditidurkan Suaminya. Dua anaknya itu merengek minta pelukan Ayah. Alhasil Aziz menidurkan anak-anak, sementara dirinya membuat makanan untuk nanti malam.


Setelah semua selesai Khumaira beranjak untuk membangunkan anak-anak. Ini waktunya shalat ashar maka dari itu membangunkan si ganteng Mumtaaz dan si cantik Faakhira untuk menunaikan ibadah shalat ashar. Sampai kamar pribadi anak-anak ia melihat Mumtaaz tidur sembari mendekap guling, sementara Faakhira tidur sembari mendekap boneka kelinci. Khumaira tersenyum melihat anak-anak tampak lucu ketika tidur.


"Dedek FaaFaa, ayo bangun Nak mandi." Khumaira membangunkan si kecil dulu lalu memberi ciuman di pelipis.


"Enghh," lenguh Faakhira sebelum namplok seperti bunglon pada Uminya.


"Mandi baru shalat lalu mengaji bareng Ayah."


"Umh."


Khumaira menggendong Faakhira untuk membangunkan Mumtaaz. Sampai di sisi ranjang anaknya ia usap pipi anaknya lembut. Dia tepuk pelan pipi anaknya agar lekas bangun. Bahkan ia tidak segan mencubit gemas pipi anaknya. Benar adanya Mumtaaz paling malas bangun jika sudah tidur lelap.


Mumtaaz mengerjap melihat Uminya begitu lembut membangunkan. Dia pada akhirnya bangun setelah mendapat ciuman pelipis. Ia akan mandi, shalat lalu ke Masjid mau mengaji. Sebelum beranjak dirinya kecup pipi Uminya sebelum beranjak dari ranjang. Mumtaaz mau gendong, tapi mana kuat Uminya dia sudah besar tinggi. Jika Ayah baru kuat menggendongnya.


Khumaira pada akhirnya memandikan Faakhira, untuk Mumtaaz mandi sendiri. Selesai mandi Mumtaaz dan Faakhira wudhu lalu beranjak ke kamar. Dia lap tubuh anak-anaknya sebelum memakaikan pakaian. Ia terkekeh geli saat ank ganteng sudah malu tidak mau dipakaikan baju. Saat memberikan bedak anaknya mau sendiri, untuk Faakhira masih manut.


Mumtaaz dan Faakhira berjalan beriringan menuju pasholstan. Kedua anak tampan ini menunggu Ayah mengimami baru mengaji. Sebelum shalat keduanya saling berbicara lalu tertawa ringan. Sangat menggemaskan apa lagi kasih sayang begitu tulus. Walau sering adu mulut Mumtaaz dan Faakhira saling mencintai setulus hati. Jika jauh rindu, tetapi ketika dekat adu Malut.


Lain sisi Aziz nyengir karena Khumaira menatap dalam. Dia tersenyum gaje pasalnya belum mandi gara-gara Dedek Zavi terus mengajak berceloteh. Alhasil dari Sabang sampai Merauke tetap menanggapi celoteh anak ganteng. Aziz gemas sendiri sehingga membuatnya terus berceloteh. Bahasa manusia vs bahasa planet tentu menang si kecil.


Khumaira meraih Zaviyar dari dekapan Aziz. Heran jika bersama Ayahnya si kecil cerewet sekali. Dia langsung sadar ketika bersama Suaminya pertama kali sikap asli cerewet muncul. Jadi si Dedek Zavi adakah duplikatnya yang pendiam, pandai menyimpan rasa dan tidak suka bicara. Jika bersama Ayah maka bisa berceloteh panjang lebar. Khumaira sangat sadar betapa kuat magnet Suaminya sampai membuat orang nyaman dan asyik bicara.


"Cepat mandi Mas lalu shalat. Itu anak-anak sudah siap mau Shalat dan mengaji. Maaf ya Mas belum suci jadi belum ikut jama'ah."


"Hm. Sini cium Mas, dulu baru mandi."


"Emuach, cepat mandi."


"Mas sangat mencintai Adek karena Allah."


"Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah."


Khumaira mengecup pipi Aziz lalu memberikan ciuman di rahang. Setelah itu duduk manis menyiapkan baju ganti Suaminya. Setelah itu ia membiarkan Suaminya mencium bibirnya. Walau si kecil menyusu dan Suaminya malah mencium mesra bibirnya. Khumaira sangat tahu  betapa gemas Aziz mencurahkan isi hati.


Aziz mencium gemas bibir Khumaira sebelum mencium pelipis anaknya. Dia langsung beranjak sebelum itu menggerling nakal. Ia tutup pintu kamar mandi untuk mandi bebek. Cukup lima menit tidak usah lama asal mandi. Kalau lama pasti Mumtaaz dan Faakhira merajuk alhasil harus gendong dua anaknya. Bisa sakit pinggang bahaya sehingga membuat Aziz harus cepat.


...Cut ....!!!!...


...Maaf belum tak koreksi dan edit jadi kalau banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan harap maklum....


...Maaf ya gaje hehehehe....


...Semoga kalian tetap terhibur....


...Aku benar-benar minta maaf....


...Salam cinta Rose....


...30_11_20...


...Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....