Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
Pertemuan Pertama!



Sylvester Huang adalah salah satu sahabat dan rekan bisnis Steve. Dia juga seorang pemimpin gangster paling ditakuti di Hongkong. Meski demikian SH singkatan nama dalam menjalankan bisnis ilegal selalu memakai topeng.


Wajah aslinya cukup populer di kalangan masyarakat Hongkong. SH sendiri sejatinya adalah desainer artis yang sudah meraih banyak penghargaan.


Namun, siapa sangka wajah teduhnya tidak mencerminkan sikap aslinya. Sylvester Huang sosok yang buas dan memiliki banyak bawahan.


Dalam dunia bawah SH di kenal Devil karena tidak ada perikemanusiaan. Sebenarnya dulu SH anak yang manis nan penurut, tetapi segalanya berubah sewaktu Ayahnya melakukan pengkhianatan.


SH bisa mengenal Steve kala itu mendiang sang Adik sakit parah. SH tidak ada uang hanya memiliki sedikit harta berharga. Kala itu tanpa sengaja SH bertabrakan dengan Steve yang sedang melakukan seminar di Hongkong.


Rasa belas kasihan menghantarkan Steve menolong SH kala itu sedang kesusahan. Dia meminta SH membawa sang Adik ke rumah sakit tentunya semua biaya di tanggung olehnya.


Steve dengan segala kemampuannya menyelamatkan nyawa Adik SH. Dari situ SH begitu menghormati serta menjadi salah satu sahabatnya. Semua memang telah menjadi takdir pertemanan Steve dan SH.


Setelah kepulangan Steve ke Amerika Serikat, SH berusaha menjadi Kakak yang baik. Dia yang mahir bela diri menjadi guru seni bela diri di sekolah swasta. Namun, nasib buruk terjadi kala Adiknya tiada akibat ulah Ayahnya.


Dalam jiwanya SH bersumpah akan menjadi orang lebih kuat demi menghancurkan Ayahnya. Usahanya membuahkan hasil kala diterima oleh kelompok kriminal nomer satu.


Awalnya SH hanya sebagai anak buah, lambat lain kemampuan yang dimiliki menghantarkan menjadi pemimpin. Tentu saja dendam terbalas dengan penuh kebahagiaan.


Ibu SH meninggal, harta yang dimiliki Ibunya kandas. Namun, SH telah berhasil membalas kesakitan tersebut secara brutal.


SH sedang menatap bocah kecil begitu menggemaskan dengan pandangan sulit diartikan. Setelah di mintai bantuan oleh Steve untuk melancarkan aksi membuatnya semangat. SH senang karena Steve akhirnya membutuhkan jasanya.


"Kamu mau membuang anak menggemaskan ini ke hutan, begitu?" Tanya SH setelah sekian kali.


"Kamu tenang saja aku hanya ingin kamu mengawasi anak ini dipungut orang. Di hutan jangan sampai hewan apa pun menggigitnya. Setelah ada yang menolong kamu ikuti mereka dari kejauhan. Pasti mereka lapor polisi, setelah ada laporan tersebut pasti tahu apa kelanjutannya. Jelas kamu cerdas, SH," jabar Steve.


"Lagi-lagi aku harus menghabisi polisi, tetapi tidak apa. Sekarang pergilah ke tempat di mana para korban bencana alam. Anak ini aman bersama, 'ku!"


"Janj, kamu harus mengawasi bocah ini. Buang kalung dan gelang biar jejaknya lenyap."


"Hm."


"Setelah semua rencana terselesaikan temui aku."


"Kenapa bisa kamu sejahat ini, Steve? Kamu meminta bantuan ku untuk menghancurkan mantan kekasihmu. Mereka meninggal di tempat, lalu kenapa masih belum cukup juga? Apa kesalahan anak ini? Kembalikan dia pada keluarganya. Kasihan dia sudah yatim-piatu, tetapi di sana masih ada keluarga besarnya."


"Jangan berbicara kebaikan sedangkan kamu telah membuat banyak wanita janda dan anak menjadi yatim. Kejahatan mu jauh lebih besar, Silver."


"Jangan bahas kejahatan karena sudah jelas aku lebih jahat. Namun, katakan apa salah bocah tidak berdosa, ini?"


"Karena dia adalah anak dari wanita itu."


"Klise. Bukannya yang salah Ibunya? Ibu anak ini sudah tiada, tetapi kamu tetap kukuh menghancurkannya. Kamu bisa mengembalikan anak ini sebelum menjadi bumerang."


"Aku tidak percaya iblis punya hati. Aku tidak mau tahu lakukan semua perintah, 'ku!"


"Tidakkah hatimu tersentuh? Aku pernah kehilangan banyak kali Steve makanya tahu rasanya kehilangan. Pasti keluarganya hancur lantaran anak dan menantu tiada, sedangkan cucu hilang."


"Aku tidak peduli!"


"Susah bicara dengan orang gila. Baiklah aku pergi."


SH pergi membawa Zaviyar ke tempat yang jauh. Dia akan pastikan anak ini selamat di tangan orang yang tepat. SH berharap kelak Zaviyar bertemu kembali dengan keluarga besarnya.


Di hutan belantara tempatnya setengah kilo dari jalan raya SH meletakkan tubuh Zaviyar. Dia ingat suruh mengambil gelang dan kalung, tetapi antah kenapa tidak melakukan hal tersebut. SH berharap Zaviyar di suatu hari di temukan berkat kalung dan gelang.


"Maafkan aku bocah melakukan kejahatan. Percayalah, aku melakukan ini karena balas budi. Setidaknya ini kali pertama aku memisahkan anak kecil dari keluarganya meskipun Ayah dan Ibumu telah tiada, itu pun di tangan, 'ku. Maaf."


SH diberi tahu Steve bahwa efek obat tidur akan segera berakhir. Maka dari itu segera SH bersembunyi cukup jauh dari Zaviyar. Dalam kejauhan SH mengawasi Zaviyar yang malang.


Masih teringat jelas dalam ingatan bahwa anak ini sampai ke tangannya butuh perjuangan. Steve yang gila memasukkan Zaviyar ke dalam koper besar. Sepuluh menit dalam perjalanan menuju tempat janjian baru Zaviyar dikeluarkan dari koper.


Perjalanan sangat panjang, sampai akhirnya mereka bertemu. SH pikir Steve memiliki sedikit belas kasih, ternyata tidak. Maka dari itu SH harus melaksanakan tugas meski ada satu amanah tidak dipenuhi.


Lima menit setelah SH bersembunyi akhirnya Zaviyar sadar. Anak kecil berusia tiga tahun tampak kebingungan menatap sekelilingnya. Zaviyar hanya bisa menangis meraung-raung.


Dalam tangisannya Zaviyar hanya mengucap tiga kata Ayah dan Umi tolong. Tangisan pilu sukses menyayat hati SH, tetapi mau bagaimana lagi tidak bisa menolong.


"Ayah ... Umi ... huhuhu huhuhu tolong."


Kaki kecilnya terus melangkah tidak tentu arah. Zaviyar tersandung beberapa kali membuat tangan dan lututnya berdarah.


Tidak terasa sudah satu setengah jam Zaviyar berjalan tanpa arah tujuan tentunya diikuti SH. Hati nurani SH berontak kasihan melihat anak malang itu terlunta-lunta.


Hingga setengah jam kemudian keajaiban datang bahwasanya Zaviyar ada di tepi jalan raya. Kaki kecilnya terus melangkah tanpa kenal lelah meski keadaan memprihatinkan.


Zaviyar tidak ingat apa pun kecuali sebutan Ayah dan Umi. Tidak berselang lama dari kejauhan ada mobil lewat. Zaviyar yang ketakutan berlari sekuat tenaga.


SH sudah menyiapkan senjata api jikalau yang menolong pertama adalah orang jahat. Dalam pengawasan ia juga meminta bawahannya segera menyusul demi mengikuti mobil itu.


Dalam mobil pasangan Suami-Isteri sedang menikmati perjalanan, sedangkan anak semata wayang tertidur. Beda dengan Driver menatap sosok anak kecil berlari ketakutan.


"Astaghfirullahal'adzim, asf sayidati wisadati, hunak tifl saghir khayifun." (Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung. Maaf bapak ibu, ada anak kecil yang ketakutan.) Pak Driver menatap takut jikalau anak itu hanya umpan.


"Ma al'amr ya sayidi." (Ada apa, pak?) Tanya Zainal dan Aisyah penasaran.


Spontan Pak driver menunjuk arah depan di mana ada anak berlari ketakutan. Tubuhnya menggigil diiringi pikiran negatif.


Sedangkan Zainal dan Aisyah menatap lurus di mana ada anak kecil berlari. Rasa iba muncul berusaha berpikir positif tentang bocah tersebut.


Zainal meminta Pak driver menepi guna menghampiri bocah tersebut. Saat hendak turun Aisyah ikut turun diikuti Emran.


Pasangan Suami-Isteri menggandeng tangan anak semata wayang menghampiri bocah tersebut. Mungkin karena rasa takut bocah tersebut tersungkur seraya berteriak Ayah-Umi.


Zaviyar meraung memanggil Ayah dan Umi berulang kali. Degup jantung terpacu ketakutan disebabkan oleh kedatangan seseorang.


"Nak," panggil Aisyah spontan.


"Umi," lirih Zaviyar takut-takut mendongak menatap orang yang memanggil.


"Umi? Saya bu ...." Ucapan Aisyah terhenti akibat Zaviyar mendekapnya.


"Eh?" Kejut Zainal sekeluarga.


"Umi, huhuhu Zavi takut huhuhu. Takut," rengek Zaviyar mengira bahwa Aisyah adalah Uminya.


"Bi, sumpah demi Allah ... Umi tidak mengenal anak ini," lirih Aisyah masih shock.


"Sepertinya anak ini butuh penanganan dan kita harus ke kantor polisi untuk menyerahkan anak ini," ujar Zainal.


"Tolong, huhuhu Ayah huhuhu Umi, Zavi takut," isak Zaviyar sebelum jatuh tidak sadarkan diri.


Zainal langsung mengangkat Zaviyar menuju mobil di ikuti Aisyah dan Emran. Melihat wajah rupawan anak malang ini membuat sudut hatinya tercubit.


Aisyah dan Emran telah masuk mobil begitu juga Zainal serta bocah malang. Mobil melaju membelah hutan yang akan dikenang oleh Zainal dan Aisyah.


Saat mau ke rumah sakit Zaviyar bangun terus meracau Ayah-Umi tentu membuat Zainal dan Aisyah mengurungkan niat ke rumah sakit. Hingga Pak driver mengusulkan agar Zaviyar di bawa ke kantor polisi.


Pak driver tidak mau jika anak ini akan menjadi masalah kedepannya. Bisa jadi anak bernama Zaviyar dibuang atau malah diculik.


Usulan Pak driver disetujui sebelum membawa ke Dokter. Semoga saja anak ini tidak mengalami hal buruk sebelum ditemukan.


****


Anggap saja obrolan mereka pakai bahasa Arab. Zainal dan Aisyah telah sampai di kantor polisi terdekat. Seperti di awal mereka akan menyerahkan Zaviyar pada mereka.


Keterangan telah mereka lontarkan supaya kedepannya tidak membahayakan. Inspektur Polisi juga sudah mencatat segala keterangan mereka.


"Adam, tolong cari tahu anak bernama Zaviyar di Arbil. Apa benar anak ini dibuang atau di culik?" Perintah Inspektur Polisi pada agen khusus kepolisian.


Sebagai detektif serta orang yang piawai dalam dunia militer tentu Adam menjadi orang yang bisa diandalkan. Sontak Adam menuruti perintah atasannya.


Adam mencari data anak yang lahir empat-lima tahun belakangan ini. Memang dia punya data tersebut karena setiap anak yang lahir akan dibuatkan akte.


Sampai 40 menit nama Zaviyar tidak muncul hanya ada nama Zaviyan itu pun baru berusia satu tahun. Adam melapor kembali pada atasannya bahwa nama Zaviyar tidak ada.


Spekulasi bahwa Zaviyar di buang atau di culik melintas dipikirkan Adam. Namun, kenapa anak ini lolos? Bukannya korban penculikan rata-rata minta tebusan atau malah tidak selamat?


Jiwa detektif Adam meronta berusaha memecahkan kasus mengenai anak bernama Zaviyar. Dia janji secepatnya akan berhasil memecahkan kasus anak tersebut.


Zaviyar mengerjap takut melihat para polisi memiliki perawakan tinggi, besar dan pastinya garang. Merasa butuh perlindungan dia mendekap leher tertutupi hijab Aisyah.


"Umi, mereka menakutkan. Tolong huhuhu Zavi takut. Tolong singkirkan mereka," pinta Zaviyar sambil menangis.


"Tenang ya sayang, mereka tidak jahat. Nah, Zavi lihat mereka ingin berteman," bujuk Aisyah.


"Tidak mau, huhuhu huhuhu jahat," tolak Zaviyar.


Sepertinya ada satu orang yang cukup bisa berbahasa Indonesia yaitu rekan Adam yaitu Omar. Pria yang pernah belajar di Hadramaut Yaman dan berteman baik dengan orang Indonesia.


Emran hanya diam Uminya direngkuh oleh Zaviyar. Jujur saja dia ingin memiliki Adik laki-laki supaya punya teman. Di rumah teman Emran hanya kucing serta penjaganya.


"Hai, jagoan kenalkan nama saya Omar Bin Abdul Manaf. Panggil saja Omar, nama jagoan cengeng siapa?" Tanya Omar disertai senyum bersahaja.


Takut-takut Zaviyar menoleh ke arah Omar meski takut lama-lama tidak. Mata indahnya mengerjap beberapa kali sampai tangan kecilnya menerima uluran tangan Omar.


Antah sikap yang diajarkan Ayah dan Umi masih terekam dalam pikiran dan hatinya. Meski melupakan semua tentang keluarganya, tetapi semua ajaran tetap terpakai.


"Nama Zavi adalah Zavi," sahut Zaviyar sopan.


Omar melihat ukiran nama Zaviyar dan anak cerdas ini mengatakan namanya Zavi. Nama panggilan yang bagus ringan serta mudah diingat.


"Zavi tinggal di sini dulu ya. Nanti kita semua bermain bersama. Paman janji akan membelikan banyak mainan," bujuk Omar.


"Ayah dan Umi bagaimana?" Tanya Zaviyar melihat Aisyah dan Zainal.


"Mereka pulang mau ambil makanan Zavi. Sebelum mereka datang kita bermain bersama ya." Kekeh Omar supaya Zaviyar mau tinggal.


Jika Zaviyar tinggal tentu saja memudahkan mereka menemukan keluarga serta alasan mengapa bisa berada di hutan. Mereka akan berusaha menemukan orang tua Zaviyar sampai darah penghabisan.


"Tidak mau, Zavi mau sama Ayah dan Umi. Zavi takut nanti tidak bertemu lagi," sahut Zaviyar.


"Nak, kami sebentar tidak lama. Zavi di sini saja ya," bujuk Zainal.


"Tidak mau Ayah. Zavi mau sama kalian huwaaa huhuhu Zavi tidak mau," histeris Zaviyar lagi.


"Bagaimana jika anak ini kami bawa ke hotel tempat kami menginap? Kami akan tinggal dua hari lagi. Ini kartu nama saya jika nanti ada kabar mengenai anak ini langsung hubungi kami," usul Zainal tidak tega melihat Zaviyar.


"Tapi ...." Inspektur Polisi tampak ragu.


"Tidak apa-apa, Pak. Biarkan anak ini ikut bersama mereka, lihat Zaviyar sangat nyaman. Dari analisis yang saya rasa anak ini menganggap mereka adalah Ayah dan Uminya. Jangan khawatir kita bisa mencari tahu tanpa ada keberadaannya!" Tegas Adam.


"Jikalau anak ini di culik kita akan mencari siapa gerangan yang menculik serta alasan membiarkan anak berkeliaran di hutan? Namun, jika anak ini di buang kita harus segera menangkap orang tuanya!" Tegas Omar ikut memberikan saran.


"Baiklah, kalian boleh membawa anak ini, tapi dengan syarat harus menghubungi kami," pungkas Inspektur Polisi.


"Terima kasih, kalau begitu kami permisi," ujar Zainal sambil meletakkan kartu namanya.


Akhirnya Zaviyar pulang bersama Zainal, Aisyah dan Emran. Namun, siapa sangka para polisi harus menghadapi bombardir dari SH.


SH tidak mau polisi menggagalkan rencana Steve. Pasukan SH hanya melumpuhkan para polisi dengan menyuntikkan obat yang diberikan Steve.


Obat yang sama untuk menghilangkan ingatan. Bahkan Pak driver tidak luput dari SH lantaran akan menjadi ancaman.


Di lain sisi Aziz dan Khumaira beserta anak-anak tampak khusyuk mengaji. Mereka terus mengirim do'a kepada almarhum dan almarhumah beserta Zaviyar.


Selesai mengaji keluarga kecil ini saling diam merenung sejenak kesalahan pada Allah. Istighfar terus terucap sampai suara Ridwan memecah keheningan.


"Kakak tidak melihat ada jin yang menyerupai Dedek Zavi selama ini. Itu artinya Tole Zavi masih hidup, kalau almarhum Bibi dan Paklik agak sering, mereka ingin anak-anaknya ikhlas atas apa yang terjadi. Kadang Kakak frustasi didatangi makhluk halus dengan wujud menyeramkan sekedar minta tolong. Namun, ada hikmah setidaknya dengan kelebihan ini Kakak tahu bahwa Dedek Zavi masih hidup. Allah itu Maha Besar karena mengembalikan keistimewaan itu disaat yang tepat. Padahal Kakak tidak ingin memiliki kelebihan ini, tetapi apa boleh buat. Semoga saja kelebihan Kakak tidak menganggu," pungkas Ridwan.


"Aamiin, dengan begitu kita masih bisa terus yakin bahwa Tole Zavi masih hidup. Semoga saja di mana pun Tole berada dalam lindungan Allah serta bersama orang baik," timpal Aziz.


"Aamiin," kor Khumaira serta anak-anak.


"Ayah, sampai kapan kita di sini?" Tanya Mumtaaz.


"Beberapa hari lagi, satu Minggu setelah kepergian almarhum dan almarhumah, Le," sahut Aziz.


"Lama juga ya, tapi kami senang di sini banyak teman," ujar Faakhira.


"Teman banyak dan sangat baik kita juga harus bersikap demikian. Jangan nakal atau narsis ya," tukas Khumaira.


"Baik Umi," sahut mereka.


Semua berpelukan sembari tersenyum penuh arti. Walau dalam keadaan berkabung tidak boleh terlalu larut.


Biarkan keluarga kecil tetap tersenyum bahagia menikmati kebersamaan walau pun hati pedih. Mereka saling menguatkan dengan cada gurau menghilangkan rasa pedih.


...........


Rose minta maaf ya acak kadul soalnya belum tak koreksi, ini update mendesak banget. Banyak banget kegiatan hari ini, sekali lagi maafkan Rose nulis banyak typo.