Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
Semakin Dekat!



Aziz baru pulang dari rumah sahabatnya. Mereka satu kelas dulu di Kairo makanya dia berkunjung sebentar untuk melihat Istri dari temannya lahiran. Lagian mereka satu kantor walau posisinya lebih tinggi.


Sebenarnya mau mengajak Khumaira, tetapi Istrinya sedang merawat Ridwan yang sedang sakit. Aziz tadi hendak tidak pergi, namun Khumaira memintanya pergi. Alhasil pergi sendiri menjenguk temannya.


Di kamar Aziz tidak melihat Khumaira. Mungkin saja di kamar si kecil. Perlahan dia melepas kaus hitam polos dan menaruh di sofa. Dia sangat gerah dan memilih mencari udara segar.


Aziz berdiri nyaman di balkon seraya menikmati semilir angin sore. Hembusan angin nakal menerpa tubuh dan memainkan anak rambutnya. Dia sangat menikmati ketika udara terasa sejuk. Aziz mengulurkan tangan kekarnya meraih daun yang terbang ke arahnya.


Khumaira terbangun ketika mendengar deru mesin mobil. Dia menengok ke arah Ridwan yang terlelap nyaman dalam dekapannya. Dia kecup kening Putranya penuh kasih sayang. Khumaira Mmembelaipipi gembul sang buah hati agar nyaman.


"Cepat sembuh, Dedek. Umi, sangat menyayangi Dedek dan sangat sedih jika Dedek sakit. Anak Umi yang manis jangan sakit lagi karena Umi tidak sanggup melihat Dedek sakit."


Khumaira mengecupi seluruh wajah sang Putra. Setelah itu meninggalkan sebentar untuk membuatkan kopi untuk Aziz. Dari pagi Khumaira lupa masak dan mengisi perutnya dengan makanan. Makanya sedikit pusing dan lemas. Entahlah rasanya sedikit beda pada tubuhnya.


Ketika langkah kaki membawa ke kamar Khumaira tidak melihat Aziz. Di mana Suaminya? Lalu tersenyum ketika melihat pintu balkon terbuka.


"Mas, sudah pulang. Maaf aku belum masak. Nanti aku buatkan makanan."


Khumaira belum tahu Aziz tidak menggunakan baju. Saat keluar menuju balkon ia terkejut melihat Suaminya bersandar di tiang penyanggah. Pipi merona akibat melihat Aziz tampak menggoda.



Aziz bersandar sembari menatap Khumaira intens. Istrinya terdiam begitu membuat ia ingin berlama-lama menggoda. Aziz melangkah menghampiri Istrinya, sedang menunduk. Tangan kekarnya terulur untuk menarik pinggul Khumaira. Dia angkat dagu Istrinya untuk melihat betapa manis sang pujaan hati.


"Mas, aku akan membuat makanan."


Khumaira berusaha mendorong dada bidang aziz. Namun semakin terengkuh erat. Kepalanya jadi pusing kalau begini. 2 minggu setelah kejadian panas itu membuat mereka semakin dekat. Walau Aziz menyentuhnya baru 3 kali, tetapi sangat berharga.


"Tidak perlu repot, Dek. Bagaimana kondisi Tole Ridwan sekarang?"


"Ayolah, Mas ... aku akan segera kembali setelah membuat makanan. Alhamdulillah, Dedek sudah turun demamnya."


"Adek urus Tole saja, biar Mas yang masak, bagaimana? Alhamdulillah ya Allah, Mas senang sekali mendengar itu. Maaf Mas malah berangkat kantor dan kurang jaga, Dedek. Apa sudah makan?"


"Jangan begitu kebetulan Dedek sedang tidur. Biar aku saja yang masak, Mas. Tunggu sebentar aku ugh ...."


Khumaira merasa pening membuat dirinya langsung *** rambutnya. Kalau begini siapa yang menjaga Ridwan. Kenapa sakit tidak pada waktunya?


Aziz langsung panik dan memperhatikan wajah Khumaira. Sangat pucat dengan pancaran mata redup. Aziz langsung menggendong Khumaira untuk rebahan di ranjang.


"Diam di situ, biar Mas yang masak. Jangan bilang belum makan dari tadi. Dedek juga belum makan bukan? Kalau mau jaga Dedek yang sakit juga perhatikan kondisi, Adek?!" hardik Aziz.


"Maaf, Mas," sesal Khumaira merasa tidak enak.


Aziz duduk di tepi ranjang seraya menatap Khumaira khawatir. Tangannya terulur untuk mengusap rambut panjang Istrinya.


"Mas minta maaf sudah membentak, Adek. Sungguh semua terasa sesak melihat kalian sakit. Jangan ulangi lagi, Mas menyayangi kalian."


Aziz mengecup kening Khumaira mesra lalu beranjak meninggalkan kamar sebelum itu mengambil kaus. Dia akan membuat sup dan bubur serta oseng tempe.


Khumaira tersenyum teduh mendengar perkataan Aziz. Dia memilih bungkam dari pada mencari masalah dengan penyakit.


Seraya menunggu Aziz, dia mengambil ponsel Suaminya. Sesekali Khumaira melihat pesan pribadi Aziz dan isinya bisnis semua. Membuka Whatsapp juga begitu. Terakhir foto galeri dan hasilnya cukup membuat cemburu.


Aziz foto seraya menggendong bayi mungil dan di dekatnya ada Zahira. Dan foto di ambil beberapa jam yang lalu. Rasa sesak membelenggu hati Khumaira. Buru-buru menggeser foto yang lain ketika melihat seorang bayi mungil manis. Tidak banyak foto Aziz hanya sebagian.


"Kenapa aku jadi sebel Mas dekat dengan, Mbak Zahira? Aish, lupakan itu aku mau istirahat sebentar."


Khumaira jadi semakin pusing memikirkan foto tadi. Karena pusing membelenggu pada akhirnya dia tertidur.


***


Aziz menggendong Ridwan menuju kamar pribadinya. Dia tersenyum melihat Khumaira sudah lelap seraya merengkuh guling.


"Ayah," lirih Ridwan sembari merengkuh leher Aziz erat.


"Iya, Nak ada apa, Hm?"


"Pusing," keluh Ridwan seraya memajukan bibir bawahnya.


"Anak tampan cepat sembuh biar bisa main bareng Vivi lagi. Gih makan bubur lalu minum sirop."


"Umz, Umi tidur, Ayah."


"Iya, jangan ganggu dulu biar Dedek sama, Ayah. Ayo makan, aaa ....!"


"Aaa ...."


Aziz menyuapi Ridwan dengan bubur buatannya. Pria dewasa ini begitu mahir memasak karena sedari kuliah di Kairo ia mandiri. Walau sang Kakak membuat makanan untuknya, tetapi ia belajar masak bersama Azzam. Aziz belajar aneka ragam makanan agar kelak berguna bagi dirinya. Sikap mandiri dan pekerja keras membuat dia berambisi sukses.


Ridwan makan dengan lahap setelah habis minum obat dan beralih minta di ceritakan dongeng. Si kecil ingin mendengar cerita dongeng yang sering di ceritakan Khumaira.


Aziz menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Soal dongeng mana tahu Aziz begituan. Ah mungkin dia akan bercerita tentang Nabi saja.


"Umz, boleh Ayah yang seru ya."


"Baiklah, memang Dedek tahu Nabi itu siapa?"


"Tahu, Nabi adalah orang yang memiliki jiwa suci dan penegak agama yang taat akan perintah, Allah," jawab Ridwan sangat polos karena si kecil menyerukan pendapatnya.


"Masyaallah ... anak pintar, Ayah bangga sekali dengan, Tole Ridwan," puji Aziz dengan senyum haru.


"Terima kasih, Ayah. Ayo cerita Nabi, Ayah!" seru Ridwan dengan binar kebahagiaan.


Aziz tersenyum penuh arti melihat keceriaan Ridwan. Dia memangku tubuh mungil anaknya dan mulailah dia bercerita tentang Nabi Sulaiman.


Nabi yang di beri mukjizat oleh Allah dengan sangat mengagumkan. Pertama Nabi Sulaiman mampu berbicara pada hewan. Kedua, mampu melihat hal gaib. Ketiga, memerintah para jin, hewan dan manusia. Keempat, mampu mengendalikan arah mata angin. Kelima mampu mendengar suara lirih dari jarak yang sangat jauh. Dan masih banyak lagi mukjizat Nabi Sulaiman yang lain.


Ridwan menyimak cerita Aziz penuh kekaguman akan sosok Nabi Sulaiman. Dengan riang dia berceloteh.


"Ayah, pasti Nabi Sulaiman senang sekali bisa di beri mukjizat luar biasa oleh, Allah. Seorang Raja yang sangat bijaksana dan pemerintahan tidak hanya manusia. Huwae, pasti sangat senang bisa bicara dengan para hewan. Ayah, apa Nabi Sulaiman tidak akan kekurangan harta?"


"Pasti sangat membahagiakan memiliki mukjizat itu, Nak. Para Nabi memiliki mukjizat luar biasa yang paling luar biasa. Beliau Nabi Sulaiman sangat bersyukur atas mukjizat yang Allah turunkan untuknya. Tidak, karena kekayaan Beliau tiada tara. Harta melimpah ruah dan tidak sombong. Nabi Sulaiman sangat dermawan dan bijaksana. Jadi, Tole harus mencontoh jika kita punya jangan sungkan untuk bersedekah, berbagi dengan orang yang tidak mampu dan menjaga silaturahmi. Besok Ayah akan bercerita Nabi yang lain."


"Masyaallah luar biasa sekali para Nabi itu, Yah. Jadi ingin melihat Beliau kelak di akhirat


Insya Allah, Ayah. Hore, Dedek senang sekali. Terima kasih, Ayah."


"Maka dari itu Adek harus taat agama, mengaji, shalat dan bersedekah dan puasa. Dedek harusj harus jadi pemuda sholeh supaya bertemu para, Nabi. Sama-sama, Dedek."


“Insya Allah, Dedek akan jadi pemuda sholeh yang taat agama islam serta menjalankan perintah Allah. Adek mau bertemu Nabi dengan amal ibadah berlimpah. Nanti Adek akan jadi Hafidz supaya membawa Umi, Abi dan Ayah.”


Aziz menangis mendengar jawaban Ridwan sangat tulus nan polos. Demi Allah ia sangat beruntung bisa mengasuh anak sebaik Ridwan. Atas Rahmat dan Kuasa-Nya ia akan selalu mendidik Putranya agar menjadi pemuda shaleh.


Khumaira tersenyum sembari menangis haru mendengar cerita Aziz untuk Ridwan. Sedari tadi Putranya begitu rewel kini kembali tersenyum cerah berkat Aziz. Dia bersyukur karena Suaminya mampu membuat orang kembali berwarna.


Hati Khumaira begitu sejuk mendengar percakapan Aziz dan Ridwan. Mereka berdua begitu alami apa lagi keinginan Ridwan menjadi lebih baik itu semua berkat Suaminya. Demi Allah Khumaira begitu terharu dengan cara mendidik Aziz pada Putranya Ridwan.


"Mas Aziz," gumam Khumaira seraya tersenyum tulus.


Aziz menciumi pipi gembul Ridwan penuh sayang. Sementara Ridwan terus berceloteh ingin segera mendengar cerita Nabi. Ayah dan anak ini terus mengobrol tanpa tahu kegiatan di lihat Khumaira.


***


"Ayo makan, aaa ....!" perintah Aziz.


"Tidak, Mas biar aku makan sendiri," tolak Khumaira halus.


"Keh, memang siapa yang mau menyuapi, Adek," ejek Aziz seraya tersenyum miring.


Khumaira sebal mendengar perkataan Aziz. Dasar Suaminya ini benar-benar kurang waras. Dia langsung makan tanpa peduli Suaminya. Khumaira menyuapkan satu sendok lalu mengunyah sambil melirik tajam Aziz.


Aziz merebut piring dan menyuapkan nasi ke mulutnya. Dia tersenyum saat Khumaira menatapnya sengit. Dengan sayang dia menarik pelan kepala Istrinya lalu mengecup bibir. Aziz melumat pelan bibir sang Istri setelah puas mendorong nasi dan lauk ke mulut Khumaira.


Khumaira mendelik saat Aziz melumat bibirnya. Dia bergetar saat lidah Suaminya masuk mendorong nasi. Dia berkedip pelan saat tahu situasi dan kondisi. Wajah Khumaira merah padam atas tindakan Aziz barusan.


Aziz menyudahi ciuman panasnya dan memilih mengusap rambut Khumaira. Dia tersenyum manis saat Istrinya mengunyah nasi. Sungguh manis melihat Istrinya tersipu malu begitu. Aziz mengecup pipi gembil Khumaira penuh sayang. Lihat Istrinya memukul pelan pahanya.


"Aku tidak mau menyuapi Adek pakai sendok. Bagaimana lebih enak sendok atau lidah?" goda Aziz seraya tersenyum jahil.


"Mas mesum," lirih Khumaira.


"Hanya pada Adek."


"Sudah, aku lapar. Jangan ganggu!"


"Mas juga lapar, Dek."


"Baiklah, ayo kita makan bersama."


"Suapi."


"Yang sakit siapa?"


"Istriku."


"Lalu siapa yang pantasnya disuapi?"


"Adek."


"Aaa ...."


Aziz menyuapi Khumaira dengan telaten. Sesekali dia akan menyuapkan nasi ke mulutnya. Senyumnya tidak pernah luntur akan keharmonisan. Aziz sangat bersyukur Khumaira sudah ada dalam dekapannya.


Khumaira makan dengan perasaan membuncah. Dia sangat bersyukur memiliki Aziz dalam hidupnya. Setiap suapan ia begitu bahagia akan perhatian Suaminya. Khumaira begitu senang Aziz sangat telaten merawatnya dan sangat sabar menghadapi mereka. Satu hal ia akan bersama Suaminya dalam suka maupun duka.