Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI 2 - Terkejut Akan Dirinya!



Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini,  Sayangku!


****///\**


Semerbak bunga mawar membuat indera penciuman terasa meneduhkan. Pria tampan bermanik hazel terlihat menikmati waktu sore hari di taman atas hotel. Tanpa sengaja mata hazel Emran menatap Mahira berbicara dengan pria malang 1 bulan yang lalu.


Aziz memilih pergi setelah berbicara singkat bersama Mahira. Sebelum pergi lebih jauh lagi-lagi ia merasa ada yang menatap. Sontak dia mendongak tepat ke mana orang itu menatap. Tubuh Aziz terasa lemas melihat pria tampan juga menatap teduh.


"Aziz," panggil Romli membuat Aziz sadar.


"I--iya," sahut Aziz bernada getar.


Romli menyengit mendengar nada suara Aziz. Kenapa dengan temannya yang aneh ini? Apa Aziz tidak mendapat telepon dari Khumaira makanya bersikap gelisah bagini? Atau mungkin sedang menahan sesuatu seperti duka?


Aziz menengok ke atas lagi, tetapi tidak melihat almarhum Masnya. Air mata kembali jatuh karena merasakan sesuatu yang sangat menyulitkan. Buru-buru Aziz menghapus air mata dan beranjak meninggalkan lobi hotel. Mungkin tadi hanya halusinasi saja makanya jadi seperti ini. Sabar jangan tegang mungkin ia terlalu merindukan almarhum jadi terus terbayang.


Romli mengikuti kemana Aziz pergi. Dia berjaga-jaga untuk menghalau sahabatnya berbuat nekat. Langkah kaki Sahabatnya berhenti, ia juga berhenti. Dari pengawasan Romli Aziz ini sedang kalut memikirkan hal berat.


"Jika kamu ada masalah ceritakan saja. Jika tidak mampu maka luapkan kepada Allah. Gih, Shalat duha mumpung waktu di proyek masih lama. Setelah itu baca Al-Qur'an agar hatimu tenang. Yakinlah pada Allah setiap masalah mampu kamu hadapi. Bahkan kamu pernah menghadapi masalah berat dari almarhum Wisnu, kenapa sekarang kamu tampak lemah? Aziz itu orang yang kuat panuh keyakinan. Maka cepat ambil air wudhu Shalat untuk mengadu pada sang Khalik."


Romli ingin membuat Aziz lebih tenang dengan kata-kata bijaknya. Semoga saja nasihat yang ia berikan berguna bagi sahabatnya. Jika Aziz belum tenang juga maka Romli akan mengajak ke suatu tempat.


Aziz tersenyum mendengar perkataan Romli. Dia bergegas menuju masjid untuk melakukan Shalat duha. Benar apa yang di katakan Romli bahwasanya dia kuat penuh keyakinan. Mungkin Aziz tidak bisa bercerita keluh kesah pada temannya. Namun, ia akan mengadu pada Allah tentang keresahan hati.


"Terima kasih, aku Shalat dulu."


Sisi lain Emran mendengar tangisan putri Mahira. Makanya dia berlalu begitu saja tanpa menengok ke belakang. Sejatinya dia begitu terluka saat pria malang itu berpaling tanpa mau melihatnya. Sungguh melihat mata tajam berpupil cokelat keemasan itu membuat Emran bergetar mengingat sekelebat memori.


"Aziz," gumam Emran.


Emran langsung menggeleng mengatakan satu nama asing. Dia mengangkat tangan ke udara berusaha menggapai sesuatu. Ya Allah, kenapa pria itu begitu di rindu olehnya? Kenapa wajah pria itu masih terngiang di pikirannya? Sebenarnya siapa pria itu? Emran merasa kalut memikirkan siapa pria asing itu.


"Apa hubungan saya dengan pria itu?"


Pertanyaan demi pertanyaan membuat Emran pening. Tidak ada jawaban di semua pertanyaan itu. Jika begini Emran begitu sulit melupakan wajah orang tadi.


Aziz shalat duha dengan khusyuk agar mencari kedamaian dari Allah. Berdoa pada Allah tentang keluh kesah yang membelenggu. Setiap kata yang dilontarkan dalam hati membuat Aziz menangis tiada henti. Bahkan dia sampai tersedu-sedu mengutarakan isi hati pada sang Pencipta alam semesta.


Usai shalat Aziz meraih Al-Qur'an untuk mengaji. Dengan menyebut nama Allah ia mantapkan untuk menghapua beban sekaligus menenangkan pikiran. Dengan membaca Al-Qur'an hati kalut, insya Allah segera tenang. Seperti halnya Aziz semakin damai setelah melantunkan ayat suci Al-Qur'an.


Aziz mengaji dengan khusyuk, menyelami setiap kata. Suara bariton mengalun merdu memenuhi relung hati. Dia mengaji karena Allah agar mendapat kenyamanan serta pahala. Setiap tata bacaan Al-Qur'an terasa sempurna ketika Aziz mengaji menggunakan kaidah yang benar.


Di sisi lain Emran duduk di balik tabir pembatas dengan pria asing. Dia tadi hendak Shalat namun terhenti tatkala mendengar suara mengaji seseorang sangat merdu. Dia duduk di balik tabir seraya mendengar setiap lafadz yang di ucapkan orang itu. Sungguh suara mengaji ini terdengar familiar dan sangat dirundukan. Emran merasa sangat rindu pada suara pria mengaji dengan kaidah yang benar.


"Shadaqallahul-'Adzim."


Aziz membaca bacaan khotmil Quran dengan suara tegasnya. Dia merasa baikan setelah membaca 1 juz Al-Qur'an dengan mendalami kaidahnya. Usai semua itu Aziz beranjak mengembalikan Al-Qur'an pada tempatnya.


"30 menit lagi aku harus sampai di lokasi proyek. Alhamdulillah, sudah merasa baikkan."


Emran tercengang mendengar suara pria asing itu ketika terdiam sepi. Dia merasa ada yang janggal akan kondisinya. Setitik memori sukses membuatnya terdiam sepi. Ketika ia memanggil pria itu tidak kunjung menengok ke arahnya. Alhasil Emran hanya diam kaku kembali ke dalam Masjid.


Aziz langsung pergi meninggalkan mesjid. Dia tidak menyadari ada seseorang berusaha memanggil namanya. Sampai dalam mobil ia nyengir kuda pada sahabatnya karena telat datang. Setidaknya hati Aziz sangat teduh usia membaca Al-Qur'an.


Melihat Aziz kembali sontak mereka menghembus napas lega. Tahu tidak mereka menunggu bis kembali begitu lama. Bahkan sampai habis dua cangkir kopi dan camilan. Walau lama setidaknya membuahkan hasil karena Aziz tampak ceria lagi.


"Maaf, aku terlalu lama di masjid."


"Tidak apa, sudah mendingan?"


"*Alhamdulillah."


"Alhamdulillah ya rabbil'alamin*."


Mobil Van melaju meninggalkan hotel menuju tempat proyek di bangun. Di dalam mobil Aziz kembali gila dengan lelucon membuat mereka tertawa. Melihat bos kembali gila membuat mereka tersenyum akhirnya alien kembali ceria.


Aziz tertawa lepas memperlihatkan barisan giginya yang rapi. Dia akhirnya bisa kembali melucu walau keadaannya tidak menentu. Ia berusaha kembali ceria walau hatinya memikirkan satu nama. Aziz tidak mau kepedihan ini terlihat oleh mereka. Alhasil tetap ceria walau rasanya susah sekali.


Emran menyengit melihat dompet warna hitam tergeletak tidak berdaya. Apa mungkin milik pria tadi? Tangan kekarnya terulur untuk mengambil dompet itu. Entah kenapa rasanya begitu berdegup hendak membuka dompet ini. Emran harus berani buka demi pemilik dompet supaya tidak hilang.


"Bismillah, semoga saja benar ini dompet pria tadi."


Emran membuka dompet itu dan alangkah terkejut isinya begitu banyak. Tebal sekali sampai ia pening seberapa kaya pria itu. Dia raih E_KTP dan membacanya dengan teliti. Emran kembali melihat foto pria itu seksama seolah sedang meneliti.


"Muhammad Abdul Aziz," gumam Emran.


Emran merasa klise memori menyeruak indah ketika seseorang memanggil dirinya Mas. Dia tertunduk sembari meremas rambutnya kalut. Ya Allah kenapa nama pria ini begitu menyiksa pikiran. Emran merasa kenal pada pria ini, tetapi siapa pria ini?


"Aziz," lirih Emran.


Saat semua sudah baikkan Emran memutuskan melihat foto yang ada di dalam dompet. Napasnya memburu melihat wanita yang ada di samping Aziz. Dia tidak kuat melihatnya sampai air mata jatuh membasahi pipi. Matany terpejam rapat melihat wanita cantik tadi yang tersenyum hangat. Wanita yang selama ini selalu hadir dalam mimpi seraya memanggil Mas. Emran merasa tersiksa kenapa ada di samping pria tadi?


"Siapa mereka?"


Emran melihat kembali dua anak kecil yang sangat tampan. Matanya terus melihat anak paling besar lalu melihat anak paling kecil. Entah kenapa rasanya begitu menyiksa sampai Emran tidak bisa berhenti menangis.


"Tolong aku, siapa pun tolong? Siapa mereka? Siapa aku? Ya Allah, tolong beri hamba petunjuk."


Dalam kegaduhan hati Emran semakin tersiksa akan semua ini. Dia seperti melihat kilasan memori keluarga kecil bahagia. Anak kecil memanggil Abi dan seorang wanita dalam foto memanggil Mas. Mengingat itu rasanya Emran benar-benar kacau balau.


"Uncle, Zoya cari ternyata di sini. Ayo kita pergi beli makan!" seru Zoya bersama Ayyubia.


Buru-buru Emran menghapus air mata kasar. Dia beranjak seraya mengantungi dompet ini. Mungkin nanti Emran akan memberikan dompet ini pada Aziz. Tetapi, dompet ini berisi hal penting. Pasti sangat dibutuhkan. Sekarang Emran dilema mau memberikan atau menunggu? Lagian tidak tahu tempat Aziz bekerja.


Zoya anak bungsu Mahira langsung menarik lengan kekar Emran. Dia tidak suka di abaikan makanya langsung lari. Gadis kecil berparas cantik ini meminta Emran menemani makan. Setalah mendapat anggukan tentu saja Zoya berseru senang.


***///\*


"Ya Allah, dompetku hilang. Romli, bagaimana ini?"


Aziz terlihat panik tidak menemukan dompetnya. Dia menepuk kening karena ingat meninggalkan dompet di masjid. karena hal itu ia punya putar balik guna mengambil dompetnya lagi. Terpaka mereka putar balik guna mengambil dompet Aziz. Namun, hasilnya dompet itu tidak ada otomatis hilang.


Melihat raut panik Aziz membuat tiga rekan Aziz panik. Secara mereka tahu isi dompet itu sangatlah banyak terutama foto keluarga. Mereka berharap semoga saja dompet pria itu tidak hilang atau jatuh di mana. Kini harapan mereka Aziz tidak panik walau nyatanya ikut panik akan kehilangan dompet itu.


"Bagaimana ini, Ziz?"


"Aku tidak tahu, dompetku hilang. Isinya barang berharga semua, dan yang terpenting ada hal penting di dalamnya. Ya Allah, bagaimana ini?"


"Tenanglah, kita cari sama-sama namun waktu di proyek lebih penting," ujar Romli.


"Bukanya ada pihak pengamanan di sini. Nanti kita cari tahu dan meminta bantuan. Sekarang ayo pergi."


"Baik."


Pada akhirnya Aziz dan rombongannya memutuskan bekerja di proyek. Soal dompet lain kali bisa di urus lagi. Walau resah karena isinya penting semua. Terutama ada foto keluarga dan fotonya bersama almarhum. Kalau sudah begini mau bagaimana lagi dan hanya bisa pasrah akan keajaiban.


Sampai proyek Aziz menghandle pekerjaannya. Dia berikan semua hal yang tercetus saat ada yang kurang. Setalah semua tercetus ia balik ke tempat yang sudah disediakan. Pria berparas rupawan ini tampak memikirkan banyak hal mengenai jalannya proyek penting. Namun, apa daya Aziz hanya bisa berpikir di mana dompetnya berada?


Pekerjaan terasa ringan seperti biasa bagi mereka. Sebentar lagi proyek selesai dan pastinya akan cepat pulang ke Indonesia. Tepat di jam makan istirahat semua pekerjaan berhenti guna mengisi tenaga. Semua pembisnis handal memutuskan pergi ke restoran mewah dekat proyek.


Mereka sedang makan siang tanpa banyak bicara. Hingga buyar ketika suara ponsel berdering nyaring. Karena itu membuat semua  mata tertuju pada Mahira. Salah satu wanita berkarier yang jadi perwakilan perusahaan besar di Asia.


Wanita cantik itu tersenyum meminta maaf telah mengganggu hawa nyaman. Dia meminum air lalu beranjak meminta izin menerima panggilan. Sampai di tempat yang nyaman ia lihat nama prianya teryera. Ada apa Emran menelepon di jam begini? Apa Zoya rewel di bawah asuhan Ayyubia?


"Assalamu'alaikum, ada apa, Emran?"


"Wa'alaikumussalam, begini aku menemukan dompet Tuan yang kamu ajak bicara tadi pagi. Di sini tertera namanya Muhammad Abdul Aziz. Apa kamu bersama dirinya? Boleh aku mengembalikan dompet itu sekarang?’"


"Benarkah? Baiklah aku akan kirim alamatnya. Apa kamu dan Zoya sudah makan? Aku akan memberi tahu Tuan Aziz perihal ini."


"Alhamdulillah sudah. Baiklah, aku tutup. Wassalamu'alaikum."


"Alhamdulillah, aku tunggu. Wa'alaikumussalam."


Mahira beranjak kembali ke tempat semula. Dia melihat Aziz sedang makan tanpa berbicara. Terlihat gelisah pasti karena dompet berharga itu. Mungkin setelah Mahira beri tahu Aziz akan lega. Namun, ia urungkan niat itu karena ada hal penting yaitu ada sekertaris yang mengajak bicara. Biarkan nanti saja memberitahu Aziz prihal dompet yang ditemukan Emran.


Aziz hanya diam seolah dirinya memikirkan banyak hal. Pertama Istri dan anak-anaknya, kedua almarhum dan terakhir dompet. Nasib baik akan datang membuatnya begitu pening memikirkan itu semua.


"Biar aku yang bayar," bisik Romli.


"Hn. Aku akan ganti setelah sampai hotel."


"Santai saja."


Setelah makan mereka para petinggi mengerjakan proyek besar ini tampak menikmati jam istirahat sambil mengobrol. Terlihat Aziz tersenyum teduh menerima panggilan dari Khumaira. Dengan senyum tipis dia meminta undur diri untuk menerima panggilan sang Istri.


Siulan menggoda Aziz dapat dari orang terdekat saat menerima panggilan. Dasar orang-orang aneh mengganggu saja. Dengan semangat membara Aziz akan menerima panggilan Istrinya. Senyum teduh Aziz terukir indah tatkala Khumaira tersenyum begitu cantik.


"Assalamu'alaikum, Imamku."


"Wa'alaikumussalam, Makmumku."


"Mas, kapan pulang? Adek kangen begitu pun dengan anak-anak. Lihat mereka bermain tanpa mau berhenti. Dedek Mumtaaz sudah penuh lumpur dan Kakak Ridwan juga ikut main lumpur. Mereka tidak mau makan jika belum mendengar suara Mas. Mereka begitu nakal saat Mas tidak ada."


Aziz tertawa mendengar dumelan manis Khumaira. Dasar Istrinya sangat menggoda ingin cubit sampai puas. Dia semakin tertawa ketika melihat anak-anak sudah tidak berbentuk manusia melainkan jin lumput. Bayangkan saja Sekujur tubuh penuh tanah basah hanya terlihat mata dan gigi putih mereka. Wajah tampan Ridwan dan Mumtaaz tampak kotor. Melihat itu tentu Aziz senang ingin ikut juga.


"Biarkan saja asal sehat tidak sakit Mas senang. Coba Adek bilang Ayah ingin berbicara maka dua anak kita berhenti main. Jangan merajuk begitu Mas ingin cium jadinya. Mas juga kangen Adek. Secepatnya ... tunggu Mas pulang, Sayangku!"


Terlihat Khumaira merona mendengar jawabannya. Wajah cantik Istrinya begitu manis ketika tersipu malu. Setelah Khumaira berseru Aziz ingin berbicara. Sontak anak-anaknya mengambil air bsrsih untuk membersihkan diri. Dua anaknya tampak kegirangan seraya berseru Ayah. Benar bukan jika Uminya bilang Ayah ingin bicara dua bocah tengil itu akan berhenti main.


Aziz sangat rindu pada Ridwan dan Mumtaaz. Dia tersenyum tulus saat anak-anaknya mengoceh panjang kali lebar meminta ini itu. Dua Putranya begitu hiperaktif mengatakan bahwa rindu itu berat. Ingin sekali Aziz cepat pulang lalu merengkuh dua malaikat kecil. Terutama merengkuh Khumaira seberat mungkin.


Kini anak-anak mandi di kolam khusua anak-anak. Mereka berendam sembari bermain bebek karet serta bola plastik. Ridwan dan Mumtaaz masih ayik bermain setelah lama berbica dengan Ayahnya. Mereka sudah puas sekarang saatnya bermain manja.


"Dek, mereka menggemaskan sekali. Mas rindu mereka tanpa terkecuali. Lebih rindu pada Istriku yang sangat Mas cinta. Hayo, jangan salah tingkah Mas jadi gemas ingin nerkam."


"Benar Kakak dan Dedek begitu menggemaskan. Mereka juga rindu Ayah tanpa terkecuali. Adek juga sangat merindukan Mas yang aneh. Terkam saja Adek siap."


"Nakal sekali Istriku ini. Oh iya, Mas yang ganteng harus siap-siap mau kerja rodi lagi demi cepat pulang. Mas mencintai Adek karena Allah!"


"Nakal begini Mas sangat mencintai Adek. Masku yang jelek kerja yang rajin agar cepat pulang. Adek juga mencintai Mas karena Allah."


"Benar sekali, nakalnya Adek bikin Mas tambah cinta. Mas jelek mustahil karena Mas sangat tampan tidak terbantahkan. Bahkan banyak orang meminta foto dan tanda tangan, Mas. Aneh ya, padahal Mas bukan artis atau pun model. Namun, mereka begitu antusias melihat Mas yang ganteng overdose."


Aziz tersenyum saja melihat Khumaira memutar bola mata malas. Benar adanya dia memang ganteng overdose serta karismanya membuat banyak wanita meminta tanda tangan dan foto. Risiko cowok ganteng tidak terbantahkan di mana pun jadi pusat perhatian. Aziz bahkan sampai pening ketika di pusat perbelanjaan banyak sekali orang minta ini itu.


Di seberang Khumaira gemas sendiri melihat Aziz begitu overdose. Maklum sih itu wajar secara Suaminya memang ganteng maskulin. Jadi wajar jika narsisnya selangit tembus ke langit lagi. Tetapi, karena sikap itu membuatnya begitu merindukan sang Suami. Masa gila saat Khumiara begitu rindu akan hadirnya Aziz dalam dekapannya.


"Baiklah mahluk tampan, mahluk cantik nan manis ini mau nyuci baju dulu. Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Imam nakalku!"


"Waduh Istriku jadi narsis ikut Suami gantengnya. Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Makmumku tercinta."


Panggilan terputus membuat Aziz tersenyum lebar. Dia tidak peduli tentang apa pun sampai tanpa segan menyanyi aneh seraya meminum kopi. Sikap anehnya biasa Romli terima nah untuk yang lain melongo. Bahkan dia dengan gila memberikan minum pada tiga rekannya sembari jingkrak-jingkrak kayak bocah.


Aziz dengan gila naik ke atas kursi seraya mengatakan hal absurd. Menari aneh hingga ia terjungkal gara-gara terpeleset. Dia mengaduh kesakitan seraya menggerutu kecil menyalahkan kursi. Setalah itu kembali berdiri dan duduk di meja seraya menyanyi lagu pop Inggris. Kegilaan tidak sampai situ Aziz berputar lalu menaburkan kerupuk dan bunga seraya tertawa keras dengan kekehan lucu.


Romli serta rekan kantor di Indonesia menutup wajah karena malu. Sementara para kolega bisnis yang membantu proyek menatap Aziz melonggo tidak elit. Satu bulan mereka melihat Aziz begitu berkarisma, tegas, dingin dan irit bicara. Nah sekarang seperti orang kesurupan alien gila.


Mereka meringis ngilu melihat Aziz terjungkal. Demi Allah ingin rasanya mereka membawa Aziz ke Ustadz untuk di rukiyah. Atau di kembalikan pada spesies yang sama. Lihat saja tingkah pemimpin elit ini layaknya orang utama kesurupan alien.


Aziz menepuk jasnya yang kotor. Dengan langkah tegap dia mengambil air putih untuk di tegak. Sepersekian detik ia kembali berperilaku mencengangkan. Bahkan dengan songong meminta uang pada mereka, lalu melempar ke udara. Lalu mengambil sesuatu untuk di hamburan secara alami. Aziz bagai orang aneh tampang ganteng maskulin nan macho berubah jadi pelawak gila.


"Bukan Bos kami," ucap bawahan Aziz yang ikut serta dalam proyek.


"Nggak kenal alien gila itu. Bukan sahabatku," gumam Romli berpaling menyembunyikan wajah yang malu.


Di rasa cukup Aziz berlagak seperti waiters siap melayani para kolega bisnis. Di sedang membawa nampan berisi air minum untuk para kolega bisnis yang sip di layani. Hingga sebuah kejutan membuat Aziz sok luar biasa. Dia menjatuhkan nampan berisi minuman hingga gelas pecah tidak berbentuk. Matanya membulat sempurna melihat seseorang yang sangat dia sayangi berdiri di depannya.


****////\\****


*Bagaimana perasaan kalian membaca chapter ini?!


Sudah siapkah kalian menerima badai ini?


Catat story Ini anti-mainstream dan memiliki banyak chapter.


100+! jadi harus setia bacanya jangan bosan.


kalian harus siap mental, emosi, cacian, umpatan dan hati menerima konflik kali ini.


di sinilah cinta sejati akan bersama atas izin sang Khaliq.


Jika jodoh walau badai lama menerjang akan tetap bersama.


Aziz untuk Syafa begitu pun sebaliknya.


Insya Allah*.