Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI 2 - Malam Terindah Kita Bersama!



***Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!


Seperti biasanya dukung Rose dengan cara vote ok***!


***///\*


Aziz makan di suapi Khumaira, begitu pun sebaliknya. Mereka makan saling menyuapi dan sesekali memberikan godaan. Terlihat jelas begitu menggoda ketika Aziz mencuri ciuman di bibir Khumaira.


Khumaira tersipu akibat Aziz terlalu nakal padanya. Jelas saja ini sangat mendebarkan baginya karena Suaminya tampak manis. Ini begitu menggoda akibat ulah jahil Suaminya yang sangat nakal. Tidak ayal Khumaira begitu senang sekaligus terharu akan sikap Aziz yang manis.


"Mas," protes Khumaira.


"Apa, Dek?"


"Ayo habiskan makanya setelah itu Shalat isya."


"Buru-buru sekali sih, Istriku ini. Ngga sabar ya main kuda-kudaan," goda Aziz sukses membuat Khumaira tersipu.


Khumaira mencubit lengan kekar Aziz sembari menggerutu lucu. Dasar Suaminya ini ingin ia kurung di kandang kucing. Kalau ngga sayang sudah Khumaira lempar Aziz ke kayangan Mimi Peri.


Aziz terkekeh geli melihat Khumaira begitu manis. Tidak ada yang lebih manis melihat tawa serta rajukan merdu sang Istri. Jujur saja mungkin ini saat terakhirnya melihat orang yang sangat dicintai tertawa serta merajuk. Demi Allah hati terasa pilu jikalau ingat sebentar lagi Aziz akan pergi meninggalkan Khumaira.


"Berhenti melucu, Mas. Nyebelin banget!"


"Apa? Mas kurang dengar, Dek. Oh, jangan berhenti melucu. Siap!"


Khumaira yang sebal langsung memukuli dada bidang Aziz. Alhasil kemeja tersingkap memperlihatkan paha mulusnya. Lebih parah celana dalamnya terlihat dan itu membuat Suaminya meneguk saliva kasar. Khumaira masih belum sadar akan Aziz terus melihat itu.


Aziz langsung mencekal lengan Khumaira supaya tidak memberontak. Mata tajam itu mencuri pandang ke arah inti Istrinya. Paha mulus Istrinya membuat tangan nakalnya ingin mengusap sampai puas. Jakun Aziz naik turun akibat sesuatu paling istimewa di diri Khumaira.


Merasa arah pandang Aziz berbeda membuat Khumaira mengikuti arah pandangan itu. Wajahnya merona melihat pahanya terekspos. Bahkan tanpa malu celana dalamnya juga terlihat jelas. Dengan malu-malu Khumaira merapatkan paha lalu menutup pahanya.


"Mas," rengek Khumaira.


Aziz langsung melihat Khumaira penuh damba. Pandangan sayunya beralih menatap buah dada Istrinya. Terlihat menantang ingin di jamah. Buah dada Istrinya naik turun dan itu sangat menggairahkan. Aziz tahu di balik kemeja tidak ada penghalang kecuali celana dalam.


"Dek, sebentar lagi Adzan isya. Kita jama'ah kemudian melakukan itu."


Suara Aziz semakin berat terdengar seksi. Dia langsung beranjak menghindari obyek mesum. Melihat Khumaira rasanya ingin lepas kontrol. Semua tentang Khumaira membuat Aziz frustrasi memikirkan pesona sang Istri.


Khumaira membenarkan pakaiannya. Saat ada anak-anak mana berani ia memakai pakaian begini. Setiap malam pasti menggunakan kemeja Aziz agar rasa rindu terobati. Hanya dengan Aziz semua terasa manis untuk di luapkan. Khumaira buru-buru membereskan piring kotor untuk di cuci.


Pria tampan berperawakan tinggi kekar itu menyiram kepalanya. Dia merasa panas tidak tahan memikirkan Khumaira. Seulas senyum merekah di bibir Aziz yang ranum. Perlahan mengangkat tangan kirinya yang terdapat cincin pengikat antara Aziz dan Khumaira.


"Mas sangat mencintai Adek sampai akhir hayat. Semoga kita selalu bahagia esok dan selamanya. Walau sadar esok adalah hari paling menyakitkan untuk, Mas. Berharap kita bertiga bahagia selalu walau badai menghantam kita. Baik Aziz, Dek Syafa dan Mas Azzam tidak akan sama seperti dulu. Semoga langkahku di mudahkan oleh-Mu."


Aziz menggosok gigi sedikit buru-buru pasalnya sudah Adzan isya. Dalam konsentrasi sikat gigi ia sedikit memikirkan banyak hal hingga pintu terbuka. Lihat Istrinya datang seraya tersenyum polos. Dasar nakal ingin sekali dia mencubit gemas pipi gembul Istrinya. Sabar karena orang sabar tambah tampan tidak terbantahkan, asyik. Aziz jadi tidak sabar minta ini itu pada Khumaira yang manis.


"Mas," panggil Khumaira.


"Dalem, ada apa, Istriku?"


Aziz berkumur usai bersiwak lalu membasahi wajah untuk mencuci wajah menggunakan sabun. Setelah bersih dia mendekat ke arah Khumaira yang sibuk menyikat gigi. Dengan jahil Aziz menepuk pantat Istrinya dan beralih wudhu.


Khumaira yang merajuk langsung menyentuh tangan Aziz. Dia tersenyum miring seolah mengatakan maaf. Dasar iseng minta di cubit sampai puas itu perut Suaminya. Tentu saja tidak mampu berpaling melihat perut Aziz begitu menggoda.


Aziz hanya menggeleng melihat kelakuan Khumaira. Dasar si kecil minta di terkam atau minta di kandang? Usai wudhu dia langsung menyandarkan diri di dinding. Sembari menunggu Khumaira selesai membasuh muka Aziz di posisi sama sesekali bersiul nakal.


Khumaira menengok ke arah Aziz sembari menaikkan satu alis. Pose yang manis untuk di rengkuh erat. Namun, Shalat dulu lebih utama dari pada memikirkan nafsu. Tidak mau ambil pusing Khumaira memilih wudhu dan mengabaikan Aziz sibuk menggoda.


Setelah wudhu Aziz dan Syafa melangkah ke kamarnya melaksanakan Shalat wajib. Usai Shalat Baru melakukan hubungan intim yang pastinya sangat dirindukan. Baik Aziz dan Syafa rindu akan hubungan manis di atas ranjang. Lupakan itu kini saatnya pikiran ibadah Shalat isya.


***///\*


Aziz menggendong Khumaira menuju ranjang. Sampai ranjang dia rebahkan Khumaira hati-hati, pasalnya ia menggagap jika kasar Istrinya akan terluka. Mata tajam itu perlahan melembut menatap Khumaira. Tangan besar Aziz terulur untuk mengusap dahi Khumaira lembut lalu turun mengusap pelipis dan pipi. Jari kekarnya terulur untuk mengusap bibir penuh Istrinya yang menggoda.


Khumaira memejamkan mata menerima kelembutan Aziz. Dia menggenggam lengan kekar Suaminya ketika merasakan ciuman sayang di kening, mata, pipi, ujung hidung dan dagu. Perlahan mata besar Khumaira terbuka saat Aziz tersenyum padanya.


"Kita belum doa, Dek."


"Mari berdoa agar Dedek baru segera hadir untuk Kakak dan Dedek."


Perkataan Khumaira membuat Aziz terdiam seribu bahasa. Adik baru ya sungguh miris memikirkan itu semua. Apa bisa memperoleh Dedek baru jika malam ini terakhir mereka melakukan hubungan intim? Mungkin saja mimpi punya 3 anak hanya angan belaka. Sabar jangan sedih di hari penuh makna atau Istrinya akan sedih. Jangan menangis karena ini hari terakhir mereka bersama. Aziz berusaha kuat demi malam indah bersama.


Khumaira terdiam melihat Aziz menyendu akibat ucapannya. Apa Suaminya tidak ingin memiliki anak baru? Kenapa rasanya sesak melihat Suaminya tampak muram begitu. Lagi-lagi ekspresi sama yang membuat Khumaira khawatir. Sebenarnya apa yang terjadi pada Aziz sampai bersedih?


"Mas," panggil Khumaira sembari menyentuh pipi Aziz.


"Dalem, Dek. Ayo kita berdoa dan jangan pikirkan yang lain. Hanya ada kita bersama yang menyatu dalam cinta. Hanya ada kita yang melebur menjadi satu bersama harapan. Jangan berpikir aneh-aneh karena malam ini milik kita berdua yang lain mengontrak ke Mars. Malam ini hanya ada Aziz dan Syafa yang menyatu dalam cinta yang dalam. Katakan Adek mencintai, Mas!"


Khumaira menitikkan air mata haru mendengar perkataan Aziz. Suaminya ini begitu baik membuat ia tidak kuasa menahan tangis. Kata manis yang mampu Khumaira rasakan seberapa besar cinta Aziz. Tangan mungilnya menyapu lembut pipi Suaminya.


Merasakan usapan Khumaira tentu saja Aziz pejamkan mata rapat. Dia nikmati sentuhan teduh Istrinya yang memiliki luapan emosi. Tidak ada hal lain kecuali ia sangat bahagia menerima ini semua. Aziz begitu sesak menerima sentuhan Syafa nya karena ini adalah malam terakhir.


"Adek sangat mencintai Mas. Adek begitu mencintai Mas karena Allah."


Aziz tersenyum mendengar ungkapan cinta Khumaira. Dia mengecup kening Istrinya mesra dan terkesan lama. Ini adalah hari mereka berdua yang akan selalu dikenang. Aziz sangat mencintai Khumaira karena Allah.


Khumaira tersenyum teduh akan senyuman manis Aziz. Dia berharap senyum itu akan selalu ada di setiap waktu. Senyum manis selalu mampu membuatnya berbunga-bunga. Senyum Aziz yang akan Khumaira kenang karena senyuman ini mampu membuta cintanya berlabuh.


"Mas juga sangat mencintai Adek karena Allah. Begitu cinta sampai Mas tidak akan mampu lepas dari cinta Adek. Mari kita berdoa mengobrol manis nanti lagi Mas ingin."


Khumaira tertawa mendengar jawaban Aziz. Dia mengalungkan tangan di leher kokoh Suaminya. Sedari tadi ia sudah siap berdoa untuk melakukan hubungan intim. Sungguh Khumaira sangat beruntung mendapatkan Aziz dalam hidup.


Aziz merasa gila sendiri mengajak Khumaira begitu nakal. Dia akan melakukan secara perlahan penuh cinta tentu penuh kehangatan. Malam ini akan menjadi kenangan manis dalam hati. Aziz akan mengukir kenangan selagi Syafa-nya menerima sebuah cinta begitu besar.


"Bismillahirrahmanirrahim, Bismillah Allahumma jannibnaas syyaithaana wa jannibis syyaithaana Maa Razaqtana."


Usai membaca doa mereka melempar senyum manis. Perlahan tetapi pasti bibir mereka menyatu penuh cinta. Lumatan demi lumatan mereka lakukan untuk meraih hasrat cinta. Aziz terus ******* bibir tebal Khumaira tanpa ampun. Sementara Khumaira berusaha mengimbangi permainan Aziz. Ciuman itu semakin panas tatkala Aziz mengeksplorasi mulut Khumaira. Untuk Khumaira sendiri berusaha menyeimbangi permainan panas Suaminya.


Dan di malam indah ini terjadilah hubungan penuh cinta. Melebur menjadi satu kesatuan dengan segala cinta penuh kelembutan. Menyatu dalam tahap ada beban. Satu mani bercampur yang nantinya akan membuahkan hasil manis.


Aziz dan Syafa akan menyatu selamanya tanpa ada yang memisahkan kecuali sang Khaliq. Tiada hari esok karena mereka berharap tidak ada esok akan datang. Kini waktunya bersama untuk memberikan kenangan termanis. Aziz dan Syafa tidak akan melupakan penyatuan manis yang akan jadi kenangan termanis.


Semua di tutup setelah Aziz melakukan hubungan beberapa tahap. Sementara Khumaira sangat lelah akibat pergumulan panas di selingi letupan cinta membara. Keduanya menyudahi hubungan intim dengan mengucap doa usai jimak'. Mereka berharap semoga saja akan menjadi penyatu jika nanti berpisah. Aziz dan Khumaira berdoa lagi dalam hati meminta segala luapan kebaikan bagi bahtera rumah tangga. Berharap semoga mereka bersama baik dunia maupun akhirat, Aamiin ya rabbil’alamin.


“Mas sangat mencintai Dek Syafa atas nama Allah. Segala cinta Mas berikan atas kehendak Allah. Jika Adek tahu akan cinta Mas maka lihatlah langit yang membentang luas. Jika melihat langit yakinlah cinta Mas bahkan lebih luas dari langit. Hanya Allah yang tahu seberapa besar cinta Mas padamu, Dek.”


“Adek juga sangat mencintai Mas atas nama Allah. Segala hati dan seluruh cinta Adek berikan atas kehendak Allah yang Maha Cinta. Maka yakinlah juga cinta Adek juga seluas langit bahkan lebih luas lagi dari langit. Maka hanya Allah yang tahu seberapa besar cinta Adek untuk, Mas Aziz.”


Aziz dan Khumaira mengukir senyum teduh setelah memberikan kata-kata romantis. Setalah mengatakan itu bibir mereka bersatu hanya sekadar ciuman biasa. Usai melakukan itu mereka doa Ummu kitab ayat kursi, surah Al-Ikhlas Al-Falaq dan An-Nas dan terakhir dia sebelum tidur. Semua doa telah terlantun sehingga membuat Aziz dan Khumaira tidur.


Penyatuan panas itu telah memberikan takdir. Semua harapan akan terlabuh di sana yang nantinya akan menjadi Cahaya Terindah. Hanya saja untuk sekarang harus melalui lembaga hitam yang siap menerima badai bahtera rumah tangga keduanya. Aziz dan Khumaira mampukah bertahan demi hadirnya cahaya harapan?


***Cut ....!!!


Maaf ya banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan.


Jangan lupa berikan vote, like and comment.


Apa sekarang Rose semakin menyebalkan?


Semoga saja kalian sanggup menghadapi konflik kali ini, Aamiin ya Rabb***.