Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
Pulang!



Khumaira mengusap pipi Ridwan penuh kelembutan. Sesekali dia kecup pelipis sang buah hati agar Ridwan tertidur. Benar saja Putranya terlelap nyaman dalam pelukannya setelah capek bermain.


Senyum manis terukir indah tatkala mengingat Aziz akan pulang. Khumaira mengusap perutnya yang rata dengan derai air mata. Dia sangat bahagia ada janin dalam rahimnya. Khumaira tidak sabar mengabari Aziz tentang kandungannya ini.


"Nak, besok kita akan berjumpa, Ayah."


Khumaira yang lelah akhirnya ikut tertidur pulas. Besok adalah hari paling bahagia makanya ia memilih tidur awal. Sungguh ia ingin cepat bertemu Suaminya. Khumaira ingin memberi tahu perihal kehamilannya pasti Aziz sangat bahagia.


Sekitar jam 4 pagi, Khumaira sudah bangun. Dia dengan cekatan bangun untuk menyiapkan sarapan dulu lalu mandi. Akhirnya selesai masak untuk anak dan dua Adiknya.


Khumaira tersenyum tipis ketika masak selesai Adzan subuh berkumandang. Khumaira menata makanan di meja lalu beralih menuju kamar pribadi untuk mandi dan Shalat subuh.


Tersenyum tulus ketika Laila dan Syifa sudah bangun. Kedua Adiknya tadi malam menginap untuk menemaninya. Khumaira akan berangkat jam 6 pagi untuk menemui Suaminya.


"Mbak, maaf kami molor," sesal Laila dan Syifa.


"Tidak apa, Kalian sudah Shalat?"


"Alhamdulillah, kami sudah Shalat, Mbak."


"Alhamdulillah, nanti Mbak berangkat jam 6 tolong jaga Dedek Ridwan, ya."


"Siap, Mbak. Habiskan waktu kencan bareng Masku ya, Mbak," goda Syifa sukses membuat pipi Khumaira merona.


"Apa sih, Mas kalian nanti langsung pulang. Mbak siap-siap dulu dan Dedek juga belum bangun."


"Uhuk, yang mau ketemu Masku senang sekali. Awas Mbak jangan cantik-cantik macaknya nanti Mas Aziz malah membawa Mbak ke hotel," goda Syifa ketularan Aziz.


"Jangan teruskan, Nduk. Dik, tolong bungkam Nduk Syifa dulu Mbak harus bergegas."


"Ok, Mbak."


Khumaira masuk kamar dan ponselnya berdenting. Dengan wajah merah merekah ia menerima panggilan video dari Aziz. Ia sangat bahagia Suaminya menelepon dirinya. Khumaira ingin membelai pipi tirus Aziz penuh makna.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Mas."


"Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Dek."


"Adek akan berangkat lebih awal, Mas? Apa Mas sudah sampai?"


"Alhamdulillah sudah Dek, ini Mas juga baru mandi. Mas tunggu ya, Dek. Maaf malah mampir kantor dari pada ke rumah."


"Alhamdulillah, ya Allah. Tidak apa jangan khawatir. Memang di kantor Mas ngapain?"


"Mas mau memberi tahu Mr komisaris soal proyek itu, Dek. Lalu Mas dapat jatah libur 2 pekan, kita jalan-jalan ke luar kota, mau? Mas tidak sabar pengen cepat berjumpa Adek. Mungkin Mas baru bisa pulang jam setengah 8, Adek tidak apakan menunggu Mas selagi di ruang komisaris?"


Khumaira murung karena belum bisa pergi jauh ke luar kota. Janinnya masih sangat muda dan renta. Di rumah menghabiskan waktu bersama juga tidak masalah.


"Iya, Mas. Adek siap-siap ... tunggu dulu Mas sudah Shalat belum?"


"Alhamdulillah, Mas selesai mandi Shalat subuh. Apa Dedek sudah bangun?"


Khumaira langsung menepuk kening ketika mendengar tangisan Ridwan. Dia langsung menutup telepon sebelum itu mengucap salam. Khumaira langsung beranjak dari ranjang untuk menghampiri buah hatinya.


Aziz terkekeh geli melihat Khumaira terlihat panik mendengar tangis Ridwan. Sejatinya dia juga panik ingin cepat pulang ke rumah untuk menggendong Ridwan dan mengajari mengaji lagi. Aziz akan sepuasnya bermain bersama Ridwan usai bekerja.


Khumaira memangku Ridwan sembari mengusap rambut cokelat gelap sang Putra. Dia pok-pok bokong anaknya dan mengayun pelan. Dia melirik jam menunjukkan pukul setengah 6 pagi, pantas saja. Khumaira akan bergegas supaya cepat sampai ke kantor di mana Suaminya bekerja.


Ridwan merengkuh Khumaira dengan tangis tersedu. Si kecil kembali melihat sesuatu yang tidak seharusnya di lihat. Padahal sudah ditutup, tetapi tetap saja bisa melihat hal gaib.


Laila dan Syifa masuk kamar melihat Khumaira panik menenangkan Ridwan. Mereka jadi takut karena keponakan jarang menangis. Kini Ridwan terus meraung histeris meluapkan ketakutannya. Laila dan Syifa berharap si kecil diam dalam dekapan Khumaira.


"Sudah, Dedek tidak boleh menangis. Umi mohon jangan menangis, Dedek."


"Umi, hiks Dedek takut," racau Ridwan.


"Jangan takut karena Umi ada di sini, Dedek."


"Umi, hiks mereka ganggu Dedek lagi. Hiks, Dedek sebel ngga mau main lagi sama mereka yang ganggu, Dedek."


"Ya Allah tenang Le pasti mereka tidak nakal lagi. Sekarang ayo cuci muka dan Umi ajari mengaji biar Dedek tenang kembali."


"Baik, tapi Umi usir mereka dulu, hiks mereka sangat mengganggu. Abi selalu bilang pada Dedek kalau mereka hanya butuh teman. Tapi, Dedek ngga mau berteman dengan yang nakal."


Khumaira jadi pusing akan kelebihan Putranya. Ridwan masih sangat kecil makanya begitu peka akan hal gaib. Kalau begini Khumaira harus bagaimana?


Khumaira membaca ayat kursi beberapa kali lalu meniupkan ke ubun-ubun Putranya. Dia ciumi Ridwan agar Putranya tenang dan berhasil si kecil mencebikkan bibir. Khumaira tersenyum tulus melihat Ridwan kembali tenang dengan pose imut.


Khumaira tersenyum tulus lalu menggendong Ridwan menuju kamar mandi. Dia akan membasuh wajah rupawan Putranya dan memandikan sekalian menggunakan air hangat. Khumaira begitu bahagia akhirnya Aziz pulang juga.


Ridwan meminta ikut menemui Aziz, tetapi Ibunya memberi pengertian alhasil menurut. Dia akan bermain bersama dua Bibinya. Ridwan akan jadi anak manis demi Umi dan Ayahnya.


***


Khumaira menggunakan pakaian serba pink. Dia merias diri dengan make up natural agar terlihat fresh. Ia tidak sabar bertemu Suaminya lalu merengkuh erat penuh kerinduan. Khumaira ingin menghabiskan waktu bersama Aziz dengan bergandengan tangan.


"Mas Aziz ... aku sangat merindukan, Mas. Kenapa aku jadi manja sekali, ya Allah. Aku harus cepat agar Mas tidak terlalu lama menunggu."


Tangan mungil terus dia usap di perutnya karena tidak sabar memberi tahu Aziz perihal kehamilannya. Khumaira terus menebar senyum manis mengingat Suaminya yang sangat manis.


"Mas Aziz," lirih Khumaira.


"Nyonya sudah sampai."


"Oh, terima kasih, Pak."


Khumaira memberikan uang lebih dan tersenyum ramah pada sopir. Bersedekah sedikit di hari yang sangat cerah.


Sopir itu tersenyum ramah seraya mengucap terima kasih. Kemudian dia melajukan mobil menuju arah berlawanan.


Khumaira melangkah santai menuju lobi kantor. Dia menyapa Security dan beranjak meninggalkan lobi. Kantor masih sepi yang ada cuma para Office Boy dan Office girl. Langkah kakinya berhenti ketika salah satu dari mereka menyeletuk menyakitkan.


"Lihat, itu Istri dari CEO kita, bukan? Keh, cantik sih tapi sayang janda dan lebih parahnya perebut laki orang," celetuk Office girl tanpa perasaan.


Khumaira berusaha tersenyum saja tetapi sakit juga. Selalu begini para karyawan terkhusus wanita tidak suka padanya. Mereka selalu mencela Khumaira tanpa tahu perasaannya.


"Jijik banget sih. Pak Aziz lebih cocok sama Dokter Zahira. Mereka sama-sama berprestasi, yang satu cantik dengan prestasi membanggakan dan Pak Aziz sangat genius dan multitalenta. Nah, dia hanya janda perusak hubungan orang. Kamu tahu, dia itu mantan Kakak ipar Pak Aziz dan sialnya malah tikung Mbak Zahira untuk meraih Pak Aziz. Sudah berhijab tetapi kelakuan buruk sekali," cela wanita satunya.


"Dia mana tahu malu, Pak Aziz itu pasti kepelet sama tuh janda kampung. Eh, tadi Dokter Zahira datang loh menemui Pak Aziz. Aku senang sekali mereka bersama. Lagian mereka saling cinta dan untuk si dia di anggap sampah," imbuh yang lain tanpa segan.


Khumaira buru-buru pergi dengan perasaan menyakitkan. Tanpa terasa air mata luruh deras mengingat perkataan mereka. Dengan langkah bergetar dia masuk lift dan menekan angka 25 tempat Aziz bekerja.


Setelah sampai Khumaira langsung melangkah menuju pojok ruangan di mana letak ruangan Aziz. Dia menyapa para pegawai yang berangkat begitu pagi.


Saat di depan pintu Khumaira terpaku melihat Aziz bersama Zahira. Perasaan campur aduk melihat Suaminya tersenyum pada Zahira.


"Ini pesanan, Mbak. Aku pilihkan yang paling bagus di jamin suka. Warnanya juga sangat cocok dengan kulit, Mbak."


"Terima kasih banyak loh, Mas. Aku sangat senang, Alhamdulillah. Saya akan pakai nanti setelah pulang dari sini. Jadi tidak enak menemui Mas sepagi ini."


"Tidak apa, kayak siapa saja."


Khumaira membisu akan kedekatan mereka. Rasa rindu yang membludak terganti dengan rasa sakit. Dia berbalik meninggalkan tempat itu dan memilih menenangkan diri. Khumaira menangis tersedu di dalam lift. Hatinya begitu sakit melihat Aziz dan Zahira sangat dekat bahkan mereka bertemu sepagi ini.


***


Khumaira berjalan lunglai menuju halte bus. Sampai di halte dia duduk di pojok dengan tubuh bergetar menahan kesakitan. Dia tahan mendengar cacian mereka namun tidak mampu menahan sakit hati ketika Aziz dan Zahira berada di satu ruangan.


"Akh, sakit ugh," ringis Khumaira merasa perutnya begitu kram.


Orang-orang yang menunggu bus di halte sontak mengerubungi Khumaira. Mereka tadi bungkam melihat Khumaira terlihat menyedihkan. Sekarang mereka menjadi sangat panik akan kondisi wanita manis.


"Mbak, Anda sakit? Ini saya bawa minum, minumlah," panik mereka.


Khumaira menerima air dengan susah payah. Rasanya begitu menyakitkan. Hati dan perutnya terasa di remas kuat. Khumaira harus kuat agar bayinya baik-baik saja. Dia merapalkan doa demi keselamatan anaknya.


Lain sisi Aziz keluar ruangan lalu menengok ke sana kemari. Di mana Istrinya kenapa belum sampai juga. Aziz jadi panik memikirkan Khumaira.


"Pak Andre, apa Istriku sudah datang?" tanya Aziz pada Manager keuangan.


"Oh, sudah Pak. Tetapi, langsung pergi setelah datang ke ruangan, Bapak," jawab Andre.


Aziz langsung ingat tadi bersama Zahira satu ruangan. Jangan bilang Khumaira sakit hati akan kejadian tadi. Ini salah paham, Aziz memberi tahu Zahira agar cepat datang ke kantor karena gadis itu akan menghadiri acara pesta di rumah sakit tepat jam 9 pagi. Lagian pesanan Zahira ada di tangannya.


"Sarah, tolong serahkan dokumen ini pada Pak komisaris. Bilang pada beliau saya tidak bisa menghadap langsung."


"Baik, Pak."


Aziz dengan cepat berlari menuju lift. Dia merutuki diri karena membuat Khumaira terluka. Apa benar Khumaira cemburu padanya?


Aziz membawa mobil Van berisi barang bawaannya. Dia sangat takut Khumaira kenapa-napa. Ya Allah, semoga saja Istrinya baik-baik saja tanpa halangan apa pun.


"Dek, maafkan Mas."


Aziz melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Dia terus mengedarkan pandangan ke seluruh ruas jalan agar menemukan Khumaira. Tepat di depan sana banyak orang berkerumun di halte. Aziz melajukan mobil lebih dekat dan benar saja dia melihat Khumaira di rubungi orang.


Perasaan kalut dengan rasa bersalah hinggap di hati Aziz. Dia buka pintu mobil lalu menatap Istrinya sedang merintih kesakitan.


"Ya Allah, Dek. Tolong buka pintu mobil itu!" perintah Aziz.


Aziz meminta ruang agar bisa meraih Khumaira. Dia langsung merengkuh Istrinya erat dan mengangkatnya hati-hati. Aziz dekap tubuh mungil Khumaira dengan perasaan campur aduk.


Orang-orang di halte bus menatap mereka penuh arti. Mereka tadi sudah memanggil ambulance. Tetapi, lihat seorang pria membawa pergi wanita malang itu.


Aziz melajukan mobil dengan kecepatan tinggi agar sampai di rumah sakit lebih cepat. Bersyukur jalan tidak terlalu padat. Aziz jadi lebih leluasa mengendalikan laju mobilnya.


"Dek, bertahan Mas mohon."


Khumaira tersenyum sedikit mendengar perkataan Aziz. Dia genggam tangan besar Suaminya agar rasa sakit reda. Khumaira merasa semakin lemah ingin bersandar di bahu Aziz beberapa saat.


"Mas, aku sangat merindukan, Mas," lirih Khumaira sebelum pingsan.


Aziz terbelalak melihat Khumaira pingsan. Hatinya semakin kalut akan rasa bersalah. Dia terus berdoa semoga Istrinya baik-baik saja. Aziz tidak akan mengampuni diri sendiri jika sampai Khumaira kenapa-napa.