Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
Bonus Chap AI 2 - Keresahan Hati Mereka!



Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Apa kabar semuanya?


Maaf ya update kemarin begitu amburadul tidak tertolong.


Kemarin sudah ngantuk banget dan aku paksain update. Alhasil begitu rancu bin aneh tidak bisa diperbaiki.


Tolong maafkan aku ya say karena begitu aneh.


Say ayok nari yok bersama Rose karena merasa tersakiti. Kalian tahu orang yang di dzolimi akan mendapat hasil akhir memuaskan.


Aku sangat kecewa sumpah hanya saja tidak mau menunjukan rasa kecewa itu agar bisa menahan diri. Sudah di kasih hati minta jantung!


Asli sakit banget, tapi ya sudahlah akan aku terima sepenuh hati. Kalian adalah cintaku maka akan selalu kucinta.


Sungguh jika tidak ingat adab mulutku yang sangat tajam ini akan mengoyak segalanya. Rose adalah gadis siap meledak karena kesabaran telah dirobohkan.


Namun, aku akan berusaha lebih baik lagi sepeti beliau sang idolaku sehingga terpacu membuat novel yaitu Habiburrahman El Shirazy.


Mohon dukungannya!


Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!


*Happy reading Guys!*


Mahira tersenyum lembut di saat kebahagiaan terjadi. Ia tidak sabar memberitahu Azzam prihal keadaannya. Senyum itu terus merekah ketika ingat hal baik ini. Dia beranjak menyimpan benda pipih dalam sakunya. Mahira tidak sabar menunggu respons Azzam perihal kabar baiknya.


Di usia Ayeza ke 27 bulan sudah mendapatkan Adik baru. Benar kini Mahira hamil lagi tepatnya masih beberapa Minggu. Dia begitu senang sampai air mata luruh ingat kuasa-Nya. Perlahan tangan kecil itu mengusap perut ratanya lalu memberikan senyum termanis. Mahira tidak bisa berkata apa-apa selain letupan rasa syukur pada Allah telah berkenan menitipkan anak kembali.


Dengan riang Mahira jalan keluar kamar untuk membuatkan sarapan. Dia akan masak banyak karena kebetulan Ridwan akan datang kemari di pinta Azzam. Lagian Suaminya sedang di pesantren karena si sulung sakit oleh sebab itu Suaminya menjaga. Di rumah Mahira hanya bersama tiga anak-anak tanpa pelukan Azzam.


Mahira tersenyum lembut melihat Ayeza masih tidur lelap. Maklum ini jam setengah lima anak-anak juga belum bangun. Oleh sebab itu ia Shalat dulu baru akan membangunkan sikembar. Mahira shalat subuh dengan khusyuk kemudian setelah shalat membaca Al-Qur'an beberapa ruku'.


Wanita cantik berusia tiga puluh empat tahun ini tampak anggun membangunkan dua anaknya. Tangan lembut Mahira mengusap pipi gembul Zoya dan Zayn lalu memberikan ciuman di kening. Dia begitu rindu menatap dua anaknya dengan manik mirip.mntan Suaminya. Mahira ingat Abimanyu meninggal di Medan perang melawan musuh Negara.


Bahkan Zayn dengan lantang mengatakan mau jadi tentara angkatan udara. Anaknya mau jadi pelindung Negara hanya saja ia tidak mau itu terjadi. Cukup Abimanyu pergi jangan anak tampannya teramat dicintai. Mahira ingin Zayn jadi pembisnis handal karena kelak meneruskan usaha di Pakistan. Untuk Zoya ia juga mau hal yang sama atau jadi apakah yang penting anaknya ini mampu menjadi cahaya Agama dan Negara.


Untuk Ayeza segala harapan terlabuh lalu untuk calon buah hatinya Mahira harap menjadi mentari bersinar. Dia tersenyum dikala anak-anak bangun kecuali Ayeza yang sedang tidur di kamarnya. Ia mengecup kening Zoya dan Zayn lalu memberikan dekapan hangat. Ini kebiasaan Mahira sedari awal memberikan segala kasih sayang sederhana. Namun, begitu berharga untuk anak-anak.


Zoya dan Zayn tersenyum manis menerima dekapan hangat Mahira. Keduanya masih bermanja ria dengan mendekap Mama. Mereka tampak manis bak anak kucing menggemaskan. Mata besar nan indah keduanya masih tertutup rapat belum mau terbuka. Walau sejatinya Zoya dan Zayn sudah bangun sedari awal.


"Ayo anak-anak Mama ke kamar mandi cuci muka, tangan dan kaki lalu sikat gigi. Jangan lupa pakai sabun dan terakhir wudhu. Gih laksanakan setelah itu shalat subuh lalu jaga Dedek Aye di kamar Mama dan Abi."


"Umh."


"Nanti kalian lanjutkan tidur bersama Dedek Aye. Anak-anak tidak boleh nakal jika tidak ada Abi."


"Umh, kami laksanakan, Ma."


Zoya dan Zayn mencium pipi Mamanya sebelum beranjak ke kamar mandi. Kebetulan kamar mandi hanya ada satu tepatnya di dapur. Mereka masih menggemaskan walau tidak kecil manis. Umur mereka mendekati tujuh tahun, tetapi sudah patuh untuk melakukan shalat fardhu. Zoya dan Zayn terus di didik Azzam sehingga menjadikan anak cerdas nan baik.


Melihat anak-anak sudah beranjak Mahira membereskan tempat tidur di kembar. Dia lipat selimut lalu membenarkan seprai warna baby blue. Di rasa sudah rapi ia bergegas ke dapur untuk membuat sarapan pagi. Namun, langsung berhenti di bibir pintu saat lupa belum menyiapkan seragam sekolah anak-anak. Àlhasil Mahira langsung melakukan tugasnya.


Lain sisi Ridwan sedang demam menyebabkan harus tinggal di Ndalem. Anak tampan ini rindu Umi  dan Ayahnya. Walau ada Abi semalam penuh menjaganya setulus hati. Namun, apa mau di kata hanya Umi obat penangkal paling ampuh. Ridwan biasanya akan langsung sembuh jika Uminya yang merawat.


Azzam merasa tidak berguna Ridwan sakit saja tidak bisa berbuat apa-apa. Dia jadi merasa kalut lantaran ingat Khumaira yang mampu merawat dua anak tambah satu lagi ketika Adiknya pergi. Namun, apa yang terjadi mantanya begitu tangguh sampo bisa merawat ketiga nak penuh cinta. Sementara dirinya baru empat bulan Ridwan di sini sudah begini.


"Le," panggil Azzam sembari mengusap rambut Putranya.


"Umi," lirih Ridwan dalam alam bawah sadarnya.


"Ya Allah, limpahkan kuasa-Mu agar sakit anakku jatuh pada hamba. Ya Allah berkenankah menukar sakit anakku pada hamba? Allahu Akbar, atas kuasa-Mu wahai Dzat yang Maha Penyembuh hamba memohon agar Engkau berkenan menyembuhkan putra hamba," doa Azzam dalam hati.


"Hiks, Umi," isak Ridwan dalam tidurnya.


"Le, ya Allah. Abi akan telepon kan Umi agar Tole cepat sembuh. Abi mohon jangan begini Nak, maafkan Abi." Azzam sedih melihat Ridwan begitu menyedihkan.


Azzam melihat jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Dia langsung tersentak saat sadar belum shalat subuh. Demi Allah semalam suntuk ia jaga anaknya tanpa kenal lelah. Demi anak sulungnya ia akan melakukan apa pun. Azzam beranjak dulu untuk shalat subuh baru menelepon Khumaira.


Setelah semua selesai Azzam mebangunkan Ridwan. Benar saja anaknya mau bangun lalu menitikkan air mata. Dia rindu Ini mau Umi Ada dalam dekapannya. Mau pulang bertemu Uminya walau sebentar saja. Ridwan belum bisa pisah lama dari Uminya lantaran terus ingat perjuangan Umi.


"Le, sstt Jangan menangis ada Abi. Sstt, anakku sayang jangan begini."


"Hiks, Ka_Kakak mau Umi, hiks hiks. Abi hiks mau Umi."


"Abi akan bawa Dedek bertemu Umi Jangan takut. Sekarang jangan menangis, Abi mohon."


"Hiks."


Azzam dekap Ridwan erat lalu memberikan ciuman lembut di ubun-ubun. Ya Allah, sampai tadi malam tubuh anaknya tidak mau turun suhu tubuhnya. Jelas betapa panasnya tubuh anaknya sedari tadi malam. Sejatinya Ridwan sudah sakit dari tiga hari lalu, tetapi tidak mau berbicara. Puncaknya kemarin ketika anaknya tumbang. Dari sini Azzam begitu sedih ketika tahu Ridwan tidak mau memberitahu sakitnya.


Mirip sekali seperti Khumaira begitu apik menyembunyikan sakit. Jika sudah tidak tahan maka akan tumbang. Oleh sebab itu sedari awal pernikahan ia kurang bisa mengusik rapatnya diri menyembunyikan duka. Begitu pun dengan anaknya ini begitu tertutup soal rasa sakit. Azzam tidak akan bisa melihat anaknya merasakan sakit.


Ridwan membalas dekapan Abinya seolah tidak mau lepas. Dia merasa berat karena tubuhnya begitu lemas. Karena tidak kuat ia memilih tidur kembali, tetapi langsung bangun lagi ketika sadar belum shalat subuh. Dengan tubuh bergetar ia akan minta Abinya mengantar ke kamar mandi. Ridwan mau shalat dulu baru istirahat lagi.


Tubuh bergetar Ridwan semakin bergetar ketika berusaha duduk tegak. Kepalanya terasa berat sekaligus semua berasa berputar-putar. Di cengkeram kepalanya lalu memejamkan mata rapat. Dirinya begitu pening ingin menangis  sesenggukan. Ridwan mau Umi sekarang juga walau tidak mungkin.


"Tole serius? Tole berdiri saja tidak mampu, istirahat saja. Nanti di qodho saja, Le."


Ridwan menggeleng tetap kukuh mau shalat fardhu. Dalam tuntunan shalat dan ketentuan perintah shalat pernah di baca shalatnya orang sakit. Dia tidak bisa berdiri bukan duduk saja terasa lemah makanya dirinya akan shalat dengan cara tidur terlentang. Ridwan akan shalat dan Insya Allah tidak akan pernah meninggalkan shalat wajib. Kata Ayah dan Uminya sedari dini mengatakan jangan pernah meninggalkan shalat fardhu walau dalam keadaan apa pun. Nasihat orang tuanya lebih baik lantaran shalat adalah kunci utama menuju Surga-Nya Allah.


Azzam ada akhirnya menuruti keinginan Ridwan untuk shalat. Atas nama Allah dengan segala Dzat yang Maha Besar rasanya bangga. Bangga sekali telah memiliki Ridwan dalam hidupnya. Ini berkat Aziz dan Khumaira itu pasti. Dulu Adiknya pernah mengalami hal sama bahkan lebih parah yaitu kecelakaan demi menyelamatkan manta Istrinya. Waktu itu Aziz dengan senyum manis berkata Atas Dzat yang Maha Kuasa telah memberikan kesehatan dan perlindungan pada hamba-Nya. Aziz selamat dari maut atas kehendak-Nya. Maka sudah seharusnya selalu menjalankan kewajiban. Aziz akan berhenti shalat jikalau Allah mencabut nyawaku. Selagi aku bisa kenapa tidak? Itulah Aziz walau gilanya tidak ketulung, tetapi aslinya begitu jernih layaknya air mengalir.


"***''~~''***"


Air mata Khumaira sedari tiga hari tumpah dan dadanya terasa sesak. Dia selalu kepikiran Ridwan di Kediri sana. Namun, sedari awal tidak pernah berani menelepon karena Anaknya bilang jangan sering menelpon nanti jadi manja. Dia sampai menahan napas menerima sakit rasa sesak di dada. Puncaknya dari semalam jadi semakin gelisah. Khumaira terus berhalusinasi Ridwan memanggil namanya pakai suara lemah bergetar.  


Perutnya terasa kram akibat pikiran terus menerus tertuju pada Ridwan. Khumaira mengusap perut buncitnya akibat terasa nyeri luar biasa. Apa sudah saatnya dia melahirkan? Sepertinya belum karena ini baru masuk bulan ke sembilan satu hari lagi. Ia terus mengucap dzikir guna meredam rasa sakit. Benar saja Khumaira.sudah mulai baikkan apa lagi setelah bersholawat sembari mengusap perutnya.


Khumaira lupa bahwa Aziz tidak di rumah dari dua hari ini. Suaminya sedang melakukan perjalanan bisnis di Pekanbaru untuk menjalankan proyek. Kata Suaminya besok sudah pulang ke rumah. Memikirkan itu ia jadi sedih lantaran tidak bisa mencurahkan isi hati pada Suaminya. Namun, senyum langsung merekah saat sadar Allah telah menanti curahan hatinya.


Dengan hati-hati Khuamira berjalan ke kamar mandi untuk shalat subuh. Setelah shalat subuh rencana mau baca Al-Qur'an beberapa ruku'. Baru setelah itu mau membuat sarapan untuk anak-anak. Sungguh di begitu rindu pada Ridwan tambah rasa khawatir membuatnya sedih.  Khumaira langsung istighfar banyak kali guna meredam rasa gelisah.


Beda dengan Aziz selalu melakukan kesalahan dalam tugas kali ini. Semua ini dilandasi pikiran kalut prihal Ridwan. Sedari awal ia terus kepikiran anak sulungnya di Jawa sana. Karena tidak tahan ia putuskan menelepon keluarganya. Aziz tidak akan cerewet jika hati terus mendesak ingin bertemu.


Jika sampai kedalam anaknya kenapa-napa yakin detik ini juga Aziz akan membeli tiket ke Jawa timur. Dengan penuh ketekatan ia telepon Abahnya guna mencari tahu. Dia langsung diam ketika ingat Abah masih mengajar Santriwan kelas Mantiq. Aziz putus sambungan baru nannti pagi akan menelepon lagi.


Aziz mengusak rambut gara-gara pusing memikirkan anaknya. Sedari awal hatinya gelisah sampai kerja saja terbengkalai. Dia memijat pangkal hidung terasa kelap memikirkan anak sulungnya. Ia jadi tidak mau membiarkan anaknya jauh darinya. Aziz ingin Ridwan pulang biar dijaga sepenuh hati. Walau ada Azzam rasa khawatir itu membuncah memikirkan banyak hal.


Apa akhirnya Aziz memilih menyiapkan materi untuk nanti pagi. Tetapi, langsung berhenti saat layar monitor laptop menampilkan sosok Ridwan berserta dua anaknya. Tangan terjulur guna menyentuh gambar anak-anak. Aziz menitikkan air mata akibat jantungnya terasa pilu.


"Kak, sejatinya apa yang terjadi? Ayah khawatir pada kakak. Sungguh ada apa pada, Nak?"tanya Aziz semakin sedih.


"Kakak, sungguh Ayah sangat khawatir. Jika benar Kakak kurang baik maka Ayah akan datang. Jangan sedih Ayah akan datang membawa Kakak bertemu, Umi," tutur Aziz.


"Ya Allah apa putra hamba dalam keadaan kurang baik-baik saja? Jika benar berkenankah mengabulkan permohonan hamba akan sakit putraku? Hamba berharap ya Allah segala rasa sakit putra hamba pindah padaku. Ya Allah, sesak sekali ingin berlari ke arahnya. Hamba begitu khawatir ya Allah maka atas segala karunia-Mu hamba memohon sekiranya Engkau berkenan menyembuhkan serta melindungi putraku," doa Aziz.


"Kak, semoga baik-baik saja karena Ayah tidak akan sanggup melihat kakak sakit."


Aziz memutuskan untuk mandi dari pada pikiran terbengkalai. Sungguh dia begitu menyayangi Ridwan lebih dari apa pun. Rasa sayang sama halnya dengan Azzam orang tua biologis. Namun, dirinya juga begitu menyayangi Ridwan setara rasa sayangnya pada Mumtaaz. Walau begitu Aziz tidak pernah membedakan anak-anaknya. Baik itu Ridwan atau Mumtaaz dan Faakhira tetap sama.


Rasa sayang Aziz untuk Ridwan tidak akan pernah sirna. Bahkan dua kali ia melindungi anak sulungnya dari maut sewaktu dalam kandungan. Ia berperan penting melindungi Khumaira dan Ridwan dari mata bahaya. Paling ikonik ya waktu Charisma nekat melakukan hal gila. Wanita itu nyaris membunuh Khumaira dan Ridwan, tetapi Aziz menyelamatkan penuh cinta.


Cut ....!!!!


Maaf belum Rose koreksi dan edit jadi kalau banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan harap maklum!


Rose sangat cinta kalian karena segala hal.


Rasanya begitu senang memiliki Reader seperti kalian.


Aku sayang kalian maka ikuti bonus chap sampai puas.


Untuk sebuah kasus pencurian itu hal biasa terjadi. Jadi, sabar dulu jika sudah keterlaluan bertindak!!!!


Begitu pun dengan Rose akan bertindak jika waktunya tiba. Kalian akan tahu sikap asliku jika sedang marah.


Namun, aku ini kuat dan yah akan berjuang kembali.


Raih tanganku agar kita bisa berteman.


Sudah dulu ya sampai situ saja.


Jangan lupa makan dan istirahat yang cukup. Sayang kalian semua!


Semoga kalian tetap mencintaiku!


Salam cinta dari Rose dari hamba Allah yang ingin jadi orang baik.


Ya Allah, berasa geli aku jadi orang sok suci nyatanya tidak.


Aku jadi ingin ngakak orang yang berlindung dalam formalitas Islam.


Sudah aku tidak mau semakin jadi iblis yahu.


Pokoknya lebih baik buat story tanpa ada pembaca dari pada sstory viewers bejibun hasil nyontek aka plagiat.


Oleh sebab itu jangan iri viewers Kalian dikit tapi murni imajinasi sendiri. Berbanggalah pada diri sendiri jangan sampai iri.


Kalian sangat luar biasa karena kalian begitu hebat bisa berpikir indah tanpa ada noda.


Coba deh tengok para plagiat memaksa kehendak ingin bisa menulis tapi dengan cara kotor.


Maka dari itu para author pemula semangat dan tetapkan keyakinan jangan pernah mencuri karya.


Kalian luar biasa dan jangan nodai citra kalian sebagai plagiat!!!!


See you again!


Rose!