Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
Ciuman Pertama!



Aziz terus mengusap punggung Khumaira agar terlelap. Benar saja Istrinya sudah lelap dalam dekapannya. Tadi Aziz meminta agar Khumaira menemani tidur di brankar.


Awalnya mendapat penolakan dan Aziz menggerang kesakitan. Alhasil Khumaira naik ke brankar untuk memijat kepalanya.


Aziz dan Khumaira tertidur dengan posisi cukup intim. Aziz tidur terlentang dengan dada menjadi bantal Khumaira.


Khumaira semakin erat merengkuh tubuh kekar Aziz berniat mencari kehangatan. Selimut rumah sakit sangat tipis membuat Khumaira kedinginan.


Zahira tersenyum kecut melihat Aziz dan Khumaira tidur saling merengkuh. Tadi dia lewat ruang rawat Aziz dan terpaku melihat Khumaira merengkuh Aziz.


"Ya Allah, sakit sekali."


Zahira buru-buru pergi sebelum hati tambah terbakar api cemburu. Hatinya semakin sakit saat Aziz begitu hangat merengkuh Khumaira.


"Apa mereka memang merencanakan ini? Apa Mbak Khumaira, memang mengincar Mas Aziz? Ya Allah singkirkan pikiran negatif. Ampuni hamba ya Allah telah berpikir negatifnya."


Zahira langsung ke ruangan yang di tempati para Dokter. Dia melihat para Dokter yang bertugas di shift malam sedang sibuk mengobrol dan saat ada tindakan mereka langsung siap siaga. Zahira cukup tertolong saat ada pasien yang harus di tanganni.


Tepat Adzan subuh berkumandang, Khumaira dan Aziz terbangun. Aziz menggeliat pelan lalu kembali merengkuh Khumaira erat. Dia masih kedinginan gara-gara cuaca semakin dingin.


Khumaira mendongak menatap netra cokelat Aziz. Mata mereka terus menatap dengan pandangan sulit di artikan. Karena merasa tidak tahan Khumaira berpaling tanpa mau menatap.


"Mas," lirih Khumaira.


"Mbak, ayo pulang ke rumah. Aziz, ngga betah," pinta Aziz.


"Tidak boleh, rawat dulu baru boleh pulang."


"Mbak, aku mohon."


"Tidak!"


Aziz melepas pelukan dan beralih berpaling tanpa mau melihat Khumaira. Dia tidak mau di rawat lagi karena ada Zahira. Sangat takut menyakiti mantan tunangannya itu. Bukan karena rasa pada Zahira melainkan sebuah simpati akan iba membelenggu.


Untuk seseorang yang menjadi Istrinya dia sangat paham. Aziz tidak mungkin berada di sini bersama dua wanita penting. Khumaira tidak mungkin keberatan lalu untuk Zahira pasti sangat terluka.


Khumaira duduk berusaha membuat Aziz menghadapnya. Tetapi, Suaminya tidak kunjung berbalik menghadap dirinya. Apa Suaminya benar-benar marah saat ini?


"Mas, jangan marah. Aku hanya ingin Mas sembuh total. Mas masih lemas, ayolah hanya sehari besok pulang."


"Pulang."


"Mas, aku mohon. Jangan marah lagi, tolong mengerti."


Aziz akhirnya berbalik menghadap Khumaira. Senyum lebar dia perlihatkan dan tertawa sedikit. Aziz tetap mau pulang walau mendapat penolakan keras dari Khumaira.


"Aku bercanda, Mbak. Lucu sekali melihat Mbak panik begitu."


Khumaira terpaku menatap Aziz. Berani sekali Suaminya mengerjai sampai panik. Dengan cepat Khumaira mencubit kecil pinggang Aziz. Setelah itu memukuli paha Suaminya agar jerah.


"Auch ... Mbak sakit. Aku ini pasien loh, Mbak. Bagaimana jika tambah sakit?"


"Siapa peduli, biar Mas di rawat terus di sini."


"Mbak, berhenti auch," ringis Aziz karena tongkat penyangga air infus jatuh. Tangannya sakit dan ngilu membuat dia meringis.


"Mas, ya Allah."


Khumaira langsung menekan tombol darurat lalu turun dan mengembalikan tongkat penyangga ke semula. Dia menangis dalam diam menyesali perbuatannya lagi-lagi membuat ulah.


Aziz malah melepas infus tanpa peduli sakit. Dia hanya butuh menenangkan Khumaira. Ia duduk lalu menarik pelan Istrinya. Aziz paling anti melihat air mata Khumaira berjatuhan.


Khumaira terdiam saat Aziz memeluknya erat. Dia bergetar saat tadi Suaminya meringis kesakitan. Ia balas pelukan Suaminya seraya mengatakan maaf berulang kali.


"Sudah, aku tidak apa-apa. Aku akan di rawat di rumah bersama, Mbak. Tetapi, jika memaksa Aziz tetap tinggal. Jangan khawatir dan merasa bersalah lagi."


"Maaf lagi-lagi membuat Mas kesakitan. Maaf aku hanya ingin Mas sehat dan cepat pulih. Mas, di rawat di sini besok pagi pulang. Bagaimana tidak khawatir jika sekarang Mas ini Suamiku? Bukanya Mas bilang kita rekan, teman dan sahabat. Kini aku mengkhawatirkan Mas sebagai sahabat yang sangat baik pada kami. Tolong jangan sakit lagi."


Aziz tersenyum mendengar perkataan Khumaira. Istrinya benar-benar membuat dia terbang lalu dihempaskan. Aziz usap punggung Khumaira agar tenang.


Khumaira berusaha lepas saat pintu terbuka. Dokter dan Suster tersenyum canggung melihat dia dan Aziz pelukan. Perlahan Khumaira melepas pelukan mereka dan meminta Dokter memeriksa Aziz.


"Kondisi pasien semakin membalik. Namun, alangkah baik jika menginap sekali lagi di sini untuk memulihkan stamina."


"Saya sudah baik, biar di rawat di rumah." Aziz ingin pulang kembali.


"Namun, kondisi tubuh Anda belum stabil. Masih butuh perawatan, tolong mengerti."


"Aku tinggal minum resep Dokter, ayolah."


"Maaf, jangan membantah dan mari kami permisi."


Aziz mendengus mendengar perkataan Dokter. Memang tubuhnya masih terasa lemah, tetapi demam sudah turun. Dia menatap Istrinya dengan tatapan penuh permohonan.


"Mbak," rengek Aziz.


"Tidak boleh."


Aziz merengut sebal mendengar jawaban Khumaira. Dia memilih duduk sembari bersedekap dada. Saat Istrinya memanggil ia acuhkan begitu saja. Aziz ingin pulang ke rumah titik ngga ada koma.


Khumaira hanya bisa tersenyum melihat Aziz persis seperti bocah ingusan. Mirip sekali Ridwan yang sakit tidak mau di rawat di rumah aja. Khumaira jadi heran kenapa Aziz bisa bersikap kekanakan?


...***...


Aziz akhirnya istirahat di rumah sakit sehari penuh tanpa Khumaira. Istrinya sedang pulang menghabiskan waktu bersama Ridwan.


Sekarang jam 5 lewat 30 menit, Khumaira kembali datang. Dia minta maaf karena baru membesuk Aziz. Selama dia di rumah kedua orang tua dan kakaknya yang membesuk sang Suami.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, bagaimana hari, Mas?"


Khumaira duduk sembari menatap Aziz. Dia tersenyum ketika Suaminya mendengus sebal. Sepertinya sangat tahu penyebab Suaminya memberengut lucu seperti Ridwan. Apa Suaminya mau bersaing dengan Putranya?


"Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Buruk, mereka memberiku makanan bubur tanpa rasa."


Khumaira tertawa mendengar jawaban Aziz. Dia langsung membawa rantang berisi makanan di depan sang Suami. Kalau begini Khumaira bakal mengurus bayi besar macam Aziz.


"Aku sudah masakan sup dan makanlah yang banyak."


"Baiklah Tuan narsis nanti malam makanya. Mas, lucu sekali saat sakit."


Aziz memutar bola matanya malas mendengar ocehan Khumaira. Dia memilih diam sembari mencomot buah anggur hijau. Aziz menyuapkan pada Khumaira saat Istrinya terus mengomel panjang lebar.


Khumaira tersipu saat Aziz menyuapkan buah anggur padanya. Dia ingat Suaminya anti pada wanita cerewet. Ia teringat dulu saat mengoceh panjang kali lebar di balas kata tajam. Khumaira tersenyum saja saat Aziz hanya nyengir kuda.


"Kenapa saya begitu lucu saat sakit?"


"Mas jadi mudah merajuk dan protes. Mas juga sangat mengemaskan ketika bersikap seperti bocah."


"Mbak," protes Aziz.


"Baru saja di bilang malah protes, aku izin wudhu dan Shalat Maghrib dulu."


"Baik, Aziz juga mau wudhu."


Seperti kemarin, Khumaira menyuapi Aziz telaten. Mengurus Suaminya sakit seperti mengurus Ridwan. Tidak ada bedanya, mereka sama-sama manja minta di prioritaskan.


Aziz yang penuh semangat, sarkasme dan bercanda berubah menjadi anak kecil ketika sakit. Jadi, siapa yang mau merawat bayi besar ini saat sakit?


...Aziz POV On!...


Aku tatap bibir tebal Mbak sedikit uhuk. Ya Allah, aku khilaf ya Allah. Jadi teringat waktu tengah malam di dekapannya begitu erat.


Ya Allah, rasanya begitu menyiksa sampai aku merasa sakit. Ok, aku pria dewasa sudah beristri. Walau aku belum pernah pacaran. Namun, aku mengaji kitab yang membahas bab pernikahan.


Semua terekam jelas dan untuk video mesum aku belum pernah melihat selama 29 tahun hidupku. Bekal kitab tentang tata cara hubungan intim akan menjadi pedoman.


Ya Allah, aku ini kenapa malah berpikir mesum. Baik, sekarang Mbak Khumaira Istriku. Namun, kapan kami melakukan itu?


Biarkan Mbak ikhlas dulu baru kami melakukan itu. Seperti di awal aku hanya ingin memberi kebahagiaan, kenyamanan, cinta, Kasih sayang dan perlindungan serta menjaga hatinya.


Untuk pertama kali aku merasa frustrasi saat berada di dekapan seseorang. Mbak Khumaira begitu polos sampai lupa menaruh kepalaku di sana. Sebagai Suami aku memberontak menahan sesuatu.


Merasa tubuh mungil itu merengkuh erat membuat aku ketagihan. Entah, aku sangat suka memeluk tubuh mungil Mbak Khumaira. Rasanya begitu pas dan mendebarkan.


Aroma segar nan meneduhkan membuat aku ingin terus merengkuh Istriku. Perasaan ini, debaran ini dan semua terasa nyata. Aku tidak boleh egois karena Mbak Khumaira berhak menentukan keinginan.


Sebagai seorang Suami, aku sangat menyayanginya melebihi apa pun. 3 malam kami selalu tidur dengan posisi intim membuat aku nyaman.


3 hari, aku merasa getaran aneh dan belum pernah ku rasa pada wanita mana pun. Selama dengan Adiba, aku tidak pernah merasa detak jantung menggila bak alunan melodi gila.


Adiba itu gadis Pakistan yang sangat aku sayangi. Aku cinta tetapi sekedar Kakak dan Adik. Hanya ada satu nama dalam hatiku selama bertahun-tahun terakhir.


Istriku, wanita pertama yang sukses membuat aku terpesona. Baiklah aku akan jujur, aku mencintainya.


Ya Allah, wajahku panas sekali. Jangan tanya kapan karena aku mencintainya sudah sangat lama.


Aku tidak tahu, karena aku pandai menyembunyikan perasaan. Namun, selama 3 hari aku tidak kuasa menahan diri.


Semua tentangnya terasa membelenggu. Sadar sangat sadar, Mbak hanya mencintai Mas Azzam sampai kapan pun. Aku tidak keberatan karena aku sangat ikhlas cintanya terus berlabuh untuk Masku.


Cintailah Mas Azzam sampai kapan pun karena aku tidak menuntut. Aku ingin Mbak selalu bahagia maka biarkan aku yang mencintaimu dalam diam.


Aku akan sabar menunggu saat Mbak menjadi Makmum ku. Saat kita benar-benar terikat hubungan Suami dan Istri yang sesungguhnya. Mbak tidak perlu risau karena aku sabar menanti.


Membuat Mbak nyaman, bahagia dan terus tersenyum itu lebih dari cukup. Mbak, aku sangat bahagia melihat senyuman manis mu.


Kita akan menua bersama, Insya Allah. Jika Allah berkehendak tolong beri setitik hatinya untukku. Hamba sangat mencintai dia karena-Mu ya Allah.


Semoga Mbak menerima cintaku kelak dan membuka hati sedikit. Mas Azzam tenang, cinta Mbak hanya untukmu. Sesuai amanah aku akan menjaganya sepenuh hati.


...Aziz POV Off!...


Tepat pukul setengah 9 malam, Aziz keluar dari kamar mandi. Dia habis menuntaskan tugas alam. Di lehernya ada handuk warna biru muda yang melilit apik.


Khumaira tersenyum cerah akhirnya Aziz keluar. Dengan semangat dia melangkah ke arah Suaminya.


"Mas, mana handuknya pinjam."


Aziz tersenyum jahil berniat menggoda Khumaira. Dia langsung meraih handuk dan memberikan pada Khumaira. Namun, sebelum Istrinya mengambil dia lebih dulu menarik dan melangkah santai.


"Mas, handuk."


"Ambil sendiri!"


Aziz mengangkat handuk itu menggunakan tangan kanan. Dan terjadilah Khumaira berusaha mengambil handuk kecil itu.


"Mas, jangan begini. Ih, susah ambilnya."


"Mbak terlalu mungil makanya ngga sampai menggapai."


"Aish, Mas."


Khumaira loncat tetapi tetap saja tidak sampai menggapai handuk. Karena kesal Khumaira menggigit lengan kiri Aziz alhasil Suaminya meringis dan memilih lari.


Aziz berlari ke sana kemari membawa handuk sembari tertawa mengejek. Lihat Khumaira mengejarnya sembari mendumel. Mereka bagai anak TK rebutan permen. Tetapi, lihat senyum di keduanya begitu manis.


Khumaira yang tidak hati-hati menginjak rok panjangnya. Dia oleng dan di pastikan jatuh. Matanya menutup rapat jika terhempas di lantai.


Aziz langsung menangkap Khumaira, tetapi kakinya terpeleset handuk. Sontak Aziz merengkuh Khumaira erat melindungi Istrinya agar tidak kenapa-napa.


...Bruk...


...Chup...


Aziz dan Khumaira jatuh di lantai dengan posisi mendebarkan. Aziz di bawah sembari memeluk kepala dan punggung, sementara Khumaira di atas seraya berpegangan pada lengan kekar Aziz.


Untuk pertama kali bibir mereka bersentuhan. Insiden jatuh membuat bibir itu bertemu tanpa sengaja. Ciuman pertama mereka setelah menikah dan ciuman pertama Aziz selama hidupnya.


Mata mereka membulat sempurna merasa bibir saling menyatu. Perlahan mata mereka saling mengunci dengan bibir menempel tanpa sengaja.


Zahira yang hendak memeriksa Aziz terdiam di pintu. Tanpa terasa air mata luruh deras melihat Aziz dan Khumaira saling tumpang tindih dengan bibir bersentuhan. Dadanya berdenyut nyeri di iringi hati lebur tanpa sisa. Tanpa babibu Zahira pergi sembari menangis dalam diam.