
Khumaira memeluk erat notebook milik Suaminya. Dia merasa sangat menyesal dan bersalah. Kini hanya penyesalan yang melingkupi diri ketika ingat Aziz sangat sabar menghadapi keegoisannya.
Dia meringkuk di ranjang kemudian teringat Ridwan sedang tidur. Buru-buru Khumaira bangkit untuk keluar dari ruang bawah tanah. Dia juga membawa notebook untuk menemani di kala rindu.
Sampai kamar Khumaira melihat Ridwan masih terlelap. Dia melihat ponsel dan benar saja Aziz menelepon banyak kali.
Dering ponsel kembali terdengar, apa yang harus Khumaira katakan? Dia tidak sanggup melihat Suaminya. Rasanya begitu sedih atas tindakannya.
Hingga pada akhirnya Khumaira mengangkat panggilan video dari Aziz. Dia menunduk tidak sanggup menatap Suaminya.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Dek."
"Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Mas."
"Dari mana saja? Mas pikir Adek marah makanya tidak menjawab panggilan, Mas. Sudah 3 hari kita tidak mengobral. Apa kabar, Dek? Ah, bagaimana dengan Putraku, apa dia baik-baik saja?"
"Mas terlalu berisik, aku sangat marah karena Mas baru memberi kabar. Alhamdulillah kami baik-baik saja. Mas sendiri bagaimana?"
"Maafkan Mas, Dek. Pekerjaan sangat rumit membuat Mas pusing. Alhamdulillah kurang baik karena sangat merindukan kalian."
Khumaira tetap menunduk tidak sanggup menatap Aziz. Cukup mendengar suaranya membuat dirinya semakin tersiksa dengan rasa sesak.
Di seberang sana Aziz murung pasalnya Khumaira tidak mau menatapnya. Dia memang salah karena baru menghubungi setelah 3 hari tidak ada kabar. Aziz harus bagaimana demi meminta maaf pada Khumaira?
"Dek, tatap Mas sekali saja. Apa Adek marah sama, Mas? Mas punya salah apa? Tolong jangan menunduk itu membuat Mas panik. Apa Dedek sakit membuat Adek sedih. Ya Allah, Mas akan usahakan lebih giat lagi bekerja agar pulang lebih awal. Tolong maafkan, Mas."
Khumaira akhirnya menatap Aziz dengan linangan air mata. Dadanya semakin sesak melihat Suaminya. Rasa sakit karena teringat kebenaran Aziz membuat Khumaira sedih.
"Mas, sudah ya aku harus masak. Besok lagi, Assalamu'alaikum."
Khumaira memutus sambungan telepon dengan cepat. Dia rengkuh tubuh mungil Ridwan seraya menangis memilukan. Sungguh rasanya begitu menyesakkan untuk menatap Aziz.
Ridwan bangun karena merasa pelukan erat dan air mata Khumaira. Mata besarnya mengerjap beberapa kali untuk melihat Ibunya.
"Umi, ada apa?" tanya Ridwan dengan aksen polos.
"Tidak apa-apa, Dedek. Maafkan Umi membangunkan, Dedek."
"Tidak apa, Umi. Sudah jangan menangis Dedek tidak suka."
"Baiklah sekarang Dedek mau makan apa?"
"Apa saja, asal Umi yang masak."
"Anak, Umi pintar sekali."
Di Hongkong, Aziz terlihat membisu dengan pandangan kosong. Rasanya sesak melihat air mata Khumaira. Tatapan Istrinya seperkian detik tadi begitu terluka. Sebenarnya Khumaira kenapa? Rasa panik melingkupi hati karena Istrinya begitu terpuruk. Sebelum menjawab salam Khumaira terlebih dahulu memutus sambungan. Jika begini Aziz ingin kembali ke Indonesia segera demi mengurangi rasa panik.
"Aku sangat khawatir, sebenarnya Adek kenapa?"
Aziz memilih mandi untuk menenangkan pikiran. Dia merasa kalut pasalnya Khumaira terlihat begitu terpuruk.
"Dek, sebenarnya ada apa? Apa Mas membuat kesalahan? Sesak sekali melihat Adek begitu. Maafkan, Mas."
Aziz memilih mengguyur tubuhnya menggunakan air dingin. Dia mendongak menatap atas membiarkan tetesan air sower mengguyur wajahnya. Ia angkat tangannya terdapat cincin pengikat antara mereka. Aziz berharap Khumaira baik-baik saja tanpa terluka begitu pun dengan Ridwan.
***
1 Minggu Kemudian!
Khumaira selama satu minggu terasa kosong. Dia sering melamun dan jarang makan. Pikirnya hanya tertuju pada Aziz. Bahkan niat awal ingin periksa ke Dokter ter urungkan karena rasa sedih.
"Mas Aziz, aku tidak menyangka kamu begitu tersiksa. Andai saja aku lebih peka dan mengerti pasti Mas tidak akan kesakitan. Ya Allah, betapa besar pengorbanan Suamiku. Aku sangat menyesal ya Allah. Izinkan hamba menemani Mas Aziz sampai maut memisahkan. Amin."
"Umi, gih makan dari kemarin Umi belum makan!" perintah Ridwan.
"Umi tidak lapar, Dedek. Sini Umi suapi, Dedek."
"Dedek mogok makan jika Umi tidak makan!"
"Kenapa berbicara begitu? Baiklah Umi akan makan."
Khumaira dan Ridwan berdoa sebelum makan. Dengan telaten Khumaira menyuapi Ridwan dan sesekali dia cubit pipi gembul Putranya.
Ridwan mengerucut lucu saat Khumaira tidak kunjung makan. Tangan kecilnya meminta sendok dan meminta Ibunya makan.
Khumaira akhirnya mau makan juga di suapi Ridwan. 3 sendok telah masuk dan kini perutnya terasa mual. Khumaira mengusap pipi Ridwan singkat dan memilih beranjak menuju wastafel. Dia memuntahkan isi perutnya. Rasanya sangat mengganggu sampai kepala terasa pusing.
Ridwan mengerjap menatap Khumaira. Si kecil turun dari kursi lalu memilih menepuk pinggul Ibunya. Dia tidak tahu apa yang terjadi dan beranggapan itu salahnya.
Khumaira mengusap mulutnya dengan serbet bersih. Setelah itu mengangkat Ridwan agar Putranya berhenti menangis. Khumaira ciumi wajah rupawan Ridwan untuk menenangkan sang Putra tersayang.
"Dek, jangan menangis Umi mohon."
"Baiklah, Umi akan periksa ke Dokter. Sekarang Adek habiskan makannya dulu."
"Enggeh, Umi."
Usai makan Khumaira memandikan si kecil. Dia tersenyum karena Ridwan begitu suka bermain air di temani bebek karet. Tangan mungil Khumaira terulur untuk mengusap pipi gembul Ridwan yang sangat manis.
"Ayo mentas dulu supaya cepat mengantar Umi ke Dokter."
Ridwan jadi ingat Khumaira sedang sakit alhasil si kecil menurut. Dia memilih diam ketika Ibunya melilit tubuh pakai gambar Seponbob.
Khumaira memberikan minyak telon pada tubuh mungil Ridwan. Lalu memberi bedak pada sang buah hati. Khumaira menyisir rambut lebat Ridwan dengan rapi.
Selagi menunggu Ridwan mengayunkan kaki kecilnya. Dia menatap Ibunya sedang asyik berbenah. Ia merenggut lucu saat Ibunya tidak kunjung selesai. Lama sekali sampai Ridwan ingin merengek manja pada Khumaira.
Khumaira memakai gamis lalu hijab segi empat. Dia juga memoles wajah dengan bedak tipis dan lipstik untuk menyamarkan pucat. Khumaira tersenyum lucu melihat Ridwan merengut lucu minta cubit.
Khumaira dan Ridwan pada akhirnya berangkat ke rumah sakit terdekat memakai Grab. Ibu dan anak terlihat begitu menikmati kebersamaan. Mereka sejatinya sangat rindu Aziz. Tetapi, sang kepala keluarga baru pulang 1 minggu lagi.
Sampai di rumah sakit, Khumaira mendaftar diri untuk melakukan pemeriksaan. Si kecil terus mengomel melihat antrean lumayan panjang.
"Umi mereka nakal ngga membiarkan Umi dulu."
"Jangan begitu, Dedek. Ingat orang sabar di sayang Allah."
"Hu'um, Dedek sabar kok Umi."
"Alhamdulillah."
Setelah menunggu cukup panjang Khumaira akhirnya dapat giliran. Dia membawa Ridwan masuk untuk mengecek kondisinya. Sejatinya dia sangat tahu penyebab sakit itu. Khumaira begitu yakin sedang mengandung. Tetapi, biarkan Dokter memberi tahu perihal kehamilannya.
"Wah selamat Nyonya, Anda akan menjadi seorang Ibu. Dari hasil pemeriksaan janin Anda berusia 6 minggu. Namun, tolong jaga kesehatan, pola makan dan jangan stres berlebih itu tidak baik. Apa Anda ingin melakukan USG untuk melihat perkembangan buah hati, Anda?"
"Allahu Akbar Walillaahil-Hamd, terima kasih ya Allah engkau karuniai hamba buah hati kembali. Insya Allah, hamba akan menjaganya dengan sepenuh hati. Mas Aziz, lihat Adek hamil, pasti Mas sangat bahagia. Adek tidak sabar menantikan buah hati kita lahir dan pastinya akan memperkukuh bahtera rumah tangga kita. Ya Allah, hamba sangat bahagia. Mas, cepat pulang Adek tidak sabar memberi tahu kehamilan, Adek dan merengkuh Mas sepenuh hati," bisik Khumaira seraya mengusap perutnya yang rata.
Khumaira menitikkan air mata haru pasalnya kebahagiaan akan melingkupi mereka. Dia begitu senang bisa mengandung benih cinta Suaminya. Khumaira terus mengucap syukur pada Allah atas karunia-Nya telah memberikan calon buah hati tersayang.
Ridwan kecil mengayunkan kaki karena tidak tahu apa yang terjadi. Dia memilih memandang Ibunya dengan penasaran. Sebenarnya Khumaira kenapa?
"Bibi Dokter, Umi sakit apa?" tanya Ridwan polos.
"Tidak sakit apa-apa, Dedek manis. Dedek kecil sebentar lagi memiliki Dedek bayi."
Ridwan mengerjap imut berusaha mencerna perkataan Dokter. Setelah makaud ia tersenyum seraya bertepuk tangan heboh. Dia sangat senang akan punya Dedek baru. Ridwan dengan semangat memeluk Khumaira lalu mencium pipi Ibunya.
"Umi, Dedek bakal jadi Kakak, yeee ... Umi, kapan Dedek punya Adik baru?"
"Tunggu beberapa bulan lagi ya, Dek."
Dokter wanita paruh baya begitu gemas pada Ridwan. Alhasil dia ciumi pipi gembul anak tampan itu. Ya Allah tampan sekali anak ini dan sangat lucu menggemaskan. Dia yakin Suami Ibu itu sangat tampan makanya anak ini begitu rupawan.
Ridwan tidak suka saat Bibi Dokter mencium dirinya. Dia tanpa sengaja melihat pipi gembulnya. Lihat ada bekas merah-merah membuatnya sebal. Ridwan tidak suka dapat tanpa merah dari Bibi Dokter.
"Bibi Dokter, jangan cium Dedek. Lihat pipi Dedek Ridwan ada bekas merah-merah."
Khumaira meminta maaf akan perkataan Ridwan. Wanita mungil tersenyum ketika Dokter tersenyum sembari berkata tidak apa-apa itu biasa. Dia izin pulang setelah mendapat resep Dokter. Ia gendong tubuh gempal anaknya menuju apotek untuk meminta obat. Khumaira tersenyum saja melihat Ridwan terus merengek menyalahkan Bibi tadi.
***
Aziz menghubungi Khumaira dengan penuh semangat. Entah kenapa hatinya begitu bahagia dan jantung berdegup menyenangkan. Sebenarnya ada apa?
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Mas," salam Khumaira.
"Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Dek. Bagaimana kabar, Adek? Sepertinya sangat bahagia ada apa, Hm?"
"Alhamdulillah baik. Aku sangat senang karena Mas sebentar lagi pulang. Walau satu minggu lagi pulangnya, menyebalkan."
"Alhamdulillah, lucu sekali Istriku ini. Besok Mas sudah di Yogyakarta, Dek. Nanti malam Mas dan lainya akan pulang. Karena berusaha cukup keras pekerjaan selesai 1 minggu lebih cepat. Adek harus jemput Mas di kantor. Mas sangat merindukan kalian. Doakan Mas, dan sekarang ini acara penutup. Mas tutup dulu dan ingat Mas akan pulang besok. Mas sangat menyayangi dan merindukan kalian, Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Dek Syafa."
Aziz tersenyum melihat Khumaira terbelalak tidak percaya mendengar perkataannya. Dia terkekeh geli melihat Istrinya begitu lucu saat ini. Jika dekat yakinlah Aziz akan meraup habis bibir tebal Khumaira.
"Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, hati-hati Mas. Doaku mengiringi langkah kaki, Mas. Kami juga sangat merindukan, Mas."
Telepon terputus dan kini Aziz melangkah menuju aula. Dia memberi sambutan singkat dan menutup dengan hasil memukau. Proyek berhasil terlaksana dengan keuntungan besar.
"Mas pulang, Dek. Aku sangat merindukan kalian. Mas sangat mencintai Adek karena Allah dan menyayangi Tole karena Allah. Aku pulang, Sayangku," batin Aziz.
Khumaira tersenyum haru akhirnya besok bertemu Aziz setelah 1 bulan berpisah. Dia mengusap perutnya yang rata dengan tangis haru.
"Mas Aziz, aku menunggumu. Aku sangat merindukan Mas, semoga Mas sehat selalu, Amin."