
...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....
...Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini....
.......**''**.......
...At Baghdad, Irak - 07.00 AM!...
Ridwan tengah asyik bermain bersama tujuh Adiknya sekaligus sepupu. Dia tersenyum sewaktu Adiknya Zaviyar minta pangku, kemudian membuat Emran merajuk. Saat ia mau meraih Adik tirinya hal mengejutkan terjadi sewaktu Adik kesayangannya menahan. Ridwan paham maka berusaha seramah dan seadil mungkin.
Melihat Emran sedih Mumtaaz maju untuk meraih Zaviyar. Dia tepuk bahu Adik bungsunya sembari tersenyum. Ia hendak menggendong si gembul malah mendapat penolakan. Mau tidak mau Mumtaaz meraih Emran biar tidak menangis akibat diabaikan.
Melihat Mumtaaz hendak menggendong Emran sontak Zaviyar beranjak lalu duduk di pangkuan Kakaknya. Dia ingin selalu bersama tiga Kakaknya sebelum datang peristiwa. Ia antah kenapa merasa tidak akan lama kebahagiaan ini. Zaviyar kecil hanya bisa bersikap egois agar tiga Kakaknya selalu ingat.
Faakhira yang paham maksud Zaviyar terkesan begitu posesif. Adiknya begitu pencemburu tidak bisa berbagi apa lagi menyerah. Maka dengan lembut ia duduk di antara tiga saudaranya. Faakhira juga mengusap pipi gembul Zaviyar lalu mencium kening.
Sedangkan Emran sudah siap menangis akibat ulah Zaviyar. Sebelum menangis ia sempat di dekap Kakak sulungnya (Zoya). Baru setelah itu ia menangis keras seraya menuding Ridwan dan Mumtaaz. Emran juga menuding sebal ke arah Zaviyar lalu terus mengadu atas kelakuan Adik sepupunya.
Sedangkan Zaviyar dengan cool tetap mendekap tiga tangan Kakaknya. Tanpa peduli Kakak sepupunya ia terus bersikap posesif. Tidak boleh ada yang boleh memiliki tiga Kakaknya. Zaviyar tidak mau berbagi apa lagi bersama sepupu.
Melihat itu Khumaira mendekati putranya yang nakal. Dia gendong anaknya lalu mencium pipi gembul anaknya masih betah menatap datar Emran. Ia juga mengulurkan tangan agar Emran tenang, tetapi bukan tenang tambah menangis ketika Zaviyar menggeplak bahu Emran. Khumaira tentu langsung membawa pergi Zaviyar agar tidak menjahili Emran.
Mahira hanya tersenyum sembari menenagkan Emran setelah kegiatan selesai. Sedangkan para lelaki sedang kumpul di teras belakang. Maka anak-anak hanya bermain seadanya dan lihat betapa posesif si bungsu. Mahira sadar kenapa Zaviyar posesif juga semata ingin selalu dicintai.
"Dedek tidak boleh nakal," ucap Khumaira.
"Dedek tidak nakal," sahut Zaviyar kalem.
"Tadi apa kalau tidak nakal?"
"Dedek tidak mau Kak Wan, Kak Taaz dan Kakak FaaFaa di ambil. Mereka miliki Zavi tidak boleh ada yang ambil."
"Namun, anak baik Umi tidak baik bersikap begitu. Ingat anak baik itu main bersama jangan nakal apa lagi sampai mukul.
"Hiks huhuhu huwaaa huhuhu huwaaa huhuhuhu."
"Subhanallah, anak Umi malah menangis. Cup cup cup anakku sayang jangan menangis. Iya Kak Wan, Kak Taaz dan Kakak FaaFaa milik Dedek. Sekarang diam jangan menangis wahai anakku sayang."
"Huwaaaa huhuhu huhuhu."
Khumaira meminta maaf pada mereka akibat Zaviyar histeris. Dia izin menenangkan anak bungsunya, tetapi si kecil juga minta tiga Kakaknya ikut. Mau tidak mau ia meminta ke tiga anaknya ikut ke dalam kamar supaya si kecil tenang. Setelah di rasa anak-anak mau ikut Khumaira izin pergi ke kamar.
Mahira menatap kepergian Khumaira bersama empat keponakannya. Dia juga melihat tatapan menyesal Adik ipar sekaligus anak tirinya. Ia paham maka dari itu tidak tersinggung pasalnya setelah kedatangan Adik ipar sekeluarga semua berubah.
Sedangkan keluarga besar Nenek hanya tersenyum maklum. Maklum anak kecil selalu begitu oleh sebab itu mereka memaklumi tingkah si kecil. Pada akhirnya mereka memutuskan berbincang-bincang sebelum membesuk Nenek.
Mendengar tangisan anak-anak sontak Aziz dan Azzam izin. Kedua pria shaleh ini bergegas ke ruang keluarga. Saat di depan pintu mereka melihat Khumaira serta empat anak manis ikut Umi. Lalu mereka menengok ke arah dalam melihat Emran menangis sedang di tenangkan oleh Mahira serta tiga Kakaknya.
"Dek, ada apa?" Tanya Aziz langsung meraih Zaviyar sewaktu anaknya meronta minta gendong.
"Tole jahil Mas, Dedek tidak mau Kak Ridwan, Kak Mumtaaz dan Nduk FaaFaa perhatian pada Tole Emran. Tole Emran, menangis akibat kejahilan Tole Zavi. Mas maafkan Tole nakal," tutur Khumaira.
"Subhanallah, anak Ayah pintar sekali. Siapa yang ajari bertingkah posesif begitu? Dasar anak tampan sudah jangan menangis ada Ayah. Sudah cup cup cup anak Ayah yang pintar. Lihat Kakak Wan, Kak Taaz dan Kakak FaaFaa sudah ikut. Sekarang tidak boleh menangis lalu minta maaf pada Mas Emran." Aziz terus berusaha menenagkan.
"Anak cerdas, sungguh posesif. Sesama anak-anak wajar jika bertengkar. Mau gendong, Pakde?" Azzam hendak menggendong, tetapi Zaviyar tolak dengan mendekap erat leher Aziz.
"Maafkan Tole, Mas. Mungkin saja Tole Zavi sedang mode manja jadi begitu menggemaskan. Tolong maafkan Tole."
"Tidak apa-apa, Le. Lagian kebersamaan kalian jadi terkikis karena beberapa hari ini sibuk sendiri. Habiskan waktu bersama biar Mas tenangkan Tole Emran."
"Mas, memang selalu mengerti. Terima kasih, Mas. Kami minta maaf tidak bisa ikut bersama kalian membesuk Nenek. Memang sudah saatnya kami habiskan waktu agar anak-anak tidak merasa tertekan."
"Itu baru benar, baiklah cepat sana masuk. Mas pergi dulu."
Azzam menepuk pundak Aziz, lalu mencium kepala Zaviyar. Dia juga mengusap kepala Ridwan Mumtaaz Faakhira. Baru setelah itu tersenyum tipis pada Khumaira sebelum berjalan masuk. Sontak ia mendekati anak Istri untuk menenangkan. Azzam harap semoga saja Allah senantiasa memberikan segala cinta.
Aziz tersenyum kemudian melangkah menuju pojok ruangan diikuti Istri dan anak-anaknya. Dia harap semoga saja jika keluarga bertemu Steven tidak terkejut. Kini tugasnya memberi kasih sayang lebih pada empat anaknya. Bayangkan saja Aziz agak jauh akibat sakitnya Nenek.
Sedangkan Khumaira menggandeng tangan Ridwan, sedangkan Ridwan menggandeng tangan Mumtaaz, sementara Mumtaaz mengandeng tangan kecil Faakhira. Mereka memutuskan ikut Ayah dan Dedek kecil masuk dalam kamar.
Sesampainya dalam kamar Zaviyar turun dari pangkuan Ayahnya. Baru setelah semua masuk si kecil berjalan menuju pintu untuk mengunci rapat. Dia batita cerdas jadi tidak heran si kecil begitu luar biasa. Wajar saja sedari awal di ajari banyak hal. Zaviyar yang sangat cerdas di usia batita begitu aktif serta sudah mengetahui hal-hal kecil.
Melihat Zaviyar bertingkah demikian tentu membuat semua gemas. Berkat si bungsu keluarga kecil Ayah Aziz kumpul bersama. Tentu ini hal membahagiakan secara sudah beberapa waktu kurang dekat.
Sedangkan Zaviyar langsung berlari menghampiri Ayah-Umi serta tiga Kakaknya. Tubuh gempal sewaktu berlari berhasil membuat siapa saja gemas. Sesampainya di depan keluarganya ia meminta mereka duduk di karpet. Zaviyar tentu duduk di tengah sedangkan keluarganya mengelilingi tubuhnya.
"Katakan pada Ayah kenapa Tole Zavi pintar? Tidak biasanya Tole menangis, rewel dan Kakak tidak boleh di pegang?"
"Hehehe," kekeh Zaviyar langsung bertepuk tangan heboh.
"Dedek Gembul kedua, jawab," pinta Mumtaaz mulai gemas pada tingkah Zaviyar.
"Kakak Mumi, jelek ha-ha-ha," tawa Zaviyar sembari menepuk paha Mumtaaz lumayan keras.
"Hah? Kakak jelek? Astaghfirullah, hanya orang kerdil buntalan nasi mengatakan Kakak jelek." Mumtaaz yang tidak terima dikatai jelek langsung menerjang Zaviyar.
"Ahahahaha ampun, Kak Mumi." Zaviyar kegelian akibat Mumtaaz menciumi wajah dan menggelitik perut.
"Ya, Kakak cilik jangan diteruskan. Lihat Dedek Zavi begitu!" Seru Ridwan.
"Bilang saja mau ikut ciumi si Gembul!" Ejek Mumtaaz.
"Nah itu tahu, kalau mau main ajak-ajak!" Seru Ridwan langsung ikut bergabung menjahili Zaviyar.
"FaaFaa tidak di ajak!" Sungut Faakhira seraya menghentakkan kaki.
"Kak FaaFaa, tolong Zavi!" Histeris Zaviyar karena kedua Kakak prianya.
"Tunggu aku ikut!" Pekik Faakhira langsung ikut serta.
"Ahahahaha hahahaha ha-ha-ha hahahaha!" Tawa mereka.
Melihat anak-anak bercanda gurau penuh tawa tentu saja membuat Khumaira dan Aziz tersenyum. Keduanya saling melempar senyum manis atas kebahagiaan anak-anak. Tidak lama mereka memutuskan untuk mendekat ke arah anak-anak.
Tentu kedatangan Ayah dan Umi sukses membuat empat anak rupawan tersenyum lebar. Keempatnya langsung menyambut hangat kedua orang tuanya. Oleh sebab itu Ridwan, Mumtaaz, Faakhira dan Zaviyar langsung menjahili kedua orang tuanya.
Tawa bahagia menggema di seluruh ruangan cukup besar. Lihat mereka tersenyum begitu lebar atas kebahagiaan. Aziz dan Khumaira pasrah sewaktu anak-anak menggelitik perut lalu mendusal manja. Sedangkan keempat anak rupawan asyik mencari kesenangan dengan cara menjahili Ayah dan Umi.
Setelah puas bermain Aziz merebahkan diri, lalu Khumaira ikut serta merebahkan diri dengan berbantal bahu sang Suami. Untuk Zaviyar tengkurap di atas tubuh Ayahnya. Lalau anak-anak ikut melakukan hal sama dengan berbantal perut Umi (Ridwan). Mumtaaz merebahkan diri dengan berbantal bahu Ridwan. Sedangkan Faakhira berada di tengah antara Ayah dan Umi.
"Ayah," panggil Ridwan sembari mengusap punggung tangan Mumtaaz.
"Iya, Nak. Ada apa?" Sahut Aziz sesekali menciumi puncak kepala Zaviyar.
"Antah ini feeling atau apa, Kakak ...." Ridwan enggan mengatakan kata-kata yang akan membuat mereka sedih.
"Katakan saja tidak perlu sungkan, Kak," tutur Aziz kemudian mengulurkan tangan untuk mengusap rambut Ridwan.
"Ayah-Umi, antah kenapa Kakak merasa jika kita akan tinggal di Irak cukup lama. Kakak merasa akan ada insiden besar merubah kehidupan kita. Kakak hanya punya feeling itu sewaktu beberapa waktu tepat di pesantren dan di sini Kakak shalat sepertiga malam. Kakak merasa jika kita akan tinggal di Irak cukup lama," cerita Ridwan.
"Itu tidak mungkin Nak. Jangan berpikir terlalu karena itu tidak baik. Lagian lima hari lagi kita akan pulang. Sebentar lagi Kakak ujian tengah semester jadi harus pulang. Abaikan perasaan buruk itu, Kak," tutur Aziz cukup shock dengan perkataan Ridwan seperti feeling-nya.
"Tapi, Ayah ... semua feeling Kakak gede selalu akurat. Bukan maksud apa-apa Kakak bicara begini. Takdir Allah itu begitu sulit di tebak bahkan manusia tidak akan bisa menebaknya. Jika Allah sudah menghendaki niscaya terjadi. Hal mustahil akan terjadi jika Allah menghendaki. Benar bukan, Ayah-Umi?" Tutur Mumtaaz ikut menimbrung.
"Benar, tetapi kita sebagai hamba tidak boleh pasrah. Ingat tetap selalu berikhtiar dalam segala hal apa lagi memohon kepada Allah itu penting. Anak-anak feeling itu cukup membuat Umi terkejut, tetapi kata-kata Kakak cilik benar. Doakan saja semoga insiden besar itu tidak terjadi. Jika benar Allah telah menghendaki kita harus sabar, ikhlas dan senantiasa berikhtiar serta bertawakal. Selagi bisa tingkatkan iman serta perdalam lagi pendekatan kepada Allah," tutur Khumaira seraya mengusap rambut anak-anaknya.
"Kata Umi kalian benar. Kata-kata Kakak cilik juga dan untuk Kakak besar itu bisa jadi terjadi antah kapan. Yang jelas sebagai hamba sudah semestinya mempersiapkan diri. Jika memang insiden itu terjadi maka kita harus sabar, ikhlas dan terus berikhtiar serta bertawakal kepada Allah agar cobaan segera berlalu. Jik Allah menguji seorang hamba maka percayalah Allah sedang menegur agar lebih meningkatkan iman. Jika Allah menegur lewat musibah itu tandanya Allah begitu mencintai hamba tersebut ....
... Contoh Nabi Ayyub As, di uji Allah SWT dengan didera musibah berupa penyakit begitu lama yaitu 18 tahun. Bahkan Nabi Ayyub As juga kehilangan segala kekayaan, anak-anak meninggal dunia dan semua orang menjauhinya. Namun, apa yang beliau lakukan tetap berikhtiar, bertawakal, sabar, ikhlas serta lapang dada. Jika nanti itu terjadi kepada kita maka contoh kesabaran Nabi Ayyub dan tentunya Baginda Rasulullah Saw ....
... Dalam surah Al-Baqarah ayat 286 dijelaskan.
"بسم الله الرحمن الرحي. لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَهَا ؕ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡهَا مَا اكۡتَسَبَتۡؕ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ اِنۡ نَّسِيۡنَاۤ اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَاۤ اِصۡرًا كَمَا حَمَلۡتَهٗ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا ۚرَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖ ۚ وَاعۡفُ عَنَّا وَاغۡفِرۡ لَنَا وَارۡحَمۡنَا ۚ اَنۡتَ مَوۡلٰٮنَا فَانۡصُرۡنَا عَلَى الۡقَوۡمِ الۡكٰفِرِيۡنَ."
'Bismillahirrahmanirrahim. Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus'ahaa, lahaa maa kasabat wa 'alaihaa maktasabat, rabbanaa laa tu`aakhidznaa in nasiinaa au akhtha`naa, rabbanaa wa laa tahmil 'alainaa israng kamaa hamaltahuu 'alalladziina ming qablinaa, rabbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bih, wa'fu 'annaa, waghfir lanaa, war-hamnaa, anta maulaanaa fanshurnaa 'alal-qaumil-kaafiriin.'
Artinya: "Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (QS. Al-Baqarah: 286) ....
... Dari ayat ini kita bisa pahami bahwa batas kemampuan setiap orang berbeda-beda dalam menghadapi ujian dari Allah. Misalnya ujiannya para Nabi dan Rasul pasti lebih berat dari kita manusia biasa. Ayat di atas juga menjadi pengingat bagi kita saat sedang terpuruk dan banyak beban hidup. Kita sebagai orang beriman harus senantiasa berserah diri kepada Allah di samping selalu berusaha sekuat kita. Kemudian, kita sebagai manusia yang diciptakan Allah sebagai tempatnya salah dan lupa juga harus selalu mohon ampun kepada-Nya, karena Allah Maha Pengampun dan Maha Pemberi Pertolongan ....
... Janji Allah atas ujian bagi manusia itu juga ditegaskan dalam ayat lainnya.
بسم الله الرحمن الرحيم. فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا (6).
Bismillahirrahmanirrahim. Fa inna ma'al-'usri yusrā (5) Inna ma'al-'usri yusrā (6).
Artinya : Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 5-6).
Maka dari itu, ujian demi ujian yang silih berganti harus selalu kita lalui dengan tetap melibatkan Allah."
"Allahu Akbar," takbir mereka mendengar Ayah menuturkan sebuah ujian sekaligus potongan ayat-ayat Al-Qur'an dari Syarah Al-Baqarah dan Al-Insyirah.
"Ayahku memang luar biasa," riang Faakhira begitu terharu.
"Masya Allah, Zavi terharu sekali," lirih Zaviyar.
"Mas Aziz memang luar biasa soal begini. Ya Allah terima kasih telah memberikan Suami terbaik. Engkau takdirkan hamba pada pria Shaleh. Hamba begitu mencintai Suami hamba karena Mu. Hamba begitu mencintai-Mu ya Allah. Terima kasih atas segala kuasa-Mu telah memberikan segala kebahagiaan," batin Khumaira.
"Ayah terbaik sampai hati kami sejuk. Kami tidak takut jika kelak Allah memang memberikan cobaan berat," seru Ridwan dan Mumtaaz.
"Alhamdulillah yaa Rabb, jika keluargaku sudah tenang." Aziz tersenyum lalu membiarkan tangan kanannya mengusap-usap satu persatu kepala keluarga kecilnya.
"Kami mencintai Ayah karena Allah," tutur Khumaira dan anak-anak.
"Ayah juga mencintai kalian karena Allah," sahut Aziz seraya tersenyum teduh.
Semua jadi duduk lalu Aziz dan Khumaira meminta anak-anak untuk mendekap. Akhirnya keluarga kecil ini berpelukan penuh sayang. Aziz menciumi pipi Istri serta anak-anaknya. Sedangkan Khumaira memberikan ciuman kening. Untuk empat anak tampan juga melakukan hal sama.
Semua saling memberi ciuman sayang di pipi. Mereka tersenyum lebar menandakan betapa terharu sekaligus bahagia. Jika resah maka Ayah akan selalu memberikan kata-kata penenang langsung mengambil ayat Al-Qur'an. Hidup mereka berlandas Al-Qur'an dan Hadits. Jadi tidak heran selalu harmonis penuh cinta.
Namun, apa kah kebahagiaan ini ada serta tawa cerah tanpa beban dan cahaya penuh suka cita hadir tatkala musibah benar-benar terjadi?
Apa bisa mereka berlandaskan Al-Qur'an dan Hadits seperti ucapan Aziz itu?
Akankah kebahagiaan itu muncul jika setelah beberapa hari nanti badai benar-benar datang?
Antahlah yang jelas aku akan berusaha tetap membuat mereka kukuh.
Kisah setelah kebahagiaan akan ada air mata serta kepedihan.
Maaf belum tak koreksi jadi kalau banyak kesalahan dalam penulisan harap maklum.
Salam cinta Rose.
23_11_20
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.