Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI 2 - Kebenaran Tentang Emran!



Siap tisu baca part ini!


Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!


***///\*


Seorang pria khas timur tengah berjalan santai. Sosok itu tidak lain adalah Emran yang ingin mengembalikan dompet. Dia datang di lokasi di mana Aziz berada tentunya sesuai alamat. Ia berdiri tepat di depan pria sang pemilik dompet yang sedang sok melihatnya. Apa pria ini mengenalnya? Kenapa Emran ingin sekali merengkuh Aziz? Sebenarnya kenapa dirinya seperti seseorang yang sangat rindu pada pria di depannya?


Aziz membulatkan mata tidak percaya menatap Emran. Dia membekap mulutnya karena terbuka lebar. Tubuhnya panas dingin merasakan sakit luar biasa. Seluruh udara terasa menyesakan untuk di hirup. Kenapa ada sosok yang sangat mirip dengan kakaknya? Pasti ini sebuah prank untuk Aziz yang tentunya sangat jahil.


Romli yang kenal almarhum Kakak sahabatnya sontak menegang melihat orang yang sangat mirip Azzam berdiri di depan Aziz. Dia langsung beranjak berusaha menggapai sahabatnya agar punya kekuatan untuk bertahan. Dengan rasa pilu ia berusaha mengintip diri agar tidak terjadi hal buruk. Romli menepuk bahu Aziz unuk menenangkan sahabatnya.


Mendapat tepukan Romli sontak Aziz melihat sahabatnya. Dia kembali melihat Emran dengan pandangan pedih. Tolong katakan ini sebuah ilusi gilanya yang bermimpi bertemu almarhum. Pedih itulah yang dirasakan oleh-nya. Namun, apa daya ini sangat nyata bagi Aziz yang merasa tepukan lagi dari Romli.


"Bwahaha ahahaha huhuhu ahahaha, hiks hiks hiks arghhh hahaha!"


Aziz tertawa keras sembari menangis memilukan. Dia pukuli dada kirinya yang sangat sesak. Tubuh kekarnya jatuh tertunduk di lantai dengan kondisi memprihatinkan. Aziz menangis seraya memukuli dadanya yang sangat nyeri.


Romli membereskan pecahan gelas dan meminta pelayan membereskan pecahan. Setelah bersih dia rengkuh Aziz guna memberikan dukungan. Sungguh hatinya sakit melihat sahabatnya begitu shock begini. Romli dekap Aziz guna memberikan kekuatan serta dukungan.


Para pengunjung menatap Aziz heran. Kenapa pria itu? Apa sedang kesurupan? Tadi bertingkah layaknya alien dan sekarang terlihat mengenaskan. Sebenarnya ada apa dengan Aziz? Tanya mereka seraya bertanya aneh dalam hati.


Emran terdiam melihat Aziz sangat aneh akan kedatangannya. Bisa di lihat betapa miris keadaan pria di depannya. Sebenarnya siapa pria ini? Kenapa jantung terasa tertikam belati tumpul melihat tangisan menyayat hati? Emran tidak tahu yang jelas Aziz begitu menyedihkan untuk di pandang mata


"Romli, pukul aku yang kuat agar aku tersadar dari mimpi!" tegas Aziz.


Romli menangkup pipi tirus Aziz dan menepuk cukup keras. Melihat temannya seperti ini ia merasa begitu terluka. Dia lebih suka sahabatnya gila seperti alien dari pada keadaannya begitu terpuruk begini. Romli harap Aziz bisa tahan akan semua keadaan pilu.


"Aziz, sadar ini nyata!"


Aziz menatap Romli terluka bahkan sekarang air matanya semakin deras. Dia mendongak menatap Emran panuh luka. Kenapa wajah pria itu mirip sekali Masnya? Dengan gemetar Aziz berdiri menghampiri Emran.


"Siapa namamu?" tanya Aziz setelah berhadapan dengan Emran.


"Emran Saeed Khan," sahut Emran.


Aziz menggeleng kuat mendengar suara familiar yang sangat dirindu. Dia jambak rambutnya kalut mengingat semuanya. 5 tahun yang lalu jenazah Masnya di kebumikan tepat di depannya. Bahkan segala bukti bahwa mayat itu adalah Azzam telah nyata.  Lalu kenapa ada orang begitu mirip dengan Masnya? Permainan apa ini ya Allah?


Rasa pilu membuat Aziz frustrasi. Bagaimana tidak frustrasi jika aroma tubuh serta suara dan segela tentang pria ini mirip sekali dengan Azzam? Tolong katakan Emran itu siapa? Kenapa tatapan teduh dan suara lembut serak basah itu mirip sekali Masnya?


Emran diam saja tidak tahu mau bicara apa. Mendengar suara Aziz bagai alunan memori yang hilang. Dia tidak tahu yang pasti ini terasa menyakitkan. Ia harus bagaimana menghadapi ini semua? Emran berharap semoga saja Aziz tidak kenapa-napa.


Mahira yang melihat interaksi Aziz dan Emran begitu takut. Entah kenapa ia merasa pria kebanggaan mereka ada hubungan dengan prianya. Entahlah yang pasti ada kemiripan di keduanya. Mata mereka sama-sama runcing tajam. Bedanya Aziz lebih tajam dan Azzam teduh. Mahira takut walau ini yang diinginkan oleh Emran bertemu pada masa lalunya.


"Kamu datang kemari mau mencari Laudya Cynthia Bella?" tanya Aziz seraya menyentuh bahu lebar Emran.


Terasa tersambar petir di siang bolong itulah yang di rasakan Aziz ketika menyentuh Emran. Buru-buru dia mundur dan tubuhnya nyaris tumbang jika tidak ada pria itu menahan lengannya. Merasakan sentuhan tangan dari pria ini jelas tersa ini sentuhan Masnya. Napas Aziz semakin memburu tanpa mampu bernapas teratur akibat Emran.


Emran tidak bisa menjawab pertanyaan Aziz. Pasalnya tidak tahu siapa Laudya Cynthia Bella? Ketika menyentuh pria ini rasanya ia merasa mengingat sebuah memori indah. Dia melihat sosok mirip dirinya tersenyum pada pria di depannya. Lalu sebuah tawa membuat Emran meringis ngilu ketika bayangan itu mirip Aziz.


"Kamu tidak apa-apa? Apa kita pernah bertemu? Katakan padaku siapa kamu?"


Pertanyaan Emran sukses membuat Aziz menatap Emran terluka. Dia langsung jatuh tertunduk sembari menangis tergugu. Kenapa aksen bicara Emran sangat mirip dengan kakaknya? Kenapa terasa nyata bahwa ini adalah Masnya yang telah tiada? Aziz frustasi mengingat segala hal buruk yang akan terjadi jika benar ini Masnya.


Hati Emran bagai teriris pisau tidak kasat mata melihat Aziz jatuh. Dia ingin mendekap tubuh pria dewasa yang malang. Kenapa terasa dekat sekali? Sejatinya siapa pria ini sehingga mampu memporak-porandakan hati? Emran merasa familiar akan Aziz jika bertingkah begini. Tolong siapa pun itu tolong dirinya.


"Aku sangat tertekan dan ini pertama kali kita bertemu. Aku Aziz yang sangat malang."


Emran duduk di depan Aziz lalu menyerahkan dompet. Dia menatap dalam netra pria ini dan kembali memori tentang kebersamaan mereka hinggap. Dia menjatuhkan dompet pria itu danberslih mencengkeram kepalanya. Kepalanya terasa menyakitkan mengingat semua memori tentang Aziz. Emran frustasi segala memori blur terus berputar kayaknya kaset rusak.


Aziz tertegun melihat dompetnya ada di tangan Emran. Dia membulatkan mata sempurna melihat pria di depannya mengerang kesakitan. Sontak ia mengambil dompet untuk di masukan di saku. Perasaannya campur aduk melihat Emran menggerang kesakitan begitu. Aziz mau sentuh, tetapi takut tidak kuat.


Emran yang tidak tahan jatuh tidak sadarkan diri. Pikirannya kalut sampai tidak kuat menahan memori menyakitkan. Sebenarnya siapa Aziz bagi dirinya di masa lalu? Semua buram tidak ada ujungnya membuat Emran begitu tersiksa akan keadaan.


Aziz langsung menopang tubuh Emran lalu menepuk pipi tirus pria ini hati-hati. Merasa gila dia langsung mengangkat tubuh pria mirip almarhum untuk di bawa ke rumah sakit. Hati rapuh Aziz yakin bahwa pria ini benar-benar Azzam. Namun, kenapa jenazah itu menjurus ke Azzam? Pikiran Aziz kalut kenapa bisa Emran begitu mirip almarhum?


Romli dan para pengunjung menatap Aziz dengan iba. Bahkan air mata ikut luruh menyaksikan betapa tersiksa perasaan Aziz. Jika di lihat mereka seperti saudara yang terpisah lama. Bahkan terlihat sekali betapa mirip serta banyak kesamaan mereka. Semoga kebahagiaan menyertai kebahagiaan Aziz dan Emran.


***///\*


Aziz meminta Romli untuk menjaga Emran selagi mengobrol bersama Mahira. Ia meminta Mahira ikut dengannya di taman rumah sakit. Di sinilah mereka sekarang. Taman belakang rumah sakit yang sangat rindang. Aziz diam memikirkan banyak hal tentang spekulasi buruk.


Mahira diam saja siap mendengarkan apa yang akan ditanyakan Aziz. Lagian sudah saatnya ia memberikan kebahagiaan untuk prianya. Sudah lama terpisah kini saatnya menyatukan hal yang berpisah lama. Mahira janji akan mengatakan semuanya pada Aziz jika bertanya banyak hal.


"5 tahun lalu aku kehilangan sosok Kakak yang sangat kusayangi. Namanya Muhammad Khusain Al-Azzam. Dia Kakaku yang sangat berarti untukku. Hatiku sangat hancur melihat Masku meninggal dunia secara tragis."


Aziz memulai pembicaraan dengan letupan isi hati. Dia ingin melihat reaksi Mahira perihal ceritanya. Benar saja wanita ini tampak tegang. Pasti ada sesuatu di balik ini semua. Perasaan Adik tidak bisa di bohongi. Pasti Emran adalah Azzam yang lama meninggal. Aziz yakin Mahira menyembunyikan sesuatu maka harus dikuak.


Mahira tegang lalu diam bisu mendengar awak cerita Aziz. Jadi ini benar adanya Emran kakak dari pria ini? Ya Allah kenapa bisa sampai seperti ini? Dia merasakan segala keharuan menyelimuti relung hati. Setidaknya sekarang Mahira lega akhirnya Emran bertemu kerabatnya.


"Saya tidak bisa mengatakan apa pun. Namun, saya akan menceritakan semunya. Mungkin dia adalah Kakakmu yang Anda kira meninggal."


Mahira bukan orang jahat yang egois menginginkan sesuatu. Dia akan mengembalikan apa yang seharusnya kembali. Jika benar Aziz saudara Emran maka akan senang hati melepas prianya. Mahira akan berusaha melupakan Emran karena tidak sepantasnya ingat itu.


Mata Aziz membulat sempurna mendengar jawaban Mahira. Apa ia salah dengar? Namun, kenapa terasa nyata sekali. Apa yang akan Aziz lakukan jika ini nyata?


"Maksudnya? Tolong jangan berbelit. Bahkan pakaian, arloji dan cincin di jenazah itu menunjuk ke Mas Azzam. Tolong ceritakan semuanya!"


"3 tahun lalu, Suamiku meninggal dunia dalam menjalankan tugas Negara. Suamiku meninggal di New York dan aku kesana untuk menjemputnya. Dalam keterpurukan aku di datangi Dokter yang merawatnya. Aku yang bingung ikut Dokter itu keruang Emran. Di sana aku melihat pria malang terbujur lemah dengan berbagai alat bantu kehidupan. Dokter itu bilang pria itu koma 2 tahun lamanya. Aku sok berat mendengar bahwa orang itu berusaha hidup walau lemah. Kata Dokter di hari ke 90 hari di rawat Emran sempat kehilangan nyawa. Namun, Allah mengembalikan nyawanya. Dokter kira aku Istrinya maka dari itu dia bercerita banyak ...,


... Dokter bilang orang yang membawanya ke rumah sakit Amerika Serikat adalah Rizal orang Indonesia. Aku yang pening memikirkan Suamiku telah tiada tambah pusing akan masalah Emran. Kata Dokter Rizal mengalami kecelakaan menyebabkan koma. Sebuah fakta mengejutkan terjadi ketika aku datang ke ruangan Rizal, pria itu lumpuh tidak bisa melihat. Dari sana aku cari tahu siapa Emran sesungguhnya. Rizal bilang namanya Azzam. Dia sangat membenci Emran karena merebut Khumaira dari hidupnya. Rizal benci lantaran Khumaira memilih Azzam ketimbang dirinya. Apa Anda kenal Khumiara dan Rizal?"


Mahira menjeda ceritanya sebentar untuk melihat respons Aziz. Benar saja Aziz begitu sok mendengar kebenaran ini. Sungguh ia hanya ingin jadi wanita baik-baik. Semoga saja Emran bahagia bersama keluarga aslinya. Mahira cinta, tetapi bukan wanita jahat yang serakah ingin egois memiliki. Semoga saja setelah ini kebahagiaan menyertai Emran.


Aziz membekap mulutnya erat berusaha menahan isakan. Jadi benar Emran adalah Azzam? Lalu siapa Rizal itu sebenarnya? Kenapa banyak sekali seseorang yang menyukai Khumaira? Kalau begini apa yang harus dia lakukan jika nanti kembali ke Indonesia? Ya Allah, izinkan Aziz bahagia barang sedetik saja.


"Aku tidak tahu Rizal, kalau Dek Syafa, ah maksud saya Mbak Khumiara adalah Istri dari Mas Azzam. Tolong katakan kenapa Rizal bisa membawa Masku?"


"Ya Tuhan, jadi Emran sudah menikah? Benarkah? Namun, kenapa Rizal sangat membenci Emran? Begini, dia (Rizal)  meninggal dunia setelah 1 bulan menceritakan semuanya. Rizal menemukan Azzam dalam keadaan mengenaskan di bibir sungai. Di saat itu ada jenazah yang tingginya sama dengan Azzam. Hal gila ia lakukan dengan menukar pakaian mereka. Lalu memasang cincin pernikahan di jari jenazah tidak di kenali itu. Lalu Rizal membuang ke sungai lagi agar polisi mengira itu, Emran ...,


.... Rizal membawa Azzam yang penuh luka ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Karena rumah sakit Indonesia membahayakan makanya Rizal nekat membawa Azzam ke luar Negeri. Pria itu begitu gila ingin melenyapkan Azzam. Namun, tidak jadi dan  memilih menyelamatkan Kakak, Anda. Hingga kecelakaan besar terjadi menyebabkan Rizal koma lama."


Aziz semakin shock mendengar fakta menyakitkan itu. Rizal itu siapa sebenarnya? Kenapa kejam sekali sampai setega itu? Ya Allah, apa yang harus Aziz lakukan? Bersyukur atau menolak kenyataan? Ia memilih bungkam perihal Rizal. Kini atensi Aziz ingin bertanya perihal Azzam.


Beda dengan Mahira sangat shock saat tahu Emran sudah menikah. Dia kita prianya masih lajang karena wajah itu begitu teduh tentu baby face. Kalau begini harapan sudah tidak ada. Lucu sekali saat ingat dirinya selalu tertolak pasti karena bayangan Khumaira. Ya Allah, nyaris ia jadi orang ketiga dan Mahira bersyukur belum terjadi hal tidak diinginkan.


"Lalu kapan Masku pulih? Apa yang terjadi pada Masku setelah sadar koma?"


"3 bulan setelah saya bertemu dengannya, Emran tidak bisa bicara dan menggerakkan tubuh selama setengah tahun. Setelah mampu berbicara dan menggerakan tangan, Emran berbicara bahwa tidak mengingat semuanya. Hal buruk terjadi saat Emran lumpuh. Namun, keajaiban terjadi Emran bisa berjalan lagi setelah sekian lama. Baru satu tahun ini Emran mampu berdiri menopang tubuhnya sendiri."


Aziz memejamkan mata rapat tidak sanggup membayangkan Azzam begitu. Hatinya terlampau pilu menerima ini semua. Ya Allah, begitu besar takdir ini sampai ia tidak sanggup bernapas dengan benar. Hati Aziz terasa memilukan mengingat kehidupan Azzam selama ini.


Mahira menunduk menyembunyikan wajah yang penuh air mata. Sangat sakit mengingat Emran dulu begitu tersiksa. Dengan penuh ketelatenan mereka merawat pria malang itu akhirnya membuahkan hasil. Segala harapan Mahira labuhkan untuk Emran agar bertemu keluarganya. Semoga saja setelah ini Emran bahagia bersama keluarganya, Aamiin ya Rabb.


****////\\****


Maaf ya, ini benar-benar luar perkiraan. Bab kali ini benar-benar memilukan untuk di baca.


Kira-kira Dek Syafa bagaimana perasaannya saat tahu Mas Azzam masih hidup?


Lalu bagaimana hubungan Mas Aziz dan Dek Syafa?


Akankah mereka ada yang mengalah?


Siapa yang akan dipilih Dek Syafa?


Mas Azzam atau Mas Aziz yang akan jadi takdir Dek Syafa?


Inilah kisah mereka penuh air mata yang siap menemani hari kalian.