Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI 2 - Relakan Kepergian Ayah!



Maaf ya Rose tidak balas komentar kalian satu persatu. Tapi, aku baca kok satu-satu.


Sekali lagi maafkan Rose menelantarkan kalian semua. Maaf juga story Ini benar-benar anti-mainstream.


Semoga kalian senang ya dan ngga bosan baca story Rose.


Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!


****////\\****


Khumaira masih menangis keras dalam dekapan Aziz. Dia ingin Aziz tetap tinggal menemaninya sepanjang waktu bersama anak-anak. Apakah Suaminya akan tetap pergi tanpa berjuang? Sungguh Khumaira sangat tersiksa akan sikap Aziz yang terlalu baik. Dia sangat ingin Suaminya egois untuk kebahagiaannya sendiri. Namun, apa daya Aziz bukan orang yang serakah dan tegaan. Sepanjang hari bersama membuat Khumaira begitu mengenal Suaminya dari dalam atau pun luar.


Aziz terdiam seribu bahasa dengan hati terasa teremas. Dia lepas pelukan mereka dan menangkup pipi Khumaira. Dengan sayang ia seka air mata Istrinya yang bercucuran bak anak sungai. Bisakah semua angan Aziz perjuangkan di kala hati seseorang sedang mengharap kebahagiaan?


"Dek, apa kita bisa menyakiti perasaan Mas Azzam? Mas ingin serakah memiliki Adek dan anak-anak tanpa ingat orang lain. Mas ingin berjuang keras mempertahankan hubungan kita. Mas tidak ingin pergi dari Adek mau pun anak-anak. Mas memang pengecut egois tidak mempedulikan kebahagiaan Adek. Maafkan Mas yang sangat pengecut ini!"


"Adek tidak akan sanggup menyakiti perasaan Mas Azzam yang sangat baik. Adek tidak tahu apa Mas mau berjuang demi kami? Mas memang pengecut egois tidak punya perasaan. Apa Mas akan mengalah demi kebaikan kami? Apa Mas nanti akan beranggapan bahwa kami akan bahagia di tinggal Mas? Tolong lakukan sesutau, Mas!"


Aziz meraih tangan mungil Khumaira untuk mengecup pergelangan tangan. Dia memikirkan semua itu agar semua baik-baik saja. Apa bisa mereka bahagia di atas penderitaan orang lain? Seulas senyum membuat Aziz ingin berjuang keras mempertahankan khumaira.


Khumaira menangkup pipi Aziz penuh sayang. Dia sangat canggung pada Azzam karena sudah menikah bersama Aziz. Apa lagi sudah lima tahun berlalu kini Suami yang diimpikan kembali. Maka kecanggungan sepi merebak sehingga dirinya begitu engan. Hawa teduh itu masih sama dan sangat di senangi. Namun, hati Khumaira terasa sesak karena kecanggungan itu. Apa bisa dia menyakiti perasaan Azzam dan memilih Aziz?


"Mas ingin bertanya : apa cinta Adek masih ada untuk Mas Azzam? Jikalau suruh memilih Mas Aziz atau Mas Azzam? Mana cinta Adek yang lebih dalam?"


Pertanyaan sensitif itu membuat Khumaira terdiam. Dia menatap Aziz lamat-lamat berusaha menenangkan pikirannya. Jika boleh jujur Khumaira tidak sanggup memilih di antara Azzam dan Aziz. Pasalnya dua pria itu sangat berharga untuk khumaira. Baik itu Aziz atau Azzam keduanya begitu khumaira cinta.


Aziz melepas pelukannya dan beralih beranjak untuk berdiri. Dia menatap langit kamar dengan pandangan kosong. Izinkan ia berjuang keras bersama Khumaira. Namun, hatinya tidak akan sanggup menyakiti perasaan Kakaknya. Apa Aziz sanggup bahagia di atas penderitaan Azzam?


"Cintaku untuk Mas Azzam masih sama tanpa tergores. Tidak mampu memilih karena itu sangat sulit. Sama besar tidak mampu menjabarkan itu semua!"


Aziz tahu ada kebohongan di Jawaban Khumaira yang terkesan menutupi. Dia memilih bungkam menerima itu semua. Telepon berdenting membuat ia langsung tersadar akan pikiran kalut. Itu panggilan dari rekan bisnis menanyakan banyak hal. Usai terputus dirinya menatap Istrinya. Tidak lama alis tebal Aziz menaut tatkala sebuah ketukan seraya memanggil namanya dan Khumaira terdengar.


Rizki (anak Nakhwan) memberi tahu pada Aziz dan Khumaira, bahwa Azzam jatuh pingsan. Dia langsung beranjak setelah memberi tahu perihal kondisi Pamannya. Tadi, Ayahnya meminta dia untuk memanggil Paman dan Bibinya agar lekas menemui Azzam. Jadi Rizki langsung menjalankan perintah.


Bagai tersambar petir di siang bolong itulah keadaan Aziz dan Khumaira. Bagaimana tidak Azzam jatuh pingsan. Kondisi mereka semakin kalut memikirkan Azzam. Mereka langsung keluar menuju kamar Azzam berada.


Kenapa seolah takdir benar-benar tidak memperbolehkan mereka bersatu? Baik Aziz atau pun Khumaira sangat tertekan menerima takdir menyakitkan ini. Mungkin ini benar akhir kisah mereka yang penuh makna. Cinta yang penuh perjuangan berakhir kepiluan mendalam.


Di depan sana Azzam terkulai lemah di tangani Najah. Hati Aziz semakin kalut memikirkan keinginannya. Padahal tadi dia berniat membatalkan kontrak kerja dan berjuang  bersama Khumaira. Namun, kini harapan itu punah melihat Kakaknya tidak berdaya.


Najah bilang keadaan Azzam naik turun akibat kecelakaan beberapa tahun silam. Apa lagi Azzam koma lama dan berjuang hidup di dalam dunia gelapnya. Wanita itu meminta agar menjaga emosi Kakaknya. Najah tahu ini sulit, tetapi benar adanya kondisi Masnya benar-benar tidak terkontrol.


Khumaira bergetar mendengar penjelasan Najah. Dia merasa bersalah tidak ada di kala Azzam membutuhkan. Tangan mungil itu terulur untuk mengusap pipi tirus Suami pertamanya. Air mata luruh deras berada di posisi menyakitkan ini. Khumaira tidak mungkin bersama Aziz atau ikut ke Singapura. Sementara di sini ada Azzam membutuhkan akan hadirnya.


Aziz merasa ini adalah takdir paling kejam di antara mereka. Dia tidak akan sanggup membebani pikiran Azzam. Jika ia nekat memperjuangkan khumaira mungkin Kakaknya akan kehilangan segalanya. Sebagai Adik biarkan Aziz mundur agar Azzam bisa di rawat khumaira. Semoga saja dengan kepergiannya ke Singapura Kakaknya bisa lebih baik. Harapan terbesar Aziz adalah Azzam sembuh dengan kebahagiaan bersama Khumaira. Biarkan dia mengalah untuk kesembuhan serta kebahagiaan Kakaknya.


****////\\****


Ini adalah hari paling menyakitkan saat jam menunjuk pukul 3 pagi. Dari semalam Aziz terjaga menemani anak-anak. Tangan kekarnya terulur untuk mengusap rambut Ridwan dan Mumtaaz. Dia enunduk dalam guna mengecup kening anak-anaknya. Ya Allah, ini hal paling menyakitkan bagi Aziz yaitu berpisah dengan anak-anaknya.


Bagaimana bisa Aziz pergi jika dua anaknya sangatlah berharga. Dia berusaha kuat mengikhlaskan Istrinya kembali pada pemilik asli. Hanya saja ia tidak akan pernah sanggup pisah dengan dua anaknya. Pedih perih nyeri itulah yang dirasakan Aziz ketika ingat beberapa jam lagi semua akan berakhir.


"Kakak Ridwan dan Dedek Mumtaaz yang kuat ya jangan nakal. Ayah akan selalu mendoakan kalian. Ayah sangat menyayangi kalian sepenuh hati. Biarkan rindu, beban hati dan rasa sayang membludak Ayah bawa."


Aziz menangis seraya menciumi tangan mungil Ridwan dan Mumtaaz. Dua Putranya benar-benar akan ia tinggalkan dalam kurun lama. Air mata berjatuhan tanpa mau berhenti ketika ia menatap Ridwan dan Mumtaaz. Ya Allah bisakah dirinya bersama anak-anak dan bahagia bersama? Aziz ingin membawa dua putranya demi mengurai luka. Terapi, dirinya tidak akan bisa karena Khumaira tidak akan bisa dipisahkan pada dua anaknya.


Khumaira masuk kamar untuk menemui anak-anak serta Aziz. Hatinya sakit melihat Suaminya menangis sembari mengusap pipi gembil Ridwan dan Mumtaaz. Kenapa bisa Suaminya memiliki hati begitu lapang? Apa sanggup Khumaira melihat prianya tersiksa begitu dalam? Jawabannya tidak Khumaira tidak sanggup Aziz terbelenggu kepedihan.


"Mas."


Aziz buru-buru menghapus air matanya lalu mendongak menatap Khumaira sembari tersenyum tipis. Dia tidak ingin Istrinya tertekan gara-gara kerapuhan yang di perlihatkan. Dengan cepat Aziz merengkuh Khumaira seberat mungkin.


Khumairah balas dekapan Aziz tidak kalah erat. Dia ciumi bahu Suaminya serta menghirup dalam aroma maskulin sang Suami. Aroma maskulin yang akan selalu ia ingat sampai kapanpun. Tubuh kekar nan hangat yang akan selalu dirindukan sepanjang malam. Khumaira akan berjuang kuat demi anak-anak serta tidak akan menyia-nyiakan apa yang Aziz lakukan.


"Maaf, maafkan Mas tidak mampu berjuang untuk mempertahankan rumah tangga kita. Maaf Dek karena Mas tidak akan sanggup melihat Mas Azzam sakit lebih parah. Dia membutuhkan Adek agar selalu ada dikala seperti tadi. Mas memang sangat membutuhkan Adek, tetapi Mas Azzam lebih butuh. Mas sangat berat melepas Adek untuk pergi jauh. Mas minta maaf menjadikan Adek mainan yang di permainkan kami. Maaf Mas mengoper Adek ke Mas Azzam padahal Mas masih bisa berjuang. Takdir begitu kejam sampai Mas ingin menyerah tanpa mau bangkit. Mas ingin berjuang keras mempertahankan Adek dan anak-anak sungguh. Mas ingin jadi pria serakah agar kebahagiaan selalu menyertai. Kenapa Allah mempermainkan takdir kita, Dek?"


Aziz menangis di setiap kata yang terlontar tanpa bisa tertutup. Dia ingin mengakhiri secara baik-baik tanpa ada paksaan. Hatinya terlampau sakit menerima takdir rumit yang Allah berikan. Jika saja Aziz tetap kukuh maka Azzam terancam kesehatannya sekaligus tersakiti. Biarkan dia yang tersakiti menerima ini semua asal jangan Kakaknya. Cukup biarkan Aziz tersakiti demi orang-orang yang berarti untuknya.


Khumaira menangis dalam diam mendengar setiap kata Aziz. Kenapa takdir mempermainkan hubungan mereka? Selagi diam ia mengusap punggung Suaminya agar tenang. Mungkin ini adalah akhir dari segalanya antara ia dan Suaminya. Kini Khumaira merasa bangga bisa dicintai Aziz sedalam ini. Dia sangat kagum akan sikap Suaminya sekaligus sedih. Kenapa prianya selalu mengalah dan berkorban?


"Ini akan menjadi akhir dari segalanya, Mas. Tidak apa Adek mengerti semuanya. Meminta atau pun keras kepala tidak akan membuat kita bahagia. Mas jangan lupa makan, istirahat yang cukup serta jangan lupa shalat. Jika ada waktu tolong telepon agar anak-anak tidak terlalu merindukan, Mas. Kita akan berjalan di jalan yang sesungguhnya. Takdir kita memang kejam mungkin saja ini ujian yang sebenarnya. Mas sudah berjuang keras untuk kita mungkin saatnya istirahat. Bukanya Mas akan ke bandara jam 7 pagi? Setelah masa iddah Adek selesai Insya Allah Adek akan mengirim surat perpisahan kita. Berbahagialah Mas!"


Khumaira mengatakan dengan tenang seolah menunjukkan kekuatannya. Namun, air mata terus berlinang deras bak anak sungai. Perpisahan secara baik-baik untuk kebaikan bersama. Biarkan ini menjadi akhir perjalanan cinta Khumaira bersama Aziz. Dia sangat tahu Suaminya tidak akan sanggup mengatakan perpisahan dengan kata talak. Biarkan Khumaira yang mengirim surat perpisahan mereka.


Aziz ambruk di lantai dengan tangis memilukan mendengar kata terakhir Khumaira. Dia tidak peduli akan kondisinya yang menyedihkan Dimata sang Istri. Rasanya dadanya di remas kuat oleh tangan tidak kasap mata mendengar perkataan Istrinya. Hingga sebuah pelukan erat Aziz dapat dari Syafa nya yang rapuh.


Cukup lama mereka berpelukan dengan derai air mata. Aziz melepas pelukan lalu mengusap pipi gembul Khumaira penuh sayang. Dia tangkup pipi Istrinya dan mendaratkan kecupan di kening. Sementara Khumaira memejamkan mata menikmati ciuman Aziz. Walau air mata terus mengucur deras bak anak sungai.


Aziz dan Khumaira saling mendekap seolah tidak mu berpisah. Mereka larut akan duka bahkan keduanya sampai menangis bersama. Air mata terus berlinang tanpa henti mengiringi perpisahan. Keduanya tidak akan pernah melupakan bahkan akan selalu menyimpan cinta dalam lubuk hati yang paling dalam. Baik Aziz atau Khumaira yakin suatu hari nanti akan ada pelangi mewarnai gelapnya duka.


"Jika memang kita berjodoh maka Allah akan mempersatukan kita kembali. Jika memang kita di takdirkan bersama Insya Allah apa pun jalannya pasti kita akan bersatu kembali. Mas sangat mencintai Adek karena Allah dan akan selalu mencintai Adek sampai akhir hayat, Mas. Sekarang kita akan melangkah di jalan yang berbeda. Terima kasih sudah menemani Mas dalam suka maupun duka selama ini. Mas akan pergi bersama kenangan indah yang kita lalui dalam suka maupun duka. Mas akan membawa cinta penuh kasih sayang dalam setiap langkah. Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Tolong jaga anak-anak sampaikan Ayah akan selalu mendoakan mereka menjadi anak sholeh nan sukses. Sampaikan Ayah sangat menyayangi dan mencintai Kakak Ridwan dan Dedek Mumtaaz sepenuh hati."


Aziz tersenyum melihat Khumaira menunduk dalam. Dia angkat dagu Istrinya untuk melihat wajah sang Istri. Semua telah hancur yang tersisa hanya air mata dan duka. Perlahan tangan kekarnya mengusap pipi gembul Istrinya lalu memberikan ciuman terakhir di bibir. Dengan ini Aziz akan pergi ke Singapura kurun waktu lama dan akan menyimpan nama Syafa nya dalam hati.


Untuk yang terakhir kali sebuah pelukan di iringi ciuman menutup segalanya. Baik Khumaira atau Aziz sama-sama tersakiti dalam takdir yang begitu kejam. Khumaira memberi ciuman di seluruh permukaan wajah Aziz. Untuk Aziz memberikan kenyamanan dengan dekapan hangat di sertai ciuman sayang.


Aziz dan Khumaira berusaha tegar dalam setiap langkah. Kini sudah saatnya berpisah maka dari itu keduanya memutuskan merebahkan diri di ranjang. Keduanya mendekap tubuh Ridwan dan Mumtaaz. Mereka tidak akan bisa melakukan ini karena empat jam dari sekarang semua telah berakhir. Selagi ada waktu Aziz dan Khumaira tetap terjaga dalam kepiluan mendalam. Berusaha tegar dalam setiap langkah bahkan mata mereka selau menatap membingkai kenangan paling dalam.


****////\\****


Tepat di pagi hari yang di selimut embun keluarga Hasyim berkumpul. Mereka begitu pedih akan membiarkan salah satu keluarga kesayangan pisah jauh. Sungguh mereka tidak bisa memilih menahan Aziz untuk tetap tinggal. Jika tetap memaksa konsekuensi kesehatan Azzam akan memburuk berakhir fatal. Namun, jika membiyarkan Aziz pergi HTI sang pria penuh kelapangan dada akan hancur.


Aziz sudah memesan Grab untuk mengantarnya ke Bandar Udara Internasional Juanda.  Usai sarapan dia siap-siap berangkat ke Bandara. Dia melangkah berat meninggalkan Khumaira dan anak-anak serta keluarganya. Tubuhnya terasa lemah saat sampai di ruang tamu. Aziz berasa mau berhenti melangkah hanya saja itu mustahil terjadi.


Ridwan dan Mumtaaz bingung kenapa Ayahnya membawa koper besar? Apa Ayahnya akan bekerja lagi? Kenapa pergi lagi padahal mereka masih sangat rindu pada Aziz? Ridwan dan Mumtaaz memegang tangan kekar Ayahnya seolah tidak mau kehilangan.


Melihat anak-anak mencekal Aziz sontak Khumaira berpaling. Dia tidak sanggup melihat adegan memilukan yang akan terjadi. Ia tidak akan sanggup mengatakan pada anak-anak bahwa Ayah akan pergi jauh. Pedih rasanya jika tahu sebentar lagi Suaminya akan jauh di sana. Khumaira akan menunggu kedatangan Aziz walau penantian itu pasti akan sangat lama.


"Ayah, mau ke luar Negeri lagi untuk bekerja? Jangan pergi Ayah kami ingin main bersama, Ayah," ujar Ridwan dan Mumtaaz.


"Maafkan Ayah."


Aziz berlutut menyamakan tinggi badan ke dua anak-anaknya. Dia rengkuh tubuh mungil kedua anaknya. Dengan usaha keras ia tidak akan menangis untuk kesekian kalinya. Tubuhnya sungguh lelah memikirkan ini semua sehingga memilih mendekap kedua anaknya. Tanpa suara Aziz memciumi pipi gembul Ridwan dan Mumtaaz seolah mencari kekuatan.


Ridwan dan Mumtaaz merasa Ayahnya akan pergi sangat lama. Mereka menangis histeris tatkala melihat Aziz menangis. Si kecil paham akan keadaan Ayahnya yang berniat pamitan. Air mata luruh deras membanjiri pipi Ridwan dan Mumtaaz. Kedua anak tampan merengkuh erat Aziz seraya memohon jangan pergi.


"Ayah jangan pergi."


"Ayah akan kembali secepatnya jangan takut. Selagi Ayah pergi anak-anak tidak boleh nakal.  Saat waktunya mengaji kalian harus mengaji. Jika waktunya bermain puaskan bermain. Jangan rewel dan merepotkan, Umi. Anak-anak tidak boleh menangis serta cengeng dalam hal apa pun.  Ingat kalian harus kuat dan menuruti perkataan Umi dan Abi. Dedek Mumtaaz, mulai sekarang panggil Paman itu (menunjuk Azzam)  dengan panggilan Abi. Dedek harus memanggil Paman ganteng itu dengan panggilan Abi, Ok. Nah, anak-anakku sayang maafkan Ayah tetap harus pergi. Tetapi, Ayah janji akan pulang secepatnya jangan takut."


"Janji ya Ayah kami tunggu jangan lama-lama kami rindu. Ayah cepat pulang kita main bersama, ya. Kami tunggu Ayah pulang," tutur Ridwan dan Mumtaaz tampak polos.


"Insya Allah, Ayah akan segera pulang lalu kita main bersama," sahut Aziz berusaha kuat.


Ridwan dan Mumtaaz mengaguk menyetujui perkataan Aziz. Mereka mencium pipi tirus Ayahnya lalu berseru : Cepat pulang, Ayah! Keduanya beranggapan Aziz hanya pergi seperti biasanya. Bagaimana perasaan mereka jika tahu Ayahnya sangat lama kembalinya? Akankah Ridwan dan Mumtaaz tahan menahan rindu pada Ayah idola mereka?


Khumaira berpaling muka tidak sanggup menatap perpisahan Aziz bersama anak-anak. Dia berusaha kuat namun apa daya air mata luruh deras. Dalam hati terus berharap semoga Suaminya sehat selalu dan mendapat segala kebahagiaan. Khumaira berharap di Singapura sana Aziz hidup nyaman walau sangat berat.


Usai mendekap dua anaknya Aziz beralih merengkuh Umminya meminta dukungan. Dia kecup punggung tangan Safira serat akan duka. Dirinya berusaha tersenyum ketika Umminya mengusap wajah lalu memberikan ciuman di pipi dan kening. Matanya terasa panas mendengar nasihat Safira begitu bijak. Kini Aziz beralih merengkuh Abahnya begitu lama. Lagi-lagi Abahnya memberikan masukan penuh makna supaya ia tegar.


Semua saudara dan saudarinya Aziz rengkuh penuh kehangatan. Dia juga merengkuh keponakan satu persatu. Saat berhadapan dengan Khumaira rasanya ia tidak mampu bertahan. Air mata yang dia tahan luruh deras tanpa mau berhenti. Dengan cepat Aziz rengkuh Khumaira untuk terakhir kalinya. Mereka masih sah jadi mampu berbuat apa pun. Jadi izinkan dirinya mendekap Istrinya walau itu di depan Azzam.


Khumaira membalas pelukan Aziz tidak kalah erat. Dia menangis tersedu dalam dekapan hangat Suaminya. Bisakah ia merasaka pelukan ini untuk selamanya? Namun, dia tidak akan mendapat pelukan ini karena sebentar lagi berakhir. Dengan sisia Ketabahan hati Khumaira berbisik agar Aziz sehat selalu dan mendapat kebahagiaan. Dalam hati dirinya ingin mengatakan banyak kata, tetapi hanya kata itu yang mampu keluar.


Aziz menepuk puncak kepala Khumaira seraya tersenyum manis. Dia tersenyum tulus ketika Istrinya mengecup punggung tangannya. Dengan sayang ia menyetujui pesan Istrinya karena ini pesan paling bermakna. Kini giliran Azzam yang dia rengkuh. Dengan tubuh bergetar menahan kesakitan Aziz rengkuh Kakaknya seberat mungkin.


Azzam merengkuh Aziz erat sembari mengatakan maaf telah menyakiti dan berterima kasih atas semuanya. Dia tidak akan sanggup terus melihat Aziz tersiksa. Namun, ini pilihan Adiknya untuk pergi. Semoga Aziz bahagia di jalan yang ditempuh. Doa baik akan Azzam labuhkan agar Adiknya bahagia dan sukses selalu.


Saat berhadapan dengan dua Putranya Aziz benar-benar kehilangan segala kebahagiaan. Dia rengkuh erat tubuh mungil Ridwan dan Mumtaaz sembari menciumi pelipis dua malaikatnya. Dia berbisik agar kedua Putranya menjadi anak yang berbakti serta berbudi luhur. Aziz merasa pilu jikalau ingat Ridwan dan Mumtaaz tidak akan direngkuh selama lima tahun terakhir.


Dengan mengucap Bismillah semua akan di mulai. Aziz menghembus napas berat melihat keluarganya. Sekarang dia akan hidup sendiri di Singapura tanpa keluarga dan cinta. Inilah akhir dari cintanya bersama Syafa-nya. Maka Aziz putuskan memulai awal baru dengan lembaran baru.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," salam Aziz kemudian berlalu.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh," sahut mereka.


Ridwan dan Mumtaaz menangis memanggil Aziz agar kembali. Namun, Ayah mereka telah pergi di bawa mobil taxi. Tangis pilu mengiringi kepergian Ayahnya. Mereka sadar Aziz akan pergi sangat lama dan entah kapan kembali. Ridwan dan Mumtaaz meraung-raung minta Aziz kembali, tetapi mereka hanya bisa mendekap tanpa mau memberikan kata-kata penenang.


Khumaira dan Azzam mendekap erat dua anaknya. Mereka merengkuh erat Ridwan dan Mumtaaz seolah berusaha menenagkan. Keduanya berusaha kuat walau dada mereka terasa sesak. Nyeri itulah yang dirasakan keduanya. Khumaira dan Azzam berharap anak-anak mampu bertahan tanpa Aziz. Wajar begini kedua anak ini begitu mencintai Ayah yang siap berkorban demi kebahagiaan.


Hasyim dan sekeluarga menatap Khumaira Azzam dan anak-anak begitu sendu. Air mata tidak mampu mereka tahan melihat cucu mereka sangat terpukul. Kenapa takdir begitu menyayat hati bagi mereka? Hasyim dan Safira sangatlah pedih kehilangan satu putra terbaik. Lagi-lagi anaknya yang penuh warna itu harus berkorban lagi dan lagi. Semua pedih melihat itu semua sehingga menciptakan kepiluan menyayat hati.


Dalam taxi Aziz menutup wajahnya yang penuh air mata. Jelas terdengar ketika anak-anak meraung-raung histeris memintanya kembali. Demi Allah rasanya tidak kuat ingin berlari seraya mengatakan tidak akan pergi. Dia tidak sanggup sampai tubuhnya terguncang hebat. Aziz merasa pedih ingat Ridwan dan Mumtaaz menangis keras tanpa mau berhenti. Kini harapan semoga saja dirinya mau bertahan lima tahun di negeri orang.


*****/////\\***


**Maaf hari ini banjir air mata!


Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan. Asli nyesek makanya langsung update tanpa koreksi.


Demi Allah, aku tersayat pilu akan chapter ini. Apa lagi saat Dedek Mumtaaz dan Kakak Ridwan meraung-raung histeris.


Pilu banget sumpah, so sad.


Semoga kalian tidak nangis kayak Rose.


Salam hangat dari.


Rose_Crystal_030199**