Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
Awal Hubungan Baru!



Tepat jam setengah lima, Aziz terbangun dengan keadaan bugar. Dia menunduk untuk melihat Khumaira tidur memunggunginya. Di rengkuh erat Khumaira dari belakang sembari menciumi punggung polos Istrinya.


"Engh," lenguh Khumaira. Perlahan mata indah itu terbuka dan melihat tubuh polosnya di rengkuh erat.


"Selamat pagi, Dek Syafa," bisik Aziz sembari mengecup pipi Khumaira.


Khumaira tersadar dan berbalik menghadap Aziz. Tangan lentik Khumaira terulur untuk mengusap rambut Suaminya. Dia tersenyum tipis lalu merapat mencari kehangatan.


"Pagi, Mas Aziz."


"Ayo mandi junub, tubuh Mas lengket semua."


"Enggeh, Mas. Gendong ya," lirih Khumaira.


"Baik, Dek tahu tidak?"


"Apa, Mas?"


Khumaira mendongak dan Aziz langsung mengecup bibir bengkaknya. Mata besar membulat sempurna mendapat ciuman Aziz.


Aziz terkekeh melihat Khumaira terbelalak begitu. Dia ingin menggoda iman pagi-pagi yang cerah.


"Dek, tahu tidak masa subur pria?"


Khumaira mendongak kembali menatap Aziz penuh arti. Dia menggeleng sebagai respons.


"Jam 4-7 pagi. Adek masih masa subur bukan? Ayo kita lakukan satu kali lagi untuk membuat Dedek baru."


Aziz tersenyum tipis ketika Khumaira *** kulit punggungnya. Dia mengusap punggung polos Istrinya sesekali dia kecup puncak kepala Khumaira.


Khumaira mendesis ketika Aziz mengecup lehernya. Dia tambah mengeratkan pelukan agar suara itu tertahan.


"Ayo kita lakukan satu kali tetapi mandi wajib dulu. Usai itu kita Shalat subuh ya, Mas."


"Enggeh, Dek."


Aziz mengambil celana training, lalu membungkus tubuh mungil Khumaira menggunakan selimut. Perlahan tubuh Istrinya terangkat di dalam gendongannya.


Khumaira mengalungkan tangan di bahu lebar Aziz. Rambut panjang tergerai terbawa angin yang nakal menyebabkan berkibar.


"Dek," panggil Aziz.


"Dalem, Mas."


Khumaira mengeratkan selimut untuk menutupi tubuh moleknya. Ia tersipu malu ketika Aziz perlahan memegang selimut.


Aziz mengukung tubuh Khumaira di kedua lengan kekarnya. Tangan besar terulur untuk mengusap pipi Istrinya.


"Adek, sangat manis."


Khumaira memejamkan mata menikmati sentuhan lembut Aziz. Dia mendongak ketika Suaminya mengusap lehernya.


"Mas, ugh."


"Mandi dulu Dek baru itu."


Khumaira mencubit perut berotot Aziz dan memilih menghindar ketika Suaminya nakal. Dia tersentak saat Aziz menarik tangannya lembut alhasil dirinya tertarik dan berakhir di dekapan hangat Suaminya.


Aziz memutar alat untuk menghidupkan sower. Air langsung membasahi tubuh mereka, tetapi sebelum itu niat mandi besar.


***


Khumaira masak sembari bersenandung kecil. Nanti setelah Aziz jumatan mereka akan ke Pagerharjo menjemput Ridwan. Mungkin menginap sehari dulu di sana untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.


Aziz menatap Khumaira mendamba ketika sedang aktif masak. Rambut panjang Khumaira terikat asal menyebabkan tanda di tengkuk terlihat jelas.


"Dek, apa sudah selesai? Aku sangat lapar."


"Tunggu sebentar, Mas."


Khumaira tersenyum saat sayur oseng kangkung telah masak. Dia juga menggoreng ikan mas dan menambah sambal tomat lalu menghidangkan di depan Aziz.


"Sudah, ayo makan Mas."


Aziz melihat Khumaira hanya membawa satu piring. Senyum manis terukir ketika maksud tujuan Istrinya.


"Mas cuci tangan dulu."


"Umz."


Aziz dan Khumaira makan saling menyuapi. Kini hubungan baru dengan awal yang sangat manis.


Khumaira mengusap bibir Aziz yang terkena noda makanan. Senyum terukir ketika Suaminya mengecup tangannya.


Cukup sederhana namun mendebarkan ketika Aziz memiringkan kepala untuk mengecup rahang Khumaira.


Khumaira tersipu malu menerima ciuman di rahang. Dia menunduk dalam menyembunyikan rona wajahnya. Hingga tangan Suaminya terulur untuk mengusap bibirnya.


"Mas, sudah kan? Aku cuci piring dulu."


"Tidak, perlu biar Mas."


"Itu tugas Istri, Mas."


"Baiklah."


Cukup mereka menghabiskan waktu bersama seraya menonton TV sembari berpelukan. Khumaira menyandarkan kepala di bahu lebar Aziz, sementara Aziz bersandar di sofa seraya merengkuh Khumaira.


Aziz mengemil keripik singkong dengan mata fokus ke siaran TV soal bisnis. Dia lupa Khumaira sedang kesal pasalnya di acuhkan.


Khumaira menatap berita bisnis dengan kesal. Pasalnya dia tidak maksud apa pun tentang bisnis. Dan lihat Aziz asyik non ton sembari mengemil camilan ringan.


"Mas."


"Hn."


"Apa berita itu sangat penting?"


"Hn."


Khumaira merengut sebal lalu dengan nekat mengambil remot dan mematikan TV. Dia langsung menyembunyikan remot di belakang tubuhnya.


Aziz langsung menatap Khumaira dengan tatapan protes. Itu berita sangat penting dari pada sinetron.


"Apa sangat penting sampai mengabaikan aku?"


Aziz terkekeh mendengar rajukan Istrinya. Dia dengan gemas menggigit pelan pipi tembam Khumaira.


Khumaira mengusap pipinya bekas gigitan Aziz. Dia merengut sebal di abaikan Suaminya. Apa bagusnya siaran itu sehingga mengabaikan keberadaannya?


"Adek sangat penting ... tapi, maaf Dek berita itu sangat penting untuk pemasaran."


"Ya sudah tonton sepuas, Mas. Aku mau istirahat saja."


"Hai, ah ya sudah istirahat yang nyenyak, Dek."


Aziz kembali menghidupkan TV dan kembali fokus ke layar. Sebenarnya dia paham dan lihat saja Khumaira akan mengomel panjang kali lebar.


Khumaira mendelik tidak percaya akan tingkah Aziz. Dasar tidak peka, rasanya Khumaira ingin mencincang pria tampan yang sialnya Suaminya.


Saat Khumaira hendak beranjak Aziz langsung menarik Istrinya. Dan kini Khumaira terlentang di sofa dengan napas memburu. Aziz tersenyum melihat Khumaira merajuk lucu karenanya.


"Mas, lepas."


"Adek lucu sekali. Mas minta maaf, bagiku hanya Adek yang sangat penting. Jangan cemberut lihat bibir Adek kayak bibir bebek."


Khumaira yang awalnya senang langsung menggeplak tangan besar Aziz. Enak saja mengatai bibirnya kayak bebek.


Aziz menepuk bibir Khumaira dan menyentil kening sang Istri. Lucu sekali melihat Khumaira merajuk manja. Terasa mengemaskan ingin di cubit.


"Hahaha, baiklah Adek imut kayak bebek kalau begitu. Sudah ih, jadinya tambah jelek."


"Mas Aziz ....!"


Pekik Khumaira langsung memukuli lengan kekar Aziz alhasil dia terkurung di pelukan Suaminya. Dia meronta namun tidak membuahkan hasil dan kini dia memilih menatap tajam.


"Adek itu bebeknya, Mas. Imut sampai ingin di kandang in. Sudah jangan merajuk nanti tambah jelek."


Aziz memang dasarnya suka bercanda dengan mulut tajam tidak peduli konsekuensi. Dia malah tertawa saat Khumaira menggigit bahunya gemas.


"Aku bukan bebek, Mas. Lepas ih Mas kayak monyet. Sudah jelek sok tampan."


"Hah? Hai aku ini sangat tampan dan tentunya berkarisma memikat. Memang ada monyet setampan, Aziz? Ayolah Dek ambil kaca dan lihatlah betapa menyedihkan wajahmu sekarang!"


"Dasar narsis. Mas jelek jangan sok ganteng dan berhenti mengatai Adek jelek!"


Khumaira menggigit lengan Aziz dan mendekatkan wajah. Dia langsung menggigit telinga Aziz hingga memerah.


"Auch, hai ini penyiksaan orang tampan. Semua wanita mengakui Mas ganteng karena itu nyata bukan sok tampan.”


"Apanya yang tampan? Wajah kayak monyet di banggakan. Gih mengaca di kandang monyet dan ikutlah bersama rekanmu."


"Hai, ya Allah hamba yang tampan ini sungguh di hina. Apa ada monyet setampan saya ya Allah? Ya Allah ampuni Istriku yang menghina Suami tam umhh ...."


Ucapan Aziz terpotong karena Khumaira menyumpal roti. Biar diam tidak mengomel aneh. Kenapa bisa Suaminya itu begitu narsis, percaya diri berlebih, suka asal bicara dan sarkasme. Aish Khumaira seperti berhadapan dengan anak paud.


Aziz memakan sedikit roti manis itu dan menyuapkan ke Khumaira. Lalu mengecup pipi tembam sang Istri. Senyum manis terukir indah tatkala Khumaira mau mengunyah roti.


"Aku tidak suka manis, mubazir jika rotinya terbuang. Makan gih dan habiskan."


Khumaira bersemu mendapat ciuman Aziz. Dia memakan roti dengan pelan seraya menunduk dalam. Detak jantungnya meronta saat Aziz memeluknya erat.


"Maaf, aku hanya ingin bercanda. Adek tahu sesuatu yang paling manis apa?" bisik Aziz seraya mengusap rambut Istrinya.


"Apa?"


"Adek."


Khumaira menyengit lalu berbalik menghadap Aziz. Dia menaikkan alisnya meminta penjelasan akan ucapan ambigu.


"Karena wajah dan senyum Adek begitu manis membuat Mas diabetes. Jika minum kopi lihat Adek rasanya tetap sama."


Aziz tersenyum polos dengan mata melengkung seperti bulan sabit. Ucapannya benar tidak salah dan itu kenyataan, benar?


Khumaira terbang ke langit tujuh dan terhempas. Aziz pintar merayu dengan ironi menjengkelkan. Dia pikir Aziz akan merasa manis ketika minum kopi karenanya. Dasar Suami minta di getok.


"Tidak mutu rayuanmu, Mas."


"Memang siapa yang merayu?"


Khumaira yang gemas langsung **** dan menggigit leher Suaminya keras. Tangannya juga ikut adil mencubit pinggang berotot Aziz.


Aziz mengaduh kesakitan ketikan Khumaira begitu bar-bar. Dia baru tahu Istrinya memiliki sikap aneh begini dan sangat lucu. Dia pikir Khumaira pendiam ternyata penuh warna.


Khumaira mendelik horor ketika bokongnya di remas kuat Aziz. Dia menyudahi gigitan kasar lalu menatap Suaminya sebal.


Aziz punya alternatif ampuh supaya Istrinya diam. Dengan nakal ia remas bokong Khumaira. Benar saja Istrinya langsung berhenti bar-bar pada tubuhnya.


"Adek gigit sampai puas maka Mas remas sampai puas."


"Dasar aneh."


Khumaira memang dasarnya sangat tahu sikap menyebalkan Aziz tentu menikmati. Baginya Aziz sangat berwarna dengan sikap absurd. Dulu ia bersama Azzam tidak pernah melakukan hal seperti ini. Bahkan mereka terkesan romantis dengan irama teratur. Kini Khumaira terlihat ekspresif bersama Aziz.


Entah kenapa bersama Aziz terasa seperti rekan dan sangat bebas melakukan apa pun. Khumaira lebih terbuka dengan sikap beraneka ragam.


Aziz menyengit melihat Khumaira diam saja sembari tersenyum di atasnya. Sebenarnya apa yang dipikirkan Khumaira?


"Ada apa, Dek? Awas kesambet cintaku."


Khumaira langsung tersadar ketika mendengar bisikan Aziz yang terdengar mendayu. Dia langsung merebahkan diri sembari merengkuh leher Suaminya erat.


"Aku sangat bahagia, terima kasih Mas."


"Bahagia karena apa? Sama-sama, Dek."


"Mas, aku jadi lebih aneh jika bersama Mas. Nanti jika terus bersama bisa gila kayak, Mas."


Aziz tersenyum mendengar perkataan Khumaira. Dia usap rambut dan punggung Istrinya sesekali dia remas pinggul Khumaira.


"Jangan jadi gila, biarkan aku saja. Aku menyayangimu, Dek."


"Aku juga menyayangi, Mas."