Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI 2 _ Alhamdulillah Masku Sembuh!



Hore sudah sampai ke chapter 100.


Bahagia sekali akunya!


HAPPY 100 Chapter Rosever!


Terima kasih sudah mengikuti story sampai sejauh ini. Segala ucapan terima kasih Rose usapkan untuk kalian semua.


I LOVE YOU Rosever!


Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!


Awas Baper akut, uhuyyy.


Sampai salah tingkah ini aku eyakkkk!


Aku mode ngga waras akibat chapter ini begitu uhuyyy menurutku.


Happy reading Rosever!


***'^💘^'***


Jasmin menunduk mendengar berita Aziz di operasi besar akibat sakit kanker otak stadium dua. Penyebab utama sakit itu akibat kecelakaan dan tekanan batin. Rasa sakit menguar kuat dalam tubuhnya. Ingin rasanya ia menjenguk Aziz. Namun, para Mbak pondok tidak membiarkan Jasmin dan Rena keluar pesantren.


Rena mengusap rambut panjang Jasmin yang terurai. Sebagai asisten sekaligus Kakak tentu saja paham keresahan gadis ini. Jujur saja gadis ini sejatinya baik walau di tutup sikap gilanya. Untuk pertama kalinya Jasmin begitu menggila pria yang jauh lebih tua. Namun, bagi Rena rasa itu hanya bentuk rasa ingin diperhatikan tidak lebih. Akibat obsesi itu Aziz yang harus menanggung beban dari kejahatan mereka.


"Kak Rena, apa Kak Aziz akan baik-baik saja?" tanya Jasmin bernada khawatir.


"Saya kurang tahu, Nona. Memang kecelakaan 3 tahun silam yang terjadi pada Tuan Aziz sangat fatal. Bahkan sampai sekarang dia amnesia tanpa bisa di sentuh oleh ingatan. Mari berdoa agar Allah memberikan kelancaran dalam operasi," sahut Rena.


Jasmin menangis menyesall perbuatannya selama ini. Akibat obsesi gila membuat pria itu kecelakaan dan kini sakit parah. Apa yang harus Jasmin lakukan untuk memperbaiki kesalahan? Wajah cantik nan manisnya terlihat murung memikirkan Aziz.


Rena mengusap rambut pirang Jasmin agar tenang. Entah kenapa dia merasa ada yang aneh terhadap gadis ini. Semoga saja apa yang di takutkan tidak terjadi. Ia berharap Jasmin jadi gadis baik-baik dan mau melepas Aziz untuk Khumaira.


Aku menatap hamparan bintang tanpa berkedip. Ibu apa engkau tenang di alam sana? Selama Ibu pergi ke alam baka Jasmin sendiri tanpa kehangatan. Memang aku punya banyak Kekuasan dari Ayah. Namun, aku kesepian Bu ingin kasih sayang. Aku membutuhkan kebersamaan yang cukup.


Hingga aku bertemu kak Aziz yang mampu menarik perhatian Jasmin. Aku sangat menyukai pria dingin tidak tersentuh itu. Hingga aku mendengar Ayah sudah memberikan izin untuk membatalkan kontrak pada Kak Aziz.


Aku yang gelap mata sontak memutar rencana agar mempertahankan Kak Aziz. Sebuah hal hina aku lakukan dengan menyewa orang merusak rem mobilku. Aku meminta Paman Hans untuk membawa Kak Aziz bersamanya. Biar kecelakaan itu tampak murni tanpa ada konspirasi.


Saat itu anak Paman Hans membutuhkan biaya untuk operasi besar. Aku membantu dengan syarat kejam yaitu dengan meminta ikut serta dalam kecelakaan. Aku ingin Paman Hans menyelamatkan Kak Aziz. Tanpa peduli nyawa Paman aku tetap mendesaknya hingga beliau setuju.


Hingga rencanaku berhasil dengan berimbas tewasnya Paman Hans. Maafkan aku Paman telah mengorbankan nyawa demi obsesi gilaku. Maaf, sekali lagi tolong maafkan Jasmin yang tidak tahu diri ini. Hiks, tolong maafkan aku yang hina telah membunuh kebahagiaan.


Masih terasa semua terancang sempurna seperti keinginanku. Namun, hal menakutkan terjadi ketika tahu Kak Aziz mengalami luka serius. Bahkan Kakak sampai koma dua puluh hari dan nyaris meninggal dunia. Miris jika ingat kejadian tragis itu yang menghancurkan segalanya.


Aku sangat menyesal telah menghancurkan kehidupan, Kakak. Maafkan aku terus menghantam pikiran Kakak yang kalut. Kak Aziz tolong maafkan Jasmin yang tega menghancurkan segala tentangmu.


Aku memalsukan foto Kak Azzam dan Mbak Khumaira. Aku merancang skenario bahwa mereka menikah dan anak Kak Aziz adalah anak Kak Azzam. Semua terancang hingga sebuah surat perceraian aku terima. Aku juga melakukan hal sama dengan tanda tangan surat cerai mencontoh tanda tangan Kak Aziz. Aku juga mengembalikan cincin pernikahan mereka dan menulis surat.


Aku tidak tahu akibat dari semua kejahatan kami begitu fatal. Ayah juga terlibat akan konspirasiku yang terkesan kejam. Kami membuat Kak Aziz begitu tersiksa penuh beban pikiran. Bahkan dengan tega mengancam Kak Aziz dengan kejahatan fatal. Kami pernah melakukan konspirasi anak sulung Kak Aziz, lalu menculik anak manis Kakak dan terakhir menyebabkan kecelakaan fatal pada keponakan Mbak Khumaira.


Apa penyakitnya kerena kami? Jika iya berdosa sekali. Kakak tenang saja aku akan mengakui kesalahan setelah pulang ke Singapura. Kakak akan bahagia bersama Mbak Khumaira serta anak-anak kalian.


Kami janji akan mempertanggung jawabkan tindakan kami selama ini. Ayah akan di penjara dan semua yang menjadi rekan akan menerima ganjaran. Tolong sembuh demi Istri dan anak-anakmu, Kak Aziz.


Untuk pertama kalinya setelah lama tidak berserah diri aku kembali ya Allah. Tolong selamatkan Kak Aziz dalam operasi besar itu. Aku sangat menyayangi dia dan aku akan melepas obsesi gilaku. Ya Allah ampuni dosa keluargaku. Ya Allah aku tidak tahu apa jalannya yang perlu kutahu aku sangat menginginkan kesembuhan dirinya.


Ya Allah tolong selamatkan Kak Aziz agar sembuh dari kesakitan. Hamba ikhlas menerima takdir rumit ini. Hamba hanya ingin dia bahagia tanpa luka yang kami ciptakan. Berikan Kak Aziz kebahagiaan seluruh alam semesta. Doaku akan terlabuh untuk Mbak Khumaira dan Kak Aziz. Berbahagialah selalu Krena kini kalian bebas dari kami.


***''~'💞|💞'~''***


Aku tidak tahu Dokter di dalam melakukan apa pada Suamiku. Berjam-jam kami menunggu hasil dari Dokter. Tidak henti-hentinya kami berdoa agar operasi besar itu lancar. Hingga begitu lama sampai Dokter keluar menyampaikan kabar bahagia.


Spontan aku sujud syukur akan kuasa-Mu ya Allah. Terima kasih banyak telah melancarkan operasi Masku. Terima kasih banyak ya Allah telah membuat Masku bertahan. Ya Allah, mungkin ribuan ucapan terima kasih tidak akan cukup. Ya Allah, engkau Maha Agung, penyayang dan Maha pemberi pertolongan.


Hamba tidak akan pernah bisa bertahan jika tidak ada Engkau yang selalu memberi kuasa-Mu akan kesabaran. Hamba begitu bahagia telah mendapat kebahagiaan ini. Ya Allah yang Maha penyembuh, hamba memohon tolong lekas sembuhkan Suamiku.


Lagi-lagi dan lagi hamba selalu meminta tanpa lelah pada-Mu ya Allah. Hanya pada-Mu hamba meminta serta berkeluh kesah. Ya Allah terima kasih atas segala kuasa-Mu yang memberikan perlindungan pada Masku.


Kini Masku di pindahkan ke ruang transisi untuk memantau kondisi fisik Masku. Alhamdulillah ya Allah, atas Rahmat dan kuasa-Mu Masku tidak mengalami komplikasi. Sehingga dipindahkan ke ruang rawatCukup lama kami bergantian untuk membesuk Masku. Aku tersenyum melihat Masku telah siuman dan lihatlah ia memintaku mendekat.


Aku tahu Masku belum bisa berbicara banyak. Setelah minum banyak Masku bersandar di bahuku. Aku menunduk untuk mengecup kening Masku. Mas lekas sembuh agar kita lekas bersatu. Kita akan bahagia selamanya bersama anak-anak. Mas akan selalu baik-baik saja karena Allah bersamamu.


"Adek sangat bahagia Mas mampu melewati operasi besar ini. Adek sangat mencintai Mas karena Allah. Adek begitu mencintai Mas sepenuh hati dan tolong jangan berbicara dulu. Adek akan menjaga Mas sekarang istirahat ya. Adek Syafa cinta Mas Aziz."


Aku kembali mencium keningnya dan beralih mengecup punggung tangannya. Melihat balasan senyuman Suamiku hatiku menghangat. Mas Aziz-ku sayang engkau akan selalu hidup untuk kami. Kita tercipta dalam kesatuan kita akan selalu bersama selamanya sampai Allah memisahkan kita dengan maut.


Aku panik ketika Masku menggerang kesakitan. Aku yang tahu itu efek samping obat bius sudah habis sontak menekan tombol darurat. Aku meringis ngilu merasakan Masku menggerang kesakitan akibat operasi besar itu. Aku hanya diam saat Dokter menyuntik tabung oksigen. Mungkin itu obat pereda sakit dan benar saja Masku kembali tenaga.


Dokter meminta Masku untuk istirahat total agar tidak banyak bergerak. Aku menyetujui usulan Dokter dan memilih keluar melihat anak-anak. Aku usap keningnya dan kuberikan ketenangan agar Suamiku istirahat. Benar sekali Suamiku akhirnya tertidur pulas seraya menggenggam tanganku.


"Adek sangat mencintai Mas," lirihku sebelum ku lepas genggamnya.


Saat aku keluar anak-anak berhambur memelukku. Ya Allah, anak-anak Umi manis sekali sampai berebut dekapan. Aku seka air mata Kakak kecil Mumtaaz lalu memberikan ciuman sayang di pipi gembul Putraku. Aku juga memberikan kecupan sayang di kening dan pipi Tole Ridwan. Aku seka air mata dua Putraku yang tampan biar kembali tampan.


Aku melangkah ke arah Ummi berniat meminta Nduk Faakhira. Putriku tertidur pulas dalam dekapan Neneknya. Dengan hati-hati aku mengangkat tubuh gempal Anakku. Putriku sayang lihat Ayah sudah berhasil melewati masa kritisnya. Sekarang Nduk akan bahagia selalu dalam dekapan Ayah.


Melihat wajah Putriku yang imut membuat aku tidak kuasa menciumi wajahnya penuh sayang. Pelahan mata besar Putriku terbuka menampilkan netra cokelat keemasan mirip seperti Ayahnya. Di bilang anakku ini perpaduan sempurna kami. Sangat cantik layaknya boneka hidup yang manis.


"Umi," lirih Dedek Faafaa sembari merengkuh leherku.


Aku menepuk bahu dan bokong anakku pelan. Semoga saja anakku lekas tidur kembali. Oh aku lupa sesuatu mana Mbak Mahira dan Mas Azzam? Oh iya lupa mereka pulang untuk mengambil baju.


Anak-anak Mas Azzam dan Mbak Mahira juga ikut pulang. Kini hanya tinggal Aku, anak-anak, Ummi dan Abah serta Mas Nakhwan. Keluargaku pulang istirahat di Ndalem, Insya Allah besok membesuk Mas Aziz.


"Ini sudah malam Nduk, gih istirahat di dalam bersama anak-anak. Kemarin hanya tidur sebentar bukan? Ajak anak-anak istirahat di dalam dan biarkan kami menunggu. Sstt. Jangan membantah karena jika kami lelah maka Mushola tempat istirahat!" tegas Ummi.


Aku mengaguk setuju untuk istirahat. Lagian anak-anakku butuh istirahat yang cukup. Aku pamit pada mereka untuk masuk kembali. Dua Putraku ikut masuk ke dalam ruang Mas Aziz di rawat.


Hati-hati aku merebahkan Dedek Faakhira di single sofa. Lalu meminta anak-anak tampanku merebahkan di sofa bed. Benar sekali dua Putraku merebahkan diri di sofa dan aku juga menaruh Putriku agar tidur di tengah.


"Umi, ayo tidur," ajak Dedek Mumtaaz.


Aku usap poni Putraku yang tampan lalu kuberikan ciuman di seluruh wajah Dedek Mumtaaz. Umi akan tidur Nak jangan khawatir. Melihat kalian terjaga membuat Umi sedih akibat menatap duka kalian.


"Umi, apa Ayah akan lama di sini?" tanya Tole Ridwan.


Aku tersenyum mendengar anak bujangku bertanya. Aku baru sadar ternyata Tole Ridwan sudah besar sekali. Bahkan dia sudah khitan tepat di kelas lima. Aku kecup kening dan pipi Tole Ridwan supaya lekas tidur. Aku bisa melihat betapa tampan dan teduhnya Tole Ridwan saat ini. Mirip seperti Abinya yang teduh maskulis.


"Kita tunggu saja ya, Kakak. Jangan banyak bicara sekarang tidur sudah malam."


"Umz," gumam Dedek Mumtaaz dan Kakak Ridwan.


"Berdoa dulu baru tidur," ucapku.


"Bismillahirrahmanirrahim, bismika Allahumma ahya wa bismika amuut," doa dua Putraku.


Kini tinggal si kecil yang mengomel panjang lebar di tengah dua Kakaknya. Aku ambil Dedek Faafaa dalam gendonganku. Aku duduk di single sofa sembari menimang Putriku. Dedek Faafaa menatap Mas Aziz seraya mengatakan banyak hal.


"Umi, Ayah kapan bangun?" tanya Dedek Faafaa.


"Besok, sekarang Dedek Faafaa tidur, ya. Lihat Kakak sudah tidur. Apa Dedek Faafaa tidak mengantuk?"


"Alhamdulillah, Dedek Faafaa mathih ingin lihat Ayah. Nanti thaja tidulnya, Umi kalau Dedek thudah ngantuk."


"Baiklah, sekarang jangan ribut ya, Sayang."


"Iya, Umi."


Pada akhirnya Dedek FaaFaa terus mengajak bicara tanpa lelah. Anakku ini benar-benar suka sekali bicara panjang lebar. Kalau tidak di tanggapi akan merajuk menangis bahaya. Tidak lama tepatnya satu jam setelah itu Dedek FaaFaa kembali menguap. Dan akhirnya tidur lelap menyusul dua Kakaknya.


Aku rebahkan Dedek FaaFaa di tengah Tole Ridwan dan Tole Mumtaaz. Aku cium pipi ketiga anakku bergantian lalu memberikan ciuman kening. Terima kasih anak-anakku sayang sudah mau menjadi kekuatan terbesar, Umi. Atas kuasa-Nya Umi selalu berdoa segala kebaikan untuk kalian wahai anak-anakku.


****


1 minggu kemudian, Mas Aziz akhirnya pulang ke rumah (Kediri). Aku tidak mungkin membawa Mas Aziz ke Yogyakarta. Nanti setelah Masku sembuh bisa perjalanan jauh akan segera pulang ke Pagerharjo.


Kini dua Putraku pulang ke rumah Pagerharjo karena mereka sekolah. Jadi kami berpisah beberapa waktu ini pun menahan rindu. Dari dalam kandungan sampai sebesar mereka baru kali ini kami terpisah lama. Tidak apa ini demi kesembuhan Ayah tersayang.


Mungkin aku akan pulang segera untuk mempersiapkan seragam anak-anak. Mas Aziz, tenang saja Adek akan selalu menjaga Mas sampai sembuh. Adek akan selalu ada dalam radius dekat. Masku sayang Adek sangat berharap engkau lekas sembuh.


Sekarang ini Suamiku berobat jalan satu minggu 2 kali. Jadi agak lama juga berada di sini jadi rindu pada dua pangeran ku. Lagi apa anak akan tampanku? Umi kangen Kakak gede dan Kakak cilik.


Aku terus kepikiran anak-anak yang ada di rumah bersama Ibu, Mas Bahri, Mbak Zahrana, Tole Dzaki dan Nduk Hilya. Maafkan Umi belum bisa pulang anak-anakku tersayang. Umi janji setelah Ayah bisa di ajak perjalanan jauh dengan segara Umi pulang.


Soal Mbak Jasmin wanita itu pulang setelah meminta maaf begitu tulus. Bahkan dengan keberanian dia mengakui kesalahannya. Aku tidak bisa berkomentar banyak tentang kejahatannya. Marah emosi kecewa terluka melebur jadi satu. Apa lagi saat tahu Tole Ridwan, Dedek Mumtaaz dan Tole Dzaki terluka lantaran dia. Mau marah tapi aku langsung istighfar guna mengendalikan diri. Aku terus mengucap istighfar guna mengembalikan rasa sakit.


Walau ingin marah, tetapi langsung aku redam dengan dzikir. Masa lalu biarlah berlalu karena itu hanya bunga kenangan. Jangan jadikan dendam untuk kunci utama. Jadilah orang pemaaf lantaran Allah menyukai orang-orang buang berjiwa lapang dada. Allah telah memberikan segala cinta dengan kuasa melimpah maka dari itu hamba sangat ikhlas menerima ini semua.


Aku bukan orang pendendam atau pembenci yang mengutamakan emosi. Aku dengan lapang dada memaafkan kesalahannya. Aku berharap Dik Jasmin mendapat jodoh yang baik. Aku juga berharap pertobatan Dik Jasmin bertahan hidup. Semoga saja hidayah yang Allah berikan terhadap Dik Jasmin istiqomah. Segala doa harapan aku labukan untuk Dik Jasmin. Berharap ia lekas mendapat jodoh pria sholeh yang bisa menuntun terus menerus ke jalan yang benar. Aamiin ya Allah.


Beberapa waktu lalu Mas Aziz berbicara pada Dik Jasmin. Aku tidak tahu mereka berbicara apa yang kutahu mata Dik Jasmin sembab penuh linangan air mata. Sebenarnya ada apa dengan mereka? Daripada penasaran aku putuskan bermain bersama Nduk Ayeza mumpung Dedek FaaFaa sama Ayahnya.


Aku melihat Mbak Mahira dan Dedek Ayeza sedang main. Ya Allah lucunya putri kecil itu ketika dengan polos menumpahkan mie. Aku gendong Dedek Ayeza dan menimangnya. Jika tahu Dedek FaaFaa pasti menangis tidak mau Uminya menggendong Adik sepupu. Dasar anakku yang posesif.


Ya Allah lucu sekali jadi ingin punya Dedek bayi lagi. Ampun Syafa jangan mesum di hari ini. Aku tidak akan membiarkan hal gila merasuki pikiranku. Jangan pikirkan anak pasukannya Dedek FaaFaa masih kecil mungil. Pokoknya harus full kasih sayang baru buat Dedek baru.


"Adik ipar, mau Dedek baru?" celetuk Mbak Mahira membuat aku tersipu malu.


"I-itu bu-bukan Dedek baru, Mbak. Aku ... aku ...."


"Hahaha, gugup, Dik? Tenang Dedek Faafaa siap punya Dedek baru," goda Mbak Mahira.


"Mbak Mahira jangan menggoda saya. Kalau begitu, permisi."


Aku serahkan Dedek Ayeza ke Mbak Mahira lalu pergi ke kamar menemui Suami dan Putriku. Sampai kamar aku terdiam saat Mas Aziz dengan iseng mengucir rambut sebahu Dedek Faafaa di kuncir kuda. Setelah itu di kepang sedikit kendur. Ya Allah manis sekali anakku sekarang.


"Mas," panggilku.


Mas Aziz nyengir polos seraya menunjukkan Dedek Faakhira padaku. Astaghfirullahal'adzim, apa yang Masku lakukan pada Dedek Faafaa? Aku langsung melihat bibir Masku ada bekas lipstik. Ini orang minta kecupan ya?


Lihat wajah Masku begitu menggemaskan saat nyengir kuda. Ya Allah seperti kucing bersalah seolah tidak melakukan apa pun. Suamiku manis sekali berpenampilan lucu. Ya Allah aku lupa rambut Masku sedikit sudah agak panjang sampai leher. Alhasil bisa di ikat di atas. Kenapa aku baru sadar betapa menggemaskan Suamiku ini.


"Umi, lihat Dedek cantik kan?" tanya Dedek Faafaa polos.


Ya Allah, anakku ini sangat cantik sampai wajahnya full bekas lipstik. Sejak kapan Suamiku belajar pakai lipstik? Sabar Syafa karena orang sabar tambah cantik tidak terbantahkan. Aku melangkah mengambil tisu basah.


"Anak Umi yang tercantik," ucapku sembari mencium keningnya.


Aku mengangkat dagu Mas Aziz lalu kubersihkan bibir Suamiku. Andai saja tidak ingat ada Dedek Faafaa sudah habis Suamiku sekarang. Aku tersentak ketika Mas Aziz tiba-tiba menarik tengkuk dan ******* habis bibirku. Aku tersenyum manis ketika ciuman semakin intim. Tetapi langsung sadar saat ada Dedek FaaFaa.


Aku melirik tangan Mas Aziz menutup mata polos Dedek Faafaa. Aku hanya diam menikmati ciuman kami yang panas. Hingga sebuah ketukan pintu menghentikan acara mari ciuman kami. Aku menghindar saat pintu terbuka menampilkan Adik iparku.


"Maaf, aku ganggu ritual kalian. Mas di cari abang tukang bakso," ujar Mbak Najah dan tanpa dosa langsung berlalu setelah menghentikan acra kami.


"Ngapain abang tukang bakso mencari, Mas?"


"Nagih hutang mungkin, Mas."


"Oh iya, Mas lupa beli bakso ngutang gara-gara ngga ada uang receh."


"Astaghfirullah, Mas kamu membuat malu saja."


"Hehehe, maafkan Mas, Istriku."


Mas Aziz keluar tanpa sadar diri menggunakan apa? Hai tunggu Mas kamu Arghh jangan salahkan Adek Mas jadi bahan ejekan. Rasanya tidak Baggio keluar akibat Suamiku begitu gila. Aku yang malu pada akhirnya memutuskan keluar kamar.


Sebelum itu Dedek Faafaa meminta gendong padaku tentu tak gendong si kecil. Aku cium pipi gembulnya yang sangat menggemaskan. Aku putuskan berjalan ke ruang keluarga untuk melihat keadaan Masku. Semoga saja tidak jadi bahan ejekan, Aamiin.


Saat di luar lihat mereka tertawa lucu menatap Masku. Jangan tertawa karena rambut Mas Aziz di kuncir ikat rambut dan pakai jepit Dedek Faafaa. Pipi ada lipstik dan parahnya Mas Aziz hanya pakai T-shirt longgar warna hitam dengan bawahan celana selutut. Melihat itu tentu saja membuat malu luar biasa. Kenapa bisa aku sangat mencintai alien tampan itu?


Si biang kerok sayangnya Suamiku malah berekspresi polos. Ya Allah tidak ingat umur memang Masku ini. Ya Allah, sabar jangan tarik baju belakangnya guna menghindari tawa. Sabar jangan kumat atau kamu bisa membuat si ganteng merajuk.


"Kalian kenapa?" tanya Mas Aziz.


"Tidak, coba ngaca Mas," sahut Mbak Najah.


"Ok."


Saat mengaca di lemari bufet Mas Aziz terkekeh geli melihat penampilannya. Masku dengan percaya diri melepas kuncir dan menyisir rambut menggunakan jari kekarnya. Mataku panas ingin melempar remot ke arahnya yang kumat gila. Bayangkan Masku bergaya ala model berjalan di catwalk di depan mereka. Lalu tiba-tiba meraih pinggulku dan mengajak menari bersama Dedek Faafaa yang sudah bersih dari lipstik.


Aku terasa sangat malu memikirkan banyak hal. Bahkan aku sampai mendapat ciuman di pipi. Acara dansa di saksikan langsung oleh mereka. Kapan Mas berhenti dari tingkah absurd? Ya Allah Ini sangat memalukan berdansa tanpa musik di saksikan seluruh keluarga.


"Yo, walau keadaan aburadul Mas tetap ganteng overdose. Dari samping ganteng, dari belakang ganteng, dari depan ganteng dan jungkir balik ganteng abis. Mas makhluk tampan menawan tidak terbantahkan, Asyek. Mas cinta Adek yang jelek kayak ratu hati ku, uhuy. Mas cinta Adek yang manis kayak madu."


Ampun Suamiku kumat gila lagi. Tetapi, aku sangat bersyukur Mas Aziz sudah sehat kembali. Itu artinya kita bisa ke Pagerharjo untuk menemui dua Kakak ganteng. Alhamdulillah ya Allah kini kami bisa berkumpul lagi tanpa terhalang jarak.


Ya Allah, terima kasih sudah memberikan kesembuhan pada Suamiku. Kesembuhan Masku adalah hal paling membahagiakan. Aku sangat bahagia akhirnya Suamiku yang aneh ini kembali sembuh walau kadang tidak waras seperti sekarang.


"Sudah, kalau mau dansa dan romantis di kamar saja!" seru Mas Nakhwan sukses membuat aku sadar.


Malu sekali mendapat tepuk tangan heboh mereka. Karena tidak tahan aku langsung menyembunyikan wajah di dada bidang Mas Aziz. Hingga aku merasakan tubuhku melayang di udara. Eh? Aku di gendong Masku?


Ya Allah, jangan gila Mas Aziz menggendong Adek dan Dedek Faafaa. Aku meminta turun, tetapi Mas Aziz-ku menolak keras. Mas ini benar-benar membuat Adek tersiksa akan khawatir. Demi apa pun Adek sangat panik Masku menggendong kami. Mas Aziz lupa ya baru sembuh itu pun belum sembuh total.


"Hai ingat kondisi, Tole Aziz! Ingat ini kamu mau apa ke kamar? Kemari janagn asal nyelonong!" seru Mas Azzam khawatir pada Adik nakalnya ini.


"Buat anak, Mas apa lagi. Dedek Faafaa sebentar lagi bakal punya Dedek baru!"


Astagfirullahaladzim, aku sangat malu akan kata frontal Masku. Kami masuk kamar dan Mas Aziz menurunkan kami hati-hati. Suamiku mengunci pintu sembari mengerling nakal. Ya Allah, apa Mas Aziz mau buka puasa?


Jangan buka puasa sekarang Mas karena masih rawan. Umz aku malu sekali sampai pikiranku kacau. Lihat ia malah terkekeh bersama Nduk FaaFaa. Ya Allah hilangkan pikiran itu dari benakku. Ya Allah ampun jangan buat hamba semakin gila.


"Mas ngantuk, Dek. Ayo Dedek Faafaa tidur orang rupawan. Umi sedang berfikir belok jadi lupakan itu."


Mas Aziz meraih Nduk Faakhira dan hal jahil terjadi ketika Mas mencuri ciuman di bibirku. Aku tambah melotot saat tangan nakalnya meremas bokongku. Sabar Syafa Suami nakalmu butuh asupan kesabaran. Awas Mas akan Adek kerjain balik nanti malam.


Malam hari Dedek Faafaa sudah tidur. Dengan begini aku gantian jahil pada, Masku. Awas pembalasan Adek jauh lebih menantang. Apa Mas sanggup melihat aku nanti berbuat nekat? Kita lihat saja seberapa tahan Masku mengendalikan diri.


Aku tahu Mas Aziz pura-pura tidur maka dari itu mari bereaksi. Dengan jahil aku buka pakaian berniat ganti baju dengan piyama. Pakaianku sudah jatuh menyisakan dalaman saja. Oh ya Allah rasanya begitu malu berbuat demikian guna menggoda Masku Aziz.


Hingga sebuah pelukan aku dapat dari Mas Aziz. Dasar mesum, ingat kondisimu, Mas Aziz masih belum sembuh total berulah. Tapi aku seneng sekali mendapat dekapan hangatnya. Dekapan paling aku puja dan selalu aku dambakan. Masku tercinta Insya Allah dunia akhirat Aamiin.


"Mau menggoda, Mas?"


Bulu halusku terasa meremang menerima bisikan Mas Aziz. Bahkan tangan nakalnya terus bergerilya mengusap perut naik ke aku Suamiku benar-benar nakal. Aku mana tahan begini makanya berusaha membekap mulut agar desahan tidak keluar. Aku takut jika hal itu terjadi maka Dedek FaaFaa terbangun.


Tangan nakal Masku semakin aktif memijat dadaku. Rasanya begitu merindukan sentuhannya yang lembut. Jangan begini Mas sungguh Adek tidak tahan. Pada akhirnya aku putuskan mencekal tangannya agar tidak nakal. Namun, apa daya tubuhku malah berbalik menghadap Masku Aziz.


"Adek yang menggoda maka nikmati godaan, Mas," bisik Mas Aziz sembari mengusap leherku.


"Mas berhenti, jangan sekarang karena ugh Dedek FaaFaa gampang terbangun," ucapku sedikit melenguh.


"Baiklah, kalau begitu cium, Mas!"


"Em ...."


Masku membungkuk agak dalam lalu mengasah wajah ke arahku. Aku gugup sekali sampai tidak mampu berpaling. Pada akhirnya aku tangkup rahang tegasnya lalu memberikan ciuman lembut di kening. Aku tahu Mad ingin ciuman itu oleh karena itu protes menatapku.


Aku tersenyum manis melihat wajah tampannya yang protes. Dengan lembut aku kecup bibir Suamiku penuh cinta. Aku kalung kan tangan di lehernya ketika Masku merengkuh pinggangku. Ya Allah, rasanya begitu mendebarkan sampai tidak bisa mengendalikan diri.


Ciuman kami begitu intim walau tidak ada kegiatan ranjang. Aku tidak bisa melakukan apa-apa saat Suamiku menjamah tubuh atasku. Jangan begini Mas bahaya kalau kelepasan. Dedek FaaFaa bangun bahaya karena belum pantas melihat orang tuanya berbuat iya-iya. Setelah melakukan ciuman intim kami saling mendekap erat.


Dekapan hangat yang selalu aku puja serta aku rindu setiap detik. Masku sayang Adek sangat bersyukur Allah telah memberikan kesembuhan pada Mas. Alhamdulillah Masku sembuh dari penyakitnya. Hamba sangat bersyukur ya Allah telah memberikan segala kebesaran-Mu untuk Masku.


"Melamun apa, Dek?"


"Melamun tentang Mas."


"Kenapa bisa begitu? Lihat Mas sudah ada di depan Adek."


"Adek tahu karena Mas tidak bisa terabaikan dalam satu detik. Setiap saat Mas selalu menghantui pikiran Adek."


"Romantis sekali Istriku ini. Mas juga tidak bisa lepas memikirkan Adek. Setiap detik selalu Adek yang Mas pikirkan. Mas sangat mencintai Adek karena Allah."


"Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah."


Aku langsung mendekap erat tubuh Masku tercinta. Segala cinta dan segala kebahagiaan telah tercurahkan. Kini Adek hanya berharap semoga saja Allah senantiasa memberikan segala cinta untuk kita. Adek sangat mencintai Mas karena Allah. Atas nama Nya semua menjadi indah.


Adek tidak mampu menjabarkan betapa besar cinta Adek pada Mas. Segala cinta yang Adek labuhkan sedari awal. Cinta pertamaku sekaligus cinta terakhir yang Insya Allah akan selalu kukuh dunia maupun akhirat Aamiin. Semoga saja setelah ini tidak akan ada ujian antara kita, Aamiin. Sejuta harapan Adek labuhkan untuk segala kesehatan Mas.


Sekali lagi Adek akan katakan, ah tidak sekali berulang kali akan Adek katakan. Betapa Adek sangat mencintai Mas karena Allah. Sangat cinta sampai tidak bisa berhenti memikirkan walau hanya sesaat. Adek sangat mencintai Mas sangat cinta.


Assalamu'alaikum Imamku yang kedua. Walau yang kedua engkau akan sellau jadi yang utama. Masku yang paling aku cintai sampai kapan pun. Alhamdulillah ya Allah Engkau limpahkan cinta hamba untuknya seorang. Terima kasih ya Allah atas segala kuasa-Mu. Hamba sangat mencintai-Mu sepanjang masa. Jaman sangat mencintai-Mu ya Allah dan Rasulullah.


****'🌹'~💝~'🌹'****


Maaf ya chapnya garing abis.


Tunggu buka puasa Ayah dan Umi, yup. Dedek Zaviyar otw proses, Uhuy!


Maaf belum Rose koreksi dan edit maka jika banyak sekali typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan harap maklum.


Salam bahagia bin baper dari Rose


Boleh ngga minta koin dan vote story Rose?


Jangan lupa beri tip eyakkkk mode maksa. Maaf hanya bercanda kok.


Hahahaha, geser nih otak sangking baper nya.