Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
Bonus Chap AI 2 - Hadirnya Dedek Ganteng!



Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Apa kabar semuanya?


Semangat puasa semuanya.


Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!


***๐Ÿ๐Ÿ’–๐Ÿ’ž๐Ÿ’–๐Ÿ***


Azzam tersenyum karena Ridwan sudah sembuh padahal baru sebentar bersama. Rasa iri kembali hinggap membuatnya berdegup sakit. Atas semua rasa yang ada ia ingin kembali dekat bahkan tidak ada kecanggungan. Hanya saja inilah takdir karena sedari kecil anaknya sudah bersama Aziz. Kalau sudah begitu Azzam harus terima.


Hingga datang seseorang yang sangat Azzam sayang yaitu Adik perempuannya. Ning Shabibah datang ke rumahnya entah karena apa. Selama ini Adik cantiknya datangย  jika ada sesuatu misal kangen.ย  Azzam tersenyum ketika Shabibah menyalami dirinya.


Shabibah datang karena mau menyampaikan tentang keadaan Kakak ipar.ย  Kebetulan tadi dapat mandat dari keluarganya minta di beritahu. Tadi ia niat main karena rindu sekaligus ingin mengucapkan selamat prihal kehamilan Mahira. Saat mau ke sini Pihak Kakak kandungnya di Yogyakarta mengabari bahwa Khumaira telah melahirkan.


Oleh sebab itu Shabibah sekalian memberitahu kabar gembira ini bagi pasangan Azzam dan Mahira. Jujur ia tahu perasaan Masnya masih ada sedikit untuk Kakak iparnya sekarang jadi Istri Masnya ketiga. Jadi agak rikuh memberitahu semua ini pada Masnya kedua. Walau begitu Shabibah akan mengatakan kabar gembira itu.


"Ada apa Nduk datang kemari?"


"Pertama mau main tempat Mas dan kedua mau mengatakan selamat mau jadi Abi lagi serta yang terakhir mu mengatakan Mbak Maira sedang di rumah sakit."


"Dek Maira sakit apa?"


"....??"


Shabibah terdiam mendengar pertanyaan spontan Azzam. Ya Allah jadi benar adanya Masnya masih menyimpan nama Khumaira. Miris sih padahal tadi memberitahu tiga hal dan lihat Masnya jawab yang terakhir. Antah kenapa ia merasa miris pada Masnya ini. Shabibah berpikir andai tragedi tidak terjadi pasti Azzam masih bersama Khumaira.


Hanya saja Shabibah lebih suka Mbak cantik itu bersama Aziz. Karena kalau diperhatikan lebih seksama wajah keduanya sama dan sangat cocok saling melengkapi. Hanya saja takdir berkata lain pasalnya sedari awal ia tahu ada yang janggal. Shabibah ingat sewaktu Aziz pertama kali bertemu Khumaira ekspresi Masnya begitu terluka, kecewa, pedih dan segala rasa sakit padahal itu awal. Hingga pertemuan kedua Shabibah melihat Aziz tunduk sedih mengatakan padanya telah membuat Khumaira menangis akibat keusilannya menggoda Azzam.


Semua sudah menjadi suratan takdir yang harus diterima. Baik Azzam atau Aziz adalah orang yang sangat baik. Sama-sama hafidz dan lulusan terbaik Al-Azhar. Hanya saja beda karakteristik sedikit mencolok. Memikirkan itu Shabibah jadi sedih sehingga harus menasihati Azzam supaya melupakan Khumaira.ย 


Azzam berkedip beberapa kali ketika Shabibah memberitahu Khumaira sakit. Awas saja Adiknya akan habis olehnya telah membiarkan mantan wanitanya terbaring lemah. Dia sudah ikhlas mantan Istrinya bersama Adiknya walau sakit. Azzam sudah berusaha menerima, tetapi tidak akan mengampuni Aziz jika sampai Khumaira kenapa-napa.


Jika ingat awal mula terasa menyakitkan untuk Azzam ketika melepaskan Khumaira. Apa lagi saat ia mentalak wanita teramat dicintainya. Wanita yang menjadi Umi bagi buah hati tercinta. Ingat itu dadanya bergemuruh nyeri jika ingat semua yang terjadi. Azzam sedih mengingat masa kelam di mana harus berpisah dengan Khumaira.


Sadar apa yang dilakukan salah sontak Azzam mengucap istighfar banyak kali dalam hati. Dia menengok kesena kemari demi memastikan tidak ada Mahira. Syukur Istrinya tidak ada jika ada pasti begitu terluka. Wajar terluka karena sebagian hatinya masih milik wanita tidak lain adalah Adik ipar. Azzam jadi merasa hina karena sampai sekarang cinta itu masih ada dalam hati yang paling dalam.


"Mas masih mencintai Mbak Khumaira?"


"Jawab pertanyaan Mas bukan balik tanya."


"Mbak Maira, di rumah sakit karena sedang berjuang melahirkan anak keempatnya. Mbak Maira masih proses persalinan, Mas. Tetapi, sekarang sudah lahiran sih maka patut bersyukur. Tadi Tole Mumtaaz yang memberitahu, sedangkan Tole Ridwan sedang menjaga Dedek FaaFaa."


"...."


"Sekarang jawab pertanyaan saya, Mas!"


"Tidak."


"Bohong!"


"Serius!"


"Ingat ini Mas tolong lupakan Mbak Maira dalam lubuk hati yang paling dalam. Memang dia cinta pertama Mas dan Nduk tahu.kokseberapa besar cinta Mas untuknya. Hanya saja semua sudah beda arah, Mas milik Mbak Mahira dan Mbak Khumaira milik Mas Aziz. Terimalah takdir yang Allah berikan untuk Mas. Lagian ada wanita yang teramat mencintai Mas sepenuh hati. Mbak Mahira begitu kencing Mas maka pikiran lagi perasaan itu. Coba pikir lagi apa Mas mencintai Mbak Mahira? Jika tidak berusaha cinta jika sudah tumbuhkan cinta itu semakin besar."


"...."


"Kalau begitu Bibah pergi dulu Mas siap-siap ikut atau tidak ke Yogyakarta? Aku harap tidak karena ada Mbak Mahira membutuhkan Mas di sini lagian aku tahu isi hati Mas. Sekarang Bibah pulang dulu, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Shabibah berlalu meninggalkan Azzam setelah salam. Dia harap kata-kata itu mampu membuka hati Masnya yang tertutup kabut. Jelas ia tahu melupakan cinta pertama yang jelas berarti. Itu terjadi padanya di mana ia sangat mencintai Mualaf asal Amerika yang sangat dicintainya. Pertama bertemu di Jepang karena waktu itu ada duta menyebabkan dirinya datang. Dari situ Shabibah bertemu dirinya yang menjadi cintanya.


Saat kekasihnya mau izin menikahinya semua berakhir tragis. Srmua berubah drastis menyebabkan semua menjadi bencana. Shabibah harus ikhlas menerima takdir ketika Abah dan Ummi menolak Steven. Pada akhirnya dia harus terima saat Abah menjodohkan dengan Gus dari Tebuireng. Semua terjadi begitu rumit ketika Steve berubah jadi kriminal kelas kakap akibat semua itu.


Waktu itu Shabibah harus jadi saksi kasus pembunuhan yang di lakukan Steven. Akibat semua itu mantan yang menjadi cinta pertamanya di penjara dua puluh tahun. Itu di bebaskan, tetapi masih dlm pengawas polisi. Steve akan di penjara lagi jika melakukan kesalahan berat. Ingat masa kelam itu Shabibah merinding.


Melihat Shabibah telah berlalu Azzam langsung mencengkeram rambutnya. Demi apa ia begitu terluka memikirkan banyak hal. Pertama tentang cinta pertama lalu kesalahan masih cinta. Lalu perasaanya pada Mahira yang rumit. Setelah di putar ulang Azzam menemukan jawaban.


Mulai dari sini semua akan terungkap semua yang ada. Kini harapan indah akan di labuhkan bersama sang Istri. Kini dia yakin mencintai Istrinya walau telat mengatakan cinta. Tiga tahu lebih dikit pernikahan kini dirinya baru mengatakan cinta. Ya Allah, berdosa sekali membuat Istrinya menunggu terlalu lama.


Semoga saja Mahira senang Azzam akan mengatakan cinta. Walau ada setitik cinta untuk Khumaira kini dirinya terima semua. Kini saatnya membuka hati bersama orang terkasih. Khumaira masa lalu dan Mahira masa depan yang harus diperjuangkan. Azzam akan mengawali semua kisah cinta bersama Istri dan anak-anaknya.


Sungguh Mahira tidak ada niatan menguping, tetapi saat Azzam begitu panik langsung terpaku. Dia buru-buru pergi menuju kamar setelah sadar hati dan pikiran Suaminya masih ada untuk Istri pertama. Bahkan tiga tahun pernikahan tidak ada cinta yang timbul walau sudah berusaha keras. Mahira merasa miris telah mengharapkan cinta Azzam.


Mahira merasa sangat sakit jika ingat Azzam masih cinta pada Khumaira. Memang nyata mantan Istri sang Suami begitu kuat nan baik hati. Pantas di kelilingi pria hebat terutama dicintai Azzam dan Aziz. Dua pria pilihan yang sangat di idam-idamkan jadi imam telah takluk pada Khumaira. Apalah Mahira hanya wanita biasa penuh kekurangan.


Azzam masuk kamar pribadi dan melihat Mahira sedang tidur. Dia ingat wanitanya tadi mengaku capek dan pusing. Setelah menerima pelukan akhirnya tidur. Untuk tiga anaknya ada di Ndalem karena tadi Hazzag membawa si kecil. Ngomong-ngomong kenapa Mahira bergetar begitu? Melihat itu tentu Azzam langsung menyentuh bahu Mahira.


Mahira menangis sedih, tetapi langsung diam menerima sentuhan. Dia duduk setelah Suaminya mengajak duduk. Ia nyaris menepis tangan Suaminya, tetapi sadar tidak boleh melakukan itu. Dirinya lebih baik menunduk dalam menyembunyikan wajah demi menghalau air matanya. Mahira tidak sanggup menatap Azzam sehingga alternatif terbaik menunduk.


"Ada apa, Dek? Katakan pada Mas, ada apa?"


"...."


"Mas mohon, Dek katakan semua."


"Adek cemburu."


"Cemburu karena? .... Astaghfirullahal'adzim, apa Adek mendengar percakapan Mas bersama Nduk Bibah?"


"...."


"Maaf, maafkan Mas terlalu perhatian bahkan terlalu Khawatir padanya. Tolong maafkan, Mas."


"Tidak ada, Adek tahu karena cinta Mas begitu besar untuknya."


"Tapi, sekarang tidak sebesar itu."


"Kenapa? Cinta Mas untuk Dik Mahira begitu suci dan pastinya masih sangat besar."


"Iya itu dulu sekarang cinta Mas hanya untuk satu wanita. Walau masih ada setitik cinta untuknya. Namun, cintaku ini jauh lebih besar darinya. Mungkin ini terlambat, terapi akan Mas katakan berulang kali. Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Mas cinta Adek!"


"Mas Azzam, hiks apa itu serius?"


"Iya sangat serius, mana jawabannya?"


"Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah!"


"Allahu Akbar, terima kasih ya Allah. Dek, terima kasih banyak mau menunggu Mas selama ini. Sungguh Mas cinta Adek!"


"Alhamdulillah ya Allah atas segala kuasa-Mu hamba mendapatkan Masku. Bahkan jika Adek suruh menunggu seumur hidup Adek akan lakukan. Adek sangat senang Mas, ya Allah ini sungguh mengharukan."


Mahira menangis tersedu-sedu dalam dekapan Azzam. Demi seluruh alam ia begitu terharu telah menerima kebahagiaannya hari ini. Setelah tiga tahun lamanya kini ungkapan cinta telah terbayar. Masya Allah, sungguh dia begitu kagum pada Azzam walau lama terbalas. Mahira tidak pernah menyangka bahwa penantian cinta terbayar manis.


Kini lembaran baru penuh cinta akan di tulis merdu. Hanya ada Azzam, Mahira serta anaknsk manis. Atas segala kuasa miyni mereka telah bahagia menerima berkat cinta dari sang kuasa. Atas semua cinta kini Mahira tidak akan pernah bisa lupa hari bersejarah ini.


Azzam tersenyum teduh membuat Mahira senang. Kini ia begitu terharu telah menyatakan cinta. Walau segala perhatian terlabuh, tetapi cinta tidak pernah terucap. Kini semua telah lengkap karena bisa mengatakan cinta. Azzam telah membuka lembaran baru bersama Mahira demi rumah tangga sakinah mawadah warahmah.


Ya Allah, atas segala Dzat ia memohon agar berkenan selalu mencurahkan kebahagiaan. Azzam begitu senang telah menerima hari penuh cinta dari Sang Khaliq. Tidak akan pernah lupa dihari bersejarah di mana sukses mengungkapkan rasa. Dan kini semua telah terbuka dengan segala cinta. Azzam tidak akan pernah bisa mengingkari betapa bersyukurnya telah menerima ini semua.


"***๐Ÿ‚๐Ÿ’ž๐Ÿ‚***"


Khumaira merasa begitu sakit luar biasa merasakan kontraksi. Dia cengkeram erat tangan besar Aziz dengan napas tersengal-sengal. Ia tidak mampu menjabarkan betapa sakit melahirkan anak keempatnya. Khumaira ingat jikalau ini bukan waktunya melahirkan.


Tadi tepatnya pukul empat pagi Khumaira mengalami kontraksi. Air ketuban keluar di mana kandungan baru masuk Minggu ke 36.ย  Sontak saja Suaminya siaga membawa ke rumah sakit. Bersyukur Alhamdulillah ada Ibunya di sini sehingga bisa menjaga anak-anak yang tidur. Khumaira begitu kesakitan menerima kontraksi ini.


Aziz panik tentu saja pasalnya nanti pagi jam sembilan baru memeriksakan kandungan Khumaira. Kini sudah setengah jam Istrinya berjuang keras melahirkan anaknya. Dia terus berdoa setiap Istrinya mengejan mengeluarkan buah hatinya. Ia tidak sanggup rasanya melihat wanitanya begitu tersiksa. Aziz bahkan terus membisikan kata-kata cinta dan doa pada Allah minta segala perlindungan.


Awalnya Aziz begitu cerewet dengan kata-kata aneh. Tetapi, tidak bertahan lama sehingga membuatnya harus merasa sakit. Sakit dalam artian melihat Khumaira terus mengejan mengeluarkan sang buah hati. Segala doa ia labuhkan supaya Allah berkenan lekas mengabulkan terlahirnya si kecil. Aziz tidak bisa berkata apa-apa selain rasa paniknya.


"Mas, ughhhh enghhhh aku hiks ya Allah, arghhhhhhh."


"Yang kuat, Dek ada Mas selalu menyemangati Adek. Ya Allah, berikan kuasa-Mu supaya Istriku lekas melahirkan."


"Okhhh, Mas ini sakit arghhhhhhh hiks sakit. Ya Allah, enghhhh ughhh. Mas enghhhh sakit akhhh sakit hiks, sakit. Ya Allah, arghhhhhhh!"


"Hiks Mas sakit, ya Allah hiks. Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah. Ughhhh sakit arghhhhhhh eemmhhhh enghhhh akhhhh. Mas enghhhh akhhhh. Hiks ya Allah erghhhh enghhhh!"


"Yang kuat jangan menangis Mas mohon. Berjuanglah karena Mas begitu mencintai Adek. Jangan lemah nanti jelek kayak bebek lalu Mas jelek karena panik terlalu. Oh ya Allah, wajah ganteng Mas nanti jelek, Dek. Ayo semangat berjuang Sayangku! Semoga anak kali ini jadi personil Adek. Nanti kita tanding adu kerupawanan!"


"Arghhhhh Mas jangan kumat akhhhh. Ughhhh enghhhh Ya Allah arghhhhhhh eemmhhhh. Hiks enghhhh akhhhh enghhhh."


Hingga akhirnya semua terbalas ketika si kecil sudah lahir. Setelah berjuang kurang lebih satu jam akhirnya terlahir juga. Aziz langsung sujud syukur telah datangnya si kecil dalam dunia. Dirinya cukup la sujud syukur setelah mendengar Dedek bayi lahir selamat. Usai melakukan itu Aziz langsung menerima buah hatinya masih berlumur darah.


Dengan hati-hati Aziz meraih anaknya lalu mendekap hati-hati. Di rasa sudah cukup pas ia berdoa sebelumย  Adzan lalu mengadzani si kecil. Setiap lafadz adzan air mata terus berjatuhan karena rasa haru. Setelah selesai adzan dirinya berdoa lalu melakukan Iqamah.


Aziz menangis haru akhirnya selesai Adzan dan Iqomah. Dia ciumi wajah anaknya sebelum memberikan pada Khumaira. Ia tersenyum manis di saat Istrinya mendekap anaknya. Kini Aziz duduk di samping sembari membelai pipi si kecil.


Rasa sakit yang diterima berkali-kali lipat terbayar telah mendengar tangisan si kecil. Khumaira menangis haru akhirnya bisa mendengar tangis anaknya dan rasa sakit itu sirna berkat si kecil. Tangis semakin haru mendengar Aziz mengadzani dan meniqamahi Dedek bayi. Matanya tambah panas melihat Suaminya menciumi wajah si kecil begitu lembut. Sungguh Khumaira begitu beruntung mendapatkan Aziz dalam hidupnya.


Hingga akhirnya si kecil berada dalam dekapan Khumaira. Dengan penuh cinta ia ciumi kepala sang anak seraya mengusap punggung kecil. Pantas sangat sakit karena Dedek bayi tampak besar. Mungkin sekitar 2-3 kg berat si kecil dan lagi anaknya cukup tinggi. Ya Allah, haru sekali sampai dirinya tidak mampu berkata banyak.


Di rasa cukup Dedek bayi telah pindah tangan dan siap untuk di mandikan. Khumaira merasa sakit karena ia harus berjuang mengeluarkan plasenta di kecil. Walau tidak seberat mengeluarkan anaknya. Kini proses persalinan menjadi lebih indah karena Aziz sangat romantis tidak gila seperti dulu.


"Terima kasih Sayangku telah melahirkan anak sempurna. Mas sangat mencintai Adek karena Allah."


"Sama-sama Mas, emh Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah."


"Adek adalah pelita sekaligus sinar Surya bagi, Mas. Adek adalah Bidadari surganya Mas. Atas segala cinta Mas sangat mencintai Adek karena Allah."


"Mas adalah sinar matahari yang selalu bersinar di hati. Mas adalah raja di hati Adek dan Mas pelita dalam kegelapan. Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah."


Aziz menciumi kening Khumaira setelah berhasil menyelesaikan semua. Dia begitu terharu Allah telah berkenan melindungi Istri dan anaknya. kini ia begitu bangga bisa memiliki Istrinya walau didapat. Penuh perjuangan. Kini Aziz berharap semoga bisa mengasuh si kecil penuh cinta seperti anaknsk sebelumnya.


Khumaira tidak pernah menyangka bisa mengandung tiga anak dari Aziz. Tiga anak rupawan yang sangat manis walau sikap mirip sekali seperti sang Ayah. Kini harapan terbesarnya semoga kelak keempat anaknya bisa jadi anak-anak sukses senantiasa taat pada Allah. Tiada daya upaya Khumaira pinta selain harapan kesuksesan dunia akhirat untuk anak-anaknya.


%**๐Ÿ‚๐Ÿ๐Ÿ‚**%


Bagai bunga yang sangat manis itulah yang kurasakan saat ini. Lihat anakku sangat tampan pastinya sepertiku. Setelah melakukan tahnik aku ciumi pipi anakku sayang yang mungil. Hingga akhirnya aku serahkan Dedek bayi pada Istriku. Lihatlah betapa bahagianya Istriku menerima si kecil dalam dekapannya.


Kalian tahu Istriku ini begitu indah lantaran setelah mandi besar wiladah meminta pakai baju dan hijab syar'i. Istriku begitu menjaga auratnya bahkan tidak pernah segan menutup semua walau sedikit saja. Tetapi, apa daya Istriku begitu gamblang menunjukkan lekuk tubuhnya padaku.


Itulah seorang wanita mulia menjaga aurat di depan publik bahkan tidak pernah menunjukan lekuk tubuh pada khalayak umum. Wanitaku begitu sempurna jika di luar begitu rapat memakai hijab dan pakaian syar'i. Kalau di rumah tidak segan menggerai rambut atau menunjukan auratnya hanya untuk diriku seorang.


Masya Allah, atas segala kuasa-Nya hamba begitu bersyukur karena Allah memberikan bidadari tanpa sayap seperti Dek Syafa. Kini segala cinta telah tersiar oleh sebuah kebahagiaan dari sang Khaliq. Hamba begitu bahagia telah menerima takdir dari-Mu ya Allah.


Anakku yang tampan telah menyusu untuk pertama kali. Ya Allah, senang sekali melihat Dedek Zavi minum asi semangat. Pasti haus sekali dirimu, Nak. Melihat putraku begitu hamba begitu bahagia ya Allah. Melihat Dedek semangat menyusu sangat manis. Kini aku begitu senang melihat Dedek Zavi sangat sehat.


Kini nama Zaviyar telah tersemat pada si kecil. Nama lengkap anakku sayang adalah Muhammad Zaviyar Gilbert Alfiansyah. Nama yang sangat lama aku persiapkan untuk si kecil. Bahkan aku juga sudah menyiapkan gelang dan kalung untuk anakku ini.


Dari gelang dan kalung aku siapkan ukiran nama Zaviyar. Indah sekali bukan dan akan aku pakaian nanti. Intinya anakku ini begitu manis dan tentunya sangat tampan. Sudah ku tebak bahwa si kecil laki-laki karena bentuk perut Istriku. Dan benar adanya sewaktu periksa jenis kelamin si kecil laki-laki.


Ngomong-ngomong keluarga Dek Syafa baru sampai dan tiga anakku sudah datang. Kini tinggal Abah, Ummi dan yang lainnya akan menyusul. Lihat mereka sangat gemas terutama Dedek FaaFaa.


Untuk Kak Ridwan dan kak Mumtaaz juga sama senangnya. Bahkan anak-anak begitu manis berebut minta dekapan hangat dariku. Mereka juga berebut minta ciuman Umi dan mencium Dedek Zavi.


Rasanya senang sekali melihat mereka sangat aktif. Rasanya lega Ketiga Kakak rupawan sangat menyayangi Dedek Zavi. Bahkan ketiganya begitu senang atas kehadiran si kecil. Tidak ayal membuat si Dedek bayi risi sampai menangis akibat di cubit gemas.


Lihat Dek Syafa sampai mengusap rambut mereka lalu meminta diam. Maklum saja anak-anak kalau Umi sudah bicara tegas bakal nurut heran deh. Walau usil, nakal dan jahil mereka langsung diam jika Umi bertindak. Wajar saja kan Dek Syafa begitu dihormati dan sangat disayangi anak-anak rupawan.


Ba'da shalat Dzuhur hal manis terjadi keluargaku datang. Mereka memberi salam lalu memberi selamat pada kami. Tentu saja kami senang sekali dan lihat Ummi langsung menyerobot Dedek Zavi sedang merengut lucu.


Sangking gemas mereka selalu memberikan ciuman dan pujian Masya Allah pada Dedek ganteng. Wajar sih secara Ayahnya begitu tampan sehingga banyak yang cinta.


Anakku sayang pada akhirnya berada dalam dekapanku. Jadi si kecil harus terima di serobot sana-sini sampai pusing. Alhasil anakku jadi boneka dadakan yang direbut banyak orang.


Anehnya anakku diam tidak cengeng walau akan menangis jika haus. Ampun, apa nanti anakku menjelma sebagai kulkas berjalan? Semoga saja anakku ramah, supel, riang dan hangat tidak sepertiku dingin.


Lupakan itu kini waktu terus bergulir tidak terasa sudah memasuki tengah malam. Dedek FaaFaa, Kakak Ridwan dan kakak Mumtaaz sudah tidur sedangkan si kecil belum bobok masih agak rewel minta asi.


Sebagai Suami siap siaga tentu saja aku temani Istriku begadang 24 jam non-stop. Tidak apa karena ini tugas seorang Suami. Maka sebisa mungkin aku melakukan hal demikian.


Aku duduk di tepi brankas lalu meraih kepala istriku untuk bersandar. Sementara tangan kananku sibuk menoel pipi gembul Dedek Zavi. Ya Allah gemesin sekali anakku ini.


"Mas, lucu sekali ya anak kita."


"Iya, lihat matanya hitam arang seperti almarhum Bapak."


Aku langsung bungkam saat sadar salah bicara. Sungguh Istriku ini sensitif jika menyangkut almarhum. Istriku tidak segan menangis jika bersedih atau rindu beliau. Ya Allah, maafkan hamba membuat Istri bersedih.


"Dek, maafkan Mas."


"Tidak apa Mas, hehehe Adek juga sangat senang sekali. Alhamdulillah, netra Dedek gemes mirip almarhum. Jadi Adek senang sekali jika rindu beliau melihat mata arang si kecil."


Aku tersenyum mendengar balasan Dek Syafa yang manis. Aku dekap tubuhnya bersama si kecil. Dengan cinta aku ciumi pelipis, ubun-ubun dan kening wanitaku. Ya Allah hamba senang sekali menerima ini semua.


"Mas juga begitu, Dek terima kasih."


"Sama-sama, Mas."


"Mas sangat mencintai Adek karena Allah."


"Adek juga mencintai Mas karena Allah."


"Maha Besar Allah telah berkenan memberikan kita segala kebahagiaan. Mas begitu bersyukur atas kebesaran Allah memberikan anugrah terindah."


"Maha Besar Allah senantiasa berkenan mengabulkan permohonan hamba-Nya. Adek juga sangat bersyukur Allah telah berkenan memberikan anugerah terindah."


"Ya Allah, senang rasanya. Mas begitu mencintai Adek dan anak-anak sepenuh hati."


"Kami juga sangat mencintai Ayah sepenuh hati."


"Berikan Mas ciuman!"


"Emuch."


Aku tersenyum manis saat Dek Syafa mencium pipiku. Malam romantis penuh cinta telah terlebih indah. Kami habiskan malam ini sembari menggenggam tangan. Kita bahkan tidak segan melakukan ciuman sayang. Aku begitu terharu menerima ciuman dan cintanya.


Karena senang aku mendekap tubuh Istri dan anakku. Bahkan kami tidak segan membalas ungkapan cinta. Bahkan kami tidak segan memberi sejuta keromantisan. Terasa dunia milik berdua. Yah walau ada Dedek Zavi dan tiga anakku yang tertidur pulas.


Kan kami hanya berdua lagian Dedek Zavi belum tahu apa-apa, eyak. Masih bayi baru keluar masak iya tahu Ayah dan Uminya ciuman. Matanya yang suci maafkan kami menodainya. Hehehehe, maafkan Ayah ya Nak mesum di waktu kurang tepat.


Mungkin karena lelah aku pinta Dek Syafa tidur bersandar pada dadaku. Benar saja kami akhirnya tidur setelah berdoa sebelum tidur. Untuk Dedek kecil tidur di boks dari pada terjadi apa-apa. Maafkan Ayah mau memonopoli Umi dulu, hehehehe.


Kalau Dedek nangis Umi milik Dedek seutuhnya. Kini biarkan Ayah yang mendapatkan Umi. Biarkan Ayah senang-senang dengan Umi mumpung tiga rusuh belum bangun. Bisa gawat jika tiga rusuh bangun Umi di monopoli kakak-kakak rupawan. Lalu jika Dedek Zavi bangun pasti hm minta susu. Lupakan itu kini saatnya Ayah yang memonopoli Umi.


Hahaha, tenang tidak akan ada gitu-gitu Istriku baru suci 40 hari kemudian. Nasib puasa lagi dan lagi. Sabar ya Aziz karena orang sabar tambah rupawan overdose. Orang sabar tambah mapan, ganteng terlalu sepertimu. Hahaha, ini katanya mau tidur kok masih melucu. Abaikan karena mahkluk tampan bobok dulu sambil bermanja ria bersama Dek Syafa!


Cut .....!!!!


Maaf belum tak koreksi dan edit jadi kalau banyak typo bertebaran harap maklum.


Rose Bantul overdose jadi mata kabur, pikiran terbagi plus dalam keadaan kurang sehat.


Alhasil jika aneh, garing, typo plus banyak kata aneh dan kurang nyambung maklumi.


Hihihi.


Tunggu, ini aku kasih bonus Pick Abi Azzam dan Mama Mahira serta Dedek Zavi yang ganteng maksimal.




I love you all.


See you again!


Rose!