
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!
Ikhlaskan perpisahan Mas Azzam dan Dek Syafa?
Untuk Mas Aziz???
Kalau Kalian ngga suka pasangan Mas Aziz dan Dek Syafa pergi aja ngga usah baca.
Kalian mau hujat atau bilang story Ini mudah di tebak WHATEVER.
Mungkin kalian sudah dapat spoiler dari sequel anak-anak Abi Ayah dan Umi. Jadi????
Kalian tahu story Ini milik siapa?
Tentu saja milik Ayah dan Umi.
Ya Allah, bukannya Rose sudah pernah bilang ini konflik akhir dan tentunya konflik yang menguji cinta mereka.
Bertahan atau menyerah!
Sudah dapat kuncinya Dek Syafa bakal sama siapa bukan?
Jadi untuk fans Abi dan Umi maafkan Rose. Maaf dan sekadar pemberitahuan Abi bakal punya pengganti wanita hebat yang Insya Allah kayak Dek Syafa kuat.
****////\\****
Aku tatap rembulan penuh suka dan duka. Satu bulan terlewati begitu sempurna tanpa ada ikatan pernikahan. Aku sudah lepas dari Mas Azzam, pasalnya kami sudah bercerai. Yah walau banyak kendala di pengadilan kami harus mengatakan ini itu. Bahkan sampai pusing sendiri mengurus sebagi Perpisahan.
Untuk Mas Aziz, aku masih menunggu masa iddah berakhir. Kenapa aku menunggu masa Iddah jelas bukan aku takut ada kehidupan baru dalam rahimku. Bukan dalam Islam sudah digambarkan bagaimana adab pisah dan masa Iddah? Yah di sini aku yang salah karena aku yang meminta cerai pada Mas Aziz. Sementara sebelum kami pisah melakukan hubungan intim.
Mas Aziz memang belum mentalak diriku. Lalu kenapa ada masa Iddah? Lucu bukan? Bukannya masa Iddah itu saat sudah jadi janda atau saat sudah bercerai? Atau masa di mana seorang wanita baru di talak?
Maka aku jelaskan sedikit tentang itu semua. Kami sudah memutuskan berpisah di malam terakhir bahkan Mas Aziz bilang walau dalam hati hubungan telah selesai. Walau tidak ada kata pisah terucap, tetapi sudah jelas kami sudah mengakhiri hubungan kami terlebih saat pagi di mana Masku pergi. Itu artinya kita memang berpisah walau masih sah belum ada surat cerai dari pengadilan. Maka dari itu sebelum surat itu datang aku putuskan untuk menunggu sampai batas waktu berakhir.
Aku tatap lamat-lamat cincin pernikahan kami. Cincin ini akan aku kembalikan setelah Mas Aziz kembali dari Singapura. Jadi cincin ini akan kembali pada pemiliknya setelah menunggu lima tahun. Ya Allah, lama sekali aku harus bertemu kembali padanya? Aku ini kenapa ya Allah? Kenapa bisa selalu merindukan dirinya? Lupakan itu pikiran hal lain anggap saja tidak pernah ingat m
Ngomong-ngomong, apa kabar Mas Azzam? Apa dia sehat tidak sakit usai perpisahan kami? Apa Mas sehat di sana? Apa Mas makan serta tidur dengan nyenyak? Apa Mas tidak jatuh sakit lagi?
Ya Allah, maafkan aku berpisah dengan Mas Azzam di kala sakit. Semoga engkau lekas sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa. Doaku selalu mengiringi langkah, Mas. Semoga ada wanita yang mampu menjaga Mas dengan sepenuh hati.
Walau aku sangat tahu dulu saat kita bersama ketika Mas tertekan atau merasa gelisah pasti sulit makan atau istirahat. Aku harap kebiasaan Mas Azzam tidak terulang seperti dulu. Jujur sangat takut jika Mas sakit akibat terlalu banyak pikiran. Sekali lagi maafkan aku.
Tidak terasa 6 minggu berlalu begitu saja tanpa kehadiranmu, Mas. Apa kabar? Apa Mas rindu kami? Adek selalu merindukan, Mas di setiap waktu. Tentu Adek masih bisa merindukan Mas, pasalnya Mas masih sah menjadi Suami, Adek.
Mas Aziz, apa di Singapura sana engkau baik-baik saja? Kami rindu Mas yang narsis. Hariku kosong, tetapi aku selalu berusaha keras terlihat tegar. Demi anak-anak Adek harus terlihat kuat supaya mereka bahagia. Walau nyatanya Adek sangat tersiksa penuh rindu. Adek tidak kuat entahlah yang jelas ingin segera bertemu atau mendekap tubuh, Mas. Seperti ada magnet yang selalu menarik Adek agar selalu merindukan, Mas.
"Umi," panggil Dedek Mumtaaz sambil merajuk.
"Ada apa, anak ganteng?"
Aku paham kenapa Dedek Mumtaaz merajuk manja. Pasti dia sangat merindukan Ayahnya. Sudah lama anakku ini merajuk ingin mengobrol bersama Ayahnya. Namun, sampai sekarang Mas Aziz tidak menelepon kami. Alhasil kedua anakku terkhusus Dedek Mumtaaz menangis keras.
Apa Mas tahu anak-anak selalu menangis karena rindu? Kapan Mas menelepon kami? Selain dua Putraku tentu ada Adek yang sangat rindu. Apa aku terlihat jahat telah merindukan Suamiku? Rasanya tidak karena kami masih terikat hubungan suci. Walau sebentar lagi masa Iddah berakhir.
Setelah Dedek Mumtaaz mendapat kata penenang akhirnya anakku pergi ke kamar. Anakku ini akan bermain pada Tole Ridwan. Sungguh Dedek Mumtaaz itu sangat mencintai Kakak Ridwan. Melihat mereka bermain serta bergurau hati sudah hangat. Apa lagi melihat tawa kedua anakku hati jadi lega.
Tidak terasa kurang 1 setengah bulan lagi masa iddah Adek selesai. Maka aku akan mengurus surat perpisahan, setelah itu kita resmi bercerai. Tidak ada hubungan apa pun antara kami dan tidak ada bahtera cinta. Hanya ada kenangan manis selaku hinggap dalam hati.
Aku menunggu masa iddah cepat selesai agar lekas berpisah dengan Mas Aziz. Aku menunggu lama tentang itu semua. Aku ingin bebas dari keduanya supaya tidak merasakan sakit luar biasa. Aku tidak mau hidup di antara keduanya. Biarkan aku pergi penuh kebahagiaan bersama Kakak Ridwan dan Dedek Mumtaaz.
Ugh, lagi-lagi perutku terasa mual karena sakit? Iya tujuh hari ini aku meriang tanpa kuberi tahu keluargaku. Aku memang aneh belakangan ini seperti badan terasa lemah. Kepala terasa pusing dan perut seperti di aduk-aduk. Jika aku simpulkan ini gejala wanita mengandung.
Ya Allah, jangan bilang aku benar-benar mengandung? Tunggu dulu, 6 minggu ini aku belum haid. Tidak mungkin pasti sebentar lagi aku haid. Iya aku yakin sebentar lagi aku pasti menstruasi. Tenang jangan panik itu tidak akan terjadi.
Jangan sampai ada kehidupan dalam rahimku. Tolong jangan sampai ada karena aku tidak ingin terikat dengan, Mas Aziz. Aku sudah lelah terikat dengan dua pria. Walau berat aku akui bahwa hati terasa senang. Namun, aku tidak mau ada janin dalam rahimku.
Ya Allah, aku dan Mas Aziz memang menanti buah hati kedua kami. Namun, bukan waktunya untuk kedatangan anak yang kami nantikan. Ya Allah, tolong jangan sampai aku mengandung. Hamba tidak mau terikat bersama Mas Aziz lalu melukai hati Mas Azzam.
Jika aku mengandung maka perpisahan itu akan sirna. Tidak lagi, aku tidak mau hidup dalam bayangan keduanya. Aku tidak ingin mengandung untuk kali ini. Tolong jangan beri aku kerumitan yang membuat hati sesak. Ya Allah semoga Engkau berkenan mengabulkan permintaan hamba.
Setitik air mata luruh deras membasahi pipi. Apa yang akan terjadi jika aku benar-benar mengandung? Apa aku akan memberitahu dirinya prihal kehamilanku? Kenapa Mas tinggal Aku dalam keadaan seperti ini?
Mas Aziz, apa benar aku sedang mengandung benihmu? Apa yang harus kulakukan jika itu benar terjadi? Apa Adek sanggup terikat kembali padamu lalu menyakiti hati mas Azzam? Apa kita sanggup bahagia di atas penderitaan Mas Azzam yang malang?
Tidak aku tidak akan sanggup menyakiti Mas Azzam. Aku mohon ya Allah jangan buat aku terikat pada Mas Aziz. Cukup kami harus pisah supaya tidak ada luka. Aku percaya pasti bisa walau nyatanya tidak bisa. Takdir telah tertulis aku tidak sanggup jikalau ingat semua itu.
Pandanganku terasa berputar membuat pandangan semakin kelabu. Ya Allah, kenapa aku seperti ini? Aku berusaha menggapai tempat duduk. Namun, semua terasa berat saat tubuhku terasa begitu lemah. Jangan begini aku tidak kuat menerimanya ya Allah.
Bruk
"Mbak Khumaira!" pekik Laila.
Aku masih terjaga saat Nduk Laila menepuk pipiku. Rasanya menyiksa sampai aku tidak tahan. Kesadaran menipis dan semuanya gelap tanpa ada cahaya kehidupan.
"Mbak, ya Allah. Tolong ....!!!" teriak Laila khawatir melihat Khumaira tidak berdaya.
Mendengar teriakan Laila sontak Ridwan dan Mumtaaz berlari ke arah dapur. Dua anak kecil berparas rupawan terbelalak melihat Uminya pingsan. Dengan segera Ridwan dan Mumtaaz mendekap erat tubuh Khumaira sembari menangis histeris.
Mendengar tangisan kedua ponakannya, Laila merasa sedih. Dia menenangkan Ridwan dan Mumtaaz agar diam jangan menangis. Dia bicara bahwa Umi baik-baik saja. Laila cukup bersyukur dua anak tampan diam walau ada isakan.
Dari pada menangis Laila dan Ridwan putuskan membawa Umi ke kamar. dldengan hati-hati mereka memapah Khumaira yang pingsan. Dengan usaha penuh mereka membawa Umi di kamar. Pada akhirnya Laila, Ridwan dan Mumtaaz berhasil membawa Khumaira untuk rebahan di ranjang.
"Bibi ambil peralatan untuk memeriksa, Umi. Anak-anak jangan nakal!"
Laila berlalu setelah dua keponakan mengaguk setuju. Semoga saja khumaira baik-baik saja tanpa ada sakit. Dia sangat khawatir melihat Kakaknya sakit. Jika Khumaira sakit pasti dua keponakannya menangis sedih. Kalau menangis histeris pasti Mumtaaz minta Aziz. Jadi, mereka berusaha tidak membuat Mumtaaz atau Ridwan bersedih agar tidak meraung-raung minta Ayahnya.
Mumtaaz langsung duduk di samping Uminya. Tangan kecil Mumtaaz menggenggam tangan Khumaira erat. Dia kembali menangis sesegukan melihat umi terkulai lemah. Mumtaaz takut Uminya kenapa-napa, pasalnya sampai sekarang Ayah belum pulang
Ridwan juga menggenggam tangan Uminya. Dia menangis tersedu melihat Khumaira tampak pucat. Melihat Mumtaaz menangis Ridwan beranjak untuk menenangkan sang Adik. Dengan sayang dia usap rambut tebal Adiknya seraya berkata : Umi, akan baik-baik saja, Dik. Jangan menangis nanti kita tidak tampan lagi.
Mendengar perkataan Ridwan otomatis Mumtaaz diam. Dia tidak mau jadi jelek makanya langsung diam. Namun, masih keluar isakan sedih. Bocah ini begitu takut jika Uminya kenapa-napa. Kalau begini Mumtaaz ingin berjumpa Aziz untuk memberitahu Umi sakit.
****////\\****
Keluarga Sholikhin menunduk dalam menyembunyikan wajah. Mereka menitikan air mata tatkala tahu kondisi Khumaira. Hati keluarga Sholikhin terasa tercekat menerima kenyataan pahit sekaligus haru.
Namun, ada hal yang ditakutkan yaitu prihal dia hati. Terkhusus hati pria teduh yang sangat mencintai anak mereka. Lalu ada hati pastinya akan berbunga walau ada kesan pilu. Semua berat tidak tega menghancurkan perasaan. Hanya saja inilah garis takdir yang sangat rumit. Harus terima atas apa yang Allah kehendaki.
Ridwan dan Mumtaaz tersenyum lebar melihat Khumaira tersadar. Dua anak tampan ini langsung mengucap Alhamdulillah, Umi sadar. Baik Ridwan atau Mumtaaz begitu senang mengetahui akan ada Adik baru. Tentu saja bahagia karena mereka akan memiliki Adek yang akan selalu dijaga.
Khumaira tersenyum manis ketika anak-anak merengkuh erat tubuhnya. Dia yang pusing jadi tenang mendapat perlakuan hangat dua Putranya. Apa lagi mendapat senyum manis Ridwan dan Mumtaaz sakit terasa hilang. Dengan sayang Khumaira mengecup pelipis anak-anaknya.
"Umi, tahu tidak nanti kita kedatangan personil baru!" riang Mumtaaz di amini Ridwan.
Khumaira menyengit mendengar perkataan Mumtaaz. Personil baru? Siapa? Dia mendongak menatap keluarganya berniat minta penjelasan. Namun, mereka malah berpaling muka tanpa mau menjawab. Khumaira jadi bingung apa personil baru itu adalah Dzaki?
"Siapa personil baru itu, Dedek ganteng?" tanya Khumaira sembari mencium pipi gembul Mumtaaz dan Ridwan.
Mumtaaz dan Ridwan duduk lalu tangan kecil mereka mengusap perut Uminya. Dengan senyum polos keduanya terus mengusap perut rata Khumaira. Keta Bibinya calon Dedek bayi masih ada di perut Umi. Maka keduanya sangat menanti kedatangan si kecil yang siap jadi Adik baru.
Khumaira menegang menangkap penjelasan Ridwan dan Mumtaaz. Tanpa sadar tangannya ikut mengusap perut ratanya. Air mata luruh deras mengingat Aziz dan ia sangat menanti kedatangan calon anaknya. Tadi hati Khumaira ragu, tetapi sekarang terlihat begitu bahagia.
Hati Khumaira campur aduk mengetahui dirinya benar-benar mengandung. Dia melihat Laila yang mengaguk setuju membenarkan bahwa ia hamil. Padahal tadi Khumaira ingin menolak, namun sirna ketika mendengar kabar bahagia. Harapan 2 tahun untuk mendapat momongan akhirnya terwujud.
"Beri tahu Tole Aziz perihal kehamilanmu, Nduk. Tole Aziz berhak tahu kabar bahagia ini. Kalian menanti kedatangan anak ini bukan? Sekarang telepon Masmu katakan semua," pungkas Maryam sembari mengusap puncak kepala Khumaira.
Khumaira langsung tersenyum semangat mendengar penuturan Maryam. Dia meminta anak-anak untuk melepas pelukan. Ajaib Suaminya menelepon dirinya terlebih dahulu. Apa Aziz begitu peka akan kebahagiaannya? Walau ini no baru seperti no luar Negeri Khumaira yakin ini Suaminya. Hati seorang Istri tidak akan pernah salah akan Suaminya.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh."
"Apa kabar, Mas?"
Khumaira bergetar mendengar suara Aziz untuk pertama kali setelah 6 minggu tidak terdengar. Air mata luruh deras merasakan kebahagiaan melimpah. Sungguh ia sangat bahagia menerima kehadiran buah hati di dalam rahimnya. Khumaira tidak sabar menyampaikan kabar ini pada Aziz.
"Alhamdulillah baik, Mbak. Bagaimana kabar anak-anak? Maaf baru memberi kabar. Aziz takut mengganggu kebersamaan kalian," sahut Aziz di seberang sana terdengar dingin.
Khumaira tercengang mendengar jawaban Aziz. Apa tadi kenapa Suaminya memanggil Mbak? Kenapa Aziz tidak menanyakan kabarnya? Lalu apa itu kenapa Suaminya snagat dingin? Rasa sakit dengan air mata kesedihan luruh deras. Hati Khumaira begitu sesak mengingat perkataan Aziz.
Apa yang dia pikirkan prihal kehamilannya? Khumaira menatap dua Putranya yang bertanya siapa yang menelepon? Pedih sekali sampai ia harus berbohong pada dua anaknya yang menelepon orang asing. Dengan tangan bergetar dia mengusap perutnya. Tidak boleh lemah Khumaira, pasalnya ada kehidupan baru menanti perjuangannu.
"Alhamdulillah, saya tutup dulu. Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."
Khumaira mendekap erat Ridwan dan Mumtaaz seraya menangis. Apa yang dia pikirkan sehingga mau kembali pada Aziz? Jika kembali pada Suaminya maka ia kembali pada bayangan keduanya. Bersyukur belum memberi tahu perihal kehamilannya. Jika tidak mungkin semua akan sia-sia ketegasan waktu itu. Biarkan Khumaira merawat anak ini sendiri tanpa Aziz.
Ridwan, Mumtaaz dan yang lainnya terdiam sepi melihat Khumaira menangis dalam diam. Sejatinya siapa yang menelepon napi berhasil mengguncang emosi Ibu hamil ini? Mereka hanya diam seolah menanti kebenaran itu. Ridwan dan Mumtaaz jadi merasa was-was pada keadaan Uminya. Semoga saja penelpon bukan berbuat jahat atau hal lainnya.
****////\\****
Khumaira meminta Ridwan dan Mumtaaz untuk merahasiakan akan mendapat Adik baru dari Azzam dan keluarga Ayahnya. Ia bersyukur anak-anak janji tidak akan memberitahu perihal akan punya Adik baru.bcukup jahat hanya saja dirinya hanya ingin terbebas dari masa itu. Khumaira hanya ingin kuat demi anak-anak.
Setelah anak-anak tidur kini Khumaira berada di kamar Ibunya sedang di interogasi. Dia tidak takut jikalau anak-anak dengar perdebatan mereka. Jujur saja ia tahu apa yang akan dibicarakan kedua orangtuanya. Selagi diam Khumaira berpikir atas semua yang terjadi.
"Nduk, kamu tidak mau memberi tahu perihal kehamilanmu itu pada, Tole Aziz?" hardik Sholikhin.
"Aku akan menjaganya sendiri tanpa, Mas Aziz. Aku akan membesarkan anakku ini tanpa Ayahnya. Aku tidak ingin terikat kembali bersama Mas Aziz. Aku sudah memutuskan pergi dari keduanya maka aku tetap pada pendirianku!"
"Nduk Maira, ingat anak itu butuh Ayahnya. Mungkin ini takdir yang di kehendaki oleh Allah."
Sholikhin berusaha membujuk Khumaira. Keputusan anaknya memang tepat untuk berpiaah dari keduanya. Namun, jika memisahkan Ayah dan anak itu tidak benar. Sungguh Sholikhin ingin kebahagiaan mengiring langkah kaki Khumaira.
"Tidak, Pak. Aku mohon biarkan ansk ini tumbuh dalam dekapanku. Aku tidak memerlukan Mas Aziz untuk meminta pertanggung jawaban. Biarkan aku besarkan anakku sendiri. Biarkan aku pergi dari dua pria yang mempermainkan hatiku. Sungguh, Pak ... Maria berusaha keras lepas dari keduanya. Maka dari itu aku tidak membutuhkan tanggung jawabnya."
"Nduk Maira," lirih Sholikhin dan Maryam.
Kedua orang tua Khumaira terdiam sepi merutuki keras kepala Putrinya. Mereka sadar sedari awal khumaira sudah memutuskan hal benar. Namun, kali ini salah dengan menyembunyikan anak dari Ayah biologis. Sholikhin dan Maryam sangatlah tahu anak kesayangan mereka ini jika sudah emosi ya keras kepala di tambah mengandung. Jadi bisa bayangkan betapa keras putri mereka ini saat marah.
"Nduk, pikirkan lagi. Kalian batal berpisah lantaran ada anak dalam kandunganmu. Sekarang beri tahu Tole Aziz perihal kehamilanmu. Tolong jangan keras kepala, Nak."
Maryam ingin berusaha menyadarkan Khumaira. Semoga saja Putrinya mau menuruti perkataan mereka. Sebisa mungkin Ibu tiga anak ini terus berusaha agar sang Putri sadar. Sungguh Maryam tidak ingin khumaira tersesat dalam penyesalan.
Khumaira menunduk tidak berani menatap ke-dua orang tuanya. Benar adanya'ia memang keras kepala dan juga egois. Itulah keburukan yang ia miliki dibalik sikap teduhnya. Jika sudah keras kepala atau ego naik hanya Aziz yang bisa menghadapinya. Kalau dengan orang tuanya tidak ayal Khumaira selalu patuh, taat dan selalu tunduk akan perintah Keduanya.
Ingat awal pernikahan Aziz dan Khumaira dulu? Dia begitu egois dan keras kepala yang terus menerus menyakiti Suaminya. Sekali dalam kasus rumah tangganya sekitar satu tahun lalu ada masalah cukup rumit membuat Khumaira emosi dan memunculkan sikap keras serta egoisme. Hanya saja sikap itu langsung luluh lantak tidak ada berhadapan langsung dengan Aziz. Kalau pawangnya tidak ada siapa yang bisa meredam emosinya?
"Aku tetap akan berpisah dengan Mas Aziz."
"Apa? Kamu gila Khumaira! Ingat kamu sedang mengandung!" bentak Sholikhin tanpa sadar.
Khumaira tersenyum mendengar bentakan Ayahnya. Dia mengusap perutnya dengan derai air mata memilukan. Dia sudah memutuskan segalanya agar hidup tenang tanpa Azzam dan Aziz. Biarkan Khumaira melangkah tanpa ada keduanya.
"Khumaira tetap akan berpisah dengan Mas Aziz. Setelah anakku lahir dan berumur 3 bulan maka Maira akan mengirim surat perpisahan pada Mas Aziz!"
"Astaghfirullahaladzim, eling bahwa itu tidak benar. Istighfar Nduk jangan bertingkah begini, Ibu mohon."
"Maaf."
Khumaira langsung beranjak meninggalkan kamar orang tuanya. Dia akan berjuang sendiri membesarkan anak dalam rahimnya. Dia tidak akan meminta Aziz kembali atau melakukan apa pun. Biarkan langkah kaki Khumaira tetap pada pandirianya.
Sadar apa yang dilakukan tidak ayal membuat Khumaira mundur. Ia tetap mempertahankan keteguhan serta keinginan untuk merahasiakan anak ini. Biarkan saja Aziz tidak tahu yang penting anaknya aman dalam dekapannya. Lalu bagaimana jika Aziz curiga surat perpisahan tidak kunjung datang? Maka Khumaira akan beralasan agar Aziz percaya.
Maryam menangis dalam dekapan Sholikhin. Dia tidak habis pikir kenapa Khumaira tambah keras kepala? Semoga saja Putrinya cepat mendapat hidayah untuk memberi tahu perihal kehamilannya. Maryam tidak mau Khumaira mereka tega memisahkan anak pada sang Ayah.
Sholikhin menatap atas dengan pandangan kosong. Dia memikirkan tentang perasaan Khumaira yang kalut. Pasti anaknya sangat tertekan. Semoga saja khumaira tidak menyesal di kemudian hari. Harapan Sholikhin hanya satu : Putrinya mampu berjuang mendapatkan kebahagiaan. Lalu lekas sadar bahwa anak itu butuh sosok Ayah.
*****/////\\***
Keras kepala ya, Dek Syafa!
Maklum saja Dek Syafa keras kepala juga karena di kuasai emosi.
Apa lagi Dek Syafa sedang mengandung jadi emosi tinggi.
Do'akan saja chap depan Ayah Aziz mu bujuk Umi Syafa biar luluh hatinya setelah itu bakal kembali bersama.
Sekali lagi maklumi sikap Umi Syafa keras kepala. Itu juga karena ia mengandung terutama dalam keadaan emosi akibat Ayah salah bicara.
Maaf juga banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan secara Rose Paling anti edit atau koreksi sebelum publikasi.
Harap maklum ya!