
Uhuk yang menanti Mas Aziz Up.
Tenang Sayangku ini Rose Up, uhui.
Kata Mas Aziz :*Orang sabar tambah rupawan.*
Noh, jadi dengerin omongan orang ganteng. Yup!
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini
๐๐๐๐
*.*.*.*
Khumaira dan Ridwan Shalat di Mushola Rumah Sakit. Keduanya terus berdoa semoga Aziz baik-baik saja. Sementara Mumtaaz di gendong Laila. Di mushola dengan sayang Khumaira menggendong Ridwan karena Putranya menangis histeris usai Shalat. Demi apa rasa panik hinggap di hati khumaira dan Ridwan.
Dirasa cukup Khumairah membawa Ridwan kembali ke depan ruang UGD. Wanita malang ini mengukir senyum kecut saat melihat pintu UGD masih tertutup rapat. Tubuhnya lelah sedari tadi tidak kunjung istirahat. Walau lelah ia berusaha kuat agar tidak tumbang demi dua anaknya. Khumaira akan berjuang demi Aziz serta anak-anak walau keadaannya lelah.
Sudah 1 setengah jam berlalu namun mereka tidak kunjung mendapat informasi tentang kondisi Aziz. Mereka menunggu hasil seraya berdoa demi keselamatan. Semoga Allah memberikan Kuasa-Nya pada Aziz agar tidak terjadi apa-apa.
Keluarga Khumaira semakin sedih mengingat kejadian tragis beberapa tahun yang lalu. Sementara keluarga Suaminya masih dalam perjalananย menuju Rumah Sakit. Khumaira begitu kalut ingin cepat melihat Suaminya. Dia tidak akan sanggup jika Aziz kenapa-napa di dalam sana.
Setelah melihat Uminya Mumtaaz meminta gendong Khumaira. Tangan kecil itu terus menuding Uminya yang sedang memangku Kakaknya. Sudah lama Mumtaaz berada di pangkuan Laila, dan si kecil ingin Umi. Mata bulat besar mirip Khumaira itu terus berkaca-kaca seolah minta gendong.
Khumaira tersenyum melihat Mumtaaz menatapnya. Sebelum meraih anaknya ia menurunkan Ridwan untuk duduk di sampingnya. Dia meminta Laila untuk menyerahkan si kecil. Dan berakhir begini, Ridwan bersandar di bahu dan Mumtaaz berada di pangkuannya. Dua anaknya terlihat lelah begitu pun dengannya. Khumaira harus kuat agar mereka tidak sedih.
Setengah jam kemudian pintu UGD terbuka. Mereka tersenyum saja melihat keluarga pasien langsung menatap minta penjelasan.
"Kalian keluarga pasien?" tanya Dokter bernama Adam jelas tahu jawabannya.
"Iya, kami keluarganya!" tegas Sholikhin.
Khumaira yang lelah memilih mendengarkan. Tubuh terasa kebas memikirkan Suaminya. Semoga Aziz baik-baik saja, Aamiin. Pada akhirnya ia akan bertanya demi menyalurkan rasa khawatirnya.
"Dokter, bagaimana kondisi Suami saya?" tanya Khumaira penasaran mewakili mereka.
2 Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi ( Dr.Sp.OT) serta 1 Dokter Spesialis Saraf ( Dr. Sp.S) saling melempar senyum. Ada beberapa Suster berdiri di belakang 3 Dokter. Dengan lembut Dokter wanita itu menepuk bahu Khumaira.
"Alhamdulillah, Anda tidak perlu khawatir Pasien sudah baik-baik saja. Kami berhasil melakukan operasi dan turut bersyukur tidak ada yang perlu di khawatirkan soal saraf. Semua baik-baik saja hanya tinggal menunggu hasil. Tetapi, Pasien harus melakukan Fisioterapi 2-3 bulan agar memulihkan keadaan. Tunggu pasien akan di pindahkan ke ruang transisi untuk di pantau. Jikalau pasien tidak mengalami komplikasi maka bisa langsung di pindahkan ke ruang perawatan."
Jabar Dokter spesialis Orthopaedi dan Traumatologi dengan tenang. Setelah semua itu Dokter Adam tersenyum tulus pada mereka. Kemudian berlalu bersama rekan-rekanya.
Khumaira dan yang lainnya langsung mengucap takbir. Mereka tersenyum haru akhirnya mendapat kabar baik. Semua yang ada di situ terus bersyukur atas kebesaran Allah. Hingga mereka melihat Aziz dibawa suster ke ruang transisi untuk memantau keadaan.
Suster mendorong brankar menuju ruang transisi. Mereka tersenyum melihat mereka menatap pasien penuh duka. Dengan senyum manis mereka melewati keluarga pasien.
Khumaira membisu tanpa kata begitu pun dengan yang lain. Mereka tidak percaya kondisi Aziz sangat memprihatinkan. Dia melihat Ridwan dan Mumtaaz dengan pandangan kosong. Pasalnya kedua anaknya terpaku seraya menangis dalam diam.ย Khumaira tentu cukup bersyukur Aziz selamat dan berhasil melewati masa kritis. Dengan begini ia akan terus berdoa demi kesembuhan Suaminya.
*.*.*.*
Khumaira tersenyum akhirnya Aziz di bawa ke ruang perawatan. Dia cukup lega melihat Suaminya tidak mengalami komplikasi. Hatinya terasa di remas kuat melihat Aziz penuh perban. Tanpa terasa air mata terus berlinang tanpa mau berhenti karena Khumaira begitu sakit melihat Aziz begini.
Tangan mungilnya terulur untuk mengusap pipi Aziz yang dingin. Mata tajam bisanya menatap Khumaira teduh kini tertutup rapat. Bibir merah muda biasanya memberikan ciuman manis kini berwarna pucat. Tidak ada kehangatan selain kepiluan.
Tepat di jam 7 malam keluarga Aziz datang membesuk. Khumaira menangis dalam dekapan Shafira dikala Umminya datang sembari menangis. Dia mengadu pada kelurga Suaminya betapa terluka Suaminya.
Hasyim sekeluarga berusaha memberikan dukungan pada Khumaira. Walau sejatinya mereka juga rapuh melihat anak mereka terkapar penuh perban. Hati mana yang tidak terluka melihat anak kesayangan terkapar?
Tepat di jam 10 malam keluarga Suaminya kembali melihat Aziz. Khumaira menunduk sedih saat mereka datang dengan pertanyaan. Dia sedih tidak bisa menjaga Suaminya dari marabahaya. Khumaira yang lemah pada akhirnya mendapat dukungan dari mereka untuk kuat demi Aziz dan anak-anak.
Mereka semua (Hasyim dan Sholikin sekeluarga) berniat menginap di rumah sakit untuk memantau kondisi Aziz. Sebelum istirahat keduanya tidak lupa membaca tahlil berasa demi kesembuhan Aziz. Mereka kompak saling mendukung demi pria yang berjuang bangun.
Lain sisi Ridwan dan Mumtaaz tertidur pulas di sofa ruang Vip. Mereka memang memesan ruang terbaik agar Aziz mendapat perawatan intensif dengan kualitas penuh. Lupakan itu kembali pada kedua anak manis yang lelah. Ridwan dan Mumtaaz tidur setelah merasakan lelah seharian penuh tersiksa akan beban hati.
Khumaira melihat dinding melihat sekarang jam setengah 12 malam. Dia memikirkan keluarganya sedang istirahat di Mushola rumah sakit. Di dalam sini hanya ada dia bersama anak-anak serta Suaminya. SungguhKhumaira tidak bisa lepas dari Aziz walau sesaat.
Walau lelah butuh istirahat Khumaira memilih terjaga menjaga anak-anak dan menunggu Aziz bangun. Tepat di tengah malam ia memutuskan untuk shalat tahajud dan hajat. Dalam doa ia Eris meminta kesembuhan Suaminya serta memanjatkan rasa syukur atas kebesaran-Nya.
Usia shalat sunah Khumaira memilih membaca Al-Qur'an satu juz. Jam menunjukkan pukul setengah tiga pagi usai ia membaca Al-Qur'an. Dia mencium lembar Al-Qur'an sebelum menaruh di nakas. Khumaira merasa mengantuk makanya memilih ke kamar kecil membasuh wajah serta membuang air kecil.
Setelah sehari penuh menutup mata akhirnya terbuka. Aziz membuka mata perlahan lalu mengerjap pelan untuk menetralkan pandangan. Dia merasa nyeri pada seluruh tubuh hingga tanpa sengaja mendesis.
Melihat Khumaira menangis membuat Aziz ingin menghapua air mata itu. Namun, apa daya tangan terbalut perban semua. Bahkan rasa sakit menyertainya di bagian tubuh atasnya. Mau bicara saja lidahnya terasa kelu membuat Aziz frustrasi.
Dokter dan Suster datang untuk memeriksa Aziz. Dokter pria terlihat masih muda itu memberikan suntikan pada botol infus.
Khumaira hanya diam ketika Aziz di tangani Dokter. Dia tidak maksud tetapi bersyukur Suaminya sudah membaik. Doktor dan Suster pamit undur diri setelah mengucap salam padanya.
Aziz tersenyum tipis melihat Khumaira. Dia ingin menggenggam tangan mungil Istrinya supays tenang. Namun, apa daya tangannya seperti mumi di perban semua. Demi menghiraukan rasa sakit serta menenagkan ia mengedipkan mata genit agar Istrinya mendekat. Demi apa Aziz mau memecahkan hawa pedih di hati Khumaira.
Khumaira tersenyum melihat kelakuan Aziz dan menurut ketika di suruh mendekat. Dia membantu Suaminya bersandar di bantal. Kemudian memberikan minum agar dahaga Suaminya berkurang. Khumaira tersenyum bisa menjaga Aziz serta merawat Suaminya.
"D--Dek," panggil Aziz bernada parau.
"Iya, Mas."
"Maaf membuat Adek khawatir," lirih Aziz terdengar lemah.
Khumaira mengusap pipi Aziz dan memberikan ciuman di rahang. Demi Allah hatinya sangat sesak melihat Suaminya begini. Sungguh Khumaira ingin merengkuh tubuh Aziz sembari meluapkan tangisan.
Aziz merasa lemah pasalnya tidak mampu menggerakan ke dua tangannya. Tulang tangan terasa kaku dan sangat menyakitkan untuk di gerakan. Mungkin efek kecelakaan hebat itu. Izinkan Aziz meraih tubuh Khumaira agar sang Istri berhenti menangis.
"Mas, ya Allah ... Kenapa bisa terjadi begini? Mas tahu Adek sangat kalut mendengar Mas kecelakaan. Tetapi, sangat bersyukur Allah melindungi Mas dengan keajaiban-Nya. Adek sangat bersyukur Masku sudah siuman. Adek mana bisa tidak khawatir jika Mas terluka parah begini. Adek akan memaafkan Mas jika Mas lekas sembuh."
Aziz tersenyum mendengar perkataan Khumaira. Dia meminta Istrinya mendekatkan wajah ke depan wajahnya. Setelah dekat ia dengan sayang mencium kening Khumaira lama. Semoga Istrinya tenang menerima ciuman.
"Mas senang mendengar Adek khawatir. Tetapi, Mas tidak akan membiarkan Adek menangis karena Mas sangat membenci air mata Adek. Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Maka dari itu jangan bersedih guna membuat Mas senang. Allah Maha Besar, melindungi Mas dari mara bahaya. Kekuasan Allah begitu nyata pada hamba-Nya yang butuh perlindungan. Insya Allah, Mas akan lekas sembuh."
Khumaira menangis haru mendengar perkataan dan ciuman Aziz. Dia dengan hati-hati menangkup pipi tirus Suaminya, lalu memberikan ciuman di wajah rupawan Suaminya. Semoga Allah lekas memberikan kesembuhan pada sang Suami. Rasa lega melingkupi hati Khumaira ketika melihat Aziz sudah siuman.
"Allahu Akbar, semua sangatlah menyakitkan ketika Suamiku terbaring begini. Adek akan berusaha tidak menangis, tetapi tidak janji. Jika terjadi apa-apa kepada Mas mungkin Adek tidak akan sanggup menatap ke depan. Tahu tidak anak-anak sedari tadi terua menatap Mas tanpa berhenti menangis. Mereka diam tidak mengeluarkan suara bahkan keduanya berada di sisi Mas sedari tadi. Seksrang anak-anak tidur mungkin kelelahan. Maaf tidak bisa menjaga mereka dan membuat diam. Maaf kami sangat lemah tanpa, Mas. Maaf karena Adek tidak mampu membuat sakit Mas berkurang. Jangan merasa bersalah atas semua ini, pasalnya Allah telah menguji kita. Insya Allah, ada hikmah di balik ini semua. Benar kata Mas ... Allah selalu melindungi hamba-Nya yang membutuhkan pertolongan. Adek sangat bersyukur Suamiku telah kembali dengan selamat. Adek tidak akan sanggup hidup jika Mas ... jangan tinggalkan Adek sendiri.ย Adek takut sangat takut sampai semua terasa buram. Mas, maafkan Adek tidak mampu mengurangi rasa sakit."
Khumaira tergugu seraya menyembunyikan wajah di leher kokoh Aziz. Dia tidak kuat mengutarakan isi hatinya. Dia sangat takut sampai semua terasa gelap. Mungkin jika Aziz pergi meninggalkan sendiri maka detik itu juga ia kehilangan hidupnya. Khumaira sudah di tinggal Azzam maka kali ini tidak akan sanggup di tinggal pergi Aziz. Dulu saat Suaminya pergi ada keluarga dan Aziz yang selalu ada untuk memberi warna. Aziz selalu membuat warna agar dia kembali ceria dan jika sang empu pelangi pergi maka semua gelap.
Aziz menitikan air mata haru mendengar penuturan Khumaira. Dia mendongak guna menghalau laju air mata. Dia menengok ke arah sofa dan benar saja anak-anaknya terlelap dengan selimut tebal membungkus tubuh mungil mereka. Hatinya sangat sakit mendengar perkataan Khumaira tentang kerapuhan. Andai saja bisa menggerakkan tangan maka Aziz ingin merengkuh erat Khumaira. Kapan tangannya bisa bergerak jikalau begini tidak mampu merengkuh Khumaira, Ridwan dan Mumtaaz.
"Mas tidak mampu membalas itu semua tetapi Mas sangat bahagia mendengar penuturan, Adek. Kita akan selalu bersama dalam suka maupun duka karena kita sudah di takdirkan bersama. Allah telah menulis takdir untuk kita. Maka kita akan selalu bersama walau semua rumit. Jangan takut karena Mas tidak akan meninggalkan Adek sebelum Allah benar-benar berkehendak memisahkan kita dengan maut. Tidak perlu risau karena Mas akan segera pulih. Maaf menguras air mata kalian terutama anak-anak. Mas merasa berdosa karena tangan ini tidak mampu di gerakan untuk merengkuh kalian. Maafkan Mas juga membuat kalian berderai air mata, tetapi Mas malah tidak sanggup menghapus air mata kalian."
Khumaira naik ke brankar untuk menatap dalam mata tajam Suaminya. Dia dengan hati-hati menggenggam tangan Aziz yang terbalut perban. Semua terasa menyedihkan ketika tangan kekar Aziz terbalut perban semua.
Aziz dan Khumaira saling diam setelah mencurahkan isi hati. Khumaira merebahkan diri di samping Aziz dengan berbantal paha. Dia bisa tidur pasalnya begitu bahagia bisa melihat Aziz telah baikan.
Aziz tersenyum saja saat Khumaira menyembunyikan wajah di perutnya. Ingin sekali dia merengkuh Istrinya, tetapi apa daya harus puasa. Biarkan begini demi kesembuhan lebih awal.
"Dek, lihat ada bulan menerangi malam. Tahu tidak seberapa besar bulan itu?"
Mendengar penuturan Aziz sontak Khumaira duduk manis menatap bulan dari kaca besar. Memang sangat manis ketika rembulan menerangi bumi di kala kelabu. Dia tidak tahu seberapa besar namun itu sebuah kuasa Allah yang sangat nyata. Allah telah menciptakan semua yang sangat indah. Seperti menciptakan Khumaira hanya untuk Aziz seorang.
"Iya, bulan kali ini sangatlah indah dengan sinar teduh. 1.737,1 km."
Aziz tersenyum mendengar jawaban Khumaira. Dia meminta Istrinya mendekatkan wajah ke arahnya. Dengan sayang dia kecup sudut bibir Khumaira. Dia tersenyum tipis saat Khumaira berpaling menyembunyikan semu merah yang sangat manis.
Khumaira tidak mampu menyembunyikan rona merah. Dia tidak habis pikir kenapa Aziz pintar sekali membuat merona? Andai saja Aziz sehat sudah habis itu dada dipukuli manja. Sekarang apa yang di pukul Khumaira selain bersemu di dalam dominasi Aziz.
"Bulan itu memang sangatlah indah dengan sinar menyinari gelapnya dunia. Tetapi, bagi Mas rembulan bahkan kalah indah dari Adek. Pasalnya, Adek selalu menyinari Mas di kala gundah akan kelamnya hati. Adek bersinar terang penuh kebahagiaan untuk kami. Betul, hanya saja cinta Mas jauh lebih besar dari pada bulan. Cinta Mas begitu luas penuh warna dengan besar tidak terukur."
Aziz tersenyum teduh melontarkan kata-kata romantis. Dia ingin melihat Khumaira semakin tersipu akan dirinya. Sangat cantik sampai dirinya ingin membawa sang Istri ke Nirwana. Aziz begitu bahagia melihat semu merah khumaira yang terlihat sangat manis menggemaskan.
Khumaira tersenyum malu-malu seraya mencubit pinggang Aziz. Dia menunduk nalu menyembunyikan degup jantung yang menggila. Jika begini bisa apa? Rasanya Khumaira berada di Oasis di padang pasir. Degup jantung tidak terkendali namun sangat menyenangkan. Hati terasa berbunga-bunga penuh haru. Dan yang lebih utama ia bersyukur Aziz masih waras. Semoga saja tidak kumat biar jadi pria romantis nan mendebarkan. Ingin rasanya khumaira merengkuh erat Aziz untuk menyalurkan kebahagiaan. Ungkapan kata itu begitu dalam apa lagi cinta itu sungguh tidak mampu di jabarkan. Khumaira hanya bisa menunduk seraya tersenyum lebar.
Pada akhirnya keduanya larut dalam kesunyian manis. Keduanya melihat Ridwan dan Mumtaaz yang tertidur pulas. Aziz dan khumaira sangat bahagia bisa menghabiskan malam bersama si kecil. Walau sakit tidak menjadi alasan Aziz tidak bisa romantis atau usil pada khumaira. Mereka sangat bahagia, pasalnya Allah masih mengizinkan bersama dalam suka maupun duka.
Inilah cinta Aziz yang sangat besar nan tulus untuk Khumaira. Beda dengan khumaira yang menyimpan hati serta cintanya untuk Aziz. Demi apa keduanya saling mencintai sepenuh hati. Walau bungkam yakinlah cinta Khumaira begitu murni untuk Aziz. Keduanya adalah satu karena mereka ditakdirkan bersama baik dunia maupun akhirat, insya Allah.
๐๐๐
***Hayu bagaimana perasaan kalian setelah membaca chapter ini?
Semoga saja kalian bahagia membaca chapter romantis' ini.
salam.hangat dari Rose***.