
...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....
...Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini....
.......**~'~**.......
Kebetulan Aziz hari ini pulang cepat sehingga Mumtaaz, Faakhira dan Zaviyar senang. Terlebih lagi Khumaira juga begitu bahagia karena dia bisa bertemu lebih cepat. Di sini ia segera mandi kemudian buru-buru berdampingan dengan tiga anaknya. Aziz senang sekali karena mereka begitu bahagia.
Kurang tiga puluh menit dari sekarang adzan isya berkumandang. Oleh sebab itu keluarga kecil ini memutusakan untuk makan bersama. Makan malam terasa menyenangkan sewaktu keluarga kecil ini sangat indah.
Mumtaaz sangat senang lalu teringat tadi Ibu temannya meninggal dunia. Dia jadi merasa takut jika Ayah dan Uminya tiada. Degup jantungnya bertalu-talu ingin ke luar. Mumtaaz pada akhirnya berhenti makan dan langsung menunduk dalam.
Melihat Mumtaaz berhenti makan membuat Aziz dan Khumaira menatap dalam. Keduanya saling pandang seolah mengatakan ada apa dengan anak kita? Karena khawatir mereka memutuskan untuk mengangkat tangan guna menepuk bahu Mumtaaz. Benar saja anaknya langsung sadar kemudian menatap dengan mata berkaca-kaca.
"Ada apa, Kak?" Tanya Aziz seraya mengusap pipi tembem Mumtaaz.
"Tidak, Kakak hanya rindu Kakak gede," alibi Mumtaaz.
"Setelah makan cerita pada, Ayah. Sekarang ayo makan dulu jangan berpikir banyak hal!" Tegas Aziz.
"...." Mumtaaz hanya diam.
"Begini, apa Kakak mau di suapi, Umi?" Tawar Khumaira.
"...." Mumtaaz menolak dengan gelengan.
"Kakak," panggil Aziz resah Mumtaaz jadi aneh alhasil selera makan tidak ada.
"Dalem," sahut Mumtaaz masih diam.
Aziz pada akhirnya menyerah dengan meraih Mumtaaz untuk duduk di pangkuannya. Anak tampannya ini sudah berumur 10 tahun, tapi masih saja manja. Bukan manja bagaimana lantaran anaknya begitu hiperaktif, ceria dan tegas nan dingin. Aziz harap semoga saja Mumtaaz mau mengatakan sesuatu.
Mumtaaz hanya diam sewaktu Ayahnya memangku dirinya. Dia sangat takut sekaligus begitu sedih jika ingat temannya kehilangan Ibu. Kini ia hanya bisa tunduk meratapi diri jika kelak di tinggal pergi. Mumtaaz pada akhirnya mendekap leher Ayahnya diiringi air mata ketakutan.
Khumaira panik melihat Mumtaaz tidak biasanya begitu aneh. Oleh sebab itu ia merasa panik melihat anaknya jadi aneh. Sampai Suaminya minta izin untuk membawa Kakak cilik ke ruang keluarga. Khumaira mengangguk membiarkan Azizi membawa Mumtaaz.
Sedangkan Faakhira dan Zaviyar diam seraya saling pandang. Melihat Kakak kesayangan mereka sedih otomatis dua bocah menggemaskan ini ikut sedih. Alih-alih makan keduanya malah berhenti dan ikut menyusul Ayah dan Mumtaaz.
Khumaira menaruh piring masih penuh makanan di meja. Ia tutup semua baru menyusul Suami dan anak-anaknya. Sampai ruang keluarga dia melihat Aziz sedang berusaha menenangkan Mumtaaz. Bahkan Faakhira dan Zaviyar ikut menenagkan Kakak cilik. Hati Ibu mana tidak sakit melihat anaknya begitu padam. Alhasil Khumaira langsung bergegas menghampiri mereka.
Setelah adzan Isya Mumtaaz baru bisa tenang. Mata besarnya perlahan menatap Ayah dan Umi bergantian kemudian menatap Faakhira dan Zaviyar. Ia sadar apa yang terjadi sampai semua tidak makan malam karena dirinya. Namun, mau bagaimana lagi hati Mumtaaz begitu kalut memikirkan semua hal.
"Bisa katakan apa yang membuat Kakak cilik begini?" Tanya Aziz seraya mengusap wajah Mumtaaz.
"Kakak tadi kepikiran tentang almarhum Ibu teman sekelas. Kakak sangat takut kehilangan Ayah dan Umi. Kakak tidak sanggup suatu hari di tinggal pergi seperti yang di alami, Iqbal. Kakak, tidak sanggup jika kalian semua meninggalkan kami," jujur Mumtaaz seraya menunduk.
"Jadi itu yang membuat Kakak sedih. Mau dengar sesuatu?"
"Apa? Ayah, tahu Kakak begitu takut tidak sanggup memikirkan itu semua."
"Nak, setiap yang bernyawa pasti akan kembali ke sisi-Nya."
"Kakak tidak sanggup di tinggal."
"Suatu hari nanti pasti Ayah dan Umi akan kembali ke Rahmatullah. Sanggup tidak sanggup harus menerima takdir. Maut hanya Allah yang bisa menentukan maka sebagai hamba sudah wajib bersiap-siap setiap saat. Sekarang dengar jangan sedih lantaran ini kehendak sang Khaliq."
"Namun, Kakak belum sanggup tidak akan bisa."
Aziz sadar anaknya butuh ketenangan oleh sebab itu berusaha menenangkan. Dia dudukan anaknya di tengah kemudian tangannya terulur untuk menggenggam lembut. Ia cium tangan anak keduanya agar cepat tenang. Aziz meminta Khumaira mendekap Mumtaaz karena sekarang sudah saatnya memberikan pengertian.
Tentu saja Khumaira langsung mendekap Mumtaaz seraya mencium kening sang putra. Dia juga berusaha memberikan segala ketenangan agar anaknya bisa kembali ceria. Ia harap semoga saja Suaminya bisa membuat anaknya tenang. Pada akhirnya Khumaira tersenyum karena Mumtaaz sudah tenang.
Mumtaaz mendusal dalam pelukan Uminya. Dia masih butuh ketenangan serta pelukan hangat. Ia nanti jika sudah tenang mau beranjak. Mumtaaz sangat takut, tetapi berusaha tidak terjadi apa-apa.
Sedangkan Faakhira dan Zaviyar memilih mendekap Ayah. Keduanya mendusal manja mencari kehangatan. Mereka yang manja sekaligus sedih melihat Kakak cilik sedih hanya bisa menatap berkaca-kaca. Faakhira dan Zaviyar ingin mendengar kata-kata Ayahnya soal kematian dan mereka belum tahu kematian.
"Kakak cilik bagaimana?" Tanya Umi seraya mencium pelipis Mumtaaz.
"Kakak ingin sesuatu yang bisa membuat sedikit tenang," tutur Mumtaaz.
"Maka Ayah akan sedikit memberikan ketenangan untuk Kakak cilik. Dengarkan dan resapi apa yang akan Ayah jabarkan.
"بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم. كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ."
Arab-Latin: Bismillahirrahmanirrahim. Kullu nafsin żā'iqatul maụt, wa innamā tuwaffauna ujụrakum yaumal-qiyāmah, fa man zuḥziḥa 'anin-nāri wa udkhilal-jannata fa qad fāz, wa mal-ḥayātud-dun-yā illā matā'ul-ghurụr
Artinya : "Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Q.S Ali 'Imran : 185)"
... Setiap jiwa, siapa pun ia pasti akan merasakan kematian. Kematian merupakan suatu hal yang pasti terjadi dan akan dihadapi semua makhluk hidup di dunia. Bila telah digariskan waktunya, siapapun, kapanpun, dan di manapun kematian akan tetap akan datang. Maka hendaknya setiap makhluk tidak terlena dengan dunia ini. Dan kelak di hari Kiamat mereka akan diberi balasan atas amal perbuatan mereka masing-masing secara penuh, tanpa ada pengurangan ....
... Barangsiapa yang Allah jauhkan dari api Neraka dan Dia masukkan ke dalam Surga, sungguh dia benar-benar telah mendapatkan kebaikan yang ia harapkan dan selamat dari keburukan yang ia takutkan. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan sementara yang hanya diminati oleh orang-orang yang tertipu. Banyak orang mengejar dunia tanpa peduli kelak menemui akhirat. Dunia hanya fatamorgana dan di dunia umat muslim harus berjuang untuk selalu taat kepada Allah. Senantiasa berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadits. Orang-orang taat agama niscaya tahu dunia hanya fatamorgana semata ....
... Sudah jelas bukan, Nak jikalau Ayah dan Umi serta semua yang ada alam semesta akan merasakan kematian. Setiap yang bernyawa pasti akan kembali ke sisi-Nya. Antah itu kapan yang jelas kelak Umi, Ayah, Kakak gede, Kakak cilik, Dedek besar dan Dedek kecil serta Abi dan yang lainnya akan kembali kepada Allah ....
... Kini pangeranku yang tampan jangan sedih lagi. Kini sudah saatnya menambah bekal akhirat karena kita di dunia hanya sesat. Sedangkan di akhirat kekal abadi dan di sana kita harus punya bekal yang bisa melindungi kita dari api neraka. Kunci utama harus taat kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kita juga harus terus bershalawat kepada Baginda Rasulullah Saw agar mendapat syafa'at ....
... Selagi bisa terus berpedoman pada Al-Qur'an dan Hadits. Tumpuk amal ibadah kita agar bisa bertemu pada ahlul Jannah. Walau nanti kita semua pasti akan merasakan pedihnya siksa kubur. Sekarang anakku sudah tenang bukan? Maka dari itu ayo Kak, Dedek FaaFaa dan Dedek Zavi serta Umi terus tingkatan ibadah kita."
Aziz tersenyum saja berceramah panjang lebar mengenai kematian. Dia harap ceramahnya itu bisa meringankan hati Mumtaaz. Ia juga harap apa yang dikatakan bisa di cerna Faakhira dan Zaviyar. Untuk Khumaira pastilah tahu dan akan terharu serta menitikkan air mata. Benar saja Aziz melihat Khumaira menangis dalam diam.
Mendengar penuturan Aziz tentang kematian berhasil meruntuhkan pertahanan Khumaira. Dia menangis dalam diam atas penuturan Suaminya untuk menenangkan Mumtaaz. Benar adanya ia sangat terharu sekaligus merasa jauh karena agak kalau beberapa waktu. Khumaira akan berusaha untuk memperbaiki diri.
Perlahan hati Mumtaaz meneduh begitu sejuk mendengar Ayahnya melafalkan Q.S Ali 'Imran : 185 beserta makna dan kajiannya. Rasa takut perlahan menjadi hilang terganti kesejukan. Benar adanya setiap Ayahnya sudah memberikan penuturan maka hati jadi sejuk. Mumtaaz begitu bangga kepada Ayahnya yang luas ilmu agama sekaligus umum.
Faakhira dan Zaviyar tersenyum tulus mendengar perkataan Ayah. Keduanya sampai terperangah seolah tahu isi perkataan sang Ayah. Mereka begitu kagum pada Ayah mampu menjabarkan sesuatu begitu detail. Faakhira dan Zaviyar harap semoga saja Ayahnya jadi penceramah biar hati sellau sejuk.
"Ayah, terima kasih banyak atas semuanya," ucap Mumtaaz ikut mendekap Ayah sekaligus dua Adiknya.
"Apa pun untuk anak Ayah tercinta," sahut Aziz kemudian menciumi puncak kepala tiga anaknya.
"Ayah, boleh tanya?" Harap Mumtaaz.
"Tanyakan apa yang jadi keresahan Pangeran tertampan kami," sahut Aziz.
"Apa ada tanda seseorang menjelang kematian?"
"Tentu saja ada."
"Boleh tahu apa saja?"
"Hm, bagaimana jika Umi yang jawab?"
"Umi? Umi, mau jawab pertanyaan, Kakak?"
"Jika Kakak mau Umi akan jawab. Kakak mau jawaban dari Umi atau Ayah?"
"Umi," kor Mumtaaz, Faakhira dan Zaviyar.
Khumaira menatap Aziz sekilas sebelum memberikan usapan sayang di kepala tiga anaknya. Dia mendongak menatap Suaminya kembali. Ia harap semoga saja anaknya puas atas jawabannya. Khumaira akan menjabarkan agar anak-anaknya senang.
Aziz, Mumtaaz, Faakhira dan Zaviyar duduk manis menanti jawaban Umi. Semuanya memandang dalam Umi yang hendak menjabarkan semua. Keempat orang beda usia terus menatap penasaran atas penjelasan Umi. Aziz, Mumtaaz, Faakhira dan Zaviyar terus menatap atas penuturan Umi tersayang.
"Umi akan coba jelaskan secara rinci dan mudah dipahami. Ini tanda-tanda seseorang yang akan kembali ke Rahmatullah. Seperti yang dijabarkan Ayah mengenai kematian itu ada kaitannya. Dan sekarang Umi akan jabarkan sedikit tentang tanda-tanda seseorang akan kembali ke sisi-Nya.
100 Hari Sebelum Kematian!
Tanda-tanda ini lazimnya setelah masuk waktu Asar, yaitu seluruh tubuh akan terasa menggigil dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Tanda-tanda kematian ini akan terasa nikmat dirasakan bagi orang yang tingkat keimanannya tinggi. Orang beriman tinggi langsung dapat menerima bahwa ini isyarat dari Allah tentang ajal sudah dekat. Namun, bagi yang tingkat keimanannya rendah terkadang mereka bingung dan bahkan ada yang tak sadar bahwa ini isyarat kematian dari Allah SWT.
40 Hari Sebelum Kematian!
Tanda-tanda kematian ini juga muncul setelah masuk waktu asar yaitu, bagian pusat dari tubuh kita akan berdenyut. Itu pertanda bahwa daun yang tertulis nama kita dari pohon yang terletak di Arshy Allah SWT telah gugur.
Lalu malaikat maut mengambil daun tersebut dan segera membuat persiapan, diantaranya mulai mengawasi kita setiap saat. Sesekali malaikat maut menampakkan dirinya kepada orang yang akan dicabut nyawanya dalam wujud manusia. Seketika itu pula orang itu akan terasa terkejut dan bingung melihat malaikat maut.
7 Hari Sebelum Kematian!
Tanda ini muncul setelah masuk waktu asar, tanda-tanda kematian ini hanya diberikan Allah terhadap orang yang diuji Allah dengan sakit. Biasanya orang yang sedang sakit tak berselera makan, tiba-tiba ingin makan. Ini merupakan isyarat dari Allah bahwa kematian memang benar-benar sudah dekat.
3 Hari Sebelum Kematian!
Pada suatu saat akan terasa denyutan di tengah dahi kita, yaitu antara dahi kanan dan dahi kiri. Jika tanda-tanda kematian ini dapat dirasakan maka sebaiknya berpuasalah kita setelah itu. Supaya perut kita tak mengandung banyak najis, dan ini akan memudahkan orang lain untuk memandikan jasad kita.
Setelah itu pula mata hitam kita tak bersinar lagi, dan bagi orang yang sakit, hidungnya perlahan akan masuk ke dalam. Ini dapat terlihat jelas kalau dilihat dari sisi tubuh kita. Telinga akan layu dan berangsur-angsur masuk ke dalam. Tapak kaki tegak berangsur-angsur lurus ke depan dan sukar untuk ditegakkan lagi.
1 Hari Sebelum Kematian!
Tanda-tanda kematian ini juga terjadi setelah waktu ashar, kita akan merasakan denyutan di bagian ubun ubun, ini menandakan kita sudah tak sempat lagi melihat waktu asar di keesokan harinya.
Kebenaran tanda-tanda kematian yang beredar memang harus kita cermati dan pahami lebih dalam sesuai dengan ajaran agama kita. Namun, lima tanda di atas lazim di temukan bukan dipercaya.
Di dalam agama Islam, dalam Al-Quran maupun hadist tidak ada yang menjelaskan tanda-tanda 100 hari menjelang kematian seseorang. Namun, terdapat ayat Al-Quran yang menjelaskan mengenai terjadinya kematian. Seperti pada QS. Luqman ayat 34 dan QS An Nisa’ 78 di bawah:
"بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم. اِنَّ اللّٰهَ عِنۡدَهٗ عِلۡمُ السَّاعَةِ ۚ وَيُنَزِّلُ الۡغَيۡثَ ۚ وَيَعۡلَمُ مَا فِى الۡاَرۡحَامِ ؕ وَمَا تَدۡرِىۡ نَفۡسٌ مَّاذَا تَكۡسِبُ غَدًا ؕ وَّمَا تَدۡرِىۡ نَـفۡسٌۢ بِاَىِّ اَرۡضٍ تَمُوۡتُ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ."
Arab-Latin: Bismillahirrahmanirrahim. Innallāha 'indahụ 'ilmus-sā'ah, wa yunazzilul-gaīṡ, wa ya'lamu mā fil-ar-ḥām, wa mā tadrī nafsum māżā taksibu gadā, wa mā tadrī nafsum bi`ayyi arḍin tamụt, innallāha 'alīmun khabīr
Artinya : Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal. (Q.S Luqman Ayat 34)
"بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم. أَيْنَمَا تَكُونُوا۟ يُدْرِككُّمُ ٱلْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِى بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ وَإِن تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا۟ هَٰذِهِۦ مِنْ عِندِ ٱللَّهِ ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا۟ هَٰذِهِۦ مِنْ عِندِكَ ۚ قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ ۖ فَمَالِ هَٰٓؤُلَآءِ ٱلْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا."
Arab-Latin: Bismillahirrahmanirrahim. Aina mā takụnụ yudrikkumul-mautu walau kuntum fī burụjim musyayyadah, wa in tuṣib-hum ḥasanatuy yaqụlụ hāżihī min 'indillāh, wa in tuṣib-hum sayyi'atuy yaqụlụ hāżihī min 'indik, qul kullum min 'indillāh, fa māli hā'ulā'il-qaumi lā yakādụna yafqahụna ḥadīṡā.
Artinya : Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? (Quran Surat An-Nisa Ayat 78).
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa tidak ada siapapun manusia di bumi yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Dan tidak ada seorangpun yang tahu di mana ia akan mati.
Dalam ayat-ayat tersebut Allah SWT hanya menjelaskan bahwa kematian tidak dapat dihindari oleh siapapun. Kematian dapat terjadi dalam keadaan apapun bahkan tanpa tanda-tanda sekalipun. Karena kematian hanya berada di tangan Allah SWT.
Hal ini mengingatkan kepada manusia agar selalu mengingat Allah SWT dengan terus beribadah. Dengan mengingat kematian manusia akan selalu meningkatkan keimanan, ketakwaan, terus memperbaiki diri dan memohon ampunan pada Allah SWT.
Namun, umat muslim percaya lima tanda yang Umi sebutkan menjadi kunci. Walau kenyataannya hanya ada di tangan Allah. Takdir, jodoh, rezeki dan maut hanya ada di tangan Allah. Tidak ada makhluk Allah yang tahu semua itu. Bahkan hari akhir juga ada di tangan Allah. 'Kun Fayakun', jadilah maka jadilah ia. Seperti Allah yang sudah menghendaki maka terjadilah.
Maaf ya Umi hanya bisa menjabarkan sedikit dan tahu tentang itu. Jika kurang tanyakan pada Ayah biar lebih rinci. Umi, hanya.bisa menjabarkan setahunya saja. Semoga bermanfaat untuk anak-anak Umi tercinta. Umi begitu mencintai kalian karena Allah."
Khumaira takut jika tiga anaknya kurang paham isi penjelasannya. Oleh sebab itu berusaha menjabarkan dengan sederhana tidak begitu detail. Dia hanya bisa berharap semoga saja Suaminya tidak menertawakan apa yang dijabarkan. Khumaira yang menunduk tiba-tiba merasa dekapan hangat dari tiga anaknya sekaligus Suami.
Aziz begitu bangga pada Khumaira lantaran begitu lugas menjabarkan semua. Dia tahu Istrinya menuturkan sederhana supaya mudah di pahami. Ia begitu beruntung wanitanya sangat menggemaskan atas semua ini. Aziz harap semoga saja Khumaira tetap bisa menuntun ke jalan yang benar jika suatu hari tersesat.
Karena begitu terharu sekaligus bangga Mumtaaz, Faakhira dan Zaviyar langsung mendekap erat Umi Khumaira. Sampai ketiganya mendapat dekapan kedua orang tuanya. Semua rasanya sangat hangat sampai mata berkaca-kaca.
Keluarga kecil ini tampak begitu bahagia. Walau sedih lantaran Ridwan ada di pesantren. Semuanya begitu terharu dan terus mempersiapkan diri dari maut. Allah Maha Besar dan begitu Sempurna. Apa yang dikehendaki maks terjadi, oleh sebab itu mereka harus meningkatkan iman, bertawakal, ikhtiar dan senantiasa berbuat kebaikan.
"Umi, itu luar biasa. Umi sangat luar biasa benarkan, Ayah?" Riang Faakhira.
"Tentu saja, Umi kalian memang luar biasa. Kelak jika sudah dewasa Dedek FaaFaa jadi wanita shalihah Nn hebat seperti, Umi," sahut Aziz seraya tersenyum tulus.
"Allahu Akbar, atas kuasa-Nya Insya Allah, Dedek akan jadi wanita shalihah dan hebat seperti, Umi!" Seru Faakhira.
"Masya Allah, anak cantik Ayah dan Umi luar biasa."
"Kakak senang sekali mendengar penuturan, Umi. Kakak, sangat mencintai Umi karena Allah. Kakak mencintai Umi lebih dari apa pun. Allahu Akbar, rasanya senang sekali."
"Zavi, juga senang sekali Umi luar biasa."
"Umi kalian memang luar biasa. Wanita terhebat yang pernah Ayah temui. Istri terbaik sekaligus Umi terbaik. Ayah bangga punya Umi kalian. Istriku tercinta yang sangat luar biasa."
"Kalian, ya Allah."
"Ayo kita shalat jama'ah dulu karena kita tidak biasanya shalat tidak tepat waktu. Ayo kita shalat jama'ah baru makan lagi!" tegas Aziz.
"Siap!" kor mereka seraya menitikkan air mata.
Khumaira menangis haru mendengar perkataan anak-anak serta Suaminya. Dia rengkuh Suami serta tiga Anaknya. Ia menangis haru Allah begitu mencintai hamba-Nya yang penuh dosa. Khumaira terharu lantaran Aziz dan tiga anaknya sangatlah luar biasa.
Aziz mendekap Khumaira dan tiga Anaknya. Air mata haru berlinang deras atas kebesaran Allah. Dia tidak pernah menyangka bahwa Allah tidak pernah menukar jodoh. Aziz sangat terharu Khumaira bisa dimilikinya sampai Jannah Aamiin.
Sedangkan Mumtaaz, Faakhira dan Zaviyar tersenyum seraya menangis haru. Ketiga anak manis ini mengukir senyum penuh kebahagiaan. Mereka senang menjadi anak Ayah dan Umi. Mumtaaz, Faakhira dan Zaviyar tidak pernah menyangka bahwa kebahagiaan itu begitu sederhana.
"Umi, sangat mencintai kalian karena Allah. Cinta Umi pada kalian sepanjang masa. Ya Allah ya Tuhanku, terima kasih memberikan anak-anak begitu luar biasa. Adek juga begitu mencintai Mas karena Allah. Selalu dan akan abadi sampai Jannah cinta Adek untuk Mas. Atas nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang sungguh Adek sangat mencintai Mas. Adek sangat senang bisa memiliki Mas dalam hidup. Terima kasih anak-anakku dan Suamiku tercinta," batin Khumaira.
"Mas begitu mencintai Adek karena Allah. Atas segala kuasa-Nya sungguh Mas begitu mencintai Adek. Ayah juga sangat mencintai anak-anakku tercinta. Kalian hidup serta kekuatan Ayah. Kalian adalah anugerah terindah yang Allah berikan. Ayah sangat mencintai kalian sepenuh hati. Istriku tercinta Mas juga sangat senang bisa memilikimu dalam hidup. Kalian adalah anugerah terindah yang Allah berikan," tutur Aziz dalam hati.
"Kami sangat bahagia bisa jadi anak-anak Ayah dan Umi. Allah Maha Besar atas segala kuasa-Nya menghadirkan segala kebahagiaan. Kami mencintai Ayah dan Umi karena Allah. Cinta kami.lebuh dari apa pun, terima kasih Ayah-Umi," batin Mumtaaz, Faakhira dan Zaviyar.
...Cut....
...Asli aku terharu sekali nulis Chap Ini....
...Menurut kalian bagaimana Chap ini?...
...Semoga kalian selalu bahagia karena Rose nulis Chap panjang banget....
...Semoga bermanfaat sekaligus menambah wawasan....
...Jika ada tutur kata atau penjelasan kurang harap di koreksi....
...Salam cinta dari Rose....
...05_11_20...
...Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....