
...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh. ...
^^^Maaf ya di bawah ini banyak tulisan yang salah. Semoga masih bisa dibaca dan dinikmati. Salam sayang dari Rose.^^^
...........
Wajah teduh Azzam mengeras mendengar penuturan Aziz. Dalam benaknya tidak habis pikir atas keputusan Aziz dan Khumaira terhadap Ridwan. Sakit tentu saja harus merelakan anak sulungnya ke Negara orang nan jauh.
10 menit yang lalu keluarga kecil Aziz datang menghadap Azzam. Anak-anak telah bermain di ndalem Abah Hasyim kecuali Ridwan. Pembahasan serius memancing emosi sang Tuan rumah, sedangkan tamu tertunduk.
Mahira hanya bungkam tidak bisa asal bicara selain menyimak. Keputusan ada di tangan Suaminya, tetapi berharap keputusan akhir meraih hasil bagus.
Aziz dan Khumaira menunduk tidak berani menatap Azzam. Keduanya paham apa yang diutarakan pasti menyakiti hati Ayah biologis Ridwan. Siapa yang menyangka bahwa Aziz dan Khumaira melakukan ini juga demi masa depan Ridwan.
Ridwan hanya menyimak tidak tahu harus berbuat apa. Dia memang sudah tahu perihal keputusan Ayah dan Umi akan pindah ke Iraq. Kalau pindah ingin rasanya Ridwan ikut lantaran tidak mampu berpisah dengan kedua orang tua serta Adiknya.
Padahal Ridwan sudah berusaha berdamai atau mengakrabkan diri pada Ibu sambung beserta Adik-Adik tirinya. Meski demikian nyaris satu tahun belum juga hatinya menerima sepenuh hati. Ridwan yang awalnya canggung pada Azzam perlahan menerima sepenuh hati.
Lalu bagaimana jika pindah pasti akan jauh lagi jarak antara Ridwan dan keluarga kecil Abinya?
Bagaimana keadaan hubungan Abi dan anak kembali berpisah?
"Apa kalian tidak memikirkan perasaan, Mas?" Tanya Azzam terdengar tajam.
"Kami memikirkan perasaan Mas, sampai kediaman serta izin pastilah sudah dipikirkan masak-masak. Semua sudah Aziz jelaskan oleh sebab itu meminta izin membawa Ridwan bersama kami," sahut Aziz kembali tegas meski sempat tunduk.
"Kamu egois, Le. Kamu bisa di sini lalu menyerahkan tanggung jawab pada mereka. Ingat di Iraq banyak saudara-saudari kita."
"Butuh biaya besar Mas untuk itu. Apa Mas tahu pastilah ada kalanya Aziz pulang pergi lalu mengeluarkan uang banyak untuk kasus, Tole Zavi. Biaya tambah banyak jika melimpahkan tanggung jawab terhadap mereka. Pertama, Aziz bayar detektif serta agen khusus untuk melacak keberadaan, Tole Zavi dan terakhir mereka. Uang untuk masa depan anak-anak jadi terpakai. Bagaimana Aziz mewujudkan impian anak-anak jika aku sudah kehilangan harta benda? Memang Mas sanggup membiayai impian, Ridwan, Mumtaaz dan Faakhira?"
"...."
"Cita-cita anakku setinggi langit, fa insya Allah akan terwujud. Selagi Aziz bernapas cita-cita anak-anakku bakal kesampaian. Ayah mereka sukses, masa iya anaknya memendam impian mereka? Benar, mereka berprestasi ... tetapi, apa tidak perlu biaya lain? Ingat, kita sudah sukses dalam agama dan formal ... masak iya membiarkan anak menyimpan harapan?"
"...."
"Aku sekeluarga tetap pada pendirian. Kami akan pindah ke Baghdad membuka lembaran baru. Kami akan memulai dari awal di sana. Aku akan bekerja di perusahaan kontraktor terbesar di Baghdad. Jangan khawatir aku tidak mampu, yakin Allah bersama hamba-Nya dalam keadaan sulit. Sebisa mungkin Aziz dan Dek Syafa akan menjadikan anak-anak kegerbang kesuksesan. Selain itu kami juga akan terus mencari Tole Zavi apa pun konsekuensinya!"
"Mas jangan emosi, kita di sini meminta izin baik-baik serta meminta keikhlasan, Mas Azzam. Tolong Mas jangan begini."
Khumaira takut jikalau emosi Aziz malah memperkeruh keadaan. Dia takut jikalau Azzam tambah murka sehingga tidak mengizinkan Ridwan ikut. Terlebih Azzam bungkam membuat Khumaira semakin takut.
Aziz yang sadar langsung istighfar berulang kali. Inilah kelemahan terbesarnya kadang kalau emosi suka tidak sadar. Aziz harap perkataan tadi tidak memperkeruh suasana hati Azzam.
Mendengar kemarahan Aziz membuat Azzam tidak membalas perkataan sang Adik. Sudah menjadi tabiat kalau emosi Adiknya sering berapi-api. Azzam berpikir lebih dalam memang Aziz tidak salah malah ucapan benar.
Apa benar dia sekejam itu pada Adiknya sampai sefrontal itu?
Azzam kembali menelaah berbagai situasi yang terjadi. Dari Adiknya menyampaikan keputusan besar beserta alasannya untuk menetap ke Iraq. Awalnya Azzam menerima, tetapi langsung berubah kala mendengar Aziz meminta izin membawa Ridwan.
Apa salah jika Azzam kukuh mempertahankan Ridwan untuk tinggal?
Selama ini Azzam berkorban begitu besar dengan mengikhlaskan Khumaira, kemudian membiarkan Ridwan ikut bersama mereka. Bahkan keputusan besar membuat dampak dengan Ridwan kurang nyaman pada Azzam.
Apa salah jika Azzam ingin memperkukuh ikatan Abi dan anak?
Azzam ingin lebih dekat pada Ridwan. Ingin Ridwan menyayanginya seperti menyayangi Aziz. Kalau di bawa jarak akan semakin jauh, tentu Azzam tidak mau itu terjadi.
Melihat kemarahan Azzam, Mahira hanya bisa menenangkan lewat usapan telapak tangan. Dia harap semoga saja ada titik terang untuk permasalahan ini. Semoga saja tidak ada perseteruan lebih lanjut dan harapan Mahira kelak Ridwan tetap tinggal.
Menjadi gundah gulana itulah Ridwan kala melihat perseteruan antara Ayah dan Abinya. Perjuangan Ayah untuk mereka tidak pernah setengah hati. Ridwan merasakan dengan nyata betapa besar kasih sayang Ayah untuknya.
Ayah banting tulang untuk menafkahi mereka tanpa kenal lelah. Memikirkan masa depan anak-anak sampai setinggi itu. Dia tahu cita-cita mereka tidaklah sembarangan oleh sebab itu Ayah terus berjuang.
Jika tetap tinggal di Indonesia, tabungan akan terkikis. Bisa jadi Ayah gagal mewujudkan impian mereka jika tetap tinggal. Kalau gagal Ayah akan menyalahkan diri sendiri sampai kapanpun.
Ridwan kasihan pada Ayahnya walau banyak cobaan tetap tegar. Meski terluka tetap memikirkan masa depan mereka yang setinggi asa. Ayah sudah berjuang sangat besar untuk mereka kini giliran mereka juga harus berjuang.
Ridwan bimbingan lagi memikirkan Abinya pasti pedih mendengar keputusannya. Kalau berpisah jarak akan semakin nyata, tetapi kalau tinggal kasihkan Abi memiliki anak empat yang harus dihidupi. Jika nanti Ridwan tinggal akan tambah membludak pengeluaran Abinya, meskipun yakin Ayah akan membantu biaya sekolah sampai perguruan tinggi.
"Maafkan Aziz sudah lancang berbicara begitu pada, Mas. Sekali lagi tolong maafkan, Aziz," lirih Aziz.
"Sudah menjadi tabiat mu, Le jikalau marah pasti begitu. Mas maklum, maaf juga terlalu kecewa atas izin yang kalian pinta," tutur Azzam kembali teduh.
"Apa Mas mengizinkan Tole Ridwan ikut bersama kami?" Timpal Khumaira ikut mengambil peran bicara.
"Tidak, Mas tidak sanggup jarak itu tercipta untuk kami, Dik. Sudah cukup Mas berkorban mengikhlaskan Tole Ridwan ikut bersama kalian. Ingat Dik keputusan besar itu telah membuat kami terpisah jarak begitu jauh. Nyaris 10 tahun hidup Tole Ridwan bersama kalian, sedangkan dengan Mas hanya sebentar. Mas mohon jangan pisahkan kami, Dik," pinta Azzam terdengar lemah.
"Aku juga tidak bisa berpisah dengan Tole Ridwan, Mas," tangis Khumaira lantaran Azzam tetap bersikukuh pada pendiriannya.
"Tolong jangan menangis, Mas tidak mau melihat air mata, Adik," pinta Azzam.
"...." Khumaira diam mendengar permintaan Azzam yang mengejutkan.
"Tolong jangan salah paham Mas bilang begini karena air mata paling melemahkan, Mas." Azzam mengatakan itu saat Aziz dan Mahira tampak beda.
"Mas, tahu kami sudah kehilangan Tole Zavi beberapa saat lalu. Apakah tega Mas membiarkan kami kehilangan kedua kalinya? Tole Zavi, entah di mana keberadaannya, sedangkan Tole Ridwan juga akan berpisah dengan kami. Sungguh Mas kami tidak sanggup kehilangan lagi. Izinkan kami membawa Tole Ridwan ikut bersama kami," pinta Khumaira diiringi air mata.
"Tolong Mas biarkan anak kita ikut bersamaku. Memang aku begitu banyak tehadap Mas selama ini. Memaksakan kehendak agar Tole Ridwan tetap tinggal bersama, 'ku. Walau kalian terpisah jarak yakinlah Tole Ridwan serta kami akan senantiasa mengabari, Mas. Meski pun terpisah Mas lah Ayah biologis, Ridwan tanpa di ganggu gugat. Mas memiliki hak sepenuhnya atasnya, tetapi aku juga punya hak. Sekali lagi maafkan aku berbicara begini, Mas," lirih Khumaira.
"Dik," cicit Azzam seakan luluh atas semua kejelasan Khumaira. Benar adanya meski terpisah pastilah akan selalu menelpon atau video call dan yang jelas Ridwan tetaplah anak kandungnya.
"Jangan menangis, Dek. Jikalau keikhlasan Mas terasa sulit maka Tole Ridwan akan tetap tinggal. Tetapi, Mas harus berjanji agar selalu menjaganya serta hubungi kami kala senggang. Kami memang memaksa kehendak Mas. Jika Tole Ridwan ikut tanpa keikhlasan Mas, Aziz takut ilmu Tole Ridwan tidak berkah begitu dengan usaha kami. Sekali lagi maafkan atas ketidakmampuan kami ini, Mas!" Tegas Aziz berusaha ikhlas.
"Ayah," lirih Ridwan menangis karena Ayahnya meninggalkan tanpa membawa ikut serta ke Iraq.
"Mas," tangis Khumaira semakin kuat atas keputusan Aziz.
"Maafkan Ayah, Le. Ayah tidak mau ilmu Tole hanya sia-sia karena tidak ada keikhlasan dari Abi. Mas minta maaf Dek karena tidak mau kita berjuang di Iraq menanggung beban karena satu ikhlas. Kita harus membiasakan diri untuk rela, tidak apa kan ada ponsel bisa video call jika rindu, Tole Ridwan. Tidak apa-apa, Ayah ikhlas meski berat kuatkan Ayah!" Tegas Aziz seraya tersenyum getir.
"...." Khumaira dan Ridwan spontan langsung mendekap erat Aziz seraya menangis.
Melihat Aziz begitu lapang dada sedari awal membuat Azzam tersenyum getir. Sudah menjadi ciri khas Adiknya mengalah dengan lapang meski terluka. Sebenarnya Azzam banyak belajar dari Aziz tentang keikhlasan.
Dalam duka Adiknya akan senantiasa mengalah, bahkan sekarang kembali mengalah demi kebahagiaannya. Azzam merasa malu pada Adiknya terkesan begitu dewasa. Lihat bahkan dengan bijaksana Aziz tetap tersenyum kala Khumaira dan anaknya menangis.
Mahira tampak kagum pada Aziz, pantas saja Ridwan begitu menyayanginya. Tidak bisa dipungkiri sosok Adik iparnya sangatlah bijaksana dan penuh ketegasan. Mahira berharap semoga Adik ipar sekeluarga mendapat kebahagiaan di sana berkat kebaikan.
Khumaira tampak pedih berusaha kuat atas keputusan Aziz. Dari awal Suaminya memang sering berkorban serta mengalah tanpa mau menyakiti. Rasa kagum kian membuncah pada Aziz dan semoga Khumaira biasa bersama di dunia maupun akhirat.
Sedangkan Ridwan tergugu tidak mau melepas Ayahnya. Abinya memang luar biasa, tetapi ia ingin tetap tinggal bersama Ayah dan Umi. Ridwan tidak mau tinggal biarkan menjadi pelipur lara, Ayah, Umi serta Adik-Adiknya.
"Stop, dramanya. Sekarang biarkan Mas yang memutuskan semua. Untuk Tole Ridwan, Abi ingin tanya!" Tegas Azzam memecahkan keharuan mereka.
"I-iya, Bi," cicit Ridwan.
"Jujur jangan bohong, Tole ingin ikut siapa?" Tanya Azzam pada intinya.
"Ayah dan Umi!" Tegas Ridwan tanpa dikomando.
"Tole," lirih Azzam, Aziz dan Khumaira tampak terkejut.
"Maafkan Ridwan memilih, Ayah dan Umi. Ridwan tidak bisa kehilangan mereka," lirih Ridwan.
"Alasannya?" Tanya Azzam.
"Ayah, Umi dan Adik-Adikku telah kehilangan, Dedek Zavi. Ridwan tidak bisa melihat mereka bersedih kehilangan untuk kedua kalinya. Ridwan sangat dibutuhkan bagi Ayah, Umi dan Adik-Adikku. Biarkan Ridwan menjadi pelipur lara bagi mereka, Abi. Ikhlaskan Ridwan ikut bersama mereka. Ridwan janji akan selalu menelpon Abi dan Mama serta Adik-Adik. Sekali lagi biarkan Ridwan memilih dengan siapa mau ikut! ....
... Ridwan lebih dibutuhkan Ayah, Umi dan Adik-Adikku. Abi memang sangat menyayangi Ridwan, tetapi memiliki mereka yang membutuhkan, Abi. Abi punya mereka yang senantiasa ada untuk, Abi. Sejujurnya Ridwan ingin tinggal, tetapi kasihan pada Adik-Adik. Mereka ingin memiliki pendidikan yang lebih tinggi, jika Ridwan tinggal tanggung jawab Abi semakin bertambah. Tidak apa-apa jika berpisah, tetapi yakinlah Abi adalah Ayah biologis, Ridwan! Ridwan sayang, Abi" Tegas Ridwan.
Azzam tersenyum teduh mendapat jawaban, Ridwan. Tanpa ba-bi-bu lagi langsung mendekap erat anaknya. Azzam bangga didikan Aziz dan Khumaira telah menumbuhkan Ridwan menjadi sosok tegas, berwibawa dan bisa memilih dengan hati.
Aziz dan Khumaira tersenyum teduh mendengar penuturan Ridwan yang terdengar dewasa. Keduanya juga tersenyum kala Azzam mendekap seraya menciumi Ridwan. Teduh rasanya hati Aziz dan Khumaira melihat pemandangan tersebut.
Sikap bijaksana Ridwan tentu membuat Mahira merasa bangga. Sungguh hebat anak yang sangat mirip Suaminya itu. Mahira jadi ingin egois ingin Ridwan tinggal guna merasakan kasih sayang setulus itu.
Mahira ingin dicintai Ridwan seperti sang anak sambung mencintai Ibu kandung. Jika ditahan apa bisa anak sambungnya tetap tinggal? Mahira jadi gemang ingin masuk pembicaraan mereka.
"Abi," panggil Ridwan haru.
"Tole yakin ingin ikut Ayah dan Umi, 'mu?" Tanya Azzam sembari membingkai wajah Ridwan menggunakan tangan hangatnya.
"Yakin, Bi!" Tegas Ridwan diiringi senyum manis.
"Kalau begitu pergilah, tetapi janji jangan merepotkan Ayah dan Umi. Belajar yang giat, Tole buktikan usaha Tole membuahkan hasil. Tunjukkan pada kami bahwa Tole mampu meraih cita-cita. Ingat terus murotalkan hafalan Tole l. Jangan sampai lupa, Tole juga harus giat menimba ilmu agama dan formal secara seimbang. Jangan lupa telpon Abi dan Mama karena kami akan merindukan, Tole," pesan Azzam.
"Jadi Abi merestui Ridwan ikut Ayah dan Umi? Alhamdulillah ya Allah akhirnya Abiku mengizinkan hamba ikut bersama Ayah dan Umi. Terima kasih, Abi. Ridwan sayang Abi karena Allah. Tentu saja semua pesan Abi akan senantiasa Ridwan ingat." Ridwan sangat senang sampai berkali-kali mencium pipi Abinya.
"Anak cerdas, Abi juga sayang Tole karena Allah." Azzam terharu atas keceriaan Ridwan.
Aziz dan Khumaira tersenyum ceria akhirnya Azzam memberi izin. Semoga izin ini dari hati serta ikhlas melepas Ridwan bersama mereka. Sungguh atas nama Allah kebahagiaan menyertai Aziz dan Mahira.
Azzam tersenyum teduh atas kebahagiaan tak terhingga dari Ridwan. Melihat anaknya begitu senang membuatnya ikut bahagia. Jika kebahagiaan Ridwan di samping Aziz dan Khumaira tentu saja Azzam ikhlas.
Setidaknya Ridwan kini telah kembali menjadi Putranya yang manja seperti dulu. Benar adanya kebahagiaan Putranya memang sederhana. Azzam berharap semoga saja Ridwan senantiasa patuh pada Aziz dan Khumaira serta membuktikan keberhasilan di masa depan.
Mahira yang awalnya ingin menyuarakan keinginan terpendam mendadak luruh. Melihat kebahagiaan Ridwan teramat besar lantaran mendapat izin Azzam membuatnya mengurungkan niatnya. Mahira tidak mau kebahagiaan Ridwan sirna karena keegoisannya.
"Semoga saja engkau tetap bahagia serta bisa membuktikan keberhasilan mu pada kami, Tole Ridwan. Mama sangat menyayangimu sepenuh hati. Meski pun kasih sayang mu tidak sebesar kasih sayang pada Ayahmu, setidaknya Mama bangga menjadi Ibu sambung, 'mu. Tetaplah berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadist ya, Le," batin Mahira.
Sampai Mahira dikejutkan oleh pelukan hangat Ridwan. Ini kali pertama ia dipeluk oleh anak sambungnya. Tanpa sadar air mata Mahira berlinang deras akibat terharu.
"Mama jangan menangis. Terima kasih atas kasih sayang tulus mu untuk, Ridwan. Doakan Ridwan berhasil dan bisa mengangkat derajat kalian semua. Tolong jaga Abi ya, Ma. Ridwan sayang Mama. Semoga saja Mama panjang umur, lancar rezeki dan sehat selalu, Aamiin. Ridwan juga sayang Adik-Adik, Ma. Mama adalah Mama terbaik bagi Adik-Adik. Ridwan senang memiliki Mama." Ridwan tersenyum teduh seraya menggenggam Mama sambungnya.
"...." Tanpa sepatah kata Mahira mendekap erat Ridwan seraya tersenyum haru.
Mereka tersenyum haru atas kedekatan Mahira dan Ridwan. Semuanya merasa bahagia walaupun berpamitan setidaknya ada hikmah.
Semoga saja kebahagiaan senantiasa menyertai keluarga kecil Aziz dan Azzam. Mereka harap walau berpisah akan selalu terjalin silaturahmi melalui media sosial.
............
Maaf banyak typo bertebaran dan kurang jelas.