
Zainal dan Aisyah memandang wajah lelap Zaviyar. Hati mereka terenyuh melihat luka yang telah diobati. Zainal dan Aisyah tidak menyangka kunjungan ke Iraq malah mempertemukan dengan sosok menggemaskan.
Sungguh tega orang tua Zaviyar karena telah membuang anak tidak berdosa di hutan. Jika saja kemarin Zainal dan Aisyah tidak menemukan anak kecil ini bagaimana nasibnya?
Tidak lama Emran datang sembari membawa secangkir susu. Wajah manisnya tersenyum lebar memandangi Zaviyar. Antahlah Emran sangat senang menatap wajah menggemaskan si kecil.
Zainal dan Aisyah meminta Emran ikut bergabung. Akhirnya anak semata wayangnya ikut gabung seraya berceloteh riang. Hati Zainal dan Aisyah menghangat lantaran Emran menerima Zaviyar dengan tangan terbuka.
Ngomong-ngomong mereka ke sini lantaran ada kerabat jauh Aisyah yang menikah. Kebetulan selama ini mereka menetap di Mesir untuk melanjutkan study.
Zainal sendiri sudah meraih gelar Master di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, sedangkan Aisyah baru mau wisuda. Mereka bertemu pertama kali saat ada acara di Universitas dan hubungan semakin dekat. Zainal kala itu baru lulus S1 ingin meminang Aisyah baru semester dua.
Takdir tidak bisa terelakkan bahwasanya Zainal dan Aisyah akhirnya menikah dan memutuskan menetap di Mesir. Rumah tangga mereka berjalan kisaran lima tahun.
Alhamdulillah, sudah memiliki anak pertama laki-laki berumur Empat tahun. Namanya sangat bangus yaitu Ahmad Emran Al-Khafi.
Jika di lihat sepertinya Zaviyar lebih muda dari Emran. Wajah rupawan Zaviyar tentu membuat pasangan Zainal dan Aisyah terpukau.
Antah kenapa Zainal merasa ada yang janggal lantaran sudah satu hari pihak kepolisian belum ada yang memberi kabar. Apa benar anak ini di buang oleh kedua orang tuanya? Memikirkan itu rasa kesal menyelimuti hati untuk orang tua Zaviyar.
Anak semanis ini salah apa?
Padahal jelas sekali Zaviyar begitu rupawan tidak memiliki kekurangan. Lalu kenapa tega di buang tanpa perasaan?
Sehari sudah cukup membuktikan bahwa Zainal dan Aisyah akan mengadopsi Zaviyar. Mereka akan meminta pihak pemerintah Iraq menyetujui keinginannya. Zainal dan Aisyah janji akan memperlakukan Zaviyar layaknya anak kandung.
Lamunan Zainal dan Aisyah buyar mana kala dering telepon berbunyi. Zainal sontak melihat siapa yang menghubungi di waktu pagi. Dahinya mengernyit melihat kontak "Abah" memanggil.
"Assalamu'alaikum, Bah. Abah dan Umi sehat, 'kan? Ada apa sepagi ini menelpon?" Tanya Zainal sopan.
"Wa'alaikumussallam, Le. Alhamdulillah Abah sehat, tapi Ummi mu ...." Di seberang tepatnya di Ponorogo Abah Mustofa bergetar.
"Ada apa dengan, Ummi? Apa yang terjadi, Abah?"
"Ummi jatuh dari kamar mandi dan sekarang di rawat. Ummi terus memanggil namamu, Le. Pulanglah karena Ummi, 'mu. Ummi sangat parah, Abah mohon."
"Innalilahi wainailaihi roji'un."
"Pulanglah, Le."
"Baik, Zain akan pulang segera. Tunggu kedatangan, Zain bersama anak-Istri."
"Kami tunggu, Le."
"Iya, kalau begitu Zain dan Aish siap-siap dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussallam."
Degup jantung Zainal tidak menentu akibat mendengar kabar menyesakkan dari Abahnya. Masalah di sini belum selesai lalu sekarang bagaimana? Zainal bingung harus pulang sekarang atau menyelesaikan hak asuh anak pada pemerintah Iraq?
Kebetulan Zainal memiliki teman sudah memiliki jabatan di kota Baghdad, otomatis bisa membantu. Semoga saja masalah anak ini segera tuntas kemudian bisa menjadikan Zaviyar sepenuhnya menjadi anak mereka.
Sedangkan Aisyah bergeming mendapati Zainal begitu gelisah. Sebenarnya apa yang terjadi pada Ibu mertuanya? Memikirkan hal tersebut tentu Aisyah ikut gelisah.
Dengan lembut Aisyah pegang tangan Zainal berusaha memberi kekuatan. Semoga dengan genggaman tangan ini bisa meringankan beban pikiran Suaminya.
"Abi kenapa?" Tanya Aisyah.
"Kita harus pulang ke Indonesia, Mi. Ummi dalam keadaan kritis, Abi sangat khawatir terjadi apa-apa. Sudah setengah tahun tidak bertemu membuat Abi rindu. Abi takut ini terakhir Ummi ada ...."
"Innalilahi wainailaihi roji'un, Ummi kenapa bisa kritis, Bi? Jangan bilang begitu, Bi ... Allah pasti melindungi Ummi dan jangan berpikir yang tidak-tidak!"
"Ummi jatuh dari kamar mandi, Mi."
"Astaghfirullahal'adzim, innalilahi wa innailaihi roji'un. Baik, kita harus segera pulang."
"Lalu bagaimana dengan Zavi, Mi?"
"Kita bawa ke Indonesia, kalau pun di tinggal tidak mungkin. Kita urus berkas hak asuh di sana saja. Sekarang darurat, ayo kita segera pulang, Bi."
Semua sudah dirembukkan otomatis keluarga kecil ini pulang ke Indonesia tanpa tahu bahwa ada keluarga kecil kehilangan sosok Zaviyar. Terlebih mereka tidak tahu bahwa semuanya telah disabotase.
Sedangkan SH yang memiliki hacker siap melancarkan aksi. Jejak Zaviyar tidak akan terendus bahkan sang berwajib tidak akan menemukan sosoknya.
Orang tua Zaviyar berkebangsaan Indonesia, mana ada nama anak malang tersebut. Yang jelas hilangnya Zaviyar menjadi titik awal kehidupan baru Aziz sekeluarga.
****
Tiga hari pencarian Zaviyar, Polisi menemukan titik terang yaitu ada mayat anak kecil sudah membusuk 20 KM dari tempat kejadian. Otomatis mayat anak kecil tersebut di evakuasi, tetapi sebelum itu menghubungi keluarga korban.
Diseberang tepatnya dikediaman Nenek Buyut, tampak Aziz bungkam mendengar kabar dari polisi. Apa benar anak yang meninggal tersebut adalah Zaviyar?
Memikirkan hal tersebut Aziz menjadi lemah. Tubuhnya lemas akibat kurang istirahat, makan dan tentunya banyak pikiran. Memikirkan banyak hal terutama mengenai jenazah anak yang sudah membusuk.
Dari keterangan Polisi kondisi anak tersebut begitu memprihatinkan lantaran sebagian tubuh telah di makan hewan buas. Wajah sudah tidak dikenali, tetapi Polisi bilang bahwa baju yang dikenakan sama persis seperti yang digunakan Zaviyar.
Aziz memutus panggilan setelah memberi keputusan bahwa jenazah tersebut di bawa ke rumah sakit untuk di otopsi. Kalau mengambil keputusan seperti Azzam dahulu pastilah salah kaprah.
Jelas tidak mau mengulang kesalahan untuk yang kesekian kali. Aziz berharap semoga saja jenazah tersebut bukan Zaviyar. Jikapun itu putranya sudah pasti hatinya bakal hancur lebur lipatan kali.
"Siapa yang menelepon, Mas?" Tanya Khumaira tatkala melihat Aziz menerima panggilan.
"Polisi," sahut Aziz bimbang.
"Polisi? Apa ada perkembangan kasus mengenai Tole Zavi, Mas? Alhamdulillah, jika Tole Zavi ketemu, kita bisa berkumpul lagi. Tole sudah ditemukan, Mas?" Tanya Khumaira berharap semoga saja doanya terkabul.
"...." Jawab Aziz dengan menggelengkan kepala.
"Terus Polisi mengabari apa?" Tanya Khumaira deg-degan.
"Ada penemuan jenazah 20 KM dari lokasi kejadian, Dek," cicit Aziz.
"Innalilahi wa innailaihi roji'un. Mas bercanda, 'kan? Katakan bohong, tidak mungkin itu Zaviyar!" Pekik Khumaira tanpa sadar.
"Kita berdoa semoga saja jenazah tersebut bukan, Tole. Kita harus ke rumah sakit untuk melihat langsung jenazah itu, Dek," lirih Aziz berusaha tenang.
"Aamiin, semoga saja. Adek ganti baju dulu baru kita ke rumah sakit," pungkas Khumaira.
"Hm," gumam Aziz
Khumaira segera mengganti pakaian dan memakai jilbab syar'i. Tidak butuh waktu lama ia mempersiapkan diri untuk segera berangkat. Tanpa riasan wajah anggun Khumaira tetaplah elok.
Degup jantung Khumaira bertalu-talu menandakan kegugupan melanda. Jika benar itu Zaviyar apa yang harus dilakukan? Demi Allah, Khumaira belum sepenuhnya sanggup menerima takdir.
Sementara Aziz sudah siap menggunakan celana bahan dan kaus panjang. Meski sudah kepala empat tidak memudar kadar ketampanan. Badan tegap, gagah perkasa masih melekat pada Aziz.
Beberapa kali Aziz merapal dzikir dan istighfar demi mengurangi rasa sesak. Jikalau jenazah tersebut benar Zaviyar detik itu juga ia pasti begitu hancur lebur. Aziz sesungguhnya hanya pria rapuh, tetapi bersyukur kerapuhan tersebut ditutupi oleh wajah dan perawakan tubuh.
"Ayo Mas, berangkat Adek sudah siap," ajak Khumaira.
"Iya, Dek. Temani Mas duduk dulu, Dek," pinta Aziz seraya menepuk sisi ranjang.
"Enggeh, Mas." Khumaira duduk bersebelahan detik berikutnya tangan digenggam erat oleh Aziz.
"Allah SWT itu Maha Agung, setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya. Jikalau jenazah yang ditemukan itu benar, Zaviyar ... bagaimana, Dek?"
"Mas ...."
"...."
"Mas begitu yakin bahwa jenazah tersebut bukan anak kita. Jangan lepas untuk menyebut nama Allah, selalu berdoa yang terbaik."
"Enggeh Mas."
Khumaira akhirnya mendekap tubuh Aziz erat seraya menangis dalam diam. Biarkan disini menangis sebelum bertemu keluarga besar. Yang ada diucapkan Aziz benar maka Khumaira melakukan.
Aziz membalas dekapan Khumaira seraya mengatakan kata-kata penenang. Istirnya memang rapuh, tetapi begitu kuat menyimpan duka tanpa membagi. Sebagai Suami jelas Aziz kadang merasa gagal memahami perasaan Khumaira.
"Ayo kita keluar Dek izin ke rumah sakit. Maunya kita saja atau mengajak mereka?" Tanya Aziz seraya menghapus air mata Khumaira.
"Kita sendiri, Mas. Adek takut jika ada hal kurang mengenakkan membuat anak-anak terbebani," tutur Khumaira.
"Nah sekarang Syafa-ku sudah cantik Masya Allah. Sekarang tersenyum untuk Suamimu yang tampan ini."
"Ish, Mas bisa-bisanya bicara begitu. Dalam kondisi begini malah melawak."
"Nah kan, Syafa-ku memang sangat cantik Masya Allah jika tersenyum. Mas siap menjadi komedian asal membuat Adek tersenyum. Cium dulu sebagai bayaran membuat Adek tersenyum."
"Astaghfirullahal'adzim, ingat umur Mas. Kita sudah punya anak 4 masih seperti dulu. Malu ah, Adek mau ke luar dulu."
"Hanya di depan Adek seorang Mas berani begini. Cium dulu baru boleh keluar!"
Aziz mengurung Khumaira dalam dekapan tidak lupa menggoda dengan menaik turunkan alisnya. Mungkin karena gemas dia malah dihadiahi cubitan manja tentu membuat tertawa. Aziz lega setidaknya sebelum datang ke rumah sakit bisa membuat Khumaira tersenyum dan tertawa.
Khumaira yang gemas mencubit Aziz diiringi kekehan. Sungguh dia wanita paling beruntung bisa mendapat Suami serba bisa. Khumaira berterima kasih karena Aziz sedikit menghibur meski dengan cara menyebalkan.
****
Keluarga besar Abah Hasyim memutuskan ikut kecuali anak-anak. Mereka telah tiba di rumah sakit tempat jenazah di autopsi.
Izin otopsi jenazah sudah mendapat persetujuan oleh Aziz. Di luar mereka berharap cemas menunggu hasil.
Salah satu petugas keluar membawa pakaian dalam plastik putih. Dokter Forensik telah melakukan tugasnya, Alhamdulillah jenazah masih bisa diindentifikasi.
Melihat pakaian kotor berwarna biru navy di tangan perawat spontan di ambil Aziz lalu mengeluarkan dari plastik. Degup jantung tidak terkendali bahkan dadanya berada sesak memegang pakaian lusuh ini.
Terekam jelas sewaktu Aziz memakaikan pakaian ini untuk Zaviyar-nya kala itu. Air mata merembes keluar berlomba keluar tanpa bisa dicegah.
Aziz jatuh tertunduk seraya mendekap erat pakaian Zaviyar. Untuk pertama kalinya ia menangis mengeluarkan suara.
"Tidak, ini bukan pakaian anakku. Ini bukan milik Zavi-ku. Tolong Allah jangan uji aku begitu berat. Huhuhu huhuhu, ampun ya Allah. Kenapa bisa? Nak, kenapa pulang hanya membawa pakaian ini? Astaghfirullahal'adzim, huhuhu huhuhu Zavi-ku. Innalilahi wa innailaihi roji'un, ini tidak mungkin," histeris Aziz berusaha menyangkal, tetapi terus menciumi pakaian kotor nan bau ini.
Khumaira yang paham keadaan sewaktu Aziz meraih pakaian tersebut bagai tersambar petir. Tubuhnya lemas tanpa tenaga terlebih melihat Suaminya histeris mendekap dan menciumi pakaian itu
Sewaktu Aziz memilih serta memakaikan pakaian itu untuk Zaviyar terekam jelas dalam benak Khumaira. Pakaian itu sudah ia sulam di dada kanan dengan inisial nama Zaviyar.
Karena tidak sanggup lagi menahan beban pikiran dan hati membuatnya jatuh pingsan. Rasanya sangat sesak menghunus jantung berusaha tegar, tetapi tubuh tidak mampu.
"Nduk Maira," panik Azzam sewaktu tahu Adik ipar jatuh pingsan.
Siapa yang tidak pilu melihat kehancuran Aziz dan Khumaira?
Keluarga besar Abah Hasyim tampak shock atas semua yang Allah takdirkan. Mereka sangat tahu betapa besar cobaan dalam bahtera rumah tangga Aziz dan Khumaira seolah tidak memperbolehkan bahagia.
Aziz yang sadar spontan meraih tubuh Khumaira dari dekapan Umminya. Dia dekap erat Istrinya seraya menangis tergugu. Aziz paham apa yang dirasakan Khumaira terlebih tubuh sang Istri sangat rapuh.
"Le, ini minyak kayu putih untuk menyadarkan Nduk Maira," tutur Azzam memberikan minyak kayu putih.
"...." Aziz terima tanpa suara lalu mendekatkan di lubang hidung Khumaira dan Alhamdulillah tidak berselang lama sadar.
"Nduk," panggil Ummi Safira khawatir.
"Katakan pada Adek itu bukan pakaian Tole seperti yang Mas katakan," tangis Khumaira.
"Dek," lirih Aziz tambah tergugu.
"Argh huhuhu, bohong huhuhu itu bukan pakaian Zavi-ku," histeris Khumaira tidak berselang lama jatuh tidak sadarkan diri.
"Astaghfirullahal'adzim, Dek. Ya Allah, Dek." Aziz yang panik berusaha mengangkat tubuh Khumaira.
Para perawat dan beberapa orang melihat pemandangan memilukan ikut menangis. Mereka seolah merasa kesakitan yang dirasakan.
Sontak mereka menolong dan membawa Khumaira ke UGD. Setelah mendapat penanganan Aziz meminta Ummi Safira serta Adik dan ipar perempuan menjaga Khumaira.
Sedangkan Abah Hasyim, Nakhwan dan Azzam serta Adik ipar laki-laki ikut menemani Aziz untuk mengetahui siapa jenazah tersebut? Semua berdoa semoga saja jenazah tersebut bukan Zaviyar, walau pun sudah jelas itu pakaian yang dikenakan saat terakhir berjumpa.
"Le," panggil Abah Hasyim seraya memegang bahu Aziz.
"...." Aziz berhenti sekejap guna mendengar apa yang ingin diucapkan Abah Hasyim.
"Allah itu Maha Adil dan Maha Penyayang. Allah tidak akan menguji hamba-Nya melebihi batas kemampuan. Allah percaya ujian yang diberikan adalah bentuk kasih sayang-Nya. Allah ingin kamu sekeluarga lebih berserah diri kepada-Nya. Semoga saja keajaiban dari-Nya datang menyertai Tole sekeluarga. Abah yakin keluarga Tole Aziz mampu melewatinya. Ingat kasus Masmu Azzam juga pernah mengalami, semoga saja kasusnya sama, Aamiin," tutur Abah Hasyim guna menenangkan Aziz.
"Aziz percaya bahwa Allah tidak akan mengecewakan hamba-hamba-Nya yang memohon secara tulus. Semua yang dikatakan Abah benar, tapi ada yang janggal mengenai kasus ini. Aziz tidak punya musuh bahkan rival bisnis juga tidak sampai hati melakukan ini. Di Irak tidak ada musuh, lalu siapa dalangnya?" Tanya Aziz yang tertunduk lesu.
"Apa yang kita anggap baik belum tentu baik. Mas juga tidak percaya almarhum Rizal mampu berbuat demikian sama, Mas. Bukannya orang tidak terduga malah menjadi dalangnya?" Timpal Nakhwan.
"Mas, di sini tidak ada yang mengenal Khumaira. Bahkan kasus kali ini berbeda jauh, almarhum sangat terobsesi pada Dek Maira sampai nekat melakukan hal tercela. Lalu bagaimana dengan kasus sekarang?" Sahut Azzam merasa ada yang tidak beres.
"Maaf sebelumnya bukan saya ikut campur, tetapi ingin memberikan opini. Kita belum mendapatkan hasil forensik mengenai jenazah tersebut, lalu kenapa berpikir jauh? Kakak semisal benar itu Tole Zavi, semua spekulasi kalian melesat jauh. Namun, jika bukan Tole Zavi Arham beri opini. Pernah suatu hari Istriku bercerita sedikit mengenai kasus Mas Azzam. Semua terasa menyesakkan dada, tetapi takdir memang hanya Allah yang menentukan ....
... Mas Azzam kecelakaan di tolong almarhum Rizal, kemudian disembunyikan di USA. Tole Zavi, kecelakaan bersama almarhum dan almarhumah, tetapi jasadnya tidak ditemukan ... itu sama seperti Mas Azzam. Di tempat kejadian tidak ada sungai hanya hutan belantara yang memiliki jurang. Kalau Tole Zavi selamat dari kecelakaan pasti bangun lebih dahulu untuk mencari pertolongan karena melihat Paklik dan Buliknya tidak berdaya ....
... Tole anak yang cerdas, bisa jadi saat kejadian Tole berjalan naiki ke atas atau malah menyusuri hutan. Dalam perjalanan bisa jadi ada insiden membuat Tole berakhir tragis seperti saat ini. Namun, tidak masuk akal anak 3 tahun berjalan 20 KM dari tempat kejadian. Sepertinya ada yang memanipulasi kasus Tole Zavi. Dalam benak terbesit pikiran bahwa Tole Zavi dibawa oleh orang antah siap itu ....
... mungkin orang tersebut berencana ... maaf saya akan mengatakan hal menyakitkan. Orang yang menemukan Tole Zavi ingin menjual atau menjadikan budak? Pakaian di ambil kemudian memasang pakaian ke tubuh anak yang menjadi korban telah tiada. Hanya itu saja, semoga bisa membantu sedikit kasus ini," Jabar Arham.
Muhammad Arham Al Bastomi, Suami dari Hazza yang berprofesi sebagai pengacara yang handal. Usianya 38 tahun dan sudah mendapat banyak penghargaan serta banyak kasus yang berhasil ditangani.
Arham bertemu pertama kali dengan Hazza di pengajian Akbar di Sleman Yogyakarta. Ia lahir di Banyuwangi, dan menetap di Palembang. Arham bukan keturunan Kiyai, tetapi pernah mondok di Tebuireng.
Setelah lulus MA, Arham ke Beijing China dengan prestasi yang di dapat tentu mendapat beasiswa penuh. Di Yogyakarta ia datang ke pengajian bersama temannya dan pertemuan tidak sengaja terjadi.
Mendengar penjelasan Arham Abah Hasyim serta anak-anaknya termangu mencerna setiap kata. Dipikir secara logis memang yang diucapkan Arham benar.
Tangan Aziz mengepal kuat dengan rahang mengeras menandakan sedang menahan amarah. Dia percaya Allah tidak akan sekejam itu pada Zaviyar.
Kalau benar diculik Aziz berharap Putranya bisa lolos dan dibawa oleh orang baik. Namun, ia percaya bahwa Zaviyar akan segera ditemukan.
"Mas," panggil Arham tidak enak hati.
"Kalau yang kamu utarakan benar maka aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib, Tole Zavi. Allah Maha Penyayang dan Maha Pengasih, aku percaya bahwa Dia tidak akan mentakdirkan hal mengerikan kepada, Tole Zavi!" Tegas Aziz.
"...." Arham hanya bungkam seraya menunduk merasa bersalah telah memberi opini menyakitkan.
"Tole, tetap teguh pendirian bahwa Tole Zavi akan segera ditemukan. Tetap ikhtiar, Le. Kita akan senantiasa mendoakan yang terbaik untuk, Tole." Azzam memberikan pelukan untuk Adiknya dan membisikkan kata-kata penuh semangat.
"Mas," tangis Aziz tidak mampu menyembunyikan duka kala Azzam mendekap dan memberi motivasi.
Abah dan Nakhwan ikut memberikan pelukan pada Aziz guna memberikan dukungan. Mereka sangat tahu betapa rapuhnya pria gagah, tetapi berusaha kuat.
Sedangkan Aziz mengontrol diri agar tidak terisak. Dia bersyukur setidaknya anak-anak tidak melihat saat menangis. Aziz juga berharap hasil autopsi menunjukkan negatif bahwa jenazah itu bukan Zaviyar-nya.