
Baghdad Iraq pukul setengah enam pagi terasa damai lantaran keluarga kecil Aziz telah berkumpul di ruang keluarga rumah peninggalan almarhum Kakek dan almarhumah Nenek Buyut. Setelah wafat Nenek Buyut yang paham keadaan dan situasi mewariskan rumah kepada Aziz tanpa diganggu gugat.
Awalnya Aziz keberatan lantaran keluarga dari pihak Ibu terkesan tidak senang. Di lihat lebih jauh keluarga besar dari pihak Ibunya dari kalangan berada bahkan sudah mendapat bagian masing-masing.
Almarhumah Nenek juga memberikan toko sembako untuk dikelola keluarga kecil Aziz. Satu bulan di sini awalnya terasa damai dan diterima, tetapi lambat lain berbeda.
Aziz jadi merasa risih karena mereka seolah memandang rendah. Seolah kedatangannya sekeluarga hanya ingin menguasai rumah serta toko. Aziz bahkan setelah satu Minggu tinggal di Baghdad langsung bekerja di perusahaan kontraktor incarannya.
Masih terekam jelas mereka sekeluarga kecil Aziz telah resmi menjadi warga Negara Iraq. Setelah beberapa waktu mengurus surat kepindahan kewarganegaraan, mengurus surat pindah sekolah dan lain sebagainya mereka telah resmi tinggal di sini.
Saat terakhir di Indonesia keluarga besar Abah Hasyim dan keluarga besar Almarhum Pak Ibrahim berkumpul dikediaman rumah sederhana Aziz. Mereka saling berurai air mata merelakan kepergian Aziz sekeluarga ke Iraq. Seribu harapan terucap untuk Aziz sekeluarga supaya tabah dan sabar lan ikhlas menghadapi masalah.
"Ayah, ayo kita berlibur mumpung hari libur. Bosan Kakak mendengar Bude dan Bibi selalu berkata tidak enak di dengar," ajak Mumtaaz.
"Hush, jangan berbicara begitu, Kak. Kita orang baru tidak boleh berkata buruk. Mungkin mereka berkata begitu untuk menambah wawasan serta memberi kita motivasi. Kita harus dengar, Kak," peringat Dek Syafa.
"Umi terlalu sabar dihina dan dimaki mereka. Aku yang dengar saja ingin menyumpal mulut mereka yang tidak beradab. Warisan saja yang dibahas tidak ada yang lain. Ayah, tahu kalau Ayah pergi kerja pasti Umi jadi bahan bullian mereka," sungut Mumtaaz membuatku terdiam.
"Sudah-sudah jangan membicarakan orang lain terlebih saudara kita yang usianya jauh lebih dewasa. Umi tidak suka jika Kakak atau yang lain berghibah keburukan orang lain. Tetapi, Umi lebih senang kalian jujur ketidaksukaan atas mereka. Jangan mau ditindas, lawan jika sudah keterlaluan!" Tegas Khumaira.
"Ini baru solusi yang tepat. Kakak suka keributan, ha ha ha," tawa Mumtaaz beserta kami semua.
"Kak, kalau perlu ajak tanding adu kegantengan. Siapa yang paling ganteng pasti pemenang kita!" Kelakar Ridwan seraya tertawa riang.
"Hish, FaaFaa juga mau dong ikut tanding. Wajah FaaFaa kan cantik seperti Umi," timpal Faakhira ikut serta.
"Sudah-sudah, bagaimana kalau kita siap-siap jalan-jalan ke taman kota. Mumpung Ayah libur kita nikmati hari libur penuh keseruan!" Seru Aziz.
"Ye, ayo kita jalan-jalan!" Riang anak-anak serta Khumaira.
Hari weekend usai jalan-jalan keluarga kecil Aziz pulang. Rasa senang tiba-tiba luntur akibat melihat keluarga pihak Ummi Safira.
Awalnya hati keluarga kecil Aziz senang bisa liburan di taman kota. Semua semu saat pulang melihat orang-orang yang selalu mengatakan hal kurang enak di dengar.
Anak serta cuci dari almarhumahNenek Buyut tampak geram melihat Aziz seenaknya sendiri. Mereka sebenarnya iri karena Aziz adalah cucu paling disayangi almarhumah.
Rumah besar nan kokoh malah diwariskan untuk Aziz, padahal yang menunggu almarhumah Nenek adalah Putri bungsu.
Terlebih toko yang sudah banyak pembeli malah diwariskan kepada orang yang sama. Rasa kesal, iri dan benci melingkupi hati mereka semua.
Yang jelas rumah dan toko harus jadi milik mereka tanpa terkecuali. Meskipun mereka sudah dapat warisan, tetapi bagian Aziz lebih besar.
Anggap saja percakapan mereka menggunakan bahasa Indonesia dengan lancar. Meskipun mereka di Iraq sedikit dikit bisa menggunakan bahasa Indonesia.
"Dari mana?" Tanya Paman Aziz.
"Jalan-jalan ke taman kota," sahut Aziz tanpa sungkan langsung membuka rumah dan meminta Ridwan mengajak Mumtaaz dan Faakhira masuk.
"Enak sekali kamu, Ziz. Datang-datang menjadi penguasa. Bilang saja padahal pindah kemari ingin rumah dan toko, almarhumah Nenek," sinis Bude Aziz.
"Pergi saja jika ingin menghujat. Liburanku yang seharusnya tenang mendengar suara sumbang kalian," decih Aziz tajam. Masa bodoh, awalnya memang ia sungkan, tetapi makin kesini keluarga pihak Ummi semakin menjadi.
"Lancang sekali bicara, 'mu! Ingat kamu hanya bocah ingusan yang berusaha menguasai rumah almarhumah. Dasar orang miskin tidak berpendidikan. Pasti didikan Mbak Fira dan Mas Hasyim membuat kamu tumbuh begini," cerca Adik Ummi Safira.
"Jangan membawa kedua orang tuaku. Tidak berpendidikan? Yakin aku tidak berpendidikan? Hai aku kalau tidak berpendidikan tidak mungkin bisa diterima di perusahaan kontraktor terbesar di Baghdad!" Tegas Aziz masih terkesan santai.
"Jadi satpam atau office boy saja bangga. Pendidikan kalian kan cuma panjangan!" Dengus Paman Aziz.
"Jangan salah saya ini Aziz mana bisa kerja sangat bagus begitu. Aziz hanya kerja sebagai manager. Oh iya, soal warisan Aziz akan mempertahankan milik, almarhumah Nenek. Hai, ada pengacara yang sudah Aziz sewa. Semua yang akan merebut secara paksa atau halus akan berhadapan dengan hukum! Kalian lupa dengan siapa berhadapan. Jangan salah kami tinggal di sini semata menghargai almarhumah Nenek. Mulut kalian memang licin kayak belut, tapi maaf soal keserakahan menguasai semua Aziz bertindak. Apa yang menjadi milik Aziz tidak akan tersentuh. Kami akan pergi dari sini dan toko akan di kelola Istriku. Rumah akan kami sewakan pada orang yang tepat!" Tegas Aziz sebelum berlalu membawa Khumaira.
Tanpa tedeng aling-aling Aziz menutup pintu secara kasar. Biarkan dianggap tidak sopan bagi orang yang tidak memiliki rasa bersyukur. Masih terekam jelas bagaimana keluarga almarhumah Nenek merebutkan warisan.
Mereka mengincar rumah dan toko dengan berbagai cara. Dengan segala ucapan tajam supaya Aziz sekeluarga tidak betah. Namun, mereka tidak tahu bahwa Aziz lebih tajam jika berbicara.
Mengenai rumah dan toko sejatinya Aziz bisa mengikhlaskan, hanya saja ini peninggalan terakhir almarhumah Nenek yang harus di jaga. Aziz juga akan menyewa rumah yang strategis dekat tempat kerja dan sekolah anak-anaknya.
Di luar sumpah serapah meluncur bebas seolah Aziz adalah manusia hina. Mereka memang telah memiliki warisan, tetapi tidak adil almarhumah Nenek malah memberi pada Aziz.
Cucu yang mendapat warisan cuma Aziz, oleh sebab itu mereka meradang tidak ikhlas. Apa pun yang terjadi mereka pastikan Aziz sendiri yang akan mengembalikan rumah beserta toko.
Sementara Khumaira hanya diam menyimak pembicaraan terdengar menyedihkan. Hanya karena harta mereka berebut seolah tidak memikirkan hubungan sedarah.
"Mas," panggil Khumaira setelah berada di ruang tengah.
"Ya," sahut Aziz.
"Mas masih marah?"
"Hm."
"Mereka yang salah harus diingatkan. Bimbing mereka ke jalan yang benar. Orang yang membenci kita bukan balik dibenci. Balas mereka dengan kasih sayang, insya Allah luluh."
"Yang mereka pikirkan uang, uang dan uang. Rumah beserta toko itu harta peninggalan terakhir almarhumah Nenek. Adek tahu betapa keras almarhumah mempertahankan miliknya. Almarhumah Nenek percaya Ku mampu mengemban amanah. Mereka benar-benar keterlaluan.'
"Adek paham, sekarang jadilah Aziz yang pantang menyerah. Memaafkan dengan ikhlas serta senantiasa berjuang itu adalah ciri khas, Mas."
"Mas hanya ingin memberi sedikit pelajaran. Jangan mau ditindas harus lawan. Tidak peduli saudara kita harus lawan biar tidak mudah diperbudak atau direndahkan. Mas malas bahas tentang mereka."
"Baik, Mas."
Aziz mendekap erat Khumaira untuk memberi kekuatan. Tahu jika selama bekerja di toko keluarga dari pihak Ibunya senantiasa merundung Istrinya. Awalnya Aziz kira mereka bisa merubah sikap ternyata salah.
Jangan remehkan Aziz meskipun adab selalu diutamakan kepada orang lebih tua. Namun, jangan salah dia akan melawan jika berbuat di luar batas. Hormat, pasti Aziz lakukan pada orang tua yang memperlakukan dengan baik juga.
Khumaira sesungguhnya ingin mengatakan bahwa ingin berhenti kerja di toko. Dia tidak enak sering didatangi Bude, Paman dan Bibi dari pihak Ibu mertuanya. Setiap datang Khumaira akan menjadi bahan olokan.
Meski demikian Khumaira bersikap manis tidak melawan bahkan terus mentolerir. Dia senantiasa berbicara halus, berbuat kebaikan demi meluluhkan hati. Namun, usahanya kurang lebih satu bulan bagi Khumaira terasa mustahil.
"Apa orang akan berbuat begitu demi merebut harta, Mas?" Tanya Khumaira.
"Iya. Adej tahu Romli yang notabennya adalah sahabat Mas tega berbuat hina. Harta bisa membuat orang lupa diri serta bisa membuat jadi lebih beringas," sahut Aziz.
"Astaghfirullahal'adzim, lalu kita sampai kapan bertahan dengan harta yang dititipkan? Kita selalu di rundung tanpa henti, apa harus diteruskan?"
"Ya, kita harus bertahan. Mereka itu tamak nan serakah. Mas takut jika dibiarkan semua peninggalan almarhumah Nenek sirna. Rumah serta toko itu adalah jerih payah almarhum dan almarhumah. Rumah ini banyak kenangan, oleh sebab itu Mas akan pertahankan."
"Mas, apa kita harus mencontoh perilaku Baginda Nabi Muhammad Saw? Kita harus sabar, ikhlas dan berbuat baik agar hati batu mereka luluh? Rasulullah Saw saja sangat besar bersabar untuk meluluhkan hati kaumnya. Apa kita tidak mencoba berbuat demikian?"
"Kita beda zaman, Dek. Kalau kita mencontoh perilaku Baginda Rasul bukannya dibaiki malah semakin diinjak-injak oleh mereka. Mereka beda, kita harus tegas melawan kala mereka sudah keterlaluan. Zaman kita beda oleh sebab itu mari berjuang melawan agar kita tidak diremehkan."
"Begitu ya, baiklah kalau begitu Adek nurut. Adek akan perlahan lawan jika sudah keterlaluan."
Aziz tersenyum teduh mendengar penuturan Khumaira. Bisa dibilang Istrinya itu lembut tidak bisa berbuat apa yang diinginkan. Aziz jadi sedih lantaran Khumaira memiliki sikap terlalu baik.
"Semoga saja Istriku tetap menjadi sosok penyayang, berbakti, ikhlas dan sabar menghadapi orang yang buruk padanya. Mas sangat mencintai Adek karena, Allah," batin Aziz.
Khumaira tersenyum teduh mendengar perkataan Aziz. Walau Suaminya tidak terlalu meneladani sikap Rasulullah Saw setidaknya senantiasa berpegang teguh kepada Allah. Dipikir sikap Aziz mencondong ke Sayyidina Umar bin Khattab itulah pendapat Khumaira.
"Mas, semoga sikap Sayyidan Umar senantiasa ada. Semoga saja aku bisa berbuat lebih tegas pada orang yang tidak suka terhadap, 'ku. Mas terima kasih atas semuanya. Adek mencintai Mas karena Allah," batin Khumaira.
...****...
Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan.