Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
Bonus Chap AI 2 - Lembaran Baru!



Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!


Apa kabar semuanya?


Semoga kalian dalam perlindungan Allah dan senantiasa ikhtiar selalu.


Sebelum masuk ke bonus chapter Rose mau buka segala ucapan terima kasih. Aku ingin memberikan segala cinta pada kalian semua.


Alhamdulillah atas kuasa-Nya kini Rose dapat keadilan. Alhamdulillah ya Allah telah memberikan limpahan kebahagiaan melalui perantara kalian semua.


Khusus untuk Kak Lee author Jino dan Kisya terima kasih banyak atas bantuannya. Aku menyayangimu Kak, terimakasih banyak kak.


Untuk kakak-kakakku yang di ******, terima kasih banyak atas bantuannya dan pembelaannya. Kalian yang terbaik, terima kasih banyak ya Kak!


Terkhusus untuk Dedek FaaFaa, Umi bangga padamu, Nak. Umi sangat mencintai Dedek FaaFaa. Terima kasih banyak Nduk begitu pemberani. Umi terbaru, sangat terharu sungguh.


Yang paling manis dan sangat kusayangi Kakak iparku tercinta. Adek sangat beruntung mendapatkan Kakak ipar begitu tangguh dan selalu memberikan segala dukungan.


Untuk Tole FadFad, ya Allah. Terima kasih ya Le, Umi sangat terharu. Tole terbaik, terimakasih, Nak.


Untuk Nee-san ku tersayang, terima kasih banyak telah membantu dan memberikan dukungan dan keadilan. Aku mencintai Nee-san!


Untuk Kak Cua, ya Allah begitu senang aku mengenal Kakak. Demi diriku kakak meluangkan waktu demi membantu segalanya. Aku tersentuh terima kasih Kak.


Untuk dik Kiran, Kak Fasih dan si Bas atau yang belum ku sebut terimakasih banyak ya Allah. Kalian begitu pemberani. Terima kasih banyak atas pembelaannya!


Terkhusus para readerku tercinta dan pastinya aku sayangi. Terima kasih banyak atas dukungan kalian telah mendukung Rose. Kalian terbaik Rose bangga memiliki kalian semua. Terima kasih banyak ya para Reader ku tercinta kalian begitu luar biasa!


Kalian telah memberikan dukungan sehingga membuatku sampai berdiri kokoh seperti sekarang. Terima kasih banyak atas kasih sayang kalian.


Terimakasih banyak untuk semuanya telah membela dan memperjuangkan semua. Aku begitu terharu memiliki kalian semua.


Ulurkan tangan mari kita berkeluarga bersama. Aku begitu cinta dan begitu terharu akan cinta kalian, sungguh!


Rose juga mau minta maaf sebesar-besarnya karena tidak membalas komentar kalian. Sungguh aku begitu terharu ingin menangis membaca komentar dukungan kalian. Komentar kalian adalah sebuah cinta untukku.


Sekali lagi maafkan Rose belum membalas komentar kalian. Jujur aku tidak kuat membalas komentar kalian lantaran begitu terharu. Rose pasti akan jawab singkat karena tidak tahan dengan laju air mata. Kalian begitu luar biasa terima kasih!


Terima kasih banyak telah memberikan segala kasih sayang untukku. Terima kasih semuanya atas cinta yang kalian berikan. Aku tidak bisa berkata banyak lgi selain ucapan terima kasih atas semuanya.


Tolong sekali lagi maafkan Rose belum bisa balas komentar kalian. Tolong maafkan aku yang begitu sombong karena mengabaikan Klian. Sungguh aku baca dan hatiku begitu terharu atas kalian semua


Sekali lagi aku ucapkan terima kasih banyak dan maafkan aku sebesar-besarnya.


I love you, Rosever dari Sabang sampai Merauke!


Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!


Dan Terima kasih sudah baca pembukaan yang sangat panjang. Untuk beberapa hari ke depan akan ditemani Ayah dan Umi.


Untuk kali ini Rose akan pakai alur mundur dulu di mana Dedek Zavi terlahir lalu besarnya. Akan aku jabarkan chap di mana Dedek Zavi hilang!


๐Ÿ’™๐ŸHappy reading, Guys๐Ÿ๐Ÿ’™


Terlihat begitu manis di kala Wanita hamil tua itu sedang menyisir rambut ikal putri cantik kesayangan. Dia tampak semangat mengucur kuda rambut anak manisnya. Setelah selesai ia ambil jepit rambut untuk menghiasi tatanan rambut. Masya Allah, anaknya ini begitu cantik memukau layaknya boneka hidup.


Anak manis berperawakan gempal itu tersenyum manisย  ketika Uminya sudah mengikat rambut tebalnya. Rambut ikalnya tampak lucu saat di kuncir kuda. Anak berusia tiga tahun ini tersenyum sangat manis menerima kecupan manis di pipinya. Tentu saja ank manis ini balik mengecup pipi tembem Uminya.


"Dedek FaaFaa sayang Umi."


"Umi juga sayang Dedek FaaFaa."


"Umi."


"Iya, Nak."


"Umi, apa nanti Dedek FaaFaa tidak di sayang lagi ketika Dedek kecil ada?"


Pertanyaan polos Faakhira sukses membuat Khumaira diam. Dia mengukir senyum manis lalu mamangku anak perempuan statistiknya. Ia ciumi wajah bulat putri tercinta menyalurkan segala cinta. Khumaira tidak pernah membedakan kasih sayang di antara tiga anaknya. Bahkan sampai sekarang dalam doa dirinya selalu mendoakan bah cinta yang telah tiada. Tepatnya anak keduanya meninggal akibat tekanan batin sehingga Allah mengambil dari rahimnya.


Khumaira mendekap tubuh gempal Faakhira seraya menciumi ubun-ubun. Sampai kapan pun rasa sayang itu tetap sama karena keempat anaknya ini adalah sumber segala cinta untuknya. Atas segala rahmat-Nya kasih cintanya pada anak-anak tidak akan sirna. Khumaira begitu mencintai Faakhira lantaran si kecil begitu menderita waktu dalam kandungan.


Batita cantik itu merengkuh leher Uminya lalu mencium pipi. Sungguh Faakhira sedih melihat teman sebelah rumah punya Adik lagi. Katanya Mama dan Papa tidak sayang lagi terlebih apa-apa Dedek bayi. Apa nanti ia akan terasingkan sehingga bernasib sama? Faakhira mau di sayangi jangan abaikan dirinya tidak mau.


Faakhira menitikan air mata setelah ingat teman kecil itu mengatakan tidak di sayang lagi. Dia saja sudah kehilangan Ridwan lalu apa harus kehilangan yang lain? Ia biasanya ada Kakak sulung dikala merajuk. Namun, kini Faakhira hanya punya Mumtaaz karena Ridwan nyantri di pesantren Mbah Kakung dan Mbah Uti.


"Kata siapa Dedek FaaFaa tidak akan disayangi? Bagi Umi dan Ayah putri cantik kami ini begitu kami cintai. Rasa sayang kami akan bersinar sepanjang masa. Sungguh Umi dan Ayah begitu mencintai dan menyayangi Dedek FaaFaa. Jangan sedih ya Nak karena kami tidak akan pernah mengabaikan Dedek."


"Umi dan Ayah janji, kan?"


"Janji, sini cium Umi dulu."


"Emuach, Dedek FaaFaa sayang, Umi dan Ayah!"


"Umi juga sangat menyayangi Dedek FaaFaa, emuach."


Khumaira dan Faakhira saling mendekap erat. Mereka saling menggoyangkan badan dengan pipi menempel sempurna. Terlihat mereka begitu manis sehingga membuat keduanya lupa. Lupa bahwa ada sosok pria gagah sedang memandang dalam. Khumaira dan Faakhira masih asyik saling bercanda ria seolah tidak ada yang bisa menganggu.


Pria itu tidak lain adalah Aziz baru pulang dari pertemuan bersama kolega di hari libur. Dia tadi memberi salam, tetapi tidak ada yang menyahut. Alhasil ia jalan menuju ruang belakang terdapat pemandangan indah. Aziz begitu senang Khumaira dan Faakhira begitu manis saat bercanda gurau.


Aziz melangkah ke arah Istri dan anak cantiknya. Setelah dekat tidak lama ia dekap posesif anak dan Istrinya. Dia kecup beberapa kali puncak kepala dua malaikat tercinta. Lalu mengecup mesra pipi gembul berkali-kali sang putri. Aziz mengukir senyum saat tangan kecil Faakhira minta gendong.


Tangan Khumaira mengusap lengan kekar Aziz, sementara Faakhira minta gendong Ayah. Mereka tersenyum teduh melihat kepala keluarga begitu manis. Pada akhirnya mereka mencium gemas pipi tirus Ayah tercinta. Tampak begitu manis di mana Faakhira mengoceh manja, sedangkan Khumaira menyandarkan kepala.


"Ayah, Umi dan Dedek nakal melupakan Kakak ganteng overdose!" Seru Mumtaaz merajuk.


"Ulu-ulu, anak ganteng sini Nak kita pelukkan manja!" Seru Aziz.


Mumtaaz tersenyum lebar mendengar perkataan Ayahnya. Dengan cepat ia berlari ke arah Ayah, Umi dan Adiknya. Dia tersenyum ketika sampai langsung nyembil minta pelukan erat. Sungguh dirinya begitu hangat berada dalam dekapan Ayah dan Uminya. Baginya pelukan paling hangat adalah dekapan Ayah dan Uminya. Berada dalam dekapan Mumtaaz tidak akan mau lepas.


Ngomong-ngomong tadi Mumtaaz baru pulang dari panti asuhan setelah bermain puas. Dia tipikal anak tidak bisa diam ingin punya banyak teman sehingga. Namun, jika ada Ridwan yakin sehari penuh bisa bertahan dalam rumah. Kini Kakaknya di pesantren meninggalkan Mumtaaz sendiri bersama Faakhira. Walau begitu ia sering bermain bersama Adiknya penuh cinta.


Aziz dan Khumaira merindukan anak sulung yang sudah di pesantren beberapa bulan. Sungguh rindu sekali pada anak kesayangan mereka. Namun, rasa rindu terobati jika Shabibah menghubungi. Atau siapa pun memberi tahu dan Shabibah ini Adik kandung Aziz. Jujur demi apa pun itu Aziz dan Khumaira begitu cinta serta sangat rindu Ridwan.


Untuk Faakhira tampak anteng tidak apa-apa di dekap mereka. Hingga ia tersenyum ketika Kakak keduanya mengangkat tubuhnya. Dia kalungkan tangan kecil di leher Kakaknya seraya berceloteh riang. Faakhira teramat menyayangi Mumtaaz selalu menjaga serta memberikan kasih sayang. Apa lagi saat Ridwan ke pesantren Mumtaaz begitu telaten menjaganya.


"Kak, kenapa ngga ajak Dedek main?"


"Karena kami kain lari-lari nanti kalau Kakak ajak, Dedek terabaikan. Bagaimana Dedek rindu, kakak ya?"


"Nakal, Dedek merajuk nih (mempoutkan bibir) jangan tanyakan Dedek. Ngga rindu sama Kakak Mumi nakal."


"Ulu-ulu anak cantik merajuk lucu sekali (menirukan gaya Ayahnya lalu mengecup pipi) manis sangat. Baiklah Kakak kembali main saja kalau ngga rindu."


"Ih nakal jangan cium pipi, Dedek. Umz, jangan Dedek mau main sama Kakak Mumi."


"Hm."


Pada akhirnya Mumtaaz dan Faakhira beranjak untuk main di ruang tengah. Mereka sudah berlalu dengan izin manis pada Ayah Umi. Keduanya telah meninggalkan dua pasangan saling pandang. Lupakan itu Mumtaaz menyesal menggendong tubuh gempal Faakhira sampai ruang tengah. Tangan kecilnya berusaha menahan tubuh gembul Adiknya. Sementara Faakhira asyik berceloteh mengajak bicara Mumtaaz.


Melihat dua anaknya begitu manis membuat keduanya tersenyum. Mereka duduk di bangku dengan cara saling bersandar. Tangan bertautan lalu saling bersandar menikmati udara segar. Aziz dan Khumaira begitu manis menikmati kebersamaan manis. Tangan kanan sang Suami terulur untuk mengusap perut buncit si Istri. Sedangkan untuk Istri menikmati sentuhan Suami sembari memejamkan mata. Aziz dan Khumaira begitu dekat tidak lama kepala miring cukup dalam dan pada akhirnya bertemu.


"Mas sangat mencintai Adek karena Allah."


"Adek juga sangat mencintai Adek karena Allah."


"Mas sangat bahagia Adek begitu manis hari ini."


"Memang Adek busnya ngga manis?"


"Manis, hanya saja kayak es curut eh bukan maksudnya es krim. Mas sangat mencintai Adek!"


"Lah? Adek tahukan satu bulan lagi Adek lahiran. Kata Dokter gitu-gitu biar enak proses persalinannya."


"Itu Mas yang pingen enak-enak! Bilang saja ambil kesempatan dari perkataan Dokter!"


"Nah itu tahu, lah maaf salah bicara. Dek, jangan merajuk nanti Mas kelepasan kontrol."


"Hm. Mas jengkelin!"


"Tapi, cinta sepenuh hati, bukan?"


"Hm."


Khumaira langsung beranjak tanpa peduli Aziz membujuk. Dia tepis tangan Suaminya saat menyentuh lengannya. Ia masih kesal pada Suami nakalnya super jahil. Nyebelin masak ngatain es curut tega sekali Suaminya itu. Khumaira terdiam sepi di saat Aziz mendekap tubuhnya dari belakang.


Aziz tidak melepas dekapan dari belakang walau Khumaira menginjak kakinya. Dia kecup pipi gembul Istrinya lalu menyibak hijab yang digunakan wanitanya. Ia curi ciuman lembut di leher jenjang wanitanya sebelum memberikan gigitan kecil. Aziz tersenyum saat Khumaira lengah alhasil menggendong tubuh sang Istri.


"Maaf ya, Sayangku."


"Hm."


"Mas sangat mencintai Adek karena Allah!"


"Adek juga."


"Yang lengkap!"


"Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah!"


"Manis sekali Istriku ini."


Aziz begitu senang Khumaira begitu manis walau kadang menyebalkan. Sampai kamar ia rebahkan tubuh gembul wanitanya. Walau gembul itu malah semakin cantik menggemaskan. Dia begitu memuja Istrinya apa adanya. Asal itu Syafa-nya maka Aziz akan sellau cinta sampai ajal menjemput. Insya Allah cintanya atas kehendak-Nya sampai akhirat dan berpasangan selamanya.


Khumaira membelai lembut pipi tirus Aziz kemudian mencuri ciuman di bibir. Ia kalungkan tangan lalu turun meremas lengan kekar Suaminya. Dia akan melakukan sebuah hal menyenangkan malah pintunya terbuka kasar seraya menampilkan anak tampannya. Sontak saja Khumaira mendorong Aziz agar menjauh darinya.


Lihat Mumtaaz malah merajuk panjang lebar melaporkan bahkan Faakhira menciumi kucing jenis anggora. Tidak lama si pelaku datang menggendong kucing bulu lebat lalu jalan ke arah Umi dan Ayahnya. Dia dengan riang memberikan kucing itu pada Ayah seolah hadiah. Faakhira juga begitu mencintai kucing begitupun dengan Mumtaaz.


Di antara mereka yang paling cinta kucing Ridwan dan yang kedua Mumtaaz lalu Faakhira. Anak-anak bak boneka itu begitu cinta kucing apa lagi.yang masih kecil gemesin. Lupakan itu karena sekarang keluarga narsis memilih mengajak Dedek FaaFaa dan Mumtaaz makan. Aziz menggendong Faakhira Sementara Mumtaaz menggenang tangan Uminya. Kini saatnya makan siang lalu shalat Dzuhur dan berakhir tidur siang.


***๐Ÿ’๐ŸŒน๐Ÿ’***


W


ajah cantik berseri-seri melihat anak tirinya datang. Lihat Ayeza sudah berjalan ke arah Ridwan berniat minta gendong. Mahira kebetulan masak banyak sehingga bisa membawakan anaknya ke asrama. Sungguh ia juga sangat cinta pada Ridwan walau bukan darah dagingnya.


Mahira tatap anak bujang Azzam dan Khumaira sepenuh hati. Dia duduk manis sembari melihat anak ganteng yang sudah mondok di pesantren. Anak tampan itu tidak mau tinggal di asrama dan tidak mau di istimewa kan. Mahira begitu senang akan pikirkan Ridwan begitu mulia.


Ridwan tinggal di asrama jika libur baru ke ndalem. Dia akan satu hari penuh di ndalem jika hari libur atau main ke rumah Abinya. Ia kecup pipi gembul Adik manisnya lalu mencium ubun-ubun si kecil. Kalau begini Ridwan kangen Faakhira yang sangat cantik.


Dia mau pinjam ponsel mau telepon Ayah dan Uminya ingin bertanya apa Mumtaaz dan Faakhira baik-baik saja tanpanya. Sedari awal ia tidak tega meninggalkan dua Adiknya sehingga sering kepikiran. Dia terlalu sayang pada dua Adiknya yang notabenenya begitu mania. Di usianya kurang dari 12 tahun Ridwan sudah tamat sekolah dasar dan kini melanjutkan Madrasah Tsanawiyah di sini.


"Ma."


"Iya, Ke ada apa?"


"Apa Abi dan si kembar masih lama?"


"Tidak, tunggu saja. Ayo Tole makan


lalu main dulu sama Dedek Aye. Mama buatkan camilan untuk Tole, bagaimana?"


"Umh, saya sudah kenyang Ma lagian sebelum kemari makan dulu. Tidak perlu repot-repot, Ma."


"Kenapa kaku sekali? Apa Tole kurang nyaman?"


Ridwan terperanjat mendengar pertanyaan Mahira. Ia menunduk dalam sembari meremas tangannya sendiri. Kebiasaan sama seperti Uminya jika gugup, terdesak dan merasa bersalah. Dia begitu gugup ditatap dalam Mama tirinya. Jujur saja Ridwan canggung walau berusaha tidak canggung.


Mahira paham Ridwan begitu lantaran gugup nan canggung. Dia perlahan mendekati anak ganteng darah daging Suaminya. Ia usap rambut si ganteng lalu membawa Ayeza supaya dalam dekapannya. Mahira akan mengakrabkan diri supaya dapat cinta anak tiri ganteng kesayangan semua orang.


"Mama mohon jawab pakai hati jangan sungkan."


"....."


"Le, katakana saja yang sejujurnya?"


"I__iya."


Pada akhirnya Ridwan jawab pertanyaan Mahira dengan satu kata. Itu pun dengan cara yang gagap menandakan betapa tidak enak hati. Dia canggung begini karena sedari awal tinggal bersama Abi dan Mama baru sewaktu awal mula pernikahan. Dia tinggal satu Minggu lalu pulang keย  Pagerharjo karena tidak betah. Ridwan pilih tinggal bersama Umi serta dua Adiknya.


Ridwan merasa canggung walau ada rasa sayang untuk Mahira. Rasa sayang tidak terlalu kuat karena begitu asing. Dia begitu sedih memikirkan respons Mama tirinya tentang kelanjutan semua. Jujur saja ia merasa tidak enak hati berada di situasi kurang nyaman. Ridwan hanya butuh sedikit perantara supaya mau lebih dekat.


Mahira menggenggam tangan Ridwan lalu mengusap lembut. Sebagai Mama sudah semestinya ia memberikan kasih sayang. Seperti Suaminya memberi segala kasih sayang untuk Zoya dan Zayn. Oleh sebab itu ia akan melakukan hal sama dengan mencintai Ridwan sepenuh hati.


Perlahan Mahira mengangkat tangan untuk mengusap pipi Ridwan. Dia begitu kagum akan ketampanan anaknya ini sama persis Abinya. Jika di pandang bola matanya lebih lebar lalu lebih imut. Mahira akan berusaha mengakrabkan diri pada anaknya.


"Nak, walau engkau bukan darah daging, Mama. Namun, bagi Mama engkau adalah anakku. Mama mencintai Tole Ridwan walau tidak ada bandingannya dengan Umi, Tole. Sungguh jika boleh jujur Umi sangat mencintai Tole Ridwan sepenuh hati. Mama sayang pada Tole maka jangan pernah sungkan bercerita. Nah, karena Tole akan sekolah di sini sampai lulus Aliyah maka Mama akan lebih sering datang supaya Tole bisa merasakan Mama lagi. jangan sedih begitu nanti tidak tampan lagi bahaya. Anakku yang tampan tersenyum sedikit."


"Mama."


Ridwan tersenyum tipis mendengar penuturan Mahira. Dia akan mencoba lebih mengakrabkan diri pada anak tampannya. Ia terharu akan penuturan Mamanya sehingga memilih membuka diri. Ridwan akan berusaha untuk mencintai Mahira juga walau cintanya untuk Uminya jauh lebih besar.


Mahira tersenyum ketika Ridwan tersenyum teduh begitu. Dia pada akhirnya memilih ke dapur membuatkan camilan. Ia akan membuat gorengan lalu menggoreng kripik singkong. Mahira ingin membuat camilan supaya Ridwan senang.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!" Salam Azzam, Zoya dan Zayn.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh!" Sahut Ridwan serta menidurkan Ayeza di sofa..


Azzam tersenyum lebar melihat anak kesayangannya datang. Sontak ia melangkah ke depan mendekap buah hatinya. Setelah sampai ia ciumi wajah rupawan anaknya. Jika ingat anak gantengnya ada di asrama kadang tidak ikhlas. Rasanya sesak sehingga Azzam akan datang walau Ridwan menolak.


Ridwan membalas dekapan Abinya seerat mungkin. Dia sangat rindu pada Abi walau rindu rumah lebih besar. Intinya ia ingin basa-basi sedikit baru pinjam ponsel.ihat Abinya malah terkekeh mendengar permintaannya. Apa salah Ridwan pinjam ponsel jika pulsa ke ambil banyak minta ayah. Ridwan terkikik sendiri membayangkan ke nakalnya.


"Abi, umhย  ..."


"Ponsel? Ayo telepon Ayah dan Umi sepuas, Tole "


"Huwa, terima kasih ya Abi. Kakak sangat mencintai Abi."


"Abi juga mencintai Tole sepenuh hati."


Azzam tersenyum melihat keceriaan Ridwan. Abaikan itu dulu kini ia raih putrinya sementara Zoya dan Zayn memilih jadi penonton. Dia dekap anaknya selagi Ridwan menelpon Kedua orangtuanya. Ia sendiri main bersama anak-anaknya. Ridwan tidak tahu anak-anaknya sebanyak ini.


Ridwan tersenyum cerah akhirnya bisa berbicara langsung pada Ayah, Umi dan dua Adiknya. Rindu terobati walau sedikit saja lalu sedih juga karena bisa batal lewat layar. Ridwan jadi begitu rindu sehingga meminta tetep dekat. Oh iya kurang satu bulan lagi Uminya lahiran maka dari itu bisa pulang ke Berbah. Ridwan begitu rindu sampai tidak lepas mengucap syukur kepada Allah.


Cut ....!!!!!


Asli aku ngantuk berat, mataku sudah lemah plus perih aku paksa nulis.


Jika hasilnya amburadul tolong maafkan aku.


Maaf ya belum tak koreksi dan edit jadi kalau banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan harap maklum,


Sekali lagi maafkan aku ngantuk berat makanya kalau ngelantur maafkan aku.


Sampai jumpa lagi ke Chapter berikutnya.


Besok Dedek Zavi launching deh!


See you again!


Salam cinta Rose!