Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
Janji (Steve)!



Flashback Dua Tahun yang Lalu!


Usai pembacaan tahlil dan surah Yasin keluarga besar Abah Hasyim berkumpul di ruang keluarga. Tanpa suara mereka bungkam dalam pikiran masing-masing.


Suasana begitu kelam tanpa ada sinar kehidupan dalam keluarga besar Abah Hasyim. Semua berduka terkhusus bagi anak-anak almarhum dan almarhumah masih belum percaya apa yang terjadi.


Sedangkan keluarga kecil Ayah Aziz juga tidak percaya atas takdir yang Allah limpahkan. Sebuah kehancuran ganda meliputi keluarga kecil Ayah Aziz.


Secara bersamaan keluarga besar Abah Hasyim harus diterpa cobaan dahsyat. Ning Bibah dan Gus Khalid meninggal dunia, sedangkan Zaviyar hilang belum ditemukan.


Malam begitu hampa masih dihiasi tangisan tersedu dari tiga anak almarhum dan almarhumah. Sedangkan tiga Kakak Zaviyar sudah agak reda tangisan kesedihan.


Untuk Umi Khumaira terbaring tidak berdaya mendengar kabar menyayat hati. Beberapa kali Umi pingsan akibat tidak mampu menerima beban hati dan pikiran. Umi Khumaira begitu terluka sampai lupa ada tiga anak membutuhkan pelukan serta Suami yang membutuhkan semangat.


Untuk Ayah Aziz menatap sendu tanpa bisa dijabarkan keadaan hatinya. Yang jelas Ayah begitu terpuruk kehilangan Adik pertamanya yang pasti sangat disayangi. Di tambah beban hati kehilangan anak bungsunya pasti menghancurkan hati Ayah Aziz.


"Huhuhu, Abi ... Umi, janji Uzza tidak nakal minta terus beliin mainan dan makanan. Uzza, huhuhu kangen," tangis Uzza sesenggukan.


"Nduk Uzza, sabar ya sayang karena Abi dan Umi sekarang bahagia di sisi-Nya. Di sini kan ada Mbah Uti, Mbah Kakung, Pakde-Bude dan Paklek dan Bulek. Ada Kakak dan Adik yang senantiasa ada untuk Nduk. Banyak bukan?" Tutur Azzam sembari mendekap Uzza.


"Tidak! Uzza maunya Abi dan Umi. Percuma banyak orang jika Abi dan Umi tidak ada di sini!" Teriak Uzza diiringi tangisan.


"Nduk, tidak sopan berbicara begitu pada Pakde," ujar Ghassan berusaha membuat Adiknya mengerti.


"Mas tidak tahu, dari pagi sampai malam Abi dan Umi tidak pulang juga. Uzza mau Abi dan Umi, Mas!" Pekik Uzza.


"Sadarlah Nduk bahwa Abi dan Umi sudah tiada," lirih Jadda terisak lirih.


"Bohong, mereka hanya tidur sebentar kemudian bangun. Namun, kalian malah membuat Abi dan Umi tidur di kuburan. Ayo cepat bangunkan Abi dan Umi, Pakde. Suruh mereka membangun Abi dan Umi," tukas Uzza.


"Nduk Uzza," gumam mereka tidak tega melihat Uzza terisak seraya berteriak lantang menentang Umi Bibah dan Abi Khalid tiada.


Semua terasa hampa tanpa ada kehangatan seperti biasanya. Akibat tragedi tersebut keadaan Nenek Buyut tambah parah.


Mereka membawa Nenek ke rumah sakit sehari setelah kepergian Ning Bibah, Gus Khalid dan Zaviyar. Semoga saja keadaan Nenek membaik lantaran mereka takut kehilangan untuk kesekian kali.


Malam kedua tetap sama, keluarga besar Nenek Buyut serta warga berkumpul membaca Yasin dan Tahlil. Rutinitas yang akan dilaksanakan satu Minggu kepergian almarhum dan almarhumah.


Ketiga anak almarhum dan almarhumah tampak sendu. Kondisi si bungsu tambah mengenaskan karena jatuh sakit.


Melihat kondisi Uzza yang memprihatinkan tambah mengiris hati keluarga besar Abah Hasyim. Yang jelas begitu terluka melihat ketiga anak yatim-piatu tampak terpuruk.


Sedangkan Umi Khumaira masih murung memandangi foto buah hatinya. Tidak terasa air mata sudah membanjiri pipinya. Walau demikian Umi Khumaira tidak mengeluarkan suara.


Memory terindah bersama Zaviyar membuat Umi Khumaira tergugu. Tiga tahun mereka habiskan penuh suka cita, tetapi berakhir perpisahan. Umi Khumaira sadar setiap pertemuan pasti ada perpisahan.


Namun, bagi Umi Khumaira begitu menyakitkan karena berpisah dengan keadaan tragis. Hati Ibu mana yang sanggup kehilangan anaknya dalam keadaan mengenaskan?


Meninggal, belum ada jasad Zaviyar. Hidup, tetapi tidak ada tanda-tanda kehidupan.


Sudah satu hari dua malam tampak suram membuat Umi Khumaira tambah frustasi. Tidak ada senyuman atau kata yang keluar usai pemakaman Adik ipar. Umi Khumaira seperti dulu sewaktu kehilangan Abi.


Mengabaikan orang-orang terkasih seolah Umi Khumaira satu-satunya orang paling terpuruk. Semangat hidup menurun karena Zaviyar tidak ketemu. Namun, Umi Khumaira yakin Tole Zaviyar masih hidup.


Lain sisi Ayah Aziz memandang sendu Umi Khumaira. Tidak tega rasanya melihat Istrinya terpuruk untuk kedua kalinya karena kehilangan. Ayah Aziz tidak menyangka keadaan menyedihkan terulang lagi.


Jika saja Istrinya tahu beban pikirannya berlipat ganda. Mau bersandar pada siapa? Ayah Aziz, tidak tahu harus bersandar pada siapa kecuali pada Sang Khaliq.


"Sampai kapan kita terpuruk, Dek?" Tanya Ayah Aziz.


"...." Umi Khumaira hanya bungkam.


"Adek, ingat bukan telah menjadi Ibu bagi tiga anak? Jika Adek terpuruk siapa yang akan menenangkan ketiga anak kita? Ayah mampu menghibur serta menjadi tempat bersandar. Namun, bagi ketiga anak kita yang dibutuhkan sekali adalah Uminya. Apa Adek tidak kasihan mengabaikan Kak Ridwan, Kak Mumtaaz dan Nduk FaaFaa?" Tanya Ayah Aziz memulai menyadarkan Umi Khumaira dari keterpurukan.


"...." Umi Khumaira mendengar ucapan Ayah Aziz, tetapi enggan mengeluarkan suara.


"Kalau Adek begini terus yang tersiksa anak-anak menjadi terabaikan. Mereka sangat membutuhkan Uminya, tetapi yang dibutuhkan ada pada dunianya sendiri. Allah tidak pernah tidur, Dek. Percayalah bahwa Tole Zavi akan segera ditemukan dan Insya Allah dalam keadaan sehat walafiat. Jangan putus semangat berikhtiar untuk, Tole Zaviyar."


"...."


"Mas yakni Tole Zavi akan ditemukan dalam waktu dekat. Semoga Allah menjaga Tole di mana pun berada."


Setelah mengatakan itu Ayah Aziz mendekap Umi Khumaira sebagai bentuk kekuatan. Wanitanya sangat rapuh menyimpan banyak sekali beban hati dan pikiran. Walau sejatinya Ayah Aziz menyimpan lebih banyak duka, tetapi harus tetap tegar.


Umi Khumaira menangis tersedu-sedu dalam dekapan Ayah Aziz. Rasa menyesal menggerogoti hati mana kala terlalu terpuruk tanpa mempedulikan sekitar. Anak-anak membutuhkannya tentu Umi Khumaira akan bangkit kembali.


"Mas," panggil Umi Khumaira.


"Dalem, Dek," sahut Ayah merasa lega Umi Khumaira telah berbicara.


"Maaf ... tolong maafkan Adek atas keterpurukan tidak arah. Adek jadi ingat masa lalu sampai menelantarkan Tole Ridwan. Adek sangat berdosa karena kembali terpuruk," lirih Umi Khumaira.


"Alhamdulillah, setidaknya Adek sudah menyadari kesalahan. Nah, sekarang minta maaf kepada anak-anak bukan Ayah. Mereka sangat bahagia karena Uminya bangkit," tutur Ayah Aziz seraya tersenyum tipis.


"Tentu Adek akan segera meminta maaf kepada anak-anak. Namun, ada yang harus Adek lakukan yaitu meminta maaf kepada Suamiku. Tolong maafkan Adek ya Mas."


"Hm."


"Apa Mas kecewa pada Adek lagi-lagi menjadi wanita yang jauh dari agama Allah? Adek melupakan semua karena duka?"


"Hm."


"Maafkan Adek ya Mas. Tolong maafkan atas semua kekhilafan, Adek."


"Hm."


"Adek tahu betapa rapuhnya Mas, tetapi bersembunyi dibalik sikap tegar. Di sini Mas jauh lebih terluka karena kehilangan Adik kandung, ipar dan paling menyesakkan kehilangan putra. Maafkan Adek malah larut tanpa tahu beban pikiran, Mas."


"...."


"Jika mau menangis, menangislah Mas. Ayo sama-sama menangis biar hati sedikit lega."


Tanpa dikomando air mata Ayah Aziz berlinang deras. Beban hati sedikit terangkat membuatnya tampak lega. Ayah Aziz janji setelah keluar dari kamar dipastikan akan kembali tegar.


Sedangkan Umi Khumaira ikut menangis bersama Ayah Aziz. Harapan ke depan dia mampu menjadi wanita lebih sabar dan ikhlas menerima takdir. Umi Khumaira juga berharap semoga Tole Zavi segera ditemukan dalam keadaan sehat walafiat.


...****...


Terlihat ketiga anak berbeda usia tampak suram. Anak sulung berusaha membujuk kedua Adiknya makan, tetapi selalu di tolak berbagai alasan. Tanpa dua Adiknya tahu betapa besar rasa sabar yang harus si sulung lakukan.


Betapa besar rasa sakit si sulung kehilangan Adik bungsu lalu harus menjadi penopang kedua Adiknya. Segala beban ada dipundaknya apa lagi tempat berkeluh kesah mengabaikan.


Anak tengah sibuk pada pikiran sendiri mengenang momen kebersamaan sebelum tragedi. Masih segar dalam ingatan bahwa Adik bungsu selalu menjahilinya. Meski demikian si tengah selalu sabar walau mendumel tiada henti.


Beda dengan gadis kecil hanya termenung memikirkan bagaimana keadaan Adiknya di luar sana. Dua malam terpisah tanpa celotehan manja Adik bungsu membuatnya rindu. Bagi gadis kecil kehilangan itu sebuah hal paling menyakitkan.


Ketiga anak iniĀ  membutuhkan Umi supaya ada tempat bersandar dan berkeluh kesah. Sampai ketiganya merasakan dekapan hangat selama ini dirindukan. Spontan mereka menangis haru atas datangnya Umi.


Hati Umi mana yang tidak terenyuh melihat ketiga anaknya begitu suram?


Umi tidak tahan melihat ketiga anaknya menderita akibat ulahnya. Mereka membutuhkan dirinya maka mulai sekarang harus bangkit.


"Kakak besar, Kakak cilik dan Dedek FaaFaa sudah makan?" Tanya Umi Khumaira setelah keharuan terjadi.


Mereka bertiga menggeleng kompak. Mata masih menatap Umi begitu dalam seolah ingin menyampaikan betapa rindunya mereka.


"Kenapa belum makan? Ayo makan dulu baru kalian boleh tidur. Nanti kita tidur bersama-sama," tutur Umi Khumaira.


"Tentu, Ayah akan tidur bersama kalian!" Tegas Ayah yang mendekat ke arah mereka.


"Asyik, kita tidur bersama. Tetapi, masih kurang karena Dedek Zavi tidak bersama kita," sahut Faakhira spontan.


"Dedek Zavi akan tidur bersama kita," ucap Umi Khumaira.


"Mana, Umi? Dedek Zavi tidak ada? Apa Dedek sudah ditemukan? Alhamdulillah ya Allah," riang Ridwan.


"Dedek Zavi ada di hati kita, setiap tidur pasti ikut bersama dalam hati. Insya Allah sebentar lagi Dedek Zavi akan ditemukan," pungkas Umi Khumaira berusaha tabah.


Wajah ketiga anak berbeda usia tampak murung. Mereka sangat merindukan Adik bungsu meski sering berbuat ulah. Mereka sangat rindu celotehan manja meski kadang menyebalkan.


Sementara Ayah dan Umi berusaha menguatkan satu sama lain. Tangan mereka bertautan kemudian memberikan pelukan hangat bagi anak-anak. Mereka tidak ingin kesedihan menghambat doa terbaik bagi Zaviyar.


Di lain sisi tempatnya dalam apartemen mewah di pinggir kota Baghdad seorang pria memandangi wajah batita yang terlelap. Pria itu mengusap pipi tembem anak berusia tiga tahun.


Pancaran mata tampak sendu menyiratkan banyak duka. Dipikir secara logis para polisi telah mencari keberadaan bocah yang terlelap di atas brankar. Jika, menyerahkan itu artinya siap membusuk di penjara kesekian kali.


Ide gila pernah tercetus lantaran ingin melenyapkan si batita. Namun, teringat permohonan terakhir wanita yang masih merajai hatinya.


"Jika bukan karena dia mana mungkin kamu masih hidup. Seharusnya kamu kubiarkan mati bersama orang tua, 'mu. Melihat kamu rasa sakit merajai pikiran, 'ku. Apa yang harus kulakukan?"


Apa dia akan menjual anak ini pada organisasi ilegal?


Pasti dia mendapat uang berlimpah menjual anak ini ke tangan mereka. Senyum licik terukir memikirkan batita menjadi ladang uang.


Namun, lagi-lagi perkataan wanita itu merasuki pikiran. Dia tidak tega karena jika di jual anak ini bisa tiada.


"Apa yang harus kulakukan pada anak ini?"


Lenguhan panjang menyadarkan lamunan pria itu tidak lain adalah Steve. Tentu terkejut melihat anak kecil dua malam terlelap.


Mata bulat nan tajam mengerjap imut hingga detik berikutnya ia menangis histeris. Anak manis tidak lain adalah Zaviyar meraung memanggil Ayah dan Umi.


Syukur saja apartemen mewah Steve kedap suara, jika tidak bahaya. Spontan saja dia langsung menggendong tubuh gempal Zaviyar.


"Huwaaa huhuhu Ayah huhuhu Umi. Zavi takut huhuhu," tangis Zaviyar.


"Paman akan mengantar kamu pada mereka, Zaviyar. Tenanglah," tutur Steve


"Paman siapa? Huhuhu, mana Ayah dan Umi?" Tangis Zaviyar masih sempat bertanya.


"Sahabat Umi, 'mu," pungkas Steve.


"Zavi mau pulang, mau bertemu Ayah-Umi dan semua Kakakku."


"Iya, sekarang minum dulu baru bertemu mereka."


"Minum susu rasa cokelat."


"Susu cokelat? Paman tidak punya, Nak. Bagaimana jika air putih saja?"


"Hai Paman, tadi menawari Zavi minum. Ngomong saja hanya diberi air putih kan enak tidak membuat Zavi minta hal lain."


Dalam hati Steve menahan diri tidak tertawa. Bagaimana bisa anak sekecil ini begitu pintar membalas perkataan orang dewasa?


Bagaimana bisa anak kecil bisa berucap pedas?


Jadi ingin merawat bocah yang Steve tahu bernama Zaviyar. Itu pun ia tahu dari ukiran nama pada gelang dan kalung.


"Malah melamun, mana air putihnya Zavi haus. Dasar orang tua," cerocos Zaviyar.


"Tunggu biar Paman ambilkan airnya," ujar Steve.


"Paman, jangan beri racun ya? Kata Kak Mumi orang asing bahaya suka merayu ujung-ujungnya di terkam."


"Paman ini sahabat Umi-mu mana mungkin memberi racun. Tidak ada gunanya juga meracuni bocah ingusan."


"Janji ya jangan kasih racun. Sana ambil minum untuk, Zavi!"


"CK, dasar bocah. Ngomong-ngomong, usiamu berapa, Zavi?"


"3 tahun (sambil memperlihatkan empat jari)."


"Itu empat bukan tiga."


"Terserah Zavi, ini tangan Zavi bukan tangan , Paman. Malah ngajak ngobrol, haus nih, cepetan ambil minum, Paman!"


"Ya Allah, ini bocah. Tunggu sebentar."


Steve bersyukur Zaviyar telah siuman setelah tidur cukup lama. Dia senantiasa merawat Zaviyar dari luka ringan akibat kecelakaan.


Awalnya Steve pikir Zaviyar sosok kalem dan sangat manis. Namun, dia salah karena batita itu begitu menggemaskan mulai wajah dan mulutnya.


Satu Minggu ke depan Steve ditugaskan ke kota Kurdi (kota perbatasan Irak-Iran) untuk menjadi relawan korban bencana alam. Kebetulan kami akan berangkat nanti Sore kisaran jam empat.


Apa Steve bawa bocah menggemaskan tersebut kemudian buang di hutan?


Sebuah ide gila muncul tatkala melewati ruang laboratorium miliknya. Bisa dibilang Steve seorang ilmuwan cukup gila. Bereksperimen apa saja dalam benaknya. Menjadi profesor muda membuat Steve menjelma menjadi sosok disegani di rumah sakit Baghdad.


Senyum terukir karena di dalam sana sudah ada racikan bahan kimia untuk menghilangkan ingatan permanen. Dengan hilangnya ingatan Zaviyar maka misi akan semakin mudah. Terlebih jika nanti ditanya perihal tragedi itu pasti nama Steve aman.


10 menit kemudian Steve kembali ke ruangan di mana Zaviyar berada. Dia melihat batita cerdas itu sedang mengamati setiap detail ruangan. Steve tersenyum penuh arti lantaran sebentar lagi Zaviyar tidak mengganggunya.


"Lama sekali Paman mengambil airnya?" Protes Zaviyar.


"Sabar, Nak. Oh iya, minum ini baru kita pulang ke rumah Ayah dan Ibu, 'mu," terang Steve.


"Umi, bukan Ibu!"


"Umi artinya Ibu. Sama saja."


"Pokoknya Umi bukan Ibu. Zaviyar maunya Umi!"


"Ya."


"Mana minumnya Paman, malah dipegang terus."


"Ini, minumlah. Jangan lupa dihabiskan."


"Ya jelas, Zavi haus mau minum banyak."


Dalam hati Steve berpikir, "apa tidak apa-apa memberikan ramuan berbahaya pada anak di bawah lima tahun? Aku harap setelah bangun bocah ini melupakan segalanya."


Zaviyar meminum air putih dengan rakus. Selang beberapa saat ia mengantuk membuatnya ingin tidur. Zaviyar berusaha menghilangkan kantuk meski berat.


"Paman, Zavi ngantuk banget. Zavi punya tiga Kakak namanya Kak Wawan, Kak Mumi dan Mbak FaaFaa. Ayah ... Umi, rasanya ngantuk banget. Tolong hantarkan Zavi pulang, Paman. Zavi kangen mereka. Zavi sayang mereka. Bismillahirrahmanirrahim," racau Zaviyar sebelum tertidur dalam dekapan Steve.


"Maafkan Paman, Zavi karena tidak mungkin mengembalikan pada keluarga, 'mu. Sekali lagi maafkan Paman karena setelah ini kamu memiliki kehidupan baru bersama orang baru," bisik Steve terdengar menyesal.


Setelah Zaviyar tertidur Steve menelpon temannya untuk melancarkan aksinya. Dia berharap semoga saja rencananya berjalan mulus lantaran sang teman adalah pimpinan gangster.


"Tidur yang nyenyak, Zaviyar. Paman janji kamu akan hidup."