
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini
👇👇👇
0.*.*.*.0
Di pagi hari yang cerah dengan langit biru menghiasi kalbu. Terlihat dua bocah manis mengoceh imut. Ridwan dan Mumtaaz saling bercanda menikmati hari. Mereka menatap Aziz lamat-lamat karena Ayahnya sudah sadar. Si kecil sangatlah bahagia mendapati mata sang Ayah terbuka. Mereka sangat antusias sampai lupa semalam rewel.
Ridwan dan Mumtaaz mengerti tentang kondisi Aziz. Makanya mereka hanya bisa memeluk leher dari samping dan memberikan ciuman di pipi. Tidak masalah asal Ayah mereka baik-baik saja dan lekas sembuh tidak dapat dekapan dan elusan tidak masalah.
"Ayah, tahu tidak Kakak mendapat cokelat banyak banget dari fans. Tahu Kakak ganteng, tetapi bosan di kasih cokelat mulu. Kakak gendut hilang gantengnya bahaya," celoteh Ridwan sukses membuat seisi ruangan kecuali Aziz, khumaira dan Mumtaaz tersedak.
"Ajaranmu, Tole Aziz!" kor mereka membuat pelaku nyengir kuda.
Khumaira hanya tertawa saja melihat Suaminya di tatap tajam keluarganya. Memang dasar Aziz si raja narsis membuat anak kecil berubah narsis. Setidaknya ada sisi positif yaitu anak-anak punya sisi percaya diri mudah berbaur. Tidak rikuh menunjukkan jati diri dengan keceriaan memukau.
Aziz hanya terkekeh bangga akan semua ini. Dia bangga Ridwan narsis tidak tertolong sama seprtinya. Nanti Mumtaaz juga harus narsis tidak terbantahkan. Ia yakin anak kecilnya ini jauh lebih gila darinya kelak. Aziz sadar itu karena Mumtaaz duplikat dirinya maka tidak heran jadi gila.
"Anak Ayah memang luar biasa. Kakak, terima cokelat itu dan berikan pada teman-teman di panti. Nah, sekarang Kakak ngga perlu takut jadi gendut. Wajah kakak sangat tampan raup cokelat yang banyak untuk berbagi cokelat dengan mereka," sahut Aziz tidak berfaedah.
Khumaira dan yang lainnya hanya menggeleng tidak percaya. Mereka tidak habis pikir kok ada manusia langka sepeti Aziz. Sungguh Aziz itu manusia dengan kelakuan ajaib bikin semua terhibur. Terutama untuk khumaira sosok Aziz adakah pelipur lara sekaligus pelangi serta mentari kehidupan untuknya.
Hasyim dan Safira saling menatap seolah mengatakan. Anakmu itu, tolong di karungi. Mereka berdua heran saat ngidam tidak minta aneh-aneh lah kok sekarang muncul anaknya jadi orang teraneh. Sungguh Hasyim dan Safira sangat bingung kelakuan Aziz di dapat dari mana?
"Hore, Kakak akan terima semua cokelat untuk mereka. Nanti Kakak bisa tambah tampan seperti yang Ayah katakan. Yosh, Kakak senang sekali!" riang Ridwan seraya bertepuk tangan heboh.
"Iya, jika bersedekah dengan ikhlas akan mendapat amal dan menambah ketampanan. Makanya harus sedekah, sabar dan berbagi dengan ikhlas karena tambah amal ibadah lalu yang utama ganteng tidak terbantahkan!"
Jabar Aziz membuat Ridwan bersorak senang. Sementara yang lain melonggo. Ayat apa itu sungguh mereka ingin menjitak kepala Aziz. Tetapi, sadar kepala anak ini kasih di perban akibat kecelakaan. Mereka memijat pelipis gara-gara Aziz terlalu aneh untuk ukuran pria dengan tampang datar bin rupawan.
"Astaghfirullahaladzim, nyebut Tole Aziz!" seru mereka.
"Astagfirullahaladzim." Aziz melakukan perintah mereka dengan tampang polos.
Khumaira tersenyum gemas melihat kelakuan Aziz. Dia lebih suka Suaminya kurang waras begini dari pada terbujur lemah dengan keadaan mengenaskan. Senyum terus terukir ketika melihat Suaminya bercanda bersama mereka. Khumaira sangat bersyukur karena Aziz membuat warna kembali. Dia sangat bahagia Suaminya begitu humoris dan lihat seolah prianya tidak sakit.
"Dek, katakan pada mereka Mas sangat tampan tidak terbantahkan. Mereka iri karena wajah Mas lebih tampan dan banyak penggemar," pinta Aziz karena tersudut dengan Nakhwan dan Bahri.
Khumaira memutar bola mata bosan mendengar permintaan Aziz. Suaminya tadi malam sehat, romantis akut nah sekarang terlihat kembali jadi narsia tidak tertolong. Syukur sangat sayang kalau tidak sudah khumaira lakban mulut Aziz.
"Mas Nakhwan dan Mas Bahri, tolong mengalah pada orang sakit. Iyakan saja biar cepat dan membuat Mas Aziz senang," sahut Khumaira kalem.
Mereka tertawa mendengar jawaban Khumaira. Sedangkan Aziz mendelik horor ke arah Khumaira. Rasanya lucu membuat Raja narsis diam begitu tanpa sekutu. Lagian Ridwan dan Mumtaaz masih kecil belum jadi sekutu yang kuat.
"Hai, aku sangat tampan bahkan lebih tampan dari kalian. Dek, Masmu ini pria paling tampan dan tentunya banyak penggemar!" seru Aziz.
"Iya, percaya pria paling tampan!" kor mereka.
"Itu baru benar, Aziz memang sangat tampan tidak terbantahkan. Hahaha, tenang saja jika sudah pulih Aziz beri tanda tangan sekalian foto. Gratis!"
Mereka tidak habis pikir dari mana asalnya orang ini sangat narsis? Hanya tawa yang keluar mendengar Aziz kumat jadi orang paling aneh. Mereka sangat bahagia setidaknya rasa khawatir terobati. Kemarin adalah hal paling menyedihkan ketika Aziz terbaring dengan berbagai selang menancap tubuh. Kini pria ini ceria seolah tidak sakit dan sangat bugar padahal baru bangun.
"Abah, Ummi ... apa benar dia anak kalian?" celetuk Nakhwan.
Hasyim dan Safira tersenyum tipis mendengar pertanyaan Putra sulung. Mereka juga tidak tahu kenapa kelakuan Aziz begitu nyeleneh. Sepertinya mereka berdua kalem, lalu si narsis asalnya dari mana. Hasyim dan Safira hanya bisa tersenyum memikirkan dari mana Aziz mereka mendapat sikap aneh?
"Sepertinya bukan, kami temukan di planet saat mengunjungi Mars," jawab Hasyim membuat mereka tertawa.
"Alien kamu, Aziz!"
"Jahat sekali, Abah. Tetapi, memang ada Allen setampan Aziz?"
"Ada, dan hanya satu yaitu kamu!" kor mereka.
"Nasib cowok ganteng," jawab Aziz pura-pura nelangsa.
Ridwan dan Mumtaaz saling pandang soalnya tidak tahu apa yang di bahas. Sungguh mereka heboh sekali menyerang Aziz. Semoga saja Ayahnya sabar karena orang sabar tambah tampan, Uhuy.
0.*.*.*.0
Waktu bergulir, sudah dua pekan berlalu sejak insiden itu. Aziz sudah melepas perban yang melilit bahu dan tangannya. Kepala keluarga ini akan melakukan Fisioterapi selama 2-3 bulan. Jadwal Fisioterapi setiap hari Senin dan Jum'at. Aziz akan berjuang sembuh demi anak-anak serta Istri tercinta.
"Dek, Mas tidak enak dengan Romli. Dia membayar biaya operasi dan perawatan Mas selama 1 minggu di rumah sakit. Mas merasa bethutang budi padanya. Setiap mau membayar pasti Romli bilang tidak apa-apa dia ikhlas menolongnya. Lagian Mas juga punya uang untuk melunasi hutang itu. Walau setelah itu kita tidak punya simpanan. Mas merasa tidak berguna tidak bisa melakukan apa-apa. Maafkan Mas merepotkan, Adek."
Khumaira bersimpuh di depan Aziz sembari menggenggam tangan Suaminya. Dia remas pelan tangan besar Suaminya lalu memberikan ciuman lembut. Ia meringis ngilu melihat bekas goresan di tangan Suaminya. Parah sekali kecelakaan itu sampai membuat Khumaira tidak tega menatap Aziz lama.
"Mas, jangan berbicara macam-macam, pasalnya Adek tidak merasa di repotkan. Adek malah senang bisa merawat Mas dalam kondisi begini. Jangan sedih jika Mas sudah sehat nanti mari lunasi hutang pada teman, Mas. Tidak perlu sungkan karena Adek akan menjaga Mas dalam suka maupun duka. Adek akan bekerja jadi guru TK suapaya mengawasi Ridwan seraya bekerja. Jangan sedih, Adek mohon."
"Terima kasih, Dek. Mas sangat terharu mendengar perkataan Adek. Mas sangat bahagia mendapatkan Istri shalihah seperti, Dek Syafa. Tetapi, apa tidak apa Adek yang kerja sementara Mas berdiam diri di rumah?"
"Sama-sama, Mas. Alhamdulillah, kalau Adek bisa membuat Mas bahagia. Tidak apa-apa itu tugas Adek, tetapi jika sudah sembuh Mas juga harus kerja, hahaha."
Aziz tertawa mendengar jawaban Khumaira sedikit bergurau. Sungguh menggemaskan Istri cantiknya ini bercanda. Dia tidak akan sakit lama-lama pasalnya tekad kuat terus membara untuk sembuh. Aziz tidak akan membiarkan Khumaira bekerja sendiri, pasalnya tugas mencari nafkah adalah kewajibannya. Semua yang akan Istrinya dapat akan dia balas dengan kebahagiaan melimpah.
Khumaira tersenyum tulus mendengar tawa Aziz. Hatinya mnaghangat mendengar tawa merdu Suaminya. Perlahan ia rebahkan kepalanya di paha Suaminya seraya mendongak menatap mata cokelat sang Suami. Khumaira begitu bahagia bisa merawat Aziz dalam keadaan begini.
Bahtera rumah tangga mereka tambah romantis diiringi cinta. Walau hanya hal manis, tetapi sangat berharga. Keduanya larut menaungani kisah cinta manis bersama anak-anak. Aziz dan khumaira akan melabuhkan cinta yang akan bertahan sampai akhir. Insya Allah akan menjadi pasangan di Surga-Nya Allah, Aamiin.
Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Tidak terasa dua bulan berlalu begitu cepat. Selama 2 bulan ini Aziz melakukan Fisioterapi dengan semangat. Tekad kuat agar sembuh lebih awal membuat dia mendapat keajaiban. Perlahan tetapi pasti Aziz bisa melakukan apa pun seperti semula. Walau belum kuat mengangkat beban berat. Tetapi, untuk si kecil Mumtaaz dia mampu menggendongnya. Jujur sudah bisa menggendong khumaira hanya saja Aziz belum berani melakukan itu. Bisa gawat fisioterapi selama ini malah berakhir buruk.
"Dokter Utari, selamat pagi. seperti biasa Anda sangat bersemangat," sapa Aziz pada Dokter bernama Utari.
Dokter berkaca mata frame itu tersenyum mendengar guyonan Aziz. Dia sedikit senang bisa akrab pada pria terlihat dingin namun nyatanya supel. Utari memeriksa kondisi Aziz yang semakin membaik. Dia yakin kurang beberapa pertemuan lagi pria ini akan sembuh.
"Selamat pagi Pak Aziz, terima kasih dan Anda juga terlalu berambisi cepat sembuh. Apa Anda tidak ingin berlama-lama fisioterapi bersama gadis cantik seprti saya?"
Utari terkekeh jenaka menggoda Aziz. Baginya Aziz layaknya sahabat yang baik dan enak di ajak bicara. Dia terkekeh mendengar Aziz terkekeh geli. Walau begitu ia sangat bahagia setidaknya pasiennya ini sangat humoris jika sudah kenal.
"Saya mau terapi lama, tetapi ngga bayar. Bagaimana, biar menemani gadis cantik jomlo dari lahir tidak kesepian," sahut Aziz bernada jenaka, tapi menusuk.
Utari tertawa garing mendengar jawaban Aziz. Ini pasienya benar-benar ngajak gelud. Secara tidak langsung menghina dia secara halus. Benar adanya ia jomblo dari lahir karena sibuk belajar dan belajar lalu kerja. Utari jadi sebal memiliki pasien punya mulut tajam, sialnya sangat humoris.
"Saya akan menikah secepatnya, Anda harus mengado barang mewah. Itu tidak masalah asal Anda mau saya fisioterapi lebih lama."
Aziz hanya menggeleng mendengar perkataan Utari. Lucu sekali gadis ini saat merajuk. Usianya terpaut 5 tahun darinya dan gadis ini sangatlah supel makanya nyambung jika dia melakukan guyonan garing. Bukan apa-apa bagi Aziz sosok Utari seperti Adik sendiri yang bisa mengerti keadaan.sekarang ini Aziz ingin fokus kerja demi Khumaira dan anak-anaknya. Semangat jangan loyo Aziz pasti bisa.
*.*.*.*
Khumaira meninggalkan anak-anak bersama Aziz dinrumah. Dia rencananya mau membeli kebutuhan pokok selama satu minggu di pasar. Tadi Aziz dan anak-anak ingin menemani, tetapi Khumaira tolak halus. Lagian hanya membeli sedikit tidak perlu teman.
Melihat Khumaira sendiri seseorang tersenyum misterius. Dia ingin bicara banyak mengenai wanita ini. Ia ingin sedikit basa-basi agar mengakrabkan diri. Walau tahu wanita cantik nan manis ini tidak bisa ditaklukkan mudah.
"Dik Maira, bisa mengobrol sebentar?"
Khumaira kaget mendengar panggilan pria di belakangnya. Dia Alakhirnya bernapas lega saat tahu Wisnu yang mengajak bicara. Ia tersenyum tipis berusaha ramah pada pria ini. Kebetulan Aziz dan dua anaknya sudah makan itu artinya Khumaira bisa bicara sebentar.
Wisnu tersenyum melihat senyum Khumaira. Wanita ini tidak berubah barang sedetik saja. Masih saja cantik memikat apa lagi wajah anggun akan manis itu begitu meneduhkan. Wisnu kagum dari awal bertemu khumaira sewaktu 10 tahun silam.
"Mari," sahut Khumaira ramah.
Di taman mereka duduk berjauhan tidak ada kedekatan. Khumaira tersenyum menatap anak-anak kecil berlarian ke sana-sini. Sementara Wisnu menatap Khumaira penuh arti karena menatap anak-anak teduh.
"Bagaimana kondisi Aziz? Apa dia tidak lumpuh atau mendapat luka parah?"
Degg
Khumaira langsung menengok ke arah Wisnu ketiak mendapat pertanyaan menurutnya tajam. Dia tidak percaya pria ini bertanya hal di luar perkiraan. Apa maksudnya pertanyaan itu? Khumaira harap Wisnu tidak macam-macam.
Wisnu tersenyum penuh arti melihat respons Khumaira. Dia tidak akan mundur lebih baik maju pantang mundur. Ia berjanji akan membagikan wanita ini apa pun caranya. Wisnu merasa gila merasa begini terhadap Khumaira.
"Alhamdulillah, berangsur membaik. Apa maksud Kak Wisnu bertanya begitu?"
Khumaira sedikit menajamkan pandangannya. Dia merasa Wisnu jadi orang yang berbeda. Ada apa dengan pria aneh ini? Setahunya pria ini baik dan supel walau terkesan misterius. Khumaira sedikit was-was terhadap Wisnu.
"Bagus sekali jika ia berangsur membaik. Setahuku ia mendapat luka parah akibat tragedi itu. Padahal kecelakaan itu sangat fatal. Syukur jika perlahan membaik dengan begitu semua terencana."
Wisnu menyeringai penuh misteri menatap Khumaira tampak bingung. Wanita cantik ini benar-benar manis saat berekspresi penasaran. Jika saja Khumaira tahu Wisnu tertarik pada pesona anggunnya pasti akan jauh. Baurkan saja roda berputar mengikuti laju angin. Dengan begitu Wisnu yakin Khumaira akan jatuh padanya dan meninggalkan Aziz.
"Apa maksud perkataanmu, Tuan?"
"Tidak ada, hanya iseng. Kamu sekarang jadi tulang punggung, Eh? Tinggalkan saja Aziz yang tidak berguna itu. Dia hanya pria aneh yang sangat sombong. Kamu bisa mendapatkan pria kaya raya jauh lebih baik dari, Aziz," cetus Wisnu tanpa terduga.
Khumaira menegang mendengar perkataan Wisnu. Demi apa ia sangat jijik pada pria yang pernah ia anggap kakak ini. Dia emosi karena pria ini benar-benar kotor menyatakan itu semua. Ia memilih pergi dari pada meladeni perkataan aneh itu. Namun, sebelum pergi Khumaira berbalik menatap Wisnu tajam.
"Saya tidak masalah jadi tulang punggung keluarga. Karena selama ini Mas Aziz yang berusaha keras mencukupi kehidupan kami. Saya malah sangat senang bisa merawat dan mencari uang untuk kami makan. Hanya Allah yang berhak memisahkan kami. Sampai maut datang saya tidak akan meninggalkan Suamiku. Tidak ada pria lebih baik dari pada, Suamiku!" tegas Khumaira.
Wisnu menyeringai mendengar jawaban Khumaira yang tegas. Dia mendekat untuk berbisik pada wanita beranak dua. Sepertinya asyik bermain dengan Istri orang. Wisnu tambah menyeringai lebar tatkala Khumaira menjauhinya.
"Aku akan melakukan kekejaman lebih mengerikan. Aku bisa mensabotase kecelakaan mengerikan itu. Aku juga bisa menghancurkan karir Suamimu, maka aku bisa membunuhnya di depan matamu. Aku beri penawaran untuk kamu, Dik Maira. Pilih ikut bersamaku maka Aziz tetap hidup atau berada pada pendirianmu maka Aziz mati di depan mata. Aku beri waktu 1 bulan, setelah itu beraip-siap memilih," bisik Wisnu membongkar kejahatan sendiri tanpa tahu kedepannya.
Wisnu menegakan tubuh lalu mengeluarkan memo dirinya taruh di ranjang belanjaan Khumaira. Setelah itu berlalu setelah terkekeh bak Psychopath gila. Biarkan saja ia ingin menghancurkan Aziz dengan bonus Khumaira. Lupakan itu sekarang saatnya bersenang-senang telah menang dan kini Khumaira akan tunduk.
Khumaira menegang mendengar bisikan Wisnu. Barang belanjaan jatuh di rumput sementara mata mengembunm siap tumpah kristal bening. Dia membekap mulutnya tidak percaya orang sebaik Wisnu tega melakukan ini. Saat dirinya tersadar Wisnu sudah pergi memberikan memo. Khumaira bergetar hebat ketika meraih memo dari Wisnu.
'Aku menyukai kamu, maka dari itu aku tega melakukan ini semua. Jangan takut Sayangku karena kamu akan hidup bahagia bersamaku. Kamu tahu kenyataan pahit, tetapi tidak ada bukti apa pun tentang itu. Polisi juga tidak akan percaya. Renungkan perkataanku tadi."
Bruk
Khumaira terjatuh di rerumputan di sertai air mata mengucur deras. Kebenaran pahit dan kenyataan tidak terduga membuatnya tidak sanggup menahan air mata. Dia remas kuat memo itu lalu menaruh di keranjang belanjaan. Khumaira kaku tidak bisa bergerak akibat rasa shock luar biasa.
"Mas Aziz," lirih Khumaira.
0.*.*.*.*.0
Alurnya terlalu cepat ya untuk mengungkap kebenaran itu?
Ish, maaf ya Sayangku!
Rose_Crystal_030199