
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!
***❤❤❤***
Jika hidup bisa memilih takdir dan kematian maka aku memilih cepat pergi agar tidak merasa sakit. Aku hidup seorang diri tanpa ada cahaya walau kutahu banyak yang mencintaiku. Maaf aku bukan orang kuat seperti dulu mampu bertahan serta menyelesaikan masalah tanpa kesusahan.
Aku hanya seorang pria lemah tanpa kekuatan. Argh, lagi-lagi sakit ini menyiksa tubuhku. Kepala terasa di pukuli oleh benda keraa. Rasanya sangat sakit sampai aku tidak mampu mengendalikan diri. Nyaris aku jatuh jika tidak ada pegangan di tembok.
Tenggorokan ini terasa kering butuh air putih. Aku membawa obatku yany tinggal sedikit. Jika begini bisa gawat kalau tidak membeli obat ke Apotek. Miris sekali hidupku ini sampai sakit separah ini tidak ada yang tahu. Merasa sakit semakin menyiksa aku putuskan untuk minum usai menegak obat beberapa pil. Aku menaruh obat di saku dan hendak mengambil gelas untuk melepas dahaga.
Keseimbangan itu luruh hingga gelas dan teko di tanganku berakhir di lantai. Aku terkejut hingga dadaku terasa sesak. Mungkin terlalu lemah aku batuk hingga terasa menyesakan. Batuk begitu menyiksa sampai rasanya ingin menyerah.
Aku tersenyum kecut melihat darah di tanganku. Lagi-lagi darah keluar dan aku merasa miris saat darah mengalir dari lubang hidungku. Aku putuskan untuk beranjak agar darah ini segera larut terbawa air. Tanpa peduli aku membiarkan gelas dan teko itu berakhir mengenaskan. Syukur hanya plastik tidak menjadi masalah berat.
Aku hidupkan kran untuk melarutkan darah ini. Ya Allah, cepat berhenti keluarnya aku mohon. Tolong berhenti aku takut mereka tahu kondisi tubuhku yang lemah. Aku yang lemah terjatuh tanpa bisa mengendalikan sakitku.
Sebelum aku kembali ke sisi-Mu setidaknya biarkan aku mengadili kejahatan. Aku sedikit merasakan kebahagiaan bersama mantan Istriku dan anak-anak. Sungguh Ya Allah rasanya begitu menyiksa akankah Aku bertahan sampai waktunya tiba? Akankah hamba siap serta rela bertahan untuk semuanya di saat tubuh ini begitu menderita?
Jujur saja aku ingin membuat keluarga Douglas kembali ke jalan yang benar. Membuat mereka jadi orang baik tanpa menindas rakyat kasta rendah. Hamba hanya ingin mereka lekas mendapat hidayah dari-Mu ya Allah. Doaku menyertai mereka agar mendapat hidayah dari-Mu ya Allah.
Keluarga Douglas mungkin akan di penjara akan perbuatan mereka. Tindakan mereka yang nekat mencelakai Kakak Ridwan dan Tole Dzaki harus di hukum. Untuk perbuatannya yang terjadi padaku itu tidak masalah. Demi Allah sang Pencipta alam semesta aku sudah memaafkan mereka.
Ummi dan Abah selalu berpesan agar aku jadi orang pemaaf, ikhlas dan sabar. Maka hanya maaf tulus yang akan kuberikan jika mereka minta maaf dengan tulus. Dengan begitu aku kembali ke sisi-Mu dengan senang hati. Jika waktu habis maka aku ikhlas pulang ya Allah. Namun, izinkan hamba memperbaiki kesalahan yang hsmba perbuat.
Jujur saja aku punya penyakit yang mungkin sangat mematikan. Akibat kecelakaan itu serta tekanan batin membuat aku mendapat sakit ini. Aku cukup bersyukur hanya Allah dan Dokter yang tahu penyakit ini. Jadi, biarkan aku tahan sendiri tidak boleh ada yang tahu.
Aku lelah sehingga tanpa sadar berniat tidur di sini. Mungkin saja Allah masih berbaik hati memberikan umur panjang untukku. Aku ingin hidup lama agar bisa menyaksikan anak-anakku sukses. Namun, jika Engkau ingin menjemput hamba, dengan lapang hati hamba ikhlas ya Allah.
"Mas ... Mas kenapa?"
Suara ini milik Dek Syafa, ya Allah andai saja bisa aku ingin merengkuhnya. Kepalaku sedikit enteng sehingga bisa menatap wanita yang sangat kucintai. Ingin sekali aku merengkuhmu, Dek seerat mungkin. Ingin rasanya Mas mendekap mu supaya rindu terobati.
"Mas, jawab kenapa tertidur di sini? Pakaian Mas basah ayo berdiri. Apa Mas sedang sakit sampai wajah Mas pucat sekali? Tolong jawab pertanyaan saya, Mas!"
Aku sakit Dek, priamu lemah hanya butuh dirimu. Aku tidak mau obat selain dirimu, Sayang. Begitu banyak derita yang aku berikan sampai kamu menderita. Tolong jangan tinggalkan aku di hari akhir. Entahlah air mata luruh deras sampai kurasakan tangan halus Dek Syafa menyapu pipiku.
Aku ingin tidur lelap tanpa kesakitan tepatnya dalam dekapan, Adek. Mungkin ini semua hukuman terbesar dari Allah karena telah menyakiti Dek Syafa berulang kali. Aku tidak akan menyakitimu lagi, Sayang. Janji aku tidak akan menyakitimu setelah Jasmin pergi dari sini. Kita akan bahagia selalu, Insya Allah.
Sampai sekarang aku tidak ingat apa pun yang terjadi di Singapura. Aku hanya ingat sebuah memori kecelakaan mengerikan. Ya Allah, bisakah hamba sedikit meningkat masa lalu itu? Tolong berikan karunia-Mu ya Allah atas hamba yang butuh pertolongan.
Tunggu, aku merasakan sebuah kebenaran paling menyakitkan. Satu kebenaran menghunus jantung tatkala tahu satu hal. Aku baru sadar usia dan nama Dedek Faafaa begitu sama. Aku baru sadar dia Putriku ketika teringat usia serta yang lain.
Hal lain yang menguatkan yaitu Dek Syafa bukan orang yang suka mengambil hak jika tidak izin. Kedua Dek Syafa sosok begitu baik tidak akan tega menyakiti perasaan orang terkhusus prianya. Ketiga mata anak itu serta semua yang ada padanya perpaduan sempurna dari kami. Terakhir kenapa Nduk FaaFaa mau di gendong olehku yang notabenenya baru bertemu.
Kalau sudah begini apa benar Dedek Faafaa Putriku yang malang? Jika iya maka aku adalah Ayah terburuk sepanjang masa. Ayah paling menjijikkan yang tega menelantarkan anaknya bahkan tega menyakiti hati si kecil. Jelas teringat bagaimana histeris anak manis itu meraung-raung setelah aku bilang diriku Paman.
Aku ingin tahu langsung dari mantan Istriku kebenaran itu. Saat ingin bertanya aku terjatuh dalam dekapan hangatnya. Aku tidak tahan sampai lidahku kelu tidak mampu berkata. Jujur saja sekujur tubuhku begitu lemah dan sangat sakit. Apa lagi kepalaku terasa menyakitkan tidak mampu di jabarkan.
Khumaira terbelalak saat Aziz menyandarkan kepala di bahunya. Tubuh Suaminya terasa kurus dan sangat pucat. Dia tepuk pipi tirus Aziz beberapa kali, tetapi tidak mendapat sahutan. Rasa khawatir menyerukan melihat Suaminya tidak berdaya.
Rasa panik luar biasa menggerogoti tubuhnya yang rapuh. Masih terekam jelas ketika Khumaira ke dapur mau minum tanpa sengaja melihat Aziz menjatuhkan teko dan gelas. Dan hal paling menyakitkan lainya melihat Suaminya berdarah-darah. Khumaira tentu saja begitu takut melihat keadaan Aziz
"Mas, tolong jangan membuat Adek khawatir."
"Sa-sa-sakit, D-Dek. I-ini sa--sa-sakit se-sekali," sahut Aziz sebelum kesadaran merenggut segalanya.
Khumaira ingin berteriak histeris meminta bantuan pada orang rumah. Mana bisa dia berteriak-teriak minta bantuan pada mereka. Selagi bisa ia akan berusaha menolong Suaminya. Khumaira berharap semoga saja Aziz tidak kenapa-napa.
Dia merasakan suhu tubuh Suaminya begitu dingin. Dengan hati-hati Khumaira seka keringat dingin yang bercucuran di pelipis Aziz. Sungguh hatinya merasa begitu ngilu melihat Suaminya tidak sadarkan diri. Air mata tidak mau berhenti melihat Suaminya tidak berdaya. Khumaira berpikir positif mungkin saja Aziz kelelahan maka bisa seperti ini.
"Mas, jangan membuat Adek khawatir. Sebenarnya Mas kenapa?"
Air mata Khumaira semakin deras merasakan Aziz begitu ringkih. Dia meraih lengan kekar Suaminya untuk menopang bahunya. Dengan usaha keras ia berusaha memapah Suaminya masum ke kamar. Khumaira walau kecil tidak sebanding dengan tubuh Aziz yang kekar rasanya tidak mungkin.
Cukup kuat Khumaira membawa Aziz sampai ke kamar pribadi. Dia rebahkan tubuh Suaminya hati-hati. Setelah Suaminya terlentang di ranjang buru-buru ia mencari pakaian Suaminya. Dia ambil piyama polos Suaminya dan saat menyentuh kancing kemeja rasanya berdegup kencang. Khumaira merasa bergetar akibat ini kali pertama kalinya melihat Aziz tanpa pakaian atas setelah tiga tahun puasa.
Khumaira yang gugup berusaha mengganti pakaian Aziz. Saat pakaian atas terlepas ia tahan napas melihat tubuh kekar itu membentuk sempurna. Merasa mesum ia langsung mengganti pakaian Suaminya. Setelah berhasil mengganti segala pakaian Suaminya ia bisa bernapas lega. Khumaira memutuskan untuk tinggal demi merawat Aziz.
"Mas tenang saja Adek akan merawat Mas."
Dalam kediaman aku tatap wajah Suamiku begitu pucat. Baru kutahu Suamiku sekarang sangat tirus dan kurus tidak seperti dulu. Mas kenapa jadi begini? Aku yang tidak tahan membawa tangan kekarnya untuk ku genggam.
Aku ciumi punggung tangannya di Sergai air mata berlinang. Hatiku pilu Mas melihatmu begitu memprihatinkan. Adek tidak tega melihat Mas begitu menderita. Sejatinya apa yang Mas rasakan sampai begini?
Kini aku putuskan untuk beranàajak untuk melihat tiga anak-anak sebelum kembali ke sini. Sebelum pergi aku terdiam ketika tanganku di genggam erat. Menerima genggaman erat aku melihatnya lagi guna memastikan.
Hal paling menyakitkan aku lihat saat Suamiku menyengit dan menahan kesakitan. Bahkan terdengar rintihan kesakitan dari bibirnya yang pucat. Melihat itu tentu saja tidak tega beranjak barang sedetik saja. Tubuhku kaku di kala Mas Aziz terus merintih kesakitan.
Bahkan tangannya terulur untuk mencengkeram kepalanya. Aku tidak sanggup melihatnya memilih tidur di sampingnya. Aku taruh kepala Suamiku untuk bersandar di dada. Dengan hati-hati aku lepas cekalan tangannya. Hingga aku pijat pelan kepala Suamiku yang malang.
Tubuhku terasa lemah bahkan air mataku tidak kunjung berhenti melihat Masku begini. Mas hiks hiks hiks, kenapa bisa begini? Apa aku ini salah paham lagi padamu sampai tega berpikir buruk? Guna mencari tahu aku pikir ulang semua ekspresi serta semua gerak-geriknya tadi.
Astaghfirullahal'adzim, apa Mas melakukan ini agar bisa pulang? Mas tidak akan mampu mendua walau hanya sesaat. Bahkan Suamiku sering kali menyatakan cinta sepenuh hati. Aku yang tahu seberapa besar cinta Masku dan seberapa besar dirinya menaruh kepercayaan.
Aku merasa tertikam belati tumpul saat sadar Masku pasti menyembunyikan sesuatu. Pasti ini alasan Mas bisa pulang jika bawa Jasmin. Aku percaya padamu Mas jangan takut. Adek akan selalu bertahan dan maaf sempat kecewa berat pada, Mas.
Semalam suntuk aku menjaga Masku yang terus merintih kesakitan. Aku terus terjaga demi menjaga Masku yang malang. Aku terus berusaha dengan memberitakan usapan lembut. Bahkan aku berikan ciuman sayang di kening Masku.
Ya Allah, rasanya senang, terharu, sedih dan tersiksa akhirnya bisa mendekap Masku. Walau Masku tidak sadarkan diri, tetapi ini sangat mendebarkan. Aku sangat ya Allah karena bisa mendekap Suamiku setelah tiga tahun berpisah.
Mas cepat sembuh ya, Adek janji akan selalu berada di sisi mu. Adek sanget mencintai Mas dan kan selalu begitu. Mas sangatlah mencintai Mas atas nama Allah. Atas Dzat yang Maha cinta kini hamba percayakan segala harapan untuk meraih kebahagiaan bersama Suamiku.
/***•~•~***
Aziz bangun ketika sinar matahari masuk melalui ventilasi jendela. Dia mengedarkan pandangan keseluruh penjuru ruangan. Ini kamarnya, kenapa bisa ada di kamar? Apa semalam Aziz mimpi Khumaira merawatnya?
Tubuhnya jauh lebih enakan hingga Aziz terpaku melihat bajunya. Kenapa pakai piyama? Bukanya tadi malam memakai kemeja dan celana bahan. Lalu kenapa sekarang dia memakai piyama? Karena tidak mau ambil pusing Aziz bergegas ke kamar mandi untuk wudhu. Dia akan mengqodho Shalat subuh.
Usai melakukan itu semua Aziz putuskan ke dapur untuk minum tanpa mengganti pakaian. Dia haus maka dari itu putuskan untuk ke dapur tanpa mempedulikan penampilannya. Ia tersenyum saja melihat Mas sulung berpapasan dengannya. Miris juga akibat Nakhwan mengabaikan Aziz.
Saat sampai di ruang makan Aziz melihat Khumaira tampak cuek. Dia meringis ketika Safira menghardiknya. Ia yang butuh air memilih diam seraya mendengar ceramah Umminya. Aziz jadi diam tidak mau membantah apa yang dipikirkan Umminya.
"Apa sekarang Putraku yang tampan ini suka bangun telat? Apa sekarang tidak bisa shalat tepat waktu lagi? Wah kehidupan Singapura membuat anakku jadi orang yang berbeda," celetuk Safira.
Aziz hanya menunduk dalam menyembunyikan wajahmya. Jika sampai Umminya melihat wajah pucatnya berabe. Dia meminta maaf lalu meraih roti tawar untuk mengisi perutnya. Posisinya sangat dekat dengan Khumaira sehingga bisa mencium aroma sang mantan. Aziz jadi berdegup kencang melihat Khumaira menatapnya sekilas.
"Apa tadi malam ada hal yang terjadi?" bisik Aziz ketika melewati Khumaira guna mengambil air dingin.
Khumaira menegang mendengar bisikan Aziz. Dia jadi ingat tadi malam adalah malam menyakitkan untuk dirinya. Pasalnya malam itu ia harus berhadapan dengan Suaminya yang terus merintih kesakitan. Demi menetralkan diri Khumaira bungkam tanpa mau menjawab Aziz.
"Jika memang ada yang terjadi tolong rahasiakan itu semua dari keluargaku," bisik Aziz lagi sebelum meninggalkan dapur.
"Tunggu, Ziz. Kamu harus ke rumah sakit!" tegas Safira sukses membuat Aziz tegang.
Aziz langsung menengok Khumaira tajam. Dia berharap mantan Istrinya tidak memberi tahu perihal tadi malam. Ia kecewa jika sampai mantan Istrinya tega memberitahu keadaan tadi malam. Aziz tidak akan memaafkan Syafa jika berani berbuat demikian.
Khumaira menunduk dalam menyembunyikan gugup akibat tatapan sengit Aziz. Dia tahu Suaminya tidak mau ada yang tahu prihal tadi malam. Dirinya juga tidak mau memberitahu lantaran privasi dan kenyamanan Suaminya. Sebisa mungkin ia menjaga apa yang terjadi pada Suaminya. Walau begitu Khumaira sedikit kecewa lantaran Aziz meragukan kepercayaan
"Mas Aziz, kita sekeluarga mau jenguk Mas Azzam yang di rawat di rumah sakit. Mas Azzam koma dan terus menyerukan nama Mas Aziz. Jangan bawa si Jasmin uler gatel itu atau kami sangat marah!"
Aziz terdiam seribu bahasa mendengar pemberitahuan Najah. Masnya koma? Kenapa bisa? Ya Allah, ingin rasanya ia marah pada takdir yang mempermainkan kehidupannya. Capek berpikir banyak ia putuskan diam tanpa jawaban. Buru-buru Aziz berlalu ke kamar untuk mandi.
Khumaira menatap sayu punggung kekar Suaminya yang jauh. Dia melihat tangan yang semalam suntuk mengusap pipi dan rambut Aziz. Dia bahkan bisa merengkuh tubuh kurus Suaminya untuk mengurai rasa sakit. Hati Khumaira merasa tertikam belati tumpul mengingat Aziz yang terpuruk kesakitan.
"Nduk, siap-siap ke rumah sakit. Kita akan membesuk Tole Azzam di rumah sakit," ujar Safira.
"Nggeh, Ummi. Saya ke kamar dulu."
Semua terasa menyakitkan ketika Jasmin datang ke Ndalem mencari Aziz. Khumaira hanya membuang muka saat Suaminya tersenyum pada Jasmin. Ingin rasanya ia berlari menghindar dari pasangan itu. Sakit tentu saja karena Aziz masih menjadi miliknya.
Aziz hendak mengiyakan ajakan Jasmin. Namun, Ibunya terlebih dahulu meraihnya. Dia bingung ketika Najah merengkuh bahu Jasmin. Bahkan Adiknya terang-terangan membawamu Jasmin dan Rena ke asrama putri.
"Kamu ingin jadi Istri Masku? Maka kamu harus mengenal istilah jadi orang yang baik dan kelilinglah di asrama. Kami harus menjenguk Mas Azzam yang sakit koma. Jadi, tolong jadi gadis baik di sini. Belajar mengaji bersama Mbak pondok, ok!"
Aziz menggunakan celana formal slimfit hitam bergaris. Untuk atasan dia gunakan kemeja hitam polos. Sementara Khumaira menggunakan gamis warna hitam corak bunga. Dalam mobil Aziz rengkuh Faakhira berniat mengawali hari baru. Entahlah rasanya seperti menggendong Putrinya sendiri. Setiap mendekap Faakhira maka rasanya seperti merengkuh Mumtaaz. Sementara Khumaira masih diam tanpa mengatakan apapun.
Khumaira duduk di pinggir dengan tangan terus mengusap rambut Mumtaaz. Sementara Ridwan duduk bersama Aziz dan bersandar pada sang Ayah. Mereka satu mobil, tetapi tidak ada yang mau membuka suara. Khumaira kurang nyaman dalam situasi begitu dingin.
Mumtaaz menatap Aziz dalam lantaran sedari kemarin Ayah begitu pucat. Dalam pandangan ia melihat Ayahnya begitu mengenaskan. Bahkan tubuh Ayahnya kurus tidak sekedar dulu. Jujur saja Mumtaaz begitu khawatir melihat Ayahnya beda dengan ingatannya dulu.
"Ayah," panggil Mumtaaz.
"Iya, ada apa, Kakak kecil?"
"Ayah, pucat. Apa Ayah sedang sakit?"
Pertanyaan sensitif itu membuat Aziz terdiam. Buru-buru dia tersenyum manis sembari mengusap pipi gembil anaknya. Ia jadi risi di tatap Nakhwan, Azura dan yang lain. Kalau begini Aziz menyesal tidak meminta bedak pada seseorang. Dia lupa menabur bedak sedikit atau mewarnai bibirnya agar tidak pucat. Lucu biarkan saja asal menyamarkan sakitnya dari mereka.
Khumaira terdiam mendengar pertanyaan Mumtaaz. Ya Allah, ia juga sadar itu karena semalaman suntuk menjaga Suaminya. Selama menjaga ia sadar sang Suami dalam keadaan kurang baik. Atau lebih signifikan yaitu Suaminya sakit lumayan parah. Tidak Khumaira tidak mau Aziz sakit karena terlalu lama.
"Tidak, Ayah hanya lelah karena baru kemarin melakukan perjalanan jauh. Dedek Faafaa kenapa diam? Apa sedang marah dengan, Ayah? "
Khumaira dan yang lainnya terpaku mendengar perkataan Aziz. Kemarin Suaminya memanggil diri sendiri Paman, tetapi sekarang ganti Ayah. Sebenarnya apa yang terjadi pada Aziz? Kenapa pria dewasa ini begitu sulit diprediksi setelah pulang dari Singapura.
Faakhira langsung tersenyum cerah mendengar perkataan Aziz. Dia mendongak menatap Ayahnya. Tangan mungil itu bertepuk tangan heboh lalu merengkuh lengan Ayahnya. Hati si kecil kembali ceria sampai memperlihatkan kebahagiaan.
"Yah, yeee Dedek Faafaa thenang," riang Faakhira.
"Ulu-ulu, Ayah juga senang, Nak."
Aziz mencium pipi gembul Faakhira dan mendekap erat. Rasanya begitu hangat sampai ia begitu nyaman merengkuh Faakhira. Dia juga memberikan kecupan sayang di puncak kepala Putranya Ridwan dan Mumtaaz. Baginya semua anaknya sumber kebahagiaan. Aziz sangat mencintai ketiga anaknya tanpa kecuali.
Khumaira tersenyum teduh melihat Aziz perlahan pulih tidak pucat. Dia usap rambut Mumtaaz dan merengkuhnya erat. Ya Allah semoga saja apa yang dikhawatirkan Khumaira tidak terjadi. Semoga saja Suaminya selalu dalam lindungan Allah, Aamiin. Segala harapan terbaik akan Khumaira panjatkan pada Allah tentang kesehatan Aziz.
***~•~***
Aziz membisu melihat Azzam terkulai lemah. Perlahan ia genggam tangan besar Masnya dan menatap Khumaira penuh tanda tanya? Hingga sebuah keajaiban terjadi Kakaknya sadar dari komanya, Alhamdulillah. Tidak bisa dijabarkan betapa Aziz bahagia akhirnya Azzam sadar
Azzam tersenyum melihat Aziz dan Khumaira serta keluarganya. Dia meraih tangan Aziz seraya menatap penuh kesakitan. Saat Adiknya meminta memanggil Dokter ia tolak halus. Dia sangat bahagia akhirnya Aziz kembali dalam keadaan sehat walafiat.
"Tole Aziz, mendekatlah," lirih Azzam.
Aziz menunduk untuk lebih mendekatkan diri. Dia tidak tahu kenapa jantungnya berdegup sesak. Apa yang ingin Masnya katakan? Semoga saja Azzam sehat tanpa ada kesakitan. Dia tidak akan merebut Khumaira walau tahu sang mantan di madu.
"Ada apa, Mas? Tolong jangan buat aku takut," lirih Aziz.
"Sebagai permintaan terakhir Mas, tolong kembali pada Dek Khumaira. Nikahi dia kembali, Le. Bangun pernikahan kalian lagi yang runtuh. Mas mohon untuk yang terakhir nikahi Dek Maira," pinta Azzam membuat Aziz dan Khumaira tersentak.
"Jangan main-main, Mas! Aku tidak mau menikah dengan Mbak Khumaira. Kami mantan ___"
"Jangan menolak Mas mohon, Le. Kalian masih sah menjadi Suami dan Istri. Apa kamu akan menjadi Suami durhaka yang menelantarkan anak dan Istri?"
Aziz tercengang mendengar perkataan Azzam. Masih Suami dan Istri? Tidak mungkin mereka sudah bercerai 3 tahun silam. Kenapa bisa Masnya mengada sebuah kata pahit? Ingin rasanya Aziz marah pada Azzam dengan aneka ketajaman lidahnya.
Khumaira menatap Azzam tidak percaya. Hatinya sangat sakit mendengar penolakan kasar Aziz. Dia menatap keluarganya meminta pembela. Namun, mereka hanya diam tanpa mau menerangkan sebuah jalan. Jika begini apa yang harus Khumaira lakukan?
"Mas jangan mengada-ngada! Aku dan Mbak Khumaira sudah tidak ...."
"Masih sah, Le. Kalian belum berpisah, pasalnya kamu belum mentalak atau tanda tangan surat perpisahan kalian."
Perkataan Aziz lagi-lagi terpotong oleh perkataan Azzam. Mungkin sekarang Aziz berasa hancur lebur mengingat betapa tersiksa hidupnya. Dia menatap nyalang Azzam dan Khumaira bergantian.
"Omong kosong apa ini? Jasmin ...."
"Jangan gila selama ini kamu di bodohi. Mas dan Istrimu sudah berpisah 3 tahun lalu setelah 2 minggu kepergianmu. Demi Putrimu menikahlah kembali dengan Istrimu. Dedek Faafaa membutuhkan dirimu, Le. Jika ingin bertanya banyak maka mintalah pada Istrimu!" tegas Azzam.
Aziz bergetar tidak percaya mendengar kebenaran itu. Dia meminta penjelasan pada Khumaira. Namun, Istrinya malah menunduk dalam sembari merengkuh dalam Faakhira. Jantung berdegup keras dan matanya terasa panas. Kenapa bisa begini? Aziz berusaha ingat saat Jasmin membodohinya. Kenapa bisa terjebak dalam kubangan ular berbisa? Hatinya hancur lebur akan Faakhira yang malang. Ya Allah, sebegitu hina dirinya berhadapan dengan Khumaira serta anak-anak.
Betapa hina Aziz rasakan setelah sadar Faakhira benarlah anak kandungnya. Putri kesayangannya yang begitu dicintai. Demi apa pun dia begitu sakit akan rasa bersalah membelenggu. Sekaligus begitu bahagia lantaran Faakhira darah dagingnya. Ya Allah, senang sekali dirinya bisa merasakan ini semua.
"Sekarang kalian membangun pernikahan tepat di depan kami. Menikahlah di sini karena ijab qobul tidak perlu meriah seperti pernikahan kalian dulu. Kalian akan membangun pernikahan agar lebih baik melakukan bahtera rumah tangga yang manis."
Aziz dan Khumaira terhenyak melihat ada penghulu. Bahkan mereka sudah menyiapkan segalanya dari meja untuk akad nikah dan sebagai mana acara ijab qobul. Mata mereka menatap Azzam dan keluarga yang lain. Hanya sebuah senyuman yang di dapat. Aziz dan Khumaira langsung menatap bingung merasa ada konspirasi diantara mereka.
Hingga Aziz terasa kaku mendapat pelukan hangat Safira. Bahkan keluarganya merengkuh erat tubuhnya. Mereka meminta maaf telah menghardik dirinya. Aziz tidak habis pikir ternyata mereka semua sandiwara menyiksanya di depan Jasmin demi melancarkan aksi.
Rencana ini Azzam yang menyusun. Dia tahu Aziz pulang tidak mungkin sendiri. Makanya dengan taktik jitu dia meminta bantuan keluarganya untuk menyatukan Aziz dan Khumaira. Biarkan Jasmin beranggapan bahwa Aziz tidak di anggap. Azzam dan keluarganya tahu Aziz dalam tekanan Jasmin. Maka semua terencana begitu apik.
Kembali Aziz dan Khumaira masih bingung sekaligus shock akan taktik mereka. Lebih tidak percaya lagi ya pada Azzam yang merencanakan ini semua. Mereka bahagia atau ingin menggeplak si pelaku gila? Tapi, tentu saja begitu bahagia karena bersatu kembali. Aziz dan Khumaira menahan perasaan campur aduk akibat Azzam.
"Aku tidak bisa percaya ini? Tolong jangan mebuat aku pusing!" pinta Aziz.
"Kamu harus kuat untuk menghadapi Jasmin bersama Dik Maira. Sekarang waktunya bahagia tidak ada tangisan. Cepat menikah atau aku rebut Istrimu!"
"Jangan, aku tidak akan membiarkan Istriku jatuh padamu, Mas. Aku ucapkan terima kasih banyak atas semua ini. Ini terlambat untuk di ucapkan, tetapi biarkan aku bicara serius. Selamat menempuh hidup baru Mas Azzam dan Mbak Mahira. Semoga sakinah mawadah waromah, Allahumma Aamiin."
"Aamiin ya Allah, sekarang tidak ada ucapan terima kasih sebelum kalian menikah!"
Azzam terkekeh sendiri melihat sandiwaranya. Memang dia kecelakaan jatuh dari pohon gara-gara mengambil layang-layang Zayn. Tidak ada luka serius semua hanya setingan demi Aziz dan Khumaira. Biarkan ia gitu tingkah jahil bin usil Adiknya. Memnag hanya Aziz saja yang usil dia juga bisa.
Hal mengejutkan terjadi saat keluarga Khumaira datang menghadiri acara membangun pernikahan. Sontak mereka merengkuh Khumaira sembari mengucap salamat. Bahri yang akan menjadi wali nikah Adiknya tersenyum teduh.
Setelah acara haru antara Aziz dan Khumaira bersama keluarga akhirnya inti di mulai. Hati pasangan ini di lingkupi rasa bahagia atas karunia Allah. Mereka tidak menyangka Allah akan menyatukan penuh keharuan.
Aziz dan Khumaira duduk berdampingan. Mata mereka saling menatap penuh arti. Senyum haru terukir tatkala Aziz menjabat tangan Bahri. Semua terasa manis ketika Aziz menjawab qobul dengan lantang. Sementara Khumaira tidak bisa berpaling akibat rasa haru berlimpah.
Bahri tersenyum haru akhirnya Khumaira mendapat kebahagiaan. Dia senang sekali saat mengucap penyerahan ijab pada Adik ipar. Tambah haru ketika Aziz menjawab qobul secara lantang tanpa keraguan. Bahri tidak bisa bicara apa-apa selain rasa haru atas Aziz dan Khumaira.
"Bagaimana para saksi?"
"Sah!"
"Alhamdulillah ya rabbil'alamin."
Hasyim berdoa usai ijab qobul, setelah berdoa ia meminta Aziz membaca mahar surah Ar_Rahman seperti dulu. Senyum bahagia terukir indah saat Putranya membaca surah Ar_Rahman tanpa membaca Al-Qur'an.
Khumaira menangis tergugu setelah Aziz selesai melantunkan surah Ar_Rahman dan janji di pernikahan. Untuk pertama kalinya setelah berpisah lama dengan badai menghantam rumah tangga mereka akhirnya terbayar manis. Air matanya luruh deras ketika menyalami snag Suami. Dia cium punggung tangan Suaminya penuh keharuan. Khumaira tidak pernah tahu akhirnya Aziz mampu didapatkan kembali.w
Aziz menangkup pipi Khumaira lembut. Dia mengecup kening Istrinya lama dengan derai air mata. Tanpa babibu lagi ia rengkuh Khumaira seerat mungkin. Tidak peduli bayak orang asal bisa katakan dirinya sangat senang. Tanpa sungkan dia mengutarakan cintanya akan kerinduan membludak. Aziz bahkan tidak segan menciumi wajah Syafa-nya serat akan makna.
"Mas malu," bisik Khumaira saat Aziz tanpa tahu malu mencium bibirnya. Jujur saja ia sangat senang Suaminya mencium manja hanya saja malu sekali akan aksi nakal di depan keluarga.
"Maaf kelepasan," ucap Aziz seraya terkekeh geli. Tanpa ba-bi-bu mendekap erat Istrinya penuh kebahagiaan mendalam.
"Untung mata anak-anak kami tutup," cetus mereka seraya tersenyum maklum.
Semua yang menyaksikan pernikahan Aziz dan Khumaira menangis haru. Kalau sudah di takdirkan bersama maka tidak akan bisa dipisahkan. Walau berpisah maka akan menyatu kembali pada takdirnya. Allah telah mentakdirkan sebuah insan walau bagaimanapun caranya akan bersatu juga. Badai besar lika-liku sebelum menuju kebahagiaan telah menghadang. Lalu kini Aziz dan Khumaira telah bersama dalam naungan Allah.
Ridwan, Mumtaaz dan Faakhira nyempil di tengah Aziz dan Khumaira. Mereka begitu bahagia akhirnya kembali bersatu. Bahkan anak-anak ini menangis haru melihat Ayah dan Umi telah bersatu kembali tanpa halangan. Hanya Kebahagiaan yang akan mereka dapat setelah badai besar. Dua anak tampan dan satu batita cantik telah menemukan pelangi. Kini hanya kebahagiaan yang akan selalu bersinar menerangi mereka.
****"~•~"****
Maaf ya Rose belum koreksi dan edit jika ada typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan harap maklum!
Chapter paling panjang untuk keharuan ini. Masih betah mendapat chap manis yang panjang?
Kalian bahagia bukan sudah menerima chapter ini.
Terima kasih telah setia sama story Ini.
Sayang kalian semua.
Puas banget bukan Rose nulis chapter ini.
Sampai jumpa Next Chapter, ok.
I love you, Rosever!