
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!
***~'~***
Aziz merengkuh Faakhira dengan derai air mata. Dia akan mengadzani dan mengiqamahi Putrinya. Dengan sayang dia meminta izin Khumaira untuk mengadzani sang anak. Tentu Istrinya memberi izin padanya dengan senang hati. Aziz raih Faakhira lalu memberikan ciuman lembut di pipi dan kening.
Faakhira anteng dalam dekapan hangat Ayahnya. Mata besar bulat itu mengerjap menatap Aziz lamat-lamat. Tangan mungil itu terulur untuk mengusap pipi tirus sang Ayah. Mungiin Faakhira sadar akan mendapat sesuatu yang membahagiakan makanya diam anteng.
Suara bariton serak basah Aziz terdengar merdu. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga kanan Faakhira. Untuk pertama kalinya Aziz akan mengenalkan Putrinya pada dunia yang sesungguhnya. Do'a sebelum Adzan terucap begitu tegas. Setelah berdoa Aziz mengadzani Faakhira. Setiap lafadz Adzan tidak henti-hentinya Aziz menangis.
Selesai Adzan Aziz berdoa setelah Adzan. Kemudian mendekatkan bibir ke telinga kiri Faakhira untuk Iqamah. Hatinya terasa teriris baru bisa mengadzani dan mengiqamahi Putrinya tepat usia yang kedua tahun. Aziz sangat bersyukur Faakhira tidak menangis mendengar suara tegasnya mengumandangkan Adzan dan Iqamah.
Keluarga besar Aziz dan Khumaira menangis melihat momen mengharukan itu. Dapat mereka lihat betapa khusyuk Aziz mengadzani dan mengiqamahi Faakhira. Air mata mereka luruh deras melihat Aziz menangis tergugu setelah semua itu.
Aziz menciumi wajah cantik Faakhira penuh sayang. Putrinya yang sangat manis akhirnya hadir dalam hidupnya. Dia meminta Mumtaaz dan Ridwan untuk mendekat padanya. Setelah anak-anak di sampingnya sontak Aziz merengkuh erat. Ia ciumi puncak kepala Ridwan, Mumtaaz dan Faakhira penuh rasa haru.
Ridwan dan Mumtaaz mencium pipi Aziz sembari mengatakan kami sayang, Ayah. Hati mereka begitu bahagia Ayah tersayang telah kembali. Panutan narsis mereka telah datang tanpa di duga. Sekarang personil lengkap tidak akan bisa dipisahkan. Ridwan dan Mumtaaz sangat bahagia sehingga membuat mereka terus tersenyum manis.
Khumaira tersenyum teduh melihat momen Suami dan anak-anaknya. Rasanya begitu haru sampai air mata tidak kunjung berhenti. Ya Allah dirinya begitu bahagia bisa melihat tiga prianya telah kumpul kembali. Tambah terharu akhirnya sang putri bisa berada di dekap Ayahnya. Kini Khumaira berharap Allah selalu menjaga cinta dan kebahagiaannya sampai akhir hayat.
"Ayah, sekarang jelek!" celetuk Mumtaaz membuat Aziz menatap Putranya intimidasi.
"Wajah Ayah tidak akan jelek karena Ayah makhluk tampan menawan memiliki sejuta pesona dan tentunya ketampanan Ayah itu overdose!"
"Siapa bilang Ayah tampan, pasti katarak!" cela Mumtaaz lagi.
"Banyak yang mengakui, fans Ayah itu bejibun dan banyak wanita menyukai, Ayah. Bahkan mereka terang-terangan menyatakan cinta sewaktu Ayah muda, dewasa dan saat sendiri."
"Ayah halu ketinggian, lihat apa kata fans ketika wajah Ayah tampak jelek sekarang. Banyak air mata dan ingus!" celetuk Ridwan kalem.
"He? Ya Allah, benarkah? Ayah akan hapus air mata ini. Jangan salah walau Ayah menangis wajah Ayah tetap rupawan tidak terbantahkan!"
"Ayah pensiun sajalah jadi cowok ganteng. Kakak kecil Mumtaaz yang paling tampan di dunia. Pokoknya hanya Kakak Mumtaaz yang tampan overdose!"
"Hai, Kakak Ridwan jauh lebih tampan darimu, Dedek besar! Pokoknya hanya kakak Ridwan yang tampan kalem tidak terbantahkan!"
Dan terjadilah debat antara Mumtaaz dan Ridwan meraih gelar makhluk tampan tidak terbantahkan. Mereka tidak mau kalah seolah mau memenangkan gelar pangeran tertampan di dunia. Walau Abi menengahi keduanya tetap saja debat tidak mau berhenti. Ridwan dan Mumtaaz saling tatap dengan mata menyorot tajam.
Sedangkan Aziz hanya bisa diam saat anak-anak terus melontarkan kata-kata penuh percaya diri selangit. Benar saja didikan narsis sangat tidak baik untuk kewarasan. Baiklah ia akui dia makhluk tampan menawan memiliki sejuta pesona tidak terbantahkan di dunia agak salah mengajarkan kegilaan. Jadi Aziz harus terima betapa narsis Ridwan dan Mumtaaz akibat ulahnya sendiri.
Khumaira menggaruk pipinya yang tidak gatal. Dia hanya geleng kepala seraya tersenyum manis akhirinya personil narsis berkumpul. Kalau begini ia begitu lega mendengar debat pria tampan. Pusing sekaligus haru Khumaira rasakan. Melihat 3 malaikatnya rasanya begini sungguh meneduhkan. Suaminya sudah kembali penuh harapan terlabuh. Khumaira tidak akan terpuruk lagi pasalnya Aziz telah datang.
Seisi ruangan hanya menggeleng melihat debat seru Ridwan dan Mumtaaz meraih ketampanan. Mereka terkekeh geli menyaksikan kenarsisan keluarga Aziz. Rasa haru melingkupi hati mereka yang menyaksikan Aziz telah kembali menambah kegilaan anak-anak.
"Hai, Dedek Zayn kamu pilih Kakak besar atau Kakak kecil?" tandas Ridwan menodong Adik tirinya.
Zayn yang susah bisa bahasa Indonesia tersenyum melihat dua saudara tirinya. Dia menatap Ridwan dan Mumtaaz lamat-lamat. Dua Kakaknya sangat tampan Zayn akui itu. Jadi siapa yang akan di pilih Zayn, natikan jeda pariwara berikut ini?
Kembali lagi ke awal Zayn akan pilih Ridwan. Secara kakak sulungnya tampan dan tidak teguk usil. Lalu Mumtaaz itu ganteng, tapi tengil, usil, jahil dan sangat menyebalkan. Tetapi, demi apa kakaknya itu begitu baik walau tidak punya sisi menggemaskan. Jadi siapa yang akan Zayn pilih?
****
Khumaira bersandar di bahu lebar Aziz setelah menghabiskan waktu bersama keluarga mereka. Untuk anak-anak di jaga keluarga besar mereka. Mungkin Faakhira sedang main boneka bersama si kecil Ayeza (anak Azzam dan Mahira). Khumaira jadi sangat senang Zoya, Faakhira dan Ayeza saling menyayangi.
Aziz merengkuh bahu Khumaira sembari menikmati angin sore. Mereka masih di rumah sakit alasanya Azzam masih betah di sini biar Jasmin di kerjai Mbak pondok. Lucu sekali membayangkan betapa konyol Azzam dan Najah yang iseng. Mas kalem menjelma menjadi pria usil sepertinya. Tidak dapat di percaya keusilannya. Bahkan Aziz tidak percaya bahwa Azzam bisa melakukan skenario sebagus ini.
Keduanya diam hingga akhirnya saling menatap penuh cinta. Aziz dan Khumaira akan putuskan saling membuka diri. Keduanya putuskan untuk memulai awal baru sedikit demi sedikit. Bercerita perihal kebenaran sesungguhnya yang telah tertutup kepalsuan. Kini Aziz dan Khumaira berharap mendapat segala cinta.
Aziz dan Khumaira kembali menatap depan melihat anak-anak kurang beruntung sedang bermain. Senyum tulus anak-anak itu begitu tulus seolah tidak menunjukkan kesakitan. Mereka berdua semoga Allah lekas memberikan kesembuhan untuk mereka. Aziz dan Khumaira juga terus berdoa semoga saja Allah menjauhkan sakit dari anak-anaknya.
"Mas tidak ingat apa-apa tentang 1 bulan setengah di Singapura itu. Mas mengalami kecelakaan mengerikan sampai Mas tidak tahu nasib selanjutnya. Beribu kata maaf tidaklah cukup menebus kesalahan Mas. Tolong maafkan Mas yang tega menelantarkan Adek serta anak-anak. Bahkan dengan tega mengabaikan Dedek Faafaa. Mas minta maaf Dek ... tolong ampuni Mas yang kejam ini. Di kala Adek membutuhkan Mas dengan tega meninggalkan sendiri. Mas ini benar-benar sangat menyedihkan. Tolong maafkan Mas yang hina ini. Tolong maafkan Mas yang memberikan ribuan luka. Bahkan jika Mas mengucap maaf sampai berbuih tidak akan mampu menebus dosa."
"Sstt, Mas tidak perlu meminta maaf. Sebelum Mas minta maaf Adek sudah memaafkan Suamiku dengan ikhlas. Tidak boleh menyalahkan diri sendiri karena saatnya buka lembaran baru hanya ada kita bersama anak-anak. Sekarang Mas hanya perlu menjaga kami sepenuh hati. Adek tidak ingin mendengar kata maaf karena Adek juga banyak menyakiti Mas. Saatnya bangkit tidak perlu mengungkit masa lalu. Badai cinta yang sesungguhnya ketika Mas kehilangan memori itu dan cinta kita diuji oleh Allah. Kita sudah di takdirkan bersama tanpa terpisahkan. Masku Aziz tercipta untuk Adek Syafa seorang begitu pun sebaliknya. Tidak boleh ada yang menyalahkan diri sendiri karena hanya ada lembaran baru penuh warna kebahagiaan."
Aziz bersimpuh di depan Khumaira lalu menyandarkan kepala di paha sang Istri. Tangan kekarnya merengkuh pinggul Istrinya penuh suka cita. Dia sangat bahagia akhirnya bisa bersama Istrinya kembali. Dia sangat beruntung mendapatkan bidadari Surga sebaik Istrinya. Hati sang Istri yang bersih membuatnya merasa sangat bangga. Aziz tidak pernah menyangka Syafa-nya bisa diraih kembali setelah badai besar berlalu.
Allah tidak pernah salah mentakdirkan seseorang. Jika ingin mendapat jodoh yang baik maka berkaca terlebih dahulu apa kamu sudah baik? Mulai sekarang rubahlah menjadi pribadi lebih baik lagi agar mendapat jodoh sebaik Mas Aziz atau Mas Azzam.
Seperti Aziz yang memiliki jiwa dan hati bersih penuh kebaikan mendapat Syafa yang memiliki sikap sama sepertinya. Mereka di takdirkan bersama penuh melengkapi dalam suka maupun duka. Aziz yang tegas penuh wibawa di hadirkan Syafa yang lembut penuh kasih sayang. Pasangan hidup begitu manis ketika saling menerima dan melengkapi. Seperti Aziz dan Khumaira yang selalu melengkapi dalam suka maupun duka.
Khumaira ingin mengembalikan ingatan Suaminya. Namun, takut ketika ingat Suaminya tidak berdaya tadi malam. Apa yang harus dia lakukan untuk menyembuhkan Suaminya? Mana bisa Khumaira membuat Aziz memaksa ingat perihal 3 tahun yang lalu.
"Jangan berkata masa lalu yang menyalahkan diri sendiri. Apa Mas yakin ingin mendengar kehidupan Adek sampai kita bersatu?"
"Sangat ingin, biarkan Mas tahu seberapa besar kesalahan Mas dan perjuangan Adek."
Khumaira meminta Aziz duduk di sampingnya. Tangannya meraih tangan besar Suaminya lalu mencium lembut. Dia menyandarkan kepalanya di bahu lebar Suaminya agar mendapat kekuatan. Perlahan Khumaira mendongak menatap mata tajam Aziz. Ia memejamkan mata tatkala Suaminya memberikan ciuman di kening. Khumaira elus pipi Aziz dengan perasaan membuncah.
Aziz mengangkat Khumaira agar duduk di pangkuannya. Ingatkan dia ini taman rumah sakit yang otomatis banyak yang melihat dari gedung atas terutama keluarganya. Namun, siapa yang peduli akan keirian mereka? Dia senang maka semua senang, benar? Aziz tentu saja begitu mencintai Khumaira tanpa peduli yang lainnya.
"3 tahun yang lalu setelah kepergian Mas ke Singapura. Adek sempat hidup bersama Mas Azzam selama 1 pekan. Adek yang tidak tahan memutuskan untuk berpisah dengan Mas Azzam dan Mas Aziz. Adek bertekad tidak ingin hidup bersama kalian. Hingga 6 minggu kemudan Adek mendapat kabar membahagiakan yaitu datangnya Dedek Faafaa dalam rahim, Adek. 2 tahun penantian kita akhirnya terbayar manis. Saat itu Mas menelepon Adek untuk pertama kalinya ....,
... Adek pertama kali mendapat telepon Mas merasa marah, kecewa dan emosi ketika Mas bicara dingin. Bahkan Mas memanggil Adek dengan sebutan Mbak. Hati Adek saat itu hancur lebur tidak mau memberi tahu perihal kehamilan Adek. Hingga malam harinya Mas menelepon Adek lagi sembari menjelaskan segalanya. Adek sangat bahagia dan memberi kabar bahwa Adek dan Mas Azzam sudah berpisah. Lalu memberi tahu perihal kehamilan Adek ...,
... Mas begitu bahagia mendengar kabar kehamilan Adek. Mas memutuskan pulang besoknya. Mas tahu Adek terus menunggu kedatangan Mas sampai berbulan-bulan. 3 bulan kemudian Mas Azzam datang Adek kira itu Mas. Namun, apa daya itu bukan Mas melainkan Mas Azzam. Satu bulan kemudian hal paling menyakitkan terjadi menimpa, Adek. Semua terasa menyakitkan ketika Adek melihat Suamiku bersama wanita lain begitu romantis. Bahkan wanita itu terang-terangan mengklaim Mas sebagai pacar ...,
... dari situ Adek sangat membenci Mas. Sangat membenci serta kecewa pada Mas. Adek melalui kehamilan tanpa hambatan, Alhamdulillah. Namun, saat melahirkan Dedek Faafaa semua berbanding balik. Adek mengalami pendarahan hebat akibat tekanan selama mengandung. Adek kira hidup ini sampai situ, tetapi semua terasa manis saat hari keempat Adek siuman. Rasa haru melingkupi hati Adek ketika mampu menggendong Dedek Faakhira setelah lama tidur ....,
.... untuk pertama kalinya Mas mengirim pesan pada Dik Laila. Aku menyengit bingung saat Mas mengira Putri kita anak Mas Azzam dan Adek. Bahkan Mas tidak ingat apa pun tentang kehamilanku. Semua terasa janggal untuk Adek. Hingga 2 bulan setelah lahiran Adek mengirim surat perpisahan kita. Hal mengejutkan terjadi ketika Adek terima surat perpisahan, surat dan cincin perceraian kita. Mulai dari situ Adek yakin Suamiku dalam keadaan tidak baik. Lagi-lagi Adek meminta bantuan pada Mas Azzam dan hasilnya mencengangkan ...,
... Mas Aziz kecelakaan hingga kehilangan memori terakhir di Singapura. Ingin rasanya Adek beritahu kebenaran sesungguhnya. Namun, mengingat kondisi Mas yang tidak baik membuat Adek mengurungkan niat. Biarkan Masku ingat secara sendiri atau tidak ingat biarkan aku menunggu sampai Mas pulang untuk memberi kebenaran ....,
... 1 tahun setengah kemudian, Adek lewati begitu berat. Almarhum Bapak jatuh dari kamar mandi menyebabkan strok. Kami berusaha keras menyembuhkan Bapak. Hingga perjuangan akhirnya Bapak sembuh setelah satu tahun strok. Kami begitu senang akhirnya Bapak sehat. Tetapi, kebahagiaan tidak berlangsung lama, pasalnya Bapak di vonis punya penyakit gagal ginjal. Kami kembali mengumpulkan uang untuk pengobatan almarhum ....,
.... hingga Dokter mengatakan Bapak harus di operasi. Adek ingin meminta bantuan pada Mas Bahri. Namun, hal buruk terjadi ketika Tole Dzaki kecelakaan. Uang Mas pada akhirnya Adek pakai untuk biaya operasi Bapak dan pengobatan terakhir paska operasi. Alhamdulillah ya Allah Bapak dinyatakan pulih seutuhnya. Adek pakai uang Mas lagi untuk syukurkan. Namun, Allah berkehendak lain tepatnya 11 hari yang lalu Bapak pulang ke Rahmatullah. Bapak meninggal dalam keadaan Husnul khatimah, Aamiin. Saat itu Bapak mengimami Shalat subuh kami. Saat salam usai tahiyat akhir Bapak jatuh tidak sadarkan diri dan sudah meninggal ...,
.... Bapak pulang ke sisi Allah dalam keadaan tersenyum penuh kebahagiaan, Mas. Semua terasa menyakitkan untuk di ingat atau pun di hadapi. Adek membutuhkan tempat bersandar untuk mencari kekuatan. Mas yang Adek butuhkan untuk memberi kekuatan tidak ada di samping, Adek. Tidak apa karena Adek punya anak-anak yang memberi kekuatan penuh kehangatan. 10 hari setelah Bapak pulang ke Rahmatullah sebuah kabar datang yaitu Mas Azzam kecelakaan membuat Adek pusing ....,
... hal paling membahagiakan untuk Adek adalah ketika melihat Mas pulang. Ingin sekali Adek merengkuh Mas seerat mungkin agar rasa rindu terobati. Tetapi, rasa sakit bahkan Adek tidak sanggup bertahan saat Mas mengatakan bahwa Jasmin gadis, Mas. Hatiku hancur lebur tanpa sisa, Mas. Adek sangat sakit tanpa mampu dijabarkan sakitnya. Tepat tadi malam Adek begitu khawatir melihat Mas terkulai lemah dalam dekapan Adek. Katakan pada Adek Mas sakit apa? Semua Adek ceritakan tindak kurang dan lebih ....,
... Adek sangat mencintai Mas karena Allah begitu pun sebaliknya. Mas tahu kan smapai sekarang cintaku tetap kukuh bahkan semakin besar. Cinta Adek untuk Mas tidak ada bandingannya. Adek sangat bangga bisa mencintai Mas sepenuh hati. Biarkan Adek katakan betapa cinta ini sangat besar tanpa bisa jabarkan. Adek mencintai Mas karena Allah. Ayo giliran Mas yang bercerita kebanaran sesungguhnya. Adek ingin mendengar kehidupan Mas di Singapura."
Khumaira menutup kebenaran itu seraya tersenyum teduh. Air matanya sudah berlingan deras sedari awal bercerita. Terkhusus di bagian Bapaknya. Dia tambah hancur ketika mengingat pertemuan pertama setelah lama berpisah dengan Aziz. Hatinya begitu sakit mengingat Suaminya mengenalkan gadis itu pada keluarganya.
Aziz terdiam seribu bahasa mendengar cerita Khumaira. Air mata penyesalan penuh rasa bersalah menghantam jiwanya. Dia tidak tahan akan rasa sakit Khumaira membuatnya tumbang. Aziz terjatuh dalam pangkuan Khumaira. Darah segar merembes keluar dari hidung mancungnya. Fakta menyedihkan itu menghantam jiwa Aziz membautnya hilang kendali. Karena beban pikiran terlampau kalut membuat kepalanya terasa menyakitkan sampai tidak bisa di jabarkan. Dia masih sadar saat darah terus keluar tanpa henti. Penyakitnya benar-benar akan terbongkar pastinya membaut mereka tersiksa. Apakah Aziz siap mendengar kesakitan mereka karenanya?
Khumaira kaget melihat Aziz jatuh dalam pangkuannya. Tubuhnya bergetar ketakutan melihat darah segar terus keluar dari hidung mancung Suaminya. Apa yang dia takutkan terjadi ketika Suaminya tidak kuat mendengar kebenaran itu maka hal buruk terjadi. Khumaira langsung berteriak meminta tolong pada orang-orang yang ada di taman.
Tangan mungil Khumaira megangkat kepala Suaminya agar bersandar di dadanya. Dia ambil tisu untuk mengelap darah Suaminya. Air matanya terus berjatuhan melihat Aziz begitu pucat dengan suhu tubuh sama seperti semalam. Dia tidak peduli pakaian dan hijabnya penuh darah Suaminya. Hatinya hancur lebur melihat sang Suami terkulai lemah. Khumaira dekap erat Suaminya seberat mungkin guna menggali sakit melihat Aziz.
Perawat pria mengangkat tubuh Aziz untuk di rebahkan di brankar. Mereka meminta Khumaira untuk ikut bersama. Mereka merasa miris melihat Khumaira begitu terpuruk melihat Aziz begitu menyedihkan. Dapat di lihat betapa besar cinta wanita dewasa ini mencintai Suaminya. Haru sekaligus berharap agar pria dewasa ini tidak kenapa-napa.
Dari atas sana Mumtaaz yang masih sibuk melihat Ayah dan Uminya menjatuhkan apel di tangannya. Dia dengan histeris meneriaki Ayah berulang kali hingga Hasyim dan yang lainnya berusaha menenangkan Mumtaaz. Ia sangat shock melihat Ayahnya terkulai lemah bersimpah darah. Mata tajam berpupil cokelat gelap meredup saat Ayahnya sudah di bawa pergi dari taman.
Mereka menengok ke arah pandangan Mumtaaz, tetapi hasilnya kosong. Sebenarnya apa yang terjadi? Mereka memintanya untuk tenang. Bukanya tenang ia semakin histeris tidak terkendali. Mumtaaz terus histeris tidak kunjung berhenti karena ingat Ayahnya.
Azzam merengkuh erat Mumtaaz sembari berbisik semua akan baik-baik saja. Entah kenapa dia merasa takut begitupun dengan yang lainnya. Lihat Faakhira yang di gendong Mahira ikut menangis kencang sembari menyebut Ayah. Azzam tertunduk sedih seraya mendekap erat Mumtaaz seolah tidak membiarkan sedih.
Ridwan, Safira dan Hasyim bergetar ketakutan melihat dua anak Aziz dan Khumaira meraung-raung. Mereka meminta Nakhwan untuk mencari tahu kondisi Aziz. Sungguh hati mereka begitu gelisah memikirkan Aziz. Sebenarnya apa yang terjadi?
Khumaira yang mendengar sayup-sayup suara Mumtaaz bergetar hebat. Dia mendongak di tempat Azzam di rawat. Namun, mereka sudah di dalam. Buru-buru ia menyusul perawat untuk melihat kondisi Suaminya. Semoga saja Suaminya tidak memiliki sakit yang di takutkan. Rasanya Khumaira begitu menyesal telah memberi tahu kebenaran sesungguhnya pada Aziz.
"Mas, maafkan Adek telah membebani pikiran Mas begitu berat. Ya Allah tolong selamatkan Suamiku. Ya Allah angkat sakit Suamiku dan berikan padaku. Ya Allah hamba memohon berikan kuasa-Mu untuk kesembuhan, Mas Aziz," rapal Khumaira.
Khumaira terjatuh di depan pintu IGD. Tubuhnya panas dingin melihat tangannya yang tadi berusaha menghalau darah Suaminya. Air mata semakin deras membanjiri pipinya jika ingat Suaminya. Semoga saja Allah menyelamatkan sang Suami dari sakit berbahaya. Khumaira begitu cinta pada Aziz sampai rasanya begitu besar tidak bisa dijabarkan.
Wajahnya sudah penuh air mata kepedihan. Baru tadi ia dapat sejuta kebahagiaan dan keharuan. Namun, Allah kemabli mengujinya dengan datangnya sakit sang Suami. Buru-buru ia istighfar untuk meminta ampun atas tidak keberdayaan. Dia terus memohon agar Allah menyembuhkan sang Suami. Khumaira akan terus berdoa semoga saja Allah mengabulkan doanya untuk kesembuhan sang Suami.
"Atas Rahmat dan kuasa-Mu ya Allah hamba memohon agar Suami hamba Engkau berikan perlindungan. Hamba memohon pada-Mu ya Allah agar mengangkat sakitnya. Engkau Dzat yang Maha Penyembuh maka limpahkan segala kuasa-Mu untuknya. Angkat sakitnya ya Allah dan berikan kekuatan dia menerima cobaan Mu. Hamba sangat mencintai-Mu wahai Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hamba sangat mencintai-Mu dan Rasulullah. Hamba memohon atas kesembuhan dirinya ya Allah."
Segala di harapan Khumaira panjatkan untuk Aziz. Bahkan jika sakit itu bisa pindah maka dengan lapang dada menerima itu semua. Demi Allah bahkan jika nyawa harus dipertaruhkan maka ia ikhlas berikan. Cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya memang sangat besar bahkan tidak mampu di jabarkan. Dan cintanya untuk hamba yaitu Aziz juga sangat besar karena cinta itu atas petunjuk-Nya.
Khumaira berharap semoga saja Aziz mampu melewatinya. Dia berharap setelah kesembuhan Suaminya maka sejuta Kebahagiaan datang menyertai. Setelah sembuh maka mereka akan membesarkan tiga anaknya penuh suka cita. Lalu mendapat akhir bahagia bersama orang terkasih. Khumaira yakin ada hikmah di balik ini semua. Maka dari itu ia terus berharap Allah memberikan kebaikan dibalik sakit Aziz.
***
Maaf ya Rose belum koreksi dan edit maka jika ada banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan harap maklum.
Salam cinta untuk, Rose!