
Selamat pagi semuanya!
Salam sayang dari Mas Aziz untuk kalian semua.
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini
👇👇👇
*.*.*.*
Jika Allah berkehendak maka semua akan terjadi. Seperti aku tidak tahu bisa menikah dengan wanita yang sangat kucintai. Jika ingat dulu ia adalah Istri Masku. Rasa sakit setiap melihat pertama kali datang ke rumah rasanya pedih. Saat ingat awal pernikahan merek yang mesra dan aku merasa begitu tersiksa menahan cintaku serta sakit hati.
Takdir sangat kejam, tetapi itu sangat membahagiakan bagiku. Pasalnya Dek Syafa adalah sumber kebahagiaan di atas segalanya. Aku sangat mencintainya sepenuh hati, walau sampai sekarang tidak mendengar Istriku mengutarakan perasaannya.
Tidak masalah untukku karena dengan adanya Istriku itu cukup. Tidak ada cinta terucap asal ia sellau ada dalam pandangan itu cukup. Aku sangat bahagia setiap kali mendapat kelembutan dan penyemangat darinya. Semua terasa indah tatakal Istriku tersenyum manis. Cintaku terlalu besar maka dari itu selama apa pun aku siap menunggu cinta ini terbalas.
Aku tatap lamat-lamat Dek Syafa dalam dekapanku. Aku telisik wajahnya yang sangat manis. Alis tipis, bulu mata lentik, hidung mungil tidak mancung dalam artian bangir, pipi tembem enak di cubit dan terakhir bibirnya begitu menggoda.
Wajahnya oval sangat manis menggemaskan. Aku ingin punya Putri yang sangat cantik seperti Dek Syafa. Aku ingin Putriku semanis Dek Syafa walau tidak tahu kapan. Aku berencana membuat momongan baru ketika Dedek Mumtaaz sudah berumur 3 tahun.
Apa terdengar gila ketika aku menginginkan banyak kebahagiaan? Aku rasa tidak pasalnya semua orang berhak mendapatkan kebahagiaan. Begitupun dengan diriku yang berhak mendapat kebahagiaan berlimpah.
Sudah 2 pekan aku bekerja menjadi Dosen, dan selama itu belum mendapat titik terang tentang kasus korupsi. Ya Allah, aku sebenarnya sudah tahu tetapi ragu untuk mencetuskan semua.
Aku ingat waktu Kania memberi Kopi lalu datang temanku. Lalu aku mendatangani berkas ilegal. Argh, mereka berdua tidak mungkin terlibat. Apa lagi Kania notabennya orang yang sudah kuanggap Adik.
Untuk dia, jangan suudzon Aziz itu tidak baik. Semoga saja prasangka buruk melesat jauh. Jika benar dia pelakunya apa aku siap menerima itu?
Ya Allah yang Maha Penyayang, akankah aku siap mendengar fakta kalau ada konspirasi untuk menjatuhkan diriku? Semoga saja orang-orang itu cepat mendapat hidayah. Lalu aku tidak terluka mengetahui siapa dalang dari semua ini.
Semoga Allah membuka pintu hati untuk mereka yang dzolim padaku. Aku tidak merasa di dzolimi pasalnya ini sangat menyenangkan ketika aku bisa merasakan kebebasan. Kebebasan dalam artian bebas tidak bekerja keras siang dan malam. Aku jadi banyak menghabiskan waktu bersama keluarga. Terutama bersama Istriku yang manis, lalu jangan lupakan dua anakku yang sangat imut.
"Mas."
Sudah bangun rupanya. Apa Adek terbangun karena Mas terlalu erat mendekap tubuhmu? Kalau iya rasa bersalah hinggap karena terlalu over mendekapnya. Entahlah yang jelas tubuh mungilnya terasa pas dalam dekapanku, dan rasanya begitu nyaman mendekap tubuh sintal, Istriku.
"Iya, Dek."
Aku tatap mata besarnya tampak bersinar. Mungkin terlalu intens menatapnya ia menyembunyikan wajah di dadaku. Manis sekali aku sampai lumer melihatnya salah tingkah. Jangan lumer nanti ketampananku luntur, bahaya. Aku bisa jelek jika sedih, muram tanpa daya.
Jangan begini ingat masih pagi tidak pantas minta jatah apa lagi tadi malam kami melakukan hubungan intim. Sudah jangan nakal karena aku harus fokus walau inti ku tegang.
Sabar, karena orang sabar tambah tampan menawan. Asyik ....!
Jangan tertawa pasalnya aku benar-benar sangat tampan. Jangan meringis itu terlihat aneh untuk kesehatan. Kemari kawan kalian mau minta tanda tangan, tidak masalah aku siap berikan.
Mau bertemu dengan diriku? Mimpi yang nyenyak bayangkan si tampan tidak terbantahkan hadir.
"Mas, jangan pergi ke kampus ya," pinta Istriku mengagetkan diriku dari lamunan nakal
"Apa Istriku ini mau berduan dengan Masnya?"
Menggoda sedikit tidak masalah bukan? Aku sangat senang melihat wajah cantik Dek Syafa merona. Bagiku wajah manis Istriku saat merona sangatlah manis. Apa lagi saat tangan halusnya menepuk dadaku pelan. Itu sangat manis untuk dilihat atau sekadar melewatkan sebentar.
"Mas, ih jangan menggoda Adek, atau Mas tidak dapat jatah," gertak Istriku tampak lucu.
Hai, aku tidak mau kehilangan jatah. Hehehe, aku mesum sekali tetapi apa daya. Istriku terlalu menggoda untuk di raba. Ya Allah, otakku sudah geser jauh kalau berhubungan dengan Dek Syafa. Sudah sekarang konsentrasi agar tidak berpikir ke arah sana.
"Ampun, Dek."
"Ish, Mas jangan berangkat kerja ya di rumah saja."
"Apa alasan Adek menahan Mas di rumah?"
"Adek khawatir akan ada hal buruk. Beberapa hari ini Adek selalu mengalami firasat buruk. Adek takut Mas kenapa-napa makanya jangan pergi."
Aku terdiam mencerna perkataan Istriku. Ya Allah, ternyata firasat itu sama bahkan sekarang degup jantungku membisu . Tetapi, aku yakin Allah selalu melindungi hamba-Nya di setiap langkah. Aku berharap Allah selalu menjaga kami dalam mara bahaya.
Memang benar selama 1 minggu ini fikiranku terarah sempurna ke kejadian yang sangat fatal. Aku melihat gambaran musibah terjadi. Aku akan beri tahu kalau musibah itu menimpaku. Makanya aku terus berharap firasat buruk itu tidak terjadi.
Aku terus berdoa meminta perlindungan Allah dari mara bahaya. Aku terus berdoa agar keluargaku aman tenteram dari semua kejahatan.
Allah Maha Pelindung, maka akan melindungi hamba-Nya saat sedang mengalami musibah. Allah memberikan cobaan tetapi terdapat hikmah di dalamnya. Allah memberi masalah pada hamba-Nya agar ingat bahwa tempat berserah diri dan memohon adalah sang Khalik.
Aku sangat percaya Allah akan melindungiku dari orang-orang yang berbuat dzolim. Allah akan memberi keadilan bagi hamba-Nya yang teraniaya. Kepercayaan kuat aku labuhkan agar orang-orang yang tidak suka pada kami segera mendapat hidayah. Semoga Allah membuka pintu hati agar mereka kembali ke jalan yang benar, Amin.
"Adek jangan berpikir buruk, pasalnya Allah senantiasa melindungi hamba-Nya dari segala musibah. Insya Allah, jika itu terjadi Mas ikhlas menerimanya. Mas akan terima dengan lapang dada apa yang Allah kehendaki. Pasti sang Maha Pencipta akan melindungi hamba-Nya dari segala mara bahaya. Adek jangan berhenti berdoa agar Mas baik-baik saja. Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Cinta Mas akan selalu ada di hati sampai Allah memisahkan kita dengan maut. Kita bersama layaknya Samudera yang sangat luas. Kita di takdirkan bersama walau dengan cara menyakitkan. Mas sangat mencintai Adek walau kelak kita akan terpisah jauh oleh jarak. Jangan bersedih karena Allah bersama setiap langkah, Mas."
Aku mencurahkan isi hati pada Istriku. Sebuah keyakinan akan berlabuh agar semua baik-baik saja. Allah selalu melindungi hamba-Nya. Tidak boleh takut karena kematian hanya Allah yang menentukan.
Aku merasa basah di dada. Ya Allah, kenapa menangis Dek? Jangan menangis karena Mas sangat membenci air matamu. Pelukannya semakin erat membuat aku tidak kuasa membalas. Semoga Allah memberikan Kuasa-Nya, Amin.
*,*,*,*
Seseorang pria berpakaian serba hitam mengotak-atik mesin mobil Aziz. Dia membuat rem blong lalu memasang bom berskala standar di bagasi. Seringai iblis menguar mengerikan ketika dia merencanakan pembunuhan sadis. Dia buru-buru pergi sebelum ada yang memergoki.
"Yah, mam par," ucap si kecil seraya memegangi perutnya yang gembul.
Aziz tersenyum mendengar perkataan Mumtaaz terdengar menggemaskan. Si kecil memang sudah minta makan tetapi dengan kuah seperti bening, bubur dan pisang. Yang jelas Aziz sangat senang Mumtaaz mau makan walau hanya sedikit.
"Dedek Mumtaaz, mau makan apa, Hm?" tanya Aziz seraya mencium puncak kepala Putranya.
"Bul, Yah," sahut Mumtaaz.
"Baiklah, nanti Umi buatkan bubur kesukaan Dedek. Kakak mau makan?"
Sedari tadiRidwan menatap Aziz lamat-lamat kemudian menggeleng. Wajahnya murung sedari tadi mengingat sesuatu. Dia meremas tangan besar Ayahnya dengan perasaan kalut. Ia mau menangis, tetapi takut Ayahnya bertanya banyak hal. Ridwan serba salah mau bicara isi pikirannya, tetapi takut respons Ayahnya beda.
Aziz bingung kenapa Ridwan meremas tangannya erat. Bahkan anak sulungnya tampak sedih tanpa sinar di matanya. Sejatinya apa yang terjadi pada anak nakalnya ini? Aziz jadi merasa bersalah jikalau melihat Ridwan menunduk sedih.
"Ayah, bisa tidak jangan pergi kerja? Tetap tinggal bersama kami karena sekarang hari libur," pinta Ridwan.
"Maaf, Kakak. Nanti ada rapat penting makanya Ayah harus pergi dan untuk Dedek Mumtaaz di rumah saja."
"Jangan pergi, Kakak mohon," pinta Ridwan.
"Kut, Yah," sahut Mumtaaz sembari mengemut ibu jari Ayahnya.
Aziz mencium puncak kepala Ridwan dan Mumtaaz bergantian. Dia tidak tahu kenapa mereka selalu menahan di kala semua akan baik-baik saja? Apa yang harus dia lakukan jika mereka sendiri yang meminta? Aziz jadi gemang tidak mau berangkat kerja demi mereka. Namun, ini meeting pertama yang harus ia hadiri. Tidak enak rasanya absen dan tidak datang ke kampus
"Ayah akan pulang dengan selamat, Insya Allah. Jangan sedih begitu karena Allah selalu melindungi hamba-Nya. Sudah jangan sedih Ayah tidak suka. Nanti kakak jelek, bagaimana?"
"Tidak boleh, Ayah harus tinggal dan Kakak sangat tampan tidak terbantahkan!"
"Baiklah, ayo kita makan karena sudah waktunya makan."
Aziz menggendong dua anaknya menuju ruang makan. Sampai dapur ia tersenyum saat Khumaira sudah menyiapkan semuanya. Dia dudukan Mumtaaz dan Ridwan lalu dirinya duduk di samping si kecil. Aziz mengukir senyum saat khumaira tersenyum manis ke arahnya.
Khumaira mengambilkan bubur sumsum untuk si kecil. Lalu mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Suami dan anak sulungnya. Dia tidak memberi sup biar ambil sendiri Suami dan anaknya. Khumaira duduk di samping Ridwan karena putranya ini diam saja sedari tadi. Saat bertanya Ridwan hanya tersenyum ala kadarnya.
Mereka makan dengan lahap sesekali terdengar celoteh imut Mumtaaz dan di jawab Ridwan. Semua terasa semakin manis ketika saling menyuapi. Si kepala keluarga tahu mereka sedang resah makanya berusaha menghibur. Semoga saja semua baik-baik saja, Aamiin.
Aziz tersenyum teduh melihat mereka sangat manis. Dia mendongak menghalau air mata agar tidak terlihat lemah. Entah dia benar-benar kalut menerima takdir. Jika boleh jujur Aziz merasakan hal besar akan terjadi padanya. Namun, ia tutup demi menghalau rasa khawatir mereka.
Saat pamitan pada mereka, Aziz tidak kuasa merengkuh dengan erat. Menciumi wajah Khumaira, Ridwan dan Mumtaaz penuh arti. Semoga firasat buruk menghalau semua. Dia akan pulang dengan selamat Insya Allah. Jika Allah menghendaki maka Aziz akan pulang dengan penuh cinta.
Khumaira dan Ridwan menunduk dalam tidak berani menatap Aziz lebih jauh. Untuk Mumtaaz agak rewel ditinggal Ayahnya. Ketiganya merasa kalut sampai air mata jatuh. Walau si kecil lebih rewel tidak mau Ayahnya pergi kerja.
Setelah Aziz memberikan pelukan dan kata penenang akhirnya mereka bisa terima. Walau anaknya rewel minta tinggal. Lagian ini rapat penting mungkin jam 11 nanti sudah sampai rumah. Aziz akan pulang cepat lalu mengajak keluarganya jalan-jalan di candi Borobudur.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."
"Wa'alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh."
Khumaira dan anak-anak mengecup punggung tangan Aziz. Mereka terdiam saat Aziz sudah memasuki mobil dan perlahan pergi dari pekarangan rumah. Khumaira menahan Mumtaaz ketika si kecil meminta bersama Aziz. Sementara Ridwan sudah lari ke dalam seraya menangis sesegukan.
Dalam perjalanan Aziz terus merapalkan doa keselamatan agar hari ini baik-baik saja. Dia memilih melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Hari masih pagi membuat para pengendara belum terlalu banyak.
"Apa Ayah akan pergi seperti Abi? Ya Allah, tolong lindungi Ayah. Cukup Abi yang pergi meninggalkan kami jangan Ayah. Kakak tidak mau di tinggal sendiri beraama Umi dan Dedek. Ya Allah, tolong lindungi Ayah," pinta Ridwan.
"Semoga Allah selalu menjaga Suamiku, Amin. Kami berharap Allah senantiasa melindungi Mas dari mara bahaya," gumam Khumaira.
*.*.*.*
Di tengah perjalanan, Aziz merasa ada yang tidak beres. Pasalnya dia mendengar sebuah bunyi ganjal di dalam mobil. Lalu saat di pertikungan tajam mobilnya kehilangan kendali. Rem tidak berfungsi dan di depan sana ada banyak pengendara anak SMP dan SMA hendak sekolah.
Aziz bergetar seraya mengucap nama Allah. Dia melepas seatbel lalu membanting setir agar para pelajar baik-baik saja. Dadanya bergemuruh menyerukan rasa takut akan apa yang terjadi. Tetapi, pikiran, hati dan bibirnya terus merapal doa pada sang pencipta alam semesta. Aziz sangat berharap kecelakaan ini tidak memakan korban yang lain, Aamiin.
Karena kehilangan kendali mobil Aziz keluar dari laju jalan. Dengan cepat loncat keluar hingga dia terpental ke ruas jalan menyebabkan tubuhnya terhantam aspal. Sementara mobil mewah itu terguling-guling mengerikan hingga sebuah ledakan besar terjadi.
Aziz merasa sekujurtubuhnya sakit semua. Bau anyir menyeruak ketika darah menyelimuti tubuhnya. Saat menatap depan ia mendelik horor ketika ada mobil truk melaju kencang ke arahnya. Dari yang Aziz lihat mobil itu memang berencana menghantam dirinya. Dalam hati dia terus berdoa merapal kan banyak doa demi keselamatannya.
"Keh, sudah ku perediksi kamu keluar dari mobil. Tetapi, apa kamu akan selamat dariku? Mati saja kau, sialan," sengit pria itu.
Para pengendara berhenti dengan tubuh menggigil ketakutan melihat kecelakaan mengerikan. Ini kecelakaan tunggal tetapi begitu mengerikan. Mereka berteriak histeris saat mobil truk melaju kencang ke arah Aziz.
Tubuh mereka lemas menyaksikan betapa menyedihkan orang itu saat keluar dari mobil dan berakhir pada truk. Pria malang itu selamat dari kecelakaan mobil tetapi apa selamat dari truk? Mereka memejamkan mata rapat tidak sanggup menyaksikan kelanjutannya.
Prak
Khumaira dan anak-anak terhenyak mendengar pecehan kaca bingkai. Mereka sontak melihat apa yang terjadi. Tubuh Khumaira menegang melihat bingkai foto Aziz jatuh ke lantai. Kaca berhambur dan bingkai patah menjadi beberapa bagian. Sementara Ridwan merasa lemas melihat itu semua.
"Mas Aziz / Ayah," lirih mereka dengan jantung berdegup sesak. Entah kenapa air mata berlinang deras membasahi pipi Khumaira dan Ridwan. Tidak lama si kecil meraung-raung histeris dan itu membuat Khumaira panik.
Khumaira berusaha menenangkan diri sembari memberikan ketenangan untuk Mumtaaz. Untuk Ridwan sedari tadi anak manisnya tampak murung sembari menangis kecil. Kalau begini ia harus sabar menghadapi dua anaknya yang rewel. Khumaira yang lelah meminta Ridwan ikut ke kamar dengan begitu bisa menidurkan mereka.
"Ya Allah, tolong lindungi Suami hamba dari mata bahaya, Amin."